![]() |
| Senja Idealisme |
Pengarang : Ethos AHM
Jumlah Hal : 245
Negara ini negeri panjat pinang, bagaimana nikmatnya berada diatas sambil menginjak-injak yang lain dan yang di bawah dibiarkan saja menderita, puih!"....
Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Diwak, salah satu tokoh sentral dalam novel tersebut ketika berdiskusi dengan teman-temannya. mungkin Diwak bisa merepresentasikan mahasiswa Makassar yang memang terkenal kritis dan tidak ada kompromi terhadap hal-hal yang mereka anggap tidak sejalan dengan prinsip yang diyakini.
Novel tersebut menceritakan tentang sekelompok aktivitis mahasiswa Makassar yang suka berdiskusi apa saja dan gandrung menyuarakan aspirasi mereka di jalanan bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun, mereka tidak gentar sama sekali. mereka benar-benar mengimplementasikan bacaan yang mereka baca tentang kepedulian.
Diwak dijadikan tokoh utama yang selalu menjadi panutan teman-temannya bahkan dia selalu saja mampu mengagitasi teman-temannya dalam berjuang seperti para Filsuf. dia menggandrungi buku-buku filsafat dan buku "kiri" sehingga pemikirannya akan selalu mengkritik apa saja yang tidak sesuai dengan pengetahuannya.
Diwak adalah potret Mahasiswa Makassar yang lebih banyak belajar belajar
di panggung jalanan daripada di ruang-ruang kuliah. mereka (Mahasiswa
Makassar) menganggap bahwa pendidikan tersebut tidak hanya melulu dari
buku bacaan namun tersebar di setiap elemen kehidupan bahkan terkadang
pendidikan sejati adalah kehidupan itu sendiri.
Di lain sisi, novel tersebut tidak luput pula menceritakan tentang sisi kehidupan Mahasiswa Makassar yang selalu bisa survive di kos berukuran kecil bermodalkan mie rebus, rokok dan kopi. Seringkali pagi adalah waktu paling nyaman bagi mereka terbuai mimpi sementara malam dijadikan waktu berdiskusi sampai menjelang subuh.
Kekecewaanku terhadap novel tersebut adalah tidak ada klimaks dari apa yang diceritakan. Memang di awal cerita, libido keingintahuanku begitu besar bahkan tidak ingin berhenti membaca sebelum selesai namun setelah bab II, ada kejenuhan sendiri karena ceritanya terlalu banyak diselingi dengan kutipan meski pada dasarnya, sebuah novel itu akan menarik ketika banyak mengutip dan bercerita tentang tokoh-tokoh yang sudah mendunia namun di novel ini, kelihatan bahwa hal tersebut terlalu over.
Hal kedua yang membuatku kecewa adalah ending dari novel tersebut. Meski mungkin ini selera dari penulis sendiri untuk mengkreasi ending novelnya namun kembali lagi bahwa tidak ada klimaks dari perjuangan mereka. Ending cerita tiba-tiba saja menceritakan bahwa Diwak memilih DO dan pulang kampung menjadi petani kemudian salah satu temannya memilih aliran keras keagamaan yang menjadi buronan kemudian teman-temannya yang lain memilih menyelesaikan kuliahnya meski dalam waktu yang lama. di novel tersebut, tidak ada keberhasilan kecil yang diceritakan tentang hasil perjuangan mereka di jalanan.
Namun terlepas dari semua itu, apresiasi saya kepada penulis karena mengabadikan memoar kehidupan Mahasiswa Makassar yang seutuhnya.
LongLivePeopleStrungle
Rawamangun. 190515

No comments:
Post a Comment