April 27, 2013

Hari Jumat Kemarin

Tidak seperti biasanya, Jumat kemarin aku sudah terjaga pada subuh hari sebelum adzan dikumandangkan sedangkan hari-hari biasanya, aku baru terjaga saat matahari sudah menyinari tempat tidurku bersama kawanku, namun hari kemarin benar-benar membuat hariku bisa menikmati temaramnya cahaya subuh dan desiran angin yang masih segar. 

Aku paksakan diriku bangun dan menuju kamar kecil membersihkan diri lalu menuju masjid di kompleks ini yang hanya berjarak sekitar 20 meter. Rasa kantuk yang datang menyerang kulawan dengan sekuat tenagaku. Selesai shalat subuh, tak ada lagi gairahku untuk melanjutkan tidurku, iseng kunyalakan TV yang berada di kamar kami. 

Sejenak kemudian, berita tentang kematian seorang ustadz Udje memenuhi pemberitaan media massa. Aku sontak kaget ternyata beliau meninggal karena kecelakaan pada sepertiga malam Jumat. Banyak pandangan yang menyebutkan bahwa kematiannya sangat mulia karena meninggal di malam Jumat apatahlagi tepat sepertiga malam, namun itu tidak akan kutanggapi secara berlebihan karena bukan ranahku untuk membahas masalah yang gaib. Satu hal atas kematian beliau adalah banyak hikmah yang kemudian bisa dipetik dari peristiwa ini.

Beliau terkenal sebagai Ustadz yang banyak digemari khalayak umum, bahkan tidak terlepas juga dari gosip miring bahwa bayarannya saat membawakan tausiah begitu mahal. Aku pun mungkin sempat sependapat dengan hal tersebut namun setelah kematiannya dan melihat begitu banyak orang yang mendapat hikmah darinya maka aku tersadar bahwa menjustifikasi orang secar lahiriah adalah hal yang keliru. 

Saat menonton sebuah berita dan melihat ibunya diwawancarai, ada kaliamt yang paling aku suka yang dilontarkan beliau kepada ibunya "kita tidak perlu dekat dengan siapa-siapa, hanya butuh dekat dengan Allah." Terserah setiap orang memaknai kata-kata tersebut, bahkan mungkin ada yang memaknai dengan negatif bahwa dengan itu kita akan menjadi sombong ataupun individualistik namun aku sendiri punya pemaknaan yang berbeda tentang kata-kata tersebut yang tidak akan bisa kuungkapkan dengan barisan kata-kata, bahkan hal tersebut telah kucamkan dalam sanubariku sejak dua tahun lalu saat aku mengalami anti klimaks dalam hidupku. 

Memang benar bahwa kita hanya butuh dekat dengan Allah karena ada masa saat kita terpuruk maka setiap orang akan berjalan membelakangi kita dan mereka akan kembali lagi setelah kita berada di puncak tertinggi. Saat momen itu, benar-benar kurasakan kehadiran Allah di sisiku. aku selalu mengingat momen tersebut sebagai pengingat bagiku bahwa aku pernah berada di kondisi yang di mana tidak ada lagi kekuatan selain Allah. 

Kehampaan menerpaku saat itu selama berbulan-bulan. aku tak sanggup melakukan apa-apa dan hanya terbaring tak berdaya. Hatiku nelangsa dan pada satu kondisi yang terburuk, aku selalu berbisik kepada Allah semoga saja kejadian ini tidak menyusahkan orang tuaku walau bagaimanapun akhirnya.

Kembali ke hari jumat kemarin. Selain Ustadz udje, di samping kontrakan kami juga telah meninggal seorang bapak yang belum kukenal dengan baik. Dari daftar riwayat hidupnya bahwa beliau adalah mantan pejabat di daerah ini. Aku dan temanku ikut melayat sampai di pekuburan. berbeda dengan pemakaman Udje yang ramai diiringi oleh lautan manusia, beliau hanya diantar oleh sedikit orang.

Itulah hari jumat kemarin yang penuh dengan hikmah tentang hidupku. Aku selalu berusaha untuk menghancurkan segala kemelekatan di diriku agar supaya tidak ada yang menghalangi pertemuanku dengan Sang Khalik. 

Kuingat tausiah seorang guruku di makassar yang sering kupanggil dengan sebutan kak Hamzah. Beliau mengatakan bahwa seseorang yang sangat sulit melepaskan rohnya saat sakaratul maut karena dia sudah terpaut dengan duniawi, rohnya bersatu dengan duniawi sehingga saat waktunya harus berpisah dengan  jasadnya, maka rohnya susah keluar karena telah menyenangi dunia. 

Ketika hidup, kita memanjakan roh kita dengan duniawi maka saat sakaratul maut, roh tidak rela berpisah dengan duniawi, berbeda halnya ketika hidup kita memanjakan roh kita dengan mengingat Allah maka saat sakaratul maut, roh kita dengan sangat ikhlas berpisah dengan duniawi dan menuju kehadapan Allah yang merupakan tempat kembali. itulah yang dinamakan dengan husnul khatimah.

Aku tahu masih sangat jauh dengan hal tersebut. hidupku masih penuh dengan perhitungan untung rugi bahkan kecintaanku pada dunia yang absurd masih sangat tinggi. Ketika menolong pun masih sering ku kalkulasi dengan perhitungan untung rugi bahkan ketika itu temanku sendiri.

min, belajar lagi, belajar jadi manusia....!

No comments: