January 19, 2016

Sukabumi

Saya orang yang tidak terlalu menikmati perjalanan alam jika terlalu banyak orang. entah kenapa seperti ada yang tereduksi meresapi ayat-ayat Alam ketika begitu banyak Manusia. sudah beberapa kali Aku piknik dengan teman kantor, entah saat masih Jawa Timur bahkan sekarang saat sudah di Jakarta, teman kantor kerap kali mengajak liburan. namun itu tadi, Aku selalu tidak menikmatinya jika terlalu banyak orang.

Menikmati alam bagiku seperti menelusuri kembali masa lalu. seperti memungut setiap cinta di masa lalu yang terlalu sayang untuk dilupakan. ya Aku memang tumbuh di Pedesaan yang masih asri. hari-hariku kuhabiskan di Gunung ataupun di sungai. bagiku, terlalu indah semua itu.

Sejak memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota kemudian merantau ke Ibu kota, praktis aku hanya bisa menyatu dengan sekumpulan pohon raksasa dari beton, arak-arakan kendaraan dan bisingnya hidup perkotaan. pilihannya lain untuk menikmati hutan, gunung ataupun pantai hanya ketika liburan.

Sudah 10 tahun Aku hidup di perkotaan, sekarang Aku bahkan berada di Ibu kota. sudah pasti lebih pengap dan padat dari kota Makassar. Aku yang setiap harinya harus bangun pagi dini hari kemudian berjibaku dengan padatnya jalan untuk sampai di kantor begitupun ketika sore menjelang, perjuangan pulang ke rumah seperti halnya mengarungi samudera lautan. terengap-engap ketika sampai di rumah.

Awalnya, Aku merasa aneh melihat pekerja di kota ini yang rela membayar mahal demi menikmati Alam. mereka plesiran kemana-mana dengan biaya yang begitu mahal disaat yang sama, suasana yang mereka ingin nikmati bisa kurasakan dengan sepuas-puasnya ketika masih di kampung. Lama-kelamaan, Aku mafhum dengan mereka yang merogoh kocek dalam-dalam demi menikmati Alam, bagaimana tidak, kota ini menggilas ketenangan dan pada dasarnya, Manusia suka menyatukan dengan Alam. Aku kemudian masuk dalam gerombolan pekerja yang harus mengeluarkan duit untuk bisa menikmati Alam.

Kemarin, teman kantorku berlibur ke sebuah perkampungan di Sukabumi tepatnya di Citatih. Aku ikut serta bersama dengan 30 orang teman kantor. kami berangkat dari Jakarta tepat pukul 07:00 WIB. bermacet ria di sepanjang Tol dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 13:00 WIB. waktu yang terlalu lama karena normalnya, waktu tempuh hanya sekitar 3 jam ketika jalanan tidak macet.

Kami kemudian istirahat dan makan siang, setelah itu, ada Games yang menurutku tidak terlalu menarik. Aku sering berpikir bahwa hidup ini memang paradoks. orang kota membayar demi bisa merasakan suasana pedesaan sedangkan orang Desa mengeluarkan orang demi merasakan kehidupan di kota. Games yang kami mainkan pun sebenarnya permainan sederhana yang kami mainkan dulu di kampung tanpa harus keluar biaya. senja menjelang, kami istirahat untuk mengumpulkan tenaga demi persiapan rafting besok harinya.
 



Malamnya ada organ tunggal yang mengiringi makan malam sampai pukul 23:00 WIB. di kampungku dulu dikenal sebagai candoleng-doleng dan itu hanya ada ketika ada acara nikahan. 

Esok harinya, kami bersiap rafting. Aku melihat wajah sumringah dari teman-temanku ketika akan rafting sedangkan Aku biasa saja. Aku sudah merasakan sensasi rafting saat masih bocah, kami memakai ban dalam Mobil yang dipakai sebagai pelampung. Aku bersama teman-teman masa kecil menikmati ketika sungai banjir. kami berangkat ke Hulu sungai dan memulai petualangan sampai di Hilir. sensasi masa kecil yang selalu kuingat.



Hampir tidak ada bedanya sungai yang di Citatih dengan sungai yang ada di kampungku. kami menghabiskan 2 jam sampai di hilir kemudian naik angkot kembali ke penginapan.

Kami makan siang kemudian bergegas pulang kembali ke Ibu kota. Bis membawa kami pukul tepat  pukul 14:00 WIB dan sampai di kantor saat jarum jam menunjukkan pukul 19:00 WIB.
 



Perjalanan Alam yang lumayan membuatku menyegarkan pikiran-pikiranku dan bernostalgia dengan kehidupan masa kecil. Alam selalu menawarkan penawar bagi pikiran dan badan yang penat dengan kehidupan kota.

Pulogadung, 18 Januari 2016

No comments: