ketika bergumul denganmu siang itu, sering kudiam, namun bukan berarti ku terpaku dalam bisu,
lebih karena ingin menggali hikmah darimu, sesekali berfikir keras. ketika tak kumengerti hatimu.
meski saat itu, awal takdir menemukan kita.
kurus, sederhana, dan ramut yang menjuntai tak tersisir.
itulah sosokmu, penuh dengan kesederhanaan,
tapi kutahu
tidak sesederhana kepalamu
yang telah lepas dari belenggu belenggu palsu, engkau menancapkan dirimu dalam dunia
dengan hati yang bebas
tanpa seorangpun yang menggangumu
citamu adalah kerjamu yang bukan hanya di mulutmu
tapi gerakmu menjawab impianmu, sampai semuanya manggut manggut
setelah kemarin sore mencemohmu
tapi mereka dengan begitu cepat menyanjungmu, saat ini
06.02.13
No comments:
Post a Comment