October 27, 2015

Puya ke Puya

Judul : PUYA ke PUYA
Penulis : Faisal Oddang
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Oktober 2015
Tebal : 218 Hal


Berjumpa dengan novel ini sebenarnya adalah sebuah kebetulan belaka atau paling tidak kalau menurut kaum Sufi tidak ada yang kebetulan di dunia ini maka anggaplah Saya memang ditakdirkan untuk membaca Novel ini. berawal ketika Saya iseng memelototi facebook, Saya tetiba melihat sampul novel ini yang terpampang di beranda seorang senior yang paling tidak mempromosikan novel yang terbit bulan ini. 

Saya kemudian membaca prolog dari senior tadi tentang novel ini dan mulai sedikit tertarik ketika mengetahui bahwa latar dari cerita di novel ini adalah Toraja yang notabene amat sangat dekat dengan kampung saya bahkan berbatasan. 

Hasrat Saya membaca novel ini semakin membuncah ketika tahu bahwa penulisnya seorang mahasiswa UNHAS yang berasal dari Wajo. Saya selalu tertarik membaca karya orang yang setidaknya berasal dari kampus atau provinsi yang sama, entah kenapa.

Puya dalam bahasa Toraja adalah Syurga atau Nirwana.

Novel ini bercerita tentang adat yang masih dijunjung tinggi di Toraja yaitu upacara kematian kematian. tokoh utama di novel ini adalah keluarga Rante Ralla yang merupakan keturunan Ningrat. Rante Ralla mempunyai isteri yang bernama Tina dan 2 orang anak yaitu Allu Ralla dan Maria Ralla sayangnya Maria meninggal saat masih bayi.

Cerita novel ini berawal ketika Rante Ralla meninggal setelah berpesta ballo dengan Pak Soso dan Mr. Berth yang merupakan petinggi perusahaan tambang Nikel di kampung Rante. Masyarakat mengira bahwa Rante meninggal dengan wajar meski kenyataannya, Dia diracun oleh Pak Soso dan hanya Isterinya yang tahu akan hal tersebut.

Allu yang merupakan anak tertua dari keluarga Ralla sedang dalam tahap akhir menyelesaikan kuliahnya namun setelah dia mendapat kabar bahwa ambe'nya meninggal, Bapak dalam bahasa Toraja, Allu memutuskan untuk pulang kampung dan membulatkan tekad menguburkan Ambe'nya di Makassar karena dia sadar bahwa jika dimakamkan di Toraja, akan memakan biaya yang sangat besar. adat kematian di Toraja yaitu Rambu Solo adalah upacara kematian besar-besaran apatahlagi jika yang meninggal adalah keturunan bangsawan.

kebulatan tekad Allu untuk menguburkan Ambe'nya di Makassar sudah tidak bisa dikompromikan lagi meskipun mayoritas keluarga besarnya menentang seperti paman Marthen dengan alasan jika tidak diupacarakan maka sama saja menodai nama besar keluarga yang merupakan keturunan Bangsawan.

Malena adalah anak pak kades yang merupakan cinta lama si Allu dan sampai sekarang dia masih mencintainya meskipun Allu sudah punya pacar di Makassar. Malena tiba-tiba saja datang dan menawarkan racun dalam bentuk madu kepada Allu. Pak Kades yang bersekongkol dengan pihak perusahaan Tambang paham bahwa Allu akan melakukan apa saja jika Malena yang memintanya.tiba-tiba saja Malena hadir dan mengatakan cinta kepada Allu dan mengajaknya menikah. 

Sebagai lelaki yang masih merawat kenangannya tentang cinta pertama, Allu dimabuk kepayang. Tanpa ba-bi-bu, Allu mengiyakan kemudian menyampaikan niat menikahi Malena kepada Indo'nya. pada dasarnya, Indo'nya merestui namun adat Toraja pantang mengadakan "Rambu Tuka" sebelum diadakan "Rambu Solo."  

Meskipun Allu sama sekali sudah tidak setuju dengan adat yang kaku dan menurutnya sangat memberatkan namun mau tidak mau, dia berpikir keras untuk mengadakan "Rambu Solo" pemakaman Ambe'nya. niat untuk menguburkan ambenya di Makassar pun sirna. di kepala Allu saat ini adalah bagaimana mencari dana yang jumlahnya di luar kemampuannya untuk membiayai acara pemakaman Ambenya. disaat seperti itu, pihak Tambang Nikel yang memang dari dulu mengincar Tongkonan keluarga Rante Ralla untuk akses ke lokasi tambang datang menawarkan dana yang lumayan besar kepada Allu dengan imbalan mau menjual Tongkonan tersebut.

Tanpa sepengetahuan Indo'nya, Allu menjual Tongkonan tersebut untuk dana Rambu Solo Ambe'nya. singkat cerita, semua berjalan sesuai rencana dan persiapan Rambu Solo sudah dalam tahap 90%. saat rapat keluarga Ralla, Indo'nya Allu mengetahui bahwa semua dana Rambu Solo suaminya didanai dari hasil penjualan Tongkonan. Indo'nya Allu mengamuk dan marah besar saat rapat keluarga. dia memaki Allu yang tidak mau mempertahankan Tongkonan dan dia membuka rahasia yang selama ini disimpannya bahwa Rante Ralla meninggal karena diracun oleh pihak Tambang. 

Semua keluarga marah besar dan mengadakan penyerangan terhadap pihak tambang. Allu bahkanberlipat kemarahaannya saat mengetahui Malena hanyalah memanfaatkan dirinya supaya mau menjual Tongkonan karena sejatinya Malena dijadikan umpan oleh pihak tambang untuk membujuk Allu menjual Tongkonan.

Novel ini menggambarkan bagaimana sebuah adat yang memberatkan seharusnya tidak melulu untuk ditaati dan juga bahwa di novel ini, tersirat sebuah pesan bahwa adat dilestarikan oleh sekelompok orang ataupun instansi untuk mendapatkan keuntungan, meski tidak bisa pula dipungkiri bahwa selalu ada nilai-nilai luhur dalam setiap adat yang diwariskan.



Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik meski ada bagian yang tanggung dari segi ceritanya. menurut saya bahwa alasan keputusan Allu amat sangat sederhana menjual Tongkonan yang sebelumnya amat sangat dipertahankan hanya gara-gara ingin memiliki dana untuk menikahi Malena. apatahlagi setelah keduanya sudah lama tidak pernah bertemu bahkan menurutku, sangat naif jika Allu tidak mengetahui intrik Pak Kades yang merupakan ayah Malena untuk begitu saja menyetujui pernikahan Malena dengan Allu sedangkan dari awal, Allu sudah tahu bahwa Pak Kades berada dipihak Tambang.


Overall, Faisal luar biasa dengan beberapa karyanya salah satunya novel ini diusia yang masih belia saat umur seperti dia, Saya masih sibuk dengan hal yang tidak penting di kampus.

Jakarta, 29 Oktober 2015

No comments: