April 12, 2020

Virus Corona dan Cara Manusia Menyikapi

Wabah ini benar-benar mengungkap semua tabir terdalam setiap Manusia, entah secara individu maupun kelompok. tidak bisa dipungkiri bahwa eksistensi Manusia adalah hal yang paling hakiki dan jika yang satu itu terancam maka terkadang Manusia melakukan hal yang mungkin bahkan di luar dugaan. ada Manusia yang semakin menjadi manusia seutuhnya dalam menyikapi wabah virus ini dengan berbagai kegiatan dan tindakan untuk menjaga eksistensi manusia lainnya, bukan hanya berfikir tentang keselamatan sendiri, namun demikian ada juga Manusia yang mencampakkan esensinya sebagai seorang Manusia bahkan memperlihatkan sisi terdalamnya yang menyimpan kekelaman. semua hal tersebut atas nama eksistensi entah saya di bagian yang mana. Beberapa berita di bawah ini saya sajikan sebagai bukti bahwa memang manusia sama dan dilengkapi dengan piranti yang persis sama namun cara mereka menyikapi wabah ini tidak selalu sama.

Manusia-manusia yang menyikapi Wabah Covid-19 dengan panik dan melakukan hal yang mendegradasi nilai kemanusiaan mereka.
  1. Warga melakukan protes terhadap isolasi mandiri pasien Covid-19 karena menganggap bahwa tempatnya dekat dengan pemukiman padat penduduk. daerah ini tidak jauh dari kampungku. Sumber berita
  2. Warga menolak pemakaman jenazah yang positif Covid-19 karena mereka takut tertular sedangkan sudah dijelaskan bahwa pemakaman tersebut sudah sesuai dengan protokol dan dipastikan tidak akan menularkan penyakit. kejadian ini terdapat di beberapa daerah antara lain di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, di Ungaran Timur, Semarang, Jawa Tengah, di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dan masih banyak daerah yang melakukan hal yang sama dengan satu alasan bahwa mereka ketakutan tertular.
  3. Di beberapa daerah bahkan di seluruh dunia, terdapat fenomena yang disebut sebagai panic buying. mereka melakukan hal tersebut karena takut jika wabah ini dalam waktu yang lama dan bahan pokok habis di pasaran. 

April 10, 2020

2020

2020 sudah memasuki bulan keempat. proses perjalanan dalam setahun yang belum genap mencukupi setengahnya, namun nampaknya tahun ini menjadi sebuah perjalanan panjang yang melelahkan bukan hanya fisik namun juga psikis bahkan bukan masalah yang relatif maka masing-masing orang namun menjadi masalah yang universal. sebuah tahun yang benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. saya tidak sedang menghakimi sebuah perjalanan dari sudut pandang orang secara psikis namun saya hanya ingin mengatakan bahwa secara lahiriah, semua orang marasakan dampak dari musibah yang sedang terjadi.

Mungkin di akhir tahun kemarin, semua orang sudah menyusun resolusi dengan sistematis dan penuh dengan optimisme yang tinggi dengan bayang-bayang akan berjumpa dengan mimpi-mimpi di tahun ini namun baru tiga bulan berjalan, saya yakin bahwa semua relosusi tersebut porak-poranda dengan makhluk yang begitu sangat kecil dan tak kasat mata. sesuatu yang tak terlihat secara indrawi memang lebih membahayakan.

Virus Corona atau yang sering dikenal dengan nama Covid-19...!!!

Pandemi virus ini benar-benar menciptakan sebuah horor bagi seluruh manusia di bumi ini. Akhir Desember 2019, virus ini sudah mengirimkan pesan kepada seluruh Manusia untuk menyiapkan amunisi dengan sebaik-baiknya namun nampaknya Manusia tidak pernah mau belajar terhadap alam. apa yang mereka raih selama ini dalam hal yang mereka sebut sebagai sebuah "peradaban" membuat manusia lupa akan asalnya. Manusia menjadikan dirinya sebagai pusat dari alam semesta yang segalanya bisa mereka kendalikan.

Peringatan yang sudah sangat jelas dari makhlus tak kasat mata ini bahkan disikapi dengan pongah oleh para Manusia pemegang otoritas di beberapa negara. Presiden di negeri saya bahkan dengan cerobohnya melakukan langkah yang berani ketika periode Februari 2020, virus ini belum menyerang negeriku, Presiden membuka jalur wisata dari negara yang sudah terpapar, bahkan Menteri Kesehatan mengerdilkan virus ini bahwa hanya virus biasa yang bisa disembuhkan sendiri oleh tubuh Manusia. pun demikian dengan negara yang mendaku pemimpin dunia, Presidennya meremehkan virus ini.

Kemudian apa yang terjadi tidak lama setelah itu, virus ini kemudian dengan membabi buta menyerang semua Manusia tanpa kecuali. Negara yang sebelumnya meremehkan ternyata kewalahan dari menghadapi makhluk yang sama sekali tak terlihat. 

Peringatan yang sangat jelas dari Alam...!!!

Teori-teori sudah berseliweran di linimasa tentang asal muasal munculnya virus ini. bagi para aktivitis lingkungan, mereka mungkin mengatakan bahwa virus ini lahir dari keserakahan Manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa batas. bagi para pengamatan ekonomi politik, mungkin akan berpikir bahwa ini adalah hasil dari design perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. bagi para Ilmuwan Alam bahwa virus ini sebenarnya sesuatu yang lazim karena dalam proses perjalanan alam semesta ini, setiap makhluk akan saling menyerang untuk tetap eksis, di balik makhluk yang eksis hari ini, ada berbagai jenis makhluk lain yang dikorbankan. bagi para teori konspirasi, Mereka meyakini bahwa virus ini dibuat di laboratorium sebagai senjata kimia.

Bayangkan di sekitar Jakarta dan kota satelitnya, setiap orang melihat tanah kosong sebagai potensi untuk membangun perumahan yang kemudian dijual dengan harga yang tidak masuk akal. membangun rumah tidak lagi membangun sebuah bangunan sebagai tempat istirahatnya jiwa namun membangun rumah semata untuk sebuah bangunan kokoh yang dinilai dengan bebeberapa lembar kertas yang kemudian dijadikan pride sebagai sebuah simbol keberhasilan, kemewahan dan simbol duniawi lainnya.

Di kota ini, tidak ada lagi ruang untuk makhluk selain Manusia selain Makhluk yang bisa dimanfaatkan oleh mereka.

Terlepas dari semua teori yang ada, saya tidak terlalu tertarik untuk meyakini salah satunya. satu hal yang pasti bahwa ancaman virus ini nyata dan sedang menyerang eksistensi Manusia. setiap individu seharusnya mengambil bagian dalam proses penyelesaian masalah ini dalam ranahnya masing-masing. jika seorang Dokter maka akan bahu membahu di rumah sakit, jika seperti saya yang tidak terlalu berkepentingan di luar, maka tinggal di rumah sesuai anjuran Pemerintah.

Saya yakin bahwa eksistensi Manusia masih akan tetap berlanjut dan momen akan akan berlalu suatu saat nanti meskipun tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir. namun bukan pada persoalan apakah Manusia masih tetap eksis atau tidak namun pada persoalan bahwa seberapa Manusia yang harus takluk di depan virus ini. kematian memang sesuatu yang pasti namun kematian massal adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang harus disikapi. atau jangan-jangan memang kita hidup hanya untuk mempertahankan eksistensi masing-masing. mungkin kebetulan saya bahwa kita menghadapi musuh yang sama sehingga saling membantu mempertahankan eksistensi, jika badai ini berlalu, kita akan kembali lagi ke pola lama untuk saling mengalahkan demi sebuah pride yang namanya eksistensi.



Dampaknya menghancurkan semua lini kehidupan bahkan salah satu lini yang selama ini diagungkan-agungkan oleh Manusia adalah keagamaan yang juga porak poranda. lihatlah Gereja, Masjid, Pura, Sinagoge dan semua tempat yang selalu dijadikan tempat penyembahan. semua dikosongkan atas nama virus ini. lalu kemudian apa yang tersisa dan keegoan Manusia selama ini tentang siapa yang benar dalam beribadah kepada Sang Pemilik semesta. semua terdiam menyadari bahwa tidak ada yang patut mendaku kelompoknya sebagai paling suci. rumah-rumah ibadah tersebut hanyalah bangunan sebagai sebuah simbol yang paling sering hanya dijadikan sebagai sebuah pengukuhan diri sebagai paling suci, namun yang paling hakiki bahwa Tuhan sebenarnya tidak membutuhkan itu semua. Tuhan membutuhkan hati Manusia yang jernih dalam benar-benar mencariNya dalam keheningan terlepas dari kalkulasi duniawi.

Salah satu gambar yang entah benar atau tidak, terlihat seorang Manuasia duduk di depan Kabbah sambil berlutut. gambar tersebut disertai dengan caption kurang lebih seperti ini bahwa bukan raja, buka orang kaya namun hanya seorang tukang bersih yang boleh beribadah di depan Kabbah. 

Semua orang harus tinggal di rumah. banyak hal yang harus ditarik garis lurusnya. menjadi pelajaran bagi Manusia bahwa rumah bukan hanya tempat singgah untuk berbaring namun juga harus dihidupkan dengan kehangatan antar anggota keluarga. selama ini sesama keluarga hanya bertatapan pada subuh sebelum berangkat dan pada malam hari sepulang kantor dan ini adalah momen untuk kemudian merekonstruksi kembali apa makna rumah sebenarnya. sejatinya rumah bukan hanya bagunan fisik semata untuk berteduh dan sebagai pride bagi sebagian orang berpunya yang mempunyai rumah bak istana, namun rumah lebih dari itu semua.

Tinggal di rumah juga mengajarkan kita bahwa betapa tersiksanya hewan yang dikurung dalam kandang tanpa dikeluarkan. meskipun sebenarnya saya masih sangat awam untuk menarik garis dengan ranah ini karena beberapa hewan yang sudah didomestikasi memang perlu dikandangkan.

Namun terlalu jauh jika saya melihat apa yang ada di luar diri saya tanpa melihat apa yang sudah berubah dalam diri saya setelah hampir tiga minggu harus mendekam di rumah karena makhluk yang tak kasat mata.

Nampaknya belum ada yang terlalu signifikan terjadi di dalam diri saya. rencana-rencana yang seharusnya sudah bisa saya selesaikan di rumah tidak tercapai. hati saya masih picik dalam menghadapi musibah ini dan jarang sekali berbisik ke dalam diri saya, apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang Manusia, dan jika momen ini berlalu, langkah apa selanjutnya yang harus kuteruskan supaya hidup sedikit lebih bermakna? 

April 6, 2020

Turning Point for Contemplating

Almost 4 months, most of Countries in the world is conquering by Covid-19. since the emerge in Wuhan, RRT end of December 2019 and now, whole the world facing the same fearness. nobody knows when the virus go away or when human can be defeat this Virus but the most important things is how to be survive for this time. 

it so many things or something like the hidden messages if we want to contemplate more about this situation. depend on us, by what side to analysis this phenomenon. environmentalist will says that it because the failure of human. they exploitation and destruction more and more the earth without remaining at all for other creatures meanwhile this earth is the home for all universes. Covid-19 is representing a anger of the earth.

Despite more difficulties of it, but always follows by some blessing. this virus teach us to stay all along time at home, wash our hands frequently, social distancing, and and the other things what we never do in the normal condition.

for me, covid-19 outbreak being a turning point to rethinking my habit in all aspects, how to eat, what I have to eat, when I have to take a rest or running my work, how to interact with the other and so on. I begin try no to eating some meats except fish. 

I need a time to refresh my head from all problems.I going to let it and being free. this is the best moment to think more and deciding my future. being a worker in company is not a fault but I have to brave to dream most of it.

I can't cultivate my relationship with the others in office because it just like a work relation, it's getting ironic. I want to find another place or another work which leads me to be a real human. the day when no mad panic or desperate to get a life, when the life flows like a river.

the day had come for my desire when taking a class at Paramadina University. I remembered for years ago after graduating strata 1. I always said that I would continue my class. I was a bit regret because make it true in a late time. I had a few months to finish my class and try to immerse myself in academic realm. I have a few jobs or tasks in pursuing it and on of those tasks is reading and writing more and more. I knew that it need a lot of time but thats not a problem. 

Having a chance to continue my class makes me enthusiasm. the most importang things is do not wasting my time. do the best.

March 21, 2020

Kepemimpinan

Lima tahun bergabung di Perusahaan ini setidaknya sudah memberikan saya pengalaman menjadi seorang bawahan dari empat sosok pimpinan yang berbeda karakter. pimpinan tertinggi dalam struktur unit kerja yang langsung berhubungan dengan pekerjaanku sehari-hari. perbedaan karakter mewarna gaya kepemimpinan masing-masing. 

Sebenarnya tidak ada yang salah atas gaya kepemimpinan yang berbeda hanya saja jika kepemimpinan sudah berubah arah menjadi terlalu tendensius untuk kepentingan pribadi maka perlu diinterupsi apatahlagi Perusahaan ini bergerak di bidang jasa yang tentunya fokus pada kepuasan customer. 

Ini beberapa pemimpin yang kualami sejak di Perusahaan ini. saya yakin bahwa penjelasan ini akan sangat subjektif sesuai penilaianku namun di belahan dunia mana sih sesuatu tidak subjektif jika seseorang memberikan penilaiannya.

Tahun pertama bergabung, saya dibawahi oleh seorang pimpinan yang menurutku wibawa sebagai pemimpin sudah ada. dia seorang yang terkesan tegas dan tidak pandang bulu, berani dan blak-blakan. hanya saja menurutku dia terkadang sering meremehkan seseorang yang tidak disenanginya, terlalu sering menceritakan negatif orang lain di belakang. ini sangat aneh karena orang yang blak-blakan biasanya tidak suka memendam perasaan. overall, dia tidak pernah memarahiku secara langsung namun juga saya bukan bawahan yang dia senangi. intinya jiwa kepemimpinannya sangat kuat hanya saja dia setidaknya bisa menahan diri untuk tidak terlalu banyak bicara apalagi untuk hal-hal yang tidak perlu bahkan tidak memandang siapa lawan bicaranya. Pemimpin yang kedua adalah anti tesis dari sosok pertama.

Teori tentang Pemimpin dan kepemimpinan sudah seabrek. tinggal kita bagaimana mengambil hikmah dari semua teori yang sudah berserakan atau jangan-jangan bukan pertanyaan bisa atau tidak bisa mengambil hikmah namun lebih pada pertanyaan mau atau tidak mau mengambil hikmah, karena ketakutan akan status quo atau perasaan ego untuk dihargai sebagai seorang Pemimpin.

power sindrom...!!

Begitu banyak Pemimpin yang seperti itu. jabatannya mengekang dirinya dan menguasai kepribadiaannya tanpa sadar bahwa karakter yang dipertunjukkan sangat artifisial yang sama sekali tidak membuat bawahannya terkesan yang ada bahwa bawahannya menerterwakan kejenakaannya.

Pemimpin yang baik tidak harus berteriak bahwa dia seorang Pemimpin untuk dihormati namun Pemimpin yang disegani adalah yang bekerja dengan sepenuh hati dan memperlihatkan kepada bawahannya tentang realitas pekerjaan yang sebenarnya, bukan malah sibuk melakukan pencitraan sebagai seorang atasan yang tak tahu arah memimpin.

atau jangan-jangan untuk menutupi ketidakmampuan memimpin..?

mungkin saja, selalu muncul hipotesi-hipotesis sebagai anggapan dasar terhadap perilaku yang agresif.

Pemimpin, jabatan yang tak lekang waktu karena sejatinya kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.

January 16, 2020

OTS #

Kali kedua menginjakkan kaki di pulau Borneo, namun kali ini Borneo bagian timur yang lebih dekat dengan Sulawesi dan mayoritas pendatang berasal dari sana sehingga saya tidak merasa asing di daerah ini. bahasa yang digunakan hampir dengan bahasa native saya sehingga serasa pulang kampung.

Perjalanan perdana di tahun 2020 memang terasa berkesan apatahlagi daerah yang belum pernah dikunjungi. meski demikian, sehari sebelum keberangkatan yang sudah ditentukan, saya sedikit was-was saat menonton berita dan ternyata kota ini dikelilingi banjir yang tidak main-main tingginya, ada yang hampir sepaha orang dewasa bahkan pada puncak banjir, akses jalan ke bandara tidak bisa dilewati. untungnya siang hari saat berangkat, langit nampak cerah seakan merestui perjalanan saya kali ini, tidak ada setitik awan yang menandakan akan turun hujan.

Saya berangkat dari ibu kota jam setengah 3 sore dengan menumpang pesawat batik air. pesawat lumayan penuh. jarak tempuh perjalanan via udara sekitar 2 jam persis sama dengan jarak tempuh ke kampung saya. sesampai di Bandara, saya menemukan cuaca yang cukup cerah sehingga mengurangi kekhawatiran saya akan terhalang banjir ke tempat menginap. oh iya saya sudah memesan hotel Violand di bilangan jalan Ahmad Yani dengan pertimbangan karena dekat dengan kantor.

keluar dari bandara, seperti pada umumnya di bandara lain, bejibun sopir taxi menawari kami dengan berbagai macam rayuan maut. saya menjatuhkan pilihan pada salah seorang sopir paruh baya yang kemudian saya ketahui lebih muda dari pada saya ketika banyak berbincang di atas mobil padahal kesan pertama saya, dia mungkin sudah berumur 40 tahun.

Perjalanan ke hotel sekitar 40 menit dengan jalanan yang hampir sama dengan medan jalan di kampungku. naik turun bukit.

Kami tiba hotel sehabis maghrib dengan sebuah hotel yang sangat jauh dari ekspektasi yang diharapkan. saat memesan hotel via traveloka, gambarnya lumayan bagus dan nampaknya akan menyenangkan menginap di hotel tersebut namun ide selalu menyalahi realita. kebersihan tidak dijaga, bau menyengat dari kamar mandi, handuk yang sudah berwarna coklat pun demikian seprei yang sepertinya meninggalkan noda. Esok hari, kami memutuskan pindah ke hotel Amaris. hotel yang lumayan untuk ditinggali selama 6 hari.

Selama 6 hari di kota ini, saya memandangi banyak hal. hiruk pikuk kota yang sebentar lagi menjadi bagian dari ibu kota negara. penataan kota yang belum terlalu baik apatahlagi kota ini dipenuhi sungai yang menyebabkan kota ini sangat rawan banjir dan diperparah dengan hutan di sekelilingnya yang sudah dihabisi para penambang.

Selasa pagi, banjir akhirnya benar-benar datang setelah sebelumnya diguyur hujan. banjir di kota ini tidak tanggung-tanggung bahkan ada yang sampai sepaha. sebagian besar kota ini dilanda banjir yang menyebabkan saya tidak bisa mengeksplorasi sudut-sudut kota secara detail.

sampai sabtu pagi saat hendak pulang, kota ini masih digenangi air banjir bahkan hampir saja saya tidak bisa pulang karena akses ke arah bandara sudah banjir di daerah terminal.

December 31, 2019

2020

2019 selangkah lagi akan berlalu kemudian melangkah ke halaman berikutnya, 2020. sebuah perjalanan waktu yang secara positivistik sebenarnya sangat lama namun secara afeksi hanya berlalu dalam sekedip mata. begitulah perkembangan manusia sampai pada ujungnya nanti bahwa kalkulasi angka-angka selalu dinegasikan dengan perasaan yang ada dalam diri manusia, itulah sebabnya hidup ini tidak melulu tentang pengetahuan posivistik bahkan mungkin sesuatu yang tidak bisa dikalkulasi selalu lebih dominan. toh Tuhan juga tidak suka jika kita terlalu kalkulatif dalam hidup karena Dia punya rumus sendiri, kalau tidak percaya, coba pelajari lagi konsep sedekah - lain soal jika kalian tidak mempercayai konsep Ketuhanan berserta sistematika semesta yang berjalan sesuai instruksiNya- yang mana ketika seseorang bersedakah, uangnya berkurang secara matematis namun bertambah secara nilai. entah itu perasaan senang karena sudah membantu orang lain atau bahkan memang jika percaya bahwa sedekah akan membawa berkah misalnya ketika kita membutuhkan sesuatu, maka selalu ada jalan. Tuhan menyiapkan sesuatu yang kita butuhkan.

Saya kadung terbiasa menulis sesuatu di akhir tahun yang saya inginkan terjadi di tahun berikutnya meskipun semua tidak terealisasi. namun paling tidak, dalam beberapa tahun terakhir, selalu ada perubahan besar dalam setiap tahun minimal satu momen.

Tahun ini, momen yang menurutku lumayan signifikan adalah saya melanjutkan sekolah. sesuatu yang sebenarnya beberapa tahun sudah saya impikan namun baru terwujud tahun ini sedangkan di tahun sebelumnya, saya menempati rumah yang dicicil. selalu ada hal yang membahagiakan setiap tahunnya.

Tidak terlalu banyak harapan yang kuinginkan di tahun depan namun paling tidak beberapa resolusi tahun-tahun sebelumnya bisa terealisasi di tahun depan. kemudian volume bacaan bisa meningkat paling tidak 4 buku sebulan mengingat saya harus memaksa diri untuk membaca, selain memang sebuah kebutuhan, saya juga membutuhkan sebagai referensi di kampus. kemudian saya berharap ada gawean anyar yang bisa terjadi di tahun depan. semua hal-hal baik selalu saya harapkan termasuk kesehatan keluarga.

Tulisan juga harus diperbanyak untuk melatih kemampuan menulis sebelum menghadapi karya tulis akhir. semua harus dibiasakan untuk bisa mencapai hasil yang maksimal.

Amin Ya Allah

Kebagusan, 31-12-19, 21.39 Wib

December 22, 2019

Macea

Rumah,
sanubariku terenyuh setiap kali melintasi semua kenangan.
manusiawi,
mungkin iya.
kepada siapa aku mengharapkan waktu membawa semua serpihan memori yang terserak, tertinggal nun jauh waktu yang lampau dan ruang yang terbentang

Ibu, rinduku padamu. 
klise,
mungkin iya,
tetapi tak ada satupun yang berani menggerus semua rasaku pada dirimu, tak ada bahkan semesta mengamini.

setelah itu, 
aku hanya ingin memelukmu, dalam hening yang dicengkeram malam

Ibu, 
aku hampir kalah,
bertarung tak berujung di kota ini. pertarungan tanpa tujuan yang hanya berakhir pada sisasisa energi yang terkuras.

Ibu,
sanubariku ingin bertanya padamu, 
kemana semua arah ini akan berujung

setelah itu,
aku hanya ingin mengecup keningmu yang mulai mengeriput.

Hari Ibu
22 12 2019

December 19, 2019

Being a Role Model

Dua kali saya memutuskan resign dari sebuah Perusahaan dengan alasan yang hampir saja, ada unsur pekerjaan yang tidak mampu saya kompromikan dengan prinsipku sehingga membulatkan tekadku untuk menyatakan bahwa saya harus meninggalkan pekerjaan tersebut. bagiku, prinsip adalah sebuah hal yang tidak bisa ditawar dengan apapun dan apa saja yang bertentangan dengan prinsip maka yang harus dimenangkan adalah prinsip, jangan pernah menawar akan hal itu.

