Konon di Jerman, sangat mudah ditemui tempat yang terpampang tulisan "Gewalt ist die Waffe der Wache" yang mungkin secara sederhana dapat diartikan bahwa kekerasan merupakan senjata bagi si lemah. Selain kekerasan, orang lemah biasanya membangun aliansi untuk memvalidasi diri mereka menjadi kuat meskipun pada dasarnya sangat rapuh.
Zaman sekarang, sangat mudah menjumpai orang yang melakukan kekerasan terhadap orang lain karena merasa punya power dan dominasi sehingga dengan mudahnya mampu melakukan tindakan kekerasan fisik. Kemudian setelah apa yang diandalkan sudah hilang, maka dia hanya bisa tertunduk sambil menyesali tindakannya.
Beberapa bulan yang lalu, media nasional dihiasi dengan berita tentang salah seorang anak pejabat Bea Cukai yang dengan arogannya melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain dan merasa bahwa dia tidak akan bisa dihukum karena menyadarkan kekuatannya kepada bapaknya. Alhasil, bukan hanya dia harus harus mendekam di jeruji penjara namun ayahnya juga harus menginap di balik jeruji karena terbukti mengumpulkan kekayaannya melalui tindakan korupsi.
Jika di perusahaan kita bertemu dengan pimpinan yang kerjanya suka memarahi bawahan maka dapat dipastikan bahwa pimpinan tersebut tidak percaya terhadap kemampuan dirinya sehingga menutupi kelemahannya dengan cara marah. Hal yang sama ketika berada di dunia pendidikan, jika seorang pendidik tidak memberikan ruang diskusi kepada anak didik dan selalu mengedepankan sikap memerintah, dapat dipastikan bahwa si pendidik tidak percaya akan kemampuannya.
Lihatlah masyarakat US yang dibebaskan untuk memiliki senjata dan seringkali terjadi tindakan kekerasan menggunakan senjata. Mereka sebenarnya lemah sehingga menyandarkan kekuatan pada senjata yang dimiliki.
Orang yang merasa mempunyai power untuk melakukan tindakan apa saja terhadap orang lain, sebenarnya orang yang lemah. Orang yang paling kuat adalah mereka yang memiliki kekuataan namun memilih untuk diam dan tidak terlihat.
Wibawa tidak dibangun dengan cara mengancam dapat merupakan cerminan dari kemampuan kita untuk memperlakukan orang lain sesuai porsinya.
Dalam studi ilmu HI, Nicollo Machievelli dan Thomas Hobbes menjadi dua tokoh penting yang tidak berpendapat bahwa perang adalah hal yang wajar bagi negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya.
#18 2023
No comments:
Post a Comment