October 29, 2015

Rute Hidup

Mampang selalu mengawali hariku disetiap paginya. ada dua rute hidup yang membuatku selalu sadar bahwa tidak ada yang benar-benar berubah dalam hidup ini hanya saja perpindahan kondisi. rute yang semakin mengakrabkanku dengan ibukota yang penuh dinamika dan sensasi hidup. Saya selalu percaya bahwa ibu kota mempunyai sensasi hidup tersendiri karena jikalau selama ini kita berkontemplasi di keheningan pedesaan atau kondisi yang tenang, maka ibu kota menawarkan hal lain, Saya seakan dihadapkan dengan situasi yang padat dan harus tetap fokus dan kontemplasi ditengah hiruk pikuk manusia, itu sensasinya.

kembali ke rute hariku. jika isteriku sedang tidak keluar kota maka hariku kumulai dari Mampang Prapatan VII depan 7-11 kemudian belok ke kiri menuju Bilangan Rasuna Said.saya akan selalu tertahan lebih lama di daerah Mampang karena jalanan ini memang salah satu titik macet paling jahannam di ibukota bahkan macetnya tidak kenal waktu. setelah lepas dari lampu merah dekat halte busway kuningan timur, jalanan mulai lengang. menuju kantor putar balik di depan itc Kuningan ke arah Mall kokas melewati 3 jalan flyover kemudian belok kiri ke arah halte busway pedati prumpang. di daerah ini lumayan padat setelah sebelumnya jalanan lengang dari arah Mall Kokas. sekitar 20 meter dari halte tersebut, Saya belok kiri ke arah Cipinang kemudian belok kanan di lampu merah melewati jalanan depan Rutan Cipinang. belok kiri di lintasan Rel kereta ke arah pasar Rawamangun. 

Rute kedua ketika Saya tidak mengantar isteriku berlawanan arah dari yang kulewati saat berangkat bersama isteri. Saya keluar dari mampang kemudian belok kanan ke arah halte imigrasi. jalanan disini lengang karena kepadatan berasal dari arah cilandak sedangkan Saya berlawanan arah dengan kemacetan. setelah melewati halte Imigrasi, Saya belok kanan di lampu merah menuju TMP Kalibata, daerah kalibata lumayan padat. Saya belok ke kanan di lampu merah TMP kalibata. di pertigaan, dewi sartika, saya ke kanan ke arah RS Budi Asih. di persimpangan bawah flyover dekat kantor Asuransi Himalaya, Saya ke kanan arah halte Busway BNN kemudian jalanan menurun dan belok kanan. lurus terus sampai ketemu dengan halte busway pedati prumpang seperti rute pertama.

untuk rute pulang hanya satu. Saya akan melewati jalanan samping Rutan Cipinang ke arah sate Giyo kemudian ke kanan dan melanggar jalanan untuk berputar arah ke arah tebet melewati kolong jalanan. sesampai di turunan flyover samping stasiun tebet, Saya ke  kiri menuju Saharjo. setelah perempatan Indomaret dan Sevel di Saharjo, Saya ke arah kanan menuju pancoran. jalanan paling padat kutemui di jalanan  ke arah patung pancoran bahkan seringkali kendaraan mulai merangkak pelan saat baru di depan RM Mie Aceh. kerjadi keruwetan di pancoran bawah patung Pancoran. Saya harus bersusah payah keluar dari perangkap macet sebelum ke arah tegal parang. tidak ada jalur lain yang lebih dekat ke rumah memaksaku untuk tetap melewati pancoran. sesampai di Tegal Parang, belok ke kiri jalanan ke arah Mampang Prapatan kemudian pada akhirnya keluar dari lampu merah dekat Sevel Mampang menuju rumah.

Membayangkan jalur tersebut sudah membuat napas Saya tersengal-sengal apatahlagiketika melaluinya. 

oh, no. kemacetan dan kepadatan di kota ini benar-benar luar biasa namun satu hal yang membuatku selalu tidak mood ketika pengendara melancarkan intimidasinya dengan cara bersahut-sahutan membunyikan klakson sementara mereka tahu sedang terperangkap dalam macet ataukah mereka mengira dengan klakson,macet tiba-tiba saja terurai. entahlah namun ujian klakson benar-benar menjengkelkan

Mampang, 30 Oktober 2015

No comments: