September 22, 2021

22 September

Tragedi hotel Sapadia membayangiku di kota ini. 

Sejak hari pertama datang di kota ini, saya menyadari bahwa baju kemeja yang akan saya kenakan tiga hari pertama. menyadari akan hal itu, saya berinisiatif untuk meminjam setrika di  hotel. biasanya hotel akan memberikan pinjaman setrika untuk digunakan sementara waktu kemudian langsung dikembalikan.

Tragedi sore itu dimulai

Singkat cerita, tiga baju kemeja sudah selesai saya sertika. tanpa pikir panjang, setrika yang masih panas saya letakkan pada kursi sofa dan tidak terpikir bahwa setrika tersebut akan merusak sofa. sepersekian menit ketika saya hendak mengembalikan setrika, saya kaget melihat bekas setrika dengan jelas di sofa. 

Tanpa merasa bersalah, saya mengembalikan setrika ke bagian recepsionist, namun selama tiga hari, tragedi bekas setrika selalu terbayang di kepalaku.

Anehnya, petugas kebersihan hotel tidak menegur atau melakukan konfirmasi kepada saya sedangkan bekas tersebut tidak pernah saya tutupi.

hari rabu pagi, kami chek out dari hotel karena beberapa alasan termasuk pelayanan hotel yang tidak terlalu memadai. kebersihan hotel juga jauh dari standar yang baik. di kamar toilet tempat saya menginap, atapnya bocor dan showernya penuh dengan karat. air yang keluar dari shower berbau besi.

Setelah pindah hotel, saya masih tetapa kepikiran dengan bekas setrika. semoga saja memang tidak ada apa-apa.

September 19, 2021

19 September

Hampir tiga bulan tidak menjalani rutinitas keluar kota karena pandemi yang semakin parah. 

Pagi ini, rutinitas ke luar kota kembali dimulai setelah pandemi mereda. setengah 8 pagi, saya sudah sampai di terminal 2E. lumayan cepat karena tol lengang, mungkin karena belum terlalu banyak orang yang bepergian dengan Pesawat.

Saat memasuki bandara, saya melihat kondisi yang tidak seperti biasa. terminal satu terlihat kosong dan kemungkinan semua penerbangan dipindahkan. biasanya terminal satu cukup padat penumpang yang pergi dan datang.

Terminal dua juga terliha tidak terlalu padat meskipun di ruang tunggu, terlihat rombongan orang yang akan berangkat. saya mencari tempat duduk untuk menikmati suasana karena penerbangan saya jam sepuluh pagi artinya masih dua setengah jam lagi.

oh iya, semalam saya tidur jam setengah tiga dinihari kemudian bangun jam lima. pola tidur yang tidak biasanya karena tiap malam, saya tidur maksimal jam 12 malam, namun semalam saya ngebut kerja tugas akhir. saya sudah janji ke dosen untuk menyicil tugas dan seharusnya sudah dari minggu lalu. 

Terlalu banyak distraksi yang tidak bisa saya hindari dan parahnya selalu saja ada pembenaran atas distraksi tersebut yang ujung-ujungnya menjadi kebiasaan prokraktinasi. saya sudah berusaha keras menghindarinya namun selalu gagal.

oh iya, sebelum menyelesaikan tulisan ini, terminal dua sudah dipadati penumpang. saya menduga semua penerbangan dialihkan ke terminal dua.

setelah ini saya akan mencari sarapan sambil menunggu jadwal keberangkatan ke kualanamu.

September 18, 2021

18 September

Pagi ini saya terbangun dengan mimpi yang sangat jelas di kepala saya. entah karena semalam habis nongkrong dengan teman-teman kampus atau mimpi itu akumulasi dari keinginan di kepala saya yang tidak tertuangkan dalam bentuk cerita kepada orang lain

Mimpi yang menurut saya sangat aneh karena berhubungan dengan sebuah prinsip yang sudah beberapa tahun ini tertanam dalam pikiranku. mungkin juga karena sudah saya pendam lama sehingga tercurahkan dalam bentuk yang tidak bisa saya kontrol.

Saya terbangun dengan mimpi yang hampir nyata. sebuah percakapan yang hampir nyata dengan salah seorang senior di kampusku dulu.percakapan tentang pilihan kerja yang memang bukan pilihan idealku, entah karena faktor eksternal atau pun juga murni prinsipku.

Dalam mimpi itu, senior saya menyarankan untuk mencari pekerjaan lain yang sejalan dengan prinsipku. 

September 17, 2021

17 September

Malam ini saya tiba di rumah agak larut dari biasanya. saya menengok jam dinding yang tergantung di atas televisi ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. lumayan larut karena biasanya paling lambat saya tiba di rumah jam setengah 7 malam.

memang sepulang kantor, saya diajak nongkrong sama beberapa kawan kampus yang sering komunikasi. tidak ada hal yang penting sebenarnya namun kebiasaan kami adalah menyempatkan bertemu sekali dalam sebulan. pandemi memang membuat intentitas pertemuan kami tidak sesering dulu meskipun demikian kami sering berkomunikasi lewat hp.

awalnya kami nongkrong seperti biasa. bercerita apa saja dalam saling bertanya kabar. salah satu teman saya membawa vodka yang tentunya diminum bersama. saya yang notabene memang bukan penikmat alkohol, menolak minum meskipun tidak mempermasalahkan jika mereka minum sepanjang saya tidak ikut minum.

tidak ada yang aneh sebenarnya karena saya juga sudah biasa melihat teman-teman kampung dulu minum alkohol lokal, namun ketika beberapa gelas sudah tandas. salah satu teman saya sudah mulai bertingkah aneh. setiap ada percakapan, nadanya meninggi sambil teriak dan jika ditegur untuk menurunkan nada suara, dia bersikeras bahwa daerah itu tempat tinggalnya. saya mulai risih. 

sebenarnya sepanjang dia tidak bertingkah maka tidak ada masalah namun persoalannya, dia tidak bisa mengontrol dirinya ketika sudah terlalu banyak minum. beberapa kali saya menegurnya namun dibalas dengan ucapan yang lumayan keras yang dalam keadaan sadar, dia tidak pernah bereaksi sekeras itu. 

Saya mulai berpikir untuk pamit pulang karena sudah terlalu risih. akhirnya saya izin pamit dengan alasan besok pagi harus keluar kota meskipun sebenarnya, saya baru berangkat dua hari kemudian.

Sepanjang perjalanan pulang di atas motor. saya bersyukur tidak menjadi penikmat alkohol melihat orang-orang yang mabok selalu tidak berada dalam kontrol dirinya. dulu waktu di kampung, saya liat teman-teman kampung saya yang dalam keadaan mabok, juga bertindak hal yang sama bahkan ada yang berkelahi antara mereka padahal pada saat pesta alkohol, mereka duduk bersama.

saya tidak menjustifikasi orang penikmat alkohol sepanjang bisa mengontrol dirinya pada saat mabok. saya hanya risih melihat orang yang sudah out of control ketika jumlah kadar alkohol yang masuk dalam aliran daranya sudah berlebihan. 

Mungkin jika saya juga peminum alkohol, reaksi diri saya jauh lebih tidak terkontrol karena banyak hal-hal atau juga masalah yang saya mitigasi sendiri dalam diriku dan tentunya ketika tidak sadar, bisa saja terlampiaskan dalam bentuk yang merusak diriku sendiri.

sekali lagi saya tidak menjustifikasi para penikmat alkohol dan tidak menganggap mereka pendosa sebaliknya saya yang tidak minum alkohol juga tidak menganggap diriku suci namun sejauh ini, saya bersyukur tidak pernah menjadi penikmat alkohol. saya punya potensi menjadi peminum karena dulu di kampung saya, banyak teman-temanku yang menjadi pecandu alkohol.

September 10, 2021

10 September

Saat memulai tulisan ini, saya sedang menimbang hal apa yang menarik untuk diceritakan. aktivitas yang kujalani hari ini hanya pengulangan dari hari-hari sebelumnya atau lebih spesifiknya hanya pengulangan dari jumat kemarin. tidak ada yang terlalu menarik untuk diceritakan.

Mungkin yang beda hanya tentang sebuah acara perpisahan. namun tidakkah dalam sebuah lingkungan kerja, yang namanya perpindahan adalah hal yang biasa. oh tidak, bukan hanya di dalam dunia kerja namun di setiap potongan hidup yang dijalani. kita selama bertemu dan berpisah dengan apa saja dan di mana saja. itu sebuah keniscayaan dalam hukum semesta.

Jika terjadi perpisahan, kita seringkali sentimental kemudian bersedih dan mengingat apa yang telah dilalui. saya selalu berusaha untuk memahami, sebenarnya apa yang membuat seseorang sedih atas sebuah perpisahan?

apakah tentang kenangan-kenangan yang dilalui?

atau memang benar-benar perpisahan itu sendiri yang menyedihkan?

kemungkinan yang kedua bukan jawabannya karena seringkali, dalam hitungan hari kesedihan hilang yang kemudian menjadi normal kembali. 

lalu apa yang membuat kita sedih atas perpisahan?

Tidak lain hanya karena manusia terlalu cinta terhadap masa lalu, tentang apa saja. ketika berpisah, manusia memikirkan kenangan namun seandainya perpisahan sudah terjadi, sebuah akan biasa-biasa saja.

begitu pula dengan perpisahan yang hakiki, ya kematian. manusia berduka teramat dalam ketika terjadi kematian namun duka cita tersebut akan disapu oleh waktu demi waktu dan manusia akan kembali menjalani harinya seperti sediakala.

Setelah memaknai perpisahan, saya selalu menimbang-nimbang, apa yang seharusnya saya lakukan dalam hidup untuk tidak sekedar menjalani hidup secara mekanis. jikalaupun ternyata hidup seperti itu yang sedang kujalani, setidaknya saya tidak berbuat sesuatu yang meninggalkan kenangan buruk pada orang lain, bukankah yang diingat oleh manusia hanyalah kenangan.

Saya merenungi hari yang kujalani sejak pagi tadi sampai malam. mungkin satu hal yang harus dikurangi adalah bercanda yang berlebihan. 

Saya menakar diri bahwa saya terlalu banyak bercanda hari ini. meskipun bukan sesuatu yang dilarang namun saya orang yang meyakini bahwa terlalu banyak bercanda tidak baik untuk ketenangan jiwa apatahlagi jika ada orang lain yang merasa tersinggung. 

esok, lusa dan seterusnya, saya ingin lebih mengontrol diri dalam hal bercanda.

September 9, 2021

9 September

Saya tidak pernah membayangkan hidup yang seperti saya jalani. hidup di tengah rimba kota yang menyesakkan dan tidak memiliki teman yang menyenangkan. memang benar hidup yang paling mengerikan adalah hidup dalam kesepian.

sebenarnya saya tidak sepenuhnya kesepian karena memiliki isteri dan seorang anak. tetapi tidak memiliki sahabat menjadi masalah tersendiri. entah saya yang tidak mampu menemukan sahabat atau mungkin memang saya sendiri yang tidak membuka diri untuk mengakrabkan diri dengan orang lain.

Faktor lain mungkin karena saya merasa sangat sulit untuk menemukan seorang teman akrab di lingkungan pekerjaan karena seringkali relasinya adalah tentang kalkulasi untung rugi. sangat jauh berbeda saat dulu masih kuliah, cukup mudah memiliki kawan yang mau diajak berpikir tentang hidup tanpa harus memikirkan sesuatu yang sifatnya materi.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa hidupku sudah sangat mengecil dalam sebuah lingkaran pertemanan yang tidak terlalu intim. tidak ada teman diskusi yang bisa diajak untuk memimpikan dunia yang menyenangkan. jika ada, maka percakapan hanya seputar bagaimana memulai bisnis, bagaimana promosi di kantor dan percakapan lain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan materi. sesuatu yang menurutku sangat absurd karena jiwa manusia butuh siraman.

Bayangkan saja, saya hidup di ibu kota dengan lalu lintas yang menyeramkan, bekerja secara mekanis jam delapan pagi sampai jam lima sore. sampai di rumah setelah maghrib kemudian bercengkerama dengan anak, tidur lima sampai enam jam kemudian bangun pagi dan memulai rutinitas yang sama. 

