February 5, 2016

Alasan Menulis

Alasan Saya kembali bersemangat menulis selain karena iseng juga setelah membaca tulisan ini. selama kuliah, terlalu banyak ketakutan yang berseliweran di dalam rongga otakku yang malah membuat ide-ide mandek menjadi kotoran di kepala.

Menulis bagiku hanyalah meninggalkan jejak yang kemudian nantinya akan kubacakan kepada Anak-anakku lalu Kami menertawakannya bersama-sama, tidak lebih, hanya itu saja keinginanku. namun mungkin ada juga bagian yang harus kutulis sebagai pengingat supaya tidak terulang karena pastinya pasti banyak langkah yang salah arah ketika kita berjalan dan itulah gunanya merekamnya dalam tulisan untuk tidak diulangi.

Oh iya, Saya jarang sekali membaca kembali tulisan yang sudah kutulis karena Saya selalu merasa bahwa tulisanku terlihat norak. nantilah setelah berbulan-bulan jika ingin bertamasya ke masa lalu, maka Saya membaca arsip-arsip tersebut kemudian menertawakannya.


Rumah Sakit dan Kantor Polisi

Rumah Sakit dan Kantor Polisi..??
Aku tidak terlalu menyenangi berada di dua tempat tersebut.

Alasan sederhananya karena ada pengalaman-pengalaman masa lalu yang membuatku tidak menyukai kedua tempat tersebut. sakit adalah musibah dan Aku percaya itu adalah sebuah keniscayaan dalam hidup setiap Manusia. ketika belum merasakan sakit maka nikmat sehat tidak terasa. oke sampai pada titik ini Aku haqqul yakin. permasalahan timbul ketika sudah berhubungan dengan institusi yang mengurusi orang sakit. sudah bukan rahasia lagi bahwa mendengar kata Rumah Sakit maka terbayang di kepala kita mahalnya biaya obat, biaya Dokter sampai pada mahalnya rawat inap. iya, memang sekarang ada program BPJS namun cobalah sekali-kali tengok di Rumah Sakit. Pasien yang berobat dengan BPJS akan berada di nomor buncit dalam penanganan Rumah Sakit bahkan menurut beberapa kawan yang menggunakan BPJS, Dokter sepertinya acuh tak acuh dalam penanganan Pasien.

Belum lagi masalah obat-obatan yang harganya mencekik leher. sudah bukan rahasia lagi bahwa ada Perusahaan Farmasi yang deal dengan Dokter dalam penjualan Obat-obatan. pengakuan Dokter yang mencengangkan tentang persekongkolan tersebut. Persekongkolan ini pernah dianalisa dari segi hukum oleh advokat di jakarta,ketua Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum konsumen Indonesia (LABHKI) dan Sekjen Asosiasi Penasehat hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (APHI).

Barusan Aku dan teman-teman menjenguk seorang Bapak teman yang sakit. Bapaknya sedang dirawat di ruang ICU. setengah jam sebelum shalat Jum'at, Kami pamit pulang. sesampai di kantor sekitar pukul 14:00 WIB, ada kabar bahwa Bapak teman sudah meninggal. Innalillah, ajal memang adalah misteri yang sampai sekarang belum ada jawabannya. semoga amal ibadah Beliau diterima di sisiNya. (Selingan untuk kasus yang sedang Aku tulis)
Ruang tunggu UGD RS Harum


Untuk urusan Kantor Polisi. akan terbanyak barisan Aparat dengan seragam coklat, wajah seram dan tubuh kekar juga suara yang berat. namun pada intinya, Aku pernah beberapa kali berurusan dengan Polisi di kantornya dan menurutku kunci di uang. oke bukan menggeneralisasikan namun sebagian besar seperti itu. di Surabaya waktu itu, Aku kehilangan kartu ATM dan dari pihak Bank mengharuskan harus ada surat keterangan kehilangan dari kepolisian sebagai syarat untuk mengganti kartu ATM yang hilang alhasil Aku ke kantor polisi. sesampainya disana, Aku dilayani dan dibuatkan surat keterangan kehilangan. ketika hendak pulang, Aku iseng menanyakan berapa biayanya. si Polisi mengatakan bahwa terserah berapa saja dan tanganku respek memberikan selembar uang. harusnya kan pelayanan seperti itu gratis. itu bukan pelanggaran loh apatahlagi ketika kita mengurus pelanggaran lalu lintas, kemungkinan biaya dipatok oleh Mereka.

Ah, seperti itulah fenomena yang ada di negeriku namun terlepas dari semua itu, masih banyak hal yang kubanggakan terlahir sebagai warga negara di tanah airku.

jln. Paus Rawamangun, 5 Februari 2016 


February 3, 2016

Menulis Novel

Selalu ini yang menjadi resolusi basi tiap tahun. pengen menulis novel namun berakhir menjadi sebuah ilusi  yang entah kemana semua ide tersebut menguap.

Saat buka email pagi ini, lumayan termotivasi lagi menulis novel saat membaca artikel Kiat Menyelesaikan Buku. mungkin bisa kupaksakan untuk tahun ini menyusun novel namun kembali lagi, aku selalu gagal dipercobaan pertama. ha.ha, payah.

Kali ini bermimpi lagi mulai menulis novel. Harus membulatkan tekad supaya tahun ini terwujud. Etapi judulnya pun masih belum kepikiran sampai sekarang, ah itu masalah nanti toh jika kembali gagal menulis novel ga ada yang dirugikan cuma sudah berkali-kali mengingkari janji kepada diri. ha,ha

Rawamangun. 3 Februari 2016

February 2, 2016

Indo'

Tulisan ini semata curcol tentang Ibuku. Saya memang seringkali menulis hal-hal yang sentimental ketika dilanda rindu terhadap Beliau. Entah kenapa semakin bertumbuh dewasa dan menua, saya semakin merasakan betapa besar cintanya terhadap anak-anaknya. Saya pun merasa bahwa beliau sama sekali tidak terlalu memperdulikan apa yang ada pada dirinya selama anak-anaknya bahagia.

Semoga saja apa yang saya paparkan selanjutnya bukan membandingkan kasih sayang Ibu yang lain karena menurutku setiap Ibu punya porsi rasa sayang terhadap anaknya masing-masing yang tidak bisa ditakar dengan apapun dan tidak bisa dibandingkan dengan Ibu yang lain.

Saya sudah menikah tentunya punya mertua perempuan. Bukan untuk membandingkan namun harus kuakui bahwa tidak akan pernah yang menyamai perhatian Ibuku terhadapku mungkin begitu pula adanya Ibu yang lain kepada anaknya.

Sampai pada detik ini, Ibu tidak akan pernah kubandingkan dengan siapapun karena bagi saya, beliau adalah semangat, cinta dan apapun yang melandasi gairahku dalam hidup. kalaupun toh ada yang kemudian ingin menyaingi kasihnya, maka itu kuanggap hanya ilusi.

Ibu ada dan kasihnya selalu berlipat. Saya akan merindukannya disetiap sepiku. setidaknya untuk menemani hidupku yang hampa. hidup yang kujalani memang adalah pertaruhan antara materi dan ide-ide yang masih kusimpan rapi. sekarang ada yang mencoba mendobrak idealismeku dengan tuntutan-tuntutan yang datang tak berhenti. Saya tidak ingin mengkonfrontasikannya karena Saya yakin ada celah untuk mendamaikan.

Ibu, tetap sehat selalu dan jangan lupa berbahagia.
Mampang, 3 Februari 2016

Bekerja dengan Hati

Kayaknya Saya sudah dua kali bercerita tentangmu di masa awal Kau kuliah dan pada saat Kau lulus kuliah. Sekarang Kau sudah meniti karir sebagai Jurnalis berita Online. Pekerjaan yang mungkin sesuai dengan jurusanmu ketika kuliah.

Sebelum memulai bacotanku, saya harus akui bahwa saya bangga melihatmu menjadi Jurnalis. Kau harus tahu bahwa suatu waktu setamat Kuliah, saya pernah bermimpi menjadi seorang Jurnalis. Kau mau tahu apa alasanku waktu itu memilih Jurnalis sebagai Pekerjaan.? oleh karena dari pandanganku, Jurnalis masih punya hak kuasa bagi dirinya saat bekerja seperti halnya Dosen. Maksud saya bahwa ada nilai-nilai dari dalam diri kita yang bisa kita kendalikan tidak seperti ketika menjadi pegawai perusahaan seperti diriku.

Memilih menjadi karyawan perusahaan berarti takluk terhadap semua aturan dan remeh temeh mengenai perusahaan dengan satu tujuan, PROFIT. Etapi harus disadari pula bahwa portal online ataupun media lainnya mengejar profit loh. Iya yah namun setidaknya Para Jurnalis yang masih menjunjung tinggi "Idealisme" Mereka bisa menyesuaikannya dengan berita yang akan diangkat. misalnya benar-benar mengedepankan berita yang sudah diklarifikasi kebenarannya.

Alasan lain kenapa saya senang saat kau memilih menjadi Jurnalis adalah kau bisa terus belajar tentang hidup. Kesempatan belajar dari hidup yang real terbuka lebar. melihat fenomena kehidupan dan bisa mengakses hal-hal yang terjadi di masyarakat. Jurnalis pun dituntut untuk terus membaca dan menulis dan menurutku dua hal tersebut sangat menyenangkan bukan.?


Saya mungkin tidak harus mengguruimu dari segi etika Jurnalistik karena kau sudah belajar di bangku kuliah tinggal bagaimana kau dengan sepenuh hati mengaplikasikan teori-teori yang sudah kau pelajari. Setidaknya Saya ingin mengingatkanmu bahwa berita yang aktual itu harus benar-benar sudah diverifikasi dari orang pertama sehingga tidak menyebarkan berita yang abal-abal. 

Kekhawatiranku saat ini berfokus pada banyaknya berita-berita yang tidak benar. Jurnalis seakan menggampangkan berita yang diperoleh dari sumber yang tidak dipercaya kemudian mengejar deadline akhirnya berita HOAX pun diterbitkan. Saya selalu berharap Kau tidak termasuk dalam barisan Jurnalis yang hanya mengejar target namun melupakan etika Jurnalistik. 

Mungkin sebaiknya Kau harus banyak belajar dari Jurnalis senior yang kredibilitasnya sudah tidak diragukan. Kau bisa mengakses cara penyampaian berita mereka melalui tulisan-tulisannya. Tidak perlu lah Saya sebutkan Jurnalis yang seharusnya menjadi rujukanmu karena Saya yakin Kau punya akses untuk mencari sendiri.

Di beberapa kesempatan saat kita bercakap lewat Handphone. Saya selalu mengingatkan supaya jangan sekali-kali menjadikan uang sebagai faktor utama dalam bekerja. okelah uang itu perlu namun jika sudah menjadi target utama maka yassalam, kualitas kerja akan menjadi amburadul dan kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi tidak akan terarah.

Saya tidak munafik masalah uang. saat ini saya sudah berkeluarga dan pastinya butuh uang dan terkadang dalam bekerja pun motivasiku adalah uang namun setidaknya ada saat ketika uang menjadi motivasi maka kembali perbaharui niat dalam bekerja.

Terakhir, selamat meniti karir menjadi Jurnalis yang profesional dan jangan sekali-kali memberitakan sesuatu yang belum Kau verifikasi dari pertama dan kebenarannya sama sekali tidak kau ketahui.

Pulogadung, 2 Februari 2016

Februari

Apa yang berubah dengan bulan yang sama di tahun lalu..? Hanya satu, mungkin karena saya sudah tidak terlalu sering merekam dan meninggalkan jejak dalam tulisan. Saya menjelma menjadi sesosok pribadi yang sok ingin perfeksionis sehingga tulisan harus diukur dari kriteria baik tidaknya dibaca orang lain. Harusnya kan saya tidak peduli dengan semua itu, harusnya saya seperti tahun-tahun sebelumnya yang acuh terhdap kualitas tulisan dan tetap merekamnya meski pengalaman paling tidak berharga sekalipun.

Diukur dari kuantitas menulis di blog ini memang terjun bebas. meski dengan alasan saya sedang belajar menulis yang lebih tertata rapi di wordpress namun toh itu tidak sejalan dengan apa yang ada di benakku semenjak memutuskan untuk membuat laman di wordpress. 

Sebenarnya sih tidak ada yang dirugikan ketika saya jarang atau bahkan tidak menulis karena toh saya bukan seorang penulis namun lebih kepada menyia-nyiakan pengalaman yang nantinya akan menjadi kenangan yang ditertawakan kemudian hari. Apatahlagi di kota ini, tersebar begitu banyak hal unik yang mungkin jarang dijumpai ketika bermukim di tempat lain.

Saya memang bukan pencerita yang baik. menggambarkan suasana secara detail sehingga orang yang membacanya ikut serta terlarut dalam suasana seperti yang saya tuliskan namun setidaknya saya masih bisa menuliskan rentetan peristiwa yang kualami.

Hampir emapt tahun lamanya merantau benar-benar mempertemukanku dengan banyak hal yang baru. Sebagian saya tulis namun banyak banget yang terlewatkan. 

Ah, sedang menulis apa saya ini. Efek dari blog yang jarang diisi.
Pulogadung, 2 Februari 2016

January 28, 2016

Andong

Barusan di lampu merah mampang. Kebetulan ada Andong yang berhenti terjebak lampu merah. Kuda terlihat begitu letih dengan mata menggunakan pelindung. Mungkin seharian menarik penumpang. Ada rasa iba melihat kuda seperti itu. sekilas pandanganku berpindah ke empunya yang juga terlihat penat. Oh, lebih iba lagi melihat pemuda yang mungkin seumuran denganku. mungkin isterinya sedang menunggu uang jajan.

Sekian menit kemudian, lampu hijau menyala pertanda kendaraan akan segera dipacu demikian pula halnya Andong tersebut akan beranjak. Namun rasa iba yang terbersit di dadaku beberapa menit yang lalu sirna tak bersisa mendengar umpatan si lelaki yang merasa terhalang oleh taxi silver. Entah apa yang dikatakannya namun begitu jelas terdengar di telingaku lelaki tersebut meneriaki taxi yang perlahan memacu gas mobilnya. Menurutku tidak mungkin sebuah mobil yang berhenti di lampu merah dengan serta merta langsung tancap gas ketika lampu hijau menyala.

Ah, entahlah. mungkin si Lelaki terburu-buru atau bahkan sedang ada urusan yang mendesak namun menurutku tidak semua keterburu-buruan tersebut diselesaikan dengan umpatan bahkan terhadap orang lain.

Pemandangan seperti itu memang kerap terlihat oleh mataku di kota ini. Orang seperti merasa menjadi lebih penting dari yang lainnya. mereka terburu-buru dikejar waktu, deadline pekerjaan, atau apalah sehingga saat merasa terhambat oleh yang lain, umpatan adalah cara terbaik bagi Mereka, atau mungkin termasuk aku, untuk melampiaskan perasaan. Di kota ini, kebanyakan dari kami seperti robot. Bekerja dan bekerja sehingga hampir saja mereduksi diri kami sendiri sebagai manusia. Namun di kota ini pula, aku selalu percaya bahwa mereka yang kuat dan masih mempertahankan identitasnya sebagai manusia adalah sang juara. Bagaimana tidak, di kota inilah, godaan sebagai manusia berada disetiap celah.

Oke, aku akan belajar mempertahankan nilai kemanusiaanku di kota ini

Mampang, 29 Januari 2016

January 19, 2016

Sukabumi

Saya orang yang tidak terlalu menikmati perjalanan alam jika terlalu banyak orang. entah kenapa seperti ada yang tereduksi meresapi ayat-ayat Alam ketika begitu banyak Manusia. sudah beberapa kali Aku piknik dengan teman kantor, entah saat masih Jawa Timur bahkan sekarang saat sudah di Jakarta, teman kantor kerap kali mengajak liburan. namun itu tadi, Aku selalu tidak menikmatinya jika terlalu banyak orang.

