malam ini,
keren.
serius.
kembali kugapai malamku, kunikmati remang remang yang sudah lama kulupakan
duduk bersila diatas susunan batako pinggir jalan itu,
jalan akhmad yani, Ngawi
secangkir kopi
dan beberapa potong gorengan
kunikmati senandung alam yang tak pernah usai,mencumbu dan merayu agar tetap kan abadi,
dan titik titik cahaya lampu yang mulai memudar
kuingat,
terakhir romansa ku dengan malam saat kuliah dulu,
bahkan malam selalu menjadi teman setia saat senja menua
itu dulu
saat masih di kotaku,
oh malam,
sengaja kumendua saja denganmu
agar lebih dekat dengan hatimu, kalau saja kudekap dirimu,adakah bayang bayang gelap kan mencemburui kita,
akankah itu.
peluh dalam dingin tak terkira..
malam itu di sudut kota ini.
Ngawi,
08.02.13
20.02
apa sebenarnya yang sedang kucari? pertanyaan sadar ini selalu muncul dikala kesendirianku, dikala kujauh dari hiruk pikuk manusia. terkadang kumalu dengan ini. jika yang kucari adalah hal fana, bukankah pencarianku sia-sia belaka. sampai sejauh ini langkah kakiku menjejak di bumi, semesta turut menyaksikan, namun sampai saat aku duduk di sini, aku belum begitu mengerti, aku belum begitu tangguh memetakan absurditas dengan esensi, ataukah aku paham akan hal itu,
atau bahkan puara pura tidak mengerti karena sejatinya sanubariku telah ditaklukkan oleh perutku,,,
mudah-mudahan saja tidak begitu adanya, semoga saja semesta kan menjagaku setiap detik dari semua itu.
kalau begini, untuk apa aku disini? untuk apa menjejakkan kaki begitu jauh.
semoga saja bukan, semoga saja niat hati tidak absurd, semoga saja bukan untuk yang fana,
selalu berharap bahwa setiap jejak kaki atau bahkan helaan nafasmu di sini adalah tasbih kepada Sang Pencipta, karena tak terukur.
kalau Nabi Sang Teladan hijrah, maka akupun punya alasan,, setiap kaki rapuh yang mengukir langkah di sisi bumi ini kan menjadi berarti.. karena hikmah tergeletak dimana mana,,bercampur dengan lumpur, menyatu dengan tinja, bahkan sering tak dikenali, hanya manusia manusia tekun yang kan mampumengenali setiap hikmah, meski hanya setitik di tengah lautan samudera,,
tak pernah kuberusaha mengingkari perutku, tak ingin jua kudzalimi dia dengan mengabaikan inginnya, karena itu sama saja dengan ego kepalaku, yang ingin kulakukan
meyelaraskan apa yang ia butuhkan bukan pada keinginan,,
aku tahu itu sekarang, namun masihkah menyisakan setitik dalam rupaku besok pagi?
saat kuterbangun dalam buaian mimpi,, kemudian mendapati dunia yang penuh tawaran kesenangan, seringkali saat kujemu, kuberfikir untuk bermimpi saja tanpa harus terbangun, namun tidak, itu sama saja kekalahan telak dari diriku.
seorang kawanku teman diskusiku, sedang jauh di negeri seberang. kami sering bertukar pikiran dan satu kesimpulan yang membuat kami seiya tentang kalimat yang coba kusederhanakan " Tuhan kan membukakan jalan kepada kita tentang apa yang kita citakan, meski seringkali jalan Tuhan tak terterka, namun cita kita kan terwujud, dengan satu kata kunci, kita selalu dekat denganNYA. bukan persoalan waktu, karena terkadang bias menceritakan tujuan dengan landasan waktu, otoritas penuh ada di genggaman Tuhan. semua kan datang tepat waktu hanya seringkali manusia tergesa-gesa."
Hikmah, itulah mutiara hidup yang selalu kan kupungut dimanapun tergeletak, karena dia lebih mulia dari emas.
cinta,
itulah hal yang menggerakkan makhluk,
mencinta tidak membutuhkan apa apa, hanya kejernihan hati untuk berbagi dengan sesama, dengan semesta. dengan kata itu, semua kan memudar dan menyatu dalam kebahagiaan.
bahagia dalam hati, bukan pada persepsi manusia tentang diri kita.
tentang watak, tentang bagaimana manusia harus kembali ke fitrahnya, namun kilauan dunia bahkan mengubur cita itu, semua harus terukur dengan materi. bahkan sekrang, perut telah mengalahkan hati. apapun yang diinginkan oleh perut maka akan terpenuhi meski itu hanya sesaat dan kembali menjdi musnah.
cinta kabur karena keserakahan, kesombongan dan hasrat menjegal. kata-kata hanya menjadi ide usang yang memuakkan, keluar dari mulut lalu menguap begitu saja mengikuti hembusan angin tanpa berusaha merealisasikan dengan gerak nyata.
sejatinya bahwa manusia satu dengan yang lainnya tidak terpisah bahkan dengan seluruh semesta, hingga bahagia untuk yang satu adalah bahagia untuk yag lainnya namun sekarang itu hanya ilusi. manusia menjegal manusia untuk dirinya. mereka tidak sedang paham bahwa dengan tingkah pongahnya , mereka sebenranya telah melakuka nnya kepada diri mereka sendiri. ketika berbuat baik kepada sesama, sejatinya kita telah berbuat baik kepada diri kita sendiri begitupun adanya ketika kita berbuat curang kepada orang lain maka saat itu kita sedang curang terhadap diri sendiri, sering diistilahkan dengan hukum karma, namun apapaun itu,manusia sedang dalam dehumanisasi.
dalam hati yang sedang berkarat, oleh duniawi yang menipu. menjemukkan dalam hidup yang penuh absurditas, bahkan terkadang mencari pembenaran untuk ikut serta dalam pusaran ilusi seakan tak tahu bahwa hati nurani kan abai, padahal tidak, selalu saja dia mengajak ke arah yang benar, meski dengan kasat mata itu pahit dan itulah manusia, terlalu memanjakan setiap apa yang akhirnya kan menjadi kotoran, perut dijadikan tumpukan sampah, bahkan harus menjegal sesamanya untuk memenuhi perut dengan berbagai macam sampah dan bangkai-bangkai. hasrat mereka tak ada untuk mengungkap tirai yang menghalangi mereka dengan Sang Maha Segala. hasrat itu tegadai oleh ego, angkuh, kesombongan yang akhirnya kan menggiring ke jurang kemusnahan.
begitulah hidup. mesti diukir setiap langkah yagn menanti, entah berapa lama lagi sebeblum fana, namun itu bukan hakekat, berbuatlah tentang jejak yang baik tanpa harus memperhitungkan jejak selanjutnya. hanya diri yang tau arti, hanya diri yang menentukan arah. semesta hanyalah suplemen untuk semua. diri yang menjadi sahabat sekaligus menjadi musuh utama. dia bersemanyam dalam dada tanpa sekalipun memunculkan dirinya secara indrawi namun dia muncul dalam sebuah bentuk yang lebih kejam, yaitu tingkah laku. itulah musuhmu, diri sekaligus rival. berjuanglah menaklukannya karena hanya dengan itu, engkau kan mengerti siapa sesungguhnya dirimu yang sedang mengukir langkah di bumi ini.
No comments:
Post a Comment