Weekend dihabiskan untuk istirahat dan membalas lima hari yang sudah dihabiskan di kantor dan di jalanan. setelah senin datang, kembali memulai gerak yang sama. begitu terus sampai waktu tidak memberikan kesempatan untuk memikirkan hidup yang layak.

Bisa dibayangkan, betapa mengerikannya hidup yang sedang kujalani. tidak memiliki teman untuk sekedar menegakkan eksistensi sebagai manusia sosial.

Bisa dibayangkan saya sedang berada dalam jebakan hidup yang menyiksa jiwa. tidak ada gerak yang membuat pengembangan diri selain menunaikan tanggung jawab dan menunggu bayaran di akhir bulan. bayaran yang tidak berwujud karena habis digunakan untuk membayar cicilan. 

Ketika menyadari hal tersebut, saya seringkali merasa bahwa hidupku begitu absurd. bekerja untuk sesuatu yang tidak terlihat dan mengejar tujuan yang tak tercapai. sampai akhirnya raga sudah mulai menua, hidup yang menyenangkan tak jua nampak.

September 8, 2021

8 September

Iba nian melihat seorang ibu muda dengan tiga anak yang masih balita. harus menanggung persoalan yang cukup rumit. persoalan yang tentunya tidak semua orang bisa melalui dengan tegar. pasangannya terbelit tindakan yang cukup besar dampaknya secara finansial.

Saya bisa merasakan betapa beratnya menjadi seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak kecil yang fokus pada perkembangan anak namun ternyata pasangannya melakukan kesalahan fatal. 

Terlihat di wajahnya guratan kekecewaan atas apa yang menimpa pasangannya. sambil menggendong bayinya yang berusia 6 bulan, dia menjawab pertanyaan saat pemeriksaan sambil sesekali menahan butiran-butiran air yang hendak berhamburan dari sudut matanya. saya memandangi kacamatanya yang berembun karena tetesan air mata.

Ada kalimat yang menyisakan sebuah kepiluan dalam diri seorang isteri yang ingin hidup tenang tanpa permasalahan

"lebih baik tidak punya apa-apa daripada seperti ini"

Sebuah kalimat yang cukup klise namun diucapkan dengan hati yang pilu dari seorang isteri yang harus menanggung kesalahan suaminya.

Saya tidak tahu seperti apa suasana saat mereka di rumah namun saya bisa merasakan sebuah kekacauan yang menyiksa karena harus berhari-hari memikirkan masalah yang tidak terbayangkan. rumah akan menjadi sebuah kuburan jika tidak ada diantara mereka yang mampu mencairkan suasana atau sekedar berusaha berpikir jernih untuk tetap menyelesaikan masalah.

Ada berbagai kepiluan yang saya rasakan hari ini dari seorang isteri yang ingin merawat keutuhan keluarnya.

Si isteri memutuskan untuk resign dari sebuah bank dan fokus untuk mengurus tiga anak. setiap bulan tidak pernah menerima jatah uang bulanan. jika ingin membeli kebutuhan, hanya sekedarnya. 

dia memilih untuk tidak menuntut karena pesan dari orang tuanya, jangan pernah menekan suami terkait masalah keuangan. dia memilih diam dalam sebuah tanda tanya yang tak berujung. sampai akhirnya dia menemukan jawabannya. keraguan-keraguan yang menghantui benar-benar menjadi kenyataan. 

Saat menulis kisah ini, saya sedang duduk di depan anak saya yang asik main game dan isteri saya yang sedang melepaskan penat sehabis kerja. Saya tidak bisa membayangkan bagaiamana kacaunya hati anak isteri saya jika harus membawa mereka dalam masalah yang tidak bisa dipikul.

Hujan yang terus mengguyur kawasan tempat tinggal kami membuat atap rumah dekat pintu bocor. air hujan menetes ke lantai dan membasahi sebagai lantai depan pintu. sepersekian detik, saya tetap bersyukur daripada harus berteduh di sebuah rumah yang nyaman namun dari hasil yang bukan merupakan hak. setidaknya sampai detik ini, saya tidak pernah mencoba untuk mengambil yang bukan hakku karena saya yakin bahwa semesta bekerja dengan sistemnya. jika sesuatu yang bukan hak dipaksakan untuk dinikmati, maka semesta akan membalasnya dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Ya begitulah hidup. terlalu rumit untuk diurai dalam sebuah kalimat yang terbatas. begitu banyak realita yang tidak bisa dinalar oleh manusia itu sendiri. saya yang pasti bahwa semesta itu seimbang. ada aksi maka niscaya ada reaksi

September 7, 2021

7 September

 Hari yang tidak pernah saya anggap sebagai sebuah momen spesial kecuali hanya sekedar pengingat bahwa saya akan mentraktir makan siang teman-teman kantor. hari yang menurutku sama saja dengan hari biasanya, bukan karena saya menganggap tidak ada dalam ajaran agama namun lebih karena sejak kecil, momen ini tidak pernah menjadi spesial dalam budaya keluarga saya, sekali lagi bukan karena agamais namun karena keluarga saya masih mempunyai kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Apa yang akan kutuliskan setiap tahun di tanggal ini sebenarnya sama saja, bahwa momen ini biasa saja, tidak lebih dari hari-hari yang kujalani.

Mungkin jika ada hal yang sedikit berharga, tidak lain hanya sebagai pengingat bahwa langkah saya sudah terlalu banyak dan sebagian besar langkah itu berada pada jalur yang khilaf. jika demikian, saya harus sering-sering merenungi jejak langkah mana saja yang harus saya anulir dan langkah mana yang harus tetap saya lanjutkan.

Di perjalanan hidup dengan hitungan tahun yang sudah cukup banyak, saya masih tetap bisa menemukan diriku yang entah tersesat di mana. sepanjang saya belum menemukannya, maka hidup saya masih akan berjalan dalam kegelapan yang absurd. 

Saya sangat khawatir jika hidupku berjalan secara mekanis. sebuah hidup yang tentunya tidak lebih dari sebuah perjalanan menghabiskan waktu.

September 5, 2021

5 September

Saya selalu merencanakan hal-hal produktif di akhir pekan. pekerjaan-pekerjaan selain tugas kantor yang harus segera saya selesaikan termasuk tugas akhir kuliah. Seringkali akhir pekan saya hanya berakhir pada sekedar rencana. sikap prokraktinasi terlalu dalam meresap dalam nadi saya yang diafirmasi oleh kecanduan saya terhadap gadget.

Akhir pekan ini, saya kembali merencanakan untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah yang sudah tertunda berbulan-bulan. 

Seperti biasa tepat jam delapan pagi, saya menyedu kopi dan dua potong roti. duduk di depan laptop dan mulai membuka file tugas yang sudah jamuran. berhubungan hari sebelumnya saya sudah bimbingan dan diberikan beberapa poin-poin pembahasan yang harus saya lengkapi, maka saya awali tugas saya dengan mencari referensi baru. 

Situs andalan saya apa lagi kalau bukan google scholar. setelah mengetik keywords yang berhubungan dengan judul tugas saya dan berharap ada beberapa referensi yang muncul, hal yang membuatku gembira ketika membaca penelitian yang persis saya dengan judul namun sepersekian detik, reaksi saya berubah menjadi perasaan yang tidak karuan. bagaimana tidak, saya menemukan skripsi dari anak UH yang persis dengan judul tugasku.

Saya mencoba untuk tenang dan membayangkan kemungkinan terburuk yaitu harus mengulang dari awal. menurutku terlalu berat jika harus mulai dari awal karena harus membangun kerangka pemikiran dalam kepalaku.

Sejurus kemudian, saya mengirimkan pesan ke dosen pembimbing dan menanyakan apa masukannya untuk tugas akhir saya. beliau mengatakan bahwa penelitian tersebut memang sangat mirip dan tulisanku berpotensi plagiasi tujuh puluh persen jika tetap dilanjutkan dengan redaksi judul yang sama.

Saya mulai pasrah dan tetap berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik, paling tidak saya hanya mengubah redaksi judul tanpa harus mengubah tema penelitian.


September 4, 2021

4 September

Tadi sehabis maghrib, sebagaimana rutinitas saya sebelum-sebelumnya, terkadang saya menelon ibu saya meskipun sekedar menanyakan kabarnya dan kabar bapak serta kabar keluarga yang lain. tidak ada pembicaraan intim, hanya sesekali diselingi pertanyaan seputar makanan, keadaan kampung dan tema pembicaraan template lainnya yang selalu berulang

Ibu saya juga menanyakan kuliah saya yang tak kunjung kelar yang sudah berjalan lebih dari dua tahun. sedikit beban juga karena sampai sekarang, tugas akhir saya sama sekali belum menunjukkan progres yang menggembirakan, bahkan di bimbingan kemarin dengan dosen penguji, tugas akhirku sama sekali belum memenuhi standar yang layak bahkan teknis penulisan pun masih jauh dari kata ideal

Dalam beberapa kali keadaan, saya sering merenungi apakah saya bisa menyelesaikan ini dan pertanyaan yang lebih filosofi, sebenarnya saya sedang menjalani ini untuk apa dan akan saya kemanakan setelah selesai? namun satu prinsip yang selalu saya tanamkan dalam pikiran bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia.

Setelah pertanyaan kuliah, ibu menanyakan sesuatu yang tidak saya jawab karena selalu berulang setiap tahun. saya benar-benar tidak sanggup memberikan ibuku jawaban mengingat trauma tahun-tahun sebelumnya yang selalu berakhir dengan kecewa, meskipun demikian saya berharap tahun ini bisa memberikan kabar gembira untuknya. saya berharap semoga ibu selalu mendoakan yang terbaik untukku.

Entah mengapa, ketika membayangkan ibu dan semua suasana kampung, saya selalu menyadari bahwa betapa waktu sudah terlalu jauh membawaku pergi. nenek saya meninggal beberapa minggu lalu membuatku merasa bahwa ketika pulang kampung, ada potongan masa lalu yang hilang karena kebiasaan saya ketika mudik, saya pasti akan mengunjungi rumahnya yang berada di lereng bukit. menjumpainya di bale rumah sambil istirahat siang atau sekedar memberi makan ayam-ayamnya namun situasi seperti itu tidak akan lagi kujumpai. saya sudah semakin jauh berjalan dan waktu berlalu terlalu jauh.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa semua sedang berjalan ke penghujung waktu termasuk saya. apa yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan.

Untuk ibu yang saya tidak menjawab tadi pertanyaannya, saya hanya ingin memberikanmu jawaban menggembirakan tahun ini, entah itu apa. amin

September 3, 2021

3 September

Apa kata yang sering disucikan dalam dunia kerja? kata yang selalu muncul di setiap wawancara kerja yang menjadi tolak ukur seorang calon karyawan layak diterima atau ditolak. 

Kata yang selalu dicantumkan dalam setiap CV para pencari kerja yang dengan kata itu, para pencari kerja berharap memikat hati tim HRD.

"INTEGRITAS"

berikut pengertian integritas yang saya sadur secara utuh dari KBBI

Integritas dalam KBBI adalah suatu mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan satu kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan serta kejujuran

integritas merangkum semua sikap baik dalam diri seorang karyawan baik itu tentang komitmen, patuh dan yang paling inti adalah kejujuran. 

Saya sendiri masih sedang meraba-raba batasan integritas itu sampai pada titik mana? apakah ketika kita menggunakan komputer kantor untuk browsing yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pada saat jam istirahat, termasuk melanggara integritas? 

atau seperti apa dan batasan sampai dimana? saya juga masih belum memahami secara pasti ruang lingkup integritas secara jelas.

kenapa saya tiba-tiba menulis tentang Integritas?

tiga minggu terakhir, saya begitu sibuk mengurus kasus mega fraud di kantorku. sebuah pelanggaran terhadap norma integritas yang menohok seluruh pemangku kebijakan, bukan hanya karena nilaim kerugian yang fantastis namun trik melakukan pelanggaran yang sistematik dan terstruktur bahkan di design secara rapi. sebuah proses yang memang terlihat seperti sebuah sindikat yang menggerogoti Perusahaan dari dalam.

