Aku baru saja tiba di pendurenan ketika sms windi masuk dan menyakinkan aku untuk ikut pameran properti expo di Jakarta Convention Center. Memang sedari beberapa hari lalu saat aku mengetahui informasi dari internet tentang pameran properti, aku sudah janji kepada windi untuk mengajaknya melihat berbagai tawaran rumah meski aku dan windi yakin mungkin belum bisa mewujudkan mimpi untuk membeli rumah saat ini namun setidaknya ada gambaran kedepan bagaimana dan seperti apa ketika ingin membeli rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 13:00 WIB saat aku tiba di samping mesjid pendurenan tempat aku dan windi janjian. Maklum pagi tadi, aku diajak topan, seorang kawan di kantor untuk mancing di kebayoran lama alhasil aku baru bisa menuntaskan janjiku mengantar windi ke pameran properti expo ba'da dhuhur.
Tidak lama menunggu di mesjid pendurenan, windi datang dengan dandannya yang khas. Paduan celana kain hitam dengan baju sederhana dan tak lupa jaket ungu kesayangannya yang dibelikan oleh tantenya. Oh yah, ada cerita ironi sebenarnya tentang jaket ungu tersebut namun kapan-kapanlah aku kupas habis di blog ini..hehe.
Sebelum meluncur ke JCC yang tidak terlalu jauh dari pendurenan, Kami memenuhi hak perut yang sedari tadi sudah keroncongan di warung penyetan kesukaan kami. Seperti biasa, si ibu penjual dengan senyum ramah menanyakan pesanan kami, maklum lah, dia sudah kenal baik dengan kami karena hampir setiap malam kami makan disana. Aku memesan lele dan tempe dan windi seperti kesukaannya memesan telur dan tahu. Nikmat benar makan siang kami dengan penyet lele dan minuman es teh. Ah, "nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan."
Setelah urusan perut tuntas, kami beranjak ke JCC. Cuaca siang ini lumayan terik bahkan amat menyengat, tumben matahari dengan betahnya masih bercokol diatas sana karena memang beberapa minggu terakhir, kota ini selalu dihampiri guyuran air langit pada siang hari.
Kami menembus panas dan padatnya kota ini melalui samping Plaza Semanggi. Sekitar sepuluh menit perjalanan, kami sampai di gerbang JCC. lumayan keder juga melihat dandanan khalayak yang datang. Aku yang cuma mengenakan jeans dan sepatu cokelat dibalut kemeja garis-garis yang sudah usang bahkan sudah jamuran dan windi pun begitu adanya. "Enggak usah terganggu dengan dandanan kita, toh kita kesini ingin mencari informasi tentang harga rumah ." Begitu bisikku.
Di dalam ruang pameran, aku mengelus dada saat melihat harga properti yang seperti mimpi bisa membelinya. Aku dan windi tak patah arang mencari informasi. Sebenarnya kurang PD juga sih dengan dandanan kami bahkan mungkin ada beberapa sales developer yang tidak menawarkan brosur kepada kami karena melihat stelan yang kurang mewah.hehe.
Ada beberapa harga rumah yang menurut kami masih terjangkau harganya namun harus diakui lokasinya yang lumayan jauh dari tempat kerja. Beberapa lembar brosur kami bawa pulang sebagai referensi. Saat sudah diluar ruang pameran, windi berbisik lirih "mencari rumah layaknya mencari jodoh, harus benar-benar yang pas."
Kami meninggalkan JCC dengan perasaan yang optimis bahwa suatu waktu kami bisa membeli rumah kalau ada rejeki yang berkah dari Tuhan.
Aku mengarahkan motor ke arah jalan keluar dari kompleks JCC lewat pintu depan GBK. Saat melintas di bundaran GBK, aku melihat kerumuman orang dengan style Punk. Lumayan banyak kumpulan orang tersebut dan menurut perkiraanku, mereka mungkin ratusan. Aku penasaran ada apa gerangan dengan komunitas punk berkumpul disini.
 |
| Kerumunan komunitas punk |
Akhirnya aku memutuskan untuk memarkir motor dan menuju venue yang sudah dikerumuni oleh para komunitas punk. Setelah lama mengamati mereka, aku baru tahu bahwa ada pertunjukkan musik punk di sana. Aku bahkan berhasrat menonton namun rasa tak nyaman nampak jelas di wajah windi diantara kerumunan orang dengan dandanan nyentrik. Aku memutuskan hanya berdiri diluar venue sambil mengamati lalu lalang pengunjung. Ada diantara mereka yang bahkan membawa balita. Bau asap rokok dan alkohol amat sangat menyengat.
Lama berdiri di luar venue dan musik mengehentak dari dalam, aku berniat membeli tiket namun windi berkeras bahwa dia tidak mau masuk bahkan akan pulang naik taxi jika aku memaksa masuk. Akupun mengalah dan tetap menemaninya di depan venue melihat komunitas punk yang semakin banyak berdatangan. "Aku hanya ingin membuatmu tetap merasa aman bersamaku bahkan ditengah orang yang membuatmu tidak nyaman."bisikku kepada windi saat dia nampaknya risih Sambil kubenamkan kepalanya kedalam pelukku lalu kukecup kepalanya.
Aku kemudian masih asyik mendengarkan alunan musik keras dari dalam venue sambil mengintip. Samar-samar kubaca sebuah spanduk di dalam venue "Punk For You".
 |
| Society frustation |
Komunitas seperti ini sering kujumpai dulu saat masih kuliah bahkan di semester akhir, aku berteman dengan mereka dan mengenal keluarga mereka bahkan sekali waktu, aku mengundang mereka menyanyi di pelataran Baruga Unhas.
Setelah puas, aku kemudian mengajak windi bergegas pulang namun kami menyempatkan berfoto tepat disamping pintu masuk venue yang terdapat beberapa jargon komunitas punk.
 |
| Dilema negeri ini |
Beginilah caraku dan windi merayakan akhir pekan kami dengan berbagai momen yang tak terduga. Aku pun tidak pernah berpikir akan kembali menyaksikan pertunjukan seperti ini setelah tamat kuliah namun ternyata selalu saja ada "kebetulan" yang membawaku kembali ke masa kuliah.
Aku dan windi meluncur ke Taman Ismail Marzuki dan menghabiskan senja disana. Aku baru tahu pertunjukkan tersebut dikenal sebagai kingkong vol#2 saat duduk di TIM sambil browsing.
Terakhir, aku tahu punk adalah gerakan pemberontak terhadap kemapanan dan ketidakadilan maka menjadi anak punk bukan sekedar gaya-gayaan.
Happy sunday
210215