March 19, 2014

INDU #18

aku di kotamu
di kota yang engkau sering rindukan
seperti malam yang ingin mencumbu rembulan

aku di kotamu
mengurus urusan kantorku
namun tidak ada dirimu
seperti saat dulu
karena engkau
tlah larut dalam riuh ibu kota

aku di kotamu
menyusuri setiap potongan yang engkau jejak
aku tak ingin lagi memungutnya
membiarkan kenangan itu tergeletak
dan berserakan di sapu abu kelud
biarkan saja begitu

aku di kotamu
demi perjuangan yang melelahkan
dan kemudian sebentar lagi aku beranjak
kembali ke kotaku

Tetaplah bahagia di kotamu yang baru karena hidup memang harus bahagia

dan tebarkanlah kebahagiaanmu kepada yang lain


caturjaya 9
19/3/14

March 17, 2014

RINDU #17


Dua hari ini aku sering ke kampus C. hanya sekedar bercengkerama dengan senja yang telah berlalu sejak lama. Aku memungut semua kenangan yang engkau tinggalkan dengan jejak kebersamaan kita di sini. Di danau ini, di gazebo dan di setiap sudut yang menjadi saksi bisu kebersamaan kita. Aku bahkan harus menutup rapat memoriku untuk tidak merekam setiap jejak langkahmu meski kutahu itu dusta karena selalu saja kenangan itu menari indah di setiap langkah yang kujejak senja tadi.

Di kampus ini. Aku memandang setiap mudamudi memadu rasa. Menghabiskan kebersamaan mereka tanpa peduli apapun yang di sekitarnya seperti kebersamaan kita dulu. Namun aku sudah tidak tertarik dengan masa itu.  Aku sudah muak dengan romansa masa muda.

Aku alihkan pandanganku ke pasangan suami isteri dengan seorang bocah di samping mereka. Sedang asyik memberi makan ikan sambil menggoyang-goyangkan kaki di tepi kolam. Aku lebih tertarik membayangkan seperti mereka dik. Membayangkan kebersamaan dengan seorang bocah karena mereka telah menyatu dalam ikatan suci pernikahan yang diridhai. Aku ingin kita seperti mereka suatu saat nanti

Dimana dirimu aku tak tahu. Engkau telah digulung oleh gedunggedung raksasa ibu kota hingga kabarmu pun tak terdengar atau bahkan ketampanan pria ibukota membuatmu tergoda. Ah sakit mengingat itu semua dik namun satu hal yang membuatku tenang adalah engkau telah berjanji untuk tidak saling meninggalkan dan menungguku di sana di belantara kota yang menyeramkan dan menenggelamkan semua yang tidak sanggup bertahan.

 Tetaplah bahagia di belantara ibu kota dik karena hidup harusnya dilalui dengan kebahagiaan dan teruslah menebar kebahagiaan kepada sesama.

Membunuh senja di kampus C
17’3’14

Coretan Untuk Mamak #11

Ma, bagaimana kabar mama hari ini?

Kemarin aku tidak menulis surat untuk mama karena aku agak sedikit lemas dan tidak punya gairah beraktivitas. Meski sudah kupaksakan ke toga mas untuk melepaskan kemalasanku namun sampai disana tetap saja aku lemas dan tidak punya gairah. Hanya ingin tiduran saja. Padahal banyak sekali yang ingin kuceritakan kepadamu ma, tentang keadaanku disini namun aku sudah berjanji untuk tidak menceritakan kepadamu kesedihan-kesedihanku terpaksa aku urungkan semua niatku untuk menceritakan hal yang membuatmu sedih.

Tadi malam aku meneleponmu. Memberitahukan sedikit keadaanku di sini. Tentang kebingunganku yang belum kunjung dapat pekerjaan. Tentang kondisiku yang sedikit agak lemas. Aku benar-benar tidak kuasa memendamnya ma. Aku bahkan merasa seperti yang ditulis di sebuah buku Aku, Kau dan Kua. Di halaman 94-95, ada renungan seperti ini ma, tentang ibu.

Yang rahimnya aku pakai sebelum hadir di dunia, ibu
Saat haus, tak ada kata untuk meminta, ibu menyusuiku
Kata pertama yang aku ucapkan, diajar dengan sabar oleh ibu
Bangun tidur, aku menangis merangkak mencari ibu
Saat diganggu teman di sekolah, yang bisa membujukku ibu
Ketika aku terbaring sakit, orang paling risau adalah ibu
Tapi kini, setelah dewasa. Saat aku dan pasangan sudah menikah
Kalau bahagia aku mencari pasanganku
Kalau sedang sedih aku mencari ibu
Kalau sukses aku rayakan dengan pasanganku
Kalau gagal aku ceritakan kepada ibu
Kalau bahagai aku peluk erat pasanganku
Kalau berduka aku peluk erat ibu
Kalau mau berlibur aku bawa pasanganku
Kalau sibuk, aku titipkan anak ke rumah ibu
Pasanganku ulang tahun, aku hadiahi bunga dan doa
Saat hari ibu, aku Cuma mengirim ucapan “selamat hari ibu” lewat sms
Selalu,,aku ingat pasanganku
Selalu,, ibu ingat aku
Setiap saat aku sempatkan telepon pasanganku
Entah kapan terakhir kalinya aku menelepon ibu
Selalu aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan aku pernah membelikan hadiah untuk ibuku
Dulu waktu aku masih sekolah, ibu pernah bergurau dan berkata dengan senyum canda menggodaku
“kalau kamu sudah bekerja nanti, bolehkah kamu kirim uang untuk ibu? Ibu tidak meminta banyak. Seratus ribu sebulan pun sudah cukup”
(Aku, kau dan Kua, Hal 94-95)

Aku membayangkanmu menulis itu ma. Begitu banyak hal yang telah mengalihkan perhatianku kepadamu. Ma, selain buku itu, kemarin juga pas di toga mas, ada buku yang selintas kubaca dan amat sangat bagus untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini sebagian intinya ma, di buku yang judulnya “Tangisan langit”

Imam Ali pernah menyatakan bahwa seorang yang riya memiliki setidaknya tiga pertanda. Satu, malas beramal jika tengah sendiri. Dua, bersemangat jika tengah berada dihadapan orang lain. Dan yang ketiga adalah semakin giat, termotivasi dan cekatan manakala disanjung namun langsung meredup bahkan padam semangatnya kala ditegur.

Ma, hal ketiga yang mau keceritakan tentang hari kemarin adalah saat aku ingin BAB ternyata toilet di kosku lagi buntu ma. Aku ke kawasan kalidami di sebuah masjid menumpang toilet. Di sana ternyata ada petugasnya dan saat aku memasuki toilet masjid, dia menanyaiku mau apa dan teka endi. Aku jawab seadanya namun hal yang paling membuatku kesal karena dia bertanya dengan muka masam ma. Sepertinya dia punya masjid itu. Aku tidak pernah mendapati orang dilarang numpang di masjid kalau di kampung kita ma. Siapapun dia bebas buang air kecil dan BAB di toilet masjid. Di kota ini ma, semua seakan tidak boleh. Tapi tidak apa-apa ma. Kita lah yang seharusnya tetap baik meski semua orang di sekitar kita tidak bersahabat


Tetap bahagia ma, karena hidup memang seharusnya bahagia dan sebarkan kebahagiaan kepada yang lain. Insya Allah aku sehat-sehat saja dan baik-baik di sini ma. Iringi aku dengan doa-doa terbaikmu.




 
Jojoran 3/61
17’3’14

March 15, 2014

RINDU #16


Engkau telah memenangkan pekerjaanmu hari ini
Engkau tlah berani meluangkan waktumu untuk bertemu Tuhan
Disaat kerjamu sedang menumpuk
Disaat rekanrekanmu tidak bergeming dengan kerja mereka

Aku yakin dan aku percaya
Kitalah yang mengatur pekerjaan bukan sebaliknya
Jangan pernah sungkan dik untuk minta ijin shalat saat waktunya
Jangan pernah sungkan karena ingin dipuji sebagai karyawan tekun
Injak semua pujian itu dik dan buang ke tempat sampah
Bekerjalah dengan mengharap keridhaan Allah
Sekalikali jangan karena pujian

Tetaplah menunduk dan saat tiba menunaikan kewajiban
Tinggalkan pekerjaanmu sesaat dan tenangkan hatimu mengingat Sang Pencipta
Itu saja pesanku untuk hari ini

Engkau telah memenangkan pekerjaanmu
hari ini dan semoga selamanya
Dan tetaplah berbahagia
Dan tebarkan kebahagiaan kepada sesama


Jojoran 3/61
15’3’14

Coretan Untuk Mamak #10

Bagaimana kabar hari ini ma? 

Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan diridhai Allah SWT. Ma, aku hari ini ada kisah yang menurutku sangat tidak patut dicontoh ma. Tadi waktu aku mau keluar cari makan siang, aku mampir shalat di salah satu masjid kalidami. Saat akan memasuki kawasan masjid, seperti mayoritas masjid di kota ini melantunkan shalawat setelah adzan dan begitu pula dengan masjid itu ma. 

Sesaat setelah memasuki masjid itu kulihat yang melantukkan shalawat sambil memakai pengeras suara bukan pengurus masjid tetapi tukang bakso yang juga sedang mampir shalat. Sejurus kemudian seorang bapak paruh baya yang mungkin pengurus masjid langsung masuk masjid dengan tergopoh-gopoh dan menegur si tukang bakso itu untuk menghentikan shalawatnya dengan muka masam. 

Si tukang bakso hanya diam terpaku dan saat itu juga berhenti. Tidak sampai di situ, imam masjid kemudian masuk dan lagi-lagi menegur si tukang bakso, entah apa yang dikatakannya karena mengggunakan bahasa jawa namun aku yakin dari mimiknya bahwa dia melarang untuk melantunkan shalawat dengan pengeras suara antara adzan dan iqamat.

Fenomena yang amat sangat sering terjadi di Negara kita ma. Harusnya tadi mereka yang menganggap pengurus masjid dengan baju putih bersih tidak menegur langsung si tukang bakso di depan jamaah shalat dhuhur karena dia tidak mengerti. Mungkin sebaiknya tadi setelah shalat kemudian pengurus masjid memberitahukan dengan santun bahwa di masjid ini budayanya tidak melantunkan shalawat antara adzan dan iqamat. 

Nampaknya masjid tadi itu ma, diurus oleh orang-orang Muhammadiyah. Akupun besar dalam lingkungan Muhammadiyah namun tidak seperti itu untuk menegur orang di khalayak. Itu seperti pembunuhan karakter bagi orang yang di tegur. Bahkan menurutku bahwa yang dilakukan oleh si tukang bakso bukan hal yang salah hanya saja pahaman yang beda yang membuat dia dianggap salah. Aku mengira-ngira tadi itu mereka shalat dengan memikirkan hal itu bahkan akupun yang hanya melihat itu dalam shalat masih terngiang-ngiang.

Ma, terlalu sering aku jumpai seperti itu ma. Orang yang merasa dirinya cerdas dengan sewenang-wenang menegur orang yang mereka anggap kurang cerdas bahkan di depan orang banyak sekalipun. 

Tidak kalah parahnya beberapa waktu lalu ma. Aku menonton di youtube dan berita-berita online, seorang yang mengaku dirinya uztadz dan sering main sinetron memperlakukan buruk seorang yang bertugas menyediakan soundsystem bahkan kesalahannya hanya sepele karena soundsystemnya tidak berfungsi dengan baik. Orang yang mengaku uztadz itu ma, menghardik lalu dengan pongahnya mengunci leher si tukang soundsystem dengan kakinya.

Aku semakin tidak mengerti seperti apa harus bersikap melihat fenomena-fenomena seperti itu ma. Hati yang masih dipenuhi oleh emosi dan nafsu meski berjubah dan dengan penampilan seperti orang suci namun aku tetap tidak setuju dengan mereka ma. Hati yang beriman itu harusnya damai dan berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. 

Untuk apa berkhutbah dengan beribu ayat ketika tindakan masih tetap saja membuat orang lain merasa terganggu. Amat sangat jauh dari sikap altruisme seperti yang dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau sebaik-baik manusia dengan semua sisi yang harus dicontoh namun entah mengapa mereka yang menggap diri uztadz dan penyambung lidah Nabi tidak memperlihatkan seperti apa seharusnya bahkan malah sebaliknya.  Namun mungkin begitulah kehidupan ma, kita tinggal memilih mana yang harus dicontoh.


Tetaplah bahagia ma karena hidup hanya sekali dan hidup itu harusnya berbahagia dan menyebar kebahagiaan kepada orang lain

Jojoran 3/61
15’3’14

MASA ITU


Jalanan yang meleleh diterpa mentari. Mengalirkan setiap keringat para pedagang asongan. Angin semakin enggan bersahabat dengan tetap diam dalam selimutnya bahkan untuk menengok pun tak sudi. Pagi mulai merasuk dalam diri semesta hingga nyanyian syahdu para pujangga tak terdengar lagi karena tempat mereka adalah malam yang gulita.

Aku tahu gadis yang tersisa di sudut malam yang basah. Dia sering mampir tepat saat permulaan bulan dan selalu saja pergi dengan misteri tanpa meninggalkan jejak langkah. Aku juga mengenali bocah dekil yang tersisa di ujung jalan saat senja merangkak pergi. Dia selalu setia menjemput mentari sambil terus berdendang dan pada saat yang sama, dia akan tenggelam bersama malam yang berjatuhan di pelupuk barat bumi ini.

Hanya satu yang tidak pernah kukenali. Seorang pemuda dengan tinggi semampai yang terus saja diam dalam hening tanpa bergeming meski hujan bahkan badai di kota ini. Aku mencoba menghampiri dan menegur namun tak jua menyahut bahkan sering kuanggap mayat namun tidak juga karena nadinya masih berdenyut. Lalu kutanyakan ke guruku siapakah dia? Tak ada jawaban pasti, bahkan ke kyai kampung pun jawabannya nihil. Ah, mungkin dia memang misteri yang tetap akan jadi misteri.

Aku heran. Benar benar tak mengerti kenapa setiap kali aku mencoba untuk berteriak namun tak ada sepata katapun yang mampu keluar dari mulutku namun setiap kali aku diam maka kata-kata begitu mudahnya terucap sama seperti orang yang sedang mengigau. Entah karena semalam aku terlalu banyak minum arak di pinggir desa saat merayakan teman kami yang pulang dari rantau setelah sekian lama tidak bertemu ataukah aku yang kurang tidur saat menunggu ayah yang tidak kunjung pulang dari sawah sejak kemarin? Aku benar-benar kacau. Hariku tidak ceria dan aku hanya diam saja dan menunggu rasa kantuk menyerangku sehingga aku bisa terlelap dengan mimpimimpi indah yang aku inginkan.

Namun masih tetap saja nihil. Mataku seakan tertuju pada sebuah masa yang belum pernah kutahu bahkan pikiranku melayang membuat diriku seakan berada di suatu tempat yang asing. Sangat asing bahkan tak ada satu orang pun yang pernah kujumpai di tempat itu. Mereka seakan bercakap dalam bahasa planet lain. Aku seperti batu atau bahkan rumput yang tidak mengerti apaapa dan diabaikan begitu saja. Bahkan saat aku berteriak mereka tidak hirau hingga aku putus asa dan duduk di sebuah tebing yang curam. Menikmati desiran angin yang tidak pernah kurasakan sebelumnya dan akhirnya aku bermimpi dan kembali bersama keluargaku di desa yang permai. Membajak sawah bersama ayah dan mengantar ibu ke pasar kemudian ikut memanen di kebun belakang rumah.


Tetaplah bahagia dengan semua yang pernah dan akan dialami karena hidup adalah untuk bahagia dan berbagi kebahagiaan dengan yang lain.
Jojoran 3/61
15’3’14

March 14, 2014

RINDU #15

Aku mengkhawatirkanmu
Engkau bekerja sampai larut malam
Duduk manis depan Komputer 16 jam
Aku hanya bisa gelenggeleng kepala
Mana ada lembaga pemerintah dengan jam kerja selama itu
Engkau hanya dikasih waktu istirahat
Ah, engkau tidak lebih dari para buruh yang menyedihkan
Di pabrikpabrik ibu kota
Aku mengkhawatirkanmu
Engkau sudah waktunya ke pelaminan
Aku yang belum jelas kedepannya
Tetap memberimu harapan kosong
Aku bingung bahkan sedih mengingatku
Dengan semua kondisi yang serba tidak jelas
Semoga saja Tuhan memberikan jalan terbaik
Jojoran 3/61
Jumat siang yang menyengat
13.00

Coretan Untuk Mamak #9

Ma, seperti biasanya, tadi aku ke toga mas menghabiskan waktuku untuk membaca buku. Tetapi entahlah sampai di sana aku agak pening jadi tidak terlalu fokus untuk membaca. Bahkan waktu di sana, aku malah numpang wifi dan menelepon ulla di jepang lewat line. Ulla itu ma, temanku waktu di Makassar yang sekarang sudah di jepang. Dia itu ma, selalin pintar bahasa inggris, luas wawasannya dan pengetahuan agamanya juga baik ma. Setelah menelpon ulla, aku tetap naik ke lantai 2 toga mas melihat-lihat buku mungkin saja ada yang bisa dijadikan obat sakit kepala.

Selang beberapa lama mengelilingi rak buku, akhirnya kuraih salah satu buku dari Al-Ghazali tentang “metode menaklukkan jiwa”. Alih-alih mau mencari buku untuk mengobati sakit kepalaku, aku malah menemukan buku yang semakin membuatku pening, bagaimana tidak. Buku Al-ghazali tersebut mengupas tentang penyucian jiwa dan parahnya maoritas pantangan penyucian jiwa itu pernah kulakukan ma. Kepalaku bahkan semakin pening.

Secara singkat, ini beberapa inti dari buku tersebut yang berhasil kuingat ma. Kata Yahya Ibn Mu’adz Al-Razi “berjuanglah melawan nafsumu dengan pedang kedisiplinan diri. Ada empat cara pendisiplinan diri yaitu menyedikitkan makan, menahan tidur, membatasi ucapan dan bersabar terhadap perbuatan orang lain yang menyakitkan. Menyedikitkan makan dapat mengalahkan hawa nafsu. Menahan tidur dapat menjernihkan keinginan. Membatas ucapan dapat menyelamatkanmu dari malapetaka. Bersabar terhadap gangguan orang lain akan membawa keberhasilan mencapai cita-cita.

Abu Yahya berkata “barangsiapa memberikan kesenangan kepada anggota tubuhnya dengan memanjakan nafsu berarti dia telah menanam pohon penyesalan dalam hatinya. Wuhaib ibn Al-Ward berkata “barangsiapa cinta kepada nafsu duniawi maka hendaklah dia bsiap-siap menanggung kehinaan.

Seorang pria bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz, kapan mestinya aku bicara? Dia menjawab “kapanpun ketika engkau ingin diam. Lalu bertanya lagi, kapan aku mesti diam? Dan umar menjawab “kapanpun ketika engkau ingin bicara”. Ali k.w berkata “barangsiapa merindukan surga, hendaklah dia melupakan kesenangan-kesenangan dunia.
Rasulullah SAW pernah bersabda “barang siapa merasakan adanya nafsu birahi namun tetap menahan diri dan menyembunyikannya, lalu orang itu meninggal dunia maka dia wafat sebagai seorang syahid.

Masih banyak lagi ma, yang amat sangat penting namun aku begitu tidak kuasa menulisnya karena sepertinya buku itu mengungkap keburukan-keburukanku yang tidak diketahui. Aku benar-benar hina ma. Selama ini berusaha untuk menjadi baik namun aku tidak lebih dari seorang pendosa yang tak dikenali karena dosanya meliputi dirinya. Namun begitu ma, aku akan tetap berusaha untuk memperbaiki diriku ma, sekuat mungkin.

Ma, bagaimana kabarmu malam ini..???
Tetaplah berbahagia ma karena hidup hanya sekali dan hidup harusnya bahagia dan membagi kebahagiaan kepada orang lain..


Jojoran 3/61
14’3’14
Jum’at malam yang kelabu