February 26, 2016

Begitulah Ajal Menjemput

Ajal,
Bagaimana kulukiskan kedatanganmu
jika sebenarnya kau tidak pernah pergi
karena kau selalu ada di sisi tiap Manusia
dan pada saatnya tiba, kau mengantar Manusia ke alam berikutnya

Pagi ini, sebuah kabar menyedihkan datang dari kakak Perempuan Ibuku. Beliau mangkat di RS Wahidin setelah 2 hari dirawat di UGD, tadi subuh tepatnya. selalu tergetar ketika mendengar kabar kematian apatahlagi dari keluarga terdekat. mungkin karena mengingatkan bahwa waktu terus memacu kecepatannya dan menghadirkan hal-hal yang tidak terduga bahkan menyadarkan pula bahwa diri ini semakin menua

Tante yang baru mangkat tadi pagi adalah kakak Ibuku yang mungkin umurnya tidak terlalu jauh karena Beliau anak kedua terakhir sedangkan Ibuku adalah anak bungsu. memang Saya tempat tinggalnya jauh dengan kami namun tidak mengurangi kedekatan keluarga yang tinggal di kampung dengan Beliau karena intensitasnya berkunjung ke kampung sangat sering. Beliau tinggal di Mamuju, Sulawesi Barat.

tidak banyak kenangan yang terlintas di benakku tentang Beliau. namun setidaknya, dalam beberapa edisi mudik tiap lebaran, Beliau selalu mampir di rumah kami. sekilas wajahnya mirip dengan Ibuku. pembawaannya yang supel terhadap setiap keponakannya membuatnya cepat akrab dan seperti tidak berjarak meski hanya sekali setahun bertatap muka.

oh iya, Beliau memiliki 4 orang anak. 3 putera dan 1 puteri. putera bungsunya sudah meninggal sekitar 6 tahun lalu karena kecelakaan. anaknya meninggal di tempat yang sama yaitu RS Wahidin. masih segar dalam ingatanku ketika itu, Saya sedang kuliah dan harus mencari teman yang mau mendonorkan darahnya untuk anaknya yang sedang kehabisan darah. kulihat tanteku tidak berani sama sekali memasuki ruang UGD dan hanya duduk terpaku di depan parkiran sambil menangis.

bergegas kumasuki UGD saat ada salah seorang teman yang bersedia mendonorkan darahnya namun Semesta selalu punya cerita untuk tiap Manusia. saat Saya sudah sampai di ruangan UGD, kerabat sudah berkerumun melihat anak tanteku yang sakaratul maut dan tak lama berselang, rohnya sudah terlepas dari ajalnya.

Entah mungkin keinginannya namun akhirnya Beliau meninggal di tempat yang sama dengan putera bungsunya. Beliau amat sangat menyayangi puteranya tersebut.

seperti itulah ajal yang selalu menjemput tanpa pernah memberi kabar sebelumnya. dari 5 saudara perempuan Ibuku, tersisa hanya 2 yang masih hidup.

Jumat pagi Beliau mangkat dan menurut mitos bahwa orang yang meninggal pada hari Jum'at akan selamat. semoga saja benar adanya dan selalu teriring doa kepada Beliau supaya tenang di alam sana.

Jakarta, Jumat  26 2 2016

No comments: