Setelah bekerja dua minggu di kota ini, interaksi dengan para guru adalah keharusan buatku untuk melakoni kerja ini. sebenarnya tidak ada yang menjadi masalah bahkan sebaliknya sangat menikmati pekerjaanku yang selalu mengitari setiap sekolah di kota ini. bercerita panjang lebar dengan setiap orang yang baru kukenal, sesekali curhat tentang nasibku sebagai perantau, namun terlepas dari semua itu, sensasi menjalani pekerjaan ini membuat adrenalinku semakin terpacu. Semua hal yang menjadi batu sandungan kuanggap sebagai lelucon belaka tanpa harus mundur selangkah pun dari apa yang teah menjadi komitmenku sekali pertama aku menjejakkan kakiku di tanah ini.
Bercerita tentang setiap hal bukanlah sesuatu yang amat sangat sulit kulakukan, aku tipe orang yang suka bercerita tentang apa saja, tentang setiap hal yang sifatnya pribadi dan terhadap orang baru kukenal. namun tadi menjadi kejadian yang hampir saja membuatku mengumpat sepanjang hari, bagaimana tidak, sejak tadi malam, aku sudah menyusun setiap detail rencanaku untuk mengunjungi setiap sekolah yang ada di disini dengan harapan bahwa pihak sekolah kan menyambutku dengan senyum penuh persahabatan, bahkan beberapa sekolah yang akan kukunjungi adalah sekolah berbasis Agama.
Pagi buta, aku dan keempat temanku sudah siap menyambut hari ini dengan melakoni rutinitas kami menyambangi setiap sekolah, aku bertugas mengunjungi semua sekolah SMP sederajatnya. Kumulai kunjunganku di MTSN ngawi, setelah berada di depan sekolah, aku menuju ke ruang kantor, sejenak kuamati setiap guru di dalam ruangan mereka yang hanya sekitar 4 orang, kutanya tentang keberadaan kepala sekolah kepada seorang guru yang sedang asyik bercengkerama dengan komputernya, kuperkenalkan diriku dari salah satu penerbit, saaat itulah raut mukanya langsung berubah menjadi masam dan dengan sinisnya mengatakan bahwa kepala sekolah sedang tidak ada di ruangannya kemudian melanjutkan aktivitasnya dnegan layar komputer.
Aku kemudian menuju ke meja salah seorang ibu guru, tanggapan yang dingin pun dari ibu guru itu, dalam hatiku mulai mengumpat tentang mereka yang begitu sangat tidak menghargai keberadaanku. aku kemudian pamit dengan muka masam. hatiku muali tidak mood saat pagi-pagi langsung mendapat sambutan yang sangat tidak bersahabat dengan guru di MTSN ngawi. aku kemudian menata hatiku dan mulai menganggapnya sebagai angin lalu.
Aku kemudian mengarahkan motorku ke SMPN 4 ngawi, di sekolah ini, aku kembali mendapat respon yang sama, saat berada di ruangan guru, para pengajar tersebut sedang menikmati adonan kue karena berhubung ada acara sekolah, lagi-lagi aku dikacangi, hanya ada salah satu gur yang menegurku dan menyuruhku untuk menunggu guru penanggung jawab buku yang ingin kutemui, setelah mempersilahkanku menunggu, dia kembali asyik dengan rekannya menikmati makanan yang ada di ruangan tersebut, alih-alih mengajakku mencicipi, diajak bicara pun tidak. Sesaat kemudian, pak priono datang dan menyambutku dengan senyuman, mulai hatiku sedikit terobati dengan sambutan dari pak priono.
Aku keluar dari sekolah tersebut kemudian meluncur ke arah kecamatan paron untuk melanjutkan perjalanan ke SMPN 1 Paron. Sesampai di sana, ternyata bapak kepala sekolah juga tidak ada, namun bukan itu yang menjadi masalah, aku mendapati seorang guru yang amat sangat tidak bersahabat menurutku. Setelah menginfokan bahwa bapak kepsek tidak ada, dia kemudian bercerita panjang lebar yang seakan tidak menginginkan kehadiranku. Sesekali kutanggapi namun dia menanggapi balik dengan nada yang sinis, mulai naik tensi egoku dan sedikit berdebat dengannya namun sesaat kemudian, kusadari bahwa tidak ada artinya menanggapi semua penjelasannya yang sinis terhadapku.
Kucoba untuk mengatakan kepadanya bahwa besok aku akan datang lagi jika kepala sekolah sudah masuk namun kemudian ditanggapi bahwa tidak ada gunanya karena setiap sekolah sudah tidak menjual buku. Kukatakan kepadanya bahwa aku datang ke sini tujuannya untuk silaturrahim namun dia menimpali dengan amat sangat menyinggung bahwa silaturrahim hanyalah kedok namun intinya pasti akan menawarkan penawaran buku. Aku sadari itu tapi tidak seperti itu menyambut tamu, pak.
bapak, ibu guru yang tadi siang sinis terhadapku
belajarlah menghargai,,
kalian adalah pendidik,,
bahkan panutan bagi setiap anak murid,,
14.02.13
No comments:
Post a Comment