Now, I'm having that moment like before. my job have any situation that makes me compromise with an ideal things.
Saya tidak pernah membayangkan akan bekerjasama dengan seorang Supervisor yang sudah sangat senior namun dengan karakter seperti staf bahkan lebih dari hal tersebut, dia sepertinya menggunakan wilayahnya menjadi interest personal. sesuatu yang menurutku sangat norak dengan posisi yang seperti itu. 

here is some of what he done when I gone to do a job in  Paid acomodation by his akun online to get some cashback even just 2 hundred thousand.

December 18, 2019

Sadar Diri

Saya menyimpan sebuah file ceramah Cak Nun tentang mengukur makanan yang masuk ke dalam diri. intinya bahwa kita harus selalu memperhatikan apa saja yang masuk ke dalam tubuh karena akan menjadi anasir yang bercampur dengan darah dan menjadi tulang belulang. nasehata Cak Nun tersebut seringkali saya dengarkan di kantor ketika waktu luang.

Di lain hal, saya benar-benar menjadi anomali karena pada banyak waktu, saya sering menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, lebih parahnya dua bulan terakhir. bahan kuliah sering saya download di kantor bahkan waktu kerja seringkali saya gunakan untuk mengerjakan tugas kulah.

Meski bukan sari makanan yang saya masukkan ke dalam tubuh melalui hal yang tidak baik menurut Cak Nun namun menurut perenungan saya bahwa selama ini, saya tidak berhati-hati dalam memilih sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. menggunakan fasilitas kantor untuk mendownload bahan bacaan atau menggunakan jam kerja mengerjakan tugas kuliah merupakan sesuatu yang seharusnya tidak saya lakukan. memperoleh pengetahuan yang terdapat di dalamnya cara yang tidak baik, kemungkinan tidak berkah.

saya harus memulai untuk mengukur kembali diri. sadar akan posisi dan sadar akan ruang dan waktu untuk lebih bijak dalam banyak hal. saya memutuskan untuk menghapus data bahan bacaan yang saya download di kantor dan berusaha untuk tidak menggunakan jam kerja mengerjakan PR kuliah. paling tidak jika waktu istirahat, saya bisa menggunakannya untuk mengerjakan tugas.

Hidup memang tentang perenungan dan kontemplasi yang tak berujung. semua langkah harus diukur dengan kepantasan sesuai dengan nilai yang dianut. saya menganut nilai ajaran agama saya yang mengatur tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. kantor tempat saya bekerja telah mengatur bahwa saya digaji 8 jam mulai dari jam 8 sampai dengan jam 5 dipotong istirahat 1 jam dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sudah diatur dengan jelas. maka dari itu, jika saya ingin melakukan sesuatu yang sifatnya pribadi maka saya punya waktu 1 jam yang diperuntukkan untuk istirahat.

Sebenarnya tidak menjadi menjadi idealis namun fokusnya bahwa saya mempunyai anak isteri yang setiap hari saya doadakan untuk dihidarkan dari sesuatu yang sifatnya haram bahkan yang syubhat sekalipun, nah jika saya sendiri tidak mengukur diri maka bagaimana saya bisa menjadi anak isteri saya.

18 12 19

November 26, 2019

Aspire E1-422

Cara masuk Bios

  1. Tekan Ctrl+Alt+Del. ketika sudah muncul logo Acer, langsung tekan F2 untuk masuk ke Bios
  2. setelah masuk Bios, arahkan ke "main" dan ubah jam dan tanggal menggunakan enter
  3. Setelah itu, arahkan ke "boot" dan ubah Boot Mode dari UEFI ke Legacy dengan cara menekan enter
  4. Tekan F10 untuk save dan Exit

November 24, 2019

OTS #21

Saya sangat bergairah untuk melakukan perjalanan kali ini, hal ini karena daerah yang akan saya tuju merupakan 1 dari sekian daerah di sumatera yang belum pernah saya kunjungi. saya memang menyukai mengunjungi sebuah daerah meski saya menyadari bahwa semua daerah di Indonesia tidak memiliki perbedaan yang signifikan. saya pernah ke ujung timur negeri ini, saya juga sudah sampai di titik 0 paling barat namun semua sama saja, tidak ada perbedaan yang signifikan. 

Perjalanan kali ini hanya ditempuh sekitar 1 jam dengan pesawat. saya memilih bandara Halim karena tidak terlalu jauh dari rumah sehingga tidak membutuhkan waktu lama dari rumah ke Bandara. benar saja, meski pesawat yang saya tumpangi berangkat jam 4 namun saya baru berangkat dari rumah ke bandara pukul 14.20 WIB. saya tiba di Halim tepat pukul 15.00 WIB, sebuah waktu dari rumah ke bandara yang sangat singkat, hampir mustahil melakukan hal yang sama jika saya berangkat dari Cengkareng.

Pesawat delay setengah jam. kami tiba di bandara Fatmawati Soekarno pukul 17.50 WIB. saya langsung memesan taxi bandara sesaat setelah keluar dari kedatangan. harga tiket RP. 80 ribu dari bandara ke hotel Cordela yang berada di tengah kota dengan jarak sekitar 20 km dengan waktu tempu setengah jam. 

Perjalanan ke kota tidak terlalu padat dengan pemandangan yang hampir sama pada semua daerah di sumatera. pemandangan sepanjang jalan dipenuhi dengan perumahan penduduk dan sesekali kita akan mendapati kebun kelapa sawit.

Maghrib telah lewat setelah saya tiba di hotel. perkiraan saya tentang hotel Cordela tidak meleset. hotel yang didesain mini dan nampak seperti ruko kemudian saya dapat info dari teman bahwa memang sebelumnya hotel tersebut adalah ruko yang baru diubah dua bulan lalu.

Kantor saya di kota ini hanya sekitar beberapa meter saja dari hotel sehingga saya tidak perlu terburu-buru tiap pagi apalagi di kota ini, kehidupan seperti melambat. semua orang tidak seperti dikejar anjing tiap berangkat kerja. hidup bagaikan di kampung sendiri.

tidak banyak tempat yang saya kunjungi selama 5 hari di kota ini, hanya pernah mampir di pantai panjang, melihat rumah ibu fatmawati dan masjid besar di kota ini, At Taqwa. selain itu, saya hanya mengunjungi beberapa tempat makan yang menurutku sangat khas sumatera dengan dominasi santan pada setiap makanan.

Jum'at sore, saya sudah harus pulang. dengan begitu, saya sudah mengunjungi sebagian besar kota di Sumatera. melihat sisi kehidupan mereka dan merasakan denyut kehidupan di kota mereka. selain itu, belajar bahwa hidup adalah perjalanan untuk belajar.

24 11 19

October 18, 2019

OTS #20

ini kali kedua saya menginjakkan kaki di kota ini. dua tahun lalu tepatnya bulan Juli, saya sudah pernah ke sini dengan tujuan yang sama, pekerjaan kantor. kota yang mungkin sangat akrab di telinga saya karena ketika pulang ke Madiun, kereta pasti akan berhenti sekitar 30 menit di stasiun kota ini. kota yang sebagian dipengaruhi jawa barat dan sebagian tawa timur pada secara geografis, kota ini berada dalam wilayah jawa barat.

Saya berangkat dari Gambir hari minggu sore, tiba di Cirebon sekitar setengah 9 malam. sesaat setelah turun dari kereta, saya menuju warung makan empal gentong yang berada tepat di depan stasiun. warung ini juga menjadi pelepas lapar dua tahun lalu saat pertama kali ke kota ini.

saya memesan 1 porsi empal gentong dengan segelas lemon tea hangat kemudian dua telor asin. mengenang pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dengan makan di tempat yang sama. setelah melahap makanan yang saya pesan, lemon tea masih tersisa banyak di gelasku. saya menuangkan ke bekas botol dan memasukkan ke tasku.

saya memesan ojek online menuju ke hotel tempatku menginap. hotel Dewanti yang sangat murah menurut perhitunganku dengan harga kurang dari 300 ribu per malam. letak hotelnya sekitar 5 km dari stasiun. ojek online membawaku ke hotel melalui jalan utama. melewati bekas kantor lama.

sesampai di hotel, saya mencium aroma hotel dengan desain kuno. hotel ini sebenarnya baru namun konsepnya lawas. desain kamarnya pun seperti hotel lama.

saya hanya semalam menginap di hotel ini kemudian memilih untuk pindah ke hotel Amaris sebagai pertimbangan karena hotel tersebut dekat dengan kantor yang bisa dicapai hanya dengan jalan kaki sekitar 5 menit.

selama 5 hari di kota ini, saya hanya mengitari jalanan sekitar kantor. tidak banyak sudut kota yang saya eksplorasi karena waktu yang mepet dan saya harus menyelesaikan tugas kantor dalam waktu yang mepet. rutinitasku hanya seputar pagi ke kantor, siang keluar makan kemudian sore pulang ke hotel lalu kemudian malam keluar makan.

Jumat sore jam 6, saya sudah harus pulang ke jakarta.

