May 30, 2016

Desa vs Kota

KOTA, Iwan Fals
 
Kota adalah rimba belantara buas dari yang terbuas
Setiap jengkal lorong terpecik darah
Darah dari iri darah dari benci
Bahkan darah dari sesuatu yang tak pasti

Kota adalah rimba belantara liar dari yang terliar
Setiap detik taring taring tajam menancap
Setiap menit lidah lidah liar
Rakus menjulur lapar

Tangis bayi adalah
Lolong serigala dibawah bulan
Lengking tinggi merobek
Batu batu tebing keras dan kejam

Bernapas diantara sikut
Licik dan garang
Bergerak diantara ganasnya
Selaksa gerah

Kota adalah hutan belantara akal
Kuat dan berakar
Menjurai didepan mata
Siap menjerat leher kita

Tangis bayi adalah
Lolong serigala dibawah bulan
Lengking tinggi merobek
Batu batu tebing keras dan kejam


DESA, Iwan Fals

Desa harus jadi kekuatan ekonomi 
Agar warganya tak hijrah ke kota 
Sepinya desa adalah modal utama 
Untuk bekerja dan mengembangkan diri
Walau lahan sudah menjadi milik kota 
Bukan berarti desa lemah tak berdaya
Desa adalah kekuatan sejati 
Negara harus berpihak pada para petani
Entah bagaimana caranya 
Desalah masa depan kita 
Keyakinan ini datang begitu saja 
Karena aku tak mau celaka
Desa adalah kenyataan 
Kota adalah pertumbuhan 
Desa dan kota tak terpisahkan 
Tapi desa harus diutamakan
Di lumbung kita menabung 
Datang paceklik kita tak bingung 
Masa panen masa berpesta 
Itulah harapan kita semua
Tapi tengkulak tengkulak bergentayangan 
Tapi lintah darat pun bergentayangan 
Untuk apa punya pemerintah 
Kalau hidup terus terusan susah
Di lumbung kita menabung
Datang paceklik kita tak bingung 
Masa panen masa berpesta 
Itulah harapan kita semua
Desa harus jadi kekuatan ekonomi 
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama 
Untuk bekerja dan mengembangkan diri
Desa harus jadi kekuatan ekonomi


Tidak perlu ditanyakan lagi kapasitas seorang Iwan Fals dalam bermusik. Doski memadukan musikalitas yang mumpuni dengan Idealisme yang tidak bisa ditawar. Perjalanan musiknya adalah sebuah ritus sosial dalam menyuarakan aspirasi kaum yang termarginalkan.

Dua lagu tersebut diatas menggambarkan betapa Doski memilih untuk berpihak kepada kehidupan Desa yang sering dinomorduakan oleh Pemerintah. Kota lebih diperhatikan dan dijadikan sebagai role model.

Lagu tentang kota digambarkan dengan sangat vulgar oleh Iwan Fals. Saya sendiri mengamini setiap baitnya. kota menjadi semacam ruang sesak yang dipenuhi Manusia yang masing-masing mengejar mimpi yang utopis. Kita saling bersinggungan dan bertatap setiap hari, ruang semakin sempit yang membuat raga semakin mendekat namun tidak ada sapa diantara warga kota, tidak ada senyum apatahlagi bincang-bincang hangat, yang ada hanya sumpah serapah ketika merasa langkah Mereka tersendat oleh orang lain.

Kota benar-benar belantara rimba buas dari yang terbuas. Menjelmakan Manusia menjadi zombie yang berjalan tanpa arah, sekedar mengejar angan-angan.

Suara Iwan Fals menyanyikan lagu "kota" melengking di bait-bait terakhir. Seperti menyimpan amarah terhadap tengilnya kehidupan di kota yang hampir pasti tidak menghargai kemanusiaan. Entah apa yang sedang warga kota, pun juga Saya, cari di setiap sudut kota.

Lagu "Desa" lebih lembut mengalun, menyejukkan hati dan membesarkan hati masyarakat desa. 

Meski di lirik lagu tersebut Iwan Fals tidak menafikan bahwa kota dan desa tidak terpisahkan namun tetap saja, Doski percaya bahwa Desa harus diutamakan.

Tidak pernah berkurang sedikit pun kekagumanku terhadap Iwan Fals meskipun banyak suara-suara sumbang yang nyinyir akan sikap Doski yang memutuskan menjadi bintang iklan salah satu produk kopi sachet. 

"Ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah." Iwan Fals.

Rawamangun, Mei 2016 

No comments: