May 8, 2013

Hampir Saja Aku Lupa Bernafas

menghitung hari dengan semua janji yang telah tersusun rapi di buku agendaku yang mulai usang. menjalani setiap hari-hari dalam rutinitas yang memuakkan. tanpa kata, tanpa apaapa dan bahkan tanpa tujuan yang jelas.
hampir saja aku lupa bernafas

berjalan jauh dengan jalan yang seperti kemarin. mengitari sudut setapak yang nampak memanjang. tak ada semangat bahkan jiwa seakan menguap dan jalan itu tidak memanjang hanya berkelok kembali ke arah yang sebelumnya.
hampir saja aku lupa bernafas

bergelut dengan perasaan. datang melanda dalam arus yang tak menentu. meski kusadar semu dan tak berarti apaapa tetapi selalu saja tak kuasa kumenolak.selalu dan selalu menggiringku ke arah yang sama, arah yang selalu ingin kuhindari. dan perasaan itu membuatku
hampir saja aku lupa bernafas

akhirnya, semua yang keliru menjadi rutinitas. hitam dan putih menyatu menjadi abuabu. tak terbedakan. melenakan memang gelora perasaan itu. setiap yang menyenangkan seringkali adalah abusrb. aku lagilagi tahu akan hal itu. tetapi hanya pada sampai mengetahui dan saat ia datang, aku tergulung arusnya
hampir saja aku lupa bernafas

aku manusia. hidup dalam dunia yang memang sering menawarkan setiap kesenangan yang menguap begitu saja. namun itulah dunia, saat disadari namun semakin kuat menjerat karena kesadaran bukan dalam bentuk pemahaman bahkan hanya katakata namun kesadaran hakekatnya adalah aksi nyata. saat itulah aku merasa
 hampir saja aku lupa bernafas

May 1, 2013

Hilang

kalau aku tak punya apaapa
kenapa harus takut kehilangan
kalau semua akan musnah
kenapa aku mencinta terhadap yang semu
aku bahkan tak memiliki diriku
kenapa aku harus khawatir
semua akan berakhir kepada kefanaan
melebur menjadi abuabu tak bernilai
terus mencinta itu apa
yah, mencinta kepada yang hakekat
terhadap pemilik diri
Dia memiliki segala
belajarlah untuk menerima semua skenarioNYA
sebab Dia pemilik segalanya


April 27, 2013

Hari Jumat Kemarin

Tidak seperti biasanya, Jumat kemarin aku sudah terjaga pada subuh hari sebelum adzan dikumandangkan sedangkan hari-hari biasanya, aku baru terjaga saat matahari sudah menyinari tempat tidurku bersama kawanku, namun hari kemarin benar-benar membuat hariku bisa menikmati temaramnya cahaya subuh dan desiran angin yang masih segar. 

Aku paksakan diriku bangun dan menuju kamar kecil membersihkan diri lalu menuju masjid di kompleks ini yang hanya berjarak sekitar 20 meter. Rasa kantuk yang datang menyerang kulawan dengan sekuat tenagaku. Selesai shalat subuh, tak ada lagi gairahku untuk melanjutkan tidurku, iseng kunyalakan TV yang berada di kamar kami. 

Sejenak kemudian, berita tentang kematian seorang ustadz Udje memenuhi pemberitaan media massa. Aku sontak kaget ternyata beliau meninggal karena kecelakaan pada sepertiga malam Jumat. Banyak pandangan yang menyebutkan bahwa kematiannya sangat mulia karena meninggal di malam Jumat apatahlagi tepat sepertiga malam, namun itu tidak akan kutanggapi secara berlebihan karena bukan ranahku untuk membahas masalah yang gaib. Satu hal atas kematian beliau adalah banyak hikmah yang kemudian bisa dipetik dari peristiwa ini.

Beliau terkenal sebagai Ustadz yang banyak digemari khalayak umum, bahkan tidak terlepas juga dari gosip miring bahwa bayarannya saat membawakan tausiah begitu mahal. Aku pun mungkin sempat sependapat dengan hal tersebut namun setelah kematiannya dan melihat begitu banyak orang yang mendapat hikmah darinya maka aku tersadar bahwa menjustifikasi orang secar lahiriah adalah hal yang keliru. 

Saat menonton sebuah berita dan melihat ibunya diwawancarai, ada kaliamt yang paling aku suka yang dilontarkan beliau kepada ibunya "kita tidak perlu dekat dengan siapa-siapa, hanya butuh dekat dengan Allah." Terserah setiap orang memaknai kata-kata tersebut, bahkan mungkin ada yang memaknai dengan negatif bahwa dengan itu kita akan menjadi sombong ataupun individualistik namun aku sendiri punya pemaknaan yang berbeda tentang kata-kata tersebut yang tidak akan bisa kuungkapkan dengan barisan kata-kata, bahkan hal tersebut telah kucamkan dalam sanubariku sejak dua tahun lalu saat aku mengalami anti klimaks dalam hidupku. 

Memang benar bahwa kita hanya butuh dekat dengan Allah karena ada masa saat kita terpuruk maka setiap orang akan berjalan membelakangi kita dan mereka akan kembali lagi setelah kita berada di puncak tertinggi. Saat momen itu, benar-benar kurasakan kehadiran Allah di sisiku. aku selalu mengingat momen tersebut sebagai pengingat bagiku bahwa aku pernah berada di kondisi yang di mana tidak ada lagi kekuatan selain Allah. 

Kehampaan menerpaku saat itu selama berbulan-bulan. aku tak sanggup melakukan apa-apa dan hanya terbaring tak berdaya. Hatiku nelangsa dan pada satu kondisi yang terburuk, aku selalu berbisik kepada Allah semoga saja kejadian ini tidak menyusahkan orang tuaku walau bagaimanapun akhirnya.

Kembali ke hari jumat kemarin. Selain Ustadz udje, di samping kontrakan kami juga telah meninggal seorang bapak yang belum kukenal dengan baik. Dari daftar riwayat hidupnya bahwa beliau adalah mantan pejabat di daerah ini. Aku dan temanku ikut melayat sampai di pekuburan. berbeda dengan pemakaman Udje yang ramai diiringi oleh lautan manusia, beliau hanya diantar oleh sedikit orang.

Itulah hari jumat kemarin yang penuh dengan hikmah tentang hidupku. Aku selalu berusaha untuk menghancurkan segala kemelekatan di diriku agar supaya tidak ada yang menghalangi pertemuanku dengan Sang Khalik. 

Kuingat tausiah seorang guruku di makassar yang sering kupanggil dengan sebutan kak Hamzah. Beliau mengatakan bahwa seseorang yang sangat sulit melepaskan rohnya saat sakaratul maut karena dia sudah terpaut dengan duniawi, rohnya bersatu dengan duniawi sehingga saat waktunya harus berpisah dengan  jasadnya, maka rohnya susah keluar karena telah menyenangi dunia. 

Ketika hidup, kita memanjakan roh kita dengan duniawi maka saat sakaratul maut, roh tidak rela berpisah dengan duniawi, berbeda halnya ketika hidup kita memanjakan roh kita dengan mengingat Allah maka saat sakaratul maut, roh kita dengan sangat ikhlas berpisah dengan duniawi dan menuju kehadapan Allah yang merupakan tempat kembali. itulah yang dinamakan dengan husnul khatimah.

Aku tahu masih sangat jauh dengan hal tersebut. hidupku masih penuh dengan perhitungan untung rugi bahkan kecintaanku pada dunia yang absurd masih sangat tinggi. Ketika menolong pun masih sering ku kalkulasi dengan perhitungan untung rugi bahkan ketika itu temanku sendiri.

min, belajar lagi, belajar jadi manusia....!

April 21, 2013

Ketika GP Surabaya Telah Usai

Kenangan, itulah sekarang yang tersisa tentangmu. Entah apa yang mendorongku untuk mengirimi SMS kepada salah seorang temanku di GP surabaya. Dia adalah TL saat aku masih tergabung di sana. Satu hal yang membuatku menanyakan kabarnya dengan mengirimi SMS karena kami sangat dekat, namun kesibukanku akhir-akhir ini hampir saja mengaburkan pertemanan kami. 

Saat membalas SMSku, aku teperanjat saat dia mengatakan bahwa GP surabaya telah ditutup per awal april. Entah apa yang kurasakan saat itu namun berbagai kecamuk menyeruak menyesakkan dadaku. Meskipun hanya dua bulan tergabung di GP namun lebih dari itu, pengalaman hidup di sana membuatku lebih dewasa dalam segala hal. Pekerjaan di GP yang mengharuskan menemui setiap orang di tempat keramaian memaksaku harus mempelajari setiap wajah manusia dan hal itu yang kemudian membuatku lebih bijak menjustifikasi setiap manusia.

Dua bulan bekerja di GP tidak lantas membuatku merasa sangat singkat menjadi bagian di dalamnya. Aku bahkan merasakan perjuanganku di mulai dari ruang yang ditawarkan oleh GP. Masih terekam jelas di memoriku saat kali terakhir aku mengunjungi stand GP di mirota batik. Saat itu GP masih terlihat normal-normal saja tanpa ada firasat bahwa akan ditutup namun itulah sebuah keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat oleh setiap orang yang bernaung di dalamnya.

Selalu saja setiap masa dirindukan saat dia berlalu. Kenangan akan selalu menjadi indah saat diceritakan meskipun saat dijalani begitu amat membosankan bahkan selalu ada saja keluhan, namun setiap kali telah berlalu dan kemudian menjadi cerita maka masa itu akan menjadi indah. Itulah yang menyadarkanku tentang hidup ini tentang bagaimana menjalani hidup dengan kesyukuran, tentang hidup yang ini. Menyadarkanku bahwa benar-benar hidup itu indah meskipun pahit. 

Coba bayangkan semua masa-masa sulit yang pernah dilewati, apakah kita menyesali melewatinya? jawaban yang sering kita dapatkan adalah kita bahagia melewatinya dan bahagia saat menceritakannya meskipun saat kita berada di masa itu, kita sering menangis.

Hidup itu bahagia ketika disyukuri karena hidup hanyalah perjalanan yang haru dijalani dan meninggalkan jejak-jejak untuk generasi selanjutnya

April 15, 2013

Penjaraku Mencintaimu

liar imajinasiku memikirkanmu
kalau aku mencintaimu
tidak harus kucemburu

saat mencintaimu
tidak harus memilikimu
menikahimu pun 
bukan berarti aku berhak memilikimu

kalau kucoba memilikimu
bukankah aku angkuh
bahkan diriku tak mampu kumiliki
jadi bagaimana aku memiliki orang lain

mencinta saling menyusahkan
karena yang dicinta bukan hakekat
dia yang absurd
menjadi pelayanan cinta yang semu

aku tidak punya hak apaapa padamu
cintaku adalah penjaraku
menyempitkan ruangku terhadapmu
merampas kebahagiaanku yang hakiki

setiap kubersamamu
aku menjadi orang lain
selalu mencoba menjadi sempurna
bukankah itu musibah buatku
jadi mencintaimu adalah musibahku

berbagi denganmu
tidak meringankan bebanku
bahkan semakin membebaniku
karena kuyakin
tak seorangpun kan memahamiku
tetapi aku
yang kubagi adalah candaku bukan ceritaku

kasihku adalah Sang Pencipta
yang tak memenjarakan diriku
bahkan melepas semua kemelekatanku
dari diriku
sebab tubuh bukan diri
dia yang tercerahkan
mencinta dengan yang patut dicinta



ngawi
15.4.13
22.00

Kawan dari Gresik

Tadi siang tiba-tiba saja hpku berdering saat selesai shalat dhuhur. sedikit segan menerima telepon yang masuk karena nomornya yang agak ganjil.sejenak kuamati nomor telepon tersebut dan ragu-ragu mengangkatnya namun karena kuyakin mungkin telepon dari kantor atau klienku di sekolah maka akhirnya kuterima saja.

siapa ini,,? dua kata yang keluar di mulutku saat telepon tersebut tersambung, sesaat kemudian kudengar suara yang tak asing dari dalam telepon tersebut, ternyata linda kawanku dulu di GP. tidak ada percakapan yang meluncur dari mulut kami namun yang ada adalah kami berdua langsung tertawa. aku tertawa sebagai betuk ekspresi kerinduanku terhadapnya dan kuyakin diapun juga tertawa sebagai bentuk kerinduannya kepadaku. kami memang sangat dekat saat masih bekerja di GreenPeace surabaya. aku sekalipun tidak pernah berselisih paham dengan L selama berinteraksi dengannya bahkan L begitu banyak membantuku semasa masih di surabaya. akan kuceritakan semua tentangnya, tentang kebaikannya dan semua kenangan yang pernah kami lalui saat masih di surabaya.
Greenpeace membuat kami semakin dekat. satu bulan bekerja di GP, aku kemudian memutuskan untuk mencari rumah kos. orang yang paling sibuk mencarikanku kontrakan adalah L, bahkan terkadang dia lebih sibuk dari aku mencari rumah kontrakan. saat aku menceritakan setiap masalahku kepadanya, dia kelihatannya lebih pusing dariku memikirkan solusi masalahku dan itu bukan sesuatu yang pura-pura. rasa empatinya kepadaku benar-benar dari dalam hatinya. ada satu hal yang membuatku kagum bersahabat dengannya ketika mencari SU di gramedia TP. suatu waktu, L berhasil memperoleh SU sedangkan aku masih belum bisa memperoleh SU sedangkan kami sudah bekerja selama 2 bulan. orang yang paling peduli ketika itu adalah linda, meskipun dia sudah mendapat SU namun dia tetap belum bersemangat karena aku belum closing. akhirnya menjelang akhir bulan kedua kami bekerja, aku closing dengan 3 SU. orang yang paling gembira mendengar itu malah bukan aku tetapi L. benar-benar kawan yang sejati.

saat-saat yang lain membuatku terenyuh dengan kebaikan hatinya adalah saat aku pindah kos. orang yang paling sibuk saat itu adalah L. dialah yang mencarikanku kos dan dia pula yang membawakan barang-barangku ke kos tersebut bahkan saat akan ke sana, dialah yang menjemputku. hal yang lucu kami lalui saat itu. linda tidak mengenakan helm saat kubonceng dengan motornya. sampai di pertigaan jembatan dekat monumen kapal selam, kami dihadang polisi. tanpa ba bi bu, Linda melompat dari motor saat masih melaju. kami pun selamat dari swiping.

pagi tadi, Linda menelponku langsung dari malaysia. dia mengabarkan padaku bahwa pernikahannya akan dilangsungkan bulan depan. aku amat sangat senang mendengar berita pernikahannya. benar-benar rasa senang atas kebahagiaannya. semoga saja Linda selalu dalam keridhaan Allah, selalu diberkahi.

aku masih menyimpan smsnya yang menyemangatiku ketika aku mumet dengan dunia baruku dan hampir saja aku menyerah namun Linda tidak pernah berhenti menjadi teman ceritaku saat itu.
"Sbar lah mz jgn gtu,,, toh mngkin ntar krja e enak,,,wes ta d betah2 in dlu ae,,". itulah sms-smsnya saat kuceritakan betapa aku belum memasuki dunia baruku namun sudah mulai menyerah.

benar-benar ingin membalas setiap kebaikan yang  pernah dibagi denganku. hikmah yang terserak didirinya yang membuatku semakin yakin dengan kebaikannya.

ngawi
15.4.13


Aku Hidupmu

Kuputar musik keraskeras pagi ini, hanya untuk mengusir segala beban yang menghampiri, semua masalah yang menyapa
namun sama sekali tidak mampu menepis
bahkan hanya secuil
karena kuyakin
semuanya bersemayam dalam diriku
aku adalah hidupku
bukan kamu, mereka bahkan apa yang aku miliki
aku adalah bahagiaku
sama sekali bukan kamu apalagi dunia ini
aku adalah perjalananku
tujuanku bukan kamu, mereka apalagi dunia ini
persepsiku tentang kamu adalah abstrak
kamu, mereka dan dunia ini hanyalah perlintasanku.

ini merefleksikan diriku yang dibayang-bayangi  kecemasan dalam setiap harinya. tentang bahagia yang kuprasangkakan terhadap seseorang meski kutahu itu utopis. semua pernah kulalui tentang perasaan semacam ini dan ternyata tidak abadi. perasaan yang menguap ketika waktu telah mengikisnya, namun setiap kali pula aku terjebak dalam perasaan yang sama dan mencari pelampiasan yang sama pula. 

