apa yang terucap dari mulut ketika dalam keadaan spontan terkadang murni berasal dari hati yang paling dalam. seringkali kita tersandung dan selalu saja ada yang mengumpat dan sebagian ada yang mengucapkan istighfar. dalam keadaan seperti itulah kita bisa bisa menilai bahwa orang yang selalu mengasah dirinya dengan mengingat Allah akan mengucapkan kalimat baik ketika tersandung namun bagi orang yang kurang diasah kemungkinan akan mengumpat.
aku mungkin saja adalah orang pada bagian kedua karena semalam saat melintas di depan kokas, ada sedikit insiden yang sebenarnya tidak perlu kusikapi dengan emosi. ceritanya jalanan begitu padat namun tiba-tiba saja motor supra menyenggol stir motorku meski tidak sampai jatuh. pengemudi motor tersebut memelototi aku namun aku pun membalas melotot kepadanya. hatiku emosi entah karena mungkin aku sering tergesah-gesah. untung saja si pengemudi tersebut tidak berhenti karena padatnya jalanan dan akupun melanjutkan perjalanan meski kusadari bahwa hatiku saat itu pun panas dan emosi.
kejadian berulang tadi saat aku akan membeli pulsa di Indomaret depan kantorku. saat menyebarang dan sudah memberi kode supaya mobil yang sedang melaju berhenti namun sebuah mobil yang dikendarai bapak paruh baya melaju kencang ke arahku. aku lantas melotot kepadanya dengan hati panas sambil menggerutu.
aku emosi, yah memang aku masih terkadang emosi terhadap hal yang tidak sesuai dengan keinginanku meskipun aku sudah menyadari bahwa berlalu lintas di ibukota membutuhkan 1001 kali lipat dengan kehidupan lalu lintas di kota lain. betapa tidak mudahnya untuk sekedar menahan diri ketika ada yang tidak menyenangkan di hati. disini, orang terbiasa dengan cara tergesa-gesa dan sok sibuk tanpa sekedar memberi ruang kepada orang lain untuk bergerak.
dulu sejak masih di sulawesi. aku tidak ingat persis apakah saat masih SMA atau sudah kuliah, kami selalu dicekoki bahwa orang di pulau ini khususnya yang ada di ibukota adalah orang produktif karena selalu menghargai waktu dan tidak pernah bersantai ria, mereka kerap bekerja keras. aku pun dulu sempat mengamini doktrin dari para Guruku namun semenjak tinggal dan bekerja di Ibukota, semua stereotipe tersebut buyar bahkan aku masih lebih percaya bahwa kehidupan dan relasi sosial di sulawesi masih lebih baik karena mereka masih punya banyak waktu luang hanya sekedar bercanda dengan keluarga atau bahkan bergurau bersama kawan-kawannya.
disini hal seperti itu layaknya sesuatu yang sia-sia. waktu dihargai sebagai kalkulasi matematika untuk menghasilkan uang lebih banyak. tidak mengherankan ketika orang kemudian merasa akan sangat terganggu ketika ada hal-hal yang membuat waktunya terbuang begitu saja.
ah, aku emosi
akhir pekan 080515
No comments:
Post a Comment