Sudah hampir separuh perjalanan umur Muhammad
telah kulalui. Sudah setua ini ragaku mengarungi hidup yang tak pasti, namun
belum jua ku bersua dengan kemantapan hati. masih sel.
Dulu pernah terlampai fanatik terhadap pahaman
agama. bagaimana tidak, tumbuh dalam keluarga bahkan masyarakat yang homogen
membuat pemikiran tidak berkembang dengan baik bahkan yang ada merasa benar
sendiri. Semua yang diluar dari kebiasaan yang pernah ditemui menjadi salah.
Kebenaran seakan mutlak ada pada pengalaman-pengalaman masa lalu.
Beranjak dewasa. saat mulai melebarkan sayap ke
zona yang lebih luas lagi. Banyak hal yang berbeda dari kebiasaan-kebiasaan.
Jika saja tidak menguatkan hati maka makian dan keinginan mengutuk akan ada
tiap hari. Ah, kebenaran itu seperti apa sebenarnya.
Mulai untuk merubah sedikit paradigma. percaya
bahwa kebenaran mutlak itu tidak berada di tangan manusia bahkan yang ada dalam
kehidupan hanyalah tafsiran terhadap kebenaran Ilahi.
Tidak ada manusia yang
berhak memonopoli kebenaran toh setiap kebenaran yang diyakini hanyalah
tafsiran dari kebenaran Tuhan dan hal yang harus kita sadari adalah ada jarak
antara kebenaran mutlak dengan tafsiran-tafsiran kebenaran yang kita yakini.
Jika sudah sampai pada
pemahaman tersebut maka kita tidak dengan mudah menjustifikasi kebenaran yang
dianut orang lain.
Saya tetap meyakini
dengan sepenuh hati setiap kebenaran yang kupahami sampai saat ini namun
kebenaran yang kuanut tidak lantas mereduksi kebenaran orang lain dalam artian
tidak bolah dibenturkan satu sama lain. Seyakin bagaimanapun
tetaplah yang kita anut hanya tafsiran.
Jangankan Al-Qur’an
ataupun kitab yang lain, bahkan karya manusia pun selalu ditafsirkan oleh orang
yang membacanya. Pemikiran Karl Marx misalnya. Tak terhitung begitu banyak
orang yang mengkaji dan menafsirkan pemikiran Beliau bahkan terkadang tafsiran
satu dan lainnya bertentangan. Sedangkan sumbernya sama. Itulah mengapa
Saya percaya bahwa ketika menafsirkan sesuatu, kita tidak semestinya memproklamirkan tafisran kita sebagai kebenaran mutlak, toh setiap
orang bisa menafsirkan dari sudut yang berbeda.
Yang keliru ketika para
penafsir merasa paling benar kemudian berkelahi dengan mempertahankan kebenaran
tafsiran Mereka. Loh kok lucu eram ya.
Pada akhirnya, kita
seharusnya mengedepankan toleransi antar sesama Manusia. Tidak perlu berusaha
memonopoli kebenaran karena tidak ada kebenaran mutlak dalam tafsiran
Manusia. sekali lagi ada ruang dan waktu yang membatasi tafsiran dengan apa yang ditafsirkan. ada jarak kebenaran yang kita yakini dengan kebenaran mutlak itu sendiri.
Ah, hidup kita memang hanya
penuh tafsiran-tafsiran.kata om Pram “Hidup Sungguh sangat sederhana, yang
hebat hanyalah tafsirannya.”
Mampang prapatan Mei 2016