Saya selalu terhibur ketika berdiskusi dengan Ibu masalah perbedaan Nu dan Muhammadiyah. Saya mafhum bahwa Ibu adalah Muhammadiyah tulen turunan dari orang tuanya sehingga jika ada perbedaan yang tidak sesuai dengan budaya Muhammadiyah maka otomatis Ibu akan sangat resisten terhadap perbedaan tersebut. Namun perlu diketahui bahwa Ibuku sama sekali tidak pernah mengkafirkan kelompok yang berbeda dengannya, hanya sebatas memproklamirkan ketidaksetujuannya.
Bermula ketika Ibu tahu bahwa mertuaku masih merawat kebudayaan berziarah kubur setiap malam Jum'at yang menurut Ibu tidak lazim bagi mayoritas pengikut kelompok Muhammadiyah. Ibu pun heran ketika tahu bahwa mertuaku yang memang notabene hidup di tengah orang-orang NU suka menaburkan aneka kembang di Kuburan.
Kamu sudah tidak pernah bancaan kan..?? tidak makan daging yang dipotong untuk selamatan orang meninggal kan..? dan beberapa pertanyaan Ibu kepada Saya tentang budaya yang masih lazim dilakukan orang untuk bancaan orang meninggal. Saya hanya tergelak.
Ibuku adalah potret masyarakat yang memegang teguh apa yang diajarkan dari leluhurnya namun satu hal yang Saya salut terhadap Ibu karena meskipun Beliau tidak terlalu menerima perbedaan namun sama sekali tidak pernah menyalahkan apatahlagi mengkafirkan. Ibu tidak pernah merasa benar atas prinsip yang selama dipegang teguh hanya saja Beliau berusaha menaati setiap detail yang diajarkan oleh para orang tuanya. itulah mengapa Saya tidak pernah terlalu serius berdiskusi dengan Ibu masalah perbedaan karena toh Beliau tidak pernah memaksakan kehendak bahkan Beliau mengijinkan Saya menikahi seorang Gadis Jawa yang besar di lingkungan NU dan masih terpengaruh oleh kebudayaan Kejawen.
Saya tahu bahwa dari setiap hal yang diyakini Ibu, beberapa diantara sebenarnya hanyalah budaya namun entah mungkin Ibu menganggap bahwa hal tersebut adalah perbedaan prinsip.
"Kau itu suka menceramahi orang tapi dicampur-campur." perkataan satir Ibu terlontar saat Saya berkata bahwa hal yang tidak disepakatinya hanyalah sebuah perbedaan budaya dan tidak menyentuh pada aqidah selama kita meluruskan niat.
Saya akui bahwa sejak memutuskan merantau ke tanah Jawa 4 tahun silam, banyak pemikiran lama yang Saya rekonstruksi, entah tentang pemahaman budaya dan pemahaman Agama yang selama ini diajarkan oleh leluhur di kampung. ambil contoh selamatan orang meninggal. dulu Saya terikat dalam kepercayaan mayoritas orang di kampung kami yang menganggap bahwa mengadakan selamatan bagi orang meninggal adalah bid'ah, bahkan hampir pasti mereka meyakini daging hewan ternak yang disediakan saat selamatan haram dimakan.
Meski Saya sudah sering ikut bancaan namun sampai sekarang, Saya tidak pernah makan daging yang disediakan entah karena masih terpengaruh oleh ingatan masa kecil yang menganggap bahwa ketika kita makan daging yang dikurbankan untuk orang meninggal maka sama saja kita memakan daging orang tersebut. Saya memang tumbuh dan besar di lingkungan orang-orang Muhammadiyah konvensional. '
ada hal yang paroks di tubuh Muhammadiyah dan NU, setidaknya hal ini sepintas Saya dengar dari Cak Nun yang disampaikannya pada acara Kenduri Cinta 12 Februari 2016. menurut Beliau bahwa sejarah Ziarah kubur dan bedug sebenarnya lahir dari ulama rujukan Muhammadiyah dan bahkan tidak dijumpai pada tradisi NU namun sekarang fenomena tersebut terjadi sebaliknya. Saat ini Muhammadiyah membid'ahkan Ziarah kubur dan Bedug sedangkan Nu menganjurkannya. untuk diskursus ini Saya masih mencari referensinya karena hanya Saya dengar dari Caknun yang sampai sekarang Saya belum menemukan literaturnya.