Menikmati alam bagiku seperti menelusuri kembali masa lalu. seperti memungut setiap cinta di masa lalu yang terlalu sayang untuk dilupakan. ya Aku memang tumbuh di Pedesaan yang masih asri. hari-hariku kuhabiskan di Gunung ataupun di sungai. bagiku, terlalu indah semua itu.

Sejak memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota kemudian merantau ke Ibu kota, praktis aku hanya bisa menyatu dengan sekumpulan pohon raksasa dari beton, arak-arakan kendaraan dan bisingnya hidup perkotaan. pilihannya lain untuk menikmati hutan, gunung ataupun pantai hanya ketika liburan.

Sudah 10 tahun Aku hidup di perkotaan, sekarang Aku bahkan berada di Ibu kota. sudah pasti lebih pengap dan padat dari kota Makassar. Aku yang setiap harinya harus bangun pagi dini hari kemudian berjibaku dengan padatnya jalan untuk sampai di kantor begitupun ketika sore menjelang, perjuangan pulang ke rumah seperti halnya mengarungi samudera lautan. terengap-engap ketika sampai di rumah.

Awalnya, Aku merasa aneh melihat pekerja di kota ini yang rela membayar mahal demi menikmati Alam. mereka plesiran kemana-mana dengan biaya yang begitu mahal disaat yang sama, suasana yang mereka ingin nikmati bisa kurasakan dengan sepuas-puasnya ketika masih di kampung. Lama-kelamaan, Aku mafhum dengan mereka yang merogoh kocek dalam-dalam demi menikmati Alam, bagaimana tidak, kota ini menggilas ketenangan dan pada dasarnya, Manusia suka menyatukan dengan Alam. Aku kemudian masuk dalam gerombolan pekerja yang harus mengeluarkan duit untuk bisa menikmati Alam.

Kemarin, teman kantorku berlibur ke sebuah perkampungan di Sukabumi tepatnya di Citatih. Aku ikut serta bersama dengan 30 orang teman kantor. kami berangkat dari Jakarta tepat pukul 07:00 WIB. bermacet ria di sepanjang Tol dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 13:00 WIB. waktu yang terlalu lama karena normalnya, waktu tempuh hanya sekitar 3 jam ketika jalanan tidak macet.

Kami kemudian istirahat dan makan siang, setelah itu, ada Games yang menurutku tidak terlalu menarik. Aku sering berpikir bahwa hidup ini memang paradoks. orang kota membayar demi bisa merasakan suasana pedesaan sedangkan orang Desa mengeluarkan orang demi merasakan kehidupan di kota. Games yang kami mainkan pun sebenarnya permainan sederhana yang kami mainkan dulu di kampung tanpa harus keluar biaya. senja menjelang, kami istirahat untuk mengumpulkan tenaga demi persiapan rafting besok harinya.
 



Malamnya ada organ tunggal yang mengiringi makan malam sampai pukul 23:00 WIB. di kampungku dulu dikenal sebagai candoleng-doleng dan itu hanya ada ketika ada acara nikahan. 

Esok harinya, kami bersiap rafting. Aku melihat wajah sumringah dari teman-temanku ketika akan rafting sedangkan Aku biasa saja. Aku sudah merasakan sensasi rafting saat masih bocah, kami memakai ban dalam Mobil yang dipakai sebagai pelampung. Aku bersama teman-teman masa kecil menikmati ketika sungai banjir. kami berangkat ke Hulu sungai dan memulai petualangan sampai di Hilir. sensasi masa kecil yang selalu kuingat.



Hampir tidak ada bedanya sungai yang di Citatih dengan sungai yang ada di kampungku. kami menghabiskan 2 jam sampai di hilir kemudian naik angkot kembali ke penginapan.

Kami makan siang kemudian bergegas pulang kembali ke Ibu kota. Bis membawa kami pukul tepat  pukul 14:00 WIB dan sampai di kantor saat jarum jam menunjukkan pukul 19:00 WIB.
 



Perjalanan Alam yang lumayan membuatku menyegarkan pikiran-pikiranku dan bernostalgia dengan kehidupan masa kecil. Alam selalu menawarkan penawar bagi pikiran dan badan yang penat dengan kehidupan kota.

Pulogadung, 18 Januari 2016

January 14, 2016

14 Januari 2016

Hari yang melelahkan dengan berbagai pikiran yang kalut. Tentang banyak hal yang terjadi hari ini. Kemanusiaan yang tercabik dan keamanan yang menjadi pertaruhan demi segelintir kaum yang mengatasnamakan keagungan Tuhan, entah Tuhan mana yang mereka sedang perjuangkan.
kebenaran seperti apa yang sedang diperjuangkan dengan mengorbankan nyawa orang lain. tidak pernah ada rumus kebenaran dengan jalan medzalimi orang lain. tentang tafsiran kitab suci yang menurut Saya keliru.

Bom menghentak dan menimbulkan teror bagi Masyarakat luas. memang sih korbannya tidak seberapa dibandingkan dengan korban bencana Tsunami namun psikologi Masyakarat luas yang sedang terguncang. semua orang akan merasa paranoid berada di kerumunan atau bahkan di rumah sendiri. 

Ah, Saya kehabisan teori untuk menggambarkan betapa ngerinya Manusia yang memilih untuk berperang daripada berdamai atas nama kesucian. bulshitt menurutku apalagi ditengah Negeri yang aman.

kita seakan ingin menyamai Tuhan bahkan melampaui kuasaNya. kebenaran sepertinya berada di tangan manusia, ah ironi. semua merasa paling benar dan menganggap kebenarannya mutlak. okelah, dalam hidup memang kita harus meyakini kebenaran yang menjadi pedoman hidup namun bukan berarti itu melegitimasi dalam hal menyakiti orang lain karena kebenaran yang kita anut seharusnya hubungannya dengan Tuhan. kebenaran sejatinya yaitu mengasihi ciptaan Tuhan.

Aku benar-benar meracu dengan kejadian kemarin. meski ada teori lain yang menganggap bahwa kejadian tersebut karena tidak adanya keadilan di Bumi ini namun menurutku tidak seharusnya menjustifikasi untuk merusak. bolehlah kita kecewa dengan pemimpin yang tidak adil namun melakukan tindakan yang kemudian malah menghancurkan seperti memperburuk keadaan.

ini teoriku dan jangan diikuti bahwa kejadian-kejadian tersebut lebih didasari atas kepentingan ekonomi politik. mungkin loh ya. 
mudah saja menempatkan diri pada orang lain namun kali ini, rasanya sangat sulit untuk mengerti tindakan meneror dengan alasan kesucian Tuhan apatahlagi di tengah Negeri yang tidak terjadi konflik.

Rawamangun,  16 Januari 2016

January 11, 2016

Ironi Kehidupan

Untuk sebuah keadaan yang benar membuatku dalam kondisi stagnan. berpikir tentang diri sendiri dan mengenali siapa Aku. barangkali hanya jantung yang terus berdenyut sehingga Aku masih ada selebihnya Aku tidak lebih dari sekedar robot yang terus bekerja demi sekedar mengisi perut, tidak ada yang lebih.

Pikiran adalah hal yang paling memberatkan. menginginkan apa saja yang absurd dan bahkan tidak dimanfaatkan. untuk hanya?? sekedar untuk mengukuhkan ego yang tidak ada habis-habisnya untuk diikuti. 

Belajar menafikan ego adalah perjuangan paling berat. Manusia terlalu sering menonton fenomena hidup yang abdsurd seakan itulah inti namun menipu. Materi dan kekuasaan seringkali menjadi simbol ego paling tinggi. kita sedang mengejar fatamorgana kehidupan, bukan yang hakekat.

Ketika sudah terlalu jauh berjalan dan meyakini semua yang diimpikan hanyalah sampah, maka kita butuh mundur beberapa langkah untuk menyusun kembali visi hidup. tidak ada yang mustahil memang namun butuh tekad yang kuat dan perjuangan yang istiqomah.

Meracu lagi



January 8, 2016

City of God

Saya harus mengakui bahwa untuk urusan film, Saya selalu saja ketinggalan. beberapa film bagus sering kali tidak Saya tonton meskipun sudah tersedia di PC teman kantor hasil downloadan. Saya baru menonton ketika tidak ada kegiatan lain.

City of God adalah film yang sudah luaaamaaa sekali dan baru Saya tonton semalam. dirilis pada tahun 2002, tuh kan film lawas banget. ketahuan kalau memang Saya bukan pencinta film hanya penonton amatiran. ha.ha, garing...!!!

Film ini bercerita tentang kehidupan masyarakat kelas bawah di Brasil. Senjata, Seks, Kriminal sudah sangat diakrabi oleh masyarakat disana bahkan ketika mereka masih berumur sangat belia. namun jangan lupakan pula olahraga Sepakbola disana yang mengangkat nama Brasil di kancah Internasional, di film tersebut tergambar dengan jelas bahwa Sepakbola menjadi roh Masyarakat. di jalan-jalan dan di tanah lapang akan kita jumpai sekelompok bocah yang bermain bola.



January 5, 2016

Ada Syurga di Rumahmu

Terkadang kita penasaran terhadap sesuatu karena pemberitaan yang miring atau bahkan kontroversi. film "Ada Syurga di Rumahmu" adalah judul film yang diproduksi oleh Mizan Production. sesaat setelah film ini launcing, ada pihak yang mencurigai bahwa film ini disusupi oleh paham Syiah. 
 
Berita ini amat sangat provokatif menyatakan bahwa film ini disusupi paham Syiah hanya karena Mizan Production selaku produksi filmnya. namun mereka tidak menjelaskan secara gamblang kenapa Mereka menuduh film tersebut bernuansa Syiah.

sedari awal, Saya sudah tertarik menonton film ini namun baru terwujud kemarin malam. Saya memang sedang keranjingan menonton film sejak membeli speaker notebook akhir pekan lalu. beberapa film yang tersave di PC kantor kucopy entah film barat ataupun Indonesia.

Saya teringat kontroversi film tersebut dan mencari di folder Film di PC teman namun tidak ketemu. satu satunya jalan adalah mendownload meski jaringan Internet di kantor terlalu lambat. butuh waktu dua jam untuk menyelesaikan download film tersebut.

Cerita dari Film tersebut mengambil latar di Palembang sekitar pinggiran Sungai Musi. awal mula menonton film tersebut, kepalaku dipenuhi dengan persepsi bahwa film ini bercerita tentang Nikah Mut'ah, Buka Puasa yang ditunda, Shalat di Kuburan ataupun shalat yang dijamak meski tidak sedang bepergian. namun sama sekali tidak ada cerita seperti itu bahkan menurutku, cerita film ini amat sangat sederhana yaitu konflik tokoh utama seorang lulusan pesantren yang harus memilih antara mengejar cita-cita atau berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ramadhan kecil hidup sederhana di Pinggiran Sungai Musi. saat masuk sekolah, orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya ke Pesantren. perpisahan dengan kedua orang tuanya di usia yang masih belia membuatnya begitu sedih. di Pesantren, Ramadhan terkenal sebagai Santri yang cerdas bahkan setiap malam Jum'at, Dia bersama 2 orang temannya ke warung dekat Pesantren hanya untuk menonton ceramah.

setelah tamat Pesantren, Ramadhan mencoba merantau ke Jakarta mengikuti audisi casting. Ramadhan dilanda dilema mengingat Ibunya yang sedang sakit-sakitan di Kampung. pada akhirnya, Ramadhan memilih untuk pulang kampung dan berbakti kepada Orang tuanya, menjadi penceramah di Kampung.

pada akhir cerita, Ramadhan menjadi Dai nasional yang sering tampil di TV Nasional menyampaikan tauziahnya. 

Sampai sekarang, Saya masih tidak mengerti kenapa beberapa kalangan yang mengaku Agamais menganggap Film tersebut bernuansa ajaran Syiah, ataukah hanya karena Mizan Production sehingga mereka dengan mudahnya melabeli karya tersebut. selama ini memang Mizan Group dianggap sebagai representasi Kelompok Syiah di Negeri ini. ah, betapa tidak adilnya kita ini.

Rawamangun, 05 Januari 2016

January 4, 2016

Atau Apalah

Sudah 2016 dan Saya harus menulis sesuatu di ruang ini entah apa yang nantinya akan menjadi sampah berikutnya setidaknya terisi. Saya memang pengejar kuantitas dan mencampakkan di tong sampah kualitas.

Oke, 2015 sudah menjadi kenangan yang tidak perlu untuk disesali dan juga tidak perlu dibandingkan dengan tahun sekarang. setidaknya hanya menjadi pengingat bahwa waktu terus berlari sesuatu syariatnya. Saya dan kita semua tidak punya kuasa sedikitpun untuk menghentikan waktu hanya saja mungkin sebagai renungan bahwa kita semakin menua.

Saya khususnya sudah harus memulai untuk merenungkan  dan menetapkan seperti apa hidup yang harus kujalani. Bagaimana tidak, semua sudah tidak seperti pada mulanya, orang tua semakin menua bahkan Ayah yang dulunya masih kuat mengolah sawah, di tahun ini memutuskan untuk berhenti dan menyerahkan pengolahan sawah ke saudaranya. Saya tidak tahu pasti apa alasan sebenarnya bahkan untuk sekedar bertanya pun Saya tidak sanggup namun setidaknya dari analisaku bahwa ada 2 alasan pokok bagi Ayah sehingga memutuskan untuk berhenti mengolah sawah. 

Pertama karena kekuatannya yang sudah semakin menurun. bagaimana tidak, usia Ayah sudah memasuki 64 tahun. alasan kedua karena bebannya untuk membiayai anak-anaknya sudah berkurang. di akhir tahun kemarin, adik Saya yang bungsu sudah menyelesaikan kuliahnya di UIN, itu berarti bahwa Ayah sudah tidak punya beban membayar SPP setelah Beliau berhasil menamatkan keenam putra-putrinya.

Kemudian Ibu, beliau juga semakin beranjak renta. Banyak perubahan di guratan wajah Ibu yang menandakan bahwa umurnya semakin sepuh. Saat Pulang Kampung 2 minggu lalu. Saya sering memandangi wajahnya yang teduh, rambut yang memutih dan lipatan kulit di wajah yang semakin bertambah. Namun Saya banyak bersyukur dengan keadaan Ibu sekarang, wajahnya masih tetap sumringah apatahlagi ada 2 cucunya yang menjadi penyemangat hidupnya. Ibu juga masih kuat berdagang di pasar 2 kali seminggu. ah Ibu, selalu merindukan wajahmu.

Tahun 2016 pula menyadarkanku bahwa ada tanggung jawab besar yang sedang kupikul. Saya bertanggung jawab atas Gadis yang telah resmi menjadi Isteri. bukan perkara mudah karena semua yang ada pada dirinya adalah cermin dari sikapku sebagai seorang kepala keluarga.

Yah sudah kalau begitu, saya akan menghadapi 2016 ini dengan kepala tegak apapun resikonya. Toh semua hal akan baik-baik saja, hanya kecemasan di alam pikiran yang membuat hidup semakin njlimet. Toh pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa hidup hanyalah permainan Tuhan dimana kita hanya diharuskan bermain secara fair tanpa harus menambah atau mengurangi peran yang diamanahkan kepada kita.

tuh kan nyampah lagi, oke sampai disini aja kalau gitu
Rawamangun, 4 januari 201 13:36