Setahun yang lalu, bencana gempa bumi melanda sebagian besar wilayah Lombok. gempa yang meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi warga yang terkena dampak bencana. lebih dari tiga bulan, warga tinggal di tenda selain karena trauma juga karena tempat berteduh sudah tidak layak dihuni. bantuan dari Pemerintah tidak tersebar dengan baik, namun banyaknya lembaga sosial yang datang sedikit meringankan beban mereka. bencana memang selalu meninggalkan pedih yang akan tinggal di relung para korban namun yang lebih menyedihkan karena, beberapa diantara anggota Dewan di daerah tersebut ditangkap karena menggelapkan bantuan untuk para korban. ironi yang menyobek kemanusiaan. entahlah, mungkin nurani mereka dicampakkan oleh bencana dan hanya nafsu mereka yang tertinggal bersama raga yang sudah tidak berbentuk manusia secara hakiki.
Setahun berlalu, saya memiliki kesempatan mengunjungi daerah tersebut. meski dalam rangka dinas kantor namun setidaknya, saya bisa menyaksikan secara kasat mata sisa-sisa dari pedihnya akibat dari sebuah bencana. tanggal
24 Juni, saya berangkat dari Bandara Soetta ke Bandara Praya. durasi penerbangan hampir sama lamanya ketika saya pulang kampung, kurang lebih dua jam. sekitar jam 11 siang, Pesawat yang saya tumpangi landing di Lombok. Bandara baru yang jauh dari kota dan sedang dalam pembangunan. terhampar tanah kosong di sekitar Bandara yang sedang dalam masa pembangunan. nampaknya Bandara ini akan menjadi salah satu bandara yang luas di kawasan Indonesia timur. tidak mengherankan karena wilayah ini sedang giat-giatnya mempromosikan banyak sekali spot wisata alam, apalagi sirkuit GP sedang dalam proses pembangunan di dekat wilayah pantai Kuta Mandalika. tidak terkira ramainya kota ini jika sirkuit GP sudah difungsikan.
Bandara menuju kota memakan waktu sekitar sejam dengan jarak tempuh yang cukup jauh. di sepanjang perjalanan, pemukiman warga tidak terlalu padat. sangat mudah menjumpai kelapa di setiap daerah.
Sesampai di kota, saya memperhatikan suasana kota ini semacam kota-kota kecil di pulau Jawa. tidak terlalu padat selain pada jam berangkat dan pulang kantor. cuaca di kota ini sedang bersahabat. meski Matahari bersinar terik namun udara yang berhembus mendinginkan tubuh dan menyejukkan perasaan.
Kami mampir di sebuah tempat makan yang bernuansa alam. rumah makan persis di samping hamparan sawah dan tempat makan yang didesain dengan model saung. angin sepoi-sepoi membuat para pengunjung semakin lahap menyantap makan yang disiapkan. Ayam taliwang adalah makanan khas di kota ini. setiap orang merekomendasikan makanan khas tersebut meski saya sendiri tidak terlalu excited. maklumlah saya bukan orang yang mengagungkan makanan sebagai sebuah prestise. saya lebih menghargai makanan dari proses awal sampai makanan tersaji di depan kita. semua makanan menurutku sama saja dan banyak keringat bercucuran yang berkontribusi atas makanan yang kita santap.
Kami melanjutkan perjalanan ke hotel Santika. sepanjang perjalanan, bekas gempa tahun lalu tidak terlalu terlihat karena memang pusat kota tidak terlalu terkena dampak bencana. Hotel tempat kami menginap tidak terlalu jauh dari kantor, mungkin hanya sekitar lima ratus meter.
Hari pertama di Kantor, kami dikagetkan dengan momen ketika suara orang berteriak ada gempa. sontak saja kami berhamburan keluar dari kantor. saya yang sedang berada di lantai dua segera turun tanpa mempedulikan lagi barang-barang. setelah sekian detik di luar kantor, kami baru menyadari bahwa getaran tadi bukan gempa.
Seperti layaknya ketika saya dinas Kantor, saya tidak bisa mengeksplorasi sebuah daerah sebelum closing. saya hanya mengunjungi tempat makan khas ketika istirahat siang. seperti itu pula yang saya lakukan ketika di wilayah ini.
Hari Jum'at, semua tugas saya sudah selesai. saya memutuskan untuk berangkat ke sebuah pulau yang sangat populer di wilayah ini. pulau yang mayoritas dikunjungi oleh turis asing bahkan ada idiom yang menyatakan bahwa orang Indonesia akan menjadi asing ketika mengunjungi pulau tersebut.
sekitar 45 menit perjalanan menuju pelabuhan Bangsal. nah perjalanan dari kota ke Pelabuhan ini membuat saya bisa merasakan betapa mengerikannya gempa yang menimpa daerah ini tahun lalu. sepanjang daerah yang dilalui adalah daerah terparah yang terkena Gempa bahkan sampai saat ini, masih banyak tersisa puing-puing bangunan yang belum dibersihkan. sopir yang menemani kami bercerita banyak tentang gempa tahun lalu sampai pada kesimpulan bahwa masih banyak korban yang terlantar. menurutnya Pemerintah lamban dalam penanganan bencana dan diperparah lagi dengan banyaknya oknum pemerintah yang mengeruk keuntungan dari bantuan bencana.
Sesampai di pulau, saya mengamini bahwa orang Indonesia menjadi asing di tanah sendiri. wilayah di sekitaran pantai dipenuhi oleh mayoritas turis asing. berbusana layaknya di negara mereka. saya hanya sebentar di pulau ini sebelum kembali menyeberang ke kota karena esok hari saya harus pulang. saya sempat shalat Jum'at ini pulau tersebut dengan fenomena yang unik. jadi setelah bubaran Jum'at saya langsung berada di tepian pantai dengan pemandangan turis yang hanya mengenakan bikini sambil berjemur di pantai. mungkin begitulah hidup, selalu menawarkan dua hal yang paradoks dan pilihan ada di tangan kita, mau memilih yang mana.
24-28 juni 19