menghitung hari dengan semua janji yang telah tersusun rapi di buku agendaku yang mulai usang. menjalani setiap hari-hari dalam rutinitas yang memuakkan. tanpa kata, tanpa apaapa dan bahkan tanpa tujuan yang jelas.
hampir saja aku lupa bernafas
berjalan jauh dengan jalan yang seperti kemarin. mengitari sudut setapak yang nampak memanjang. tak ada semangat bahkan jiwa seakan menguap dan jalan itu tidak memanjang hanya berkelok kembali ke arah yang sebelumnya.
hampir saja aku lupa bernafas
bergelut dengan perasaan. datang melanda dalam arus yang tak menentu. meski kusadar semu dan tak berarti apaapa tetapi selalu saja tak kuasa kumenolak.selalu dan selalu menggiringku ke arah yang sama, arah yang selalu ingin kuhindari. dan perasaan itu membuatku
hampir saja aku lupa bernafas
akhirnya, semua yang keliru menjadi rutinitas. hitam dan putih menyatu menjadi abuabu. tak terbedakan. melenakan memang gelora perasaan itu. setiap yang menyenangkan seringkali adalah abusrb. aku lagilagi tahu akan hal itu. tetapi hanya pada sampai mengetahui dan saat ia datang, aku tergulung arusnya
hampir saja aku lupa bernafas
aku manusia. hidup dalam dunia yang memang sering menawarkan setiap kesenangan yang menguap begitu saja. namun itulah dunia, saat disadari namun semakin kuat menjerat karena kesadaran bukan dalam bentuk pemahaman bahkan hanya katakata namun kesadaran hakekatnya adalah aksi nyata. saat itulah aku merasa
hampir saja aku lupa bernafas
hampir saja aku lupa bernafas
berjalan jauh dengan jalan yang seperti kemarin. mengitari sudut setapak yang nampak memanjang. tak ada semangat bahkan jiwa seakan menguap dan jalan itu tidak memanjang hanya berkelok kembali ke arah yang sebelumnya.
hampir saja aku lupa bernafas
bergelut dengan perasaan. datang melanda dalam arus yang tak menentu. meski kusadar semu dan tak berarti apaapa tetapi selalu saja tak kuasa kumenolak.selalu dan selalu menggiringku ke arah yang sama, arah yang selalu ingin kuhindari. dan perasaan itu membuatku
hampir saja aku lupa bernafas
akhirnya, semua yang keliru menjadi rutinitas. hitam dan putih menyatu menjadi abuabu. tak terbedakan. melenakan memang gelora perasaan itu. setiap yang menyenangkan seringkali adalah abusrb. aku lagilagi tahu akan hal itu. tetapi hanya pada sampai mengetahui dan saat ia datang, aku tergulung arusnya
hampir saja aku lupa bernafas
aku manusia. hidup dalam dunia yang memang sering menawarkan setiap kesenangan yang menguap begitu saja. namun itulah dunia, saat disadari namun semakin kuat menjerat karena kesadaran bukan dalam bentuk pemahaman bahkan hanya katakata namun kesadaran hakekatnya adalah aksi nyata. saat itulah aku merasa
hampir saja aku lupa bernafas
No comments:
Post a Comment