July 19, 2016

Zona Baru

Genap 2 tahun di tempat ini dan harus memulai hal baru di tempat yang baru. Memang selalu ada kekhawatiran ataupun kecemasan terhadap hal yang akan terjadi ketika berpindah zona dari yang sebelumnya sudah settle kemudian harus beradaptasi lagi yang baru, tetapi takkan meruntuhkan semangatku karena toh hidup ini akan menjadi lapang ketika ketika selalu berusaha memperluas zona nyaman kita.

Hidup tidak melulu tentang hal-hal yang mudah namun juga sebaliknya, hidup bukan tragedi yang selalu menawarkan kepedihan. Hidup adalah perjalanan hidup dengan iringan suka duka, senang susah. jika hanya memilih senang maka itu bukan hidup tetapi surga.

Hidup seperti perjalanan waktu yang bergerak laksana cahaya, hanya kedipan mata kemudian kita sudah dilemparkan jauh ke depan entah dalam nasib seperti apa. Dua tahun di tempat ini hanyalah seperti melempar pandangan ke langit kemudian tiba-tiba sampai.

Masih jelas ingatanku 2 tahun silam, 26 Agustus 2014, Aku memasuki tempat ini tanpa pengetahuan sama sekali. Diam dan terus memperhatikan keadaan sekitar, sesekali bertanya akan hal-hal yang asing. Semua mengalir dan berlalu begitu saja sampai sekarang, tempat ini perlahan menyatu dengan diri.

Sekali lagi, zona nyaman ini sebentar lagi akan kutinggalkan. Sejatinya, aku sudah tidak terlalu sentimentil terhadap yang namanya perpisahan namun tetap saja bahwa semua hal yang sudah dilewati akan dirindukan. Aku harus berdamai dengan pergantian proses dalam hidup karena toh ketika tidak ada pergantian maka hidup akan berjalan di tempat.

 Di tempat yang baru, aku menduga akan banyak lagi puzzle yang harus kususun menjadi satu kesatuan utuh, toh menurutku, hidup ini adalah serpihan puzzle yang kita rangkai satu persatu hingga pada akhirnya nanti, semua akan ditinggalkan entah ketika menjadi utuh atau tidak lagian yang akan diperlihatkan nantinya oleh Ilahi adalah kesungguhan kita mengikuti proses bukan pada hasilnya.

Tempat ini sudah kuresapi baunya, sudah kupeluk erat selama dua tahun dan akan menjadi kenangan dan cerita yang nantinya akan kutertawakan terhadap hal-hal yang terjadi selama ini. meski selalu ada kesempatan untuk kembali ke tempat ini selama aku masih berstatus di bawah bendera perusahaan namun mungkin saja masih lama atau bahkan tidak sama sekali

Ya sudah, Sayonara kantor Rawamangun.

19 07 16 08:34

June 29, 2016

Aku Ingin Cepat Pulang

Hari ini jarum jam sepertinya malas bergerak.
Aku ingin segera pulang mencampakkan tubuhku di ranjang dengan pikiran yang begitu kacaunya. 

Tak pernah sepenat ini kurasakan.
sepertinya ingin kuledakkan tubuh ini menjadi abu yang kemudian diterbangkan angin ke segala penjuru lalu abadi dalam ketiadaan.

Aku ingin
Pulang dalam pelukan semesta
Memberikan hak bagi diri yang sudah lelah dieksploitasi
Aku ingin cepat pulang dari keramaian kepura-puraan

Aku muak memandang topeng
Mereka tidak menunjukkan diri dalam realitas
Aku ingin
Mencampakkan semua
Dalam hening tak bersuara

June 12, 2016

Kompleksitas Hidup

Harusnya aku bersyukur, bukan menjadikan semua ini kambing hitam untuk larut dalam kesedihan yang berlarut. Ya bersyukur dengan kenyataan bertemu bahkan menjadi bagian keluarga antitesis dari relasi ideal antara ibu dan anak yang selama ini kuimpikan toh aku bisa menarik semua kesimpulan dari setiap keadaan bahkan dalam 2 sisi sekalipun. jika keadaannya baik maka jadikan contoh dan berusaha diikuti namun jika kondisinya tidak ideal maka dijadikan contoh untuk tidak diikuti.

Harusnya aku sujud syukur menemukan fenomena seorang ibu yang begitu mengasihi anaknya tak berbatas ruang dan waktu meski sang anak tanpa ampun terus menerus mendorong ibunya dalam tiap jengkal kesedihan sampai pada titik air mata yang hampir kering.

Toh dia jarang bahkan hanya sekali mengganggu hidupku. Kenyataan hidup yang terhampar di depanku setidaknya meyakinkanku bahwa relasi anak dan ibu seperti itu benar-benar ada dan tidak hanya diceritakan dalam dogeng.

Aku tidak seharusnya menjadikan hidupnya sebagai alasan pelarian dalam segala masalahku toh dia tidak berarti apa-apa terhadapku. Dengan dalil iba terhadap si ibu pun tidak harus lantas membuatku mengusik lebih dalam lagi lara si ibu. pada akhirnya yang ada di dunia ini hanyalah gerik gerik alamiah alam semesta sebagai manifestasi karya cipta Sang Ada. 

Tidak seharusnya aku bersedih atas atas semua hal yang diperhadapkan kepadaku. misalnya saja dia mulai mengusik cukup ditolak permintaannya. Seharusnya setiap kesedihan itu tidak ada.

Picik jika aku merasa takut kekurangan atas tindakannya. Pecundang jika hal tersebut mengurangi kebahagiaannku bersama sang isteri. Apatahlagi tak kurang-kurangnya isteri bersetia terhadap setiap keputusan-keputusanku, tidak sekalipun dia ingkar atas apa yang kuinginkan.

Isteriku adalah gambaran nyata tentang kesetiaan dan kesabaran. hanya ada dua yang dia perlihatkan kepadaku,senyum dan tangis. dua hal tersebut sudah bisa mengartikan segala tindakanku terhadapnya, tidak kurang dan tidak lebih.

Saya sudah percaya bahwa menikah itu masalah hati bukan kata-kata yang diolah oleh otak kemudian dihamburkan di muka pasangan. kita bisa merasakan semua suasana hati pasangan hanya dengan melihat raut mukanya.

ah  lalu kenapa kemudian aku harus bersedih dan murka atas sesuatu yang di luar jangkauanku.?
6 Ramadan 1437 H

Pertanyaan Tentang Pernikahan

Beberapa bulan setelah menikah, pertanyaan seputar pernikahan menyerang kepalaku bertubi-tubi.

Bukan, bukannya aku tidak bahagia dengan pernikahan bahkan lebih dari itu, kebahagian menyelimutiku tiap hari meski hidup terkadang belangsung monoton namun kemudian teka-teki tentang pernikahan tidak berhenti pada apakah bahagia berdua dengan isteri atau tidak namun selalu ada variabel-variabel lain yang bermain di sekitar pernikahan misalnya saja relasi dengan keluarga pasangan.

Tidak rumit untuk memilah relasi tersebut karena pertanyaannya hanyalah "apakah terjadi gangguan dengan relasi antara keluarga pasangan? jika jawabannya tidak maka selesai masalah namun pertanyaan lain akan bertubi-tubi menghampiri jika jawabannya ya.

Ada banyak pernikahan yang kandas hanya karena relasi dengan keluarga pasangan, entah karena keluarga pasangan yang terlalu ikut campursehingga menjalar menjadi ketidakcocokan. Bagaimanapun, petuah orang tua tentang pernikahan bahwa "menikah itu bukan sekedar menjalin hubungan dengan seorang pasangan saja namun lebih dari itu, menyatukan keluarga isteri dan suami."jika hal tersebut gagal maka ada celah menuju kehancuran pernikahan.

Begitulah pernikahan, bukan masalah enak menit namun harus dipikirkan secara komprehensif variabel-variabel yang bersambungan di dalam pernikahan tersebut.

June 2016

June 10, 2016

Ramadan 1437 H

Siklus tahunan yang dipercaya oleh umat Islam sebagai bulan ampunan, bulan penuh kemuliaan dengan segala keberkahan di dalamnya. Setiap kali kedatangannya, Ramadan membangkitkan recehan kisah masa lalu. tak terhitung kiranya kenangan yang kuhadirkan kembali seiring dengan hadirnya Ramadan.

