February 18, 2015

BERBAGILAH

Mungkin setiap hal yang kita butuhkan dalam hidup akan datang tanpa diduga entah itu dari nasehat orang ataupun kejadian yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. begitulah semesta mengasihi makhluknya.

begini ceritanya. sudah seminggu ini aku diminta oleh kantor pusat untuk mengirimkan daftar evaluasi bengkel yang ada di Jakarta Timur. berhubung karena ada beberapa bengkel yang belum kutahu pasti track recordnya maka sebelumnya aku koordinasi dengan Eli. alhasil ada 2 bengkel yang masuk dalam catatan hitam evaluasi. pertama adalah bengkel LJM. kasusnya karena beberapa waktu yang lalu, mereka menangani klaim nasabah dengan jumlah klaim yang sangat besar lebih dari 100 Juta. klaim sebesar itu memang lumayan memusingkan. dalam perjalanan waktu pengerjaan, ternyata bengkel LJM tidak bisa menyediakan Spare parts sehingga harus disupply namun sebenarnya itu bukan masalahnya namun intinya dalam pengerjaan, mereka tidak jujur karena ada beberapa panel yang dikerjakan oleh supplier namun mereka melaporkan ke kantor bahwa pekerjaan itu dikerjaan oleh mereka. titik masalah di bengkel ini adalah adanya ketidakjujuran dalam pengerjaan.

Bengkel kedua yang mendapat catatan hitam adalah MJM. sebenarnya bengkel ini dekat dengan kantor kami dan bahkan salah satu petinggi di bengkel tersebut adalah agen di kantor namun sejak aku menangani setiap klaim di kantor, estimasi dari bengkel ini lumayan besar namun aku tidak bisa menjudge bahwa mereka mark up karena si Agen yang bekerja di bengkel tersebut adalah mantan kepala cabang di kantor dan aku berpikir tidak mungkin mereka mengelabui kantor sendiri. kasus mencurigakan kemudian muncul saat ada laporan klaim dari bengkel tersebut dengan estimasi klaim 18 juta. setelah itu, aku dan eli menganalisa kerusakan mobil dan juga kronologis kejadian tersebut. setelah itu aku menyerahkan ke surveyor PT. Sentra Proteksindo untuk di survey lebih lanjut alhasil ketahuan bahwa kejadian yang dilaporkan tersebut tidak sesuai dengan sebenarnya. ada kecurigaan juga bahwa bengkel MJM ikut andil dan ketidakjujuran memberikan laporan ke kantor. maka itu menjadi poin penilaian minus atas bengkel ini.

sebelum mengirimkan hasil evaluasi ke kantor pusat, aku dan eli masuk ke ruangan kacab mengkonsultasikan hasil evaluasi kami. seperti biasa, kacab kantorku memang suka memberikan nasehat. setelah diberi kesempatan mengutarakan hasil evaluasi dia kemudian berbicara panjang lebar tentang segala hal dan tentang pengalaman-pengalamannya. pertama kali yang dia katakan adalah ketika memberikan evaluasi dengan kriteria yang bukan berdasarkan angka maka seharusnya kita harus hati-hati karena seringkali jatuhnya subjektif. dia juga menghubungkan dengan penilaian karyawan yang minggu lalu diadakan bahwa memang lumayan rumit untuk menilai jika patokannya adalah nilai etika. hal yang dia katakan bahwa ketika menilai kinerja karyawan yang diberi target 100 dan dia mencapai target 100 maka bisa diberikan hasil sempurna namun ketika penilaiannya tentang kerajinan ataupun juga tentang integritas maka harus dilepaskan hal yang subjektif kemudian menilai.

hal kedua adalah kacab memberikan wejangan-wejangan tentang rejeki dan berbagi. aku memang mengakui bahwa kacab kantorku termasuk dalam orang yang tidak terlalu pelit bahkan beliau bercerita bahwa setiap kali mendapat bonus maka beliau sama sekali tidak pernah memikirkan berapa yang akan menjadi bagiannya namun yang ada di dalam pikirannya adalah berapa yang harus dikasi ke staff bahkan terkadang ketika sudah memberikan jatah kepada karyawan, beliau masih berpikir bahwa apakah yang diberikan itu sudah pantas. beliau berpesan kepada aku dan eli bahwa ketika mendapat rejeki maka jangan sekali-kali pelit.

banyak analogi yang beliau contohkan tentang berbagi. beliau mengatakan bahwa coba bayangkan ketika kita bahagia dan menceritakan kebahagiaan kita kepada orang lain maka selayaknya kita bertambah bahagia. sedangkan ketika kita sedih dan curhat kepada orang lain maka kesedihan kita berkurang. sama halnya ketika kita mendapatkan rejeki maka itu adalah kebahagiaan dan ketika kebahagiaan dibagi hakekatnya akan bertambah maka seharusnya ketika kita mendapatkan rejeki maka harusnya dibagi. inti dari wejangan ini adalah ketika membagi kebahagiaan kepada orang lain maka kebahagiaan kita bertambah sedangkan ketika kita membagi kesedihan kita kepada orang lain maka kesedihan kita akan berkurang. 

hal lain yang beliau ceritakan kepada kami adalah tentang etika. hal ini berada diatas segalanya bahwa sepintar-pintarnya orang ketika tidak beretika maka tidak akan pernah dianggap. semua akan berujung pada apa yang inheren dalam diri manusia dan sesuatu yang inheren dalam hal ini kecerdasan emosional hanya bisa dirasakan melalui hati. kepekaan itu akan serta merta terasah ketika kita selalu mengasah dan mempraktikkannya.

mungkin di kantor ini aku kemudian mendapat banyak hikmah yang berserakan cuma karena kekurangan kata-kata untuk mengoreskannya maka aku tidak sanggup untuk menuliskan satu persatu. biarlah menjadi memori di rongga otakku dan kujadikan pembelajaran di dalam hidup. terlalu sayang memang untuk melewatkan semua hal yang berguna bagi hidup.

di kantor ini pun, aku belajar untuk tidak mengotori hati dengan tetap menjaga lidah karena aku tahu bahwa setiap orang di kantor ini seringkali bercerita tentang aib masing-masing dan itu satu hal yang ingin kujaga dari diriku. sebuah ujian diri untuk memantapkan prinsip bahwa menceritakan aib orang lain adalah sebuah pengkhianatan apatahlagi orang yang sudah dianggap kawan dan anehnya di kantor ini, aku sering menjumpai fenomena seperti itu.

di kantor ini pula, aku belajar tentang keikhlasan. bagaimana bekerja sesuai porsi pekerjaan yang ada dan bagaimana dengan berlapang dada menerima gaji yang memang sesuai kontrak kerja. sampai sekarang ini, aku belum menjumpai karyawan yang benar-benar ikhlas dengan gaji yang mereka dapatkan. seringkali yang kudengar adalah keluh kesah maupun tuntutan untuk kenaikan gaju. ironi sekaligus menyedihkan namun pada dasarnya, aku ingin sekali menemukan orang yang benar-benar ikhlas dalam bekerja supaya aku bisa belajar kepadanya. aku pun ingin bertemu dengan orang yang membenci untuk menceritakan aib orang lain.

entahlah namun sesungguhnya bahwa perjalanan hidup ini masih terus berlanjut sampai pada akhirnya menemukan akhir perjalanan. setiap kali aku harus bersiap menikung ataupun menanjak bahkan menurun. semua perjalanan tidak akan pernah semulus yang dibayangkan namun perjalanan akan seperti dinamika yang tidak ada habisnya. hidup pun begitu bahkan adalah kawan dengan satirnya mengatakan bahwa sebenarnya hidup ini hanyalah perpindahan dari masalah yang satu ke masalah yang lainnya.

banyak-banyaklah merenung tentang hidup
ketika mampu mengendalikan pikiran maka sejatinya kita meniti sebuah kesuksesan dan mampu melawan semua godaan.
kendalikanlah pikiranmu minha kepada hal-hal yang positif

kantorbumidarawamangun.200215

February 16, 2015

TULISAN YANG HIDUP

Baru saja aku menghabiskan sejam waktuku mengobrol lewat telepon dengan windi. Semula kami hanya bercerita tentang aktivitas seharian di kantor masing-masing. Aku bercerita bahwa tadi di kantorku ada karyawan baru yang dengan lugunya hanya tersenyum tipis saat digoda oleh teman kantor sambil sesekali nyengir. Aku juga bercerita bahwa penilaian kinerja karyawan di divisi staff teknik. Aku menduduki peringkat ketiga namun menurutku penilaian tersebut sama sekali tidak mempengaruhi apa-apa tentang apa yang ingin kucapai karena aku sudah memutuskan untuk tidak terlalu peduli dengan apa pendapat orang tentang diriku selama aku tidak merugikan mereka. Windi juga bercerita banyak tentang aktivitasnya di kantor. Dia pun sedang penilaian kinerja dan dia amat menyesali penilaian tentang perilakunya yang mendapat nilai paling rendah dari beberapa aspek penilaian yang lain. di titik ini, aku berpesan kepada windi bahwa salah satu cara paling sederhana untuk menguji keikhlasan kita dalam bekerja adalah ketika hati kita tidak terpengaruh tentang hasil penilaian yang ditujukan kepada kita entah itu baik ataupun hasilnya kurang baik.

Aku kemudian iseng membacakan beberapa potongan kalimat dari buku "Surat-surat kepada Karen." Windi diam dan mendengarkan beberapa kalimat di buku tersebut yang kubaca. Aku memang suka membacakan kalimat-kalimat puitis meski kusadari tanpa dia dengar pun aku suka membaca tulisan-tulisan puitis yang sentimentil namun sarat makna. mungkin suatu saat ketika semesta merestui kami menjadi keluarga, aku ingin meluangkan malam-malamku untuk membacakan puisi di depannya maupun di depan anak-anakku kelak. norak memang namun itulah keinginan sederhanaku yang kupikir paling menyenangkan ketika kami bersama di malam hari saat semua kepenatan menyerang tubuh setelah seharian bersetebuh dengan rutinitas harian.

Entah kenapa pembicaraan kami berlanjut tentang blogku dan juga tentang tulisan-tulisanku. Harus kuaku bahwa pegunjung setia blogku adalah windi seorang atau bahkan tidak ada orang lain selain dirinya yang mengunjungi blogku. katanya sih blogku sebagai hiburan, sebagai penawar dahaga di tengah rutinitas kerja yang memusingkan. entahlah benar atau pun mungkin hanya menghiburku dan yakinlah bahwa meskipun dia tidak pernah sama sekali menyukai tulisanku satupun tetapi aku tetap akan menulis karena dengan cara inilah, aku melepaskan semua energi yang menumpuk di kepalaku. tentang apa saja yang membuatku harus menuliskan kalimat demi kalimat. kalau katanya membaca blogku adalah sebuah hiburan maka aku juga ingin berkata bahwa menulis adalah sebuah hiburan buatku, tidak peduli orang suka tulisanku ataupun tidak.

Aku kemudian meminta pendapat tentang tulisan-tulisanku yang terpampang serampangan di blogku. Akupun sudah siap menerima kritikan darinya. Ada beberapa masukan yang sangat baik dari windi. Katanya bahwa tulisan masih terlalu monoton dan seringkali mengulang kata atau kalimat yang sama. Dia menambahkan  bahwa tulisanku belum hidup sehingga terkesan pembaca seperti dirinya cepat bosan dan tidak merasa penasaran akan isi tulisan. tulisan memang sejatinya harus menampilkan sebuah racikan kata-kata yang membuat orang terpesona. aku amat sangat percaya bahwa tulisan yang diramu dengan sepenuh hati dan datangnya dari dalam hati maka orang yang membacanya pun akan tersentuh.

Yang ingin digarisbawahi dari kritikannya adalah tentang tulisan hidup. Akupun menyadari bahwa tulisanku masih terlalu monoton dan tidak hidup. Ilustrasi yang sering aku utarakan di setiap tulisanku sama sekali belum mampu memikat pembaca setiaku. Aku selalu saja iri dengan beberapa orang yang dengan pawainya menulis dengan ilustrasi  yang sangat kuat dan hidup sehingga pembaca ketagihan untuk membaca semua tulisan bahkan membuat penasaran. Sebutlah kak ochan, Arham kendari, yusran darmawan dan banyak lagi penulis yang membuatku penasaran bagaimana mereka sampai pada level dimana tulisan-tulisan mereka seperti bernyawa.

Tadi aku menguraikan kegalauanku bahwa jikalau memang kepiawaian dalam menulis adalah bakat alami yang given dari Sang Khalik maka aku sudah menyatakan pasrah untuk menyamai mereka yang mampu menulis dengan tulisan yang mempesona namun jikalau memang keahlian tersebut melalui proses panjang pembelajaran dan latihan-latihan maka aku punya asa menjadi penulis yang baik karena aku tekadkan sedari awal bahwa suatu saat nanti aku menjadi seorang penulis yang mampu mengilustrasikan tulisan dengan baik.

Mungkin juga salah satu penyebab dari kegagalanku menulis dengan baik adalah tulisanku tidak berasal dari hati sehingga setiap pembaca pun tidak mampu mengikutkan hati ketika membaca tulisan ku.

Masalah kedua mungkin yang belum mampu menghidupkan tulisan-tulisanku adalah kekuranganku dalam membaca sehingga referensi dan pengetahuan yang hendak kusampaikan di setiap tulisanku tidak sampai pada pembaca.

Namun begitulah, entah itu bakat yang terpendam namun aku akan terus mencoba sampai suatu waktu semua orang penasaran akan tulisanku dan menunggu setiap apa yang kutuliskan. Asa adalah spirit hidup yang harus tetap dijaga sambil terus mencoba.

aku sudah melewati beberapa fase yang membuat aku berpikir ulang bahwa semua fase dalam kehidupanku adalah sesuatu yang pernah aku pikirkan sebelumnya bahkan dalam beberapa kasus tertentu pun, apa yang menjadi kenyataan di diriku sekarang adalah hal-hal yang pernah kuanggap mustahil adanya. itulah yang menguatkan keyakinanku bahwa dalam hidup ini, bakat hanyalah sebuah variabel penunjang dan latihan serta ketekunan dalam mengasah diri adalah variabel primer pada setiap apa yang kita inginkan.

memang terlalu naif ketika menvonis orang lain ataupun diri sendiri dalam mengejar impian karena semesta bersama dengan orang yang tekun dan sungguh-sungguh. adagium "keberhasilan adalah puncak dari usaha yang sungguh-sungguh". jangan sekali-kali meremehkan diri sendiri dalam menggapai apa yang kita yakini adanya. satu hal yang dibutuhkan dalam mengejar setiap impian kita adalah memalingkan muka dari setiap cibiran orang-orang yang tidak percaya akan apa yang kita cita-citakan. hidup terlalu singkat untuk mendengarkan ocehan kosong orang-orang karena yakinlah pekerjaan yang paling disenangi manusia adalah mencibir orang yang sedang berjuang dari bawah bahkan dari orang yang mencibir tersebut sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan ketidakmampuannya. so, berjalan tersebut dan tutup telinga dari cibiran kosong manusia.

Well, apapun itu, aku yakin haqqul yakin dengan izin Sang Khalik, someday aku bisa menulis apa saja yang mampu membuat orang menyenangi tulisan-tulisanku. semua akan terekam dalam buku-buku yang akan kutulis dan someday, orang-orang akan menyenangi setiap tulisanku.

someday, bukuku akan terpampang di rak Gramedia sebagai buku bestseller. Amiin

Kamarkosrawamangun. 160215

ANAK BARU

Hari ini mungkin seperti terulang pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kantor ini 6 bulan lalu tepatnya tanggal 26 agustus 2014. tadi siang, seorang karyawan baru pengganti bella datang bersama Edit staff SDM yang juga datang mengantarku 6 bulan lalu.

wajah anak itu benar-benar menggambarkan suasana hatiku tiba di kantor 6 bulan lalu. diam, senyum dan tak tahu harus berbuat apa sedangkan teman-teman kantor sudah mulai dengan usilnya mengeluarkan candaan yang buat anak baru pastinya amat sangat terganggu. aku merasakan itu.

tadi anak baru tersebut sempat berkenalan singkat. namanya Abdullah dan dipanggil Abdul. lumayan muda karena baru 21 tahun makanya mungkin tidak terlalu salah aku panggil anak baru.

entahlah apa yang kurasakan tadi melihat ekspresinya. hal yang aku sadari bahwa aku pernah berada di posisi seperti dia. aku pun menyadari bahwa semua orang pasti pernah berada di posisi awal dan akan terus berlanjut sampai dimana posisi yang dia inginkan.

hidup memang adalah sebuah gerak yang tak berhenti
160215

February 15, 2015

KAFE PHOENAM

Mendengar kata kafe Phoenam serasa bahwa kafe tersebut adalah milik orang vietnam bahkan ketika kita berkunjung ke kafe maka akan dijumpai suasana seperti kafe orang China pada umumnya. Seperti itulah gambaran yang pertama ketika mendengar dan berkunjung ke kafe tersebut.

Sisi dalam kafe phoenam
Namun jangan salah karena pendiri kafe tersebut berasal dari makassar, memang sih orang Makassar namun keturunan Tionghoa meski demikian, kafe tersebut amat sangat indentik dengan orang Makassar apatahlagi cabang yang ada di Jln Ky Wahid Hasyim Jakarta. Beberapa perantau dari makassar sering melepasa rindu di kafe teraebut karena saat berada di dalamnya, serta merta kita akan mendapatkan suasana seperti di makassar. Orang-orang  yang bercerita tanpa harus basa-basi, logat makassar yang khas dan cara mereka bercengkerama.

Itupun yang mendorongku semalam itu memungut serpihan rinduku akan kota daeng di kafe tersebut. Awal cerita aku mengetahui kafe Phoenam saat tak sengaja membaca status bang Tole di FB. Dia bercerita panjang lebar tentang perantau makassar di jakarta kemudian salah satu kalimatnya kurang lebih seperti ini mengatakan bahwa belum syah jadi perantau makassar di jakarta kalau belum berkunjung ke kafe Phoenam. 

Alhasil semalam saat selesai menonton film gratis di TIM "Surat Cinta Untuk Jakarta", aku mengajak dedi ke bilangan kafe tersebut. Pertama kali masuk memang terasa seperti kafe orang china namun saat di dalam dan mendengar para pengunjung bercengkerama, maka kekhasan perkawanan orang-orang  makassar  sangat terasa bahkan saat itu Ali muchtar ngabalin ada di kafe tersebut bercerita sama kawan-kawannya.

Untuk sekedar melepas rindu terhadap kota makassar memang kafe tersebut tempatnya namun harus kuakui bahwa harganya mahal. Semalam aku memesan susu madu jahe dan dedi memesan mie rebus serta air mineral. Kami laiknya sok berkantong tebal santai sambil menikmati hidangan, sekitar sejam kemudian kami memutuskan untuk pulang dan membayar di kasir, aku terperangah saat melihat strucknya. 46 ribu. Ckckc. Aku dengan santai sama dedi membayar dan sok tidak peduli dengan harga meski mengelus dada.

Segelas susu madu jahe ini harganya 36 ribu
Yah, mungkin kelas sosialku yang belum mencapai strata orang-orang makassar yang sering melepas kerinduan mereka dengan kota daeng di kafe tersebut yang harus merogoh isi saku 50 ribu hanya untuk segelas kopi. Aku masih sangat merasa sayang dengan uang segitu hanya untuk segelas kopi padahal di sekitar kita uang "sebanyak" itu bisa makan bagi orang-orang yang kurang mampu bahkan bisa makan untuk 4-5 orang di warteg. Ah, mungkin jadi aku belum mengerti esensi mereka.

entahlah namun yang pastinya malam itu aku melepas rindu tentang suasana makassar di kafe tersebut. mendengar orang-orang bercengkerama dengan logat makassar dan suara yang membahana lumayan menyicil sedikit kerinduan akan kota tersebut. kota yang tidak akan pernah alpa dalam memoriku karena terlalu banyak cerita masa muda yang bergelora di kota tersebut. berkawan, belajar dan semua dinamika masa muda telah aku lewatkan di kota daeng. kerinduan akan kota makassar tetap akan terjaga.

160215

February 14, 2015

SURAT CINTA UNTUK JAKARTA

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagiku. Pukul 10.30 siang berangkat survey dan baru sampai di kamar kos pukul 23.00, itu berarti bahwa selama 12 jam aku memutari kota ini.

Namun ada hal yang kusyukuri hari ini. Tadi pukul 19.00 WIB menonton film surat cinta untuk jakarta di Taman Ismail Marzuki. Film yang terbagi dalam 3 segmen dan berdurasi hanya sekitar 20-30 menit laiknya film dokumenter. Pertama kalinya aku masuk di TIM dan menonton film bahkan gratis pula.
Suasana dalam ruang  menjelang film mau berakhir
 film sama halnya dengan musik yang menjadi representasi dari seseorang meluapkan semua emosi yang berkecamuk di  rongga otaknya, tentang apa saja yang dijumpai. berbeda dengan musik yang menyampaikan pesan lewat alunan suara dan musik yang mengalun lembut, film lebih hidup lagi karena audio visual dan penonton seringkali menempatkan diri dalam setiap peran. layaknya penonton ikut bersenyawa dalam cerita yang disampaikan oleh sutradara.



 Film Surat Cinta untuk Jakarta terbagi dalam 3 film pendek yang rata-rata berdurasi setengah jam. Ketiga film pendek tersebut benar-benar membawa spirit tentang kota Jakarta saat ini. Keren dan amat sangat menguras emosi bagi orang yang sudah merasakan tinggal di kota ini. jakarta memang telah menjadi representasi dari kehidupan mewah bagi setiap orang. semua bisa didapatkan di kota ini dengan cara apapun meski terkadang meninggalkan ruang hampa di sanubari. jakarta memberi pelajaran tentang banyak hal. 

Surat cinta untuk Jakarta

Film pertama "Mencari Sudirman". Awal dari film ini langsung mempesonaku karena bintang utamanya Leony. Artis yang seumuran denganku dan menjadi idolaku saat masih smp-sma. Di film ini, Leony menjadi tokoh utama yang mencari sudirman. Tidak diceritakan secara gamblang apakah sudirman itu adalah pacarnya ataupun teman dekat namun dari gambaran fiom tersebut bahwa sudirman adalah pacarnya.
Setiap sudut kota jakarta yang disusuri mencari sudirman menguak kebersamaan mereka, kerinduan akan sudirman benar-benar mencampakkannya dalam kondisi yang labil bahkan rumah kos, kantor dan warung langganan sudirman sudah didatanginya namun tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan sudirman. Pada akhirnya film ini berakhir begitu saja tanpa ada kesimpulan yang jelas. Film pertama ini benar-benar tidak mengesankan bagiku hanya saja karena Leony tokoh utamanya yang sedikit membuatku terhibur.

Film kedua "kok kemana" menceritakan tentang kehidupan masyarakat marginal ditengah kemewahan kota jakarta. Seorang bocah bernama Abang dan bapaknya yang diperankan oleh jonny iskandar.

Film ini dimulai saat abang sedang bermain di kasurnya kemudian seekor tikus jatuh tepat didepannya. Tikus yang masih merah tersebut diambil kemudian dinamai kok. Si bapak yang melihat anaknya memelihara tikus tidak setuju namun Abang tetap bersikeras memeliharanya dengan dalih bahwa tikus yang diberi nama kok tidak punya rumah. Alhasil ketika dia tidur, ayahnya mengambil tikus tersebut dan membuangnya jauh-jauh. Saat terbangun, Abang terperanjat mendapati "kok" sudah tidak ada di dalam kaleng tempat dia menaruh sebelum tidur. Dia kemudian mencari ke segala penjuru kota namun tidak ketemu.

Di akhir cerita, abang dan sang ayah digusur dari bangunan semi permanen yang selama ini ditempatinya. Mereka meninggalkan banyak kenangan di tempat itu.

Film kedua ini lumayan sarat makna. Laiknya film satir yang menceritakan tentang bagaimana susahnya menjadi proletar  di kota jakarta.

Aku teringat seorang kawan di kantor yang rumahnya di bilangan pedongkelan beberapa waktu lalu digusur oleh PT. pulomas. Hari-hari menjelang penggusuran dan setelahnya, wajah sang kawan mengguratkan kemarahan yang mendalam terhadap borjuasi di kota ini. Kerap kali dia bercerita kepadaku tentang kekesalanya terhadap borjuasi yang semena-mena kepada kaum proletar yang termarginalkan.

Film ketika "Rock n Roll. Film ini berkisah tentang dua sahabat semasa SMA, asty dan indra yang kembali bertemu di jakarta setelah asti kembali dari belanda. Mereka adalah sahabat semasa yang dulu bercita-cita melanjutkan kuliah di luar negeri. Setelah tamat SMA, asti benar-benar melanjutkan kuliahnya di Belanda sedangkan Indra kuliah di jakarta.

Mereka bertemu saat sudah begitu banyak yang berubah, entah di diri mereka maupun perubahan kota jakarta. Indra yang dulunya berkecimpung di dunia jurnalistik memilih banting stir menjadi seorang petani. Profesi yang menurut asti tidak banget buat indra namun indra tetap keukeuh dengan prinsipnya menjadi seorang petani. Menurutnya bahwa kerja di dunia jurnalistik memang menyenangkan namun pekerjaan yang sekarang dijalani lebih menyenangkan lagi.

Pertemuan mereka di hari pertama dihabiskan dengan mengelilingi koga jakarta memungut semua serpihan kenangan masa lalu mereka. Menemui semua tempat yang pernah mereka akrabi hingga pada akhirnya mereka mampir di sebuah warung cendol. Di tempat itu pertama kali indra menyatakan perasaan suka kepada asti. Di akhir film, asti bertanya kepada indra bahwa apakah dia masih mengingat di tempat ini indra pernah menyatakan cinta kepadanya. Indra kemudian dengan dingin dan tanpa ekspresi menganggukan kepala. Asti lalu menyatakan perasaan cintanya kepada indra dengan nada bertanya, "indra, bagaimana kalau sekarang sebaliknya aku yang menyatakan?".

film ini juga menceritakan tentang kerinduan terhadap kota Jakarta dengan semua kegaduhan, kemacetan, banjir dan plus minus jakarta.

Serial film ketiga ini lumayan menghibur ditambah dengan beberapa dialog diantara mereka dan beberapa jawaban maupun pernyataan indra yang keren


140215

River's Note

Buku ini keren. Seperti itulah yang terlintas di kepalaku saat pertama kali membaca buku ini di kos salah seorang kawan karibku di jogja. Penulisnya adalah kakak kandungnya. Begitu banyak hal yang ingin kuceritakan tentang buku ini, tentang isi buku ini yang memungut semua serpihan kenangan masa kecilku, tentang keluarga penulisnya dan tentang adik penulis yang juga kawanku. Mungkin yang tertulis disini hanya sebagian refleksi dari isi kepalaku karena aku bukan seorang yang mampu menerjemahkan semua yang ada di otakku menjadi tulisan yang sedap dibaca.

Pertama aku ingin bercerita bagaimana buku ini bertakdir denganku. Ceritanya berawal di pertengahan 2012, aku merantau ke pulau jawa tepatnya di ibukota. Sebulan di ibukota, aku merasa sesak dengan denyut nadi kehidupan yang tidak pernah berhenti sedikitpun bahkan saat malam sudah menua, kota ini masih tetap saja berdengut tanpa mengenal lelah, mungkin hanya siluet jingga dan langit yang temara menjadi pembeda pergantian waktu. Saat puncak kejenuhan, aku memilih menyingkir ke ujur timur pulau jawa dengan kereta api. Itu pula perjalanan pertamaku naik kereta api. Sebelumnya aku memutuskan singgah di jogjakarta karena salah seorang kawan karib semasa kuliah melanjutkan pendidikannya di kota gudeg itu. Alhasil sebulan penuh aku menginap di kosnya tepat di belakangan pasar terban sambil merasakan denyut kehidupan orang jogja yang damai. Hampir tidak ada aktivitas yang signifikan kulakukan saat di jogjakarta, hanya mengunjungi beberapa tempat yang dulunya hanya bisa kubaca di buku-buku. 

Buku yang dijejer rapi di sudut kamar kosnya lumayan membuatku mengusir penat saat dia ke kampus dan aku sendirian di kos sekaligus juga membantu untuk tetap merawat melihat isi-isi buku. Deretan genre buku ada disana tetapi buku River' note tulisan Fauzan M.

Aku ingin bercerita tentang temanmu. kami sama-sama dari tanah sulawesi. Keakraban kami terus berlanjut karena minat kami yang hampir sama bahkan aku dan dia masuk di organisasi pergerakan yang sama meski pada akhirnya aku mengurangi intensitasku di organisasi tersebut namun tidak mereduksi jalinan perkawanan yang aku bangun dengannya.

Aku bahkan sudah mengenal semua keluarganya. Bahkan kalau tidak salah ingat, aku 2 kali makan bareng dengan ibu dan kakak-kakaknya di kosnya. Seingatku saat itu ada ibunya, aku sudah beberapa kali bertemu meski pertemuan yang hanya sekedar tatap mata dan itu terjadi di kosnya saat dia ke makassar. Setelah itu, kami pernah bertemu di kantornya saat aku mengantarnya. Sekilas memang di wajah dan kepribadiannya ada kemiripan. Melihat cara berpikir dan cara memperlakukan orang adalah bukan sesuatu yang given. Aku yakin bahwa kedua orang tuanya mendidik anak-anaknya dengan filosofi yang sederhana namun sangat bermakna.

Membaca isi dari buku river's note yang notabene kebanyakan refleksi kehidupan penulisnya di bone benar-benar menjadi sebuah jawaban bagaimana masa lalunya di keluarganya sehingga membentuk pribadinya seperti sekarang ini. Ada banyak edisi kebersamaan aku dengannya yang benar-benar membuatku kagum. Pernah suatu waktu, kami sedang aksi atas rencana penggusuran masyarakat pandang raya di depan kejaksaan samping karebosi. Sebelumnya aksi berjalan normal dan ditengah jalannya aksi, mulai ada gesekan dan salah seorang anggota aksi "kalau tidak salah ingat namanya rangga", ditangkap dan hendak dibawa oleh polisi. Kulihat dia langsung melompat dan menjadikan dirinya tameng supaya polisi tidak membawa Rangga. Dengan badan yang lumayan bongsor, dia lumayan bisa mendorong tubub si polisi. Aku ingat benar kejadian itu dan Rangga berhasil kabur.

Hal lain yang ingin kucatat tentang buku ini adalah isinya. Membaca buku ini serasa menempatkan kembali diriku saat masih bocah. Saat harus pulang ke rumah sebelum maghrib dan bersegera mandi dan shalat maghrib kemudian mengaji. Buku ini benar-benar memungut hikmah yang terkadang terlupa oleh kita yang beranjak dewasa dan mengacuhkan pelajaran-pelajaran kecil masa lampau.

Isi buku ini benar-benar menghempaskanku ke masa lalu. Bagaimana ibuku mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang yang maksimal bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah berhasil menggambarkan seperti apa kasih sayangnya kepada kami. Pun tentang ayahku yang membesarkan kami dengan ketegasan. Kutahu bahwa dalam setiap tingkah yang ditunjukkan kepada anak-anaknya, ayahku ingin berkata bahwa laki-laki harus kuat, dalam keadaan bagaimanapun, jangan pernah memperlihatkan kesusahan kepada orang lain. Dia menyimpan beribu sayangnya kepada kami dalam bentuk ketegasan yang tidak boleh ditawar.

Begitulah buku ini membawaku kembali ke masa lalu.

kata terakhir, buku ini memang keren.
150215

Kopi Hitam

Tulisan ini adalah ekspresi tentang rasa penasaran saya mengenai kopi. Entah dari mana awalnya, kopi selalu indentik dengan para filsuf, aktivis, Mahasiswa bahkan semua kalangan. Kenapa bukan teh, susu atau minuman lainnya, bahkan beberapa penulis yang bergenre kearifan hidup memberi judul buku mereka dengan mencantumkan kata kopi. Cerita segelas kopi tulisan Melanie Subono, Filosofi Kopi Oleh Dewi Lestari dan masih beberapa yang menempatkan kopi dalam tulisannya.

Sisa kopi pagi ini
Aku sebenarnya bukan seorang penikmat kopi sejati meski kuakui bahwa kedua abangku dan juga ayahku adalah penikmat kopi hitam. Aku bahkan lebih memili kopi kemasan yang diracik dengan, susu, cream atau kopi kemasan lainnya yang sebenarnya sudah menghilangkan sensasi rasa kopi itu sendiri.

Ada sebungkus kopi hitam dalam kemasan oleh-oleh windi saat dinasdi aceh. Sudah hampir beberapa bulan ini aku biarkan di kamarku. Kemarin saat semua persediaan kopi susu yang kubeli di indomaret habis, aku mencoba meracik  kopi hitam tersebut. Memang sih lebih kerasa sensasi kopi nya daripada kopi yang sudah di campur dengan susu ataupun cream.

Kopi memang menjadi minuman penuh sejarah bahkan warung di pinggir jalan sering diasosiasikan sebagai warung kopi meski terkadang manusia yang mampir sama sekali tidak memesan kopi. Yah kopi menjadi penembus batas semua strata sosial dalam masyarakat.

Ah, kopi akan selalu menjadi misteri
130215

Senyumlah

Tulisan ini sebenarnya berangkat dari kondisi kos yang sekarang saya tempati. Ada 5 kamar yang terisi semua termasuk kamarku. 2 kamar berada tepat di depan tangga naik sedangkan 3 kamar lainnya berada di dalam ruangan. Sebenarnya kos ini lebih mirip seperti rumah pribadi karena kamarnya tidak berjejaran tanpa ada sekat laiknya kos pada umumnya. Bahkan persis seperti rumah yang terbagi dalam beberapa kamar dan juga ruang tamu.

Sekilas kondisi kos saya seperti itu namun bukan itu intinya yang ingin saya utarakan di sini. Sebelum memilih kos ini, harapan saya adalah semua penghuni kos akrab satu dengan lain seperti pada umumnya kos Mahasiswa di makassar, namun harapan memang seringkali tidak sesuai dengan realita bahkan ada orang yang beranggapan bahwa hal yang paling sulit dalam hidup adalah menyinkronkan harapan dengan kenyataan dan mungkin seperti itu yang saya alami di kos ini.

Dari kelima penghuni kos ini, jangankan meluangkan waktu untuk mengobrol akrab sambil bercerita panjang lebar, saat berpapasan pun sepertinya senyum adalah hal yang terlalu mahal. Beberapa kali saya mencoba melempar senyum kepada mereka saat berpapasan namun hal yang saya dapatkan ada muka tanpa ekspresi alhasil saya tengsin sendiri.

Memang sih ada salah satu yang lumayan ramah, dia termasuk penghuni kos paling baru dan kamarnya berada di depan tangga. Dia berasal dari grobogan bahkan ketika bertemu, kami saling sapa namun yang lain benar-benar menganggap senyum sebagai barang mewah.

Namun begitulah hal yang mungkin harus saya sadari bahwa tidak semua hal yang diharapkan menjadi kenyataan. Setelah itu, saya pun seakan enggan untuk menyungging senyum ketika berpapasan dengan mereka.

Ah sudahlah, mungkin mereka kurang piknik,
Atau mungkin mereka merasa paling banyak masalah hidupnya
Ataukah mungkin juga jauh dari keluarga
Ah, sudahlah, mungkin seperti itu cara mereka merayakan hidupnya tanpa harus senyum
Mungkin juga mereka lelah

Tidur ahhhhh
Kamarkosbambukuningrawamangun
140215 08:29

February 13, 2015

Perkawanan

RENCONG MARENCONG
 
Hei bagaimana kabar kawan-kawan
Apakah baik kondisimu disana
Kami disini sedang bernyanyi kawan
Akan senandung lagu rindu tentang kamu
Yang ada di timur, bagaimana kabarmu
Yang ada di barat, bagaimana kabarmu
Yang ada di utara, bagaimana kabarmu
Yang ada di selatan, bagaimana kabarmu
Yang ada di gunung, bagaimana kabarmu
Yang di sebrang lautan, bagaimana kabarmu
Yang di kota-kota, bagaimana kabarmu
Yang di desa-desa, bagaimana kabarmu
Yang dibalik tembok, bagaimana kabarmu
Yang dikolong jembatan, bagaimana kabarmu
Yang dipasar-pasar, bagaimana kabarmu
Yang dijalan-jalan, bagaimana kabarmu
Yang tersapu badai, bagaimana kabarmu
Yang terbakar matahari, bagaimana kabarmu
Yang terbujur sakit, bagaimana kabarmu
Yang berselimut dingin, bagaimana kabarmu
Kurindukan selalu untuk dirimu
Semoga kau disana bersahaja slalu
Rencong marencong, rencong marencong


By : Band Marginal 

Lagu  ini  amat familiar di telingaku saat masih berstatus mahasiswa. meski di sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap miring kelompok punk yang juga termasuk Band Marginal yang membawakan lagu tersebut namun percayalah bahwa ada pesan moral yang mereka coba untuk ketengahkan ke masyarakat.

Saya tidak punya kapasitas untuk menceritakan tentang apa itu Punk atau bagaimana spirit band Marginal dalam bermusik namun aku hanya ingin bercerita tentang perkawanan dengan diiringi bait-bait lagu Band Marginal diatas. memang sangat dalam maknanya.

Aku adalah orang yang menjunjung tinggi perkawanan. Dalam kamusku, ketika sudah dekat dengan orang maka pantang bagiku mengkhianati relasi yang sudah terbangun meski aku sendiri mengakui bahwa aku bukanlah pribadi yang supel dalam berkawan namun tetap saja prinsip yang kupegang bahwa relasi perkawana yang terjain pantang untuk dihancurkan begitu saja kecuali ketika kawan tersebut berkhianat karena menurutku, dosa terbesar dalam sebuah perkawanan bahkan relasi sosial apapun yang terjalin adalah pengkhianatan.

Kamarkosrawamangun. 100215

February 12, 2015

Mutasi

Mendengar kata mutasi adalah hal biasa dalam sebuah dunia kerja. seperti itulah yang terjadi di kantorku sekarang. seorang teman staff yang sering menjadi tempat bertanya di mutasi ke kantor pusat. seorang lagi teman yang berasal dari daerah yang sama dan baru 2 tahun di kantor ini dimutasi menjadi kepala pemasaran cabang Papua. turut bangga dengan mutasi mereka.

turut berbahagia dengan keberhasilan kawan adalah sebuah hal yang menyenangkan. tetap saja bahwa semua prestasi berdasarkan dengan dedikasi maupun kinerja seorang karyawan dan pantas diberikan apresiasi layaknya hasil kerja mereka. mereka adalah kawan yang pernah mengisi perjalanan hidup yang aku reta. aku adalah orang yang sudah tidak terlalu sentimental ketika ada perpisahan dengan setiap orang mulai akrab di dalam hidupku karena terlalu sering aku bertemu, akrab kemudian berpisah dengan orang. satu hal yang diperlukan dalam berkawan adalah meninggalkan jejak baik tentang perkawanan. akupun selalu mewanti-wanti diriku untuk tidak meninggalkan luka sedikitpun bagi orang yang kutemui karena menyembuhkan luka hati seseorang itu adalah ilusi. aku percaya itu.

kali ini, seorang kawan yang memang 3 tahun dibawah umurku namun dalam hal pekerjaan kantor, dia lebih senior alhasil aku sering bertanya kepadanya. sudah 6 bulan kami satu kantor dengannya dan aku akan tetap menganggap orang yang sudah selama itu selalu kujumpai sebagai kawan. mungkin juga kawan ini berpikir aku lemot karena seringnya aku bertanya kepadanya namun tidak apalah, itu hanya pikiran negatifku.

hari ini, keluar SK nya untuk dimutasi ke kantor pusat. entahlah apa yang dirasakan olehnya namun dalam beberapa edisi percakapan kami, dia memang sudah berniat untuk pindah karena sudah terlalu lama di posisi yang seperti sekarang ini. dia berpikir bahwa waktunya untuk berpindah ke posisi yang lebih baik.

tak apalah. kawan yang satu ini cerdas dan tekun. dia pun tidak segan-segan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. jauh berbeda dengannya yang punya pertimbangan seribu kali ketika akan mengeluarkan ketidaksepakatanku kepada orang lain.

setidaknya kita pernah dan akan selalu berkawan.
sukses selalu

Aku akhir-akhir ini suka menulis tentang perkawanan

kantorBumidaRawamangun120215

February 11, 2015

Sebuah Kata

semua akan tiba pada akhirnya
di sebuah persimpangan jalan yang menjadi pertemuan kita
aku menunggu dengan sebuah melodi kenangan

Aku memeluk setiap kenangan yang kau hadirkan untukku
adakah engkau masih seperti gadis yang menyuruhku untuk sarapan
aku mencintai setiap hari bersamamu
adakah engkau mendinginkan makanan yang masih tersaji panas di hadapanku

(senja mulai menguning di sudut kota tua.  kau menggenggam tanganku dengan sebuah bisikan mesra. melihat setiap cahaya yang menyelimuti kemesraan di antara kita. "aku mencitaimu". begitu kata-kata yang sering kau bisikkan di telingaku)

apakah kau masih membersihkan setiap sudut kamar mandi
ataukah kau masih setia menjemputku di setiap jalan yang kusinggahi
apakah kau masih sudi mendekapku ketika aku sedih
kau peluk aku era, berjanji takkan melukai perasaanku

(malam mulai turun. memberi tanda akan kebersamaan kita sepanjang hari ini. kecupan indah selalu mengakhiri pertemuan kita. aku dan kau kemudian memeluk malam dan bersenandung dengan melodi sunyi yang tak bertepi)

apakah engkau masih akan berjanji, kebersamaan kita tidak sebatas kata-kata.
janji adalah ikrar yang takkan pernah terelakkan tentang hidup yang indah
 aku membenci rindu yang selalu datang untukmu

akupun terdiam dan berbicara dengan hati padamu
tentang cint yang terpendam begitu lama
kantorbumidarawamangun. 1102015



February 10, 2015

Terpejam

aku mendambamu seperti belalang dan kumbang yang malumalu
ah, sudahlah,
aku akan beranjak pulang
senja telah menua
waktuku sudah terkuras di tempat ini

senja menjelang pulang
100215

February 9, 2015

Sandikala

JUDUL         :SANDIKALA

PENULIS     : F. HADIJANTO

TAHUN        : 2009

PENERBIT  : AKOER



 
Buku ini sebenarnya tidak sesuai dengan ekspektasiku saat membaca penggalan kalimat di bagian belakang sampulnya. " Jika Tuhan terus menerus menunda segala kebaikan dengan dalih akan memberikan balasan yang setimpal setelah akhir dunia kelak, mengapa aku tidak menerima saja iblis yang menwarkan jawaban saat ini juga, ketika kita memang sangat membutuhkannya. mengharapkan surga juga sebuah harapan yang berlebih. berapa banyak sih orang yang mendapat karcis surga secara langsung? betapa banyak manusia yang terus menerus berbuat baik dan beramal saleh serta tak putus beribadah, tetap harus merasakan jilatan api neraka, karena sebagai manusia mereka tidak luput dari dosa dan kesalahan."  
 
Sebuah pernyataan yang luar biasa bahkan sempat terpikir bahwa novel ini akan menyamai karya Nietzhe yang menjadi simbol Atheis. Mengklaim Tuhan telah mati. itulah yang pertama kali terlintas di kepalaku saat mendapati buku ini terhampar di deretan buku yang diobral di blok M.

Buku ini memang secara gamblang dengan bahasa-bahasanya yang vulgar menabuh genderang perang untuk melawan kekuasaan Tuhan. namun satu hal yang membuatku tergelitik di sini karena klimaks dari masalah toko utama yang menjadi titik balik dia ingin melawan Tuhan sama sekali tidak begitu ironi bahkan terkesan dari masalah demi masalah yang ditemui dalam hidupnya, sangat mudah dan semua bisa teratasi. masalah yang dia anggap pelik adalah ketika suaminya sedang mengerjakan pekerjaan jalan Tol. itu yang dia anggap titik balik melawan Tuhan.

Menurutku masalah dalam novel itu terlalu picik untuk dijadikan alasan oleh tokoh utama menabuh perang melawan Tuhan.singkat cerita dari novel ini adalah tokoh yang bernama Siti Jenarwati awal mulanya sangat patuh beribadah kepada Tuhan bahkan Shalat malam tidak pernah putus dan dia berbuat kebaikan terus menerus.

Dia memiliki keluarga yang bahagia meski di dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa suaminya terlalu kaku terhadapnya bahkan dia tidak diperbolehkan untuk menentukan apa saja di dalamnya rumahnya namun meski begitu keluarganya tetap bahagia. suatu waktu, perusahaan suaminya mengalami masalah finansial namun siti Jenarawati tetap istiqomah beribadah kepada Tuhan hingga akhirnya perusahaan suaminya kembali normal.

Delik dari novel ini ketika suaminya si Fai sedang mengerjakan pekerjaan jalan Tol. suaminya yang mencoba untuk menjalankan bisnis yang jujur harus berhadapan dengan birokrasi yang korup bahkan suaminya mengalami penganiayaan yang menyebabkan dia masuk rumah sakit. meski kemudian suaminya sembuh dan kembali beraktivitas secara normal namun ternyata masalah ini yang menjadi anti klimaks dari tokoh utama Siti Jenarwati untuk meninggalkan Tuhan dan memaklumatkan perang melawan Tuhan bahkan dengan terang-terangan, siti Jenarwati mencari sosok raja Iblis untuk bersekutu melawan kekuasaan Tuhan. oh iya, sebelumnya Siti Jenarwati terlibat percintaan terlarang dengan Diani, seorang Lesbian yang jatuh cinta kepadanya.

Cerita selanjutnya novel ini terkesan hambar ketika menceritakan petualangan Siti Jenarwati untuk mencari Raja Iblis mulai dari barat Pulau jawa sampai ke bayuwangi. ceritanya bahkan mirip dengan dongeng yang mungkin tidak terlalu relevan dengan awal cerita dari novel tersebut.

Menurut saya pribadi bahwa novel ini terlalu bombastis di beberapa kalimatnya seperti yang terdapat di sampul belakang karena isinya, sekali lagi menurut saya amat terlalu sederhana. saya benar-benar terganggu dengan masalah yang menjadi klimaks seorang Siti Jenarwati memprotes keadilan Tuhan. masalah yang mungkin amat sangat sederhana jika harus membandingkan dengan kisah beberapa orang yang benar-benar telah mereduksi Tuhan dari hidup mereka.

Meski beberapa orang mengkategorikan novel ini sebagai novel spritual namun saya tidak terlalu begitu setuju. bahkan inti dari novel tersebut tidak terlihat di endingnya. Novel tersebut hanya menceritakan bahwa setelah pengembaraan Siti Jenarwati selama 7 tahun mencari raja iblis, dia kemudian kembali ke rumahnya dan hidup bersama suaminya karena semua anaknya sudah kuliah di luar negeri bahkan ada yang sudah bekerja. di akhir cerita pun, Siti jenarwati belum menyentuh mukenanya yang berarti bahwa dia masih menyimpan dendam kepada Tuhan.

Saya sebenarnya tidak mengharapkan ending dari novel tersebut supaya Siti Jenarwati kembali dekat dengan Tuhan namun setidaknya ada sebuah pesan yang di novel tersebut yang ditinggalkan untuk pembacanya sebagai inti dari novel tersebut namun benar-benar sama sekali tidak ada yang wah dan menggugah.

Novel Spritualis yang setengah-setengah.

kantorBumidaRawamangun, 100215