January 1, 2015

Kawan yang Kukenal

Hidup adalah tentang berperasaan dan menghargai.

Hidup adalah tentang bagaimana menganggap setiap orang apatahlagi bagi orang yang pernah dijumpai dan berteman. Bukan apa karena ada saja hal yang merusak setiap hubungan yang pernah terjalin, entah itu intim ataupun hanya sekedar sebagai kenalan biasa.

Aku adalah salah satu orang yang berusaha untuk menghargai setiap orang yang pernah hadir dalam kehidupanku. Aku tidak akan pernah melupakan bahkan saat ruang yang membatasi. Meski terkadang orang yang dianggap kawan seringkali tidak beranggapan seperti itu terhadap kita.

Lupakanlah tentang keberhasilan yang kita raih dan tentang nama besar yang melekat bahkan popularitas yang menjulang ketika saat itu masih ada perasaan tidak menghargai. Aku mungkin terlalu berperasa atau bahkan terlalu berbasa basi namun tidak pernah ada tertinggal rasa dendam dalam hati.

Aku mengenal beliau sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di kampus merah, bahkan siapa yang tidak mengenal beliau dikalangan mahasiswa baru sebayaku. Mantan pimpinan organisasi dan terkenal kritis di kampus adalah modal menjadi terkenal sebagai mahasiswa panutan. Lama kelamaan aku pun arab dengannya. Banyak belajar kepadanya. Itu yang aku ingat dari memori keberkenalan kami di kampus merah.

Akhirnya beliau menjadi dosen dan menikah dengan seniorku pula. Dua senior yang kuhormati. Kemudian mereka mempunyai anak yang keren dan kutahu itu karena paradigma mereka yang keren pula dalam mendidik anak-anak mereka.

Meski ruang yang terlalu jauh untuk berinteraksi, aku masih sering stalking sosmed miliknya ataupun blog pribadinya karena kekagumanku terhadap cara berpikirnya. Benar saja, blognya dipenuhi dengan tulisan-tulisan yang sangat inspiratif. Aku akui beliau memang piawai dalam menuliskan kisah entah itu kisah anak-anaknya atau setiap momen yang dijumpai dalam kehidupannya. Bahkan sampai sekarang aku masih merasa dekat dengannya.

Sampai akhirnya tadi, aku menelepon seorang kawan yang kebetulan nginap di rumahnya. Bercerita panjang lebar. Saat asyik bercerita, kawan tersebut memintaku berbicara dengan beliau. Namun tak terduga, beliau katanya tidak mau bicara denganku. Entahlah apa alasannya bahkan sekedar berbasa basi pun beliau tidak sudi. Semua hal mengenai dirinya langsung luntur di kepalaku. Meski aku akui beliau keren dalam setiap pemikirannya namun ada hal kecil dalam hal penghargaan yang beliau tidak lakukan. Apa salahnya berbasa-basi atau sekedar menanyakan kabar.

Aku bandingkan dengan beberapa rekan sejawatnya yang masih di Jogjakarta, bahkan mereka bisa menghargai dan saat kutelepon masih berbasa-basi denganku. Atau mungkin beliau menganggap bahwa tidak ada yang penting untuk dibicarakan denganku dan hanya menghabiskan waktunya. Ah terlalu naif kurasa mengingat selama ini beliau memaklumatkan dirinya sebagai orang yang peduli terhadap siapa saja.

Setelah ini, mungkin saja ada hal yang bisa kupetik bahwa belajarlah untuk menghargai siapapun. Tidak mesti dengan menunjukkan kepedulian yang retorik namun cukup menyapa setiap orang.
Ah sudahlah. Semua orang punya persepsi masing-masing.

Beliau yang sering dipanggil dengan sebutan kmrd
010115 22:05

No comments: