Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Hal : 400
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Hal : 400
Sebelumnya tidak ada niat untuk membaca Novel ini. bukan karena meragukan kapasitas Tere Liye dalam menghasilkan sebuah cerita namun lebih karena faktor banyaknya buku yang masih menunggu antri untuk Saya baca. sok rajin padahal waktu tersita main gadget. hehe
Novel ini awalnya dibeli oleh isteri Saya di Gramedia Ambassador. akhir pekan minggu lalu, novel ini menanggur di meja depan karena Isteri Saya sedang ke Bogor alhasil karena tidak ada aktivitas, Saya iseng membuka lembaran pertama kemudian berlanjut dan akhirnya Saya menyelesaikan sampai bab terakhir.
"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. juga mamakku, lebih banyak tangis di hati mamak dibanding di matanya."
Bujang, seorang pemuda tanggung berumur 15 tahun tinggal di pedalaman pulau Sumatera bersama Ibu Bapaknya. Bujang sama sekali tidak pernah mengecap pendidikan normal meski demikian Ibunya yang dengan tekun mengajarinya baca tulis. Bapaknya seorang yang keras dan apatis terhadap keberadaan Agama sehingga setiap kali Bujang belajar Agama maka tidak dinanya, Bapaknya akan marah besar.
Cerita bermula ketika sekelompok pemburu datang di kampung mereka dengan bersenjata lengkap. Para Pemburu tersebut hendak memburu Babi hutan yang memang banyak terdapat di belantara hutan kampung. Sekelompok Pemburu tersebut ternyata sudah akrab dengan Bapak Bujang. Mereka menginap di rumah Bujang sembari menunggu malam dan memulai pemburuan.
Ketika malam sudah mulai menua, Para Pemburu tersebut bersiap-siap dengan segala peralatan, Bujang pun diajak ikut dalam rombongan meski dengan perasaan yang sangat terpaksa, Mamaknya merestui Bujang untuk ikut. selama ini, Ibunya amat sangat protektif terhadap keselamatan Bujang.
Singkat cerita, esok hari setelah Pemburuan, Para Pemburu hendak pulang ke kota dan mengajak Bujang ikut serta dalam rombongan. Bujang yang tidak tahu sama sekali asal-usul para Pemburu hanya ikut keputusan orang tuanya. Mamaknya yang bersikeras untuk menolak Bujang ikut bersama Para Pemburu namun kekerasan hati Bapaknya menakdirkan Bujang ikut dalam Rombongan yang sama sekali Dia tidak tahu kemana akan pergi.
Novel ini awalnya dibeli oleh isteri Saya di Gramedia Ambassador. akhir pekan minggu lalu, novel ini menanggur di meja depan karena Isteri Saya sedang ke Bogor alhasil karena tidak ada aktivitas, Saya iseng membuka lembaran pertama kemudian berlanjut dan akhirnya Saya menyelesaikan sampai bab terakhir.
"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. juga mamakku, lebih banyak tangis di hati mamak dibanding di matanya."
Bujang, seorang pemuda tanggung berumur 15 tahun tinggal di pedalaman pulau Sumatera bersama Ibu Bapaknya. Bujang sama sekali tidak pernah mengecap pendidikan normal meski demikian Ibunya yang dengan tekun mengajarinya baca tulis. Bapaknya seorang yang keras dan apatis terhadap keberadaan Agama sehingga setiap kali Bujang belajar Agama maka tidak dinanya, Bapaknya akan marah besar.
Cerita bermula ketika sekelompok pemburu datang di kampung mereka dengan bersenjata lengkap. Para Pemburu tersebut hendak memburu Babi hutan yang memang banyak terdapat di belantara hutan kampung. Sekelompok Pemburu tersebut ternyata sudah akrab dengan Bapak Bujang. Mereka menginap di rumah Bujang sembari menunggu malam dan memulai pemburuan.
Ketika malam sudah mulai menua, Para Pemburu tersebut bersiap-siap dengan segala peralatan, Bujang pun diajak ikut dalam rombongan meski dengan perasaan yang sangat terpaksa, Mamaknya merestui Bujang untuk ikut. selama ini, Ibunya amat sangat protektif terhadap keselamatan Bujang.
Singkat cerita, esok hari setelah Pemburuan, Para Pemburu hendak pulang ke kota dan mengajak Bujang ikut serta dalam rombongan. Bujang yang tidak tahu sama sekali asal-usul para Pemburu hanya ikut keputusan orang tuanya. Mamaknya yang bersikeras untuk menolak Bujang ikut bersama Para Pemburu namun kekerasan hati Bapaknya menakdirkan Bujang ikut dalam Rombongan yang sama sekali Dia tidak tahu kemana akan pergi.

No comments:
Post a Comment