March 28, 2018

OTS #11

Sebenarnya cerita tentang kota selanjutnya yang kujejaki seharusnya sudah selesai di dua minggu lalu namun karena handphone saya hilang dan akun Blogger saya sempat terhapus atas kecerobohan yang seharusnya tidak terjadi, alhasil cerita ini mengendap dan belum kutuliskan.

Saya mulai dari musibah kehilangan hp. jadi hari minggu, sehari sebelum berangkat ke Kota Kembang dalam rangka #OTS, saya bertandang ke tempat salah seorang teman yang datang dari Makassar. dia menginap di Apartemen Sudirman Park, tempat kakaknya. sebenarnya sih kami hanya mengobrol di Lobby namun ketika hendak pulang, saya sadar bahwa hp saya sudah tidak ada di tas, saya balik ke Lobby namun nihil, tidak ada juga di sofa tempat saya duduk sebelumnya. saya bertanya ke Resepsionis tetapi belum ada yang melapor menemukan hp. saya akhirnya pulang dan pasrah. saya dan isteri membeli hp baru di mall Ambassador. 

Esok hari, saya berangkat ke Bandung. biasanya menjelang pulang atau sehari setelah pulang, saya sudah menuliskan perjalanan menjejak tanah yang asing namun kehilangan hp benar-benar membuat moodku tidak terlalu baik untuk bercerita.

Kasus kedua yang semakin memperparah moodku ketika saya salah menghapus akun gmail. tadinya mertua saya meminta untuk menghapus akun google ku dari hpnya namun ternyata saya salah mengikuti instruksi, saya bahkan menghapus permanen akun googleku. hal ini berimbas pada hilangnya akun gmail dan blog. lebih parah lagi karena pada saat mencoba memulihkan akun tersebut, nomor hp yang kudaftar saat membuat akun gmail adalah nomor hp yang sudah lama tidak kugunakan dan entah sudah dimana rimbanya.

Tiga hari lamanya saya mendiamkan hal ini terjadi. jalan satu-satunya adalah mengurus kembali nomorku yang kugunakan untuk memulihkan akun. akhirnya saya ke gerai tempat mengurus kartu yang sudah hilang. saya was-was apakah kartu tersebut masih digunakan atau tidak. ternyata Semesta masih memberkati. nomor tersebut masih bisa digunakan dan saya hanya perlu membayar 25 ribu sebagai biaya administrasi penggantian kartu. setelah aktif, saya mencoba memulihkan akun google ku dan tralalala, DONE....!!! akun google ku aktif kembali.

Mulai cerita tentang Kota Bandung.

***
Saya bersama dua orang tim dari kantor berangkat ke Bandung via kereta Argo Parahayangan. kereta membawa kami dari Gambir pukul 07.15 WIB membelah kota Jakarta menuju Jawa Barat. penumpang lumayan padat padahal hari itu adalah awal hari ngantor, mungkin sebagian dari mereka juga melakukan perjalanan tugas sama sepertiku. seingat saya, kereta hanya berhenti di dua stasiun, Cimahi dan Bandung.

Kami tiba di Bandung jam setengah 11 siang. rencana awal ingin menikmati kuliner di sekitar stasiun Bandung namun ternyata warung sate yang merupakan usulan dari temanku ternyata sudah pindah tempat. kami memutuskan untuk langsung ke kantor Cabang via mobil online. butuh sekitar 40 menit dari Stasiun Bandung ke Jl. Amir Machmud Cimahi.

Sore harinya, kami memesan kamar di Hotel Vio di bilangan Pasteur, hotel yang menurutku tidak terlalu mewah namun lumayan untuk ukuran karyawan kelas teri seperti saya.

dari hari Selasa sampai Jumat, rutinitas berlangsung seperti biasa. jam tujuh pagi sarapan di hotel, bersiap ke tempat aktivitas, kemudian sehabis Maghrib pulang ke hotel istirahat. saya tidak benar-benar menikmati kota Bandung karena tempat berkegiatan kami masih berada di wilayah Cimahi.

Waktu kami tersita oleh masalah di tempat aktivitas. ada beberapa hal yang harus diselesaikan sehingga tidak ada waktu untuk menikmati malam dengan mengitari kota seperti yang biasa saya lakukan ketika sedang kegiatan #OTS. akhirnya sampai jumat malam, saya benar-benar hanya fokus pada kegiatan utama yang harus saya selesaikan.

oleh sebab kami hanya booking kamar di Vio hotel sampai jumat siang dan ternyata kegiatan baru selesai di jumat malam jam 11, akhirnya kami menginap secara mendadak di Hotel Tjimahi. pengalaman menginap di sebuah hotel tua yang menurutku lebih mirip dengan wisma. kamar tanpa AC maupun kipas angin dan ada tiga buah ranjang tua dengan banderol harga 350 ribu per malam.

Esok hari, saya ke kawasan Pasirleutik via ojek online. saya sudah janji dengan salah seorang teman yang menetap di kota ini. Saya mengingat-ingat kota ini yang kujejak tiga tahun yang lalu. tidak ada yang bersisa selain ketika masuk di kawasan Dago. ingatan saya mulai pulih karena di tiga tahun yang lalu, saya menginap di kontrakan belakang kantor Telkom di depan gedung sate.

Saya sampai di rumah teman setelah menyusuri jalanan dari Cimahi sekitar 40 menit. sejatinya saya sama sekali belum puas menikmati udara di kota Kembang karena hujan yang tak berhenti mengguyur. malam harinya, saya harus kembali ke Ibu Kota.

kapan-kapan plesiran lagi ke kota itu.
28 3 18

March 26, 2018

Gagal

Saya menjadi begitu inferior beberapa tahun belakangan atas pencapaian yang sudah saya dapatkan, oh iya kalau pun itu dianggap sebuah pencapaian. Pilihan hidup yang sama sekali tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku 10 tahun yang lalu. namun bukan berarti bahwa saya tidak mensyukuri seperti apa saya sekarang namun penekanannya lebih pada pilihan.

Bukan, sama sekali bukan karena materi sehingga saya terkadang menyesali pilihan ini namun lebih pada sebuah tanggung jawab moral atas apa yang sudah kupelajari selama ini, Setidaknya ada faktor dominan yang menegasikan pilihan hidup ini. faktor yang menurutku sulit untuk kuhindari atau bahkan kunaifkan untuk sekedar tetap memperoleh setiap bulannya pembeli sesuap nasi.

Pertama, pertengahan 2000-an, setahun sebelum masuk bangku kuliah, saya sudah ikut di sebuah organisasi yang kegiatannya di lingkungan masjid. organisasi yang menekankan pada nilai moral. dalam setiap dimensi kehidupan yang dijalani termasuk pula dalam sumber penghidupan. baik dari sumbernya, dzatnya atau apapun yang harus dinilai dari sisi moral. 

Nah, saya terjebak dalam sebuah lingkup pekerjaan yang menurutku bertentangan dengan apa yang sudah kupelajari. pekerjaan yang masih debatable secara hukum sharia, apakah masuk dalam kategori haram atau halal meski pada kenyataannnya, mayoritas ulama menganggapnya haram dan sebagian menghalalkan dengan beberapa catatan dalam hal ini, jika mau ambil jalan tengahnya, berarti jenis pekerjaan ini syubhat, hal yang seharusnya kutinggalkan. mungkin hanya satu hal yang membuatku bertahan adalah nasehat dari salah seorang guruku yang menyarankan untuk tidak gegabah, tetap bertahan sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena lebih dzalim jika saya keluar dan tidak mampu memberi nafkah kepada keluarga.

kedua, saya pernah belajar tentang varian ilmu ekonomi yang seharusnya dijalani. mungkin sedikit geli mengatakan tentang sistem ekonomi yang adil dan tidak semata berpatron pada profit namun lebih luas berguna bagi masyarakat. namun apa yang kujalani sekarang alih-alih untuk masyarakat, semua hanya untuk profit yang menguntungkan Perusahaan. bahkan terkadang banyak hal yang menurutku memang sepantasnya saya harus mencari pekerjaan yang lebih menentramkan hati. 

Saya menghabiskan sebagian besar waktuku memikirkan hal ini bahkan benar-benar bekerja hanya menggugurkan kewajiban. pikiranku benar-benar sudah mentok pada strategi apa yang harus kulakukan untuk melepaskan diri dari penjara pikiran, rasa bersalah atas nurani dan hal semacamnya yang sifatnya tak bisa diindrawi.

Saya memutar memoriku ke tahun-tahun yang sudah berlalu.entah kenapa, setiap pekerjaan yang memang kuidamkan begitu sulit kuraih dan selalu saja keadaan sepertinya menarikku masuk dalam ruang yang tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan namun hanya demi kebutuhan perut, hal tersebut tetap kujalani meski demikian isi kepala berontak. 

atau kah saya yang tidak bersetia pada nurani? melawan bisikan nurani demi sebuah prestise. merasa mampu menjadi diri sendiri dan menafkahi orang lain. menganggap bahwa hal tersebut bisa dikompromikan meski ternyata berakhir dengan ironi. hidup sungguh tidak menyenangkan dan tidak membanggakan apa yang sedang dijalani. harus bersusah payah untuk tetap bersembunyi dari keadaan bahkan lebih parah jika harus selalu berdusta demi sebuah prestise.

entahlah, satu hal yang pasti bahwa saya akan tetap berusaha untuk melangkahkan kaki menjauh dari tempat yang tidak membuat nuraniku tidur nyenyak, dan lebih cepat mungkin lebih baik namun dengan pertimbangan yang matang dan tetap punya pegangan untuk memberi nafkah keluargaku.

kapan? sekali lagi entah kapan, biarkan tangan Sang Pemilik Semesta yang bekerja.

26 3 18

March 5, 2018

Islam Tuhan, Islam Manusia


Judul:           Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis:        Haidar Bagir
Penerbit:       Mizan
Tahun terbit: 20
Tebal:           288

Haidar Bagir adalah salah seorang cendikiawan muslim di Indonesia yang tidak perlu diragukan lagi kedalaman ilmunya dan juga tebaran pengetahuan yang beliau pupuk selama ini. Selain mengurus sebuah penerbitan beliau juga sibuk mengelolah yayasan pendidikan, dimana salah seorang kawan saya mengajar di salah satu sekolahnya.

Tak terkira berapa buku yang sudah dihasilkan dari olah pikirnya salah satunya buku "Islam Tuhan Islam Manusia." bagian belakang buku ini dihiasi testimoni orang-orang besar di negeri ini. K.H Ahmad Mustofa Bisri, Goenawan Muhammad, Mochtar Pabottingi dan Franz Magnis-Suseno.

Pada bagian awal buku ini pada tulisan "Aku dan Islamku" Haidar Bagir menjelaskan dengan runut seperti apa beliau mengenali dirinya terlepas dari tudingan-tudingan orang yang tidak bersepakat dengannya. Entah berapa kali beliau mengklarifikasi secara langsung maupun tidak langsung atas tuduhan bahwa dirinya penganut Syiah namun klarifikasi tersebut tidak menyurutkan tuduhan dari orang-orang yang tidak bersepakat dengan dirinya.

Beliau meyakini bahwa akal ada anugerah Tuhan meski di lain sisi, beliau juga menyadari bahwa akal memiliki keterbatasannya sendiri. Dalam pencarian opini yang benar, fokusnya terletak pada kebenaran bukan pada popularitas. Sebelum mengkritik, kita harus memahami pendapat yang akan kita kritik seperti pemahaman penganutnya. Beliau melakukan pendekatan terhadap teks Al-Qur'an, sunnah dan tradisi Islam bersifat hermeneutika. Meski di lain sisi, beliau percaya bahwa pendekatan hermenutika memiliki jebakan-jebakannya tersendiri.

Isi buku ini sendiri terbagi ke dalam 5 bagian: Masalah, "Islam di zaman kacau. Khazanah Pemikiran Islam. Pendekatan, "Dialog Intra Islam". Pendekatan, " Dialog Islam, Budaya dan Peradaban".dan Solusi, "Islam,Cinta dan Spritualitas".

Pada bagian pertama, beliau mengelaborasi tentang masalah yang sedang dihadapi umat Islam secara spesifik. Tentang radikalisme, asal usul takfirisme dan negara yang disebutnya sebagai tuna budaya.

Saya akan menuliskan ulang beberapa inti pemikiran beliau dari setiap lembar tulisannya yang dijelaskan secara runut di buku ini.

Budaya adalah soal menjadi manusia secara komprehensif. Manusia spritual, bermoral, berestetika, sadar dan berpikir.berakar dari concern kemanusiaan paling dalam sebagai pengejawantahan dari Ketuhanan yang cirinya memiliki fitrah cinta kebenaran, kebaikan dan keindahan. Selain dari hal tersebut adalah antibudaya. Negara ini sudah lama menanggalkan budayanya dan menjadi santapan hegemoni ekonomi, komersialisasi cukong kapital besar berkolaborasi dengan politik busuk untuk menyerap seluruh saripati negara ini tanpa sisa. Meski demikian, budaya juga tidak seharusnya statis tetapi harus berkembang secara organis. Peran Pemerintah dalam revitalisasi kesadaran kolektif bangsa dalam meletakkan budaya sebagai persemaian seluruh aspek kehidupan.

"Information spill over" telah membuat orang mengalami diorientasi. Terlalu banyak informasi justru membuat orang kebingungan, hilangnya kedalaman dan lahirnya generasi baru pengguna internet, "orang-orang dangkal" (The shallows) menuruut Nicholas Carr. Orang-orang yang terbiasa menyantap informasi instan tanpa kedalaman.

Situasi yang mengkhawatirkan ini masih ditambah dengan perilaku tidak kritis masyarakat yang dengan mudahnya menggandakan dan menyebarluaskan apa saja yang dibacanya, ke ruang publik baik via WA, Twitter, Facebook dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, sebagian media mendasarkan informasi dari sumber yang tidak dipertanggungjawabkan ini.

Keberlimpahan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya dianggap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup, justru meninggalkan kehampaan psikologis dan spritual karena hanya menegaskan kenyataan bahwa setelah semua keberlimpahan itu tercapai, kebahagiaan hidup tidak ditemukan di sana.

Maka menjadi tugas para agamawan dan pemikir keagamaan moderat untuk menawarkan suatu paham atau penafsiran keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit kaum fundamentalis dan radikal. Haidar Bagir merasa bahwa sejenis pemahaman keagamaan yang bersifat mistik (sufistik) merupakan alternatif paling efektif.

Mengenai Hermeneutika, Haidar Bagir mengutip pemikiran Friederich Schleimermacher yang mengandung dua langkah. Pertama, pemahaman teks melalui penguasaan aturan-aturan sintaksis bahasa komunitas si pengarang. kedua, penangkapan muatan emosianal dan batiniah pengarang secara intuinitif dengan jalan menempatkan diri subjek dalam benak pengarang.

Tentang Takwil, Haidar Bagir mengutip pahaman Ibn' Arabi dalam futuhat menyatakan bahwa "sesungguhnya setiap orang punya akses kepada pemahaman atas teks Al-Qur'an selama bersifat terbuka, tulus yakni dengan pemikiran sehat dan hati bersih yang tak tercampuri nafsu. Baik pemahaman yang bersifat 'ardhi (horizontal/tafsir) maupun thuli (Vertikal/Takwil).

Naql dipahami dengan aql, karena aql bisa keliru, dicek lagi dengan naql begitu seterusnya. Persis ketika kita membaca maknanya kita bisa simpulkan dari konteks kalimat tetapi untuk mendapatkan terjemahan yang pas, kita cek kesimpulan kita dengan membuka kamus, makna kamus pun pada gilirannya akan kita pahami dengan pas dalam konteks kalimat, begitu prosesnya terus menerus.

Dalam sebuah konfrensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ilmuwan ditanya mengenai sebab kemunduran Sains di wilayah ini. Prof. Osman mengatakan bahwa permusuhan terhadap filsafat di negara Islam selama beberapa abad menjadi sebab utama persoalan ini.

Manusia modern mengalami kehampaan spritual, krisis makna, legitimasi hidup serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan terhadap dirinya sendiri. Seyyed Hossein Nasr dalam the Plight of Modern Man mengatakan bahwa krisis eksistensial berawal dari pemberontakan manusia modern terhadap Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan masa depan seperti yang dijanjikan Renaisans.

Dalam sebuah wawancara, Haidar Bagir menjelaskan bahwa dalam berbicara ekonomi yang ideal itu apakah kapitalistik atau sosialistik atau yang bersifat lain, mau tidak mau kita diskusi defenisi tentang keadilan. Ketika membedah politik. apakah yang bagus itu demokrasi atau otoritarianisme maka mesti kita diskusi tentang tujuan politik itu apa?

Tentang Mazhab. Imam Syafii secara luas diriwayatkan pernah berkata, "pendapatku benar, namun sangat potensial keliru sementara pendapat orang selainku keliru namun sangat mungkin benar." di lain waktu  Beliau berkata "jika suatu Hadist itu sahih,  maka itulah mazhabku."

Pada prinsipnya setiap perbuatan bersifat netral nilai. Tindakan baikdan buruk dinilai berbeda bergantung pada penerapannya. Mencuri bisa dinilai terlarang tetapi bisa juga sunnah bahkan wajib. Ibn Hazn al-Zhahiri dalam bukunya yang berjudul al-Muhalla pernah mengatakan bahwa seorang pencuri yang mengambil harta dari seorang kaya dikarenakan haknya tidak diberikan kemudian tertangkap dan terbunuh,maka dipercaya mati syahid.

Tentang fenomena Sunni-Syiah. ada dua sebab yang memperkeruh konflik antara Sunni-Syiah. Pertama, sejak revolusi Iran, ada sekelompok di dalam negeri Iran yang ingin mengekspor Revolusi Islam ke negara lain. Kedua, ada ketakukan dari negara teluk monarki kalau revolusi yang terjadi di Iran akan merembet ke negara mereka. Harus diingat bahwa Iran menjadi negara Islam bukan karena revolusi tetapi lewat referendum.

Di masing-masing kubu Sunni-Syiah, ada kelompok ekstrim, mereka inilah yang memanas-manasi keadaan akibatnya timbul ketegangan yang terus menguat.

Tentang pembahasan Kafir.

Abu Sufyan tetap bertahan dengan agama arab jahiliah bukan karena percaya dan mengimaninya sebagai sebuah kebenaran, namun lebih karena sistem purba itu menguntungkannya secara politik dan sosial. Doktrin Islam terkait reformasi sosial yang memberatkan orang semacam Abu Sufyan untuk memeluk Islam bukan soal pengakuan dan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, artinya faktor ekonomi dan politik bukan faktor teologis yang menjadi dasar penyangkalan terhadap Islam.

Sebuah perkataan Nabi Ibrahim seperti yang disitir Al-Qur'an, kebencian dan permusuhan diarahkan kepada sifat/perbuatan buruk orang, bukan kepada orang/pelakunya sendiri (QS. Mumtahanah 60:4).

Beragama, betapa pun melibatkan fisik dalam menjalankan ritual-ritualnya, adalah urusan "rumah", urusan hati yang ada di dalam diri. urusan rohani. Ritual, seberapa pun pentingnya dalam kehidupan beragama, adalah simbol. baik agama maupun politik dan hukum, kesemuanya itu dimaksudkan untuk membantu manusia agar dapat meraih kehidupan yang baik/bahagia.

Ketika ditanya tentang apakah beliau Syiah atau Sunni, inilah jawabannya. "Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga."


5 3 18

 

February 28, 2018

Auditor dan Jurnalis

Ada banyak bidang kerja yang butuh ketekunan ekstra untuk mendapatkan hasil. Mulai dari hal remeh temeh sebelum memasuki ruang yang lebih besar. Jika pola kerja seperti itu tidak dilaksanakan maka hasilnya akan mengecewakan bahkan tergolong gagal.

Menjadi seorang Jurnalis adalah mengenai pekerjaan verifikasi. Harus ada bukti rinci dari setiap berita yang akan diangkat ke permukaan. Bahkan seharusnya dari sumber primer. Kemajuan teknologi saat ini bukan memudahkan cara kerja seorang Jurnalis namun malah sebaliknya, semakin memberikan tantangan bagi para Jurnalis yang seaungguhnya untuk memberitakan sesuatu fenomena yang benar-benar sudah diverifikasi kebenarannya. Kebanyakaan saat ini, berita yang kita konsumsi hanya dari sumber kesekian bahkan mungkin menggunakan metode googling.

Kemudian bidang kerja audit. Pekerjaan ini juga adalah bidang yang paling menyenangkan karena butuh ketekunan yang lebih untuk memverifikasi data temuan. Auditor yang gagal bukanlah Auditor yang kurang pintar namun auditor gagal adalah mereka yang gagal menguatkan ketekunan dalam mempelajari suatu kasus. Mulai dari temuan, mempelajari pola kasus, memverifikasi ke pihak terkait, menemukan bukti valid sebagai penunjang sebelum akhirnya menyimpulkan suatu kasus yang sedang dikerjakan. 

Saya yang sudah lebih dari setahun di divisi audit benar-benar menyadari bahwa pekerjaan seperti ini tidak akan pernah berhasil untuk orang yang gampang bosan dan tidak menyukai sesuatu yang remeh temeh. 

Auditor dan Jurnalis memiliki pola kerja yang hampir sama.

28 2 18

January 30, 2018

OTS #10

Perjalanan kali ini terasa spesial. pertama  kalinya menjejak langkah di tanah paling timur negeri ini. Tanah bagi mereka yang sering "dianggap" primitif oleh mereka yang sok modern, pun sering mengalami diskriminasi dari banyak faktor.

Perjalanan yang cukup melelahkan dari Cengkareng ke Sentani. Enam jam lamanya berkutat dengan rapalan doa di atas Pesawat yang menantang cuaca ekstrim. Tak henti-hentinya mulut melafalkan doa untuk keselamatan.

Jam 11.55 tengah malam, Pesawat Batik mulai menerbangkan kami ke udara menuju pulau paling Timur. Angin malam seakan menusuk sekujur tubuh menambah kebekuan malam.

Sejam, dua jam perjalanan masih mulus dilalui. Pesawat seakan tidak mengalami hambatan berarti. Namun menjelang daerah tujuan, beberapa kali pemberitahuan dari pihak Pesawat untuk mengencangkan safety belt. Pesawat bergoyang layaknya mobil yang sedang berjalan di atas jalanan berlubang. Cuaca di luar berkabut. Saya mencoba untuk memejamkan mata dan meyakinkan diri bahwa semesta menjaga Pesawat yang sedang melaju.

Akhirnya saat pagi sudah mulai menua, tanah pulau itu sudah nampak. Cuaca juga sepertinya bersahabat. Saat pesawat akan mendarat, hamparan bukit, hutan dan danau menyambut. Lumayan mengobati perjalanan yang melelahkan. Pesawat mendarat dengan mulus.

Jarak bandara menuju pusat ibukota provinsi masih ditempuh sejam lamanya. Jalanan berkelok mengikuti lereng gunung di samping kiri dan danau di samping kanan.

Menjelang siang, akhirnya tiba di pusat kota. Ada yang aneh karena saya jarang menjumpai suku asli di pulau ini. Bahkan saya seperti pulang kampung karena pusat kota dipenuhi perantau dari daerah asalku.

Seminggu di kota ini. Saya tidak banyak menjelajah ke beberapa spot yang indah. Meski begitu lumayan mengikis inginku untuk melihat luasnya negeri ini.

Oh iya, di kota ini, sangat umum menjumpai pedagang pinang dan di sepanjang tempat, kita seringkali melihat bekas pinang yang tersebar di mana-mana.

Semoga ada kesempatan di lain waktu untuk kembali menuntaskan keinginan menapaki banyak tempat yang belum disinggahi.

30 1 18

December 31, 2017

Sensasi ikut Lomba Menulis (2)

Masih terngiang dengan jelas sensasi di kepalaku ketika namaku disebut oleh panitia sebagai Juara I lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Perusahaan tempatku bekerja dalam rangka memperingati HUT yang ke-50 tahun. 

Meski pada periode sebelumnya, saya juga mampu keluar sebagai juara III namun periode tahun ini lebih spesial karena disamping juara I, lomba tahun ini juga diikuti oleh seluruh karyawan Perusahaan tempatku bekerja se-Indonesia, sedangkan lomba tahun lalu hanya diikuti oleh seluruh karyawan se-Jabodetabek.

Ada yang lucu karena pada tahun lalu, lomba diadakan tidak terlalu meriah dan hanya diikuti segelintir Karyawan namun hadianya lebih besar dari tahun ini yang melibatkan seluruh karyawan seluruh Indonesia, namun sekali lagi, ini bukan masalah hadiah, ini tentang kepuasan batin atas impian kecil bisa mempublikasikan karya.

Paling tidak, pengalaman tersebut melecut semangatku bahwa ada sedikit harapan untuk bisa lebih baik dan lebih keras lagi belajar menulis. Tidak untuk dipamerkan namun demi menjaga diri tetap berkarya atas setiap kesempatan yang ada.

#latepost 31 12 17. Lombanya 8 12 17

Harapan

Salah satu tulisan absurd yang selalu kuulangi di setiap akhir tahun adalah ikut arus menulis semacam resolusi. Namun entah kenapa, semakin saya sadari bahwa hal itu sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa ketika tidak ada tekad yang kuat dalam mewujudkan apa yang diimpikan, semakin saya keranjingan membuat list apa saja yang kuinginkan.

Momen akhir tahun 2017 kali ini kembali memaksaku menulis apa yang ingin kugapai di tahun 2018.

Sebelumnya saya membaca ulang tulisan semacam ini tahun lalu namun ternyata tidak ada yang terwujud. Atau mungkin juga Tuhan merealisasikannya dalam bentuk yang lain, entah seperti apa. Ada juga yang hampir tergapai namun kembali memudar. 

Saya berharap, tahun 2018 lebih sedikit bersahabat meski pada dasarnya, setiap waktu baik hanya manusia yang menyia-nyiakannya.

Tahun 2018, saya membayangkan bekerja di tempat kerja yang baru nan settle di hatiku. Bekerja yang sesuai dengan passion dan misi yang diembankan oleh Allah Swt. Tidak lagi bekerja pada bidang finance yang masih debatable hukumnya secara fiqih Islam. 

Bekerja di kota di Jawa Timur atau mungkin Jawa Tengah. Menetap dan membeli rumah tempat berteduh anak isteri dan keluarga lainnya.

Lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara dan mengukur setiap kata yang dilisankan. Lebih banyak membaca dan menulis yang sistematis dan berbobot.

Lebih intens mengunjungi orang tua di kampung. Anak Isteri beserta keluarga dalam keadaan sehat lahir batin. 

Cilandak. 31 12 17.  21.27

December 29, 2017

Peralihan

Saya sudah melewati usia 20-an dan memasui gerbang usia 30-an. Perjalanan waktu yang tidak disadari tiba-tiba sudah berada pada angka yang lumayan banyak. Hampir setengah dari usia Nabi Muhammad.

Sedikit gemetaran menyadari bahwa sudah begitu panjang perjalanan yang saya lewati namun kualitas diri belum juga berada pada level yang memuaskan. Hidup masih terombang-ambing oleh angan yang tak berujung bahkan ketika orang seusiaku sudah berada pada jalur passionnya untuk menjalani hidup, saya masih saja terus meraba jalan.

Malu. Rasa yang terkadang muncul saat menyadari kehidupan saya yang tidak beranjak ke tingkatan yang lebih baik. 

Tiga tahun di awal usia 20an saya habiskan sebagai Mahasiswa. Masa yang menurutku sangat berkesan meski meninggalkan penyesalan atas banyaknya kesempatan belajar yang kulewatkan pada masa itu. 

Dua tahun berikutnya, saya habiskan sebagai pengangguran yang tak tahu arah. Kemana kaki melangkah, maka diri ikut layaknya layang-layang yang nurut pada sang empunya. Dua tahun yang benar-benar terbuang sia-sia. 

Pertengahan usia 20an, saya mulai memasuki dunia kerja. Dunia yang kemudian menghanyutkanku pada rutinitas harian. Pagi berangkat dari kos ke kantor, pulang menjelang senja kemudian libur pada saat weekend lalu menerima gaji bulanan pada setiap akhir bulan. 

Akhirnya terjebak dalam dunia ini dan terjun bebas dalam arusnya yang deras. Menghantam idealisme, kepedulian dan rasa sosial yang hanya menyisahkan pikiran tentang besarnya gaji atau berapa bonus yang akan diterima. 

Di awal usia 30an, saya nampaknya mulai menyederhanakan impian. Angan tidak harus dilambungkan jauh ke langit namun sekedar mencari apa yang membuat hati tetap tenang dan berada pada koridornya. 

Anak dan isteri mungkin salah satu faktor yang membuatku berfikir bahwa hidup hanyalah tentang bagaimana mengasihi tanpa harus berusaha mengejar semua impian pada titik batas nilai kemanusian. 

Di awal usia yang sudah mulai menua, saya hanya berharap tetap sehat lahir batin dalam menemani anak isteri menjalani hari, mampu memberikan kebutuhan primer kepada mereka dan punya tempat layak untuk dihuni, sebagai tempat istirahat dan bercengkerama. Tempat segala hal untuk memulai hal-hal baik. 

Untuk selanjutnya, menetap di sebuah kota di luar keruwetan ibu kota. Bekerja pada tempat yang tidak mengganggu prinsip nurani. 

Ah, awal usia tua ini memang berat. Di kala mereka sudah mapan di usia seperti ini, saya bahkan harus memulai dari nol untuk banyak hal. Untuk hal-hal duniawi maupun nutrisi rohani yang mulai kosong dihantam angan-angan.

Begitulah peralihan angka dari 20 ke 30

29 12 17

December 23, 2017

Ibu

Entah kata apa lagi yang harus kuucap untuk menumpahkan rindu. Bahasa seperti bagaimana lagi yang harus kulisankan untuk menceritakan cintaku padanya.

Ibu, selalu saja sentimental ketika menulis tentangnya. Apa saja yang kuceritakan akan membuatku merindunya.

Saya bukanlah orang yang ikut-ikutan merayakan momen yang dikenal sebagai hari ibu namun setidaknya, momen ini mengingatkanku bahwa saya punya alasan untuk menuliskan lagi kata-kata untuknya.

Salah seorang guruku semasa SMA sangat dekat denganku bahkan ketika saya sudah tamat, kami masih sering komunikasi.

Nah si guru tersebut saban senin dan kamis sering ke pasar membeli keperluan dapur. Ibuku yang notabene penjual jajanan pasar sering melihatnya dan memberikan jualannya secara gratis kepada guruku karena ibuku tahu bahwa guru tersebut dekat dengan saya.

