Kita tentu sudah sering mendengar cerita karyawan yang selalu berpindah kerja dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain atau bahkan seorang yang tidak pernah sekalipun berpindah pekerjaan dan dia selalu setia pada satu perusahaan. fenomena seperti itu sudah sangat umum dijumpai di dunia kerja. Alasan mereka yang sering berpindah tempat kerja pun bermacam-macam meski pada dasarnya, ada kesamaan saat karyawan memilih resign dan mencari pekerjaan baru.
Saya sebenarnya adalah salah satu karyawan yang sudah 3 kali berpindah tempat perusahaan. Alasan untuk mundur dari perusahaan tersebut pun berbeda-beda. pertama bekerja di sebuah LSM internasional Greenpeace. Perkenalanku dengan LSM ini memang sudah lama sejak awal kuliah. Aku tahu dari bahan bacaanku yang memang tidak jauh dari masalah lingkungan sampai akhirnya saya ikut job fair di Unair dan mendaftar di GP yang kebetulan membuka stand mencari karyawan baru. Posisinya direct dialogue Campaigner. posisi yang lumayan prestise menurutku hingga saya memutuskan untuk mendaftar dan dari 5 orang yang diterima, saya adalah salah satunya.
Kekerja di LSM ini ternyata tidak sesuai dengan ekspektasiku. Saya dan 4 teman lainnya harus disuruh menjadi marketing yang mencari nasabah di Mall-Mall ataupun di jalanan. Pada intinya bahwa kami mengajak para calon nasabah untuk menyumbangkan sebagian uangnya demi kerja-kerja LSM. Saya merasa tidak ada bedanya dengan marketing lainnya yang harus mengejar target penjualan, dan parahnya lagi karena saya harus benar-benar mencari orang yang sadar akan lingkungan karena mereka menyumbang setiap bulan dengan sukarela, itu berarti kerja di LSM ini jauh lebih sulit dari marketing barang yang ada timbal baliknya.
Setelah 2 bulan bekerja, saya mulai mengevaluasi cara kerja di LSM ini dan memutuskan bahwa saya harus mencari pekerjaan lain. Saya masih sepakat dengan cara pandang Greenpeace ataupun visi misinya menyelamatkan bumi namun proses pencarian dana seperti itu sebenarnya amat sangat tidak mengenakkan di hati kecilku.
Para penyumbang rela menyumbangkan sebagian uangnya dengan niat untuk digunakan dalam hal penyelamatan Lingkungan namun disisi lain, uang tersebut diputar untuk dibayarkan kepada karyawannya. Memilih untuk mundur dari pekerjaan tersebut adalah keharusan yang kutempuh pada saat itu.
Berlanjut ke Perusahaan kedua yang mempekerjakanku sebagai Staff Marketing. Tidak ada yang salah dari mulai proses produksi karena memang perusahaan tersebut adalah penerbit yang menjual buku, hanya saja ada beberapa langkah dalam mencapai target penjualan yang mengganggu idealisme saya. Harus saya akui bahwa ada prinsip yang mendasari saya untuk mengambil setiap tindakan yang melebihi dari hanya sebuah pertimbangan gaji.
Saya masih harus mengurut dada ketika bekerja sebagai marketing. Bagaimana tidak, perusahaan melegalkan setiap cara demi sebuah pencapaian target bahkan proses hanya sebuah jalan entah itu hitam atau putih karena yang penting bagi perusahaan, target penjualan bisa tercapai. Saya bahkan pernah memberikan uang puluhan juta kepada seorang pihak guru supaya sekolah tersebut memesan buku dari perusahaan kami. Berkutat dengan perasaan yang selalu berkecamuk membuatku memutuskan untuk resign dari perusahaan tersebut.
Perusahaan sekarang memang tidak ada yang salah dalam hal pekerjaanku namun masih ada hal yang membuatku sedikit ragu karena perusahaan sekarang tempat saya bekerja bergerak di bidang finance yang sebagian orang masih menganggap bahwa banyak terdapat riba didalamnya. akupun masih dalam proses pembelajaran dan mungkin sampai suatu waktu ketika keyakinanku mengatakan bahwa memang jenis pekerjaan ini mengandung riba yang harus ditinggalkan, mungkin dengan sukarela saya harus kembali mencari pekerjaan yang lain. Saya hanya berharap bahwa Tuhan akan selalu menunjukkan saya jalan menuju keridhaanNya dalam setiap aspek kehidupan yang saya jalani apatahlagi dalam hal pekerjaan.
Membali ke masalah alasan resign dari pekerjaan. semua orang punya alasan masing-masing dan mungkin alasan paling mayoritas adalah masalah gaji, suasana kantor, prestise sebuah perusahaan dan alasan prinsip mungkin salah satu alasan yang paling sedikit jadi dasar bagi karyawan keluar dari sebuah perusahaan
Mei 15