February 2, 2016

Bekerja dengan Hati

Kayaknya Saya sudah dua kali bercerita tentangmu di masa awal Kau kuliah dan pada saat Kau lulus kuliah. Sekarang Kau sudah meniti karir sebagai Jurnalis berita Online. Pekerjaan yang mungkin sesuai dengan jurusanmu ketika kuliah.

Sebelum memulai bacotanku, saya harus akui bahwa saya bangga melihatmu menjadi Jurnalis. Kau harus tahu bahwa suatu waktu setamat Kuliah, saya pernah bermimpi menjadi seorang Jurnalis. Kau mau tahu apa alasanku waktu itu memilih Jurnalis sebagai Pekerjaan.? oleh karena dari pandanganku, Jurnalis masih punya hak kuasa bagi dirinya saat bekerja seperti halnya Dosen. Maksud saya bahwa ada nilai-nilai dari dalam diri kita yang bisa kita kendalikan tidak seperti ketika menjadi pegawai perusahaan seperti diriku.

Memilih menjadi karyawan perusahaan berarti takluk terhadap semua aturan dan remeh temeh mengenai perusahaan dengan satu tujuan, PROFIT. Etapi harus disadari pula bahwa portal online ataupun media lainnya mengejar profit loh. Iya yah namun setidaknya Para Jurnalis yang masih menjunjung tinggi "Idealisme" Mereka bisa menyesuaikannya dengan berita yang akan diangkat. misalnya benar-benar mengedepankan berita yang sudah diklarifikasi kebenarannya.

Alasan lain kenapa saya senang saat kau memilih menjadi Jurnalis adalah kau bisa terus belajar tentang hidup. Kesempatan belajar dari hidup yang real terbuka lebar. melihat fenomena kehidupan dan bisa mengakses hal-hal yang terjadi di masyarakat. Jurnalis pun dituntut untuk terus membaca dan menulis dan menurutku dua hal tersebut sangat menyenangkan bukan.?


Saya mungkin tidak harus mengguruimu dari segi etika Jurnalistik karena kau sudah belajar di bangku kuliah tinggal bagaimana kau dengan sepenuh hati mengaplikasikan teori-teori yang sudah kau pelajari. Setidaknya Saya ingin mengingatkanmu bahwa berita yang aktual itu harus benar-benar sudah diverifikasi dari orang pertama sehingga tidak menyebarkan berita yang abal-abal. 

Kekhawatiranku saat ini berfokus pada banyaknya berita-berita yang tidak benar. Jurnalis seakan menggampangkan berita yang diperoleh dari sumber yang tidak dipercaya kemudian mengejar deadline akhirnya berita HOAX pun diterbitkan. Saya selalu berharap Kau tidak termasuk dalam barisan Jurnalis yang hanya mengejar target namun melupakan etika Jurnalistik. 

Mungkin sebaiknya Kau harus banyak belajar dari Jurnalis senior yang kredibilitasnya sudah tidak diragukan. Kau bisa mengakses cara penyampaian berita mereka melalui tulisan-tulisannya. Tidak perlu lah Saya sebutkan Jurnalis yang seharusnya menjadi rujukanmu karena Saya yakin Kau punya akses untuk mencari sendiri.

Di beberapa kesempatan saat kita bercakap lewat Handphone. Saya selalu mengingatkan supaya jangan sekali-kali menjadikan uang sebagai faktor utama dalam bekerja. okelah uang itu perlu namun jika sudah menjadi target utama maka yassalam, kualitas kerja akan menjadi amburadul dan kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi tidak akan terarah.

Saya tidak munafik masalah uang. saat ini saya sudah berkeluarga dan pastinya butuh uang dan terkadang dalam bekerja pun motivasiku adalah uang namun setidaknya ada saat ketika uang menjadi motivasi maka kembali perbaharui niat dalam bekerja.

Terakhir, selamat meniti karir menjadi Jurnalis yang profesional dan jangan sekali-kali memberitakan sesuatu yang belum Kau verifikasi dari pertama dan kebenarannya sama sekali tidak kau ketahui.

Pulogadung, 2 Februari 2016

Februari

Apa yang berubah dengan bulan yang sama di tahun lalu..? Hanya satu, mungkin karena saya sudah tidak terlalu sering merekam dan meninggalkan jejak dalam tulisan. Saya menjelma menjadi sesosok pribadi yang sok ingin perfeksionis sehingga tulisan harus diukur dari kriteria baik tidaknya dibaca orang lain. Harusnya kan saya tidak peduli dengan semua itu, harusnya saya seperti tahun-tahun sebelumnya yang acuh terhdap kualitas tulisan dan tetap merekamnya meski pengalaman paling tidak berharga sekalipun.

Diukur dari kuantitas menulis di blog ini memang terjun bebas. meski dengan alasan saya sedang belajar menulis yang lebih tertata rapi di wordpress namun toh itu tidak sejalan dengan apa yang ada di benakku semenjak memutuskan untuk membuat laman di wordpress. 

Sebenarnya sih tidak ada yang dirugikan ketika saya jarang atau bahkan tidak menulis karena toh saya bukan seorang penulis namun lebih kepada menyia-nyiakan pengalaman yang nantinya akan menjadi kenangan yang ditertawakan kemudian hari. Apatahlagi di kota ini, tersebar begitu banyak hal unik yang mungkin jarang dijumpai ketika bermukim di tempat lain.

Saya memang bukan pencerita yang baik. menggambarkan suasana secara detail sehingga orang yang membacanya ikut serta terlarut dalam suasana seperti yang saya tuliskan namun setidaknya saya masih bisa menuliskan rentetan peristiwa yang kualami.

Hampir emapt tahun lamanya merantau benar-benar mempertemukanku dengan banyak hal yang baru. Sebagian saya tulis namun banyak banget yang terlewatkan. 

Ah, sedang menulis apa saya ini. Efek dari blog yang jarang diisi.
Pulogadung, 2 Februari 2016

January 28, 2016

Andong

Barusan di lampu merah mampang. Kebetulan ada Andong yang berhenti terjebak lampu merah. Kuda terlihat begitu letih dengan mata menggunakan pelindung. Mungkin seharian menarik penumpang. Ada rasa iba melihat kuda seperti itu. sekilas pandanganku berpindah ke empunya yang juga terlihat penat. Oh, lebih iba lagi melihat pemuda yang mungkin seumuran denganku. mungkin isterinya sedang menunggu uang jajan.

Sekian menit kemudian, lampu hijau menyala pertanda kendaraan akan segera dipacu demikian pula halnya Andong tersebut akan beranjak. Namun rasa iba yang terbersit di dadaku beberapa menit yang lalu sirna tak bersisa mendengar umpatan si lelaki yang merasa terhalang oleh taxi silver. Entah apa yang dikatakannya namun begitu jelas terdengar di telingaku lelaki tersebut meneriaki taxi yang perlahan memacu gas mobilnya. Menurutku tidak mungkin sebuah mobil yang berhenti di lampu merah dengan serta merta langsung tancap gas ketika lampu hijau menyala.

Ah, entahlah. mungkin si Lelaki terburu-buru atau bahkan sedang ada urusan yang mendesak namun menurutku tidak semua keterburu-buruan tersebut diselesaikan dengan umpatan bahkan terhadap orang lain.

Pemandangan seperti itu memang kerap terlihat oleh mataku di kota ini. Orang seperti merasa menjadi lebih penting dari yang lainnya. mereka terburu-buru dikejar waktu, deadline pekerjaan, atau apalah sehingga saat merasa terhambat oleh yang lain, umpatan adalah cara terbaik bagi Mereka, atau mungkin termasuk aku, untuk melampiaskan perasaan. Di kota ini, kebanyakan dari kami seperti robot. Bekerja dan bekerja sehingga hampir saja mereduksi diri kami sendiri sebagai manusia. Namun di kota ini pula, aku selalu percaya bahwa mereka yang kuat dan masih mempertahankan identitasnya sebagai manusia adalah sang juara. Bagaimana tidak, di kota inilah, godaan sebagai manusia berada disetiap celah.

Oke, aku akan belajar mempertahankan nilai kemanusiaanku di kota ini

Mampang, 29 Januari 2016

January 19, 2016

Sukabumi

Saya orang yang tidak terlalu menikmati perjalanan alam jika terlalu banyak orang. entah kenapa seperti ada yang tereduksi meresapi ayat-ayat Alam ketika begitu banyak Manusia. sudah beberapa kali Aku piknik dengan teman kantor, entah saat masih Jawa Timur bahkan sekarang saat sudah di Jakarta, teman kantor kerap kali mengajak liburan. namun itu tadi, Aku selalu tidak menikmatinya jika terlalu banyak orang.

Menikmati alam bagiku seperti menelusuri kembali masa lalu. seperti memungut setiap cinta di masa lalu yang terlalu sayang untuk dilupakan. ya Aku memang tumbuh di Pedesaan yang masih asri. hari-hariku kuhabiskan di Gunung ataupun di sungai. bagiku, terlalu indah semua itu.

Sejak memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota kemudian merantau ke Ibu kota, praktis aku hanya bisa menyatu dengan sekumpulan pohon raksasa dari beton, arak-arakan kendaraan dan bisingnya hidup perkotaan. pilihannya lain untuk menikmati hutan, gunung ataupun pantai hanya ketika liburan.

Sudah 10 tahun Aku hidup di perkotaan, sekarang Aku bahkan berada di Ibu kota. sudah pasti lebih pengap dan padat dari kota Makassar. Aku yang setiap harinya harus bangun pagi dini hari kemudian berjibaku dengan padatnya jalan untuk sampai di kantor begitupun ketika sore menjelang, perjuangan pulang ke rumah seperti halnya mengarungi samudera lautan. terengap-engap ketika sampai di rumah.

Awalnya, Aku merasa aneh melihat pekerja di kota ini yang rela membayar mahal demi menikmati Alam. mereka plesiran kemana-mana dengan biaya yang begitu mahal disaat yang sama, suasana yang mereka ingin nikmati bisa kurasakan dengan sepuas-puasnya ketika masih di kampung. Lama-kelamaan, Aku mafhum dengan mereka yang merogoh kocek dalam-dalam demi menikmati Alam, bagaimana tidak, kota ini menggilas ketenangan dan pada dasarnya, Manusia suka menyatukan dengan Alam. Aku kemudian masuk dalam gerombolan pekerja yang harus mengeluarkan duit untuk bisa menikmati Alam.

Kemarin, teman kantorku berlibur ke sebuah perkampungan di Sukabumi tepatnya di Citatih. Aku ikut serta bersama dengan 30 orang teman kantor. kami berangkat dari Jakarta tepat pukul 07:00 WIB. bermacet ria di sepanjang Tol dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 13:00 WIB. waktu yang terlalu lama karena normalnya, waktu tempuh hanya sekitar 3 jam ketika jalanan tidak macet.

Kami kemudian istirahat dan makan siang, setelah itu, ada Games yang menurutku tidak terlalu menarik. Aku sering berpikir bahwa hidup ini memang paradoks. orang kota membayar demi bisa merasakan suasana pedesaan sedangkan orang Desa mengeluarkan orang demi merasakan kehidupan di kota. Games yang kami mainkan pun sebenarnya permainan sederhana yang kami mainkan dulu di kampung tanpa harus keluar biaya. senja menjelang, kami istirahat untuk mengumpulkan tenaga demi persiapan rafting besok harinya.
 



Malamnya ada organ tunggal yang mengiringi makan malam sampai pukul 23:00 WIB. di kampungku dulu dikenal sebagai candoleng-doleng dan itu hanya ada ketika ada acara nikahan. 

Esok harinya, kami bersiap rafting. Aku melihat wajah sumringah dari teman-temanku ketika akan rafting sedangkan Aku biasa saja. Aku sudah merasakan sensasi rafting saat masih bocah, kami memakai ban dalam Mobil yang dipakai sebagai pelampung. Aku bersama teman-teman masa kecil menikmati ketika sungai banjir. kami berangkat ke Hulu sungai dan memulai petualangan sampai di Hilir. sensasi masa kecil yang selalu kuingat.



Hampir tidak ada bedanya sungai yang di Citatih dengan sungai yang ada di kampungku. kami menghabiskan 2 jam sampai di hilir kemudian naik angkot kembali ke penginapan.

Kami makan siang kemudian bergegas pulang kembali ke Ibu kota. Bis membawa kami pukul tepat  pukul 14:00 WIB dan sampai di kantor saat jarum jam menunjukkan pukul 19:00 WIB.
 



Perjalanan Alam yang lumayan membuatku menyegarkan pikiran-pikiranku dan bernostalgia dengan kehidupan masa kecil. Alam selalu menawarkan penawar bagi pikiran dan badan yang penat dengan kehidupan kota.

Pulogadung, 18 Januari 2016

January 14, 2016

14 Januari 2016

Hari yang melelahkan dengan berbagai pikiran yang kalut. Tentang banyak hal yang terjadi hari ini. Kemanusiaan yang tercabik dan keamanan yang menjadi pertaruhan demi segelintir kaum yang mengatasnamakan keagungan Tuhan, entah Tuhan mana yang mereka sedang perjuangkan.
kebenaran seperti apa yang sedang diperjuangkan dengan mengorbankan nyawa orang lain. tidak pernah ada rumus kebenaran dengan jalan medzalimi orang lain. tentang tafsiran kitab suci yang menurut Saya keliru.

Bom menghentak dan menimbulkan teror bagi Masyarakat luas. memang sih korbannya tidak seberapa dibandingkan dengan korban bencana Tsunami namun psikologi Masyakarat luas yang sedang terguncang. semua orang akan merasa paranoid berada di kerumunan atau bahkan di rumah sendiri. 

Ah, Saya kehabisan teori untuk menggambarkan betapa ngerinya Manusia yang memilih untuk berperang daripada berdamai atas nama kesucian. bulshitt menurutku apalagi ditengah Negeri yang aman.

kita seakan ingin menyamai Tuhan bahkan melampaui kuasaNya. kebenaran sepertinya berada di tangan manusia, ah ironi. semua merasa paling benar dan menganggap kebenarannya mutlak. okelah, dalam hidup memang kita harus meyakini kebenaran yang menjadi pedoman hidup namun bukan berarti itu melegitimasi dalam hal menyakiti orang lain karena kebenaran yang kita anut seharusnya hubungannya dengan Tuhan. kebenaran sejatinya yaitu mengasihi ciptaan Tuhan.

Aku benar-benar meracu dengan kejadian kemarin. meski ada teori lain yang menganggap bahwa kejadian tersebut karena tidak adanya keadilan di Bumi ini namun menurutku tidak seharusnya menjustifikasi untuk merusak. bolehlah kita kecewa dengan pemimpin yang tidak adil namun melakukan tindakan yang kemudian malah menghancurkan seperti memperburuk keadaan.

ini teoriku dan jangan diikuti bahwa kejadian-kejadian tersebut lebih didasari atas kepentingan ekonomi politik. mungkin loh ya. 
mudah saja menempatkan diri pada orang lain namun kali ini, rasanya sangat sulit untuk mengerti tindakan meneror dengan alasan kesucian Tuhan apatahlagi di tengah Negeri yang tidak terjadi konflik.

Rawamangun,  16 Januari 2016

January 11, 2016

Ironi Kehidupan

Untuk sebuah keadaan yang benar membuatku dalam kondisi stagnan. berpikir tentang diri sendiri dan mengenali siapa Aku. barangkali hanya jantung yang terus berdenyut sehingga Aku masih ada selebihnya Aku tidak lebih dari sekedar robot yang terus bekerja demi sekedar mengisi perut, tidak ada yang lebih.

Pikiran adalah hal yang paling memberatkan. menginginkan apa saja yang absurd dan bahkan tidak dimanfaatkan. untuk hanya?? sekedar untuk mengukuhkan ego yang tidak ada habis-habisnya untuk diikuti. 

Belajar menafikan ego adalah perjuangan paling berat. Manusia terlalu sering menonton fenomena hidup yang abdsurd seakan itulah inti namun menipu. Materi dan kekuasaan seringkali menjadi simbol ego paling tinggi. kita sedang mengejar fatamorgana kehidupan, bukan yang hakekat.

Ketika sudah terlalu jauh berjalan dan meyakini semua yang diimpikan hanyalah sampah, maka kita butuh mundur beberapa langkah untuk menyusun kembali visi hidup. tidak ada yang mustahil memang namun butuh tekad yang kuat dan perjuangan yang istiqomah.

Meracu lagi



January 8, 2016

City of God

Saya harus mengakui bahwa untuk urusan film, Saya selalu saja ketinggalan. beberapa film bagus sering kali tidak Saya tonton meskipun sudah tersedia di PC teman kantor hasil downloadan. Saya baru menonton ketika tidak ada kegiatan lain.

City of God adalah film yang sudah luaaamaaa sekali dan baru Saya tonton semalam. dirilis pada tahun 2002, tuh kan film lawas banget. ketahuan kalau memang Saya bukan pencinta film hanya penonton amatiran. ha.ha, garing...!!!

Film ini bercerita tentang kehidupan masyarakat kelas bawah di Brasil. Senjata, Seks, Kriminal sudah sangat diakrabi oleh masyarakat disana bahkan ketika mereka masih berumur sangat belia. namun jangan lupakan pula olahraga Sepakbola disana yang mengangkat nama Brasil di kancah Internasional, di film tersebut tergambar dengan jelas bahwa Sepakbola menjadi roh Masyarakat. di jalan-jalan dan di tanah lapang akan kita jumpai sekelompok bocah yang bermain bola.



January 5, 2016

Ada Syurga di Rumahmu

Terkadang kita penasaran terhadap sesuatu karena pemberitaan yang miring atau bahkan kontroversi. film "Ada Syurga di Rumahmu" adalah judul film yang diproduksi oleh Mizan Production. sesaat setelah film ini launcing, ada pihak yang mencurigai bahwa film ini disusupi oleh paham Syiah. 
 
Berita ini amat sangat provokatif menyatakan bahwa film ini disusupi paham Syiah hanya karena Mizan Production selaku produksi filmnya. namun mereka tidak menjelaskan secara gamblang kenapa Mereka menuduh film tersebut bernuansa Syiah.

sedari awal, Saya sudah tertarik menonton film ini namun baru terwujud kemarin malam. Saya memang sedang keranjingan menonton film sejak membeli speaker notebook akhir pekan lalu. beberapa film yang tersave di PC kantor kucopy entah film barat ataupun Indonesia.

Saya teringat kontroversi film tersebut dan mencari di folder Film di PC teman namun tidak ketemu. satu satunya jalan adalah mendownload meski jaringan Internet di kantor terlalu lambat. butuh waktu dua jam untuk menyelesaikan download film tersebut.

Cerita dari Film tersebut mengambil latar di Palembang sekitar pinggiran Sungai Musi. awal mula menonton film tersebut, kepalaku dipenuhi dengan persepsi bahwa film ini bercerita tentang Nikah Mut'ah, Buka Puasa yang ditunda, Shalat di Kuburan ataupun shalat yang dijamak meski tidak sedang bepergian. namun sama sekali tidak ada cerita seperti itu bahkan menurutku, cerita film ini amat sangat sederhana yaitu konflik tokoh utama seorang lulusan pesantren yang harus memilih antara mengejar cita-cita atau berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ramadhan kecil hidup sederhana di Pinggiran Sungai Musi. saat masuk sekolah, orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya ke Pesantren. perpisahan dengan kedua orang tuanya di usia yang masih belia membuatnya begitu sedih. di Pesantren, Ramadhan terkenal sebagai Santri yang cerdas bahkan setiap malam Jum'at, Dia bersama 2 orang temannya ke warung dekat Pesantren hanya untuk menonton ceramah.

setelah tamat Pesantren, Ramadhan mencoba merantau ke Jakarta mengikuti audisi casting. Ramadhan dilanda dilema mengingat Ibunya yang sedang sakit-sakitan di Kampung. pada akhirnya, Ramadhan memilih untuk pulang kampung dan berbakti kepada Orang tuanya, menjadi penceramah di Kampung.

pada akhir cerita, Ramadhan menjadi Dai nasional yang sering tampil di TV Nasional menyampaikan tauziahnya. 

Sampai sekarang, Saya masih tidak mengerti kenapa beberapa kalangan yang mengaku Agamais menganggap Film tersebut bernuansa ajaran Syiah, ataukah hanya karena Mizan Production sehingga mereka dengan mudahnya melabeli karya tersebut. selama ini memang Mizan Group dianggap sebagai representasi Kelompok Syiah di Negeri ini. ah, betapa tidak adilnya kita ini.

Rawamangun, 05 Januari 2016

January 4, 2016

Atau Apalah

Sudah 2016 dan Saya harus menulis sesuatu di ruang ini entah apa yang nantinya akan menjadi sampah berikutnya setidaknya terisi. Saya memang pengejar kuantitas dan mencampakkan di tong sampah kualitas.

Oke, 2015 sudah menjadi kenangan yang tidak perlu untuk disesali dan juga tidak perlu dibandingkan dengan tahun sekarang. setidaknya hanya menjadi pengingat bahwa waktu terus berlari sesuatu syariatnya. Saya dan kita semua tidak punya kuasa sedikitpun untuk menghentikan waktu hanya saja mungkin sebagai renungan bahwa kita semakin menua.

Saya khususnya sudah harus memulai untuk merenungkan  dan menetapkan seperti apa hidup yang harus kujalani. Bagaimana tidak, semua sudah tidak seperti pada mulanya, orang tua semakin menua bahkan Ayah yang dulunya masih kuat mengolah sawah, di tahun ini memutuskan untuk berhenti dan menyerahkan pengolahan sawah ke saudaranya. Saya tidak tahu pasti apa alasan sebenarnya bahkan untuk sekedar bertanya pun Saya tidak sanggup namun setidaknya dari analisaku bahwa ada 2 alasan pokok bagi Ayah sehingga memutuskan untuk berhenti mengolah sawah. 

Pertama karena kekuatannya yang sudah semakin menurun. bagaimana tidak, usia Ayah sudah memasuki 64 tahun. alasan kedua karena bebannya untuk membiayai anak-anaknya sudah berkurang. di akhir tahun kemarin, adik Saya yang bungsu sudah menyelesaikan kuliahnya di UIN, itu berarti bahwa Ayah sudah tidak punya beban membayar SPP setelah Beliau berhasil menamatkan keenam putra-putrinya.

Kemudian Ibu, beliau juga semakin beranjak renta. Banyak perubahan di guratan wajah Ibu yang menandakan bahwa umurnya semakin sepuh. Saat Pulang Kampung 2 minggu lalu. Saya sering memandangi wajahnya yang teduh, rambut yang memutih dan lipatan kulit di wajah yang semakin bertambah. Namun Saya banyak bersyukur dengan keadaan Ibu sekarang, wajahnya masih tetap sumringah apatahlagi ada 2 cucunya yang menjadi penyemangat hidupnya. Ibu juga masih kuat berdagang di pasar 2 kali seminggu. ah Ibu, selalu merindukan wajahmu.

Tahun 2016 pula menyadarkanku bahwa ada tanggung jawab besar yang sedang kupikul. Saya bertanggung jawab atas Gadis yang telah resmi menjadi Isteri. bukan perkara mudah karena semua yang ada pada dirinya adalah cermin dari sikapku sebagai seorang kepala keluarga.

Yah sudah kalau begitu, saya akan menghadapi 2016 ini dengan kepala tegak apapun resikonya. Toh semua hal akan baik-baik saja, hanya kecemasan di alam pikiran yang membuat hidup semakin njlimet. Toh pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa hidup hanyalah permainan Tuhan dimana kita hanya diharuskan bermain secara fair tanpa harus menambah atau mengurangi peran yang diamanahkan kepada kita.

tuh kan nyampah lagi, oke sampai disini aja kalau gitu
Rawamangun, 4 januari 201 13:36

December 31, 2015

Catatan Akhir Tahun


Kembali mengunjungimu setelah sekian lama lupa. Hanya sekedar membaca tulisan-tulisan sampah yang pernah kuukir. Tulisan disini mayoritas tidak pernah kubaca setelah kutulis karena terkesan norak namun entah kenapa, Aku selalu saja betah untuk nyampah di blog ini. Entah sekedar untuk eksis, ingin dianggap keren atau apalah.

Ingin menulis kajian ekopol namun referensi minim oleh karena malas membaca, ingin menuliskan fenomena sehari-hari namun selalu saja hasilnya tulisan yang nanggung dan terkesan dipaksakan yang berakhir menjadi tulisan amat sangat norak dan menggelikan bahkan untuk sedekar dibaca sendiri, ingin mengisi blog ini cerpen tetapi gagal juga karena sama sekali tidak berjiwa, ingin belajar berpuisi namun pemilihan diksi selalu saja tidak pas. entah genre tulisan apalagi yang pernah kucoba namun sama sekali tidak satupun yang berhasil mengesankan bahkan untuk diriku sendiri.

Okelah, ruang ini hanya akan menjadi semacam tempat belajar untuk mencoba meniru tulisan-tulisan yang kusuka meski berakhir menjadi tulisan yang tidak ada gunanya sama sekali. 

Harus kuakui bahwa untuk ukuran kuantitas, 2 tahun terakhir aku banyak mengisi ruang ini dengan berbagai macam coretan semau gue namun untuk ukuran kualitas, tidak perlu ditanyakan. Terlalu banyak tulisan yang hanya berupa draft bahkan tidak diakhiri dengan kesimpulan atau inti dari tulisan itu sendiri.

Oh iya, tadinya ingin menulis catatan akhir tahun dan resolusi seperti apa ruang ini untuk tahun-tahun berikutnya. Sederhana sih sebenarnya. Ingin menulis yang lebih berkualitas lagi apapun jenis tulisannya. jika tulisan kehidupan sehari-hari, semoga jelas inti tulisannya dan tidak serba nanggung, jikalaupun cerita namun tetap mengandung nilai kehidupan dan apapun nanti tulisannya. hanya berharap bisa membawa nilai kehidupan meski hanya sekedar sebagai pengingat diri sendiri bahwa ada banyak hal dalam hidup yang perlu dimaknai, direnungi kemudian dijadikan pelajaran untuk lebih baik lagi.

Semoga saja tidak ada perasaan ingin dianggap keren dan berharap menuai pujian dari orang lain, toh labelisasi kekerenan itu harusnya ditempatkan di anus yang bercampur dengan pup sehingga dengan mudah tiap saat kita membuangnya kedalam kloset kapanpun kita mau. Jika kekerenan diletakkan di muka maka hanya akan menjadi topeng yang menutupi diri sebenarnya. Berhentilah untuk menghamba pujian dan belajarlah untuk hal yang lebih substansial lagi.

Gemuruh terompet sudah sahut-sahutan di kota ini, kuakhiri saja catatan ini kemudian cuci muka dan kaki, menuju pembaringan dan menarik selimut, menyumbat telinga dari pekaknya duniawi dan terlepas dari euphoria manusia yang sedang menyambut tahun baru.

Ah, entah apa yang sedang mereka rayakan diluar sana sambil menghabiskan beribu lembar duit..? mereka sedang merayakan perjalanan menuju kepunahan, merayakan absurditas. Aku memilih tidur. Merayakan tahun baru dengan caraku sendiri

Selamat Tahun baru 2016 (katanya)
Mampang Prapatan VII
31 Desember 2015  22:36

December 16, 2015

Surat Kepada Dodol Penyuka Juventusss

Dear Kawanku Dodol,

Kau pasti tahu kenapa Aku memanggilmu si Dodol..? oleh sebab karena kau menyukai sebuah klub dengan kostum seperti marka jalan juga seperti warna kantong plastik hitam putih, klub yang menurutku sangat tidak keren dan layak bermain di liga Italia Serie B.
 
Sebelum Aku memuji-muji klub favoritmu, mari kita bernotalgia tentang pertemanan kita. Aku tahu kau penggila Sepakbola dan begitupun juga Aku adanya.

Aku masih tidak mengerti kenapa kau memilih klub dari Turin yang sangat tidak keren itu, aku berharap suatu waktu kau memilih klub lain dari Turin yang masih lebih baik, Torino. Kau tahu kan sejarah perjalanan Klub nyonya renta itu..? Ah, terlalu merendahkan sekali jika harus kujelaskan kepadamu banyak hal supya kau cepat insyaf mendukung klub itu yang lagi-lagi tidak keren itu tapi okelah, ini ada beberapa fakta dariku yang mungkin bisa kau jadikan pertimbangan untuk berpaling dari si nyonya renta, klub dengan jersey paling norak.

1. Si Nyonya renta itu tidak menghargai para pemainnya yang sudah berjasa atau bahkan mendedikasikan hidupnya bagi klub. Tengok saja si Del Piero yang begitu disanjung saat masih menjadi barisan punggawa klub yang tidak keren. Del Piero sudah begitu banyak memberikan pengorbanan kepada klub tetapi ternyata di akhir karirnya, Dia dicampakkan begitu saja. Ada juga Andrea pirlo. Meski hanya meski cuma 3 musim bersama Jupentuss namun setidaknya Pirlo berjasa dengan mempersembahkan banyak gelar termasuk lolos sampai di final Liga Champions 2014/2015. Setelah itu apa? Pirlo dibuang ke Liga USA. Ah mengerikan sekali sistem di klub ini, menjadikan pemainnya sebagai Buruh yang ketika sudah habis diperas begitu saja, dibuang entah kemana. Seharusnya klub nyonya renta belajar kepada Inter milan bagaimana caranya memuliakan para pemain. Ah, klub biru hitam memang keren

2. Fakta kedua mungkin sudah menjadi rahasia publik bahwa si Nyonya tua adalah klub yang bermain dengan 14 pemain di setiap pertandingan. Mereka punya tiga pemain tambahan yang memegang pluit di tengah lapangan dan dua lagi yang berlari di sisi lapangan sambil membawa bendera. Ah, aku yakin kau tahu maksudku kan.

3. Nyonya renta juga pembawa aib bagi klub Italia di Liga Champions. Mereka selalu menjadi pesakitan yang berlagak seperti klub yang baru belajar taktik Sepakbola.

December 15, 2015

Hati Tidak Tenang

Jika sedang penat
berhentilah sejenak kemudian menghela nafas
rasakan bahwa jantung masih berdenyut dengan teratur
yakinkan pada hati untuk tetap tenang

Jika sedang lelah
jangan memaksa untuk berjalan terus

Ah, tadi diri ini gagal
hati tidak tenang

December 3, 2015

Di Tahun Pertama

Benar-benar waktu adalah pelari Maraton paling cepat. tak terduga dan melenakan sampai pada saat ketika kita menghela nafas, seringkali kita tidak sadar sudah berada di ruang dan waktu yang berbeda. seperti baru kemarin saat Bapakmu masih sekolah kemudian menikah dan akhirnya Engkau lahir di tahun kemarin bertepatan saat Nenek mangkat. kata orang sih Engkau bergantian dengan Beliau. Kau hadir menggantikan kepergiaannya dalam damai namun begitulah kehidupan Nak, selalu saja ada yang datang dan pergi. siklus Sunnatullah yang tidak satupun orang bisa mengingkarinya.

Nak, Aku ingin bercerita sedikit tentang waktu. sejatinya ketika lalai, waktu itu seperti tidak pernah pergi kemana mana, hanya perputaran 24 jam yang berulang setiap harinya. itu bagi Manusia yang terlena Nak dan tidak pernah mau mamanfaatkan waktunya namun percayalah Nak bahwa waktu itu sebenarnya berlari sekencang-kencangnya. untuk tahu hakekatnya, kenali saja tanda-tanda yang ada di diri kita Nak, dulunya kita masih bayi, kemudian bertumbuh dewasa dan menjadi tua lalu hilanglah kekuatan di diri kita. jika tidak menyadari maka tamatlah riwayat kita, waktu yang ada hanya akan menjadi semacam perjalanan tak berarti.

Ah, apalah Aku ini yang malah menceramaimu dengan teori-teori yang mungkin Aku pun tidak memahaminya. Aku harusnya bercerita saja tentang dunia ini yang penuh sensasi. memang sih terkadang hidup itu Paradoks Nak tetapi tak apalah, toh hidup itu tidak menantang jika memang tidak menghadirkan misteri.

Nak, nikmati masa kecilmu dengan bahagia, masa kecil itu adalah masa untuk bermain Nak dan berimajinasi setinggi mungkin. lupakan semua ironi dalam hidup karena belum waktunya Engkau hidup dalam tragedi. makanya seringkali Aku sedih melihat bocah-bocah yang sudah harus memikul tanggung jawab seperti orang dewasa, bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan mereka sedangkan disatu sisi, ada bagian dari hidup mereka yang tercerabut dari keadaan seperti itu, mereka telah melupakan periode bermain.
setelah tumbuh menjadi remaja, Engkau akan memasuki satu episode hidup yang baru. seringkali darah remaja akan dihabiskan untuk mencari jati diri, mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang manusia apatahlagi Engkau adalah seorang Laki-laki maka ada saatnya ketika Engkau akan berjibaku dengan perasaan ingin menjadi seorang pemuda tangguh.

setelah itu, periode pertumbuhanmu akan menjadi dewasa ketika sudah melalui banyak pengalaman hidup. Nak, Aku sudah melalui beberapa periode kehidupan. pernah menjadi bocah yang tidak pernah mengerti apa-apa selain bermain. saat bocah, aku pikir bahwa dunia ini adalah ruangan untuk bermain. namun ternyata tidak seperti itu adanya Nak. hidup selalu berputar sampai membawaku menjadi remaja kemudian kuliah. saat kuliah, kepalaku kemudian dipenuhi oleh pikiran relasi antar manusia dan ketidaksetujuanku terhadap ketidakadilan sosial.

kok Aku malah curhat yah Nak, hehe. okelah tidak banyak yang ingin kusampaikan kepadamu di hari ulang tahunmu yang pertama. Aku pun tidak perlu untuk menasehatimu terlalu dini tentang hidup di tahun pertamamu sebagai Manusia. Aku hanya berharap semoga Engkau bahagia di masa kecilmu dan Aku menunggumu tumbuh menjadi dewasa, kelak Aku mengajakmu diskusi tentang hidup, tentang apa saja yang harusnya kita lakukan, diskusi loh ya bukan mengajarimu.

Oh ya, Anak pertama itu punya tanggung jawab sedikit lebih dalam keluarga. kadang diharapkan menjadi panutan bagi adik-adiknya namun percayalah Nak, seringkali anak sulung itu kuat dan tahan banting.

Sudah dulu yah Nak, tidak perlu untuk terlalu berpanjang lebar karena Engkau masih perlu menikmati hidup. jika mau tahu relasi hubungan seorang Anak dan Orang tuanya, puisi Kahlil Gibran yang berjudul "Anakmu" sangat keren. tetapi jangan lupakan pula kisah Luqman dengan nasehat-nasehatnya terhadap Anaknya yang bahkan diabadikan dalam Al-Qur'an.

Ah, Nak mungkin lebih baik kuucapkan selamat Ulang tahun. semoga diberi umur yang berkah dalam kualitas dan kuantitas. nikmati hidupmu dalam setiap kondisi. kapan-kapan kita bercerita dan berdongeng dengan sepupumu Fadel dan Meisya ketika Engkau sudah bisa mendengar dongengku. yakinlah Aku punya banyak stok dongeng untuk kalian.

Andra

03 Desember 2015 18:16
Maaaf Telat karena Aku lupa ulang tahunmu