May 29, 2016

Memilih Jalan Kesunyian

Sudah hampir separuh perjalanan umur Muhammad telah kulalui. Sudah setua ini ragaku mengarungi hidup yang tak pasti, namun belum jua ku bersua dengan kemantapan hati. masih sel.

Dulu pernah terlampai fanatik terhadap pahaman agama. bagaimana tidak, tumbuh dalam keluarga bahkan masyarakat yang homogen membuat pemikiran tidak berkembang dengan baik bahkan yang ada merasa benar sendiri. Semua yang diluar dari kebiasaan yang pernah ditemui menjadi salah. Kebenaran seakan mutlak ada pada pengalaman-pengalaman masa lalu.

Beranjak dewasa. saat mulai melebarkan sayap ke zona yang lebih luas lagi. Banyak hal yang berbeda dari kebiasaan-kebiasaan. Jika saja tidak menguatkan hati maka makian dan keinginan mengutuk akan ada tiap hari. Ah, kebenaran itu seperti apa sebenarnya.

Mulai untuk merubah sedikit paradigma. percaya bahwa kebenaran mutlak itu tidak berada di tangan manusia bahkan yang ada dalam kehidupan hanyalah tafsiran terhadap kebenaran Ilahi.

Tidak ada manusia yang berhak memonopoli kebenaran toh setiap kebenaran yang diyakini hanyalah tafsiran dari kebenaran Tuhan dan hal yang harus kita sadari adalah ada jarak antara kebenaran mutlak dengan tafsiran-tafsiran kebenaran yang kita yakini.

Jika sudah sampai pada pemahaman tersebut maka kita tidak dengan mudah menjustifikasi kebenaran yang dianut orang lain.

Saya tetap meyakini dengan sepenuh hati setiap kebenaran yang kupahami sampai saat ini namun kebenaran yang kuanut tidak lantas mereduksi kebenaran orang lain dalam artian tidak bolah dibenturkan satu sama lain. Seyakin bagaimanapun tetaplah yang kita anut hanya tafsiran.

Jangankan Al-Qur’an ataupun kitab yang lain, bahkan karya manusia pun selalu ditafsirkan oleh orang yang membacanya. Pemikiran Karl Marx misalnya. Tak terhitung begitu banyak orang yang mengkaji dan menafsirkan pemikiran Beliau bahkan terkadang tafsiran satu dan lainnya bertentangan. Sedangkan sumbernya sama. Itulah mengapa Saya percaya bahwa ketika menafsirkan sesuatu, kita tidak semestinya memproklamirkan tafisran kita sebagai kebenaran mutlak, toh setiap orang bisa menafsirkan dari sudut yang berbeda.

Yang keliru ketika para penafsir merasa paling benar kemudian berkelahi dengan mempertahankan kebenaran tafsiran Mereka. Loh kok lucu eram ya.

Pada akhirnya, kita seharusnya mengedepankan toleransi antar sesama Manusia. Tidak perlu berusaha memonopoli kebenaran karena tidak ada kebenaran mutlak dalam tafsiran Manusia. sekali lagi ada ruang dan waktu yang membatasi tafsiran dengan apa yang ditafsirkan. ada jarak kebenaran yang kita yakini dengan kebenaran mutlak itu sendiri.

Ah, hidup kita memang hanya penuh tafsiran-tafsiran.kata om Pram “Hidup Sungguh sangat sederhana, yang hebat hanyalah tafsirannya.”

Mampang prapatan Mei 2016

No comments: