Entah apa yang berkecamuk di dalam diri ini namun pikiran sedang kacau dan tidak bisa berkonsentrasi terhadap semua yang sedang dikerjakan. mungkin juga terlalu letih dan butuh istirahat
November 11, 2015
November 9, 2015
Ingatan Tentang Gitar
Untuk ingatan yang satu ini, selalu ada terselip rasa penasaran sampai sekarang. pertanyaan yang mengganggu pikiranku, kok Aku sama sekali tidak bisa memainkan gitar yah? pertanyaan tolol memang karena tidak ada pengaruhnya untuk hidupku meski sesekali aku ingin menikmati diriku bermain gitar disaat malam menua dan hujan turun dengan rintik-rintik.
Kembali ke pertanyaan tadi, ingatanku meluncur deras ke masa lalu saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku amat menyukai semua jenis musik dan terobsesi untuk bisa memainkan gitar alhasil entah dari mana uang yang kuperoleh, Aku memaksakan diri membeli sebuah gita merek Yamaha dari teman sekolah bahkan Aku harus mengendap-endap pada malam hari untuk transaksi perihal gitar tersebut karena takut ibuku tidak mengijinkan. perlu diketahui pula bahwa pada masa itu, masih sangat jarang temanku di kampung yang bisa main gitar apatahlagi mempunyai gitar
November 5, 2015
Kebenaran itu
Kalau tidak salah ingat, sekira tahun 2008 yang lalu saat masih dua tahun menyandang status sebagai Mahasiswa, saya ikut aksi menolak UU BHP. aksi menolak UU tersebut diperjalanan tahun 2008 amat sangat ramai dan salah satu aksi yang kuikuti terjadi di pintu 1 UNHAS. saya sudah tidak terlalu mengingat kronologis aksi itu namun kericuhan pecah sepanjang hari.
Ada beberapa momen yang masih terekam di kepalaku saat aksi berlangsung, ditengah kericuhan yang terjadi, ada wartawan yang berada dikerumunan Mahasiswa yang sedang melempar batu kearah barikade aparat berujar "jangan terlalu keras kawan, di bagian sana juga ada teman kita." enttah siapa yang dimaksud kawan oleh Wartawan tadi namun salah satu teman Mahasiswa, Saya masih kenal orangnya, langsung menimpali "omong kosong kalau ada teman kita di barisan aparat, mereka semua lawan."
Saat itu aku bersepakat dengan Mahasiswa yang menimpali si Wartawan bahwa tidak ada ampun bagi mereka yang ada di barikade Aparat dan tidak ada kata kawan diantara mereka. itu kesepakatanku dulu saat masih memendam amarah setiap melihat sekumpulan orang yang berbaju cokelat bahkan setelah aksi tersebut, Saya masih berdebat dengan saudara sepupu yang seorang Polisi.
entah kepalaku yang sudah mulai melunak ataukah ada faktor lain namun beberapa kesepatakan-kesepatanku terhadap tindakan yang "merugikan" orang banyak mulai kurevisi. okelah untuk aksi jalanan yang yang isunya sektarian tidak perlu untuk memblokir jalanan hingga mengganggu aktivitas masyarakat yang seringkali dijadikan kambing hitam dalam setiap aksi. dalihnya untuk kepentingan mereka.
November 3, 2015
Pulang
Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Hal : 400
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Hal : 400
Sebelumnya tidak ada niat untuk membaca Novel ini. bukan karena meragukan kapasitas Tere Liye dalam menghasilkan sebuah cerita namun lebih karena faktor banyaknya buku yang masih menunggu antri untuk Saya baca. sok rajin padahal waktu tersita main gadget. hehe
Novel ini awalnya dibeli oleh isteri Saya di Gramedia Ambassador. akhir pekan minggu lalu, novel ini menanggur di meja depan karena Isteri Saya sedang ke Bogor alhasil karena tidak ada aktivitas, Saya iseng membuka lembaran pertama kemudian berlanjut dan akhirnya Saya menyelesaikan sampai bab terakhir.
"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. juga mamakku, lebih banyak tangis di hati mamak dibanding di matanya."
Bujang, seorang pemuda tanggung berumur 15 tahun tinggal di pedalaman pulau Sumatera bersama Ibu Bapaknya. Bujang sama sekali tidak pernah mengecap pendidikan normal meski demikian Ibunya yang dengan tekun mengajarinya baca tulis. Bapaknya seorang yang keras dan apatis terhadap keberadaan Agama sehingga setiap kali Bujang belajar Agama maka tidak dinanya, Bapaknya akan marah besar.
Cerita bermula ketika sekelompok pemburu datang di kampung mereka dengan bersenjata lengkap. Para Pemburu tersebut hendak memburu Babi hutan yang memang banyak terdapat di belantara hutan kampung. Sekelompok Pemburu tersebut ternyata sudah akrab dengan Bapak Bujang. Mereka menginap di rumah Bujang sembari menunggu malam dan memulai pemburuan.
Ketika malam sudah mulai menua, Para Pemburu tersebut bersiap-siap dengan segala peralatan, Bujang pun diajak ikut dalam rombongan meski dengan perasaan yang sangat terpaksa, Mamaknya merestui Bujang untuk ikut. selama ini, Ibunya amat sangat protektif terhadap keselamatan Bujang.
Singkat cerita, esok hari setelah Pemburuan, Para Pemburu hendak pulang ke kota dan mengajak Bujang ikut serta dalam rombongan. Bujang yang tidak tahu sama sekali asal-usul para Pemburu hanya ikut keputusan orang tuanya. Mamaknya yang bersikeras untuk menolak Bujang ikut bersama Para Pemburu namun kekerasan hati Bapaknya menakdirkan Bujang ikut dalam Rombongan yang sama sekali Dia tidak tahu kemana akan pergi.
Novel ini awalnya dibeli oleh isteri Saya di Gramedia Ambassador. akhir pekan minggu lalu, novel ini menanggur di meja depan karena Isteri Saya sedang ke Bogor alhasil karena tidak ada aktivitas, Saya iseng membuka lembaran pertama kemudian berlanjut dan akhirnya Saya menyelesaikan sampai bab terakhir.
"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. juga mamakku, lebih banyak tangis di hati mamak dibanding di matanya."
Bujang, seorang pemuda tanggung berumur 15 tahun tinggal di pedalaman pulau Sumatera bersama Ibu Bapaknya. Bujang sama sekali tidak pernah mengecap pendidikan normal meski demikian Ibunya yang dengan tekun mengajarinya baca tulis. Bapaknya seorang yang keras dan apatis terhadap keberadaan Agama sehingga setiap kali Bujang belajar Agama maka tidak dinanya, Bapaknya akan marah besar.
Cerita bermula ketika sekelompok pemburu datang di kampung mereka dengan bersenjata lengkap. Para Pemburu tersebut hendak memburu Babi hutan yang memang banyak terdapat di belantara hutan kampung. Sekelompok Pemburu tersebut ternyata sudah akrab dengan Bapak Bujang. Mereka menginap di rumah Bujang sembari menunggu malam dan memulai pemburuan.
Ketika malam sudah mulai menua, Para Pemburu tersebut bersiap-siap dengan segala peralatan, Bujang pun diajak ikut dalam rombongan meski dengan perasaan yang sangat terpaksa, Mamaknya merestui Bujang untuk ikut. selama ini, Ibunya amat sangat protektif terhadap keselamatan Bujang.
Singkat cerita, esok hari setelah Pemburuan, Para Pemburu hendak pulang ke kota dan mengajak Bujang ikut serta dalam rombongan. Bujang yang tidak tahu sama sekali asal-usul para Pemburu hanya ikut keputusan orang tuanya. Mamaknya yang bersikeras untuk menolak Bujang ikut bersama Para Pemburu namun kekerasan hati Bapaknya menakdirkan Bujang ikut dalam Rombongan yang sama sekali Dia tidak tahu kemana akan pergi.
November 2, 2015
November
Aku tidak pernah belajar dari waktu
tidak pernah sama sekali
sampai pada titik dimana waktu menegurku
menyadarkanku bahwa aku telah berjalan bersamanya
tanpa ada setetes hikmah yang tertampung namun sanubariku
Sekarang November
menjelma menjadi sebuah titik pengingat
bahwa perjalanan tahun ini sudah diujung tanduk
akankah aku kembali dalam kesalahan yang tidak
Tentang waktu yang tidak kusadari
rawamangun, 21115
tidak pernah sama sekali
sampai pada titik dimana waktu menegurku
menyadarkanku bahwa aku telah berjalan bersamanya
tanpa ada setetes hikmah yang tertampung namun sanubariku
Sekarang November
menjelma menjadi sebuah titik pengingat
bahwa perjalanan tahun ini sudah diujung tanduk
akankah aku kembali dalam kesalahan yang tidak
Tentang waktu yang tidak kusadari
rawamangun, 21115
October 29, 2015
Merindukan Oase Kehidupan
Dulu di Makassar, Saya punya seorang senior yang sering mengadakan kajian hidup. Entah kenapa, sampai saat ini, Saya merindukan diskusi tersebut.
Rute Hidup
Mampang selalu mengawali hariku disetiap paginya. ada dua rute hidup yang membuatku selalu sadar bahwa tidak ada yang benar-benar berubah dalam hidup ini hanya saja perpindahan kondisi. rute yang semakin mengakrabkanku dengan ibukota yang penuh dinamika dan sensasi hidup. Saya selalu percaya bahwa ibu kota mempunyai sensasi hidup tersendiri karena jikalau selama ini kita berkontemplasi di keheningan pedesaan atau kondisi yang tenang, maka ibu kota menawarkan hal lain, Saya seakan dihadapkan dengan situasi yang padat dan harus tetap fokus dan kontemplasi ditengah hiruk pikuk manusia, itu sensasinya.
kembali ke rute hariku. jika isteriku sedang tidak keluar kota maka hariku kumulai dari Mampang Prapatan VII depan 7-11 kemudian belok ke kiri menuju Bilangan Rasuna Said.saya akan selalu tertahan lebih lama di daerah Mampang karena jalanan ini memang salah satu titik macet paling jahannam di ibukota bahkan macetnya tidak kenal waktu. setelah lepas dari lampu merah dekat halte busway kuningan timur, jalanan mulai lengang. menuju kantor putar balik di depan itc Kuningan ke arah Mall kokas melewati 3 jalan flyover kemudian belok kiri ke arah halte busway pedati prumpang. di daerah ini lumayan padat setelah sebelumnya jalanan lengang dari arah Mall Kokas. sekitar 20 meter dari halte tersebut, Saya belok kiri ke arah Cipinang kemudian belok kanan di lampu merah melewati jalanan depan Rutan Cipinang. belok kiri di lintasan Rel kereta ke arah pasar Rawamangun.
Rute kedua ketika Saya tidak mengantar isteriku berlawanan arah dari yang kulewati saat berangkat bersama isteri. Saya keluar dari mampang kemudian belok kanan ke arah halte imigrasi. jalanan disini lengang karena kepadatan berasal dari arah cilandak sedangkan Saya berlawanan arah dengan kemacetan. setelah melewati halte Imigrasi, Saya belok kanan di lampu merah menuju TMP Kalibata, daerah kalibata lumayan padat. Saya belok ke kanan di lampu merah TMP kalibata. di pertigaan, dewi sartika, saya ke kanan ke arah RS Budi Asih. di persimpangan bawah flyover dekat kantor Asuransi Himalaya, Saya ke kanan arah halte Busway BNN kemudian jalanan menurun dan belok kanan. lurus terus sampai ketemu dengan halte busway pedati prumpang seperti rute pertama.
untuk rute pulang hanya satu. Saya akan melewati jalanan samping Rutan Cipinang ke arah sate Giyo kemudian ke kanan dan melanggar jalanan untuk berputar arah ke arah tebet melewati kolong jalanan. sesampai di turunan flyover samping stasiun tebet, Saya ke kiri menuju Saharjo. setelah perempatan Indomaret dan Sevel di Saharjo, Saya ke arah kanan menuju pancoran. jalanan paling padat kutemui di jalanan ke arah patung pancoran bahkan seringkali kendaraan mulai merangkak pelan saat baru di depan RM Mie Aceh. kerjadi keruwetan di pancoran bawah patung Pancoran. Saya harus bersusah payah keluar dari perangkap macet sebelum ke arah tegal parang. tidak ada jalur lain yang lebih dekat ke rumah memaksaku untuk tetap melewati pancoran. sesampai di Tegal Parang, belok ke kiri jalanan ke arah Mampang Prapatan kemudian pada akhirnya keluar dari lampu merah dekat Sevel Mampang menuju rumah.
Membayangkan jalur tersebut sudah membuat napas Saya tersengal-sengal apatahlagiketika melaluinya.
oh, no. kemacetan dan kepadatan di kota ini benar-benar luar biasa namun satu hal yang membuatku selalu tidak mood ketika pengendara melancarkan intimidasinya dengan cara bersahut-sahutan membunyikan klakson sementara mereka tahu sedang terperangkap dalam macet ataukah mereka mengira dengan klakson,macet tiba-tiba saja terurai. entahlah namun ujian klakson benar-benar menjengkelkan
Mampang, 30 Oktober 2015
Rute kedua ketika Saya tidak mengantar isteriku berlawanan arah dari yang kulewati saat berangkat bersama isteri. Saya keluar dari mampang kemudian belok kanan ke arah halte imigrasi. jalanan disini lengang karena kepadatan berasal dari arah cilandak sedangkan Saya berlawanan arah dengan kemacetan. setelah melewati halte Imigrasi, Saya belok kanan di lampu merah menuju TMP Kalibata, daerah kalibata lumayan padat. Saya belok ke kanan di lampu merah TMP kalibata. di pertigaan, dewi sartika, saya ke kanan ke arah RS Budi Asih. di persimpangan bawah flyover dekat kantor Asuransi Himalaya, Saya ke kanan arah halte Busway BNN kemudian jalanan menurun dan belok kanan. lurus terus sampai ketemu dengan halte busway pedati prumpang seperti rute pertama.
untuk rute pulang hanya satu. Saya akan melewati jalanan samping Rutan Cipinang ke arah sate Giyo kemudian ke kanan dan melanggar jalanan untuk berputar arah ke arah tebet melewati kolong jalanan. sesampai di turunan flyover samping stasiun tebet, Saya ke kiri menuju Saharjo. setelah perempatan Indomaret dan Sevel di Saharjo, Saya ke arah kanan menuju pancoran. jalanan paling padat kutemui di jalanan ke arah patung pancoran bahkan seringkali kendaraan mulai merangkak pelan saat baru di depan RM Mie Aceh. kerjadi keruwetan di pancoran bawah patung Pancoran. Saya harus bersusah payah keluar dari perangkap macet sebelum ke arah tegal parang. tidak ada jalur lain yang lebih dekat ke rumah memaksaku untuk tetap melewati pancoran. sesampai di Tegal Parang, belok ke kiri jalanan ke arah Mampang Prapatan kemudian pada akhirnya keluar dari lampu merah dekat Sevel Mampang menuju rumah.
Membayangkan jalur tersebut sudah membuat napas Saya tersengal-sengal apatahlagiketika melaluinya.
oh, no. kemacetan dan kepadatan di kota ini benar-benar luar biasa namun satu hal yang membuatku selalu tidak mood ketika pengendara melancarkan intimidasinya dengan cara bersahut-sahutan membunyikan klakson sementara mereka tahu sedang terperangkap dalam macet ataukah mereka mengira dengan klakson,macet tiba-tiba saja terurai. entahlah namun ujian klakson benar-benar menjengkelkan
Mampang, 30 Oktober 2015
Tiga Buku dan Gramedia Ambassador
Setelah sekian lama tidak membeli buku, hari minggu kemarin, Saya dan Isteri memutuskan untuk kembali membeli buku di Gramedia Ambassador, Buku "Pulang" karya Tere Liye, "Kukila" karya Aan Mansyur dan "Puya ke Puya" karya Faisal Oddang.
Sebenarnya kami adalah pemburu buku murah nan kw di daerah senen dan blok M namun entah kenapa, sejak sebulan terakhir, kebiasaan tersebut sudah jarang kami lakukan dan memutuskan untuk membeli buku kwalitas original di Gramedia. keputusan tersebut sebenarnya bukan karena isi dompet kami yang semakin menebal karena sudah rahasia umum jikalau harga buku kw 3 kali lipat lebih murah dari harga buku ori di stand Gramedia. keputusan untuk membeli buku di Gramedia karena dari segi kwalitas kertas dan tulisan memang tidak mengganggu mood ketika sedang membaca dan kami juga sudah menjadwalkan membeli buku hanya sebulan sekali saat tabungan rekening bertambah dari gaji bulanan yang tidak seberapa namun tetap patut disyukuri.
Isteriku sudah lama mengincar buku Tere Liye yang berjudul Pulang. memang dia adalah salah satu pembaca setia karya-karya Tere Liye bahkan hampir semua novel Tere Liye sudah dilahap. minggu kemarin ditentukan untuk membeli buku saat tidak ada kebutuhan lain yang terlalu mendesak. Saya pun sudah meniatkan untuk membeli buku Puya Ke Puya setelah membaca promosi di beranda Facebook seorang senior yang mempromosikan novel tersebut alhasil niatan kami ke Gramedia adalah membeli novel Tere Liye dan faisal Oddang. saat di Gramedia, mata Saya tertuju ke buku "Kukila" karya Aan Mansyur. hasratku untuk membeli buku tersebut tidak tertahan sehingga mau tidak mau, ketiga buku tersebut kami angkut ke rak buku rumah.
Mungkin, kami kedepannya kami hanya akan membeli buku bulanan tidak seperti sebelumnya yang bahkan tiap minggu kami berburu buku.kami ingin meluangkan satu ruangan di rumah kami nantinya sebagai perpustakaan.
Rawamangun 29-10-2015
Sebenarnya kami adalah pemburu buku murah nan kw di daerah senen dan blok M namun entah kenapa, sejak sebulan terakhir, kebiasaan tersebut sudah jarang kami lakukan dan memutuskan untuk membeli buku kwalitas original di Gramedia. keputusan tersebut sebenarnya bukan karena isi dompet kami yang semakin menebal karena sudah rahasia umum jikalau harga buku kw 3 kali lipat lebih murah dari harga buku ori di stand Gramedia. keputusan untuk membeli buku di Gramedia karena dari segi kwalitas kertas dan tulisan memang tidak mengganggu mood ketika sedang membaca dan kami juga sudah menjadwalkan membeli buku hanya sebulan sekali saat tabungan rekening bertambah dari gaji bulanan yang tidak seberapa namun tetap patut disyukuri.
Isteriku sudah lama mengincar buku Tere Liye yang berjudul Pulang. memang dia adalah salah satu pembaca setia karya-karya Tere Liye bahkan hampir semua novel Tere Liye sudah dilahap. minggu kemarin ditentukan untuk membeli buku saat tidak ada kebutuhan lain yang terlalu mendesak. Saya pun sudah meniatkan untuk membeli buku Puya Ke Puya setelah membaca promosi di beranda Facebook seorang senior yang mempromosikan novel tersebut alhasil niatan kami ke Gramedia adalah membeli novel Tere Liye dan faisal Oddang. saat di Gramedia, mata Saya tertuju ke buku "Kukila" karya Aan Mansyur. hasratku untuk membeli buku tersebut tidak tertahan sehingga mau tidak mau, ketiga buku tersebut kami angkut ke rak buku rumah.
Mungkin, kami kedepannya kami hanya akan membeli buku bulanan tidak seperti sebelumnya yang bahkan tiap minggu kami berburu buku.kami ingin meluangkan satu ruangan di rumah kami nantinya sebagai perpustakaan.
Rawamangun 29-10-2015
Tentang Setia Terhadap Pilihan
"Setia adalah Pekerjaan yang baik." Aan Mansyur
Saya sangat menyukai kalimat penyair asal Bone diatas. saya bahkan tidak tahu apakah hanya sebuah kalimat satir ataupun mungkin analogi namun biarkanlah Saya dengan cara pandang yang amat sederhana mengartikan kalimat tersebut secara literal bahwa memilih untuk setia pada setiap pilihan adalah pekerjaan yang baik.
Belum genap sebulan Saya menjalani biduk pernikahan. Saya telah menjatuhkan pilihan pada seorang gadis Jawa yang jauh berbeda dengan Saya. perbedaan dari budaya sampai pada kepribadian namun Saya selalu ingin berkomitmen terhadap setiap pilihan dalam hidupku dan tidak akan pernah mengingkari pilihan-pilihanku. ingkar terhadap pilihan sama saja berdusta terhadap diri sendiri.
Saya selalu berdoa untuk ditetapkan hati terhadap setiap pilihanku karena Saya tahu, perjalanan waktu terkadang mengubah isi kepala dan keinginan seseorang seiring dengan menuanya waktu. namun untuk sampai saat ini, biarkanlah Saya sok bijak mengomentari mereka yang mungkin memilih untuk selingkuh, ini sebagai sekedar pengingat kepada diri Saya sendiri supaya tidak melakukan hal yang sama dan sama sekali bukan sok menjadi paling setia karena terus terang Saya takut sekali akan menjadi karma.
Saya selalu meraba-raba keinginan seseorang saat mereka memilih untuk selingkuh, okelah untuk alasan bosan, apakah tidak ada sesuatu yang tidak membosankan di dunia ini yang selalu terulang? pertanyaan selanjutnya, ketika ingin mencari kepuasan sex, toh mungkin, saya katakan mungkin karena belum dan mudah-mudahan tidak pernah mencari yang lain, rasanya juga sama saja. saya selalu percaya bahwa hal yang berhubungan dengan kesenangan lahiriah selalu saja menipu dan tidak se'wah' dengan sensasi yang ada di kepala kita saat sebelum memilikinya.
Begitulah mungkin apa yang dinamakan selingkuh. sensasi yang membuat orang tidak pernah puas
Rawamangun, 29-10-2015 09:01
Belum genap sebulan Saya menjalani biduk pernikahan. Saya telah menjatuhkan pilihan pada seorang gadis Jawa yang jauh berbeda dengan Saya. perbedaan dari budaya sampai pada kepribadian namun Saya selalu ingin berkomitmen terhadap setiap pilihan dalam hidupku dan tidak akan pernah mengingkari pilihan-pilihanku. ingkar terhadap pilihan sama saja berdusta terhadap diri sendiri.
Saya selalu berdoa untuk ditetapkan hati terhadap setiap pilihanku karena Saya tahu, perjalanan waktu terkadang mengubah isi kepala dan keinginan seseorang seiring dengan menuanya waktu. namun untuk sampai saat ini, biarkanlah Saya sok bijak mengomentari mereka yang mungkin memilih untuk selingkuh, ini sebagai sekedar pengingat kepada diri Saya sendiri supaya tidak melakukan hal yang sama dan sama sekali bukan sok menjadi paling setia karena terus terang Saya takut sekali akan menjadi karma.
Saya selalu meraba-raba keinginan seseorang saat mereka memilih untuk selingkuh, okelah untuk alasan bosan, apakah tidak ada sesuatu yang tidak membosankan di dunia ini yang selalu terulang? pertanyaan selanjutnya, ketika ingin mencari kepuasan sex, toh mungkin, saya katakan mungkin karena belum dan mudah-mudahan tidak pernah mencari yang lain, rasanya juga sama saja. saya selalu percaya bahwa hal yang berhubungan dengan kesenangan lahiriah selalu saja menipu dan tidak se'wah' dengan sensasi yang ada di kepala kita saat sebelum memilikinya.
Begitulah mungkin apa yang dinamakan selingkuh. sensasi yang membuat orang tidak pernah puas
Rawamangun, 29-10-2015 09:01
October 27, 2015
Puya ke Puya
Judul : PUYA ke PUYA
Penulis : Faisal Oddang
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Oktober 2015
Tebal : 218 Hal
Penulis : Faisal Oddang
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Oktober 2015
Tebal : 218 Hal
Berjumpa dengan novel ini sebenarnya adalah sebuah kebetulan belaka atau paling tidak kalau menurut kaum Sufi tidak ada yang kebetulan di dunia ini maka anggaplah Saya memang ditakdirkan untuk membaca Novel ini. berawal ketika Saya iseng memelototi facebook, Saya tetiba melihat sampul novel ini yang terpampang di beranda seorang senior yang paling tidak mempromosikan novel yang terbit bulan ini.
Saya kemudian membaca prolog dari senior tadi tentang novel ini dan mulai sedikit tertarik ketika mengetahui bahwa latar dari cerita di novel ini adalah Toraja yang notabene amat sangat dekat dengan kampung saya bahkan berbatasan.
Hasrat Saya membaca novel ini semakin membuncah ketika tahu bahwa penulisnya seorang mahasiswa UNHAS yang berasal dari Wajo. Saya selalu tertarik membaca karya orang yang setidaknya berasal dari kampus atau provinsi yang sama, entah kenapa.
Puya dalam bahasa Toraja adalah Syurga atau Nirwana.
Novel ini bercerita tentang adat yang masih dijunjung tinggi di Toraja yaitu upacara kematian kematian. tokoh utama di novel ini adalah keluarga Rante Ralla yang merupakan keturunan Ningrat. Rante Ralla mempunyai isteri yang bernama Tina dan 2 orang anak yaitu Allu Ralla dan Maria Ralla sayangnya Maria meninggal saat masih bayi.
Cerita novel ini berawal ketika Rante Ralla meninggal setelah berpesta ballo dengan Pak Soso dan Mr. Berth yang merupakan petinggi perusahaan tambang Nikel di kampung Rante. Masyarakat mengira bahwa Rante meninggal dengan wajar meski kenyataannya, Dia diracun oleh Pak Soso dan hanya Isterinya yang tahu akan hal tersebut.
Allu yang merupakan anak tertua dari keluarga Ralla sedang dalam tahap akhir menyelesaikan kuliahnya namun setelah dia mendapat kabar bahwa ambe'nya meninggal, Bapak dalam bahasa Toraja, Allu memutuskan untuk pulang kampung dan membulatkan tekad menguburkan Ambe'nya di Makassar karena dia sadar bahwa jika dimakamkan di Toraja, akan memakan biaya yang sangat besar. adat kematian di Toraja yaitu Rambu Solo adalah upacara kematian besar-besaran apatahlagi jika yang meninggal adalah keturunan bangsawan.
kebulatan tekad Allu untuk menguburkan Ambe'nya di Makassar sudah tidak bisa dikompromikan lagi meskipun mayoritas keluarga besarnya menentang seperti paman Marthen dengan alasan jika tidak diupacarakan maka sama saja menodai nama besar keluarga yang merupakan keturunan Bangsawan.
Malena adalah anak pak kades yang merupakan cinta lama si Allu dan sampai sekarang dia masih mencintainya meskipun Allu sudah punya pacar di Makassar. Malena tiba-tiba saja datang dan menawarkan racun dalam bentuk madu kepada Allu. Pak Kades yang bersekongkol dengan pihak perusahaan Tambang paham bahwa Allu akan melakukan apa saja jika Malena yang memintanya.tiba-tiba saja Malena hadir dan mengatakan cinta kepada Allu dan mengajaknya menikah.
Novel ini bercerita tentang adat yang masih dijunjung tinggi di Toraja yaitu upacara kematian kematian. tokoh utama di novel ini adalah keluarga Rante Ralla yang merupakan keturunan Ningrat. Rante Ralla mempunyai isteri yang bernama Tina dan 2 orang anak yaitu Allu Ralla dan Maria Ralla sayangnya Maria meninggal saat masih bayi.
Cerita novel ini berawal ketika Rante Ralla meninggal setelah berpesta ballo dengan Pak Soso dan Mr. Berth yang merupakan petinggi perusahaan tambang Nikel di kampung Rante. Masyarakat mengira bahwa Rante meninggal dengan wajar meski kenyataannya, Dia diracun oleh Pak Soso dan hanya Isterinya yang tahu akan hal tersebut.
Allu yang merupakan anak tertua dari keluarga Ralla sedang dalam tahap akhir menyelesaikan kuliahnya namun setelah dia mendapat kabar bahwa ambe'nya meninggal, Bapak dalam bahasa Toraja, Allu memutuskan untuk pulang kampung dan membulatkan tekad menguburkan Ambe'nya di Makassar karena dia sadar bahwa jika dimakamkan di Toraja, akan memakan biaya yang sangat besar. adat kematian di Toraja yaitu Rambu Solo adalah upacara kematian besar-besaran apatahlagi jika yang meninggal adalah keturunan bangsawan.
kebulatan tekad Allu untuk menguburkan Ambe'nya di Makassar sudah tidak bisa dikompromikan lagi meskipun mayoritas keluarga besarnya menentang seperti paman Marthen dengan alasan jika tidak diupacarakan maka sama saja menodai nama besar keluarga yang merupakan keturunan Bangsawan.
Malena adalah anak pak kades yang merupakan cinta lama si Allu dan sampai sekarang dia masih mencintainya meskipun Allu sudah punya pacar di Makassar. Malena tiba-tiba saja datang dan menawarkan racun dalam bentuk madu kepada Allu. Pak Kades yang bersekongkol dengan pihak perusahaan Tambang paham bahwa Allu akan melakukan apa saja jika Malena yang memintanya.tiba-tiba saja Malena hadir dan mengatakan cinta kepada Allu dan mengajaknya menikah.
Sebagai lelaki yang masih merawat kenangannya tentang cinta pertama, Allu dimabuk kepayang. Tanpa ba-bi-bu, Allu mengiyakan kemudian menyampaikan niat menikahi Malena kepada Indo'nya. pada dasarnya, Indo'nya merestui namun adat Toraja pantang mengadakan "Rambu Tuka" sebelum diadakan "Rambu Solo."
Meskipun Allu sama sekali sudah tidak setuju dengan adat yang kaku dan menurutnya sangat memberatkan namun mau tidak mau, dia berpikir keras untuk mengadakan "Rambu Solo" pemakaman Ambe'nya. niat untuk menguburkan ambenya di Makassar pun sirna. di kepala Allu saat ini adalah bagaimana mencari dana yang jumlahnya di luar kemampuannya untuk membiayai acara pemakaman Ambenya. disaat seperti itu, pihak Tambang Nikel yang memang dari dulu mengincar Tongkonan keluarga Rante Ralla untuk akses ke lokasi tambang datang menawarkan dana yang lumayan besar kepada Allu dengan imbalan mau menjual Tongkonan tersebut.
Tanpa sepengetahuan Indo'nya, Allu menjual Tongkonan tersebut untuk dana Rambu Solo Ambe'nya. singkat cerita, semua berjalan sesuai rencana dan persiapan Rambu Solo sudah dalam tahap 90%. saat rapat keluarga Ralla, Indo'nya Allu mengetahui bahwa semua dana Rambu Solo suaminya didanai dari hasil penjualan Tongkonan. Indo'nya Allu mengamuk dan marah besar saat rapat keluarga. dia memaki Allu yang tidak mau mempertahankan Tongkonan dan dia membuka rahasia yang selama ini disimpannya bahwa Rante Ralla meninggal karena diracun oleh pihak Tambang.
Meskipun Allu sama sekali sudah tidak setuju dengan adat yang kaku dan menurutnya sangat memberatkan namun mau tidak mau, dia berpikir keras untuk mengadakan "Rambu Solo" pemakaman Ambe'nya. niat untuk menguburkan ambenya di Makassar pun sirna. di kepala Allu saat ini adalah bagaimana mencari dana yang jumlahnya di luar kemampuannya untuk membiayai acara pemakaman Ambenya. disaat seperti itu, pihak Tambang Nikel yang memang dari dulu mengincar Tongkonan keluarga Rante Ralla untuk akses ke lokasi tambang datang menawarkan dana yang lumayan besar kepada Allu dengan imbalan mau menjual Tongkonan tersebut.
Tanpa sepengetahuan Indo'nya, Allu menjual Tongkonan tersebut untuk dana Rambu Solo Ambe'nya. singkat cerita, semua berjalan sesuai rencana dan persiapan Rambu Solo sudah dalam tahap 90%. saat rapat keluarga Ralla, Indo'nya Allu mengetahui bahwa semua dana Rambu Solo suaminya didanai dari hasil penjualan Tongkonan. Indo'nya Allu mengamuk dan marah besar saat rapat keluarga. dia memaki Allu yang tidak mau mempertahankan Tongkonan dan dia membuka rahasia yang selama ini disimpannya bahwa Rante Ralla meninggal karena diracun oleh pihak Tambang.
Semua keluarga marah besar dan mengadakan penyerangan terhadap pihak tambang. Allu bahkanberlipat kemarahaannya saat mengetahui Malena hanyalah memanfaatkan dirinya supaya mau menjual Tongkonan karena sejatinya Malena dijadikan umpan oleh pihak tambang untuk membujuk Allu menjual Tongkonan.
Novel ini menggambarkan bagaimana sebuah adat yang memberatkan seharusnya tidak melulu untuk ditaati dan juga bahwa di novel ini, tersirat sebuah pesan bahwa adat dilestarikan oleh sekelompok orang ataupun instansi untuk mendapatkan keuntungan, meski tidak bisa pula dipungkiri bahwa selalu ada nilai-nilai luhur dalam setiap adat yang diwariskan.
Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik meski ada bagian yang tanggung dari segi ceritanya. menurut saya bahwa alasan keputusan Allu amat sangat sederhana menjual Tongkonan yang sebelumnya amat sangat dipertahankan hanya gara-gara ingin memiliki dana untuk menikahi Malena. apatahlagi setelah keduanya sudah lama tidak pernah bertemu bahkan menurutku, sangat naif jika Allu tidak mengetahui intrik Pak Kades yang merupakan ayah Malena untuk begitu saja menyetujui pernikahan Malena dengan Allu sedangkan dari awal, Allu sudah tahu bahwa Pak Kades berada dipihak Tambang.
Novel ini menggambarkan bagaimana sebuah adat yang memberatkan seharusnya tidak melulu untuk ditaati dan juga bahwa di novel ini, tersirat sebuah pesan bahwa adat dilestarikan oleh sekelompok orang ataupun instansi untuk mendapatkan keuntungan, meski tidak bisa pula dipungkiri bahwa selalu ada nilai-nilai luhur dalam setiap adat yang diwariskan.
Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik meski ada bagian yang tanggung dari segi ceritanya. menurut saya bahwa alasan keputusan Allu amat sangat sederhana menjual Tongkonan yang sebelumnya amat sangat dipertahankan hanya gara-gara ingin memiliki dana untuk menikahi Malena. apatahlagi setelah keduanya sudah lama tidak pernah bertemu bahkan menurutku, sangat naif jika Allu tidak mengetahui intrik Pak Kades yang merupakan ayah Malena untuk begitu saja menyetujui pernikahan Malena dengan Allu sedangkan dari awal, Allu sudah tahu bahwa Pak Kades berada dipihak Tambang.
Overall, Faisal luar biasa dengan beberapa karyanya salah satunya novel ini diusia yang masih belia saat umur seperti dia, Saya masih sibuk dengan hal yang tidak penting di kampus.
Jakarta, 29 Oktober 2015
Jakarta, 29 Oktober 2015
October 25, 2015
Tidurlah
Berulang kali aku camkan dalam setiap hariku bahwa relasi yang sedang kujalani harusnya berbarengan dengan sikap memahami perempuan yang sudah resmi menjadi kekasihku namun seringkali pula, ucapan itu hanya berakhir di pembuangan sampah. aku selalu gagal mengerti keadaannya yang dengan letihnya harus ikut mengais rejeki untuk kehidupan kami berdua.
Harusnya aku membiarkan dia memanjakan dirinya untuk sedikit menikmati empuknya kasur kami yang tanpa ranjang namun aku bahkan memintanya untuk menemaniku bercerita. ah, aku adalah pria egois kali ini.
Tapi tak apalah, kami baru saja berlabuh di kehidupan ini dan sedang berjuang untuk mendayung sampan yang sedang berjalan pelan.kami sedang mempelajari cara mendayung yang benar agar sampan ini tidak ambruk dan kami pun belajar untuk saling bergantian supaya kami tidak penat.
Tapi tak apalah, kami baru saja berlabuh di kehidupan ini dan sedang berjuang untuk mendayung sampan yang sedang berjalan pelan.kami sedang mempelajari cara mendayung yang benar agar sampan ini tidak ambruk dan kami pun belajar untuk saling bergantian supaya kami tidak penat.
Kami sedang menyusun arah sampan dan mengarahkannya ke tujuan semula. semua hanyalah riak kecil yang tidak akan melepaskan genggaman tangan kami.
Di Kontrakan kecil Mampang Prapatan VII
25 Oktober 2015 11:01
October 24, 2015
Cerita Semut
Di sudut belakang samping dapur kontrakan kita, selalu hadir beberapa rombongan semut hitam, entah ada gula yang tercecer atau mungkin juga sisa makanan sehingga mereka selalu betah bertandang ke dapur kita.
Cerita tentang semut selalu menghadirkan cerita dimalam pertama yang kita lalui. Selalu terbahak disetiap kita melalui momen tersebut. Disaat pasangan lain melewati malam pertama dengan melepas rindu, membuka kado pernikahan atau mungkin bercengkerama namun kita bahkan malah melewati malam pertama dengan urusan semut, yah entah kenapa, kamar dipenuhi dengan semut merah kecil yang datang bergerombol menyerbu kita alhasil sekujur badanku memerah bahkan engkau harus sibuk mengoleskan minyak untuk menghilangkan gatal dari serangan. sampai malam keempat pun, serdadu semut tersebut tidak kunjung pergi meski dengan segala cara kita menghalaunya.
Aku terpikir beternak semut untuk merawat kenangan malam pertama yang kita lalui. Kita membagikan kelak kepada anak-anak kita cerita tentang semut dan tentang perjuangan mereka meneror malam pertama yang seharusnya berakhir romantis namun harus berkesudahan dengan badan yang dipenuhi bekas cakotan semut.
Selalu tersipu mengingat momen itu namun setidaknya kita punya cerita lucu nan ironi untuk kita karena setiap orang punya cerita.
Tentang semut yang betah berlama-lama di kontrakan kita, marilah merayakn sedikit kebahagiaan dengan aku dan isteriku.
Mampang Prapatan, 24.10.15
October 23, 2015
Khutbah Jumat
Tidak banyak yang kuingat dari khutbah Jumat tadi siang selain tentang kisah seorang pelacur yang diampuni dosa-dosanya hanya karena memberi minum anjing yang kelaparan dan juga kisah seorang pembunuh yang sudah membunuh 99 orang kemudian datang ke seorang saleh meminta pendapat namun si saleh mengatakan bahwa dia sudah tidak bisa diampuni lanjut cerita, si pembunuh membunuh sekalian si saleh tersebut sehingga genaplah dia membunuh 100 orang namun kegigihannya untuk bertobat sehingga mendapat ampunan dari Allah SWT
Menurut sang khatib bahwa memang urusan Magfhira adalah otoritas Tuhan namun setidaknya bahwa kita bisa mengusahakan untuk mendapat ampunan dari Tuhan dengan cara beribadah kepadaNya secara Ihsan dalam artian meskipun kita tidak melihatNya namun hati kita percaya dengan Haqqul yakin bahwa Dia ada dan melihat seluruh aktivitas kita.
Selain dari itu, khutbah jumat tadi berakhir dengan mulutku yang tidak berhenti menguap karena ngantuk yang sudah di ubun-ubun. menurut desas desus bahwa orang yang mengantuk saat jumat sedang tidak beriman, mungkinkah? hu.hu
Jumat, 23 Oktober 2015
Subscribe to:
Comments (Atom)

