January 5, 2016

Ada Syurga di Rumahmu

Terkadang kita penasaran terhadap sesuatu karena pemberitaan yang miring atau bahkan kontroversi. film "Ada Syurga di Rumahmu" adalah judul film yang diproduksi oleh Mizan Production. sesaat setelah film ini launcing, ada pihak yang mencurigai bahwa film ini disusupi oleh paham Syiah. 
 
Berita ini amat sangat provokatif menyatakan bahwa film ini disusupi paham Syiah hanya karena Mizan Production selaku produksi filmnya. namun mereka tidak menjelaskan secara gamblang kenapa Mereka menuduh film tersebut bernuansa Syiah.

sedari awal, Saya sudah tertarik menonton film ini namun baru terwujud kemarin malam. Saya memang sedang keranjingan menonton film sejak membeli speaker notebook akhir pekan lalu. beberapa film yang tersave di PC kantor kucopy entah film barat ataupun Indonesia.

Saya teringat kontroversi film tersebut dan mencari di folder Film di PC teman namun tidak ketemu. satu satunya jalan adalah mendownload meski jaringan Internet di kantor terlalu lambat. butuh waktu dua jam untuk menyelesaikan download film tersebut.

Cerita dari Film tersebut mengambil latar di Palembang sekitar pinggiran Sungai Musi. awal mula menonton film tersebut, kepalaku dipenuhi dengan persepsi bahwa film ini bercerita tentang Nikah Mut'ah, Buka Puasa yang ditunda, Shalat di Kuburan ataupun shalat yang dijamak meski tidak sedang bepergian. namun sama sekali tidak ada cerita seperti itu bahkan menurutku, cerita film ini amat sangat sederhana yaitu konflik tokoh utama seorang lulusan pesantren yang harus memilih antara mengejar cita-cita atau berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ramadhan kecil hidup sederhana di Pinggiran Sungai Musi. saat masuk sekolah, orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya ke Pesantren. perpisahan dengan kedua orang tuanya di usia yang masih belia membuatnya begitu sedih. di Pesantren, Ramadhan terkenal sebagai Santri yang cerdas bahkan setiap malam Jum'at, Dia bersama 2 orang temannya ke warung dekat Pesantren hanya untuk menonton ceramah.

setelah tamat Pesantren, Ramadhan mencoba merantau ke Jakarta mengikuti audisi casting. Ramadhan dilanda dilema mengingat Ibunya yang sedang sakit-sakitan di Kampung. pada akhirnya, Ramadhan memilih untuk pulang kampung dan berbakti kepada Orang tuanya, menjadi penceramah di Kampung.

pada akhir cerita, Ramadhan menjadi Dai nasional yang sering tampil di TV Nasional menyampaikan tauziahnya. 

Sampai sekarang, Saya masih tidak mengerti kenapa beberapa kalangan yang mengaku Agamais menganggap Film tersebut bernuansa ajaran Syiah, ataukah hanya karena Mizan Production sehingga mereka dengan mudahnya melabeli karya tersebut. selama ini memang Mizan Group dianggap sebagai representasi Kelompok Syiah di Negeri ini. ah, betapa tidak adilnya kita ini.

Rawamangun, 05 Januari 2016

No comments: