February 10, 2013

Tentang Selera

Ini cerita tentang selera, tentang bagaimana kita menyikapi setiap selera individu yang ada. sering kali ketika kita berbeda selera dengan seseorang maka dengan angkuhnya kita selalu mencari kekurangan tentang seseorang tersebut. selera menurutku adalah hal yang terbentuk pada diri setiap individu karena beberapa alasan termasuk salah satunya adalah pengalaman masa lalu. tentang bagaimana dicekoki sesuatu pada masa kecilnya maka hal tersebut akan terukir dalam dirinya dan menjadikan sesuatu tersebut sebagai hal disukai atau dibenci.

Kumulai pertama dengan selera musik. dengan jujur kukatakan bahwa aku suka dengan beberapa genre musik termasuk musik yang dianggap sebagai musik orang kampung. aku suka sekali musik malaysia dan dangdut. itu pengakuan jujurku. bukan tanpa alasan kenapa aku tiba-tiba suka musik tersebut, kuingat dengan sangat jelas bahwa pada masa-masa SD, orang-orang di kampungku doyan akan musik tersebut, setiap rumah sering memutarnya pada pagi dan sore hari. 

Kumpulan pemuda yang nongkrong di malam hari sering kali bernyanyi bersama menyanyikan genre musik tersebut. lama kelamaan aku pun suka akan kedua musik tersebut terutama musik malaysia bahkan sampai sekarang. Ada beberapa lirik lagu yang masih segar dalam ingatanku. lalu kemudian saat kuliah dan bertemu dengan beberapa orang dari belahan daerah lain, ternyata selera musik kami berbeda, kebanyakan dari mereka suka lagu impor nan cadas, reggae, hardcore, atau apapun itu. saat berbicara tentang musik, aku harus siap-siap dicemooh habis-habisan karena selera musikku yang dianggap kampungan. 

Awalnya, aku bahkan berpura-pura untuk menyenangi setiap lagu yang diputar, aku harus googling mencari informasi tentang band luar yang menjadi mainstream meskipun kutahu, sama sekali aku tidak menikmatinya, bahkan lebih lucunya, saat menginap di kampus, aku memutar lagu yang kusukai sejak kecil saat sudah sepi. 

Lama kelamaan, aku kemudian berfikir apa salahnya berbeda selera dengan mereka, toh meskipun begitu, aku tidak merugikan mereka.musik adalah untuk dinikmati. terkadang juga, mereka suka musik yang resist sehingga musik pinggiran dianggap kolot. aku kemudian berpikir bahwa meskipun suka dengan musik perlawanan namun tidak serta merta mereka menjadi bagian dari itu karena perlawanan terhadap segala bentuk penindasan bukan labelitas, dia teridentifikasi dari gerak nyata tanpa melihat sesuatu yang sifatnya normatif.

Tentang selera yang kedua adalah klub sepakbola atau bahkan pemain kesukaan, terkadang waktu habis hanya untuk memperdebatkan klub mana yang paling unggul, pemain mana yang paling jago bahkan harus saling menjegal. terus terang aku bosan dengan semua perdebatan tentang selera yang sifatnya subjektif, tentang mana yang lebih keren.

banyak lagi selera yang kemudian terkonstruksi di dalam setiap pikiran individu yang berbeda-beda tanpa harus mendiskreditkan selera orang lain.
10-2-13

No comments: