March 4, 2015

Sebuah Tanya

aku adalah deretan pertanyaan itu
tentang semua rindu dan harapan
aku adalah pertanyaan tanpa titik
hanya koma yang kadang menyelingi.

aku ingin mengores sebuah kesimpulan dari hidup yang kujalani
tentang jawaban-jawaban dari tanyaku
sampai penat

ah, aku adalah tanya tanpa titik
040315

March 3, 2015

Pecundang

Berkecamuk hatiku bahkan semua perasaan yang tak menentu menyerang rongga kepalaku saat tahu tante eny yang mungkin sebentar lagi akan menjadi orang tuaku ternyata memendam perasaan sakit hati terhadapku. namun apapun alasannya, akulah biang dari semua sakit hatinya. Perlakuanku terhadap anaknya memang tidak seperti ekspetasinya dan akulah pesakitan itu. Menyia-nyiakan kepercayaan yang kuemban hingga berujung fatal.

Bukan bermaksud untuk membela diri namun aku kerapkali berpesan kepada anaknya ketika kami sedang dalam perselisihan ataupun ketidakcocokan, jangan sekali-kali ibunya tahu karena akan menimbulkan image negatif terhadapku, namun sesering aku menasehatinya tidak pernah sekalipun dia berusaha untuk tidak bercerita alhasil semua masalah kami diketahui oleh tante dan sialnya aku memang biang dari masalah.

Aku sebenarnya berharap banyak ketika kami sedang selisih paham, tidak ada seorang pun yang tahu hingga kami menyelesaikan sendiri namun tidak baginya. Selalu saja semua masalah diumbar kepada ibunya.

Aku sekalipun tidak pernah menceritakan masalahku kepada orang tuaku seberat apapun itu. Bahkan ketika aku dan anaknya marahan, aku sama sekali tidak ingin keluargaku tahu karena menjaga nama baiknya di depan keluargaku. Sampai pada titik ini, orang tuaku tidak sekalipun tahu kalau kami sering bertengkar. Mereka hanya tahu bahwa kami baik-baik saja.

Ah, setidaknya nasi telah menjadi bubur. Aku telah dianggap loser di pandangan keluarganya. Aku tidak bisa berkelit lagi.

Entah apa yang kurasakan sekarang. Aku hanya merasa seperti seonggok manusia yang mempertahankan janji. Karena menepati sebuah janji adalah salah satu dari prinsip hidupku maka suka ataupun tidak suka, aku harus menjalani semua ini dan mungkin saja bersanding dengannya dengan alasan menepati janjiku. Nothing to loose untuk semua hal yang akan terjadi bahkan aku sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk ketika suatu saat rencana kami tidak terlaksana.

Aku bahkan harus berbesar hati untuk semua yang akan terjadi kedepannya meski nama keluarga besarku menjadi taruhannya karena di kampungku nan jauh disana, banyak orang yang sudah mendengar desas-desus bahwa sebentar lagi aku menikah dan ketika itu tidak terjadi, muka keluargaku akan tercoreng. Itu adalah satu dari beberapa alasan kenapa aku masih tetap bertahan dsini.

030315

HINGGA UJUNG WAKTU




Serapuh kelopak sang mawar
Yang disapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri
Diterpa dan luka oleh senja

Semegah sang mawar dijaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada disini
Dan pekat pun berakhir sudah

Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu
Setenang hamparan Samudra
Dan tuan burung camar
Tak kan henti bernyanyi

Saat aku berakhayal denganmu
Dan berjanji pun terukir sudah
Jika kau menjadi istiriku nanti
Pahami aku saat menangis

Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu

Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu




Sheila On 7 – Hingga Hujung Waktu





tiba-tiba saja aku tergerak menulis tentang lagu ini saat mas elly disampingku menyetelnya. di bait yang ada kata-kata "saat kau menjadi isteriku nanti," aku langsung terperangah dan tergugah menuliskannya. entahlah apa musababnya namun aku harus akui bahwa ternyata menyatu dengan seseorang itu tidak segampang dengan mengatakan gombal basi. butuh perjuangan yang amat keras untuk melalui setiap gelombang yang ada.karakter yang berbeda adalah indikasi utama begitu sulitnya untuk selalu bersama.

Lagu-lagu SO7 memang meninggalkan kenangan masa remaja yang mendalam. dia adalah kepingan masa lalu yang mungkin mayoritas remaja seusiaku mempunyai cerita dengan lagu-lagu SO7. begitulah lirik-liriknya merasuk dalam kenangan remajaku dan lagu yang barusan disetel oleh mas Elly mungkin lebih relevan dengan masa yang sebentar lagi akan kujalani.


berangkat dari kebersamaanku dengan windi. meski kami sudah mengikrarkan diri untuk berjuang namun selalu saja ada cela yang membuat kami tidak menemukan titik. aku tidak sanggup mengungkapkan beberapa kali kami tidak cocok atau bahkan beberapa kali aku memarahinya dan membuatnya menangis. aku mungkin egois namun begitulah hakekatnya sebuah jalinan yang akan dibangun.

"Jika kau menjadi istriku nanti,Pahami aku saat menangis,Saat kau menjadi istriku nanti, 
Jangan pernah berhenti memilikiku, Hingga ujung waktu"

 mungkin seharusnya juga yang mengatakan seperti itu adalah windi. akulah yang sering membuatnya menangis. akulah yang sering membuatnya terluka bahkan kerapkali tidak berusaha memahaminya.keputusan untuk bersama memang butuh perjuangan sepanjang hidup. suka duka adalah keniscayaan yang akan terjadi dalam hidup yang akan dijalani sekeras apapun kita berjuang untuk melawannya.






March 1, 2015

AWAL MARET YANG KELABU

“Satu-satunya yang saya perlukan ialah waktu. Alangkahkah hebatnya jika saya dapat membeli waktu-waktu yang terbuang”
“Michael Faraday”

Serasa waktu bagaikan sambaran kilat yang berlalu begitu cepat bahkan terkadang kumpulan usia seperti hanya sehari. aku merenungi semua waktuku yang terbuang sia-sia dan juga yang kuhabiskan untuk maksiat, mendzalimi diriku sendiri. pergantian pagi, senja dan malam hanyalah roda kehidupan yang digenjut begitu cepatnya sehingga tak ada nafas buat mereka yang masih terlelap dalam buaian mimpi. hidup adalah berkejaran dengan kumpulan waktu yang berlalu.

entah bagaimana menceritakan kehidupan setiap manusia namun satu hal yang diyakini bahwa apapun tujuan manusia saat masih di bumi tetaplah harus menggunakan waktu dengan baik. seorang pengejar duniawi yang ingin materi yang berlimpah harus menggunakan waktunya untuk mencapai tujuannya pun demikian dengan orang yang mempersiapkan dirinya untuk bekal di alam berikutnya, mereka pun harus mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk berbuat baik. waktu adalah elemen penting dalam hidup.

aku telah menyia-nyiakan waktu yang kujalani untuk 2 tahun terakhir. entahlah namun apa yang sedang menderaku, inginku menjauh dari kesalahan yang sama namun kembali terjebak dan mengulangi lagi. mungkin untuk hal duniawi, aku sudah tidak memberatkan orang tua dan mampu memenuhi setiap kebutuhan dan sedikit keinginan namun hal yang prinsipil telah aku hancur leburkan selama 2 tahun terakhir. aku goyah dan menghancurkan nuraniku. sering tertunduk dan meresapi setiap helaan nafas panjang hingga menggoreskan setiap kesalahan dan menghapuskan namun benar-benar kembali terulang lagi. ah penat memang.

maret telah datang menjemput. permulaan yang mungkin pedih karena hitam itu tertoreh untuk kesekian kalinya. aku merapalkan beribu doa kepada Sang Khalik, kiranya Dia membantuku untuk menguatkan hati melangkah jauh dari noda hitam tersebut. janji telah terikrar dan dengan izinNya mungkin 7 bulan lagi aku melangkah ke tahap selanjutnya dalam hidupku namun benar-benar aku tidak ingin terlalu jauh memikirkan hal tersebut. aku hanya ingin memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang sama. meski pada akhirnya aku sampai namun sebenarnya itu bukanlah sebuah tujuan. pembicaraan yang melekat di memoriku dengan seorang kawan di makassar yang pernah belajar di jepang adalah "bukan masalah tujuannya, kalau tujuan mungkin akan sampai juga namun satu hal yang perlu diingat adalah prosesnya. bisakah engkau menjaga dirimu dan mengecap manisnya saat waktu itu datang. proses yang sedang engkau jalani adalah penentu apakah engkau berhasil atau gagal dalam ujian kesabaran."

aku tertegun saat memutar kembali percakapanku dengan kawan tersebut namun anehnya, ketika aku kembali mendekati hitam tersebut, semua hilang tak bersisa. entahlah apa yang membawanya pergi.aku pun tidak bisa menalar dengan pikiran jernih karena sudah terbutakan oleh nista dan dosa yang menggunung. semua sirna tak berbekas.

010315. aku melaju ke tempat win. entah namun sedari malam kami sudah bertukar sapa dan mungkin dengan berbagai ocehan. hitam itu kembali adanya. meluapkan apa yang menjijikkan. menangisi setelah itu dan kemudian bertengkar. melaju ke cibubur dengan guyuran hujan yang amat deras. tak sedikit pun kuhiraukan hujan itu dan aku tetap melaju melalui TMII menuju kota wisata. hujan pun menyamarkan butiran air yang bercucuran dari sudut mata win. kumaki dia habis-habisan untuk melampiaskan kemarahanku kepada diriku sendiri. rajukannya tak jua meluluhkan hatiku.

sampailah di cibubur dengan kondisi basah kuyup. tujuan selanjutnya adalah arisan keluarga di kota wisata. kami molot sejam namun tak apalah, janji sudah ditepati. bercanda bercengkerama di tempat itu kemudian makan dan mengocok arisan. pak endro dan fais yang mendapat giliran. kami menyelesaikan janji dengan tidak sempurna karena jauh dari jam yang disepakati.

akhirnya kembali memutar haluan menuju hiruk pikuk jakarta. melintas di kramat jati. motor melaju pelan sampai akhirnya singgah di sebuah penjual durian. menghabiskan 1 durian seharga 15 ribu kemudian kembali melaju. melintas di depan kantor tentara, ada hiruk pikuk pertandingan bola. kami menonton selama 2 jam kemudian berputar haluan.

diujung permulaan maret. hitam itu kembali dan berjanji akan membuang hitam tersebut jauh dari kehidupan dalam proses menuju persiapan diri yang lebih baik. begitulah waktu menghanyutkan setiap orang yang tidak mampu mempergunakannya seperti diriku. aku terkadang harus menyerah dengan setiap apa yang ingin kuperbaiki. namun waktu untukku masih ini. meski hitam hari kemarin tetap tertoreh, setidaknya aku punya waktu hari ini dan esok hari untuk memutihkan setiap hariku.

010315-031015

February 28, 2015

TENTANG SEORANG POLISI

Serupa orang yang selalu mengumpat polisi entah institusinya bahkan oknumnya, namun aku selalu berusaha untuk menghindari ketidaksukaan yang terlalu berlebih terhadap entitas polisi. Ada 3 hal mendasar yang menjadi alasanku menghidari hal tersebut, pertama karena kakakku pernah beberapa kali mencoba mendaftar polisi namun selalu gagal. Kedua, aku mengenal banyak oknum polisi, entah itu saudara sepupu bahkan teman sekolahku yang berhasil menjadi polisi dan mereka semua adalah orang baik bahkan mungkin lebih baik dari orang yang sering mengumpat polisi. Hal ketiga yang amat prinsipil adalah manusia tidak punya sama sekali hak untuk membenci manusia lainnya.

aku kembali menemukan polisi yang menurutku baik. meski baru sekali berinteraksi saat itu juga namun dari beberapa hal yang kulihat, dia tidak termasuk polisi yang arogan. entahlah dia menjaga image dengan orang yang baru dikenal atau mungkin memang baik tetapi sama sekali sifat arogannya tidak diperlihatkan ketika berbincang denganku. hanya diselingi canda dan sedikit cerita tentang tanaha kelahirannya di dataran pegunungan kidul.

namanya pak suratman. tinggi besar dan kuperkirakan umurnya sekitar 40an. entahlah tebakanku benar ataupun keliru namun dari guratan di wajahnya kutemukan garis kehidupan yang mungkin sebagian besar dihabiskan di kampung. awal mula aku mengenalnya karena adalah nasabah yang menyerempet mobilnya di samping Mall Artha Graha. dia bertutur saat itu, si Sopir yang menyerempet mobilnya hingga spion kanan rusak membentaknya dan menggebuk bagian belakang mobilnya. si sopir yang belakang aku tahu namanya bernama Tan Rusli sama sekali belum tahu bahwa pak suratman yang diserempet mobilnya adalah seorang polisi. entah apa yang terjadi pada saat itu karena Pak Suratman tidak bercerita lebih detailnya namun yang kutahu bahwa dia hanya menegur tan Rusli.

indikasi dari kesimpulanku bahwa pak suratman baik dan bisa menjaga emosinya karena dia tidak menghadiakan tan Rusli bogem mentah padahal dia sudah dibentak. aku berpikir bahwa seandainya polisi yang lain, maka sudah bisa dipastikan tan rusli akan digebuk habis-habisan.

saat di kantor pak suratman Polsek Metro kelapa Gading. aku dijamu dengan baik saat memperkenalkan bahwa aku dari pihak insurance yang akan mengganti kerugiannya. tidak ada sediktpun keangkuhan di wajahnya seperti yang kutemui di wajah para polisi. saat itu pula ada Tan Rusli yang mengantarkan berkas Polis. terlihat sekali di wajahnya ada rasa gentar bertemu dengan pak suratman. kacamata hitamnya tidak dilepaskan dan juga tangannya gemetar bahkan ketika menyerahkan berkas polis, dia nampaknya bergegas pamit. ah, begitulah setiap orang yang merasa bersalah.

sebenarnya semua cerita diatas adalah pengantar tentang hikmah yang ingin kukatakan bahwa dimanapun dan dengan siapapun kita berinteraksi apatahlagi ketika kita yang salah, maka jangan sekali-kali sok jagoan ataupun angkuh dan merasa paling benar karena kita adalah selemah-lemahnya manusia.

pernah juga sekali aku membaca sebuah berita tentang oknum TNI yang menghajar habis-habisan sopir angkot. kejadiannya hampir sama dengan diatas. mobil angkot dan mobil TNI tersebut bersenggolan di jalanan. menurut cerita TNI saat diwawancarai bahwa si sopir angkot malah memakinya alhasil dia menguber mobil angkot tersebut dan menghajarnya.

mungkin saat berkendara memang kerapkali terjadi hal yang tidak diinginkan namun menunjukkan arogansi adalah sisi lain yang salah. bukan karena kita takut seperti kejadian diatas namun pada dasarnya bahwa memaki adalah perbuatan yang keliru. memperlihatkan arogansi dan sikap sok jagoan malah terlihat menggelikan.

yah, begitulah ibukota. menawarkan pelajaran-pelajaran hidup yang tak berkesudahan.
28 Februari2015

February 27, 2015

PERPISAHAN KAWAN

Teruntuk jumat yang mungkin melelahkan. aku seringkali merindukan jumat dalam setiap perjalanan hari. entahlah, mungkin karena aku adalah bagian dari kaum urban mainstream merindukan setiap akhir pekan untuk merayakan hidup setelah 5 hari diracuni dengan berbagai aktivitas kantor yang hampir seperti robot. Terus menerus mengulang setiap pekerjaan dan kadang melupakan kebahagiaan hidup. Aku adalah bagian dari gerembolan masyarakat urban tersebut yang selalu memimpikan akhir pekan.

Entah bagaimana memulai cerita jumat kemarin. Setidaknya punya 2 kisah yang ingin kubagi dalam kotak ini. Sejatinya masih banyak kisah lain namun mungkin otakku terlalu penat sehingga alur hidup yang kulewati tidak mampu terekam baik dalam memori kepalaku.

Kumulai saja dari 2 orang kawan yang terakhir berkantor yang sama di kantorku karena dimutasi ke tempat lain. Sejujurnya aku membenci perpisahan, ataukah harusnya pertemuan yang salah karena selalu saja perpisahan menyisakan airmata bahkan ketika berpisah dengan masa sulit pun kita terkadang menyisakan begitu banyak haru apatahlagi perpisahan dengan kawan yang baik.

Dua kawan yang akan berpisah jumat kemarin adalah kawan baik. Kuceritakan saja dari kawan yang posisinya sudah pimpinan. Namanya mas d.d. Dia kaspem di kantorku dan kami masuk di kantor cabang hanya berselang seminggu. Aku harus mengamini ucapan ibu T kemarin bahwa meskipun mas d.d baru setengah tahun, namun rasanya sudah lama karena dia supel dan baik. Tidak ada cela bagiku untuk mengingkari pernyataan ibu T karena seperti itulah setiap hal yang aku temui dari pribadi mas d.d selama aku berinteraksi dengannya. tak sekalipun dia ngeyel dalam hal apapun meski dalam keadaan tertekan.

Dalam beberapa edisi interaksi kami, akan tidak salah kalau aku menyimpulkan bahwa mas d.d adalah orang yang suka berbagi. Ini bukan bualan atau omong kosong dariku tentangnya namun banyak indikatorku untuk mengatakan hal tersebut meski tidak harus kusebutkan satu persatu. Dia pun pribadi yang sabar. Sekalipun tak pernah kutemukan mas d.d mengumbar emosi dari setiap tingkahnya, sama sekali tidak.

Terakhir hal yang ingin kuceritakan tentang mas d.d adalah ketenangan dalam menghadapi setiap masalah. meski masih banyak hal baik darinya yang susah kugoreskan satu persatu. Aku beberapa kali melihat dia mungkin sedang punya masalah namun gerak-geriknya tetap tenang. Setiap orang yang mungkin bertemu dengannya pasti mafhum bahwa mas d.d orang baik. Bahkan dari rona wajahnya pun terpancar kebaikan. Aku sangat percaya bahwa orang yang tulus dan baik akan terpancar di wajahnya dan orang akan merasakannya.

Bahkan kemarin senja saat hendak beranjak pulang dari kantor, kami staff teknik, mas d.d dan ibu T masih sempat bercengkerama di lt 2. Jelas terlihat di wajah ibu T keharuan saat mengucapkan beberapa kata kepada mas d.d.

Bel, Kawan lain yang juga kemarin sudah terakhir di kantorku. Dia adalah staff teknik sama sepertiku. Meski dia lebih muda 3 tahun dariku namun dia lebih senior di kantor. Entah apa yang harus kuceritakan tentang bella karena begitu banyak hal dia ajarkan kepadaku. Salah satu kawan yang sering aku repotkan ketika mendapat kesulitan di awal-awal bekerja adalah bel.

Aku tidak berpetensi menceritakan bella karena dia terlalu baik. Bahkan di beberapa hal yang tidak disepakati akan diungkapkan. Aku tahu dia lebih tegas terhadap apa yang menjadi prinsipnya. Bel adalah kawan curhat sekaligus kawan bertanya tentang pekerjaan kantor yang belum kumengerti.

Kepekaannya kepada kawan pun tinggi bahkan kepada orang lain. Pernah suatu waktu, kami dan dua teman lain pulang makan siang. Tepat di pos satpam simpang jalan, ada maling tertangkap basah yang dikeroyok massa. Bel serta merta memaksaku untuk memanggil polisi karena kasihan kepada si maling. Rasa kepeduliaannya memang teramat tinggi.

Mungkin tidak ada habisnya ceritaku tentang bel. Hal lain yang aku tahu darinya adalah dia pekerja keras. Bahkan perjalanan hidupnya yang merantau harus kuakui lebih dari keberanianku. Aku bahkan baru berani memutuskan merantau setelah sarjana namun dia bahkan sudah merantau ke ujung timur pulau ini setelah tamat sma.

Di dua edisi perpisahan yang kemarin diadakan. Pertama kamis sore saat staff teknik mengadakan seremoni pelepasan bel yang akan dimutasi dan jumat siang saat tim marketing mengadakan pula seremoni pelepasan, tak satupun yang aku hadiri. Saat bel bertanya kok aku tidak tidak pernah menghadiri acara pelepasannya, aku hanya berujar singkat, aku tidak mau merasa dia berpisah denganku karena kami adalah kawan. Acara seremonial hanyalah simbol yang mungkin tidak pernah aku sukai sejak dulu ketika ada perpisahan dengan kawan. Begitulah caraku menghargai perkawanan.

Ah, terlalu sentimentil memang kalau mengisahkan setiap perpisahan. Aku yang sedari awal bertemu dengan kenalan baru selalu menancapkan dalam hati bahwa kesan baiklah yang akan aku tinggalkan karena bagaimanapun, semua akan berpisah, hanya persoalan waktu saja. Ketika berpisah itulah, hanya satu hal yang akan ditinggalkan, "kesan". Entah itu kesan baik ataupun buru.

Sukses selalu mas & mb
Keep in touch
Rwmngn 28.0215

February 25, 2015

BERLOMBA DENGAN TUTUP BUKU

Dulu, dulu sekali saat aku masih tidak peduli dengan aktivitas kantor. saat itu aku masih bergelut dengan dunia mahasiswa yang mabuk dalam alam idealisme tanpa pernah membayangkan akan terjebak dalam rutinitas kantoran yang mengharuskan untuk bekerja larut malam. aku sering mendengar karyawan yang bersibuk ria saat akhir bulan bertepatan dengan tutup buku perusahaan. aku sama sekali tidak pernah membayangkan tutup buku adalah momok paling sibuk.

di kantor ku sekarang. tutup buku bertepatan dengan tanggal 25 setiap bulan. seperti rutinitas kantor pada umumnya yang mengejar produksi supaya mencapai target, maka tutup buku adalah momen bersibuk ria. awal bekerja disini, aku sebenarnya tidak terlalu begitu sibuk pada saat tutup buku karena aku hanya mengurusi klaim meski ada beberapa polis yang kuhandle namun rata-rata hanya polis yang pengerjaannya tidak memakan waktu lama.

namun tidak seperti hari ini. tutup buku kali ini mungkin adalah tutup buku paling sibuk yang pernah kurasakan. bagaimana tidak, sejak pagi, polis yang harus kukerjakan sudah bejibun kemudian siang hari, aku harus survey ke kantor Departemen Sosial. berhubung karena si empunya mobil adalah Dirjen Depsos maka dia tidak mau tahu, pokoknya hari ini juga harus disurvey. aku yang memang bertanggung jawab atas klaim mau tidak mau harus tetap berangkat meski meninggalkan banyak kerjaan di kantor.

selesai makan siang, aku langsung tancap gas ke kantor depsos. lumayan crowded jalanan saat itu sehingga aku harus mencari cela untuk sampai disana.

February 24, 2015

MERAYAKAN HIDUP ALA KAUM URBAN

Kalaupun saja saya dianggap sebagai manusia mainstream yang mengikuti alur hidup tanpa berusaha menjalani bisikan dari hati, maka itu saya akui benar. kehidupanku tidak terlalu jauh berbeda dibanding dengan para kawanan manusia yang hidup, tumbuh, sekolah, kuliah kerja, punya anak lalu mati. di rantai tersebut, saya sudah berada di level bekerja dan kalau Tuhan memberi keberkahannya, tahun ini saya sudah berencana melangsungkan pernikahan. itulah mengapa saya tidak menyangkal sama sekali ketika harus disebut sebagai manusia yang menjalani hidup secara monoton.

saya harus mencari riak supaya alur cerita kehidupan yang sedang kujalani tidak terlalu membosankan. mungkin menuliskan perjalanan setiap hari adalah salah satu caranya karena di perjalanan waktu, adakalanya kita merayakan hidup hanya dengan mengingat masa lalu dan itu akan terekam baik jika dituliskan.

sebenarnya sejak semalam, saya ingin menuliskan aktivitas sehari kemarin namun entahlah, mataku masih betah saja menatap layar hp stalking fesbuk kawan-kawan yang sudah lama tidak pernah bersua. alhasil, baru pagi ini sambil menggunakan PC kantor, saya baru memulai cerita hari kemarin yang penuh semarak di kantor.

pagi-pagi sekali, seperti biasa sebelum memulai rutinitas di kantor, teman-teman karyawan bercengkerama di samping musala kantor. apatahlagi hari kemarin adalah ulang tahun staf senior, salah satu staff kantor yang dikenal usil sehingga ulang tahunnya seakan menjadi pembalasan setiap karyawan untuk mengerjai. saya pun sudah berpikir keras untuk melakukan sesuatu. oh yah sebelumnya di hari jumat, dia masih sempat mengerjai motorku. sore hari saat dia pulang, busi motorku dicabut alhasil saat saya hendak pulang, hampir 30 menit lamanya saya menstater motor namun tak kunjung menyala. saya baru tahu kalau si usil yang mengerjaiku kemarin pagi sambil tertawa terkekeh.

kembali ke ulang tahunnya. dia sedari pagi sudah dengan wajah was-was datang di kantor. sepanjang pagi sampai siang, semua orang meneror bahkan dia sudah tidak bisa duduk diam dengan tenang. perasaannya selalu dihantui jebakan batman di sekitarnya. alhasil jebakan pertama dimulai ketika kacab memesan paket Gokana seharga total Rp. 800.000 tanpa sepengetahuannya dan menggunakan identitasnya. mungkin jebakan itu belum seberapa dibanding dengan beberapa perasaan cemas yang dilaluinya hari kemarin.

saat jadwal makan siang, kami satu kantor asyik makan siang. setelah itu sekitar jam 3, kue tart sudah disiapkan di lantai 1. semua divisi ikut berkumpul di lantai 1 dan menanti jebakan apa lagi yang akan dijeratkan ke tubuhnya yang bongsor. setelah sudah siap tiup lilin, kacab tak kunjung datang sehingga tiup lilinnya ditunda baru sekitar sore ketika benar-benar kacab nampaknya tidak balik ke kantor, tiup lilin dilanjutkan. setelah tiup lilin, Mbsar yang sudah gatal tangannya menyiram air mineral ke mukanya disusul staf RC yang nampaknya sudah geram ingin balas dendam ketika sebelumnya beberapa dikerjai olehnya. saya yang melihat kesempatan terbuka langsung mengambil kue tart dan menyapu ke semua mukanya alhasil semua yang hadir ikut melumuri eli dengan kue tart.

penderitaannya tidak sampai di situ. ketika hendak ke belakang mencuci mukanya yang sudah blepotan dengan olesan kue, desu yang sedari tadi menyiapkan 1 ember di dapur tanpa ampun menyiram ke sekujur tubuhnya dan sudah ditebak apa yang terjadi, dia basah kuyup. sambil menggigil, dia dengan tertatih-tatih membersihkan sekujur tubuhnya.

saya yang masih memegang sisa kue langsung naik ke lantai 2 dan mengambil sepatunya. tanpa ampun, sepatu tersebut saya olesi dengan kue dan kutaruh di dalam ruangan kacab. namun ternyata perlawanannya tidak berhenti di situ saja, dia mengejar siapa saja dan mengunci kami di dapur. setelah itu, dengan entengnya dia naik ke lantai 2 dan meninggalkan kami dalam keadaan terkunci. untuk pakmar ada dan membuka dapur kemudian kami kabur. penderitaannya berakhir hari itu juga.

memang sih, kawan yang satu ini terkenal dengan jailnya di kantor. ada saja ide untuk menjahili karyawan lain dan selalu idenya tidak terduga. pernah suatu waktu saat pertandingan kantor se-jabodetabek, kami yang sudah hendak pulang duduk di parkiran. ada beberapa teman saat itu dan yang kuingat, pakTu menyimpan jaketnya di motor alhasil, ulah jahilnya langsung bereaksi, dengan entengnya, jaket tersebut diisi sampah di sekitar parkiran. seingatku, ada botol mineral, sampah plastik. begitulah caranya menjahili teman-temannya.

pernah juga suatu waktu saat saya hendak pulang ke madiun. saat itu saya sudah ada di kereta dan berada di sekitar daerah cirebon. tiba-tiba saja hp saya berdering dan melihat itu panggilan dari kantor. setelah kuangkat ternyata suaranya. sejurus kemudian, dia mengatakan bahwa ada satu produksi yang tidak masuk di bulan ini karena saya salah input bahkan sampai kacab marah karena prduksi cabang menjadi kurang. saya yang pada saat itu masih karyawan baru langsung panik dan minta tolong untuk diberesin. dia bahkan mengatakan bahwa tidak tahu menahu. setelah itu, dia sama sekali tidak mengkonfirmasi bahwa dia hanya bercanda bahkan 3 hari di madiun, saya selalu kepikiran tentang hal itu bahkan saya baru tahu dia bercanda ketika saya masuk kantor hari senin minggu depannya.

masih banyak juga tingkah jail yang dilakukannya. bahkan saya tidak bisa mengingatnya satu persatu. setahu saya bahwa korbannya tidak mengenal siapapun. saat otaknya berpikir akan menjahili seseorang maka dia langsung akan melakukannya tanpa harus mempertimbangan banyak hal

selamat ulang tahun
24 FEBRUARI 2015

February 22, 2015

SAJAK MENGADA-ADA

Sore yang menyebalkan
Kitadalam sendu
Senja membisukan arah cinta yang kita lepaskan di setiap tikungan waktu

Aku dan kau
Titik noda
Itulah jalan perbaikan

Jika sekali saja terjadi
Potretku buram dalam bingkai di sudut kamarmu

Kita sedang mempermainkan Tuhan dengan kata tobat
Yah, kita licik
Senjaygkelamditanahulogadung
220215

February 21, 2015

PUNK FOR YOU

Aku baru saja tiba di pendurenan ketika sms windi masuk dan menyakinkan aku untuk ikut pameran properti expo di Jakarta Convention Center. Memang sedari beberapa hari lalu saat aku mengetahui informasi dari internet tentang pameran properti, aku sudah janji kepada windi untuk mengajaknya melihat berbagai tawaran rumah meski aku dan windi yakin mungkin belum bisa mewujudkan mimpi untuk membeli rumah saat ini namun setidaknya ada gambaran kedepan bagaimana dan seperti apa ketika ingin membeli rumah.

Jam sudah menunjukkan pukul 13:00 WIB saat aku tiba di samping mesjid pendurenan tempat aku dan windi janjian. Maklum pagi tadi, aku diajak topan, seorang kawan di kantor untuk mancing di kebayoran lama alhasil aku baru bisa menuntaskan janjiku mengantar windi ke pameran properti expo ba'da dhuhur.

Tidak lama menunggu di mesjid pendurenan, windi datang dengan dandannya yang khas. Paduan celana kain hitam dengan baju sederhana dan tak lupa jaket ungu kesayangannya yang dibelikan oleh tantenya. Oh yah, ada cerita ironi sebenarnya tentang jaket ungu tersebut namun kapan-kapanlah aku kupas habis di blog ini..hehe.

Sebelum meluncur ke JCC yang tidak terlalu jauh dari pendurenan, Kami memenuhi hak perut yang sedari tadi sudah keroncongan di warung penyetan kesukaan kami. Seperti biasa, si ibu penjual dengan senyum ramah menanyakan pesanan kami, maklum lah, dia sudah kenal baik dengan kami karena hampir setiap malam kami makan disana. Aku memesan lele dan tempe dan windi seperti kesukaannya memesan telur dan tahu. Nikmat benar makan siang kami dengan penyet lele dan minuman es teh. Ah, "nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan."

Setelah urusan perut tuntas, kami beranjak ke JCC. Cuaca siang ini lumayan terik bahkan amat menyengat, tumben matahari dengan betahnya masih bercokol diatas sana karena memang beberapa minggu terakhir, kota ini selalu dihampiri guyuran air langit pada siang hari.

Kami menembus panas dan padatnya kota ini melalui samping Plaza Semanggi. Sekitar sepuluh menit perjalanan, kami sampai di gerbang JCC. lumayan keder juga melihat dandanan khalayak yang datang. Aku yang cuma mengenakan jeans dan sepatu cokelat dibalut kemeja garis-garis yang sudah usang bahkan sudah jamuran dan windi pun begitu adanya. "Enggak usah terganggu dengan dandanan kita, toh kita kesini ingin mencari informasi tentang harga rumah ." Begitu bisikku.

Di dalam ruang pameran, aku mengelus dada saat melihat harga properti yang seperti mimpi bisa membelinya. Aku dan windi tak patah arang mencari informasi. Sebenarnya kurang PD juga sih dengan dandanan kami bahkan mungkin ada beberapa sales developer yang tidak menawarkan brosur kepada kami karena melihat stelan yang kurang mewah.hehe.

Ada beberapa harga rumah yang menurut kami masih terjangkau harganya namun harus diakui lokasinya yang lumayan jauh dari tempat kerja. Beberapa lembar brosur kami bawa pulang sebagai referensi. Saat sudah diluar ruang pameran, windi berbisik lirih "mencari rumah layaknya mencari jodoh, harus benar-benar yang pas."

Kami meninggalkan JCC dengan perasaan yang optimis bahwa suatu waktu kami bisa membeli rumah kalau ada rejeki yang berkah dari Tuhan.

Aku mengarahkan motor ke arah jalan keluar dari kompleks JCC lewat pintu depan GBK. Saat melintas di bundaran GBK, aku melihat kerumuman orang dengan style Punk. Lumayan banyak kumpulan orang tersebut dan menurut perkiraanku, mereka mungkin ratusan. Aku penasaran ada apa gerangan dengan komunitas punk berkumpul disini.

Kerumunan komunitas punk
Akhirnya aku memutuskan untuk memarkir motor dan menuju venue yang sudah dikerumuni oleh para komunitas punk. Setelah lama mengamati mereka, aku baru tahu bahwa ada pertunjukkan musik punk di sana. Aku bahkan berhasrat menonton namun rasa tak nyaman nampak jelas di wajah windi diantara kerumunan orang dengan dandanan nyentrik. Aku memutuskan hanya berdiri diluar venue sambil mengamati lalu lalang pengunjung. Ada diantara mereka yang bahkan membawa balita. Bau asap  rokok dan alkohol amat sangat menyengat.

Lama berdiri di luar venue dan musik mengehentak dari dalam, aku berniat membeli tiket namun windi berkeras bahwa dia tidak mau masuk bahkan akan pulang naik taxi jika aku memaksa masuk. Akupun mengalah dan tetap menemaninya di depan venue melihat komunitas punk yang semakin banyak berdatangan. "Aku hanya ingin membuatmu tetap merasa aman bersamaku bahkan ditengah orang yang membuatmu tidak nyaman."bisikku kepada windi saat dia nampaknya risih Sambil kubenamkan kepalanya kedalam pelukku lalu kukecup kepalanya.

Aku kemudian masih asyik mendengarkan alunan musik keras dari dalam venue sambil mengintip. Samar-samar kubaca sebuah spanduk di dalam venue "Punk For You".

Society frustation
Komunitas seperti ini sering kujumpai dulu saat masih kuliah bahkan di semester akhir, aku berteman dengan mereka dan mengenal keluarga mereka bahkan sekali waktu, aku mengundang mereka menyanyi di pelataran Baruga Unhas.

Setelah puas, aku kemudian mengajak windi bergegas pulang namun kami menyempatkan berfoto tepat disamping pintu masuk venue yang terdapat beberapa jargon komunitas punk.

Dilema negeri ini
Beginilah caraku dan windi merayakan akhir pekan kami dengan berbagai momen yang tak terduga. Aku pun tidak pernah berpikir akan kembali menyaksikan pertunjukan seperti ini setelah tamat kuliah namun ternyata selalu saja ada "kebetulan" yang membawaku kembali ke masa kuliah.

Aku dan windi meluncur ke Taman Ismail Marzuki dan menghabiskan senja disana. Aku baru tahu pertunjukkan tersebut dikenal sebagai kingkong vol#2 saat duduk di TIM sambil browsing.

Terakhir, aku tahu punk adalah gerakan pemberontak terhadap kemapanan dan ketidakadilan maka menjadi anak punk bukan sekedar gaya-gayaan.

Happy sunday
210215

DI TAMAN ISMAIL MARZUKI

16:00 WIB.
Kita membelah ibukota yang disapu mentari senja.
Ke arah cikini katamu
Aku tahu
Engkau ingin menghabiskan senja kali ini di Taman Ismail Marzuki.

16:45 WIB
engkau masygul meihat anak kecil yang asyik berlatih dance di sudut Aula TIM
"Mereka menikmati latihan dance" gumammu sambil terus menatap segerombolan bocah yang sedang latihan.

17:00 WIB
"Aku masih pengen disini, suasananya syahdu" begitu jawabmu ketika kuajak pulang
Engkau menikmati senja kali ini
Riuh lelaki yang sedang main bola
Pun mereka yang lalu lalang
Andai saja
Bahagia akan bertahan selamanya
Memeluk malam yang mulai berjatuhan.

17:30 WIB
Engkau pun beranjak pergi
Mengakhiri senja yang menua
Ah, hari yang menyenangkan.

Rawamangun.210215

February 20, 2015

TUNGGU DI BLOG

kali ini aku ingin bercerita tentang penjual sendal keliling yang kutemui beberapa hari yang lalu namun aku khawatir tulisanku ini seperti menghakimi mereka. tetapi tak apalah, Tuhan selalu lebih tahu dari apa yang kita rasakan dan apa yang keluar dari mulut kita.

ceritanya seperti ini. senja di hari Imlek yang basah, aku dan windi menghabiskan waktu senja sambil melepas lelah setelah seharian survey di beranda Indomaret Pendurenan. seperti biasa, kami memperhatikan setiap orang yang lewat dan lalu lalang mobil mewah yang bergerak seakan tiada henti di jalanan tersebut. daerah pendurenan ini memang lumayan dipenuhi oleh orang yang berduit jadi tidak mengherankan jika para pengunjung di indomaret tersebut mayoritas yang dari kalangan atas.

saat sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba saja datang penjual aneka sendal dan menenteng tas besar berisi sendal. setelah mendekat, aku kemudian sadar bahwa dia penjual sendal keliling. sejurus kemudian dia menawarkan barang dagangannya namun ada yang aneh dari cara menawarkan barang dagangannya, dia seperti layaknya pengemis yang meronta sambil meringis seperti orang kelaparan. Bu, minta tolong dibeli sendalnya, saya lapar sudah seharian tidak makan" begitu rintihannya sambil memegang perutnya seperti orang yang sudah sebulan tidak makan. aku tiga kali menolak namun tetap saja dia tetap menawarkan sendalnya bahkan lebih mirip orang yang mengemis daripada orang jualan. aku kemudian melirik kepada windi dan kutahu dia tidak tega melihat orang seperti itu. alhasil windi mengeluarkan selembar uang dan menyodorkan kepadanya. si lelaki tersebut dengan basa basi yang amat basi mengatakan "Apa ini, makasih ibu, pak". dengan wajah yang amat memelas kemudian dia berlalu.

setelah berlalu, windi sempat ingin bertanya banyak hal kepadaku namun untuk menghindari Gibah maka kukatakan saja "tunggu di Blog." beginilah caraku menyampaikan semua kisah kepada windi tanpa harus berbicar panjang lebar yang berpotensi untuk menceritakan kejelekan orang lain.

akupun pernah menjumpai penjual seperti itu di lain waktu bersama windi yang layaknya pengemis daripada penjual namun dulu saaat kutolak, dia lalu beranjak pergi. aku tidak tahu harus menyikapi seperti apa namun terus terang aku kasihan dengan orang seperti itu yang berkedok penjual namun lebih mirip seperti pengemis yang memelas dan meminta-minta. ah, aku ini apa kenapa menceritakan hal yang buruk.

di lain waktu, ini juga berkenaan dengan penjual. pernah suatu waktu kacab ku bercerita bahwa dia melewati lampu merah di salah satu daerah di Jakarta Timur. saat melintas di lampu merah tersebut, beliau melihat seorang penjual tas yang menawarkan barang dagangannya kepada setiap pengendara yang berhenti di lampu merah. kacab ku bertutur bahwa penjual tersebut dengan tabahnya menawarkan barang dagangan tanpa sekalipun memelas bahkan lebih dari itu, dia hanya menawarkan dagangannya sekali saja, ketika pengendara menolak, dia langsung mencari pengendara lain tanpa lupa berterima kasih dan tersenyum. beberapa saat mengamati fenomena tersebut, kacab ku tergerak hatinya membeli dagangannya. dia kemudian memanggil pedagangan tersebut dan membeli 1 tasnya. tas itu akhirnya dihadiahkan kepada Mas Edi, salah satu OB di kantorku.

ada lagi seorang ibu yang dengan setianya selalu duduk di parkiran ITC Kuningan dengan barang rongsongan yang dia pungut sepanjang hari. setiap sore hari, para pengunjung Mall Ambassador dan ITC Kuningan akan menjumpai ibu itu jika mereka memarkir kendaraannya di samping.ibu yang sering dipanggil oleh windi dengan sebutan ibu kucing karena setiap harinya, ada seekor kucing yang menemaninya bahkan ketika ibu tersebut makan maka kucingnya pun akan dikasi makan. satu hal yang membuatku salut kepada ibu itu karena tidak pernah sekalipun aku melihat ibu itu mengemis kepada setiap pengunjung bahkan di beberapa kali kesempatan ketika windi memberinya makanan, dia selalu menolak dan mengatakan bahwa tidak usah repot karena rejekinya selalu ada.

begitulah potret penjual keliling yang berbeda. hidup ini memang tentang bagaimana kita menyikapinya. dua pedangan tersebut memberikan gambaran tentang dunia yang dijalani bahwa penentu dari hidup ini sebenarnya adalah tentang karakter. kalau mau membandingkan kedua penjual tersebut sama sekali tidak ada bedanya namun karakter merekalah yang membedakan mereka. penjual yang satu menjalani profesinya layaknya pengemis yang meminta belas kasihan dengan berkedok menawarkan barang dagangannya namun penjual yang satu menjalani profesinya dengan senang hati tanpa sekalipun memelas jika orang menolaknya untuk membeli barang dagangannya bahkan dengan kebesaran hatinya berterima kasih dan senyum kepada setiap orang.

ibu kota memang mengajarkan banyak hal. semua pelajaran terhampar di kota ini bahkan aku yakin jika ingin menguji kesabaran maka cobalah untuk sering berkendara di kota ini dan ketika engkau tidak pernah jengkel dan mampu bersabar terhadap semua hal yang engkau jumpai di jalanan kota ini maka kita bisa dimasukkan ke dalam orang yang sabar.

entah pelajaran apalagi yang akan kutemui nantinya di kota ini. semua masih akan berjalan seperti seharusnya dan setiap hal harus disikapi dengan pikiran yang tenang. aku tidak akan pernah menghujat penjual seperti yang kutemui di beranda Indomaret dan akupun tidak akan pernah mengabaikan ibu kucing yang selalu kujumpai di samping parkiran. mereka adalah makhluk semesta yang hadir mewarnai hidupku dan memberikanku pelajaran tentang cara seperti apa yang harusnya kutempuh untuk menyikapi hidup ini.

jika ingin menceritakan semua apa yang kujumpai maka bisa dipastikan setiap lembaran tidak akan memuatnya. cerita tentang ibu yang begitu keras terhadap anaknya. cerita tentang 3 bocah berusia belum genap 10 tahun saling menyuapi selepas maghrib di lampu merah menteng setelah mereka letih menawarkan tissue ke pengendara yang berhenti di lampu merah. cerita tentang orang-orang yang berkumpul di KPK mendukung pemberantasan korupsi, cerita tentang teman kantor dan cerita semua yang pernah kujumpai. ah hidup ini memang menawarkan aneka cerita yang tidak ada habisnya.

aku hanya ingin semua cerita tersebut abadi di dalam setiap tulisanku dan layak menjadi kebanggaanku setelah aku cukup membacakan dogeng kepada anak-anakku kelak. 

kantorbumidarawamangun.200215

HAPPY WEDDING KAWAN

Entah apa yang kurasakan saat kemarin membuka beranda fesbuk dan mendapati undangan pernikahan dari seorang kawan semasa kuliah dulu. sebenarnya mungkin hal yang biasa saja karena temanku ini pun adalah salah seorang sahabat baik semasa kuliah meski ada hal yang kemudian sedikit menjadikan sekat bagi beberapa kawan dengannya. aku tidak berpretensi bahwa dia salah tentang sebuah pilihan yang dia ambil namun sejujurnya jika bisa mengulang maka mungkin aku mengharapkan dia tidak mengambil jalan yang dulu dia putuskan untuk dijalani.

Tapi hidup adalah tentang pilihan-pilihan yang diambil dan setiap konsekuensi dari pilihan tidak boleh disesali.

aku ingin bercerita banyak tentang M.I, kawanku yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. kawan yang satu ini berasal dari kabupaten Barru. sebuah kabupaten yang hanya berjarak tempuh sekitar 3 jam dari makassar. kabupaten ini adalah satu-satunya jalur yang kulalui saat pulang kampung.

kawan yang satu ini termasuk salah satu kawan baik. banyak indikator kebaikan yang membuatku harus mengeluarkan statement ini. dia suka membantu temannya dan yang terpenting adalah dia suka berbagi dengan teman-temannya. masih amat segar dalam ingatanku ketika semester awal kuliah, seringkali kosnya dijadikan sebagai tempat kumpul bagi teman-teman sekelas yang cowok. harus kuakui bahwa persediaan makanan yang dikirimkan oleh orang tuanya dari kampung sering kami habiskan bahkan mie instan satu kardus kadang hanya bertahan beberapa lama karena kami sering numpang makan gratis di kosnya namun tidak pernah sekalipun aku melihat dia cemberut ataupun perasaan tidak senang di wajahnya ketika kami menghabiskan begitu banyak persediaan makanan di kosnya bahkan sebaliknya, dia sering mengundang kami untuk datang ke kosnya.

waktu terus berputar dan kebersamaan kami sudah tidak sesering saat masih mahasiswa baru. kesibukan masing-masing adalah penyebabnya. semua tenggelam dengan rutinitas dan organisasi yang diikuti meski masih sesekali berkumpul bersama. ada masa saat kami benar-benar jarang berkumpul lagi. itu terjadi di rentang waktu antara tahun 2008-2009. entahlah namun akupun tidak pernah membayangkan bahwa kebersamaan kami terbatasi oleh waktu yang sempit dan rentang waktu tersebut membawa banyak perubahan.

momen yang aku sesali dan mungkin saja aku mengingkari adanya momen itu. terjadi pada sekitar april-mei 2010. kawanku M.I menggemparkan fakultas Sospol saat dia diketahui ikut dalam sebuah aliran anti mainstream dari apa yang dipercayai sebagai orang Muslim pada umumnya. di rentang waktu tersebut, M.I seperti buronan yang dikejar dan diminta pertanggungjawabannya atas banyaknya junior di Jurusanku yang ikut aliran tersebut.

sedikit aku menceritakan tentang aliran yang diikutinya. aliran tersebut ada yang menamainya Aliran seperti al Qiyadah al Islamiyah yang menyatakan bahwa Ahmad Mosaddeq yang bergelar al masih al maw’ud sebagai sebagai utusan Allah (rasulullah) jelas merupakan aliran sesat dan menyesatkan. Dan dengan tegas kita harus menyatakan, siapa saja muslim yang mengikuti aliran ini telah murtad alias keluar dari agama Islam karena syahadat yang diucapkannya pun bukan lagi asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadur rasulullah melainkan asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna al masih al maw’ud rasulullah ( sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2007/10/26/munculnya-rosul-palsu/).

sebenarnya M.I yang mengikuti aliran tersebut bukan aku dengar dari orang namun sejatinya bahwa awal dia ikut pun aku sudah tahu. di Bulan Ramadhan tahun 2007, aku pernah di prospek di mesjid Ramsis depan kosku saat pulang dari buka bersama di rumah teman angkatanku A yang terletak di bilangan Jln. Bumi Tamalanrea Permai. setelah itu, M.I mengajakku diskusi sambil menghubungi seorang temannya yang tinggal di Abu bakar lambogo. aku sudah lupa siapa namanya namun perawakannya tinggi kurus dan kalau tidak salah ingat, kawannya itu kuliah ekonomi di STIEM Bongaya Makassar.

diskusi di mesjid tersebut berlangsung sampai tengah malam. ada beberapa inti diskusi tersebut yang masih hangat di kepalaku. mereka meyakini bahwa sekarang kita kembali ke masa Makkiyah jadi mereka tidak mewajibkan shalat 5 waktu dan puasa di bulan Ramadhan. mereka hanya mewajibkan shalat Tahajjud bahkan golongan diluar mereka dianggap kafir sehingga kita tidak berdosa ketika berbohong kepada mereka, keyakinan tersebut dikenal sebagai Taqiyyah yang merupakan salah satu ajaran Aqidah mereka. para pengikut mereka diharuskan berganti nama. aku ingat salah satu juniorku yang ikut diganti namanya menjadi saveros, entahlah apa arti nama itu namun yang kutahu setiap pergantian nama mempunyai arti masing-masing. di akhir diskusi tersebut, teman M.I selalu menyarankan aku untuk mengikuti syahadat mereka, entah berapa kali di akhir diskusi, dia memaksaku untuk melafalkan syahadat mereka sebagai tanda aku ikut di aliran mereka namun seingatku dulu, aku selalu berdalih bahwa aku harus mendiskusikan dengan ustdazku sebelum ikut ke mereka. alhasil diskusi tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa aku tidak akan ikut mereka dan ada perjanjianku dengan M.I bahwa dia tetap boleh ikut di aliran tersebut dengan syarat tidak boleh menyebarkan di jurusanku.

kembali ke periode April-Mei 2010 bahwa ketika M.I menjadi seperti Buronan, akhirnya pada suatu ketika, pengurus di himpunanku berhasil memaksanya datang dan diadakan semacam diskusi meski pada akhirnya seperti penghakiman kepada mereka. Setahuku di ruangan kuliah sehabis maghrib, semua juniorku termasuk Kawanku M.I dan begitu banyak mahasiswa lainnya berkumpul. mereka yang dicurigai ikut dalam aliran tersebut diberi kesempatan untuk mempresentasikan kepercayaan mereka di depan ruangan kemudian banyak tanggapan dari Mahasiswa lain. seingatku, dipertengahan diskusi tersebut malah berakhir seperti penghakimana terhadap mereka. banyak yang menghujat dan bahkan sinis terhadap mereka. akupun diminta untuk memberikan kesaksian karena semua tahu aku adalah salah satu mahasiswa yang pertama diajak ikut di aliran tersebut meski aku akhirnya tidak menyepakati mereka.

mengingat momen tersebut, pikiranku langsung melayang ke masa sekarang dimana begitu banyak pertentangan faksi di dalam Islam. akupun sebenarnya sedikit merasa bersalah karena kutahu betapa diskusi yang dulu diadakan layaknya forum yang mematikan karakter mereka. bahkan setelah forum tersebut, aku tahu kawanku M.I masih dibawa ke kompleks Wesabbe salah seorang seniorku beraliran Islam keras dan di rumah tersebut, aku lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kawanku tersebut diinterogasi sambil sesekali pukulan mendarat di wajahnya. namun tak sekalipun dia meringis atau seperti memelas. ah, entahlah apa yang ada di pikiran masing-masing saat itu.

setelah kejadian itu, aku praktis sama sekali sudah hilang kontak dengan kawanku tersebut bahkan saat di akhir 2010 aku diwisiuda, praktis tak pernah terdengar kabar tentangnya meski samar-samar aku dengar dia sudah lulus di tahun 2012.

akhirnya kemarin aku mendengar kabar dia akan menikah. ada rasa haru di hatiku mendengar kabar bahagia darinya. bagaimanapun juga, dia adalah satu satu temanku yang tidak pernah membuatku jengkel bahkan sebaliknya dia selalu baik kepadaku dan kepada teman-temannya. aku tidak pernah lupa bagaimana kebaikan kedua orang tuanya. saat itu ada acara di kotanya dan aku bersama beberapa kawan yang lain menginap di rumahnya. melihat wajah bapaknya seperti melihat bapakku sendiri. bertani dan beternak bahkan di raut wajah bapaknya tidak ada sedikit pun kesedihan yang nampak meski tidak lama setelah itu, bapaknya meninggal dunia.

entahlah kawan seperti apa perjalanan hidup yang sedang kita jalani namun percayalah kawan, aku akan selalu mendoakan kebahagiaan di setiap hidup yang akan engkau jalani.

semoga engkau bahagia kawan.
semesta memberkatimu

rawamangun.200215