May 31, 2024

31 Mei

Tidak ada tulisan bulan ini yang ada hanya sumpah serapah yang bertebaran di setiap ruang waktu yang tersisa. Masih dalam masalah yang sama saat diri tidak mampu sama sekali lepas dari kesia-siaan. Waktu seakan terbuang begitu saja dan secara tidak sadar, sudah berjalan terlalu jauh.

Bulan ini, Palestina semakin merana dengan serang bertubi-tubi dari kaum penjajah. Namun demikian, negara-negara Arab seakan merasa bahwa kejadian itu hal yang lumrah karena sama sekali tidak ada langkah konkrit untuk mengadvokasi bangsa Palestina untuk lepas dari penjajahan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Bulan ini juga, fakta persidangan mantan menteri Pertanian yang berasal dari Gowa, menunjukkan betapa mengerikannya realitas yang diuangkap. Aliran dana hasil korupsi dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang sangat memilukan, untuk membiayai apartemen seorang Biduan, uang bulanan istri, acara khitan, cucu, biaya dokter kecantikan anak, skincare puterinya, dan berbagai aliran dana yang membuat rakyat Indonesia miris menyaksikan apa yang dilakukan oleh seoran pejabat publik.

Bulan ini, saya sama sekali tidak menulis artikel yang biasanya saya publish di media online nasional. Saya sudah berusaha keras untuk menemukan serpihan ide tetapi selalu gagal dan hanya berakhir pada sebuah angan-angan semata.

April 21, 2024

Aku Menua Dalam Tangis

Aku menua dalam tangisan, tidak mampu berbuat banyak di masa remaja yang kata Rhoma merupkana masa muda yang berapi-api dan maunya menang sendiri. Aku tidak cukup nakal untuk menikmati hidup karena terlalu banyak pertimbangan moral, iya aku jenis anak penurut.

Tapi aku juga bukan manusia yang terlalu tekun dalam banyak hal bahkan sampai saat ini, aku tidak tau apa yang bisa kuandalkan.

Mengerikan,,,

Aku masih sama dengan aku beberapa puluh tahun silam, seorang pemimpi buruk yang tidak jua memulai mimpinya, memuakkan

Aku ingin menangis menumpahkan semua bebal di setiap urat nadiku tetapi sama saja, setelah itu semua akan kembali pada habitatku, 

Seorang pemimpi bajingan yang menghabiskan waktunya dengan angan-angan kemudian tidur dalam mimpi yang terus menerus dirawat tanpa pernah berjuang mewujudkannya.

Ini mungkin hukuman bagi seorang diriku yang tidak mengenal dirinya.

Sudahlah, setelah ini saya akan berlari menjauhi kenyataan, menghilang dari setiap kekecewaan dan kemudian larut dalam mimpi yang lain. 

Seringkali aku membenci diriku, benar-benar benci atas setiap ketidakmampuannya membuktikan kepada dunia bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang bisa dibanggakan.

February 27, 2024

Februari Mencekam

Bulan ini benar-benar payah. Tidak ada satu pun buku yang saya selesaikan di bulan ini bahkan beberapa pekerjaan saya terbengkalai. Saya masih selalu menghabiskan waktu hanya menghayal tanpa melakukan keputusan-keputusan yang berbeda untuk mengubah keadaan.

Satu hal lagi yang sangat menyedihkan bahwa tidak ada tulisan yang sanggup saya selesaikan di bulan ini sementara lebih dari sepuluh draft sudah saya susun. Entahlah, untuk saya benar-benar buntu memikirkan dan menjalankan program pribadi.

Pekerjaan di kampus pun tidak kalah payahnya. Proposal penelitian tidak kunjung kelar sementara tugas mengajar masih juga terbengkalai bahkan di minggu ke-IV, masih ada target di minggu pertama yang belum kelar.

Saya juga merasa sangat tidak maksimal dalam proses mengajar karena kurang menyiapkan segalanya. Saya hampir saja putus asa dengan semua ini, dengan keputusan diri yang tidak jua berjuang untuk meningkatkan kualitas diri.

Pemimpi yang payah

27 Feb 2024

February 12, 2024

Bangkit Lagi

Satu setengah bulan berjalan di tahun 2024 tetapi saya sudah mulai layu mengejar resolusi. Ini tidak boleh dibiarkan karena hidup akan terus berjalan. Saya mempunyai segudang target yang harus saya tunaikan di tahun ini dengan segenap usaha maksimal.

Pertama tentu meningkatkan kualitas dan kuantitas membaca buku. Saya rutin membeli buku tetapi belum sejalan dengan kuantitas buku yang saya baca. Saya belum intens membaca buku sesuai target yang sudah saya canangkan.

Saya juga harus menulis minimal 1 buku di tahun ini, namun parahnya intensitas menulis saya malam menurun drastis di awal tahun ini. Saya punya segudang rencana penelitian yang harus saya selesaikan untuk meningkatkan karir saya sebagai dosen.

Saya juga harus meningkatkan kemampuan pedagogik dengan baik, begitulah kemampuan public speaking yang harus saya asah setiap saat. Saya tidak boleh lengah dengan hal-hal tidak berguna seperti main hp.

January 31, 2024

Sendal Jepit

Sudah hampir dua minggu, ada salah seorang penghuni kos baru di rumah kos tempat saya menginap. Dia menyewa persis di samping kamar saya dan tepat di ujung tangga sehingga setiap akan turun ke bawah, saya pasti melewati depan kamarnya. 

Tidak ada yang aneh namun demikian, saya sama sekali belum pernah bertegur sapa karena selama dia menyewa di sebelah kamar saya, hanya sekali saya berpapasan ketika hendak ke kamar mandi. Saya juga belum sempat menegurnya sekadar untuk menanyakan kabar.

Setelah beberapa hari, saya melihat bahwa di depan kamarnya hanya ada sepatu bahkan ketika ke kamar mandi, dia mengenakan sepatu yang juga digunakannya ketika keluar. Sifat gibah saya dengan diri mulai muncul. Beberapa kali saya membatin kenapa sih dia tidak membeli sendal jepit agar tidak merepotkan ketika masuk kamar mandi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut beberapa kali terbersit di dalam hati saya dan akhirnya karma kembali menghampiri diri yang hina ini.

Tadi pagi saat sedang di kamar mandi dan tidak sedang berjalan kaki, tiba-tiba saja sendal jepit saya putus tanpa sebab yang signifikan. Saya langsung merasa sangat bersalah telah membatin sesuatu yang negatif terhadap orang lain.

Kejadian tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dikuantifikasi bahkan saya yakin bahwa ada realitas metafisika. Persoalannya, kejadian-kejadian semacam itu seringkali terjadi kepada diri saya ketika berpikir negatif terhadap orang lain.

Bandung, 21 Januari 2024

January 22, 2024

Perjalanan Kali Ini

Perjalanan kali ini ke Bandung ditemani dengan tontonan debat Cawapres. Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik namun tetap saja mengikuti jalannya debat.

Sesuai prediksi bahwa tidak ada hal substansial yang bisa dipelajari selain gimmick politik yang menggelikan.

January 5, 2024

Dosa di Awal Tahun

Keputusan untuk bekerja di luar kota menyisakan berbagai masalah, selain karena tidak setiap hari bertemu keluarga, saya juga harus mengeluarkan dana ekstra di setiap akhir pekan untuk membayar sewa travel.

Akhirnya untuk sedikit berhemat karena gaji yang saya dapatkan juga tidak besar, maka seringkali saya berburu diskon. Travel langganan saya memiliki banyak sekali pool di Jakarta sehingga memudahkan saya memilih harga yang lebih murah, tetapi saya seringkali memilih jurusan ke arah Lenteng Agung dan Depok karena lebih dekat dengan rumah.

Sebenarnya jurusan ke Lenteng Agung dan Depok Juanda satu arah. Jadi rutenya keluar dari tol Simatupang menuju arah Lenteng Agung, transit sebentar kemudian menuju pemberhentian terakhir di Depok-Juanda.

Nah entah kenapa, diskon di aplikasi travel tidak merata jadi ada beberapa rute yang diskon sementara rute yang lain tidak diskon. Perkiraan saya karena mungkin yang diskon sepi penumpang. Salah satu rute yang diskon adalah arah Depok sementara yang arah Lenteng Agung tidak diskon. Padahal sebenarnya rute dan mobilnya sama hanya transit di Lenteng Agung.

Saya kemudian memilih memesan pemberhentian Depok karena menganggap bahwa saya bisa turun di Lenteng Agung. selisih harganya cukup jauh ketika memilih pemberhentian Depok dengan Lenteng Agung, sekitar 70 ribu.

Semua berjalan lancar dan keberangkatan hanya telat 15 menit. Saya kemudian mengambil seat sesuai dengan yang sudah saya pesan via aplikasi.

Ketika berhenti di rest area KM 72, sopir menanyakan kepada saya bahwa apakah saya memilih rute Depok?

Saya menjawab bahwa memang saya memilih pemberhentian Depok tetapi biasanya saya turun tidak sampai di pool Depok. Saya baru tahu bahwa ketika tidak ada penumpang yang akan turun di Lenteng Agung maka rute mobil tidak akan mengambil arah Lenteng Agung tetapi langsung masuk ke tol menuju Depok.

Mengetahui hal tersebut, saya sedikit agak keberatan karena seharusnya rute mobil tetap harus mengikuti jalur yang sebelumnya. Sopir menjelaskan bahwa konsepnya memang seperti itu bahwa jika tidak ada penumpang memesan pemberhentian Lenteng Agung maka rutenya diarahkan langsung ke tol arah Depok.

Saya agak kesal dan menunjukkan rasa ketidaksenangan. Si sopir yang kelihatannya udah sepuh pun sedikit merasa bersalah dan mencoba untuk menenangkan saya.

Setelah sekian menit berlalu, saya merasa sangat bersalah bahwa pada dasarnya saya yang keliru karena memburu diskon dan memilih rute Depok tetapi ingin turun di Lenteng Agung. Saya kemudian memilih untuk menenangkan diri dan membiarkan si sopir mengambil jalur yang langsung ke Depok.

Kesalahan saya membuat mood si sopir yang sudah sepuh merasa bersalah.


Kamis, 4-1-2024

January 1, 2024

1 Januari 2024

Sekarang sudah 2024 dan saya bahkan masih mengingat dengan sangat jelas menjelang 2023, saya menulis beberapa resolusi salah satunya tantangan untuk menulis apapun setiap hari ini blog ini. Ikrar tersebut bertahan selama 7 bulan sebelum akhirnya saya menyerah karena kehabisan ide untuk ditulis.

Sekarang sudah 2024 yang artinya bahwa saya kembali menyusun resolusi di tahun ini. Semalam menjelang pergantian tahun, saya menulis beberapa catatan kecil yang merupakan target pribadi di tahun ini. Saya sengaja menulisnya di kertas menggunakan pulpen agar bisa saya simpan di dompet dan sewaktu-waktu bisa saya buka untuk sekadar mengingatkan saya akan ikrar kepada diri sendiri.

Di awal 2024, saya tidak banyak melakukan sesuatu kecuali menyelesaikan sebuah buku yang minggu lalu saya beli di Togamas Buah Batu. Setelah itu, saya dan keluarga ke Gramedia membaca komik.

#2024

December 31, 2023

Menjelang Pukul 24.00 Wib

As I was writing this, the sound of firecrackers went off without a break. Understandably, it will soon be the turn of the year according to the Gregorian calendar. A moment that is often the joy of many people to celebrate.