Rawamangun, 17 Februari 2016
Bermula ketika Ibu tahu bahwa mertuaku masih merawat kebudayaan berziarah kubur setiap malam Jum'at yang menurut Ibu tidak lazim bagi mayoritas pengikut kelompok Muhammadiyah. Ibu pun heran ketika tahu bahwa mertuaku yang memang notabene hidup di tengah orang-orang NU suka menaburkan aneka kembang di Kuburan.
Kamu sudah tidak pernah bancaan kan..?? tidak makan daging yang dipotong untuk selamatan orang meninggal kan..? dan beberapa pertanyaan Ibu kepada Saya tentang budaya yang masih lazim dilakukan orang untuk bancaan orang meninggal. Saya hanya tergelak.
Ibuku adalah potret masyarakat yang memegang teguh apa yang diajarkan dari leluhurnya namun satu hal yang Saya salut terhadap Ibu karena meskipun Beliau tidak terlalu menerima perbedaan namun sama sekali tidak pernah menyalahkan apatahlagi mengkafirkan. Ibu tidak pernah merasa benar atas prinsip yang selama dipegang teguh hanya saja Beliau berusaha menaati setiap detail yang diajarkan oleh para orang tuanya. itulah mengapa Saya tidak pernah terlalu serius berdiskusi dengan Ibu masalah perbedaan karena toh Beliau tidak pernah memaksakan kehendak bahkan Beliau mengijinkan Saya menikahi seorang Gadis Jawa yang besar di lingkungan NU dan masih terpengaruh oleh kebudayaan Kejawen.
Saya tahu bahwa dari setiap hal yang diyakini Ibu, beberapa diantara sebenarnya hanyalah budaya namun entah mungkin Ibu menganggap bahwa hal tersebut adalah perbedaan prinsip.
"Kau itu suka menceramahi orang tapi dicampur-campur." perkataan satir Ibu terlontar saat Saya berkata bahwa hal yang tidak disepakatinya hanyalah sebuah perbedaan budaya dan tidak menyentuh pada aqidah selama kita meluruskan niat.
Saya akui bahwa sejak memutuskan merantau ke tanah Jawa 4 tahun silam, banyak pemikiran lama yang Saya rekonstruksi, entah tentang pemahaman budaya dan pemahaman Agama yang selama ini diajarkan oleh leluhur di kampung. ambil contoh selamatan orang meninggal. dulu Saya terikat dalam kepercayaan mayoritas orang di kampung kami yang menganggap bahwa mengadakan selamatan bagi orang meninggal adalah bid'ah, bahkan hampir pasti mereka meyakini daging hewan ternak yang disediakan saat selamatan haram dimakan.
Meski Saya sudah sering ikut bancaan namun sampai sekarang, Saya tidak pernah makan daging yang disediakan entah karena masih terpengaruh oleh ingatan masa kecil yang menganggap bahwa ketika kita makan daging yang dikurbankan untuk orang meninggal maka sama saja kita memakan daging orang tersebut. Saya memang tumbuh dan besar di lingkungan orang-orang Muhammadiyah konvensional. '
ada hal yang paroks di tubuh Muhammadiyah dan NU, setidaknya hal ini sepintas Saya dengar dari Cak Nun yang disampaikannya pada acara Kenduri Cinta 12 Februari 2016. menurut Beliau bahwa sejarah Ziarah kubur dan bedug sebenarnya lahir dari ulama rujukan Muhammadiyah dan bahkan tidak dijumpai pada tradisi NU namun sekarang fenomena tersebut terjadi sebaliknya. Saat ini Muhammadiyah membid'ahkan Ziarah kubur dan Bedug sedangkan Nu menganjurkannya. untuk diskursus ini Saya masih mencari referensinya karena hanya Saya dengar dari Caknun yang sampai sekarang Saya belum menemukan literaturnya.
Rawamangun, 17 Februari 2016
No comments:
Post a Comment