Tulisan ini adalah hasil rancangan Sang Maha Pemberi Hikmah untukku dua hari ini. aku sangat yakin bahwa apa yang aku alami adalah sebuah hikmah yang jika aku tidak memungutnya niscaya aku menyia-nyiakan rakhmat yang telah dihidangkan di depanku. benar-benar sebuah hal yang tidak ingin kusia-siakan untuk menjadi referensiku ke depannya meski kutahu saat kemarin hari aku gagal dalam menjalankan misiku sebagai manusia yang ikhlas
Ceritanya bermula tadi malam, seorang kawan datang berkunjung di kediaman kami, akupun baru mengenalnya sejak dia tiba di sini jum'at siang. sebenarnya tidak ada yang menjadi permasalahan atas kedatangannya di tempat tinggal kami-aku menyebutnya tempat tinggal kami karena kami bertiga menempati mes ini. Aku mengira bahwa dia hanya bertandang untuk beberapa jam saja namun ternyata dia sampai maghrib.
Sehari sebelumnya, kami mendapat kado dari ulang tahun atasan berupa pernak-pernik dan salah satunya gelas yang berlogo ulang tahun perusahaan, aku sudah menyimpan gelas tersebut di bawah meja kerjaku dan berpikir akan menyimpan itu sebagai kenang-kenangan namun itulah yang menjadi awal hikmah ini. si teman tadi duduk di mejaku dan secara tidak sengaja melihat gelas yang berlogo tersebut, dia tertarik secara karena dia juga eks karyawan di sini. saat itu aku sedang asyik bermain FB di depan komputer, dengan nada basi-basi yang tidak terdengar jelas olehku, ternyata dia meminta gelas tersebut karena aku juga tidak mendengar jelas apa yang dikatakannya maka aku hanya menyahut sekenaku.
Maghrib menjelang, dia pamit pulang diantar oleh Misbah, saat Misbah balik dari terminal mengantar teman tersebut, aku mendapati kado gelasku sudah raib, kutanyakan kepada si Misbah, dia mengatakan bahwa gelas tersebut di bawah oleh teman yang tadi, aku langsung bertanya kenapa dia bawa tanpa permisi, si Misbah mengatakan bahwa dia sudah permisi tadi dan aku mengiyakan ternyata saat aku menjawab sekenaku.
Ada perasaan tidak ikhlas dalam hatiku terus berkecamuk yang selalu kulawan bahwa itu hanyalah benda yang akan musnah pada akhirnya namun ternyata sulit untuk mengikhlaskannya. Semua kekuatan pikiran positifku telah kucurahkan untuk memaksa hatiku ikhlas namun pikiranku selalu memikirkn hal-hal yang tidak-tidak, mulai dari dia yang lancang padahal baru kenal saat itu. namun tetap saja hatiku tidak ikhlas,,
Akhirnya Sang Maha Pemberi rasa keikhlasan mengirimkanku sebuah peristiwa yang menjawab tentang kejadian itu. besok malamnya (malam ini 16.02.13,red), aku berkunjung ke salah satu klien kami, guru SMPN 2 Ngawi, pak sidik. Niat awalku adalah silaturahim berhubung karena aku sendirian di mes. masron dan Misbah pulang kampung. Dengan setelan sweater hitam dan celana puntung hitam, aku beranjak ke rumah pak sidik.
Sesampai di sana, dia menyambut dengan ramah sambil menyuruhku menunggunya sesaat karena dia baru mau mandi. sehabis mandi, dia mengajakku ngopi di ujung alun-alun kota Ngawi, akupun mengiyakan karena daripada pulang ke mes bengong sendiri. kami meluncur dengan sepeda motor melewati alun-alun yang dipenuhi oleh berpasang-pasang muda mudi yang sedang menikmati sendunya malam minggu yang baru saja diguyur hujan, laju kendaraan kami sangat pelan sehingga bisa menikmati setiap detail dari pusat keramaian kota ini saat malam minggu.
Sekitar 10 menit perjalanan dari kediaman pak sidik, kami tiba di warung kopi, aku memesan kopi ABC sedangkan pak sidik memesan kopi top. asyik menikmati suguhan kopi dengan dinginnya malam minggu, pak sidik kemudian bercerita panjang lebar dan sesekali kutimpali. dia bercerita tentang seorang pemuda yang sedang tinggal bersamanya. ternyata pemuda itu dikenalnya di bis saat pak sidik ke Bandung.
Pemuda itu lalu berniat main ke rumah pak sidik, 1,5 bulan yang lalu, pemuda tersebut benar-benar datang ke rumah pak sidik, namun anehnya, setelah sebulan lebih tinggal di rumah pas sidik pemuda itu tak kunjung pulang dan pak sidik juga tetap dengan ikhlas menerimanya tanpa sesekali menanyakan sesuatu yang bisa menyinggung perasaan pemuda itu.
Saat bercerita tentang pemuda itu. aku terhanyut mendengar penuturan pas sidik yang sangat amat ikhlas dengan tamunya itu sedangkan aku dengan sangat piciknya amat sangat susah mengikhlaskan kadoku yang di bawa oleh seorang teman. Bahkan akupun terkadang merasa tidak nyaman ketika ada orang yang terlalu lama menumpang di rumahku.
Ini adalah pengakuan dosaku yang amat sangat memilukan bahkan orang yang kukenal sekalipun sedangkan pak sidik tidak, bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun, dia dengan ikhlas memberikan tumpangan di rumahnya dalam jangka waktu yang lama. aku terkadang memikirkan untung rugi saat akan berbagi dengan orang lain, kutahu aku sangat picik karena setiap hal harus kuukur dengan keuntunganku dan waktu yang bersamaan, aku selalu merasa rugi atas dasar materi yang kasat masa. Benar-benar sebuah sikap yang masih dipengaruhi oleh keingin jasad yang hanya kan menghasilkan bongkahan-bongkahan sampah pada akhirnya tanpa memandang esensi dibalik semua hal yang indrawi.
Jawaban yang lain kutemukan bahwa ternyata pak sidik mempunyai keluarga yang sukses. isterinya sekarang menempuh pendidikan S3 di Inggris. pak sidik mempunyai anak 4, yang pertama sebentar lagi lanjut S2 di jepang, yang kedua kuliah di UI jurusan bahasa belanda dan sudah dari Belanda, yang ketiga sedang menempuh pendidikan di solo dan yang bungsu sementara nyantri.
Pak sidik menambahkan bahwa semua anaknya tidak neko-neko. Di saat anak muda sekarang ingin tampil gaya-gayaan, anak pak sidik lain lagi, pak sidik membelikannya sebuah motor vixion namun anehnya anaknya tidak menerima dan memilih untuk tidak punya motor, hp yang dipakai pun HP usang disaat semua anak muda sekarang menggunakan hp BB.
Sementara pak sidik asyik bercerita, aku merenungi semua hal tersbut, aku kemudian berkesimpulan bahwa berkah yang didapat dari keluarga pak sidik karena kebaikan pak sidik yang dengan sangat ikhlas berbagi kepada setiap orang meski orang tersebut baru dikenalnya. Sangat berbeda 180' dari diriku yang amat sangat picik akan berbagi dengan seseorang, penuh perkalian, penuh perhitungan dan penuh tendensi. sebenarnya ketika kita berbagi kepada semua orang maka semua itu akan kembali ke diri kita dalam berbagai bentuk,,
dan berbagi bukan hanya karena ingin di tambahkan rejeki oleh Allah namun lebih dari itu, berbagi adalah sebuah perintah Iahi dan kebutuhan kita sebagai manusia.
aku kutip sebuah paragrap dari tulisannya Miftahul Huda "pengembaraku selalu berusaha dan berusaha melakukan apa saja yang orang lain tak mampu lakukan, membuktikan apa saja melalui sebuah karya dan bukan sekedar kata-kata. menerapkan ilmu demi amal kepada sesama manusia, tak ada terdepan diantara orang-orang, baginya memberi adalah tugas, sedangkan menerima hak adalah beban. tak mengherankan jika suatu ketika dia mendapatkan apa saja yg tidak pernah diterima atau didapatkan oleh kebanyakan orang yang mnyenangi kebiasaan"
untuk diriku malam ini,, seiruska, berbagilah
untuk semua orang,,,
untuk semesta
karena itu engkau berbagi dengan dirimu sendiri,,,,
ditemani bau bangkai tikus yg sudah
3 hari membusuk di dalam mes namun
tak kunjung kutemui jejaknya
hanya baunya yang menggangu
konstalasi pergerakanku di mes ini
17.02.13
01.21
No comments:
Post a Comment