January 14, 2015

Tentang Novel Rindu

Membaca novel karya Tere Liye memang seringkali menstimulasi perasaan sentimentil tentang apa saja, tentang cinta, benci, rindu dan semua perasaan akan meledak bak bola salju yang menggelinding. Kepiawaian Tere Liye dalam meramu kata per kata seringkali mampu menghempaskan pembacanya larut dalam cerita dan mengambil peran bahkan kita seperti memerankan beberapa tokoh dalam cerita tersebut tergantung suasana yang sedang dialami oleh tokoh dalam cerita.

Begitupun dengan novel Rindu yang baru selesai kubaca. Dari sekian banyak novel karya Tere Liye, baru dua novel yang tuntas kubaca, "Rembulan Tenggelam di Wajah-Mu dan Rindu." Memang masih terlalu prematur bagiku mendeskripsikan semua karya Tere Liye karena baru dua novel tersebut kubaca namun sesingkat perkenalanku dengan karya-karyanya, aku menyimpulkan sedikit bahwa Tere Liye adalah orang yang mengetahui bagaimana cerita langit berjalan, percaya akan momen tak terduga dari Allah dan yang pasti, dua novel karyanya yang sudah kubaca amat sangat berbau sufistik, sesuatu yang 4 tahun belakang ingin sekali kudalami.

Novel Rindu tersebut bercerita tentang beberapa pertanyaan hidup, gaya penuturan yang hampir persis kutemui di novel Rembulan tenggelam di wajahMu. Pertanyaan yang diajukan dalam novel tersebut tentang hakekat hidup. apa itu kebahagiaan, menyikapi nasib dan berpikir positif tentang semua takdir Allah.

Masalah tokoh yang dimunculkan pun bermacam-macam. Ambo Uleng yang mencintai gadis bangsawan dan harus terpisah karena perbedaan status sosial kemudian menderita sakit hati yang begitu mendalam meski pada akhirnya jalan takdir menyatukan mereka. Tokoh Bonda Upe yang terpaksa menjadi WTS karena perilaku ayahnya menjadikannya taruhan di meja judi dan harus menjalani profesi tersebut bertahun-tahun sampai pada akhirnya lepas dari dunia hitam meski harus bergulat dengan pertanyaan hatinya bahwa apakah dia masih diampuni dosa-dosanya. 

Tokoh Daeng Andipati yang memendam kebencian mendalam kepada ayahnya karena pengalaman masa kecilnya yang selalu menyaksikan ibunya kerap disiksa oleh ayahnya dengan siksaan fisik namun disini pula mengajarkan bagaimana ibu Daeng andipati yang mempunyai hanya satu alasan untuk mempertahankan pernikahannya. Ibunya ingin mengatakan bahwa dia tidak pernah salah menikah dengan suaminya yang keras nan bengis. Beberapa tokoh yang lain bertindak sebagai kru kapal yang notabene adalah orang Belanda namun masih amat sangat baik terhadap orang pribumi. 

Oh yah, cerita di novel ini berkisah saat Nusantara masih dijajah belanda. Tokoh lain yang menjadi panutan adalah Gurutta, dia memerankan tokoh yang amat sangat dikagumi karena kedalaman ilmunya dan kearifannya.

Kesimpulan dari dua novel yang pernah kubaca dari karya Tere Liye adalah berjalanlah di muka bumi sesuai aturah semesta. Niat yang baik dan bertindak yang baik. Menerima takdir dengan lapang dada dan biarkan semesta yang mengatur semua tentang perjalanan hidup.

14-1-15


No comments: