January 22, 2015

Rasa yang Tertinggal

Ya Allah, semoga aku tidak berada di pusaran orang yang di depan mereka saling bercanda namun di belakang kemudian harus saling menjatuhkan.

Aku tahu disini sudah mulai tidak sehat, setiap dari mereka merasa benar dan saat berhadapan mereka seperti sangat amat akrab namun tidak seperti adanya.

Kuatkan aku untuk tidak berada di dalam arus yang menenggelamkan ini. biarkanlah semua berjalan seperti apa adanya namun semoga saja aku tidak terjebak di dalamnya

Teringat sebuah candaan dosenku bahwa tidak baik berteman dengan orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain.
 
CONTINUED
2201015

January 21, 2015

Ibu yang Berceramah

Tuhan mungkin saja mengarahkanku ke tempat ini untuk bekerja supaya aku belajar banyak hal. Mengendalikan diri dengan semua kondisi yang ada. aku yakin itu. Perjalananku di dunia kerja memang penuh dengan lika-liku dan sejak aku mengamini semua yang kujalani, aku berusaha menemukan satu titik temu bahwa semua ini hanyalah untuk mendewasakanku.

Pertama kali bekerja sebagai DDC GP. Aku dituntut untuk mengendalikan ego. Bagaimana tidak, sebagai lulusan sarjana, aku harus berdiri di pinggir jalan dan berdiri mencari nasabah meski GP bertujuan baik namun tetap saja pandangan orang tentang mencari nasabah adalah hal yang tidak lazim.

Kemudian bekerja sebagai marketing Erlangga membuatku harus menabrak semua aturan yang kubuat dalam hidupku. Mencari pelanggan dengan berbagai macam cara bahkan cara yang tidak dibenarkan dengan nalarku. Aku sudah sering menyogok dan sudah sering mengacuhkan nuraniku saat harus memberikan grasi kepada guru-guru hanya untuk mencapai target jualan.

Pekerjaan yang kulalui sekarang memang sedikit lebih soft. bekerja sebagai staff namun aku harus sadari bahwa bidang pekerjaanku sekarang bergerak di jasa yang sebagian orang masih menganggapnya syubhat. Aku pun masih ragu meski sekarang aku bukan marketing namun tetap saja aliran bisnis ini berasal dari kapitalisasi modal.

Tadi ada momen lucu, bahkan lucu sekali menurutku meski sedikit miris dan aku pun harus diam seribu bahasa menghadapi nasabah tersebut. Sampai akhirnya aku diam seribu bahasa karena ibu itu nampaknya hanya ingin mengeluarkan uneg-unegnya. hingga diakhir pembicaraan, aku tersenyum dan mengatakan semoga ibu sehat dan rejeki lancar.
ibu itu mungkin sedang kesal. ah, sudahlah.

Kantorrawamangun. 210115

January 20, 2015

Keluarga dan Rumah

Untuk seorang pejalan pulang. meninggalkan rumah dalam keadaan hening. segalanya memang nampak menyenangkan namun percayalah bahwa ada masa dimana rumah menjadi istana yang tak tertandingi.

Tidak ada salah memang untuk berjalan jauh. langkah yang gontai tak boleh surut dan bahkan untuk seorang laki-laki di keluargaku, harus mencoba untuk merantau dan menguji dirinya sebagai lelaki meski sekali lagi aku ingatkan bahwa setegar apapun dan sekuat apapun jiwa lelaki, ada masa dimana dia menoleh ke belakang dan merindukan istana kecilnya.

Untuk yang mungkin saja mencoba untuk melupakan masa kecilnya atau pun bahkan berusaha untuk menghapus memori tentang rumah tempat dia tumbuh, yakinlah bahwa mereka telah melakukan hal yang siasia karena rumah tetap melekat dalam sanubari setiap manusia. Rumah menjadi saksi bisu ketika aku mulai tumbuh dan menjadi besar.

Boleh saja bangga bertemu banyak orang, berkawan dengan siapa saja bahkan dengan para manusia yang ditemui di setiap jalan yang ditempuh namun ada satu falsafah yang tidak pernah luntur di kepalaku bahwa " sejauh apapun kakimu melangkah di bumi Tuhan, maka keluarga adalah tempat sebaik-baik kembali untuk bersandar ketika merasa letih."

