Sebenarnya ada tiga hal yang ingin kuceritakan di tulisan ini. Sudah berlalu beberapa waktu yang lalu namun masih tetap saja terngiang di kepalaku, entah karena belum aku tuliskan sehingga kejadian tersebut masih segar menari-nari di memoriku.
Tentang dua Ibu yang pernah kutemui dan menyolot marah kepadaku dan tentang W dengan sifat sabarnya. Memang hal yang perlu dilakukan ketika marah adalah bahwa ketika kita sedang dikuasai amarah, ketika perlu berpikir beribu kali untuk bertindak maupun berkata.
Sebulan atau dua bulan yang lalu, aku tidak tahu persis tanggalnya namun harinya aku masih ingat. Saat itu malam Sabtu dan aku akan memarkir motorku ke dalam kantor karena pada saat itu, aku berniat menginap di kantor. Tepat di depan pintu kantor, ada sebuah mobil warna putih yang parkir. Aku bahkan lupa mobil apa namun sepertinya honda jazz. Aaat aku akan mengarahkan motorku ke dalam kantor, ternyata mobil tersebut pun akan keluar dan ternyata si empunya adalah Ibu paruh baya berkerudung. Aaat itu aku tidak tahu dia akan mengarahkan mobilnya ke arahku dan merasa jalannya dihalangi, dia seakan membentakku di dalam mobilnya dan dengan bahasa isyarat dan mata yang menyolot seakan mengatakan bahwa mobilnya akan ke arahku karena itu arah keluar dari parkiran.
Aku tidak membalas gertakannya meski aku juga bisa berdalih bahwa mobilnya yang seenak dengkul parkir tepat di depan kantorku. Meski aku tidak mendengar suaranya karena berada di dalam mobilnya namun raut muka dan mata yang menyolot bahkan bahasa isyarat menandakan dia begitu emosional.
Ah, kota ini memang asing bagi orang-orang sabar.
Kasus kedua tepat di hari kamis sore tanggal 8 Januari 2015. Saat itu baru saja pulang dari kantor sekitar pukul 17:00. Aku dan W janjian untuk bukber di daerah pendurenan. Aku bergegas melaju dari daerah rawamangun ke bilangan kuningan.
Kasus kedua tepat di hari kamis sore tanggal 8 Januari 2015. Saat itu baru saja pulang dari kantor sekitar pukul 17:00. Aku dan W janjian untuk bukber di daerah pendurenan. Aku bergegas melaju dari daerah rawamangun ke bilangan kuningan.
Baru sampai di depan Arion Mall yang hanya berseberangan dengan kantorku, kendaraan sangat padat sehingga motorku melaju dengan lambat. Aku berniat menyalip sebuah bis di depan Arion Mall namun karena amat sempit maka aku ngetem tepat di samping bis yang juga berhenti karena padatnya kendaraan. Tepat di waktu bersamaan, seorang ibu paruh baya dan anaknya yang kira-kira berumur 10 tahun berjalan dari arah berlawanan. saat melintas di sampingku, dia menendang ban motorku sambil mengomel dan muka yang memendam amarah. Aku membuka kaca helm dan menanyakan kenapa kemudian dengan samar-samar dia tetap mengomel sambil berlalu bersama anaknya. Aku kemudian memilih untuk tidak menanggapinya karena hanya mempermalukan diri.
Ah, lagi-lagi bahkan ibu yang berpenampilan sopan harus meluapkan amarah hanya karena hal kecil.
Hal ketiga adalah tentang W. Dia punya sahabat bernama R. Pernah sekali waktu, si R marah dan mengomel di group WA. Aku yang merasa tidak nyaman membaca chatnya menyarankan agar W keluar saja dari group itu.
Hal ketiga adalah tentang W. Dia punya sahabat bernama R. Pernah sekali waktu, si R marah dan mengomel di group WA. Aku yang merasa tidak nyaman membaca chatnya menyarankan agar W keluar saja dari group itu.
Berselang beberapa lama, hal itu ternyata malah membuat hubungan mereka runyam. Aku merasa bersalah menyarankan dia dulu keluar dari group WA. Aku tahu bahwa sabar dalam segala hal adalah lebih baik daripada menunjukkan amarah.
Itu yang sedang aku coba bahwa ketika ada yang sedang meluapkan amarahnya, biarkan saja mereka dan jangan ditanggapi.
120115
No comments:
Post a Comment