Sudah 2016 dan Saya harus menulis sesuatu di ruang ini entah apa yang nantinya akan menjadi sampah berikutnya setidaknya terisi. Saya memang pengejar kuantitas dan mencampakkan di tong sampah kualitas.
Oke, 2015 sudah menjadi kenangan yang tidak perlu untuk disesali dan juga tidak perlu dibandingkan dengan tahun sekarang. setidaknya hanya menjadi pengingat bahwa waktu terus berlari sesuatu syariatnya. Saya dan kita semua tidak punya kuasa sedikitpun untuk menghentikan waktu hanya saja mungkin sebagai renungan bahwa kita semakin menua.
Saya khususnya sudah harus memulai untuk merenungkan dan menetapkan seperti apa hidup yang harus kujalani. Bagaimana tidak, semua sudah tidak seperti pada mulanya, orang tua semakin menua bahkan Ayah yang dulunya masih kuat mengolah sawah, di tahun ini memutuskan untuk berhenti dan menyerahkan pengolahan sawah ke saudaranya. Saya tidak tahu pasti apa alasan sebenarnya bahkan untuk sekedar bertanya pun Saya tidak sanggup namun setidaknya dari analisaku bahwa ada 2 alasan pokok bagi Ayah sehingga memutuskan untuk berhenti mengolah sawah.
Pertama karena kekuatannya yang sudah semakin menurun. bagaimana tidak, usia Ayah sudah memasuki 64 tahun. alasan kedua karena bebannya untuk membiayai anak-anaknya sudah berkurang. di akhir tahun kemarin, adik Saya yang bungsu sudah menyelesaikan kuliahnya di UIN, itu berarti bahwa Ayah sudah tidak punya beban membayar SPP setelah Beliau berhasil menamatkan keenam putra-putrinya.
Kemudian Ibu, beliau juga semakin beranjak renta. Banyak perubahan di guratan wajah Ibu yang menandakan bahwa umurnya semakin sepuh. Saat Pulang Kampung 2 minggu lalu. Saya sering memandangi wajahnya yang teduh, rambut yang memutih dan lipatan kulit di wajah yang semakin bertambah. Namun Saya banyak bersyukur dengan keadaan Ibu sekarang, wajahnya masih tetap sumringah apatahlagi ada 2 cucunya yang menjadi penyemangat hidupnya. Ibu juga masih kuat berdagang di pasar 2 kali seminggu. ah Ibu, selalu merindukan wajahmu.
Tahun 2016 pula menyadarkanku bahwa ada tanggung jawab besar yang sedang kupikul. Saya bertanggung jawab atas Gadis yang telah resmi menjadi Isteri. bukan perkara mudah karena semua yang ada pada dirinya adalah cermin dari sikapku sebagai seorang kepala keluarga.
Yah sudah kalau begitu, saya akan menghadapi 2016 ini dengan kepala tegak apapun resikonya. Toh semua hal akan baik-baik saja, hanya kecemasan di alam pikiran yang membuat hidup semakin njlimet. Toh pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa hidup hanyalah permainan Tuhan dimana kita hanya diharuskan bermain secara fair tanpa harus menambah atau mengurangi peran yang diamanahkan kepada kita.
tuh kan nyampah lagi, oke sampai disini aja kalau gitu
Rawamangun, 4 januari 201 13:36