Dia saat semua kawan yang engkau kenal di dalam perjalananmu menyanjungmu, keluarga terkadang hanya mendoakan yang terbaik untuk dan ketika engkau terjatuh dan tidak satupun temanmu yang menolong maka keluarga akan selalu dengan tangan terbuka memberikan bantuan apapun.

Keluarga layaknya mereka yang dilupakan saat senang dan menjadi sandaran ketika susah.

Ingatlah suatu hal bahwa rumah dan keluargamu jauh di pelosok sana adalah harta yang tak bernilai. Mereka adalah berlian yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan apapun.

keluarga adalah basis hidup seseorang. dia selalu ada untuk setiap hal yang menjadi keluhan maupun kesenangan.
 
 
200115
kantorbumidarawamangun

January 19, 2015

Sebuah Desa

Mengingat kampung dikala sendiri saat jauh di perantauan adalah hal yang lumrah. Dalam keheningan malam, hujan deras dan kesendirian di kamar kos akan menambah suasana syahdu saat mengingat kampung halaman. Tidak mudah memang melupakan kampung halaman yang sudah menyatu dengan sukma diri.

Semalam saat suasana itu datang, hening dan hujan yang gerimis. memoriku berputar kembali ke kampung halaman dan di saat yang bersamaan, aku membaca sebuah artikel di situs kompas tentang kampung halamanku. Lumayan mengobati sedikit rindu yang bergelora namun satu hal juga yang membuatku heran bahwa hampir dua tahun meninggalkan kampung, semua seakan sudah perlahan berubah.  

http://travel.kompas.com/read/2013/01/11/16480535/Menikmati.Alam.Pegunungan.di.Buntu.Lamba

Jalan itu Terjal

3 Desember 2012
Mungkin masa ini yang selalu ingin kuulangi. Beribu kali kutorehkan dalam goresan penaku di masa yang kelam ini. Jika saja setiap manusia diberi kesempatan sekali untuk mengulang suatu masanya maka masa inilah yg kupilih untuk kuulangi.

Dua tahun telah berlalu. Tak terasa adanya namun seperti hakekat waktu yang akan terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan orang yang menyesali waktu tak berguna, seperti itulah adanya aku.
Pertemuan dua tahun lalu yang amat kusesali bahkan mungkin salah satu penyesalan terbesarku dalam hidup. Bertemu denganmu mencampakkanku dalam dunia yang tak ingin kupilih.
Aku berada dikota masa itu, kota yang masih asing bagiku meski kelak akan menjadi salah satu kota yang paling kurindukan.

Aku dipertemukan oleh waktu denganmu. Di sebuah kantor kecil sebuah lembaga NGO. Aku duduk diam dan tak banyak berbicara, hanya mengamati setiap orang asing di sekitarku. Aku sempat melihatmu duduk dengan polosnya dan tak pernah terpikir apaapa olehku tentangmu. Hanya satu yang kutahu pada masa itu, aku ingin punya banyak teman.

4 februari 2013
Waktu ada aliran jejak langkah yang tak pernah sedikitpun berhenti walau sejenak, begitu pula waktu membawaku di lembaga NGO tempat pertama kali aku mengenalmu. 2 bulan berlalu seperti hanya kedipan mata. Aku kemudian melanjutkan perjalanan waktuku di perusahaan lain dan anehnya itu dekat dengan kotamu.

Tak ada apaapa memang saat pertama kali menginjakkan kaki di kotamu, dipikiranku bahwa aku punya seorang teman di kota yang baru kujejak.
Langkahku sering gontai karena terhempas jauh dari semua yang telah akrab denganku. Aku harus memulai semua dari awal dan benarbenar belajar mengenali.
Aku kuatkan tekad beribu kali untuk tetap bertahan.

April 2013
Entah dari mana awalnya. Intensitas kita komunikasi semakin sering. Aku tak bisa menerka apa yang sedang terjadi pada saat itu. Yang pasti bahwa sekarang baru kusadari itulah awal dari petaka hidupku yang tenggelam.