Begitu pedulinya ibu terhadapku bahkan orang-orang yang dekat denganku akan dimuliakan oleh ibu.

Selamat hari ibu. Semoga sehat lahir batin selalu ya bu. Umur yang berkah dan suatu saat bisa berkunjung ke tanah Mekah.

23 12 17

November 24, 2017

Panggung Terakhir untuk Si Tiang Gawang

Meskipun anda terlalu banyak berjasa bagi klub yang paling tidak keren di jagad sepakbola Italia atau bahkan dunia, klub dari Turin, Juventus, namun tidak lantas membuat saya membenci anda karena bagaimanapun, anda sudah banyak berjasa juga bagi Timnas Italia yang merupakan timnas andalanku di setiap edisi World Cup dan Euro Cup.

Bung Gigi,
Anda menjelaskan kepada dunia bahwa umur hanya sebuah hitungan angka yang sama sekali tidak ada korelasinya dengan kemampuan di lapangan. Usia yang sudah menjelang senja tidak lantas membuat anda begitu saja menyerah dan melemparkan kaos tangan pertanda undur diri bahkan libido bermainmu semakin bergairah. Siapa yang tidak kagum pada ketangguhanmu selain mereka yang tidak menyukaimu.

Barangkali akan banyak yang sinis bahwa kemampuanmu bertahan di level atas sepak bola dunia di usia 39 tahun karena posisimu yang hanya sebagai penjaga gawang. Mereka lupa bahwa penjaga gawang bukan berarti tidak menguras tenaga malah lebih dari sekedar fisik, penjaga gawang penuh dengan tekanan mental ketika timnya dibobol sehingga butuh konsentrasi penuh selama 90 menit pertandingan.

Bung Gigi,
Kesedihanku begitu besar melihatmu gagal membawa Italia lolos ke turnamen piala dunia. Sebuah kegagalan yang menyedihkan seluruh warga Italia bahkan sebagian besar pencinta sepak bola di seluruh dunia. Benar bahwa anda tidak kebobolan saat pertandingan play off di San siro melawan Swedia namun kekalahan pertandingan di leg I membuatmu harus mengubur mimpi berlaga piala dunia yang terakhir kalinya. 

Rencanamu buyar untuk pensiun setelah piala dunia. menurutku, biang kerok paling empuk untuk disalahkan pada kegagalan Italia adalah sang juru taktik, Giampiero Ventura. Sudah banyak ulasan dari banyak kalangan bahwa doi memang sama sekali tidak pantas melatih Italia.

Bung, 
Timnas Italia sekarang memang tidak sementereng Timnas Italia 2006 yang kala itu menjuarai piala dunia. Maka sedikit wajar menyadari kenyataan bahwa Italia mungkin memang tidak pantas untuk berlaga di piala dunia 2018. Anda sudah tidak didukung oleh dua bek tanggung, Cannavaro dan Nesta. Tidak ada lagi seniman lapangan tengah, Andrea Pirlo dengan muka datar yang mampu membius penonton saat menguasai bola. Tidak ada lagi penyerang sekelas Vieri dengan tubuh kekar mampu melepaskan tendangan keras dan sundulan yang akurat.  

Bung Gigi,
Sekedar saran dari saya sebagai penggemar Timnas Italia dan klub Inter Milan. Lebih baik anda pensiun karena Timnas Italia tidak berlaga di piala dunia. Jika karena alasan ingin membawa Juventus juara Champion sebelum memutuskan pensiun, saya kira anda lebih baik mengubur mimpi tersebut. Juventus hanya sebuah klub receh di hadapan para jagoan tim Eropa. 

Lagian, sampai sekarang kenapa anda bisa-bisanya bermain untuk klub yang jerseynya mirip marka jalan. Kalau mau tahu yang bung, Juventus itu sama sekali tidak ada keren-kerennya sedikit pun. 

Satu lagi pesanku ya bung sebelum anda menyesal. Lebih baik pensiun sekarang karena Juventus tidak pernah menghargai pemain yang sudah loyal bermain untuk klub tersebut. Anda ingat kan bagaimana Juventus memperlakukan Del Piero dengan sangat tidak elegan. Istilahnya habis manis sepah dibuang.

Coba bandingkan dengan klub paling keren, Inter Milan. Javier Zanetti sangat dihormati di sana sebagai salah satu legenda bahkan setelah menyatakan pensiun. Dia diberikan posisi strategi di jajaran pengurus klub. Keren kan bung. Ah sayang sekali dulu anda tidak memilih Inter Milan sebagai klub yang pantas dibela.

Sudah dulu yang bung. Coba direnungkan saran saya untuk cepat-cepat pensiun daripada menghabiskan tenaga hanya sekedar menjaga gawang Juventus dari kebobolan. biarkan saja Juventus dibobol, gawangnya tidak perlu dijaga.

24 11 17

November 21, 2017

Tentang "Makes" dan Dinamika Perjalanannya

Saya pertama kali bergabung di lembaga Makes sekitar bulan Januari 2006. bermula ketika saya kursus di lembaga Britania Raya yang berlokasi di Benteng Rotterdam. saya bertemu dengan salah seorang member Makes, kalau saya tidak salah ingat, namanya Kiki. belakang setelah aktif di Makes, saya tidak pernah bertemu dengannya.

Ketika hendak pulang dari Benteng Rotterdam, saya menyempatkan diri duduk di taman Benteng. Kiki duduk di sampingku yang entah bagaimana mulanya, kami bercakap-cakap tentang apa saja tentunya tentang tujuan saya ke Benteng Rotterdam dalam rangka kursus bahasa inggris. mengetahui hal tersebut, Kiki merekomendasikan lembaga Makes sebagai alternatif tempat mengasah kemampuan bahasa inggris. dia menyarankan saya ikut dengan segala informasi detail tentang Makes, tentang waktu meeting, no charge dan suasana dalam meeting. lembaga tersebut berlokasi di teras masjid Al Markaz Makassar.

Berbekal informasi dari Kiki, saya kemudian memberanikan diri ikut di lembaga Makes dan tekad yang kuat untuk belajar bahasa inggris. setibanya di Makes, saya ingat masih ingat Adnan yang pertama kali mengajak ngobrol, belakangan saya akrab dengannya, saya memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa saya ke Makes atas rekomendasi Kiki.

Pada permulaan meeting, member baru disuruh memperkenalkan diri di forum besar dalam bahasa inggris. meski perkenalan hanya seputar hal sederhana tentang diri namun keder juga di tengah orang yang belum dikenal apatahlagi menggunakan bahasa inggris.

Setidaknya kesan pertama saya lalui dengan sukses di Makes. saya punya pertalian yang kuat dan merasa akan betah belajar di tempat tersebut. tempat yang menurutku ideal untuk belajar banyak hal bahkan belajar tentang kehidupan.

Oh iya, rentang waktu tersebut, saya tidak punya kegiatan di Makassar karena pada tes SPMB 2015, saya tidak lulus dan memutuskan untuk mengikuti kursus sambil menunggu tes PT tahun berikutnya. hal tersebut pula yang membuat seringnya intesitas kedatangan saya di Makes.

Seringnya saya datang di Makes membuat saya semakin akrab dengan orang-orang yang aktif di lembaga tersebut. saya mengikuti banyak kegiatan di Makes selain diskusi rutin yang diadakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Tahun berikutnya ketika saya berhasil lulus masuk PTN di Makassar, saya selalu menyempatkan waktu untuk datang belajar di Makes. saya bahkan menjadi salah satu pengurus sejak tahun 2007 sampai 2011 dengan berbagai posisi yang berbeda. di tahun awal saya bergabung, sangat terasa iklim akademis yang terbentuk di lembaga tersebut. kajian bahasa inggris yang menjadi spirit awal ikut menjadi member kemudian hanya menjadi second spirit karena saya lebih bergairah mengikuti diskusi-diskusi rutin yang dilakukan dalam menambah wacana member Makes.

Dua atau tiga tahun di Makes, saya sudah akrab dengan para senior yang rata-rata sudah sukses. mayoritas dari mereka adalah berprofesi sebagai Dosen. saya tidak membuang kesempatan untuk berguru dari mereka. dari beberapa pengalaman, saya pernah berdiskusi panjang dengan salah seorang senior yang juga merupakan Dosen Universitas Bosowa. Saya pernah beberapa malam berkhidmat dengan Dosen Unhas yang juga lulusan Belanda. masih banyak dari senior yang pernah saya punguti ilmunya.

Dari sekian senior yang sering kujadikan referensi, sampai saat ini, hanya satu senior yang masih intens berinteraksi denganku dan beberapa hal prinsip yang membuatku harus meminta saran kepadanya sebelum memutuskan. Terakhir kali bertemu beliau di Jakarta dan memberiku banyak pesan tentang kegundahanku selama ini.
Saya mengikuti perjalanan beberapa anggota Makes yang awalnya sangat minim kemampuan bahasa inggrisnya namun beberapa tahun kemudian, mampu meraih beasiswa ke luar negeri. bukan hanya satu tetapi banyak dari mereka.

Salah satu hal yang kusesali adalah di tahun-tahun akhir ikut di Makes, saya tidak terlalu disiplin mengikuti kursus bahasa inggris termasuk latihan toefl yang diadakan di luar meeting rutin sehingga membuat kemampuan bahasa inggris saya jauh tertinggal dari teman-teman. ketika mereka sudah sibuk mengurus berkas mendaftar beasiswa S2, saya masih berkutat pada hal-hal remeh temeh. mungkin dari member Makes yang aktif sejak 2006, saya adalah satu dari sedikit yang tidak mampu memperoleh beasiswa S2. namun terlepas dari itu, saya tetap bangga menjadi bagian dari Makes.

Di tahun 2010, saya terpilih sebagai Daily Chairman. posisi yang mengurusi tetek bengek keseharian Makes karena di tataran konsep dan hubungannya dengan pihak eksternal, diemban oleh Chairman. di posisi ini, saya punya wewenang yang lebih dalam menentukan warna Makes seperti apa. meski tetap berada pada koridor yang sudah digariskan oleh para pendiri lembaga.

Warna Makes sering berubah tergantung bagaimana pengurus yang menjalankannya. Satu waktu Makes berubah menjadi forum kajian yang disiplin namun di lain waktu fokusnya hanya terkait wacana belajar bahasa inggris, sekali lagi tergantung mereka yang sedang menakhodai Makes.

Saya pun sudah melihat banyak friksi antar individu dalam tubuh Makes, dari yang mulai debat mulut sampai pada yang hampir kontak fisik. Perbedaan muncul lebih pada cara pandang yang berbeda dan tidak bisa diselesaikan dengan bijaksana.

Bulan Agustus lalu, saya seminggu tugas di Makassar membuat Saya punya tiga kali kesempatan mengunjungi lembaga Makes. organisasi yang sering dianggap punya daya tarik bagi Para Mahasiswa Makassar atau siapapun yang punya hasrat diskusi yang tinggi dengan menggunakan kanal bahasa Inggris.

saat bercerita dengan ketua Makes periode 2016, dia banyak bercerita tentang perkembangan Makes yang mutakhir. dia bercerita tentang banyak senior yang sudah enggan datang ke Makes karena merasa sudah tidak dikenal. menurut Narsul bahwa bagaimana mereka dikenal kalau tidak pernah datang silaturrahim.

Makes mungkin akan selalu berubah sesuai zamannya namun saya yakin lembaga ini akan tetap eksis sampai beberapa tahun ke depan selain anggapan mitos bahwa Makes ini terjaga karena kegiatannya di teras masjid.

Draft tulisan dua bulan yang lalu
21 11 17

October 30, 2017

Obrolan Kamis Malam

Satu hal yang selalu saya kangeni bertemu dengan teman-teman dari Makes, Kelompok kajian berbahasa Inggris di Masjid Al Markaz Makassar, adalah sharing ilmu dan diskusi panjang tentang apa saja. kelompok kajian yang dikulturkan sebagai organisasi Egaliter membuat para anggotanya, baik yang senior maupun yang junior seakan tidak memiliki sekat seperti yang tercipta di beberapa organisasi yang feodalistik.

Kamis siang kemarin, saya iseng membuka beranda whatsapp dan melihat chat dari salah seorang senior di Makes. beliau menanyakan kabarku dan tempat tinggal sekarang. sesaat setelah kujawab chatting wa nya, beliau menjelaskan bahwa dirinya sedang ada di Bogor dan hendak berangkat ke Jakarta. beliau ingin bertemu denganku jika ada kesempatan.

Jelas saja saya mengiyakan ajakannya. meski agak sore karena saya pulang kantor jam lima. beliau menginap di apartemen Cosmo Terrace dan kami janjian di sana selanjutnya bersama-sama ke bilangan Jatibening karena ada sejawatnya yang tinggal di daerah tersebut.

Saya meninggalkan kantor tepat jam lima sore ketika tanda pulang sudah berbunyi. mengarungi jalanan yang dipadati kendaraan menuju bilangan Thamrin City. lumayan butuh perjuangan berlipat untuk sampai di daerah tersebut karena sore hari bertepatan dengan momen kaum urban pulang kantor.

Saya dan salah seorang senior yang datang bertandang ke Jakarta, kemudian bergegas menuju Jatibening. tempat kediaman sejawat yang sudah lama menetap di Ibu Kota. butuh dua jam perjalanan untuk sampai di Jatibening dari kawasan Thamrin City karena saya tersesat. seharusnya lewat Kalimalang namun saya memutar lewat Jatimakmur.

Kami bertiga menghabiskan malam di sebuah kedai roti bakar. saya yang notabene junior hanya diam dan sesekali menimpali jika ditanya. saya banyak menyimpan pesan tentang kehidupan yang diperbincangkan oleh kedua sesepuh Makes yang sudah lama tidak bersua.

Kak A, senior yang sudah lama menetap di Jakarta lebih mendominasi permbicaraan dengan arah memberikan saya motivasi sambil bernostalgia tentang apa yang dulu dia peroleh di Makes kemudian diaplikasikan dalam dunia nyata.

Dia sudah punya perusahaan dengan omzet milliar. menangani proyek dari pemerintah maupun swasta.

Awal merintis usaha di Jakarta, dia berkarir sebagai karyawan swasta sebelum memutuskan untuk resign dan mencoba peruntungan di dunia usaha. satu prinsip yang dia pegang selama berusaha adalah dia mengharamkan dirinya menggunakan pinjaman bank. awal mula merintis memang terlihat sangat berat namun dia tidak putus asa sampai akhirnya, dia berhasil membeli mobil tiga unit secara cash dan rumah pun dengan cash keras.

Selain kekagumanku atas prinsipnya yang tidak kompromistis terhadap maslaah riba dan semua yang dimiliki dibeli dengan cash dan selebihnya, nasehat yang dia berikan mungkin menurutku klise namun memang pantas diucapkan oleh orang yang sudah meneguk materi.

Saya yang notabene masih berkutat di  perusahaan finance sudah was-was mendengarkan ceritanya karena khawatir dia akan ofensif mempertanyakan keputusanku tetap bertahan di perusahaan finance yang sangat rawan tercampur dengan unsur ribawi, namun sampai akhirnya saya pamit pulang, tidak satu pun kata yang seperti kucemaskan.

Saya pamit tepat jam sebelas malam.

Cerita yang seharusnya sudah kutulis sejak Jum'at pertengahan oktober sehari setelah perbincangan kami di kedai roti bakar Jl. kalimalang bersama dua senior Makes.

October 28, 2017

OTS #9

Perjalan dinas kali ini nampaknya tidak terlalu memuaskan karena sekedar menggugurkan tugas kantor. Ada banyak pikiran yang mengoyak kepalaku membuat fokus perjalanan tidak terlalu baik.

Kota kali ini pernah Saya kunjungi enam tahun yang lalu meski hanya dua hari sehingga yang tersisa diingatanku hanyalah cuaca yang sangat panas dan lumayan membuat badan serasa mendidih.

Satu hal yang membuatku merasa senang karena saya berkesempatan transit di kota asal meski nampaaknya hanya sebentar saja.

Saya berangkat dari Soetta jam setengah sepuluh dengan pesawat Sriwijaya. Entah kendala apa sehingga pesawat harus delay beberapa saat kemudian transit di kota asal hanya ganti pesawat. Saat transit, hujan turun dengan derasnya mengguyur. Meski hanya sesaat namun tetap saja saya merasa sangat senang menginjakkan kaki di kotaku.

Saya berganti pesawat yang lebih kecil. Terbang menuju kota tujuan yang berada di bagian tenggara pulau yang sama dengan kota asalku. Ternyata pesawat hanya menempuh waktu 45 menit dengan ketinggian pesawat 2000 kaki.

Tiba di kota tujuan, senja sudah menjelang dan nampaknya hujan belum jua mengunjungi kota itu. Tanaman kering dan jalanan berdebu. Saya menyewa taxi liar di bandara menuju kota dengan sewa seratus ribu. Jarak dari bandara ke kota lumayan jauh dengan jarak tempuh 45 menit.

Sebelum mencari hotel tempat menginap, saya menuju kantor dan sudah ditunggu kacab. Kami bersalaman membuka acara secara seremonial kemudian berbincang lepas. Menjelang maghrib, saya ditemani staff di kantor cabang mencari hotel, beberapa hotel full karena nampaknya ada acara partai hingga akhirnya kami tiba di hotel zahra dan masih banyak kamar yang lowong. Hotel dengan konsep syariah yang benar-benar menerapkan segala sesuatu dengan prinsip syariah.

Malamnya, saya tidak terlalu berminat menjelajahi kota karena sudah letih. Sekedar keluar mencari makanan kemudian kembali ke hotel untuk istirahat.

Esok hari, saya kemudian memulai aktivitas kantor untuk empat hari ke depan. Kota itu ternyata masih bersahabat dengan panas bahkan ketika di kantor, sepanjang waktu saya berkeringat karena ac sedang bermasalah. Hal tersebut membuatku tidak terlalu fokus menyelesaikan tugas.

Empat hari berjalan seperti biasa dan malam hari saya hanya keluar makan. Tidak ada momen yang istimewa di ots kali ini.

Jumat sore, saya bergegas ke bandara. Pesawat yang akan membawaku pulang ke rumah akan transit di kota asalku selama 17 jam. Lumayan lama yang membuatku berkesempatan tidur di rumah keluarga di kotaku. Mungkin hanya itu yang membuatku bahagia atas perjalanan kali ini.

16-20 Oktober 17