Nilai kerugian lebih dari dua miliar sedangkan cara yang dilakukan pun diluar nalar seorang penjahat yang menduduki jabatan sebagai staf. si pelaku membuat rekanan Perusahaan yang fiktif, memalsukan stempel, tandatangan, nomor rekening dalam semua dokumen yang dibutuhkan dalam memuluskan modus kejahatannya.

Jika berbicara integritas, maka setitik pun tidak tersisa, lalu apa dan siapa yang gagal dalam setiap kejahatan yang dilakukan oleh karyawan dalam sebuah perusahaan?

bisa jadi tim HRD yang gagal dalam menjalankan proses rekrutmen karyawan, atau sistem Perusahaan yang tidak berjalan dengan baik sehingga ada celah yang digunakan untuk berbuat jahat, atau kemungkinan-kemungkinan lain yang berada di luar nalar.

pertanyaan yang muncul kemudian adalah integritas itu lahir dari mana? apakah murni lahir dari moral setiap individu, ataukah integritas itu bisa ditumbuhkan dari sebuah sistem yang baik?

integritas sesuatu yang luhung. sangat sulit untuk mengkuantifikasi integritas karena hanya bisa terlihat dari sebagian kecil sedangkan mayoritas nilai integritas bersemayam di dalam nurani setiap individu.

Integritas juga bukan jargon semata, namun lebih pada manifestasi kesungguhan manusia menjadi manusia yang seutuhnya.

September 2, 2021

2 September

Saya sudah enam tahun menjalani profesi sebagai tim pemeriksa. sebuah potongan cerita hidup yang menyisakan berbagai kisah dengan hikmah masing-masing, terkadang menyenangkan namun seringkali merusak suasana hati

pekerjaan audit jelas akan berhadapan dengan hal-hal mengenai penyalahgunaan baik materiil maupun non materiil yang ujungnya akan menguntungkan diri dan kelompok si pelaku. motifnya berbeda-beda namun mayoritas karena kepentingan sendiri

Hidup di ibukota memang ibarat sebuah ruang yang menjebak manusia dalam pemandangan kemewahan. siapa yang tahan melihat mobil mewah, rumah yang besar dan berbagai benda-benda duniawi yang memancing nafsu manusia untuk memilikinya sekedar memenuhi hasrat duniawi. bisa sebagai eksistensi untuk dipamerkan atau untuk kesenangan sendiri.

Jika tidak menguatkan diri untuk menahan nafsu keinginan maka besar kemungkinan akan terperosok dalam kejahatan demi kejahatan apalagi jika pendapatan tidak mampu memenuhi keinginan yang diangankan.

Kejahatan berwujud dalam banyak hal, mulai dari kejahatan yang berbentuk kekerasan seperti merampok maupun kejahatan struktur yang dilakukan oleh pejabat negara seperti korupsi atau fraud yang dilakukan oleh karyawan swasta. semua ujungnya demi mendapatkan keuntungan pribadi.

Saya akrab dengan tindakan fraud yang dilakukan oleh karyawan, mulai dari nilai jutaan sampai miliaran. 

saya tidak sedang ingin membahas kronologis kejahatan yang sering saya hadapi namun saya hanya ingin mengatakan bahwa alasan para pelaku seringkali berbeda dan alibi paling menyebalkan ketika mereka mengatasnamakan kepentingan keluarga. damn it.

4 bulan yang lalu tepatnya April 2021, saya menjumpai kasus dengan kerugian perusahaan lebih dari setengah miliar dan ketika diinterogasi, alasan klasiknya adalah untuk kebutuhan lahiran isterinya. mempunyai mobil yang merupakan barang tersier mengafirmasi kecurigaan saya bahwa alasan melakukan tindakan fraud bukan untuk kepentingan yang mendesak. 

4 bulan setelahnya di bulan agustus, saya menjumpai kasus yang lebih besar lagi, nilai kerugian tidak kurang dari 2 M dan alibi yang sama adalah untuk pengobatan anaknya. hal yang mungkin tidak masuk akal karena ternyata dia punya aset yang lumayan banyak dan tidak sebanding dengan gajinya sebagai staf, tindakannya pun dilakukan jauh sebelum anaknya lahir.

Sebenarnya tidak hanya mereka yang menjadikan keluarga sebagai alasan pamungkas, seorang koruptor sadis di negeri ini yang menggarong dana bansos saat pandemi dengan nilai triliunan, juga meminta untuk dibebaskan dengan alasan kasihan kepada keluarganya. 

Luar biasa mereka, keluarga selalu menjadi alasan klasik untuk mendapatkan empati.

Terkadang muak mendengar kejahatan yang dilakukan mengatasnamakan keluarga namun begitulah adanya. semoga saya masih tetap kuat dengan godaan-godaan duniawi yang absurd.

Saya harus akui bahwa ibukota adalah kemewahan tak berujung yang akan menjadi racun bagi manusia-manusia yang tidak sanggup menahan dirinya untuk menunjukkan eksistensinya. orang yang ingin mendaku dirinya akan ditelan oleh absuditas di kota ini, 

Jadi bersiaplah untuk segala kemungkinan dan bentengi dirimu dengan meruntuhkan nafsu yang silau dengan kemewahan. 

Di setiap sudut kota ini, ditawarkan kemewahan yang menyiksa batin manusia. mereka menyangka bahwa dengan memiliki kemewahan tersebut, hidup mereka akan menyenangkan dan mampu mengatakan kepada dunia bahwa mereka bisa atau sekedar mengabarkan kepada orang-orang di kampung halamannya bahwa ibu kota sudah ditaklukkan dengan menjadi perantau yang sukses secara materi

Saya kira, hanya sebagian dari pelaku kejahatan yang benar-benar melakukan tindakannnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

September 1, 2021

1 September

Apa yang paling mengerikan dalam perjalanan hidup?

apa yang membuat seseorang terpuruk dalam jurang yang paling dalam? kehilangan teman, kehilangan tujuan, kehilangan harapan atau kehilangan apa pun itu yang berharga dalam hidupnya.

kemudian bagaimana untuk bangkit dari keterpurukan itu? menemukan itu semua. namun bukan sesuatu yang mudah. butuh usaha dan energi yang besar untuk memulihkan semangat hidup yang sirna terbawa oleh absurditas kehidupan.

atau mungkin

benar apa yang disampaikan oleh para alim, seorang yang tidak mengenal dirinya, akan berjalan dalam kegelapan yang tidak mempunyai arah dan bahkan akan mengantarnya ke jurang kepunahan. 

lalu apa dan bagaimana menerangi hidup kita?

bukankah mengenal diri adalah sesuatu pergulatan hidup yang tak berujung, jika pengenalan terhadap diri tidak jua menemukan titik temu, siapa yang salah? toh kita sudah berniat untuk mengenal diri sendiri namun semesta tidak merestui

kata orang, membangkitkan semangat hidup adalah menemukan sesuatu yang menyenangkan hati. persoalan yang muncul kemudian, bagaimana memastikan bahwa kesenangan itu sesuatu yang muncul dari dalam diri bukan dari hawa nafsu?

Terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut di kepalaku yang sudah sangat penat dengan duniawi.

aku tidak menemukan apaapa, aku tidak menjalani apaapa. semua berjalan mekanis yang sangat tidak layak dinikmati. aku terpasung dalam rutinitas yang membuatku kaku dan meleyapkan prinsip-prinsip dasar dalam hidupku. 

pernah di suatu masa. entah 10 atau berapa tahun yang lalu. saya membayangkan hidup ketika sudah menikah akan menjadi hidup yang memiliki tujuan. hidup dalam kedamaian dan ketenangan batin, kemudian semesta menggiringku kepada waktu sekarang, ketika aku sudah memiliki anak. 

lalu pertanyaannya, 

apakah aku dengan serta merta hidup dalam ketenangan batin?

apakah hidupku kemudian memiliki tujuan yang pasti?

secara jujur saya harus mengatakan "tidak"

hidupku kemudian dipenuhi dengan dinamika yang cukup melelahkan. membantingku dari satu arah ke arah lain. menggiringku dari masalah yang satu ke masalah berikutnya. sesuatu yang sama sekali berada di luar perkiraanku.

dan sekarang,

aku dalam kebingungan yang berkepanjangan.