Oktober 2019

October 12, 2019

Minggu Ke-IV Kuliah di UP

 Seperti minggu-minggu sebelumnya, saya agak terburu-buru berangkat ke kampus pagi ini. Bagaimana tidak, jam 7 kurang 15 menit yang berarti bahwa saya hanya butuh maksimal 15 menit menempuh perjalanan dari rumah ke kampus dengan jarak sekitar kurang lebih 10 km. Untungnya, sepanjang jalan dari Buncit ke Mampang agak longgar di hari Sabtu.


Saya mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kencang. Tidak ada hambatan yang berarti sehingga saya tiba di parkiran kampus tepat jam 7 lebih 1 menit. Ini berarti bahwa kemungkinan besar dosen belum masuk kelas. benar saja, ketika saya masuk di ruangan A.207 lantai 2, Bu Direktur sebagai dosen pengampu belum datang, saya hanya menjumpai beberapa teman yang sedang bercengkerama di kelas sambil mengakrabkan diri dengan yang lain. Memang kelas ini sangat unik karena di pertemuan ke-4, kelas ini serasa belum cair bahkan saya sendiri belum mengenal semua teman sekelas bahkan di antara semua teman perempuan, hanya 1 yang saya kenal namanya karena dia ketua kelas, yang lain hanya kenal muka. haha.

Sekitar 15 menit kemudian, dosen Pengampu mata kuliah nongol di kelas dengan menenteng laptop. Sambil tergopoh-gopoh, dia minta maaf karena sedikit terlambat. Dia berdalih bahwa sudah datang sebelum jam 7 namun karena kebiasaan ngopi di pagi hari membuatnya harus menuntaskan rutinitasnya sebelum masuk kelas. Dia lulusan S3 Jerman, sudah 2 pertemuan menggantikan Pak Freddy sebagai dosen di mata kuliah Diplomasi.

Kali ini, dia menjelaskan tentang paradigma Liberalisme dan Konstruktivisme. saya belum pernah membaca tulisan-tulisannya di media namun menurut bisik-bisik dari teman bahwa si dosen sangat Konstruktivis dalam berbagai banyak hal. Entahlah, saya harus membaca tulisannya sebelum memahami bagaimana dia dikenal sebagai seorang Konstruktivis.

Di pertengahan kuliah, saya bertanya sedikit tentang bagaimana posisi kita sebagai individu memandang fenomena melalui kacamata paradigma. Apakah kita hanya sebagai pengamat yang memandang isu dengan kesesuaian paradigma yang ada ataukah kita harus menarik garis untuk berpihak pada salah satu paradigma sebagai tanggung jawab moral untuk memandang fenomana, karena jika kita hanya memandang fenomana sebagai seorang pengamat maka ilmu seakan sangat bebas nilai? 
Dia menjelaskan bahwa paradigma digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi sesuai dengan pandangan paradigma yang ada. Contohnya paradigma Liberalisme sulit menjelaskan peristiwa ketika USA menginvasi Irak karena menurut Liberalisme bahwa negara harus bekerja sama namun kenapa masih ada perang.

Setengah 10, dia menyelesaikan kelas hari ini. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk istirahat yang akan dilanjutkan dengan mata kuliah Metode Penelitian dalam HI yang dipandu oleh mas Ben di ruang A201.

Tepat jam 10, dia sudah masuk di kelas. Kali ini dia tidak terlalu banyak menjelaskan tentang paradigma sebagaimana pertemuan sebelumnya. Dia lebih banyak mengeksplorasi Reading Skill. Dia menjelaskan banyak hal tentang membaca bukan sebagai sebuah kesenangan namun sebagai sebuah passion.

Kelas mas Ben juga bubar lebih cepat dari biasanya sehingga kami punya banyak waktu isitirahat sebelum dilanjutkan dengan mata kuliah Ekonomi Pasar yang dipandu oleh pak T.

Jam 1 siang, kuliah si dosen sudah dimulai. Sebenarnya beliau tidak terlalu membosankan dalam proses belajar namun saya selalu tidak berhasil mengalahkan rasa kantuk yang menyerang di jam tidur siang. Beberapa kali saya menguap untuk tetap menahan mata agar tidak tertidur.

Pak T sering menjelaskan mekanisme ekonomi yang dipengaruhi oleh politik dari hal-hal kecil. Beliau menarik kita ke dalam logika sederhana bagaimana menahan laju kapitalisasi ekonomi yang sangat pesat. Misalnya saran untuk menanam apa saja yang bisa ditanam di dekat rumah, memelihara ayam atau hal sederhana lainnya yang membuat kita berdaulat atas diri sendiri.

Pak T mengakhiri kuliahnya setengah 4 kurang 15 menit, ini berarti pertarungan saya dengan rasa kantuk berakhir.

Universitas Paramadina, 12 Oktober 2019