Aku seringkali menelan air wudhu, entah saat itu Aku umur berapa. Aku sering menghabiskan waktu main layangan, Aku sering tidur di Mesjid saat tarwih. oh masa lalu, begitu banyak kenangan yang tertinggal bersamamu.

Ini ramadan yang berbeda dari sebelumnya. Aku sudah menjadi seorang suami dan bertanggung jawab terhadap seorang Isteri. Ramadan kali ini harus menjadi pembelajaran diri untuk menempa diri dalam banyak hal terutama dalam kesabaran.

Isteri sedang berada di kampung selama bulan Ramadan ini alhasil, meskipun sudah berkeluarga, aku masih menjalani rutinitas ramadan layaknya saat masih bujangan. Buka puasa sendiri dan sahur sendiri, namun toh pada akhirnya Ramadan bukan tentang sahur, buka dan rasa lapar namun tentang penempaan diri melawan diri sendiri menuju manusia seutuhnya.

Ramadan di Ibu kota, rasa lapar adalah tantangan kesekian karena lawan paling tangguh di kota ini adalah amarah khususnya bagi para karyawan yang setiap pagi dan sore hari berada di jalanan. Betapa tidak, jalanan kota ini layaknya arena penguji emosi. Pengendara nampaknya merasa puas dengan segala makian ataupun bunyi klakson yang bersahut-sahutan dalam keruwetan jalanan.

Tantangan kedua mungkin saat berada di Kantor. suasana kantor yang terbiasa dalam kondisi menceritakan keburukan orang lain. Betapa naifnya kita menjadi Manusia, berteman kemudian menghantam teman dari belakang dengan aneka cerita yang mungkin saja tidak benar adanya. Kita terlalu sering membunuh karakter teman sendiri. Sejelek-jeleknya seorang teman adalah yang menceritakan aib temannya sendiri. teman itu laksana keluarga, harus dijaga aibnya.

Aku tidak sempat mudik ke kampung ramadan kali ini. Tidak ada burasa masakan Ibu, opor ayam dan kue kering. Ah, selalu saja ada butiran bening di sudut mataku jika membayangkan ramadan tidak di samping Ibuku. Memeluknya, melihat senyumnya dan menggelontorkan puluhan ciuman di sekujur wajahnya sebelum berangkat shalat Ied.

Tidak ada belaian mesra di kepalaku menjelang tidur di Ramadan kali ini, tidak ada yang menyelimutiku diam-diam saat tidur di ruang tamu, tidak ada tatapan nanar yang kulihat menjelang tidur. oh betapa ironi memang Ramadan tanpa ritual mudik. hambar benar rasanya.

Ramadan kali ini giliran mudik ke kampung isteri, apatahlagi dia sedang hamil tua. menikah memang perkara berkorban banyak hal, perasaan, waktu dan semua hal-hal yang sudah tidak bisa diperlakukan sama seperti ketika masih bujangan.

Sebenarnya tidak ada getaran rasa kangen kampung saat mudik ke kampung isteri. Mungkin karena kenangan dan ikatan batin terhadap kampung isteri tidak ada namun tetap saja harus dibiasakan karena toh semua sudah berubah dari yang sebelumnya.

Ah sudah ah. Terlalu sentimental jika bercerita mengenai Ibuku.

Marhaban ya Ramadhan 1437 H
telat 5 hari

10 06 16

Tiap Hari di Bulan Ramadan

Oke, Ramadan sudah berjalan 5 hari. tidak apalah, Saya akan berkomitmen untuk menulis selama bulan Ramadan tersisa, 
apapun itu..?? ya, apapun.
meski norak..??? biarin ga peduli.

Sudah tulisan ga ada progressnya sama sekali, malas pula. ah kalau begini terus mungkin polisi tidur ada gunanya, berbaring di setiap gang digilas roda kendaraan supaya tidak melaju dengan kecepatan di luar batas normal.

Bahkan tulisan tentang Ramadan yang sudah sehari sebelum ramadan mulai kutulis namun sampai sekarang masih menjadi draft basi di blog ini. Benar-benar ironi nan memilukan. sama rasa malas saja kalah. tau ah.

Tetapi, aku harus melawan kemalasan. memaksa diri membaca dan menulis terus menerus. Bukan untuk siapa-siapa, hanya mengisi hari yang monoton.

Tahun lalu, aku menulis setiap malam tentang ceramah Ramadan bahkan hanya 2 paragrap namun sekarang nampaknya kondisi tidak mendukung karena masjid dekat rumah tidak mengadakan ceramah sesaat setelah shalat Isya. 

Eh, bukan kondisi ding yang salah, aku nya saja yang malas mencari masjid lain, toh ada beberapa masjid lain yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Lagi-lagi karena kemalasanku yang nampaknya sudah mendekati akut.

Ah, sudahi banyolan ini, mulai memikirkan apa yang harus ditulis di blog ini supaya tidak kalah telak sama komitmen menulis selama ramadan.

da.da.da

Pulogadung, 10 06 16 13:21 WIB


June 8, 2016

Perjalanan Waktu dengan Seorang Kawan

10 tahun. 
Agak klise kalau saya menyebutnya serasa baru seminggu berlalu tetapi toh memang kenyataannya seperti itu. Waktu hanyalah kedipan mata, ketika kita mengedipkan sekai dua kali maka kita sudah terlempar jauh ke masa depan dengan ruangdan waktu yang berbeda.

10 tahun sudah
Saya memulai hidup yang random. kuliah, berteman dan mengotori otak dengan berbagai aneka teori yang pada akhirnya Saya sendiripun tidak pernah mengerti mau kuapakan.
tidak ada penyesalan terhadap pilihan-pilihan masa lalu toh semua hanya berakhir sebagai masa lalu yang disimpan sudut ruangan atau dalam draft file.

10 tahun
Saya mengenal berbagai rupa kawan baru dengan ragam latar belakang. Mungkin 10 tahun yang lalu adalah awal saya mengenalkan diriku pada dunia yang begitu heterogen. Bagaimana tidak, di kampung leluhurku, nyaris semua berada dalam keadaan homogen. Persamaan terlalu banyak.

Semua masyarakat di kampungku mengaku Islam bahkan faksinya pun sama, Muhammadiyah. budaya pun seragam sehingga sama sekali tidak ada perbandingan dalam perbedaan yang nantinya akan kujumpai.

10 tahun yang lalu
Kemudian saya terlempar ke masa kini dan pada akhirnya saya mendapati diri saya dalam kesunyian. Dari sinilah saya mengukur diri tentang pertemanan. Mungkin terlalu mewah kalau kusebut persaudaraan. Toh meski beberapa teman kemudian lenyap dengan berbagai alasan namun tetap saja masih ada yang tinggal dan berbagi cerita dengan saya.

Seorang kawan, fisically lebih besar dari saya. Entah apa yang tetap mengeratkan pertemanan kami namun sebanyak perbedaan yang muncul dalam setiap interaksi kami namun berlipat pula alasan kami untuk tetap menyambung silaturahim.

Saya sadari dia lah yang punya hati lapang. Seringkali menanyakan kabar dimana pun berada dan terhitung pula dia membantuku dalam banyak hal.

Seingatku, ada dua momen yang mungkin membuatnya begitu kesal kepada saya. Tahun 2013, kami lebaran Idul Adha di sebuah kota di Jawa. Paginya, saya sudah siap berangkat ke masjid namun tololnya, saya lupa membangunkan kawan tadi alhasil sepulang shalat ied, dia tidak terlalu bergairah bercengkerama denganku dan saya pun menyadari hal tersebut karena kelalaian saya tidak membangunkannya lagian toh dari dulu, saya sudah mafhum jikalau kawan itu susah bangun pagi.

Kesalahan kedua saat saya menikah. Saya tidak memberitahunya jauh-jauh hari sebelumnya dan lebih fatalnya lagi karena dia mendengar kabar saya mau menikah dari orang lain.

Tau apa yang dia lakukan saat itu..?? Dia meneleponku saat itu juga dan menyatakan kekesalannya karena rencana Saya menikah tidak pernah kuceritakan kepadanya.

Pada akhirnya, dia selalu berbesar hati dan kembali kami kercengkerama dalam setiap percakangan yang hangat. dia pribadi yang mudah memaafkan dan senang membantu teman-temannya.

Saya pribadi yang susah memupuk perkawanan karena banyaknya pikiran-pikiran tidak enak pada kawan yang sudah berhasil dan jika saya masih akrab dengan kawan yang kuceritakan di atas berarti dia yang berbesar hati berkawan dengan saya.

Pulogadung, June 2016

June 1, 2016

Surat Kepada Mr. Jose Mourinho

Dear Tn. Mou

semoga anda dalam keadaan sehat selalu bersama keluarga..!!!

Saya tulis surat ini ketika membaca berita pagi ini di media online bahwa anda telah deal melatih klub yang paling tidak keren di Premiere League. MUnyuk. Oh seperti mimpi di malam hari, eh di siang bolong. Saya tidak pernah menyangka bahwa Anda benar-benar akan menjadi bagian dari sebuah klub yang tidak keren dan hanya layak menjadi klub medioker.

Tn Mou,
Tahukah anda bahwa semenjak melatih klub keren, FC. Internazionale. Saya sudah memasukkan nama anda dalam daftar panjang juru taktik favoritku meski di edisi setelah kesuksesanmu di klub keren FC. Internazionale,  anda akhirnya berlabuh di Real Madrid kemudian kembali ke mantan anda, Chelsea. Saya tidak pernah menyesali keputusan anda memilih menjadi manager kedua klub tersebut karena toh lumayan keren, namun petaka di akhir musim ini ketika ternyata anda benar-benar menerima pinangan si klub yang katanya "Setan Merah" namun sama sekali tidak keren.

Tn Mou
Perasaanku benar-benar random saat ini. Saya ingin sekali mengatakan bahwa langkah yang anda ambil saat ini adalah salah satu blunder paling fatal di hidup anda melebihi blunder klub kesayangan umat FC Internazionale yang melego Mateo Kovacic ke Real Madrid awal musim 2015/16. 

Tn Mou
sebenarnya beberapa hari yang lalu, Negara Saya sempat heboh tentang isu mengenai kemungkinan anda melatih timnas negara Saya. namun isu tersebut sama sekali tidak mengusik suasana hati Saya toh pada akhirnya semua hal-hal yang belum pasti di Negeri ini sudah heboh bahkan ketika masih sekedar isu. darimana pula Negeri ini memperoleh uang membayarkan gajimu. Negeriku memang kaya namun hanya ada dalam buaian angan-angan. ah, tidak perlu membahas Negeriku yang antah berantah. mungkin juga anda tidak pernah mengenal Negeriku.

Kembali lagi ke permasalahan pokoknya. Saya harap anda tidak serius dalam menangani  klub Munyuk  supaya mereka selalu berada di barisan klub medioker. eitss tunggu dulu Mr. Mou, begini saja jalan terbaiknya, anda tetap serius meracik strategi yang pas untuk klub tersebut seperti saat anda menenggelamkan Chelsea musim yang baru selesai dan usahakan klub Munyuk tetap berada di papan tengah atau kalau anda tega, jadikan mereka klub pertama yang terdegradasi musim 2017/18.

Tn. Mou
Sebenarnya Saya berharap anda melatih klub tetangga Munyuk,  Manchester City tetapi kok malah malah si botak Pep yang berlabuh di sana. ah dilema rasanya ingin memutuskan apakah menghapus anda dari barisan Manager favoritku sementara anda melatih klub yang tidak keren.

satu-satunya alasan kenapa anda menjadi Manager keren bukan karena anda sudah menorehkan berbagai prestasi yang luar biasa namun setidaknya alasan utama karena kesetiaan anda terhadap klub keren seantero dunia,FC Internazionale. bahkan anda menolak secara mentah-mentah tawaran dari klub serie A karena tidak ingin mengkhianati klub keren si biru hitam. 

Tn Mou
Saya tidak yakin apakah surat ini sampai di tangan anda sebelum musim Premiere League 2016/17 dimulai namun setidaknya Saya sudah mengungkapkan poin penting yang anda harus ingat bahwa memilih menjadi pelatih klub setan merah adalah kekhilafan terbesar dalam karir anda.

indonesia,1 Juni 2016 

May 30, 2016

Desa vs Kota

KOTA, Iwan Fals
 
Kota adalah rimba belantara buas dari yang terbuas
Setiap jengkal lorong terpecik darah
Darah dari iri darah dari benci
Bahkan darah dari sesuatu yang tak pasti

Kota adalah rimba belantara liar dari yang terliar
Setiap detik taring taring tajam menancap
Setiap menit lidah lidah liar
Rakus menjulur lapar

Tangis bayi adalah
Lolong serigala dibawah bulan
Lengking tinggi merobek
Batu batu tebing keras dan kejam

Bernapas diantara sikut
Licik dan garang
Bergerak diantara ganasnya
Selaksa gerah

Kota adalah hutan belantara akal
Kuat dan berakar
Menjurai didepan mata
Siap menjerat leher kita

Tangis bayi adalah
Lolong serigala dibawah bulan
Lengking tinggi merobek
Batu batu tebing keras dan kejam


DESA, Iwan Fals

Desa harus jadi kekuatan ekonomi 
Agar warganya tak hijrah ke kota 
Sepinya desa adalah modal utama 
Untuk bekerja dan mengembangkan diri
Walau lahan sudah menjadi milik kota 
Bukan berarti desa lemah tak berdaya
Desa adalah kekuatan sejati 
Negara harus berpihak pada para petani
Entah bagaimana caranya 
Desalah masa depan kita 
Keyakinan ini datang begitu saja 
Karena aku tak mau celaka
Desa adalah kenyataan 
Kota adalah pertumbuhan 
Desa dan kota tak terpisahkan 
Tapi desa harus diutamakan
Di lumbung kita menabung 
Datang paceklik kita tak bingung 
Masa panen masa berpesta 
Itulah harapan kita semua
Tapi tengkulak tengkulak bergentayangan 
Tapi lintah darat pun bergentayangan 
Untuk apa punya pemerintah 
Kalau hidup terus terusan susah
Di lumbung kita menabung
Datang paceklik kita tak bingung 
Masa panen masa berpesta 
Itulah harapan kita semua
Desa harus jadi kekuatan ekonomi 
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama 
Untuk bekerja dan mengembangkan diri
Desa harus jadi kekuatan ekonomi


Tidak perlu ditanyakan lagi kapasitas seorang Iwan Fals dalam bermusik. Doski memadukan musikalitas yang mumpuni dengan Idealisme yang tidak bisa ditawar. Perjalanan musiknya adalah sebuah ritus sosial dalam menyuarakan aspirasi kaum yang termarginalkan.

Dua lagu tersebut diatas menggambarkan betapa Doski memilih untuk berpihak kepada kehidupan Desa yang sering dinomorduakan oleh Pemerintah. Kota lebih diperhatikan dan dijadikan sebagai role model.

Lagu tentang kota digambarkan dengan sangat vulgar oleh Iwan Fals. Saya sendiri mengamini setiap baitnya. kota menjadi semacam ruang sesak yang dipenuhi Manusia yang masing-masing mengejar mimpi yang utopis. Kita saling bersinggungan dan bertatap setiap hari, ruang semakin sempit yang membuat raga semakin mendekat namun tidak ada sapa diantara warga kota, tidak ada senyum apatahlagi bincang-bincang hangat, yang ada hanya sumpah serapah ketika merasa langkah Mereka tersendat oleh orang lain.

Kota benar-benar belantara rimba buas dari yang terbuas. Menjelmakan Manusia menjadi zombie yang berjalan tanpa arah, sekedar mengejar angan-angan.

Suara Iwan Fals menyanyikan lagu "kota" melengking di bait-bait terakhir. Seperti menyimpan amarah terhadap tengilnya kehidupan di kota yang hampir pasti tidak menghargai kemanusiaan. Entah apa yang sedang warga kota, pun juga Saya, cari di setiap sudut kota.

Lagu "Desa" lebih lembut mengalun, menyejukkan hati dan membesarkan hati masyarakat desa. 

Meski di lirik lagu tersebut Iwan Fals tidak menafikan bahwa kota dan desa tidak terpisahkan namun tetap saja, Doski percaya bahwa Desa harus diutamakan.

Tidak pernah berkurang sedikit pun kekagumanku terhadap Iwan Fals meskipun banyak suara-suara sumbang yang nyinyir akan sikap Doski yang memutuskan menjadi bintang iklan salah satu produk kopi sachet. 

"Ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah." Iwan Fals.

Rawamangun, Mei 2016 

May 29, 2016

Memilih Jalan Kesunyian

Sudah hampir separuh perjalanan umur Muhammad telah kulalui. Sudah setua ini ragaku mengarungi hidup yang tak pasti, namun belum jua ku bersua dengan kemantapan hati. masih sel.

Dulu pernah terlampai fanatik terhadap pahaman agama. bagaimana tidak, tumbuh dalam keluarga bahkan masyarakat yang homogen membuat pemikiran tidak berkembang dengan baik bahkan yang ada merasa benar sendiri. Semua yang diluar dari kebiasaan yang pernah ditemui menjadi salah. Kebenaran seakan mutlak ada pada pengalaman-pengalaman masa lalu.

Beranjak dewasa. saat mulai melebarkan sayap ke zona yang lebih luas lagi. Banyak hal yang berbeda dari kebiasaan-kebiasaan. Jika saja tidak menguatkan hati maka makian dan keinginan mengutuk akan ada tiap hari. Ah, kebenaran itu seperti apa sebenarnya.

Mulai untuk merubah sedikit paradigma. percaya bahwa kebenaran mutlak itu tidak berada di tangan manusia bahkan yang ada dalam kehidupan hanyalah tafsiran terhadap kebenaran Ilahi.

Tidak ada manusia yang berhak memonopoli kebenaran toh setiap kebenaran yang diyakini hanyalah tafsiran dari kebenaran Tuhan dan hal yang harus kita sadari adalah ada jarak antara kebenaran mutlak dengan tafsiran-tafsiran kebenaran yang kita yakini.

Jika sudah sampai pada pemahaman tersebut maka kita tidak dengan mudah menjustifikasi kebenaran yang dianut orang lain.

Saya tetap meyakini dengan sepenuh hati setiap kebenaran yang kupahami sampai saat ini namun kebenaran yang kuanut tidak lantas mereduksi kebenaran orang lain dalam artian tidak bolah dibenturkan satu sama lain. Seyakin bagaimanapun tetaplah yang kita anut hanya tafsiran.

Jangankan Al-Qur’an ataupun kitab yang lain, bahkan karya manusia pun selalu ditafsirkan oleh orang yang membacanya. Pemikiran Karl Marx misalnya. Tak terhitung begitu banyak orang yang mengkaji dan menafsirkan pemikiran Beliau bahkan terkadang tafsiran satu dan lainnya bertentangan. Sedangkan sumbernya sama. Itulah mengapa Saya percaya bahwa ketika menafsirkan sesuatu, kita tidak semestinya memproklamirkan tafisran kita sebagai kebenaran mutlak, toh setiap orang bisa menafsirkan dari sudut yang berbeda.

Yang keliru ketika para penafsir merasa paling benar kemudian berkelahi dengan mempertahankan kebenaran tafsiran Mereka. Loh kok lucu eram ya.

Pada akhirnya, kita seharusnya mengedepankan toleransi antar sesama Manusia. Tidak perlu berusaha memonopoli kebenaran karena tidak ada kebenaran mutlak dalam tafsiran Manusia. sekali lagi ada ruang dan waktu yang membatasi tafsiran dengan apa yang ditafsirkan. ada jarak kebenaran yang kita yakini dengan kebenaran mutlak itu sendiri.

Ah, hidup kita memang hanya penuh tafsiran-tafsiran.kata om Pram “Hidup Sungguh sangat sederhana, yang hebat hanyalah tafsirannya.”

Mampang prapatan Mei 2016