Kita saling bertukar cerita dan apa saja yang dialami. Entah perasaan apa namanya namun hakekatnya saat itu bahwa aku telah meretas jalan.
Aku tertegun apa yang merasuki sukmaku. Ataukah semua karena kesombonganku.

Agustus 2013
Kedekatan kita semakin intim. Saat jauh darimu serasa sukma melayang jauh keluar dari jasad, tak ada semangat namun ketika di dekatmu, semua menjadi taman bunga yang mendamaikan. Memang perasaan itu melandaku.

Namun sekali lagi aku berkata perasaan itu telah meluluhlantakkan rasionalitasku. Tidak ada lagi yang tersisa dari isi kepalaku.

25 desember 2013
Awal babak baru cerita kita dimulai. Engkau lulus di sebuah instansi pemerintah di ibukota dan engkau akan meninggalkan kotamu. Semua berjalan begitu cepat.aku masih tetap di kota itu saat engkau sudah berbalik badan ke ibu kota.

Tidak ada perasaan aneh saat itu yang kurasakan. setidaknya untuk beberapa saat, aku bisa meninggalkan nista yang kerap kali terulang. Itu saja. Perpisahan itu kurayakan dengan suka cita meski kutahu hanya sekeja karenaaku berjanji akan menyusulmu. Naif diriku ini.

5 April 2014
Aku benar-benar menyusulmu. Dengan perasaan yang tak menentu karena kutahu semua yang sudah kuhindari akan kembali terjadi. Aku tahu itu.
Hidupku benar-benar dipenuhi tragedi tanpa henti.

Kamarkosrawamangun. 190115  23:23

Pencari Jalan

Serupa memoar pagi yang menggelora. Serupa laju kereta tak terhalang dan serupa pula pesawat yang melayang. Nelangsa menghinggapi dan terkadang merasa kalah dan berjalan mundur. Berbalik badan kemudian gontai melangkahkan kaki. terkadang terlintas untuk kembali pulang.

Layaknya jiwa yang gersang. Mengikuti irama kehidupan yang berputar begitu saja. hingga pada suatu titik di mana dosa yang tak terhindarkan. Hanya lidah yang berucap namun jasad tak kunjung bertobat, inikah yang namanya karma ataupun kualat.

Benarlah kata si fulan, tentang rupa-rupa apa saja

Lorong waktu yang kususuri semakin tak bersahabat. Cahaya remang tak berkilau. Aku berkilah dengan semua khotbah yang tak berguna. nyatanya aku adalah jalang tak berharga.

Pudarlah keluguan yang dulu ada. menggantikan ia yang tersamarkan oleh kemunafikan. Ingin rasanya kuberteriak. Ingin kukabarkan itu semua. Aku ingin lari. Sejauh kaki bisa melangkah

Suatu waktu, aku duduk terdiam. Di lorong waktu yang terdalam. bayang wajah sang ibu menari indah di pelupuk mataku. Menegurku dengan semua dosa yang kuperbuat. Nak, aku ikut pula menanggung semua dosa-dosamu..!" begitu katanya kepadaku. remuk rasanya hati ini. ingin menangis dalam hening.

Perjumpaanku adalah tragedi. Ironi dan menyedihkan sekaligus pertemuan yang paling kusesali. Ingin kuulang semua waktu yang ada, ingin kukembali dan memilih untuk tidak mengenalnya. aku hancur dengan perjumpaan itu.
 
Benarlah apa yang dikatakan Luqman,
ﻳﺎ ﺑﻨﻲ!..ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺗﻔﻬﻢ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ )ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ(، ﻫﻞ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺤﻴﻦ ﻭﺣﺘﻰ ﺍﻟﺤﺐ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﻠﻢ ﺑﻬﺎ ﺍﺳﻤﻬﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓ، ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻧﻬﺎ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﺑﺪﻭﻥ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺍﻟﻤﺤﺒﺔ ﻟﻪ ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺳﻮﻑ ﻳﺄﻛﻞ .ﻟﻜﻢ، ﻭﺇﺫﺍ ﺗﻜﺮﻩ ﺣﺘﻰ ﺍﻧﻪ ﺳﻮﻑ ﻳﺪﻣﺮ ﻟﻚ ﻟﻘﻤﺎﻥ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ{ }

Wahai Anakku..! Jika Kamu Ingin Memahami Arti Dari Sebuah Hikmah (KEBIJAKSANAAN),Maka Jangan Sampai Dirimu Dapat Dikuasai Oleh Yang Namanya Seorang Perempuan,Karena Perempuan Itu Bagaikan PERANG Tanpa PERDAMAIAN,Apabila Dia MENCINTAIMU Maka Dia Akan MEMANGSAMU,Dan Apabila Dia MEMBENCIMU Maka Dia Akan MEMBINASAKAN Dirimu. {Luqman Al-Hakim}.

Dentuman kata mengalun lembut dalam relung hatiku. Memaksaku untuk hidup dalam kekalutan. Aku tahu, ini mungkin saja aku sesali, dan esok tiada lagi. namun daya jiwaku telah berkata, aku sudah terlalu jauh.Aku masih selalu saja menyesali pertemuan yang dulunya menghancurkan prinsipku.

Aku berkata. Karena terlalu banyak saksi bisu tentang semua. aku adalah manusia tak berhati. mengulum semua yang pernah kuajarkan.

KEMARIN ADALAH TRAGEDI, HARI INI ADALAH IRONI DAN BAHKAN ESOK HARI ADALAH PENGULANGAN.

RWMNGN, 190115

January 15, 2015

Masalah adalah Hidup

kepada yang sedang bersedih di ujung senja yang basah
kepada yang menanti asa dalam hening membisu

semua segera akan berakhir,
menutup hari dengan cita yang terkabulkan
kepada diri yang merasa lebih keras
dan kepada semua yang diujung patah asa

yakinlah hujan sebentar lagi berhenti meneteskan airnya
namun tetap bersiap karena esok mungkin dia datang lagi
bersiaplah.
1501015
masalah harus dihadapi,

January 14, 2015

Dont Do It


Hidup kita akan selalu diwarnai dengan kejadian yang tidak terduga, kadang-kadang berbalik dengan yang kita inginkan. Ada rumus 5 JANGAN mudah-mudahan bisa jadi manfaat.
  1. Jangan Mudah Panik, Tenang tapi tidak santai, karena panik tidak menyelesaikan masalah.
  2. Jangan Suka Mendramatisir Masalah.; Sehingga keadaan menjadi tegang karena pikiran kita sendiri, tetap berfikir positif.
  3. Jangan Bersikap Emosional; Karena kemarahan sikap penuh nafsu cenderung mendangkalkan akal sehat. Orang pemarah kata katanya tidak bermutu, keputusan tidak adil, perilakunya juga rendah.
  4. Jangan Pernah Putus Asa dari Pertolongan Allah; Karena tidak ada yang mustahil bagi Allah, walaupun kita tidak bisa mendetksi dari mana arah pertolongan Allah.
  5. Jangan Merasa Berjasa; Sudah tugas kita untuk berbuat amal soleh. apabila ada hasil yang baik, semuanya karena kemurahan Allah,
 Apabila belum berhasil, maksimalkan ikhtair dan serahkan semua ke Allah.

NB. Sumbernya lupa

NASABAH

Menghadapi nasabah memang bermacam karakter, ada yang sabar namuna ada pula yang arogan. namun begitulah lika-liku di staff klaim. salah satu nasabah yang mungkin terlalu arogan adalah fitriana. aku sudah menduga bahwa dia adalah nasabah yang arogan. beberapa kali dengan muka ketus memperlakukan suaminya dengan tidak terlalu sopan dan bicara dengan ketus. terlihat sangat dari wajahnya yang lumayan amat sinis.

akhirnya terbukti juga,urusannya yang terlambat seminggu membuatnya naik pitam. bolak balik dia sms aku dengan nada dan kata yang lumayan sinis dan akhirnya aku menelepon. di telepon, kata-katanya meluncur dengan berbagai macam ancaman, nulis di koranlah, telepon pusatlah, namun aku tetap katakan kepadanya bahwa itu adalah tanggung jawabku.

tak apalah untuk pengalaman kali ini. kadang orang yang datang dalam hidup silih berganti.

140115
Ibu Fitriana

Tentang Novel Rindu

Membaca novel karya Tere Liye memang seringkali menstimulasi perasaan sentimentil tentang apa saja, tentang cinta, benci, rindu dan semua perasaan akan meledak bak bola salju yang menggelinding. Kepiawaian Tere Liye dalam meramu kata per kata seringkali mampu menghempaskan pembacanya larut dalam cerita dan mengambil peran bahkan kita seperti memerankan beberapa tokoh dalam cerita tersebut tergantung suasana yang sedang dialami oleh tokoh dalam cerita.

Begitupun dengan novel Rindu yang baru selesai kubaca. Dari sekian banyak novel karya Tere Liye, baru dua novel yang tuntas kubaca, "Rembulan Tenggelam di Wajah-Mu dan Rindu." Memang masih terlalu prematur bagiku mendeskripsikan semua karya Tere Liye karena baru dua novel tersebut kubaca namun sesingkat perkenalanku dengan karya-karyanya, aku menyimpulkan sedikit bahwa Tere Liye adalah orang yang mengetahui bagaimana cerita langit berjalan, percaya akan momen tak terduga dari Allah dan yang pasti, dua novel karyanya yang sudah kubaca amat sangat berbau sufistik, sesuatu yang 4 tahun belakang ingin sekali kudalami.

Novel Rindu tersebut bercerita tentang beberapa pertanyaan hidup, gaya penuturan yang hampir persis kutemui di novel Rembulan tenggelam di wajahMu. Pertanyaan yang diajukan dalam novel tersebut tentang hakekat hidup. apa itu kebahagiaan, menyikapi nasib dan berpikir positif tentang semua takdir Allah.

Masalah tokoh yang dimunculkan pun bermacam-macam. Ambo Uleng yang mencintai gadis bangsawan dan harus terpisah karena perbedaan status sosial kemudian menderita sakit hati yang begitu mendalam meski pada akhirnya jalan takdir menyatukan mereka. Tokoh Bonda Upe yang terpaksa menjadi WTS karena perilaku ayahnya menjadikannya taruhan di meja judi dan harus menjalani profesi tersebut bertahun-tahun sampai pada akhirnya lepas dari dunia hitam meski harus bergulat dengan pertanyaan hatinya bahwa apakah dia masih diampuni dosa-dosanya. 

Tokoh Daeng Andipati yang memendam kebencian mendalam kepada ayahnya karena pengalaman masa kecilnya yang selalu menyaksikan ibunya kerap disiksa oleh ayahnya dengan siksaan fisik namun disini pula mengajarkan bagaimana ibu Daeng andipati yang mempunyai hanya satu alasan untuk mempertahankan pernikahannya. Ibunya ingin mengatakan bahwa dia tidak pernah salah menikah dengan suaminya yang keras nan bengis. Beberapa tokoh yang lain bertindak sebagai kru kapal yang notabene adalah orang Belanda namun masih amat sangat baik terhadap orang pribumi. 

Oh yah, cerita di novel ini berkisah saat Nusantara masih dijajah belanda. Tokoh lain yang menjadi panutan adalah Gurutta, dia memerankan tokoh yang amat sangat dikagumi karena kedalaman ilmunya dan kearifannya.

Kesimpulan dari dua novel yang pernah kubaca dari karya Tere Liye adalah berjalanlah di muka bumi sesuai aturah semesta. Niat yang baik dan bertindak yang baik. Menerima takdir dengan lapang dada dan biarkan semesta yang mengatur semua tentang perjalanan hidup.

14-1-15


January 13, 2015

Senja dan Hujan

Aku tidak pernah bosan menikmati senja yang bermesraan dengan hujan
Menyatu dalam diam
Romansa yang berbuncah dalam dingin

Kali ini
Senja datang bersama hujan yang syahdu
Di antara mentari yang bersembunyi dalam awan

Aku terpaku
Menatap tetesan hujan di atap, di tanah dan dimana saja dia bersandar
Bau tanah khas senja saat hujan menyapa
Masuk dalam relung sukmaku
Damai

Ah, senja benarbenar merengkuh semua serpihan kenangan
Hujan mengembalikan apa yang telah berlalu
Meski waktu membawanya pergi

Aku, senja dan hujan

130115

January 12, 2015

Sejenak Melepas Beban

Ketika jauh berjalan,
Menepilah sesaat untuk melemaskan urat-uratmu
Ketika penat dengan rutinitas kantormu,
Berhentilah sejenak merapikan memori otakmu

Letih adalah keniscayaan
Maka istirahat adalah penawarnya

120115

Sabar dan Ibu yang Mengomel

Sebenarnya ada tiga hal yang ingin kuceritakan di tulisan ini. Sudah berlalu beberapa waktu yang lalu namun masih tetap saja terngiang di kepalaku, entah karena belum aku tuliskan sehingga kejadian tersebut masih segar menari-nari di memoriku. 
Tentang dua Ibu yang pernah kutemui dan menyolot marah kepadaku dan tentang W dengan sifat sabarnya. Memang hal yang perlu dilakukan ketika marah adalah bahwa ketika kita sedang dikuasai amarah, ketika perlu berpikir beribu kali untuk bertindak maupun berkata.

Sebulan atau dua bulan yang lalu, aku tidak tahu persis tanggalnya namun harinya aku masih ingat. Saat itu malam Sabtu dan aku akan memarkir motorku ke dalam kantor karena pada saat itu, aku berniat menginap di kantor. Tepat di depan pintu kantor, ada sebuah mobil warna putih yang parkir. Aku bahkan lupa mobil apa namun sepertinya honda jazz. Aaat aku akan mengarahkan motorku ke dalam kantor, ternyata mobil tersebut pun akan keluar dan ternyata si empunya adalah Ibu paruh baya berkerudung. Aaat itu aku tidak tahu dia akan mengarahkan mobilnya ke arahku dan merasa jalannya dihalangi, dia seakan membentakku di dalam mobilnya dan dengan bahasa isyarat dan mata yang menyolot seakan mengatakan bahwa mobilnya akan ke arahku karena itu arah keluar dari parkiran. 
 
Aku tidak membalas gertakannya meski aku juga bisa berdalih bahwa mobilnya yang seenak dengkul parkir tepat di depan kantorku. Meski aku tidak mendengar suaranya karena berada di dalam mobilnya namun raut muka dan mata yang menyolot bahkan bahasa isyarat menandakan dia begitu emosional. 
Ah, kota ini memang asing bagi orang-orang sabar.

Kasus kedua tepat di hari kamis sore tanggal 8 Januari 2015. Saat itu baru saja pulang dari kantor sekitar pukul 17:00. Aku dan W janjian untuk bukber di daerah pendurenan. Aku bergegas melaju dari daerah rawamangun ke bilangan kuningan. 
Baru sampai di depan Arion Mall yang hanya berseberangan dengan kantorku, kendaraan sangat padat sehingga motorku melaju dengan lambat. Aku berniat menyalip sebuah bis di depan Arion Mall namun karena amat sempit maka aku ngetem tepat di samping bis yang juga berhenti karena padatnya kendaraan. Tepat di waktu bersamaan, seorang ibu paruh baya dan anaknya yang kira-kira berumur 10 tahun berjalan dari arah berlawanan. saat melintas di sampingku, dia menendang ban motorku sambil mengomel dan muka yang memendam amarah. Aku membuka kaca helm dan menanyakan kenapa kemudian dengan samar-samar dia tetap mengomel sambil berlalu bersama anaknya. Aku kemudian memilih untuk tidak menanggapinya karena hanya mempermalukan diri. 
Ah, lagi-lagi bahkan ibu yang berpenampilan sopan harus meluapkan amarah hanya karena hal kecil.

Hal ketiga adalah tentang W. Dia punya sahabat bernama R. Pernah sekali waktu, si R marah dan mengomel di group WA. Aku yang merasa tidak nyaman membaca chatnya menyarankan agar W keluar saja dari group itu. 
Berselang beberapa lama, hal itu ternyata malah membuat hubungan mereka runyam. Aku merasa bersalah menyarankan dia dulu keluar dari group WA. Aku tahu bahwa sabar dalam segala hal adalah lebih baik daripada menunjukkan amarah. 
Itu yang sedang aku coba bahwa ketika ada yang sedang meluapkan amarahnya, biarkan saja mereka dan jangan ditanggapi.

120115