February 14, 2015

Kopi Hitam

Tulisan ini adalah ekspresi tentang rasa penasaran saya mengenai kopi. Entah dari mana awalnya, kopi selalu indentik dengan para filsuf, aktivis, Mahasiswa bahkan semua kalangan. Kenapa bukan teh, susu atau minuman lainnya, bahkan beberapa penulis yang bergenre kearifan hidup memberi judul buku mereka dengan mencantumkan kata kopi. Cerita segelas kopi tulisan Melanie Subono, Filosofi Kopi Oleh Dewi Lestari dan masih beberapa yang menempatkan kopi dalam tulisannya.

Sisa kopi pagi ini
Aku sebenarnya bukan seorang penikmat kopi sejati meski kuakui bahwa kedua abangku dan juga ayahku adalah penikmat kopi hitam. Aku bahkan lebih memili kopi kemasan yang diracik dengan, susu, cream atau kopi kemasan lainnya yang sebenarnya sudah menghilangkan sensasi rasa kopi itu sendiri.

Ada sebungkus kopi hitam dalam kemasan oleh-oleh windi saat dinasdi aceh. Sudah hampir beberapa bulan ini aku biarkan di kamarku. Kemarin saat semua persediaan kopi susu yang kubeli di indomaret habis, aku mencoba meracik  kopi hitam tersebut. Memang sih lebih kerasa sensasi kopi nya daripada kopi yang sudah di campur dengan susu ataupun cream.

Kopi memang menjadi minuman penuh sejarah bahkan warung di pinggir jalan sering diasosiasikan sebagai warung kopi meski terkadang manusia yang mampir sama sekali tidak memesan kopi. Yah kopi menjadi penembus batas semua strata sosial dalam masyarakat.

Ah, kopi akan selalu menjadi misteri
130215

Senyumlah

Tulisan ini sebenarnya berangkat dari kondisi kos yang sekarang saya tempati. Ada 5 kamar yang terisi semua termasuk kamarku. 2 kamar berada tepat di depan tangga naik sedangkan 3 kamar lainnya berada di dalam ruangan. Sebenarnya kos ini lebih mirip seperti rumah pribadi karena kamarnya tidak berjejaran tanpa ada sekat laiknya kos pada umumnya. Bahkan persis seperti rumah yang terbagi dalam beberapa kamar dan juga ruang tamu.

Sekilas kondisi kos saya seperti itu namun bukan itu intinya yang ingin saya utarakan di sini. Sebelum memilih kos ini, harapan saya adalah semua penghuni kos akrab satu dengan lain seperti pada umumnya kos Mahasiswa di makassar, namun harapan memang seringkali tidak sesuai dengan realita bahkan ada orang yang beranggapan bahwa hal yang paling sulit dalam hidup adalah menyinkronkan harapan dengan kenyataan dan mungkin seperti itu yang saya alami di kos ini.

Dari kelima penghuni kos ini, jangankan meluangkan waktu untuk mengobrol akrab sambil bercerita panjang lebar, saat berpapasan pun sepertinya senyum adalah hal yang terlalu mahal. Beberapa kali saya mencoba melempar senyum kepada mereka saat berpapasan namun hal yang saya dapatkan ada muka tanpa ekspresi alhasil saya tengsin sendiri.

Memang sih ada salah satu yang lumayan ramah, dia termasuk penghuni kos paling baru dan kamarnya berada di depan tangga. Dia berasal dari grobogan bahkan ketika bertemu, kami saling sapa namun yang lain benar-benar menganggap senyum sebagai barang mewah.

Namun begitulah hal yang mungkin harus saya sadari bahwa tidak semua hal yang diharapkan menjadi kenyataan. Setelah itu, saya pun seakan enggan untuk menyungging senyum ketika berpapasan dengan mereka.

Ah sudahlah, mungkin mereka kurang piknik,
Atau mungkin mereka merasa paling banyak masalah hidupnya
Ataukah mungkin juga jauh dari keluarga
Ah, sudahlah, mungkin seperti itu cara mereka merayakan hidupnya tanpa harus senyum
Mungkin juga mereka lelah

Tidur ahhhhh
Kamarkosbambukuningrawamangun
140215 08:29

February 13, 2015

Perkawanan

RENCONG MARENCONG
 
Hei bagaimana kabar kawan-kawan
Apakah baik kondisimu disana
Kami disini sedang bernyanyi kawan
Akan senandung lagu rindu tentang kamu
Yang ada di timur, bagaimana kabarmu
Yang ada di barat, bagaimana kabarmu
Yang ada di utara, bagaimana kabarmu
Yang ada di selatan, bagaimana kabarmu
Yang ada di gunung, bagaimana kabarmu
Yang di sebrang lautan, bagaimana kabarmu
Yang di kota-kota, bagaimana kabarmu
Yang di desa-desa, bagaimana kabarmu
Yang dibalik tembok, bagaimana kabarmu
Yang dikolong jembatan, bagaimana kabarmu
Yang dipasar-pasar, bagaimana kabarmu
Yang dijalan-jalan, bagaimana kabarmu
Yang tersapu badai, bagaimana kabarmu
Yang terbakar matahari, bagaimana kabarmu
Yang terbujur sakit, bagaimana kabarmu
Yang berselimut dingin, bagaimana kabarmu
Kurindukan selalu untuk dirimu
Semoga kau disana bersahaja slalu
Rencong marencong, rencong marencong


By : Band Marginal 

Lagu  ini  amat familiar di telingaku saat masih berstatus mahasiswa. meski di sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap miring kelompok punk yang juga termasuk Band Marginal yang membawakan lagu tersebut namun percayalah bahwa ada pesan moral yang mereka coba untuk ketengahkan ke masyarakat.

Saya tidak punya kapasitas untuk menceritakan tentang apa itu Punk atau bagaimana spirit band Marginal dalam bermusik namun aku hanya ingin bercerita tentang perkawanan dengan diiringi bait-bait lagu Band Marginal diatas. memang sangat dalam maknanya.

Aku adalah orang yang menjunjung tinggi perkawanan. Dalam kamusku, ketika sudah dekat dengan orang maka pantang bagiku mengkhianati relasi yang sudah terbangun meski aku sendiri mengakui bahwa aku bukanlah pribadi yang supel dalam berkawan namun tetap saja prinsip yang kupegang bahwa relasi perkawana yang terjain pantang untuk dihancurkan begitu saja kecuali ketika kawan tersebut berkhianat karena menurutku, dosa terbesar dalam sebuah perkawanan bahkan relasi sosial apapun yang terjalin adalah pengkhianatan.

Kamarkosrawamangun. 100215

February 12, 2015

Mutasi

Mendengar kata mutasi adalah hal biasa dalam sebuah dunia kerja. seperti itulah yang terjadi di kantorku sekarang. seorang teman staff yang sering menjadi tempat bertanya di mutasi ke kantor pusat. seorang lagi teman yang berasal dari daerah yang sama dan baru 2 tahun di kantor ini dimutasi menjadi kepala pemasaran cabang Papua. turut bangga dengan mutasi mereka.

turut berbahagia dengan keberhasilan kawan adalah sebuah hal yang menyenangkan. tetap saja bahwa semua prestasi berdasarkan dengan dedikasi maupun kinerja seorang karyawan dan pantas diberikan apresiasi layaknya hasil kerja mereka. mereka adalah kawan yang pernah mengisi perjalanan hidup yang aku reta. aku adalah orang yang sudah tidak terlalu sentimental ketika ada perpisahan dengan setiap orang mulai akrab di dalam hidupku karena terlalu sering aku bertemu, akrab kemudian berpisah dengan orang. satu hal yang diperlukan dalam berkawan adalah meninggalkan jejak baik tentang perkawanan. akupun selalu mewanti-wanti diriku untuk tidak meninggalkan luka sedikitpun bagi orang yang kutemui karena menyembuhkan luka hati seseorang itu adalah ilusi. aku percaya itu.

kali ini, seorang kawan yang memang 3 tahun dibawah umurku namun dalam hal pekerjaan kantor, dia lebih senior alhasil aku sering bertanya kepadanya. sudah 6 bulan kami satu kantor dengannya dan aku akan tetap menganggap orang yang sudah selama itu selalu kujumpai sebagai kawan. mungkin juga kawan ini berpikir aku lemot karena seringnya aku bertanya kepadanya namun tidak apalah, itu hanya pikiran negatifku.

hari ini, keluar SK nya untuk dimutasi ke kantor pusat. entahlah apa yang dirasakan olehnya namun dalam beberapa edisi percakapan kami, dia memang sudah berniat untuk pindah karena sudah terlalu lama di posisi yang seperti sekarang ini. dia berpikir bahwa waktunya untuk berpindah ke posisi yang lebih baik.

tak apalah. kawan yang satu ini cerdas dan tekun. dia pun tidak segan-segan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. jauh berbeda dengannya yang punya pertimbangan seribu kali ketika akan mengeluarkan ketidaksepakatanku kepada orang lain.

setidaknya kita pernah dan akan selalu berkawan.
sukses selalu

Aku akhir-akhir ini suka menulis tentang perkawanan

kantorBumidaRawamangun120215

February 11, 2015

Sebuah Kata

semua akan tiba pada akhirnya
di sebuah persimpangan jalan yang menjadi pertemuan kita
aku menunggu dengan sebuah melodi kenangan

Aku memeluk setiap kenangan yang kau hadirkan untukku
adakah engkau masih seperti gadis yang menyuruhku untuk sarapan
aku mencintai setiap hari bersamamu
adakah engkau mendinginkan makanan yang masih tersaji panas di hadapanku

(senja mulai menguning di sudut kota tua.  kau menggenggam tanganku dengan sebuah bisikan mesra. melihat setiap cahaya yang menyelimuti kemesraan di antara kita. "aku mencitaimu". begitu kata-kata yang sering kau bisikkan di telingaku)

apakah kau masih membersihkan setiap sudut kamar mandi
ataukah kau masih setia menjemputku di setiap jalan yang kusinggahi
apakah kau masih sudi mendekapku ketika aku sedih
kau peluk aku era, berjanji takkan melukai perasaanku

(malam mulai turun. memberi tanda akan kebersamaan kita sepanjang hari ini. kecupan indah selalu mengakhiri pertemuan kita. aku dan kau kemudian memeluk malam dan bersenandung dengan melodi sunyi yang tak bertepi)

apakah engkau masih akan berjanji, kebersamaan kita tidak sebatas kata-kata.
janji adalah ikrar yang takkan pernah terelakkan tentang hidup yang indah
 aku membenci rindu yang selalu datang untukmu

akupun terdiam dan berbicara dengan hati padamu
tentang cint yang terpendam begitu lama
kantorbumidarawamangun. 1102015



February 10, 2015

Terpejam

aku mendambamu seperti belalang dan kumbang yang malumalu
ah, sudahlah,
aku akan beranjak pulang
senja telah menua
waktuku sudah terkuras di tempat ini

senja menjelang pulang
100215

February 9, 2015

Sandikala

JUDUL         :SANDIKALA

PENULIS     : F. HADIJANTO

TAHUN        : 2009

PENERBIT  : AKOER



 
Buku ini sebenarnya tidak sesuai dengan ekspektasiku saat membaca penggalan kalimat di bagian belakang sampulnya. " Jika Tuhan terus menerus menunda segala kebaikan dengan dalih akan memberikan balasan yang setimpal setelah akhir dunia kelak, mengapa aku tidak menerima saja iblis yang menwarkan jawaban saat ini juga, ketika kita memang sangat membutuhkannya. mengharapkan surga juga sebuah harapan yang berlebih. berapa banyak sih orang yang mendapat karcis surga secara langsung? betapa banyak manusia yang terus menerus berbuat baik dan beramal saleh serta tak putus beribadah, tetap harus merasakan jilatan api neraka, karena sebagai manusia mereka tidak luput dari dosa dan kesalahan."  
 
Sebuah pernyataan yang luar biasa bahkan sempat terpikir bahwa novel ini akan menyamai karya Nietzhe yang menjadi simbol Atheis. Mengklaim Tuhan telah mati. itulah yang pertama kali terlintas di kepalaku saat mendapati buku ini terhampar di deretan buku yang diobral di blok M.

Buku ini memang secara gamblang dengan bahasa-bahasanya yang vulgar menabuh genderang perang untuk melawan kekuasaan Tuhan. namun satu hal yang membuatku tergelitik di sini karena klimaks dari masalah toko utama yang menjadi titik balik dia ingin melawan Tuhan sama sekali tidak begitu ironi bahkan terkesan dari masalah demi masalah yang ditemui dalam hidupnya, sangat mudah dan semua bisa teratasi. masalah yang dia anggap pelik adalah ketika suaminya sedang mengerjakan pekerjaan jalan Tol. itu yang dia anggap titik balik melawan Tuhan.

Menurutku masalah dalam novel itu terlalu picik untuk dijadikan alasan oleh tokoh utama menabuh perang melawan Tuhan.singkat cerita dari novel ini adalah tokoh yang bernama Siti Jenarwati awal mulanya sangat patuh beribadah kepada Tuhan bahkan Shalat malam tidak pernah putus dan dia berbuat kebaikan terus menerus.

Dia memiliki keluarga yang bahagia meski di dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa suaminya terlalu kaku terhadapnya bahkan dia tidak diperbolehkan untuk menentukan apa saja di dalamnya rumahnya namun meski begitu keluarganya tetap bahagia. suatu waktu, perusahaan suaminya mengalami masalah finansial namun siti Jenarawati tetap istiqomah beribadah kepada Tuhan hingga akhirnya perusahaan suaminya kembali normal.

Delik dari novel ini ketika suaminya si Fai sedang mengerjakan pekerjaan jalan Tol. suaminya yang mencoba untuk menjalankan bisnis yang jujur harus berhadapan dengan birokrasi yang korup bahkan suaminya mengalami penganiayaan yang menyebabkan dia masuk rumah sakit. meski kemudian suaminya sembuh dan kembali beraktivitas secara normal namun ternyata masalah ini yang menjadi anti klimaks dari tokoh utama Siti Jenarwati untuk meninggalkan Tuhan dan memaklumatkan perang melawan Tuhan bahkan dengan terang-terangan, siti Jenarwati mencari sosok raja Iblis untuk bersekutu melawan kekuasaan Tuhan. oh iya, sebelumnya Siti Jenarwati terlibat percintaan terlarang dengan Diani, seorang Lesbian yang jatuh cinta kepadanya.

Cerita selanjutnya novel ini terkesan hambar ketika menceritakan petualangan Siti Jenarwati untuk mencari Raja Iblis mulai dari barat Pulau jawa sampai ke bayuwangi. ceritanya bahkan mirip dengan dongeng yang mungkin tidak terlalu relevan dengan awal cerita dari novel tersebut.

Menurut saya pribadi bahwa novel ini terlalu bombastis di beberapa kalimatnya seperti yang terdapat di sampul belakang karena isinya, sekali lagi menurut saya amat terlalu sederhana. saya benar-benar terganggu dengan masalah yang menjadi klimaks seorang Siti Jenarwati memprotes keadilan Tuhan. masalah yang mungkin amat sangat sederhana jika harus membandingkan dengan kisah beberapa orang yang benar-benar telah mereduksi Tuhan dari hidup mereka.

Meski beberapa orang mengkategorikan novel ini sebagai novel spritual namun saya tidak terlalu begitu setuju. bahkan inti dari novel tersebut tidak terlihat di endingnya. Novel tersebut hanya menceritakan bahwa setelah pengembaraan Siti Jenarwati selama 7 tahun mencari raja iblis, dia kemudian kembali ke rumahnya dan hidup bersama suaminya karena semua anaknya sudah kuliah di luar negeri bahkan ada yang sudah bekerja. di akhir cerita pun, Siti jenarwati belum menyentuh mukenanya yang berarti bahwa dia masih menyimpan dendam kepada Tuhan.

Saya sebenarnya tidak mengharapkan ending dari novel tersebut supaya Siti Jenarwati kembali dekat dengan Tuhan namun setidaknya ada sebuah pesan yang di novel tersebut yang ditinggalkan untuk pembacanya sebagai inti dari novel tersebut namun benar-benar sama sekali tidak ada yang wah dan menggugah.

Novel Spritualis yang setengah-setengah.

kantorBumidaRawamangun, 100215

February 4, 2015

Berhenti Melepas Penat

Didalamnya ada bayangbayang.
termangu nelangsa
menerawang dalam diam
adakah semua akan berjalan seperti sediakala ataukah bahkan sesuatu akan menjadi sebab semua musnah begitu saja

serupa labalaba yang menjaring waktu
tidak pernah tersisa ruang untuk semua
aku pun tidak
hanya menahan derita demi derita yang ironi. mengulum senyum dalam pedih
aku tahu semua akan berakhir dengan ceritanya sendiri
aku pun tidak berharap seperti merpati yang mencapai angkasa
pada waktunya nanti
aku akan menemukan semua jawaban yang pernah kutulis satu persatu

alangkah buruk setiap langkah yang sudah kususun secara rapi
laksasa bunga yang kemudian layu sebelum menghiasi indahnya taman

ah, penat menyerangku
aku tak bisa memikirkan apapa

040215

February 3, 2015

Berdua Saja

Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata
Ketika kita berdua
Hanya aku yang bisa bertanya
Mungkinkah kau tahu jawabnya
Malam jadi saksinya
Kita berdua diantara kata
Yang tak terucap
Berharap waktu membawa keberanian
Untuk datang membawa jawaban
Mungkinkah kita ada kesempatan
Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

Payung teduh
 SONG & LYRIC : IS

Mungkin sebagian besar lagu dari band payung teduh cocok di telingaku yang memang akrab dengan lagu yang mendayu-dayu. salah satu lagu diatas adalah satu diantara sekian lagu Payung Teduh yang selalu kudengarkan saat akan tidur. Entahlah namun lirik yang sederhana dengan bahasa puitis benar-benar membuatku hanyut dalam perasaan mendalam tentang apa saja.

Aku pernah membaca tulisan seorang kawan tentang lirik lagu Payung teduh dan aku memilih untuk bersepakat dengan pendapatnya bahwa Payung teduh mampu mengkonversikan semua perasaan entah itu cinta, benci bahkan rindu dalam bahasa yang sederhana namun tidak lebay seperti lirik lagu band yang sedang menjamur di indonesia.

Awal perkenalanku dengan Band yang keren ini adalah saat aku di Yogyakarta. Aku lupa persis tahunnya, kalau tidak salah ingat akhir 2012. Saat itu band ini tampil di kafe semesta. Tiga kawan dan aku segera meluncur ke sana. sesampai di sana, lokasi tempat manggung sudah sesak dengan pengunjung sehingga kami harus berdesakan dan memilih di pojokan. Sebelum tampil, ada sepatah kata dari personil payung teduh tentang kematian promotor mereka yang bunuh diri sehari sebelumnya dengan cara menabrakkan diri ke kereta karena terlilit utang.

Saat lagu pertama dinyanyikan, aku sudah jatuh hati pada lirik-liriknya yang sederhana dan yang membuatku terkesima adalah ternyata semua pengunjung ikut bernyanyi dan sudah hapal lagu-lagunya. Ternyata aku yang terlambat mengenal band yang keren ini.

Sensasi lagu-lagu payung terduh memang sangat terasa saat didengarkan di malam hari saat turun hujan sambil ditemani segelas kopi. Ah, payung teduh memang keren.

040215

Merajut Harkat

BUKU "MERAJUT HARKAT"

Merajut Harkat Putu Oka Sukanta 

Penerbit : PT. Elex Media Komputindo 

Tebal  : 548 halaman 

ISBN  : 978-979-27-8572-2 


 
 
 
 
 
Sebenarnya novel ini sudah sebulan yang lalu kubaca. mungkin saja ada beberapa segmen yang sudah terlupa namun karena kerennya novel ini maka aku tidak akan melewatkan untuk menuliskan lagi. Banyak hal yang mewajibkanku untuk menulis pesan yang kudapat dari novel ini.

Sebelumnya aku ingin bercerita jalan takdir sehingga buku ini sampai di tanganku. Liburan natal tahun kemarin, aku dan windi pulang ke madiun. Sekedar untuk melepas penat dari keruwetan denyut kehidupan di ibukota. Dua hari disana, kami jalan-jalan ke Carrefour madiun yang terletak di samping mall Sun City. Saat windi asyik berbelanja bersama Ibunya, aku memilih untuk duduk di bangku depan kasir. Bengong tak tahu harus ngapain, aku melihat disisi lain, novel-novel diobral. iseng aku memilah, tiba-tiba saja mataku melihat novel tersebut. Aku bahkan tidak tahu isinya seperti apa. Hal yang terlintas dipikiranku saat itu adalah lumayan novel tersebut buat koleksi karena lumayan tebal dan harganya cuma 30 ribu. Tanpa babibu, aku bayar novel tersebut. sepulang ke jakarta, hampir seminggu novel tersebut kuanggurin karena kesibukanku kemudian suatu malam aku memulai membacanya dan ternyata tentang sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata tahanan Politik semasa Orde Baru.

Sejarah perpolitikan Indonesia di saat Orde Baru meninggalkan begitu banyak cerita sedih tentang kemanusian. bermula dari cerita Gerakan 30 S 1965. Titik balik perpolitikan terjadi pada saat itu. Pihak Orde baru yang tampil layaknya Pahlawan dan menjadikan komunis sebagai pesakitan bahkan terhdapa orang yang baru diindikasi sebagai pengikut komunis harus membayar dengan nyawa. Sejarah memang selalu menemukan kebenarannya dari siapa saja yang berkuasa.

Novel ini mengangkat cerita tentang tokoh Hawa. seorang guru yang diindikasikan ikut paham Komunis. Stigma tersebut membuatnya harus berada dalam kecemasan. bersama kekasihnya Nio, mereka menjalani hari-hari dalam kekalutan hingga pada akhirnya, hawa ditangkap dan dipenjara.

Konflik di novel ini bermula ketika Hawa masuk penjara hanya karena tuduhan bahwa dia berafiliasi dengan paham komunis. setelah di penjara tanpa tuduhan dan tanpa proses hukum yang jelas, Hawa melewati masa-masa di penjara dengan amat sangat menyedihkan bahkan jauh dari penjara yang memanusiakan. Mereka harus berada di dalam penjara seperti barang yang ditumpuk bahkan perlakuan yang tidak manusiawi sering diterima dari sipir ataupun tentara yang berjaga.

Konflik yang lain adalah tentang penghianatan diantara mereka.penjara TAPOL pada masa Orde Baru benar-benar menguji kesetiakawanan seorang tahanan dan juga bagaimana mereka tetap konsisten memeluk prinsip yang mereka yakini tanpa harus mengeliminasi kepentingan perut. Hawa benar-benar menjadi gambaran tahanan yang mampu menjaga semua itu. ketika Tahanan lain enggan membagi makanan yang dikirimkan oleh keluarganya karena takut kelaparan, Hawa malah sebaliknya, ketika ada kiriman makanan dari sang pacar (Nio), maka Hawa tidak sungkan untuk membagi ke semua Tahanan. Hawa benar-benar mampu menjaga kepala dari godaan perut yang lapar. dia mampu tetap menempatkan kepalanya di atas perutnya.

Pembelajaran tetap kesetiaan kawan benar-benar teruji di masa seperti itu. Aku bahkan membayangkan begitu dangkalnya arti seorang kawan di masa seperti ini. Bagaimana seorang Abraham Samad yang malah dijerumuskan oleh kawannya sendiri si Zainal Tahir tentang pengakuan foto AS yang sedang memeluk seorang wanita di hotel. entah apa sekarang makna seorang kawan di mata mereka, bahkan dalam ajaran agama yang sampai saat ini kuyakini bahwa kita diwajibkan untuk menutupi aib seorang saudara.

Potret tentang perkawanan pun sedang disajikan dihadapanku. Tentang kawan di kantorku yang saling mencurigai. Ah entahlah, kita memang bukan orang-orang hebat yang mampu menjaga martabat kawan bahkan kita memilih untuk menjadi kawan yang munafik

09-02-15

Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan


Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan
Judul : Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan
Pengarang : Ernest JK Wen              





 
Sudah beberapa hari ini aku kembali mencoba untuk menggali minatku membaca dengan membeli novel-novel ringan. Beberapa genre novel 2 bulan terakhir telah kulahap habis. mulai dari novel percintaan yang mainstream sampai pada novel politik yang diangkat dari kisah nyata penulisnya.


Novel kali ini yang ingin kuceritakan adalah tentang novel percintaan remaja yang tidak lazim. Dua remaja perempuan tanggung yang saling mencintai dan memadu kasih. novel tersebut berjudul Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan Karya ernest JK Wen. Sekilas membaca novel tersebut benar-benar mengaduk emosi kita, bagaimana tidak, seorang ika yang berasal dari keluarga tidak mampu bertekad untuk tetap melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi meski kerapkali keinginannya tersebut ditentang oleh kedua orang tuanya karena masalah ekonomi, alhasil Ika mendapat kesempatan masuk di sekolah yang mengharuskan tinggal di Asrama dan mendapatkan beasiswa.

Konflik dan klimaks dari cerita di novel tersebut dimulai saat Ika tinggal di Asrama sekolahnya. Dia kemudian sekamar dengan Anggie yang notabene berasal dari keluarga terpandang bahkan keponakan dari kepala yayasan. Tidak seperti cerita pada umumnya dimana terkadang tokoh yang kaya menjadi sombong, namun sebaliknya, Anggie menjadi pribadi yang sangat baik terhadap Ika meskipun status sosial mereka bak bumi dan langit. Namun keakraban mereka itu pula lah yang kemudian menjadi bumerang terhadap hubungan mereka.

Entah karena pengalaman masa lalu kedua perempuan tanggung tersebut lama kelamaan mereka terjerat cinta sesama jenis (Lesbian). Anggie yang amat sangat membenci ayahnya karena bercerai dengan ibunya sedangkan Ika yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya semakin membuat mereka melepaskan segala rasa bersama.

Prestasi Ika yang memang mempunyai otak yang encer semakin mentereng ketika dia mewakili sekolahnya juara olimpiade. Malang tak dapat dicegah dan hubungan yang ditutup terus menerus akan terbuka dengan sendirinya. Hubungan Anggie dan Ika sebagai sepasang kekasih akhirnya terbongkar pula dan seluruh pihak yayasan mengetahuinya. akhirnya ketua yayasan yang juga adalah tante Anggie memutuskan untuk memindahkan Ika dari sekolah tersebut.

Konflik di novel tersebut tidak berhenti setelah Ika dikeluarkan dari sekolah bahkan semua seakan baru dimulai. Kedua remaja tersebut akhirnya tidak pernah lagi ketemu sampai umur 21 tahun. Ika kuliah di Bandung setelah selesai sekolah dan Anggie ikut ibunya ke singapura dan kuliah di sana.

Sebelumnya Lanny (Ibu Anggie) sudah mengetahui bahwa Anggie jatuh ke dalam kesalahan yang sama yang pernah dilaluinya pada saat gadis yaitu jatuh cinta pada sesama jenis. Lanny sama sekali tidak pernah marah karena pernah merasakan hal yang sama. Lanny hanya berharap bahwa Anggie tidak perlu untuk bertemu Ika sebelum umr 21 tahun. Dalam hal ini bahwa Lanny masih mempunyai tanggung jawab sebelum umur tersebut dan selalu berharap Anggie kembali melupakan Ika namun pada dasarnya saat umur Anggie sudah 21 tahun maka dia akan memberikan kebebasan apakah Anggie tetap akan mengikuti kata hatinya mencintai Ika dengan menabrak norma yang ajeg ataukah berpikir ulang tentang keputusan tersebut.

Pada endingnya, Anggie tetap melanjutkan hubungan dengan Ika setelah mereka berumur 21 tahun dan di kata-kata novel tersebut bahwa Anggie merengkuh kebahagiannya meskipun harus melawan norma yang berlaku.

Yah, begitulah sebuah novel ditulis dan diceritakan. aku bahkan harus menolak kesimpulan dari novel tersebut karena amat sangat bebas nilai. hubungan sesama jenis tetaplah sebuah hal yang keliru meski atas nama kebahagiaan. hubungan tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa. aku masih percaya bahwa seorang  mencintai sesama jenis adalah sebuah penyakit yang amat bisa disembuhkan, bukan naluriah, sekali lagi bukan naluriah.

Rawamangun. 030215

Kita Memilih Jalan

Aku tibatiba saja menulis tentang kawan yang mungkin kuanggap dekat saat masih menjadi remaja tanggung penuh dengan hal-hal yang ingin mencoba segalanya. Aku rasa titik tolaknya sampai pada hari ini ketika kami memilih jalan masing-masing yang berdasarkan pada pertimbangan yang sudah amat sangat rasional.

Kita sedang memilih jalan masing-masing kawan, iya kan. Masa lalu hanyalah euforia keremajaan kita yang telah tertinggal menjadi kenangan. sebuah masa yang mungkin pada saat itu tidak ada yang terpikir tentang masa yang akan kita lalui sekarang. kebersamaan yang dijalani dengan keceriaan tanpa harus berpikir hidup esok hari seperti apa dan akhirnya waktu jualah yang membawa kita ke masa sekarang yang mana pada masa lalu kita anggap sebagai masa depan.

Kita sedang memilih jalan kan kawan. Engkau mungkin memilih jalan yang masih kau anggap ideal seperti perlawanan kita masa lalu tentang apa saja yang kita anggap salah dan engkau sekarang masih merintis tentang jalan ideal itu.

Aku memilih jalan lain kawan. Menjauh dari kampung halaman dan membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja. pernah kita bertemu di persimpangan jalan jauh dari kota kita namun aku tahu itu sementara kawan. Kita hanya bernostalgia tentang masa lalu sembari tetap menyambung silaturrahim namun sejatinya kita akan tetap menjalani kembali jalan yang telah kita pilih masing-masing.

Engkau masih tetap di kota dulu kawan. merintis sebuah idealisme hidup yang dulu sering kita konsepkan dan aku tahu engkau kuat akan menjalani itu karena kutahu banyak hal yang telah engkau dapat dari hidup. Kepedulianmu terhadap sesama memang membuktikan bahwa engkau tidak akan membiarkan seseorang tersakiti oleh sistem yang kita anggap sebagai musuh bersama (itu dulu kawan).

Aku memilih jalan menyingkir dari bayang-bayang masa lalu. mencoba tegak dengan jalan seperti yang sedang aku pilih dan entah sampai kapan aku akan bertahan dengan kehidupanku. Aku hanya ingin mengumpulkan semua hikmah kehidupan yang telah aku temui di sepanjang setapak yang aku jalani. Mungkin suatu saat nanti kita kembali akan bersua dan menghabiskan waktu kita bercerita panjang tentang kehidupan masing-masing di puncak gunung.

Kita memilih jalan masing-masing kan kawan. aku selalu merindukan percakapan kita tentang idealisme hidup yang masih tersisa di dalam dadaku.

Ingatkah dulu saat kita menertawai semua pegawai kantoran yang harus berkejaran dengan waktu berangkat saat matahari belum terbit dan pulang saat matahari sudah berlalu. Kita menertawakan mereka dengan cara kita. Saat mereka berangkat, ktia memuaskan diri dengan tidur sampai siang. Itulah cara kita menertawakan mereka yang memburu waktu.

Kita sedang memilih jalan kawan. aku terjebak  di rutinitas yang dulu kita anggap sebagai hidup yang membosankan. Tapi tak apalah kawan. Hidup memang sering berubah haluan karena setiap masa adalah pergantian paradigma dan mungkin saja karena sesuatu hal yang dulunya kita anggap sebagai sebuah ketidakwajaran akan kita jalani sendiri.

Kita sedang memilih jalan sendiri kawan

KamarKosRawamangun.030215


February 2, 2015

1 Februari 2015

Mungkin pilihannya adalah salah. atau mungkin memang setiap hal punya akibat yang mengikuti
aku sebenarnya bersyukur bahkan lebih dari itu
alam selalu saja memberikan pelajaran yang bermakna
entahlah
namun seringkali kumengingkarinya

kemarin
kalaupun disatu hal aku berontak
dan ingin melampiaskan semua amarah
namun satu hal yang aku yakini bahwa itu adalah akibat dari perbuatan yang dulu kuperbuat.
alam tidak pernah salah, semesta menyayangi makhluknya
aku belajar bahwa semua akan kembali ke dalam diri

ingin kumeronta
ingin kehancurkan semua yang ada dalam setiap langkah yang salah
namun siapa sebenarnya yang ingin kumaki, orang lainkah
atau bahkan muka ku sendiri

naif memang

aku menjadi pecundang yang tak berarti
namun aku tidak akan menghentikan langkahku untuk selalu belajar

kantorBumidaRawamangun. 020215