Kemarin saya ikut pengajian Asep Rahmat. Ada salah satu kisah yang beliau ceritakan yang sangat berbekas di memori saya. Beliau berkisah bahwa di tahun 2012 saat melaksanakan umrah, beliau menyempatkan ke Yordania. Saat sedang berada di ruang tunggu bandara Yordania, beliau duduk tidak jauh dari 4 orang arab yang merupakan satu keluarga. suami, istri dan kedua anaknya. Pakaiannya lengkap selayaknya orang arab.
Layaknya orang Indonesia yang suka menyapa orang lain meskipun tidak dikenal, beliau menyapa si bapak dengan sapaan standar, menanyakan kabar dan asal dari mana. keluarga tersebut ternyata berasal dari Ramallah, salah satu daerah yang selalu membara dengan konflik.
Si bapak tersebut yang lengkap dengan jubah orang arab pada umumnya kemudia menebak asal ust. Asep "dari Kuala Lumpur ya?" tebaknya. Tidak, saya dari Indonesia.
Mendengar kata Indonesia, si bapak yang duduk sekitar 4 kursi dari ust. Asep langsung berdiri dan memeluknya sambil mengusap kepala ust. Asep. Salah satu budaya orang Arab yang menunjukkan keakraban dan rasa sayang adalah mengusap kepala.
Terucap kalimat terima kasih dari mulut si bapak Arab sambil berkata bahwa Indonesia sudah begitu banyak mebantu Palestine mulai dari membangun sekolah, rumah sakit, fasilitas lain serta bantuan lainnya.
Sepersekian menit, terdengar panggilan untuk boarding tujuan ke Kuala Lumput karena keluarga tersebut hendak ke Kuala Lumpur. Salah seorang anak menghampiri mereka mengingat bahwa pesawat sudah sebentar lagi akan berangkat.
Si bapak kemudian pamit dan sekilas mata ust. Asep melihat istri si bapak yang dari tadi duduk membaca kemudian bangkit berdiri, dan di sinilah satu hal yang snagat berkesan. Saat berdiri, kalung salib besar yang dikenakan oleh istri si bapak keluar dari jubahnya. Ust Asep juga baru menyadari bahwa bapaknyang tadi memeluknya menggunakan salib tetapi lebih kecil.
Ust Asep kemudian menyadari bahwa simbol pakaian syar'i yang kita kenal di Indonesia sebenarnya bukan murni identitas Islam tetapi identitas Arab karena kaum Nasrani Arab juga memakai pakaian yanv persis sama dengan orang Islam sementara mayoritas orang Indonesia menganggap bahwa pakaian seperti itu merupakan identitas Islam.
Kisah ust Asep juga mngafirmasi penelitian saya tentang konflik Palestina Israel bahwa konflik tersebut bukan karena faktor agama. Keluarga tadi yang merupakan orang Palestine-Nasrani pun merasa terbantu dengan Indonesia dan juga merasakan dampak invasi dari Israel.
#20 203
No comments:
Post a Comment