At this old age, I still have questions about the turn of the year that is always enlivened with celebrations in various forms,

What exactly are they celebrating out there and what makes them so happy when the year number on the calendar changes?

It's a clichéd rhetorical question that might not be useful at all because people will still celebrate the turn of the year, which they think will bring better hope.That is why every turn of the year, there are so many resolutions recorded by some people to solidify their steps in the following year even though some of these hopes are only limited to hopes that will be stale at the end of the coming year.

While enjoying the sound of firecrackers, I watched a movie about how to elevate the dignity of a woman.

The movie tells the story of a policeman's daughter whose father died in an accident. Her mother passed away first, leaving her alone.

She was eventually taken in by an acquaintance of her father's who she called Uncle, a middle-aged man who grew up in a strict parental upbringing and thus had stubborn principles.

The uncle's character influences the way he educates the orphaned little princess. He aspired to make her an independent woman, hence the military-like parenting.

Fast forward, the daughter became a strong woman who was not dependent on others. She was amazed when her uncle gave a short lecture at the girls' school.

In the short lecture, her uncle advised the female students that there were three things that no one should touch on their bodies. The breasts, buttocks, and private parts.

Anyone who touches these three parts should not be tolerated, even the closest person. This principle should be held tightly by every woman to maintain her dignity.

It must be realized that women are one of the most vulnerable groups in society. This is inseparable from the past history that considers women as merchandise that can be exchanged at any time. In its development, women are no more than working in three areas of power in the home environment.

There is a false assumption that if you want to advance in any field, women must have favorable conditions or what is often referred to as privilege.

Often privilege is associated with wealth, power, and conditions that sensually facilitate the person who has it. Children born to wealthy parents are considered to have privilege, as well as children of officials and so on.

Privilege is defined as "a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group." This interpretation certainly has implications for the opposite condition so that people who are not destined to be in that condition are considered not to have privilege.

Let's assume it's true that privilege is beneficial. People who have it can easily get what they want. But even those who don't have it are lucky.

In the movie I watched, the princess had no privilege at all so she had only two choices, try to achieve success or stay in the condition she was in.

If someone who doesn't have privilege tries to achieve success, at least if they don't succeed, the initial condition remains the same so it's best to try as much as possible to climb the ladder of success without having to worry about what you don't have in the initial condition.

"Bila kau tidak dapat menghindari kematian hari ini, maka terimalah dengan penuh keberanian dan kebanggaan."

December 15, 2023

Overthinking dan Hidup Yang Akan Baik-Baik Saja

Seperti biasa di hari kamis pagi, saya sudah mulai scrolling harga tiket Bandung-Jakarta di aplikasi khusus travel langganan saya. Biasanya saya memilih tujuan ke akhir Lenteng Agung (LA) karena dekat dari rumah, tetapi terkadang saya memesan yang arah ke Depok karena pertimbangan harga yang jauh lebih murah.

Sesaat kemudian, saya melihat harga tiket tujuan Juanda Depok yang jauh lebih murah dari biasanya. Rutenya juga akan melewati LA sehingga saya bisa turun di LA tetapi dengan harga yang lebih murah.

Travel ini memiliki banyak rute sedangkan untuk rute ke Depok ada dua jalur. Pertama, rute Juanda-Depok dengan tujuan akhir Sawangan. Rute ini tidak akan melewati LA sedangkan rute kedua yaitu yang melewati LA dengan tujuan akhir Juanda-Depok. Aneh, tiket tujuan Juanda-Depok lebih murah dari pada tujuan LA sedangkan secara jarak, lebih dekat tujuan LA karena jalurnya melewati LA sebelum ke Juanda-Depok.

Alasan inilah yang membuat saya sering memesan tiket tujuan Juanda-Depok meskipun saya tetap akan tujuan di LA. Hal yang sama saya lakukan kemarin saat memesan tiket. Saya yakin bahwa toh travel juga akan melewati jalur LA.

Setengah jam sebelum travel berangkat pukul 18.30, saya sudah berada di pool travel. Ada pemandangan yang sedikit asing karena biasanya armada travel sudah banyak parkir di depan pool tetapi sore itu agak sepi. Bahkan calon penumpang yang berada di ruang tunggu juga hanya sedikit.

Saat print tiket di CS, saya baru mengetahui bahwa ada demo buruh di sepanjang tol yang menutup akses tol sehingga menyebabkan macet berkepanjangan. Mobil travel terjebak macet sehingga kemungkinan akan diberangkatkan lebih lama.

Setelah sekian menit, ada pengalihan rute dari yang sebelumnya melewati LA dialihkan hanya rute Juanda-Depok menuju Sawangan. Saya agak gelisah karena belum pernah melewati rute tersebut dan memikirkan bagaimana transportasi dari Juanda-Depok ke rumah. Pikiran tersebut muncul karena estimasi kedatangan di Depok sekitar jam 12 malam.

Pikiran tentang berbagai hal membuat saya gelisah sepanjang jalan tetapi kemudian saya berusaha tenang dan berdoa semoga semua berjalan baik-baik saja. Saya memilih menenangkan diri dan memejamkan mata di atas travel.

Terjadi benar saja, semua berjalan baik-baik saja. Setiba di depok, saya memilih turun di pertigaan Margonda-Juanda kemudian memesan gojek ke rumah. Hidup akan berjalan dengan aman-aman saja, pikiran yang yang membuat rumit hidup ini.

#15 Des 2023

December 2, 2023

Next Step

Setelah menjalani setahun sebagai seorang akademisi pemula, saya menghadapi berbagai dinamika yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan, atau minimal saya membayangkan kondisinya seperti ini tetapi tidak semudah di bayangan. Realitasnya lebih kompleks dan tantangan yang jauh lebih berat, dalam banyak hal.

Minimal ada tiga tantangan yang sedang saya hadapi di awal sebagai seorang full time lecturer. Pertama adalah LDM dengan keluarga yang ternyata tidak mudah. Saya sangat salut dengan keluarga lain yang menjalani LDM selama bertahun-tahun tetapi tetap ikhlas dan mampu menjaga semuanya menjadi baik-baik saja.

Setahun menjalani LDM bukan pekerjaan mudah apalagi ketika menyadari bahwa anak saya sedang dalam proses pertumbuhan dan baru menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar. Saya menyadari bahwa saya mungkin bukan sosok ayah yang ideal tetapi seharusnya saya berada di sampingnya ketika dia sedang bertumbuh dan menjalani hari-hari sebagai seorang bocah.

Tantangan kedua adalah kondisi finansial yang semakin tidak menentu. Sebelum memutuskan pindah kerjaan, saya sudah menyadari bahwa pendapatan saya akan jauh berkurang dari sebelumnya dan pengeluaran yang semakin bertambah karena harus menyewa kos dan uang transpor setiap minggu. Awalnya, saya membayangkan bahwa akan ada kran rezeki yang tidak terduga dan menjadi penopang pengeluaran yang besar tetapi sampai saat ini, kran rezeki yang saya harapkan belum terbuka dan saya benar-benar sudah membayangkan hal yang terburuk.

Tantangan lain mengenai iklim kerja yang terjadi jauh dari kata ideal. Saya membayangkan iklim kerja sebagai seorang akademisi akan mencerminkan suasanya yang hangat dengan perbedebatan-perdebatan ide yang akan mengembangkan diri saya, namun ternyata apa yang saya jumpai sangat jauh dari harapan bahkan jauh lebih tidak sehat dengan kondisi di industri yang pernah saya jalani.

