June 15, 2023

Perang (15)

Sangat sulit untuk membayangkan dunia tanpa peperangan karena sejarah manusia adalah sejarah tentang peperangan. Sejarah tersebut memberikan kita pesan bahwa peperangan akan selalu menjadi ancaman nyata bagi eksistensi manusia. Ancaman yang sebenarnya diciptakan sendiri oleh para elit untuk melanggengkan kekuasaannya. 

Terlalu jauh menarik ke masa perang dunia, cukup pada dua tahun terakhir maka kita tidak lagi kaget mendengar bahwa peperangan masih terus berlangsung antar sesama makhluk yang bernama manusia. Mereka saling membunuh untuk menancapkan eksistensi mereka di bumi ini sementara jalan lain sangat terbuka lebar. Tetapi begitulah adanya bahwa perang memang sesuatu yang nampaknya niscaya terhadap keberadaan manusia.

Dalam diskursus ilmu hubungan internasional, dikenal dua paradigma klasik dalam menganalisis politik internasional yaitu liberalisme dan realisme. paradigma terakhir menempatkan perang sebagai hal yang lumrah dan bisa ditempuh untuk mempertahankan eksistensi negara termasuk mencapai kepentingan nasional suatu negara. Dari hal tersebut, bisa tergambar bahwa memang perang menjadi salah satu metode manusia untuk mencapai kepentingannya apapun bentuknya.

Berita tentang perang selalu saja menghiasi pemberitaan kompas tentang kondisi global. Hari ini saya membaca dua berita yang sangat erat kaitannya dengan perang. Berita pertama dari perang Ukraina-Rusia yang tak kunjung diselesaikan oleh masing-masing pihak. Di berita tersebut disebutkan bahwa duta besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin, mengklaim kekuatan Rusia mulai memudar. Klaim Vasyl berangkat dari pernyataan Vladimir Putin yang mengkhawatirkan serangan balik dari Ukraina.

Apakah klaim dari Vasyl dapat divalidasi bahwa kekuatan Rusia memang sudah memudar? Tentu masih sangat prematur karena begitulah tugas dari para elit negara yang sedang berkonflik. Mereka akan melakukan serangan wacana untuk mendeligitimasi lawannya meskipun kondisi di lapangan tidak demikian adanya.

Berita kedua tentang seperempat ekspor senjata Israel mengalir ke Arab khususnya Maroko, UEA, Sudan, dan Bahrain. Saya tidak kaget ketika membaca berita ini karena sebelumnya, saya mengangkat topik ini pada penelitian tesis saya. Normalisasi Israel dengan keempat negara Arab tersebut sudah saya paparkan secara detail di tesis saya bahwa hakekatnya, implikasi dari normalisasi tersebut salah satunya terkait perjanjian dagang dan bantuan.

Peningkatan ekspor senjata Israel ke Arab dikhawatirkan akan mempengaruhi geopolitik Timur Tengah karena kawasan ini merupakan kawasan paling rawan perang. Selain itu, secara logika sederhana bahwa Israel mengekspor senjata ke negara Arab tentunya memiliki kalkulasi bidang keamanan bahwa tidak mungkin keempat negara Arab tersebut akan menyerang balik Israel dengan senjata yang dibeli dari mereka, kemungkinan besar dalam konstelasi yang melibatkan Israel, negara-negara yang menerima senjata dari Israel akan membantu Israel.

Perang yang terus berlangsung karena hasrat dari para elit politik namun mayoritas korban berasal dari masyarakat sipil.

#15 2023

No comments: