Pagi ini, sebenarnya aku ingin belajar berpuisi ria yang kutahu endingnya pasti tidak jelas maknanya seperti puisi-puisi yang sebelumnya kutulis. sambil mencari referensi puisi di beberapa blog yang aku ikuti, aku menelusuri setiap genre puisi namun tidak ada satupun jenis puisi yang berhasil membangkitkan gairahku untuk menulis puisi hanya keinginan dari hati saja menurutku. benar-benar pujangga amatiran.hehe.
Selang beberapa saat, aku membuka blog salah seorang perempuan yang sudah kukenal karena dia juga berasal dari kampus yang sama denganku. perempuan itu adalah pacarnya salah seorang kakak angkatanku di UNHAS. entah bagaimana awalnya, saya merasa tertarik saja dengan tulisan-tulisan hariannya yang dikemas dengan sangat sederhana, namun penuh makna, berbobot dan penyampaiannya yang amat sangat jujur nan menyentuh hati.
Awalnya kukenal dia saat masih kuliah dan sering ikut aksi jalanan. dia tergabung di salah satu organ kampus yang dikenal cukup militan apatahlagi seniorku yang nota bene adalah pacarnya merupakan ketua dari organisasi tersebut. alhasil kami sering bertemu di jalanan saat aksi namun kuyakin dengan sangat bahwa dia tidak mengenal aku bahkan aku pun mengenalnya karena dia pacaran sama seniorku tersebut.
Blognya amat sangat sederhana dan tidak menampilkan kesan rebel nan menakutkan alias mengerikan seperti beberapa blog konco-konconya yang sama-sama tergabung di organisasi tersebut. tak ada kesan sok rebel di beberapa tulisannya. saat ini aku percaya bahwa segala bentuk perlawanan terhadap setiap hal meski itu sistem harus dimulai dari hati tanpa harus lebay mengkalim diri kita rebel atau radikal atau subversif atau apapun istilahnya dan nampaknya seperti itulah dia.
Bertemulah dia dengan seniorku yang memang sangat baik. kuyakin mereka serasi. tentang seniorku tersebut, kuyakin bahwa setiap orang pernah dekat dengan seniorku tersebut pasti dibuat terkagum-kagum. Bagaimana tidak, disamping tingkat kecerdasannya yang diatas rata-rata bahkan semua hal kayaknya ditahu namun yang lebih bahwa dia pribadi yang sangat baik hati. semua orang yang pernah dekat dengannya tahu akan hal itu. dia memegang prinsip diyakininya.. keren memang ini orang.
Dulu saat masih aktif kuliah, aku sebenarnya tergerak ikut di organisasi yang mereka geluti namun ada sebuah hal yang akhirnya mengurungkan niatku untuk bergabung. organisasi tersebut sangat kritis dan sarat akan berbagai ilmu di dalamnya tapi satu hal yang membuatku ragu adalah labelitas kadernya yang seakan terlalu menggandrungi pemikiran-pemikiran impor yang menurutku sudah tidak terfilter lagi sampai harus melupakan semua kearifan yang telah dibekali oleh orang tuaku semasa kecil.
Itu anggapanku saat dulu meski kutahu bahwa banyak dari produk organisasi tersebut yang kemudian menjadi sangat baik. aku bahkan sangat suka dengan kegiatan mereka, dengan setiap aktivitas yang dilakukan oleh organisasi tersebut namun saat menyentuh ranah dengan Tuhan, mereka kelihatan sangat skeptis bahkan menyepelekan hal tersebut dan terkadang mengumpat. tidak mengherankan karena mereka dijejali dengan bacaan-bacaan materialisme, walau begitu tidak semua dari mereka seperti itu.
kuingat pula saat dulu, seniorku yang mantan ketua organisasi tersebut berujar kepadaku bahwa tidak semua orang yag tergabung di sana berwatak baik.
Kembali ke perempuan tadi yang merupakan pacar dari seniorku. saat membaca tulisan-tulisan hariannya yang sederhana, aku menyadari bahwa ternyata dia sangat sederhana dan memandang hal dengan sangat bijak bahkan meleset dari pikiranku tentang dugaan-dugaanku. bagaimana dia menjalani hidupnya. Aku bahkan harus terharu saat membaca tulisannya tentang mama toyo.
Bukan karena dia bercerita tentang perjalanannya ke enrekang dan tentang keindahan alam enrekang yang notabene adalah kampung, sama sekali bukan. tapi memang enrekang keren loh apalagi orang-orangnya.hihihi. aku tertarik akan tulisannya tersebut saat memaparkan semua hal tentang mama toyo, tentang bagaimana menjalani hidup dan yang aku paling senangi adalah bagaimana dia menentang jargon feminisme.
Inilah kutipan tulisannya yang aku sepakati, "kenapa saya tidak pernah tertarik dengan orang-orang feminis karena sebagian besar dari mereka beranggapan bahwa ketika wanita berbicara tentang politik, sosial, ekonomi, dia tidak mau tahu lagi soal dapur, seakan lupa kalau dia juga butuh makan. Mereka masih selalu mempermasalahkan tentang gender, gender, gender, makan tuh gender. Anti penindasan toh masih saja menindas teman sendiri, masih saja menindas orang tua sendiri. Mama Toyo harusnya merepresentasikan wanita zaman sekarang, wanita yang selalu jadi penerang dimana pun dia berada. Ah mama Toyo, saya jadi malu dengan diri saya sendiri. Mama Toyo adalah guru kehidupan."
Aku langsung tertawa lebar saat membaca bagian tersebut. tertawaku adalah bentuk kesepekatanku dengan pikirannya dan juga kuingat dengan jelas perdebatanku dengan seorang dosen sosiologi UH pada malam pergantian tahun baru 2009 di kediamanku jalan Pengayoman, Makassar. saat itu, aku mati-matian menentang feminisme dengan segala keterbatasan referensi yang aku miliki namun sang dosen tersebut yang alumni ADS pun dengan berbagai argumennya yang ilmiah melumat setiap penyangkalanku.aku kalah debat malam itu namun tidak dengan keyakinanku tentang penolakan feminisme yang vulgar. Bagaimana tidak aku kalah argumen, dia lulusan ADS yang memang mengambil tentang gender, sedangkan aku, walah boro-boro belajar gender di luar negeri, aku hanya membaca refernsi sekenaku.
Sekali lagi kembali ke topik tentang tulisan dari perempuan tersebut. aku terperangah membaca tulisan tentang mama Toyo karena ternyata dia sepakat dengan kesederhanaan yang termanifestasikan dalam bentuk nyata tanpa harus berdiskusi panjang lebar luas menjejali pikiran dengan berbagai rumus-rumus, teori-teori yang hanya memberatkan kepala. Kupikir mereka yang tergabung dalam organisasi tersebut sangat gandrung akan diskusi-diskusi yang memabukkan..
beberapa tulisannya juga tentang bagaimana mereka menjalani hubungan dengan seniorku. nampaknya mereka adalah pasangan serasi,, semoga saja mereka langgeng..
minggu pagi disaat menyendiri
di rumah kontrakan
17.02.13
08.00
No comments:
Post a Comment