terhadap apa-apa saja yang kumaksudkan diatas tidak berdasarkan perhitungan untung rugi karena bahagia bukanlah untung rugi yang harus dirasionalisasikan dalam pikiran kita. aku terjebak dalam situasi yang hampir memekakkan telingaku, tentang hal yang sebenarnya tidak kusepakati dan akupun tersungkur di dalamnya. aku sedang memilah untuk melihat kedalamnya, mencoba melawan dunia meski ketika kutak sanggup lagi kompromi dengan ini semua maka aku akan lari ke ujung langit berteriak sekeras-kerasnya saat ketika tidak ada lagi ruang di sini untuk itu. 

ini tentang hidupku, tentang caraku melewati dunia dan tentang sesosok gadis yang hadir di hidupku. sekali lagi bahwa aku adalah bahagiaku dan bahagiaku adalah hidupku. sama sekali bukan kau, dia ataupun apa-apa yang kudapatkan hari ini. Tuhan adalah abadiku, Dia menjadi Sosok yang harusnya menjadi Teman ceritaku, bahkan semua hal yang kuretas saat ini. hampir saja semua ini menghancurkan apa saja yang ada di kepala, tentang nilai yang aku sepakati, sampai kapan aku bertahan disi dan sampai saat itu pula waktunya aku bebas dan merdeka dari setiap yang melekat di diriku dan tentang entitasku.

kubayangkan betapa marahnya Sang Pencipta melihatku mempermainkan prinsipku hanya demi dunia yang absurd. aku sadari itu dan sedang memperjuangkan kemenangan prinsipku. mendamaikan perut dan pikiranku. saat perut memenangkan hidupku maka tamatlah riwayatku dan saat pikiran menjadi pemenang maka akupun menang namun bukan berarti mereduksi ruang perut di dalam hidupku karena aku masih hidup dan masih butuh perut untuk menambah energiku bergerak maka yang harus kulakukan adalah mendamaikan keduanya, memenuhi kebutuhan perut yang tidak mendistorsi nilai-nilai pikiranku yang sudah kupupuk sejak lama.

jawaban atas semua ini adalah diriku dan dengan bantuan Sang Khalik untuk memperkuat karakterku, tidak menjadi pecundang. 
sejenak mencari buat perut
dan berdamai dengan diri
hingga tiba saat yang paripurna
menyaksikan hal yang tak indrawi
saat itu aku mengenal diriku
mengenal Tuhanku
jangan sekali-kali jauh diri karena 
akan jauh Tuhan pula. 
selamat pagi ngawi
15.4.14
06.45



April 14, 2013

Tiba-Tiba Ingat Kampung

Tiba-tiba saja ingatanku meluncur ke kampung halamanku. Setiap masa yang kulalui terekam jelas di dalam memoriku namun ada satu masa yang sangat ingin kuulang. Masa menanam padi saat masih di kampung. Suasananya menyeruak ke dalam jiwaku meresap membangkitkan gairah hidupku. Benar-benar masa saat itu yang menyejukkan penuh dengan kekeluargaan saat semua orang datang berduyung-duyung saling membantu.

Aku terlalu pongah saat meninggalkan kampungku. Dengan sombongnya kukatakan bahwa aku tidak akan terlalu merindukan setiap momen yang pernah kulalui di ruang desa ini, namun ternyata tidak. Semuanya mental tiba-tiba. setiap hari, aku dirasuki rindu kampungku, tentang suasananya yang seringkali menyejukkanku, tentang aktivitas sehari-hari yang kulewati. jejak kenangan yang begitu indah.

Kampung sepeti syurga yang tak pernah habisnya menawarkan kedamaian. Di sana setiap kehangatan menyediakan ruangannya yang tak pernah harus kubeli. Kampung menjadi variabel paling kurindu dalam hidupku. Manusia disana menjadi bagian keluarga yang tak terpisah.

Aku selalu membayangkan kenikmatan kopi yang dipadu dengan teh hangat ataupun kopi yang diolah sendiri dari kebun bapak dan disajikan oleh ibu pada sore hari disaat badan lelah banting tulang seharian di kebun.

Aku selalu menikmati senja yang cerah di kampung sambil bermain bola kaki di lapangan dekat rumahku bersama sahabat.

Mungkin kampung adalah syurga kecil yang dititipkan oleh Tuhan di dunia ini. Tak ada kedamaian yang melebihi sensasi kehidupan di kampung bahkan kemewahan ibukota yang absurb pun tidak sedikitpun mengurangi kerinduanku terhadap kampung halaman.

Mungkin memang kenikmatan itu hadir di dalam sanubari ketika sudah lenyap namun kampung adalah pengecualian karena hati sudah tertambat di ujungnya.

Meski demikian, hidup telah menakdirkanku untuk menjalaninya di ibukota sehingga takdir ini akan kujalani. Kampungku disana akan menjadi pelepas penat setiap setahun sekali.

Aku mencintai kampung begitupun aku menjalani hidupku di kota ini. Kecintaanku sekarang adalah kerinduan yang kutahan setahun akan mengunjunginya. 

April 10, 2013

Surga

di surga aku menunggumu
berharap kedatanganmu dalam damai
di surga aku menantimu
seorang diri
tanpa siapasiapa
11.4.13
00.00

April 9, 2013

Tentang KS yang Kutemui

Percayalah, semua yang terlihat tidak seperti adanya. Sekelumit tentang aktivitasku sehari-hari selama di kota ini. Bukan untuk menghakimi orang lain atau pun bahkan menjustifikasi mereka seperti apa namun tidak lebih hanya pandanganku sekilas tentang mereka, tentang apa yang kulihat seperti yang tidak dilihat oleh orang kebanyakan. 

Baju bukanlah sebagus apa yang dilihat dari luarnya, baju yang sebenarnya melekat di diri kita terletak di dalam hati. Baju yang melekat di jasad amat sangat menipu. Dalam berbagai pengalaman empiris yang saya temua, ada begitu banyak fatamorgana yang ditampilkan oleh penampilan seseorang.

Percayalah.

Tentang KS yang sering kita lihat berpenampilan penuh wibawa di setiap harinya. Bahkan beberapa dari mereka terlihat begitu dihormati, namun kenyataan yang ada di dalamnya membuatku harus berpikir ulang tentang entitas yang mereka sandang. Sekali lagi bukan ranahku menjustifikasi mereka namun mau tidak mau aku melihat dan menyaksikan sesuatu yang paradoks di diri mereka.

Aku tidak bisa merinci seperti apa hal-hal indrawi yang menipu karena biarkan menjadi pelajaran berharga bagiku untuk meningkatkan kualitas diri. Aku hanya ingin menegaskan bahwa ada begitu banyak hal yang tidak bisa dihakimi melalui apa yang ditangkap oleh indra kita.

April 6, 2013

Anti Klimaks

aku tiba-tiba terkesiap, kemarin hari juma't aku chek up ke dokter di depan RSUD Widodo Ngawi. Salah satu dokter yang buka praktek dari pagi sampai sore karena pada umumnya dokter praktek hanya buka sore hari. Nama dokter yang buka praktek di sana Hanan Tresno.

Memang beberapa hari ni, aku merasa kurang sehat. Sesaat setelah dari Yogjakarta hari minggu kemarin, aku langsung ke Surabaya PP mengurus barang kantor yang belum kunjung datang. AC mobil yang begitu dingin mampu meluluhlantahkan pertahanan tubuhku yang beberapa bulan ini kuporsir. Kembali dari surabaya, malamnya aku ke bojoneegoro lagi-lagi mengurus barang kantor yang kececer di sana. Alhasil besoknya, semua sendi tulangku seakan remuk yang kemudian memaksaku harus memeriksakan kesehatanku ke dokter.

Setelah beberapa menit mengitari kota Ngawi mencari dokter yang buka praktek pagi hari, akhirnya aku sampai juga di depan RSUD umum Widodo dan mendapati satu dokter praktek yang buka pagi, saat itu dokternya juga sedang kurang fit namun aku meminta tolong untuk diperiksa. aku memutuskan tidak ke RSU karena administrasi yang berbelit-belit dan antrian yang biasanya cukup panjang. Kupikir keputusan ke RSU memeriksa kesehatan bukanlah keputusan yang bijak karena berbagai pertimbangan diatas.

Setelah menemui dokter tersebut, aku kemudian diperiksa tekanan darahku, sedikit terkejut ketika dokter tersebut mengatakan bahwa tekanan darahku cukup tinggi. Aku kemudian meminta saran makanan apa yang menjadi pantangan untuk menurunkan tekanan darahku namun jawaban yang kuterima dari dokter tersebut adalah ini bukan soal makanan tetapi soal pikiran. Aku disuruh untuk menata pikiranku dan tidak terlalu stres.

Mungkin saja pernyataan dokter tersebut mendekati kenyataan. Dua bulan ini, aku disibukkan sebagai karyawan di sini yang harus ditarget per harinya. Tekanan tinggi dari pihak manajemen perusahaan membuatku harus berpikir keras bahkan kurasa semua kekuatan fisik dan pikiranku kucurahkan untuk memenuhi targetku. Alangkah kejamnya memang aku memperlakukan diriku. Entahlah  namun semoga saja energi yang kucurahkan mendapat balasan dari Allah.

               Saat mendapati diriku terkapar
Ngawi, 4.4.13

April 4, 2013

Serenade

kamis senja
tak puas kumenikmatimu
dengan peluh yang mengucur
mengerang saat bercumbu
lalu diam membisu
larut dalam pikiran yang tersapu angin
kutarik kau dalam dekapanku
tapi kau tepis semua
kurebahkan diriku di bahumu
lagilagi kau menolak
tapi itu yang kuingin
entahlah
sejak aku selalu bermainmain dengan pikiranku
ada saja yang mengusik
namun senja kamis ini
menerbangkanku menjamah setiap mimpiku
oh langit yang biru
diamkanlah aku dalam damai,,

kamis saat senja
4.4.13

April 3, 2013

3 APRIL 2013

untuk pertama kalinya kembali bercuap-cuap di dindingku, menggores setiap jejak langkah dengan barisan kata-kata yang nantinya kan menjadi pengingatku setiap hal yang kulalui sekarang. hampir dua minggu lamanya aku tak menulis apa-apa, ini bukan karena kemalasanku, bukan pula karena kesibukanku yang memang merampas begitu banyak waktuku, namun lebih karena wadah yang tidak ada. tadi sore, petugas telkom baru saja memasang speedy di tempat kami setelah beberapa hari diputus.
begitu banyak hal yang terlewatkan, begitu banyak jejak langkah yang sudah lupa tuk kuabadikan, semua menguap. bekerja di tempat ini benar-benar menguras fisik dan pikiranku, setiap hari mencurahkan semuanya untuk memikirkan hal yang akan aku lakukan untuk pekerjaan in. bukan untuk menyesali semua keputusan yang kuambil untuk bergabung di tempat ini bukan pula mengeluh meberikan sebagian waktuku karena konsekuensinya adalah sebuah kenyataan bahwa perusahaan ini yang menjadi wadah rezekiku namun kutahu berat dan kutahu ada beberapa hal yang mulai melangkahi prinsipku. bertemu dengan orang baru bukanlah hal yang sulit bagiku, menawarkan kerjasama pun adalah sesuatu yang amat sangat kunikmati namun ranah lain telah menjebakku dalam hal yang tidak kusepakati dari dulu.
kerjasama dan reward adalah sesuatu yang lumrah namun menurutku telah menjadi tidak lumrah ketika akan melakukan kerjasama, harus ada pelicin untuk memuluskan kerjasama tersebut dan hal itu yang dilegalkan di tempat perusahaan aku bekerja, meskipun sebuah hal yang legal secara normatif dalam sistem perusahaan namun perasaanku tetap tidak bisa deal dengan hal tersebut. entahlah, sampai kapan aku bisa kompromi with this shit conditons namun aku berharap bahwa secepatnya keputusanku untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan prinsipku.
pekerjaan bukan sebuah hal terpisah dari yang namanya prinsip, mereka harus sejalan tanpa mereduksi satu sama lainnya. hingga akhirnya ketika pekerjaan yang dilewati sejalan dengan prinsip yang dianut maka yang tercipta kita akan mencintai pekerjaan tanpa memperdulikan reward yang akan diterima.
sejak saat menyadari hal tersebut, aku harus tetap berdamai dengan keadaan ini, bukan memaklumi namun tetap menjalani dengan keteguhan hati yang berlandaskan prinsip yang telah kuikrarkan untuk diriku. keutahu kedamaian tidak berasal dari luar, damai yang hakiki adalah damai dalam hati.