JUDUL :SANDIKALA
PENULIS : F. HADIJANTO
TAHUN : 2009
PENERBIT : AKOER
Buku ini sebenarnya tidak sesuai dengan ekspektasiku saat membaca penggalan kalimat di bagian belakang sampulnya. " Jika Tuhan terus menerus menunda segala kebaikan dengan dalih akan memberikan balasan yang setimpal setelah akhir dunia kelak, mengapa aku tidak menerima saja iblis yang menwarkan jawaban saat ini juga, ketika kita memang sangat membutuhkannya. mengharapkan surga juga sebuah harapan yang berlebih. berapa banyak sih orang yang mendapat karcis surga secara langsung? betapa banyak manusia yang terus menerus berbuat baik dan beramal saleh serta tak putus beribadah, tetap harus merasakan jilatan api neraka, karena sebagai manusia mereka tidak luput dari dosa dan kesalahan."
Sebuah pernyataan yang luar biasa bahkan sempat terpikir bahwa novel ini akan menyamai karya Nietzhe yang menjadi simbol Atheis. Mengklaim Tuhan telah mati. itulah yang pertama kali terlintas di kepalaku saat mendapati buku ini terhampar di deretan buku yang diobral di blok M.
Buku ini memang secara gamblang dengan bahasa-bahasanya yang vulgar menabuh genderang perang untuk melawan kekuasaan Tuhan. namun satu hal yang membuatku tergelitik di sini karena klimaks dari masalah toko utama yang menjadi titik balik dia ingin melawan Tuhan sama sekali tidak begitu ironi bahkan terkesan dari masalah demi masalah yang ditemui dalam hidupnya, sangat mudah dan semua bisa teratasi. masalah yang dia anggap pelik adalah ketika suaminya sedang mengerjakan pekerjaan jalan Tol. itu yang dia anggap titik balik melawan Tuhan.
Menurutku masalah dalam novel itu terlalu picik untuk dijadikan alasan oleh tokoh utama menabuh perang melawan Tuhan.singkat cerita dari novel ini adalah tokoh yang bernama Siti Jenarwati awal mulanya sangat patuh beribadah kepada Tuhan bahkan Shalat malam tidak pernah putus dan dia berbuat kebaikan terus menerus.
Dia memiliki keluarga yang bahagia meski di dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa suaminya terlalu kaku terhadapnya bahkan dia tidak diperbolehkan untuk menentukan apa saja di dalamnya rumahnya namun meski begitu keluarganya tetap bahagia. suatu waktu, perusahaan suaminya mengalami masalah finansial namun siti Jenarawati tetap istiqomah beribadah kepada Tuhan hingga akhirnya perusahaan suaminya kembali normal.
Delik dari novel ini ketika suaminya si Fai sedang mengerjakan pekerjaan jalan Tol. suaminya yang mencoba untuk menjalankan bisnis yang jujur harus berhadapan dengan birokrasi yang korup bahkan suaminya mengalami penganiayaan yang menyebabkan dia masuk rumah sakit. meski kemudian suaminya sembuh dan kembali beraktivitas secara normal namun ternyata masalah ini yang menjadi anti klimaks dari tokoh utama Siti Jenarwati untuk meninggalkan Tuhan dan memaklumatkan perang melawan Tuhan bahkan dengan terang-terangan, siti Jenarwati mencari sosok raja Iblis untuk bersekutu melawan kekuasaan Tuhan. oh iya, sebelumnya Siti Jenarwati terlibat percintaan terlarang dengan Diani, seorang Lesbian yang jatuh cinta kepadanya.
Cerita selanjutnya novel ini terkesan hambar ketika menceritakan petualangan Siti Jenarwati untuk mencari Raja Iblis mulai dari barat Pulau jawa sampai ke bayuwangi. ceritanya bahkan mirip dengan dongeng yang mungkin tidak terlalu relevan dengan awal cerita dari novel tersebut.
Menurut saya pribadi bahwa novel ini terlalu bombastis di beberapa kalimatnya seperti yang terdapat di sampul belakang karena isinya, sekali lagi menurut saya amat terlalu sederhana. saya benar-benar terganggu dengan masalah yang menjadi klimaks seorang Siti Jenarwati memprotes keadilan Tuhan. masalah yang mungkin amat sangat sederhana jika harus membandingkan dengan kisah beberapa orang yang benar-benar telah mereduksi Tuhan dari hidup mereka.
Meski beberapa orang mengkategorikan novel ini sebagai novel spritual namun saya tidak terlalu begitu setuju. bahkan inti dari novel tersebut tidak terlihat di endingnya. Novel tersebut hanya menceritakan bahwa setelah pengembaraan Siti Jenarwati selama 7 tahun mencari raja iblis, dia kemudian kembali ke rumahnya dan hidup bersama suaminya karena semua anaknya sudah kuliah di luar negeri bahkan ada yang sudah bekerja. di akhir cerita pun, Siti jenarwati belum menyentuh mukenanya yang berarti bahwa dia masih menyimpan dendam kepada Tuhan.
Saya sebenarnya tidak mengharapkan ending dari novel tersebut supaya Siti Jenarwati kembali dekat dengan Tuhan namun setidaknya ada sebuah pesan yang di novel tersebut yang ditinggalkan untuk pembacanya sebagai inti dari novel tersebut namun benar-benar sama sekali tidak ada yang wah dan menggugah.
Novel Spritualis yang setengah-setengah.
kantorBumidaRawamangun, 100215