Namun demikian, keputusan sudah diambil dan langkah selanjutnya adalah menata hati untuk tetap konsisten dengan apa yang sudah dijalani. Mengeluh boleh tetapi kufur nikmat yang tidak boleh. Toh masih bisa bergerak meskipun sangat lambat.

Harapan saya saat ini dan akan selalu terucap dalam setiap doa-doa saya adalah semoga Sang Pemilik Semesta memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan pendidikan saya S3 tahun 2024 di luar negeri dengan jurusan yang linear serta kemudahan memperoleh beasiswa karena saya menyadari bahwa melanjutkan pendidikan S3 dengan biaya sendiri akan sangat berat.

Selain itu, saya selalu berharap pindah ke kota pelajar sebagai seorang dosen dan istri bisa mutasi ke kota yang sama sehingga tantangan menjalani LDM bisa diatasi. Tetapi detik ini, mari jalani hidup dengan riang gembira.

Desember 2023

November 26, 2023

Finansial

Jauh sebelum memilih pindah bidang pekerjaan, saya sudah membayangkan kondisi yang akan terjadi yaitu kemungkinan akan sangat berpengaruh terhadap finansial saya dalam beberapa saat bahkan mungkin di tahun pertama saya memulai karir di bidang yang baru. Bayangan tersebut menjadi kenyataan dan sedang saya jalani. 

Finansial saya mulai goyah dengan pengeluaran yang jauh lebih besar daripada penghasilan. Pengorbanan ini sebagai salah satu dampak dari usaha saya untuk merawat idealisme yang masih tertancap di kepala saya. Ada yang harus dikorbankan dengan nilai yang dianggap benar meskipun di sisi yang lain, ada kekhawatiran tentang tanggung jawab.

Kondisi ini berat apalagi dijalani dengan melihat orang yang harus dibiayai tetapi saya selalu percaya bahwa tidak ada satupun kondisi yang konstan di dunia ini selama manusia terus bergerak untuk mengubah apa yang sedang dijalaninya.

26.11.2023

October 16, 2023

Ghibah (16)

Kehidupan menjadi seorang akademisi berlangsung seperti biasanya, tidak ada yang terlalu istimewa selain tantangan karena harus jauh dari keluarga dan setiap minggu pulang ke rumah. Dinamikanya lumayan menukik dengan berbagai kompleksitas yang harus dihadapi dengan hati yang lebih jernih.

Meskipun saya sudah mengetahui sebelum memutuskan untuk pindah, ternyata finansial menjadi tantangan utama. Saya punya beberapa tanggungan yang harus diselesaikan namun pendapatan jauh di bawah kebutuhan yang harus dikeluarkan. Saya mungkin terlalu naif tetapi pada akhirnya, kondisi ini harus dihadapi dengan menatap masa depan.

Masalah kedua mungkin datang dari diri saya yang nampaknya belum begitu nyaman dengan terlalu banyak tampil di forum. Saya harus menyelesaikan masalah ini segera agar tidak berlarut-larut karena memutuskan berada di tempat ini artinya harus selalu siap untuk menyampaikan ide ke orang lain.

Masalah lain tentang manajemen waktu saya yang amat sangat buruk. begitu banyak waktu yang saya sia-siakan sehingga tidak berdampak baik kepada pengembangan diri saya bahkan sebaliknya, mendegradasi level diri saya ke arah yang negatif.

Akhirnya tiba pada masalah iklim kerja yang tidak sehat. Beberapa rekan kerja yang saling menggunjing di antara mereka. Sebenarnya hal itu urusan pribadi mereka tetapi menjadi masalah bagi saya karena seringkali mereka mengajak-ajak saya untuk ikut dalam kubu mereka padahal saya sudah berkali-kali menyampaikan bahwa saya tidak akan pernah ikut dalam suasana saling menjelekkan.

Saya bebas menentukan sikap saya sendiri tanpa harus ikut dengan salah satu kubu mereka.

 #16 2023