February 25, 2015

BERLOMBA DENGAN TUTUP BUKU

Dulu, dulu sekali saat aku masih tidak peduli dengan aktivitas kantor. saat itu aku masih bergelut dengan dunia mahasiswa yang mabuk dalam alam idealisme tanpa pernah membayangkan akan terjebak dalam rutinitas kantoran yang mengharuskan untuk bekerja larut malam. aku sering mendengar karyawan yang bersibuk ria saat akhir bulan bertepatan dengan tutup buku perusahaan. aku sama sekali tidak pernah membayangkan tutup buku adalah momok paling sibuk.

di kantor ku sekarang. tutup buku bertepatan dengan tanggal 25 setiap bulan. seperti rutinitas kantor pada umumnya yang mengejar produksi supaya mencapai target, maka tutup buku adalah momen bersibuk ria. awal bekerja disini, aku sebenarnya tidak terlalu begitu sibuk pada saat tutup buku karena aku hanya mengurusi klaim meski ada beberapa polis yang kuhandle namun rata-rata hanya polis yang pengerjaannya tidak memakan waktu lama.

namun tidak seperti hari ini. tutup buku kali ini mungkin adalah tutup buku paling sibuk yang pernah kurasakan. bagaimana tidak, sejak pagi, polis yang harus kukerjakan sudah bejibun kemudian siang hari, aku harus survey ke kantor Departemen Sosial. berhubung karena si empunya mobil adalah Dirjen Depsos maka dia tidak mau tahu, pokoknya hari ini juga harus disurvey. aku yang memang bertanggung jawab atas klaim mau tidak mau harus tetap berangkat meski meninggalkan banyak kerjaan di kantor.

selesai makan siang, aku langsung tancap gas ke kantor depsos. lumayan crowded jalanan saat itu sehingga aku harus mencari cela untuk sampai disana.

February 24, 2015

MERAYAKAN HIDUP ALA KAUM URBAN

Kalaupun saja saya dianggap sebagai manusia mainstream yang mengikuti alur hidup tanpa berusaha menjalani bisikan dari hati, maka itu saya akui benar. kehidupanku tidak terlalu jauh berbeda dibanding dengan para kawanan manusia yang hidup, tumbuh, sekolah, kuliah kerja, punya anak lalu mati. di rantai tersebut, saya sudah berada di level bekerja dan kalau Tuhan memberi keberkahannya, tahun ini saya sudah berencana melangsungkan pernikahan. itulah mengapa saya tidak menyangkal sama sekali ketika harus disebut sebagai manusia yang menjalani hidup secara monoton.

saya harus mencari riak supaya alur cerita kehidupan yang sedang kujalani tidak terlalu membosankan. mungkin menuliskan perjalanan setiap hari adalah salah satu caranya karena di perjalanan waktu, adakalanya kita merayakan hidup hanya dengan mengingat masa lalu dan itu akan terekam baik jika dituliskan.

sebenarnya sejak semalam, saya ingin menuliskan aktivitas sehari kemarin namun entahlah, mataku masih betah saja menatap layar hp stalking fesbuk kawan-kawan yang sudah lama tidak pernah bersua. alhasil, baru pagi ini sambil menggunakan PC kantor, saya baru memulai cerita hari kemarin yang penuh semarak di kantor.

pagi-pagi sekali, seperti biasa sebelum memulai rutinitas di kantor, teman-teman karyawan bercengkerama di samping musala kantor. apatahlagi hari kemarin adalah ulang tahun staf senior, salah satu staff kantor yang dikenal usil sehingga ulang tahunnya seakan menjadi pembalasan setiap karyawan untuk mengerjai. saya pun sudah berpikir keras untuk melakukan sesuatu. oh yah sebelumnya di hari jumat, dia masih sempat mengerjai motorku. sore hari saat dia pulang, busi motorku dicabut alhasil saat saya hendak pulang, hampir 30 menit lamanya saya menstater motor namun tak kunjung menyala. saya baru tahu kalau si usil yang mengerjaiku kemarin pagi sambil tertawa terkekeh.

kembali ke ulang tahunnya. dia sedari pagi sudah dengan wajah was-was datang di kantor. sepanjang pagi sampai siang, semua orang meneror bahkan dia sudah tidak bisa duduk diam dengan tenang. perasaannya selalu dihantui jebakan batman di sekitarnya. alhasil jebakan pertama dimulai ketika kacab memesan paket Gokana seharga total Rp. 800.000 tanpa sepengetahuannya dan menggunakan identitasnya. mungkin jebakan itu belum seberapa dibanding dengan beberapa perasaan cemas yang dilaluinya hari kemarin.

saat jadwal makan siang, kami satu kantor asyik makan siang. setelah itu sekitar jam 3, kue tart sudah disiapkan di lantai 1. semua divisi ikut berkumpul di lantai 1 dan menanti jebakan apa lagi yang akan dijeratkan ke tubuhnya yang bongsor. setelah sudah siap tiup lilin, kacab tak kunjung datang sehingga tiup lilinnya ditunda baru sekitar sore ketika benar-benar kacab nampaknya tidak balik ke kantor, tiup lilin dilanjutkan. setelah tiup lilin, Mbsar yang sudah gatal tangannya menyiram air mineral ke mukanya disusul staf RC yang nampaknya sudah geram ingin balas dendam ketika sebelumnya beberapa dikerjai olehnya. saya yang melihat kesempatan terbuka langsung mengambil kue tart dan menyapu ke semua mukanya alhasil semua yang hadir ikut melumuri eli dengan kue tart.

penderitaannya tidak sampai di situ. ketika hendak ke belakang mencuci mukanya yang sudah blepotan dengan olesan kue, desu yang sedari tadi menyiapkan 1 ember di dapur tanpa ampun menyiram ke sekujur tubuhnya dan sudah ditebak apa yang terjadi, dia basah kuyup. sambil menggigil, dia dengan tertatih-tatih membersihkan sekujur tubuhnya.

saya yang masih memegang sisa kue langsung naik ke lantai 2 dan mengambil sepatunya. tanpa ampun, sepatu tersebut saya olesi dengan kue dan kutaruh di dalam ruangan kacab. namun ternyata perlawanannya tidak berhenti di situ saja, dia mengejar siapa saja dan mengunci kami di dapur. setelah itu, dengan entengnya dia naik ke lantai 2 dan meninggalkan kami dalam keadaan terkunci. untuk pakmar ada dan membuka dapur kemudian kami kabur. penderitaannya berakhir hari itu juga.

memang sih, kawan yang satu ini terkenal dengan jailnya di kantor. ada saja ide untuk menjahili karyawan lain dan selalu idenya tidak terduga. pernah suatu waktu saat pertandingan kantor se-jabodetabek, kami yang sudah hendak pulang duduk di parkiran. ada beberapa teman saat itu dan yang kuingat, pakTu menyimpan jaketnya di motor alhasil, ulah jahilnya langsung bereaksi, dengan entengnya, jaket tersebut diisi sampah di sekitar parkiran. seingatku, ada botol mineral, sampah plastik. begitulah caranya menjahili teman-temannya.

pernah juga suatu waktu saat saya hendak pulang ke madiun. saat itu saya sudah ada di kereta dan berada di sekitar daerah cirebon. tiba-tiba saja hp saya berdering dan melihat itu panggilan dari kantor. setelah kuangkat ternyata suaranya. sejurus kemudian, dia mengatakan bahwa ada satu produksi yang tidak masuk di bulan ini karena saya salah input bahkan sampai kacab marah karena prduksi cabang menjadi kurang. saya yang pada saat itu masih karyawan baru langsung panik dan minta tolong untuk diberesin. dia bahkan mengatakan bahwa tidak tahu menahu. setelah itu, dia sama sekali tidak mengkonfirmasi bahwa dia hanya bercanda bahkan 3 hari di madiun, saya selalu kepikiran tentang hal itu bahkan saya baru tahu dia bercanda ketika saya masuk kantor hari senin minggu depannya.

masih banyak juga tingkah jail yang dilakukannya. bahkan saya tidak bisa mengingatnya satu persatu. setahu saya bahwa korbannya tidak mengenal siapapun. saat otaknya berpikir akan menjahili seseorang maka dia langsung akan melakukannya tanpa harus mempertimbangan banyak hal

selamat ulang tahun
24 FEBRUARI 2015

February 22, 2015

SAJAK MENGADA-ADA

Sore yang menyebalkan
Kitadalam sendu
Senja membisukan arah cinta yang kita lepaskan di setiap tikungan waktu

Aku dan kau
Titik noda
Itulah jalan perbaikan

Jika sekali saja terjadi
Potretku buram dalam bingkai di sudut kamarmu

Kita sedang mempermainkan Tuhan dengan kata tobat
Yah, kita licik
Senjaygkelamditanahulogadung
220215

February 21, 2015

PUNK FOR YOU

Aku baru saja tiba di pendurenan ketika sms windi masuk dan menyakinkan aku untuk ikut pameran properti expo di Jakarta Convention Center. Memang sedari beberapa hari lalu saat aku mengetahui informasi dari internet tentang pameran properti, aku sudah janji kepada windi untuk mengajaknya melihat berbagai tawaran rumah meski aku dan windi yakin mungkin belum bisa mewujudkan mimpi untuk membeli rumah saat ini namun setidaknya ada gambaran kedepan bagaimana dan seperti apa ketika ingin membeli rumah.

Jam sudah menunjukkan pukul 13:00 WIB saat aku tiba di samping mesjid pendurenan tempat aku dan windi janjian. Maklum pagi tadi, aku diajak topan, seorang kawan di kantor untuk mancing di kebayoran lama alhasil aku baru bisa menuntaskan janjiku mengantar windi ke pameran properti expo ba'da dhuhur.

Tidak lama menunggu di mesjid pendurenan, windi datang dengan dandannya yang khas. Paduan celana kain hitam dengan baju sederhana dan tak lupa jaket ungu kesayangannya yang dibelikan oleh tantenya. Oh yah, ada cerita ironi sebenarnya tentang jaket ungu tersebut namun kapan-kapanlah aku kupas habis di blog ini..hehe.

Sebelum meluncur ke JCC yang tidak terlalu jauh dari pendurenan, Kami memenuhi hak perut yang sedari tadi sudah keroncongan di warung penyetan kesukaan kami. Seperti biasa, si ibu penjual dengan senyum ramah menanyakan pesanan kami, maklum lah, dia sudah kenal baik dengan kami karena hampir setiap malam kami makan disana. Aku memesan lele dan tempe dan windi seperti kesukaannya memesan telur dan tahu. Nikmat benar makan siang kami dengan penyet lele dan minuman es teh. Ah, "nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan."

Setelah urusan perut tuntas, kami beranjak ke JCC. Cuaca siang ini lumayan terik bahkan amat menyengat, tumben matahari dengan betahnya masih bercokol diatas sana karena memang beberapa minggu terakhir, kota ini selalu dihampiri guyuran air langit pada siang hari.

Kami menembus panas dan padatnya kota ini melalui samping Plaza Semanggi. Sekitar sepuluh menit perjalanan, kami sampai di gerbang JCC. lumayan keder juga melihat dandanan khalayak yang datang. Aku yang cuma mengenakan jeans dan sepatu cokelat dibalut kemeja garis-garis yang sudah usang bahkan sudah jamuran dan windi pun begitu adanya. "Enggak usah terganggu dengan dandanan kita, toh kita kesini ingin mencari informasi tentang harga rumah ." Begitu bisikku.

Di dalam ruang pameran, aku mengelus dada saat melihat harga properti yang seperti mimpi bisa membelinya. Aku dan windi tak patah arang mencari informasi. Sebenarnya kurang PD juga sih dengan dandanan kami bahkan mungkin ada beberapa sales developer yang tidak menawarkan brosur kepada kami karena melihat stelan yang kurang mewah.hehe.

Ada beberapa harga rumah yang menurut kami masih terjangkau harganya namun harus diakui lokasinya yang lumayan jauh dari tempat kerja. Beberapa lembar brosur kami bawa pulang sebagai referensi. Saat sudah diluar ruang pameran, windi berbisik lirih "mencari rumah layaknya mencari jodoh, harus benar-benar yang pas."

Kami meninggalkan JCC dengan perasaan yang optimis bahwa suatu waktu kami bisa membeli rumah kalau ada rejeki yang berkah dari Tuhan.

Aku mengarahkan motor ke arah jalan keluar dari kompleks JCC lewat pintu depan GBK. Saat melintas di bundaran GBK, aku melihat kerumuman orang dengan style Punk. Lumayan banyak kumpulan orang tersebut dan menurut perkiraanku, mereka mungkin ratusan. Aku penasaran ada apa gerangan dengan komunitas punk berkumpul disini.

Kerumunan komunitas punk
Akhirnya aku memutuskan untuk memarkir motor dan menuju venue yang sudah dikerumuni oleh para komunitas punk. Setelah lama mengamati mereka, aku baru tahu bahwa ada pertunjukkan musik punk di sana. Aku bahkan berhasrat menonton namun rasa tak nyaman nampak jelas di wajah windi diantara kerumunan orang dengan dandanan nyentrik. Aku memutuskan hanya berdiri diluar venue sambil mengamati lalu lalang pengunjung. Ada diantara mereka yang bahkan membawa balita. Bau asap  rokok dan alkohol amat sangat menyengat.

Lama berdiri di luar venue dan musik mengehentak dari dalam, aku berniat membeli tiket namun windi berkeras bahwa dia tidak mau masuk bahkan akan pulang naik taxi jika aku memaksa masuk. Akupun mengalah dan tetap menemaninya di depan venue melihat komunitas punk yang semakin banyak berdatangan. "Aku hanya ingin membuatmu tetap merasa aman bersamaku bahkan ditengah orang yang membuatmu tidak nyaman."bisikku kepada windi saat dia nampaknya risih Sambil kubenamkan kepalanya kedalam pelukku lalu kukecup kepalanya.

Aku kemudian masih asyik mendengarkan alunan musik keras dari dalam venue sambil mengintip. Samar-samar kubaca sebuah spanduk di dalam venue "Punk For You".

Society frustation
Komunitas seperti ini sering kujumpai dulu saat masih kuliah bahkan di semester akhir, aku berteman dengan mereka dan mengenal keluarga mereka bahkan sekali waktu, aku mengundang mereka menyanyi di pelataran Baruga Unhas.

Setelah puas, aku kemudian mengajak windi bergegas pulang namun kami menyempatkan berfoto tepat disamping pintu masuk venue yang terdapat beberapa jargon komunitas punk.

Dilema negeri ini
Beginilah caraku dan windi merayakan akhir pekan kami dengan berbagai momen yang tak terduga. Aku pun tidak pernah berpikir akan kembali menyaksikan pertunjukan seperti ini setelah tamat kuliah namun ternyata selalu saja ada "kebetulan" yang membawaku kembali ke masa kuliah.

Aku dan windi meluncur ke Taman Ismail Marzuki dan menghabiskan senja disana. Aku baru tahu pertunjukkan tersebut dikenal sebagai kingkong vol#2 saat duduk di TIM sambil browsing.

Terakhir, aku tahu punk adalah gerakan pemberontak terhadap kemapanan dan ketidakadilan maka menjadi anak punk bukan sekedar gaya-gayaan.

Happy sunday
210215

DI TAMAN ISMAIL MARZUKI

16:00 WIB.
Kita membelah ibukota yang disapu mentari senja.
Ke arah cikini katamu
Aku tahu
Engkau ingin menghabiskan senja kali ini di Taman Ismail Marzuki.

16:45 WIB
engkau masygul meihat anak kecil yang asyik berlatih dance di sudut Aula TIM
"Mereka menikmati latihan dance" gumammu sambil terus menatap segerombolan bocah yang sedang latihan.

17:00 WIB
"Aku masih pengen disini, suasananya syahdu" begitu jawabmu ketika kuajak pulang
Engkau menikmati senja kali ini
Riuh lelaki yang sedang main bola
Pun mereka yang lalu lalang
Andai saja
Bahagia akan bertahan selamanya
Memeluk malam yang mulai berjatuhan.

17:30 WIB
Engkau pun beranjak pergi
Mengakhiri senja yang menua
Ah, hari yang menyenangkan.

Rawamangun.210215

February 20, 2015

TUNGGU DI BLOG

kali ini aku ingin bercerita tentang penjual sendal keliling yang kutemui beberapa hari yang lalu namun aku khawatir tulisanku ini seperti menghakimi mereka. tetapi tak apalah, Tuhan selalu lebih tahu dari apa yang kita rasakan dan apa yang keluar dari mulut kita.

ceritanya seperti ini. senja di hari Imlek yang basah, aku dan windi menghabiskan waktu senja sambil melepas lelah setelah seharian survey di beranda Indomaret Pendurenan. seperti biasa, kami memperhatikan setiap orang yang lewat dan lalu lalang mobil mewah yang bergerak seakan tiada henti di jalanan tersebut. daerah pendurenan ini memang lumayan dipenuhi oleh orang yang berduit jadi tidak mengherankan jika para pengunjung di indomaret tersebut mayoritas yang dari kalangan atas.

saat sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba saja datang penjual aneka sendal dan menenteng tas besar berisi sendal. setelah mendekat, aku kemudian sadar bahwa dia penjual sendal keliling. sejurus kemudian dia menawarkan barang dagangannya namun ada yang aneh dari cara menawarkan barang dagangannya, dia seperti layaknya pengemis yang meronta sambil meringis seperti orang kelaparan. Bu, minta tolong dibeli sendalnya, saya lapar sudah seharian tidak makan" begitu rintihannya sambil memegang perutnya seperti orang yang sudah sebulan tidak makan. aku tiga kali menolak namun tetap saja dia tetap menawarkan sendalnya bahkan lebih mirip orang yang mengemis daripada orang jualan. aku kemudian melirik kepada windi dan kutahu dia tidak tega melihat orang seperti itu. alhasil windi mengeluarkan selembar uang dan menyodorkan kepadanya. si lelaki tersebut dengan basa basi yang amat basi mengatakan "Apa ini, makasih ibu, pak". dengan wajah yang amat memelas kemudian dia berlalu.

setelah berlalu, windi sempat ingin bertanya banyak hal kepadaku namun untuk menghindari Gibah maka kukatakan saja "tunggu di Blog." beginilah caraku menyampaikan semua kisah kepada windi tanpa harus berbicar panjang lebar yang berpotensi untuk menceritakan kejelekan orang lain.

akupun pernah menjumpai penjual seperti itu di lain waktu bersama windi yang layaknya pengemis daripada penjual namun dulu saaat kutolak, dia lalu beranjak pergi. aku tidak tahu harus menyikapi seperti apa namun terus terang aku kasihan dengan orang seperti itu yang berkedok penjual namun lebih mirip seperti pengemis yang memelas dan meminta-minta. ah, aku ini apa kenapa menceritakan hal yang buruk.

di lain waktu, ini juga berkenaan dengan penjual. pernah suatu waktu kacab ku bercerita bahwa dia melewati lampu merah di salah satu daerah di Jakarta Timur. saat melintas di lampu merah tersebut, beliau melihat seorang penjual tas yang menawarkan barang dagangannya kepada setiap pengendara yang berhenti di lampu merah. kacab ku bertutur bahwa penjual tersebut dengan tabahnya menawarkan barang dagangan tanpa sekalipun memelas bahkan lebih dari itu, dia hanya menawarkan dagangannya sekali saja, ketika pengendara menolak, dia langsung mencari pengendara lain tanpa lupa berterima kasih dan tersenyum. beberapa saat mengamati fenomena tersebut, kacab ku tergerak hatinya membeli dagangannya. dia kemudian memanggil pedagangan tersebut dan membeli 1 tasnya. tas itu akhirnya dihadiahkan kepada Mas Edi, salah satu OB di kantorku.

ada lagi seorang ibu yang dengan setianya selalu duduk di parkiran ITC Kuningan dengan barang rongsongan yang dia pungut sepanjang hari. setiap sore hari, para pengunjung Mall Ambassador dan ITC Kuningan akan menjumpai ibu itu jika mereka memarkir kendaraannya di samping.ibu yang sering dipanggil oleh windi dengan sebutan ibu kucing karena setiap harinya, ada seekor kucing yang menemaninya bahkan ketika ibu tersebut makan maka kucingnya pun akan dikasi makan. satu hal yang membuatku salut kepada ibu itu karena tidak pernah sekalipun aku melihat ibu itu mengemis kepada setiap pengunjung bahkan di beberapa kali kesempatan ketika windi memberinya makanan, dia selalu menolak dan mengatakan bahwa tidak usah repot karena rejekinya selalu ada.

begitulah potret penjual keliling yang berbeda. hidup ini memang tentang bagaimana kita menyikapinya. dua pedangan tersebut memberikan gambaran tentang dunia yang dijalani bahwa penentu dari hidup ini sebenarnya adalah tentang karakter. kalau mau membandingkan kedua penjual tersebut sama sekali tidak ada bedanya namun karakter merekalah yang membedakan mereka. penjual yang satu menjalani profesinya layaknya pengemis yang meminta belas kasihan dengan berkedok menawarkan barang dagangannya namun penjual yang satu menjalani profesinya dengan senang hati tanpa sekalipun memelas jika orang menolaknya untuk membeli barang dagangannya bahkan dengan kebesaran hatinya berterima kasih dan senyum kepada setiap orang.

ibu kota memang mengajarkan banyak hal. semua pelajaran terhampar di kota ini bahkan aku yakin jika ingin menguji kesabaran maka cobalah untuk sering berkendara di kota ini dan ketika engkau tidak pernah jengkel dan mampu bersabar terhadap semua hal yang engkau jumpai di jalanan kota ini maka kita bisa dimasukkan ke dalam orang yang sabar.

entah pelajaran apalagi yang akan kutemui nantinya di kota ini. semua masih akan berjalan seperti seharusnya dan setiap hal harus disikapi dengan pikiran yang tenang. aku tidak akan pernah menghujat penjual seperti yang kutemui di beranda Indomaret dan akupun tidak akan pernah mengabaikan ibu kucing yang selalu kujumpai di samping parkiran. mereka adalah makhluk semesta yang hadir mewarnai hidupku dan memberikanku pelajaran tentang cara seperti apa yang harusnya kutempuh untuk menyikapi hidup ini.

jika ingin menceritakan semua apa yang kujumpai maka bisa dipastikan setiap lembaran tidak akan memuatnya. cerita tentang ibu yang begitu keras terhadap anaknya. cerita tentang 3 bocah berusia belum genap 10 tahun saling menyuapi selepas maghrib di lampu merah menteng setelah mereka letih menawarkan tissue ke pengendara yang berhenti di lampu merah. cerita tentang orang-orang yang berkumpul di KPK mendukung pemberantasan korupsi, cerita tentang teman kantor dan cerita semua yang pernah kujumpai. ah hidup ini memang menawarkan aneka cerita yang tidak ada habisnya.

aku hanya ingin semua cerita tersebut abadi di dalam setiap tulisanku dan layak menjadi kebanggaanku setelah aku cukup membacakan dogeng kepada anak-anakku kelak. 

kantorbumidarawamangun.200215

HAPPY WEDDING KAWAN

Entah apa yang kurasakan saat kemarin membuka beranda fesbuk dan mendapati undangan pernikahan dari seorang kawan semasa kuliah dulu. sebenarnya mungkin hal yang biasa saja karena temanku ini pun adalah salah seorang sahabat baik semasa kuliah meski ada hal yang kemudian sedikit menjadikan sekat bagi beberapa kawan dengannya. aku tidak berpretensi bahwa dia salah tentang sebuah pilihan yang dia ambil namun sejujurnya jika bisa mengulang maka mungkin aku mengharapkan dia tidak mengambil jalan yang dulu dia putuskan untuk dijalani.

Tapi hidup adalah tentang pilihan-pilihan yang diambil dan setiap konsekuensi dari pilihan tidak boleh disesali.

aku ingin bercerita banyak tentang M.I, kawanku yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. kawan yang satu ini berasal dari kabupaten Barru. sebuah kabupaten yang hanya berjarak tempuh sekitar 3 jam dari makassar. kabupaten ini adalah satu-satunya jalur yang kulalui saat pulang kampung.

kawan yang satu ini termasuk salah satu kawan baik. banyak indikator kebaikan yang membuatku harus mengeluarkan statement ini. dia suka membantu temannya dan yang terpenting adalah dia suka berbagi dengan teman-temannya. masih amat segar dalam ingatanku ketika semester awal kuliah, seringkali kosnya dijadikan sebagai tempat kumpul bagi teman-teman sekelas yang cowok. harus kuakui bahwa persediaan makanan yang dikirimkan oleh orang tuanya dari kampung sering kami habiskan bahkan mie instan satu kardus kadang hanya bertahan beberapa lama karena kami sering numpang makan gratis di kosnya namun tidak pernah sekalipun aku melihat dia cemberut ataupun perasaan tidak senang di wajahnya ketika kami menghabiskan begitu banyak persediaan makanan di kosnya bahkan sebaliknya, dia sering mengundang kami untuk datang ke kosnya.

waktu terus berputar dan kebersamaan kami sudah tidak sesering saat masih mahasiswa baru. kesibukan masing-masing adalah penyebabnya. semua tenggelam dengan rutinitas dan organisasi yang diikuti meski masih sesekali berkumpul bersama. ada masa saat kami benar-benar jarang berkumpul lagi. itu terjadi di rentang waktu antara tahun 2008-2009. entahlah namun akupun tidak pernah membayangkan bahwa kebersamaan kami terbatasi oleh waktu yang sempit dan rentang waktu tersebut membawa banyak perubahan.

momen yang aku sesali dan mungkin saja aku mengingkari adanya momen itu. terjadi pada sekitar april-mei 2010. kawanku M.I menggemparkan fakultas Sospol saat dia diketahui ikut dalam sebuah aliran anti mainstream dari apa yang dipercayai sebagai orang Muslim pada umumnya. di rentang waktu tersebut, M.I seperti buronan yang dikejar dan diminta pertanggungjawabannya atas banyaknya junior di Jurusanku yang ikut aliran tersebut.

sedikit aku menceritakan tentang aliran yang diikutinya. aliran tersebut ada yang menamainya Aliran seperti al Qiyadah al Islamiyah yang menyatakan bahwa Ahmad Mosaddeq yang bergelar al masih al maw’ud sebagai sebagai utusan Allah (rasulullah) jelas merupakan aliran sesat dan menyesatkan. Dan dengan tegas kita harus menyatakan, siapa saja muslim yang mengikuti aliran ini telah murtad alias keluar dari agama Islam karena syahadat yang diucapkannya pun bukan lagi asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadur rasulullah melainkan asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna al masih al maw’ud rasulullah ( sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2007/10/26/munculnya-rosul-palsu/).

sebenarnya M.I yang mengikuti aliran tersebut bukan aku dengar dari orang namun sejatinya bahwa awal dia ikut pun aku sudah tahu. di Bulan Ramadhan tahun 2007, aku pernah di prospek di mesjid Ramsis depan kosku saat pulang dari buka bersama di rumah teman angkatanku A yang terletak di bilangan Jln. Bumi Tamalanrea Permai. setelah itu, M.I mengajakku diskusi sambil menghubungi seorang temannya yang tinggal di Abu bakar lambogo. aku sudah lupa siapa namanya namun perawakannya tinggi kurus dan kalau tidak salah ingat, kawannya itu kuliah ekonomi di STIEM Bongaya Makassar.

diskusi di mesjid tersebut berlangsung sampai tengah malam. ada beberapa inti diskusi tersebut yang masih hangat di kepalaku. mereka meyakini bahwa sekarang kita kembali ke masa Makkiyah jadi mereka tidak mewajibkan shalat 5 waktu dan puasa di bulan Ramadhan. mereka hanya mewajibkan shalat Tahajjud bahkan golongan diluar mereka dianggap kafir sehingga kita tidak berdosa ketika berbohong kepada mereka, keyakinan tersebut dikenal sebagai Taqiyyah yang merupakan salah satu ajaran Aqidah mereka. para pengikut mereka diharuskan berganti nama. aku ingat salah satu juniorku yang ikut diganti namanya menjadi saveros, entahlah apa arti nama itu namun yang kutahu setiap pergantian nama mempunyai arti masing-masing. di akhir diskusi tersebut, teman M.I selalu menyarankan aku untuk mengikuti syahadat mereka, entah berapa kali di akhir diskusi, dia memaksaku untuk melafalkan syahadat mereka sebagai tanda aku ikut di aliran mereka namun seingatku dulu, aku selalu berdalih bahwa aku harus mendiskusikan dengan ustdazku sebelum ikut ke mereka. alhasil diskusi tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa aku tidak akan ikut mereka dan ada perjanjianku dengan M.I bahwa dia tetap boleh ikut di aliran tersebut dengan syarat tidak boleh menyebarkan di jurusanku.

kembali ke periode April-Mei 2010 bahwa ketika M.I menjadi seperti Buronan, akhirnya pada suatu ketika, pengurus di himpunanku berhasil memaksanya datang dan diadakan semacam diskusi meski pada akhirnya seperti penghakiman kepada mereka. Setahuku di ruangan kuliah sehabis maghrib, semua juniorku termasuk Kawanku M.I dan begitu banyak mahasiswa lainnya berkumpul. mereka yang dicurigai ikut dalam aliran tersebut diberi kesempatan untuk mempresentasikan kepercayaan mereka di depan ruangan kemudian banyak tanggapan dari Mahasiswa lain. seingatku, dipertengahan diskusi tersebut malah berakhir seperti penghakimana terhadap mereka. banyak yang menghujat dan bahkan sinis terhadap mereka. akupun diminta untuk memberikan kesaksian karena semua tahu aku adalah salah satu mahasiswa yang pertama diajak ikut di aliran tersebut meski aku akhirnya tidak menyepakati mereka.

mengingat momen tersebut, pikiranku langsung melayang ke masa sekarang dimana begitu banyak pertentangan faksi di dalam Islam. akupun sebenarnya sedikit merasa bersalah karena kutahu betapa diskusi yang dulu diadakan layaknya forum yang mematikan karakter mereka. bahkan setelah forum tersebut, aku tahu kawanku M.I masih dibawa ke kompleks Wesabbe salah seorang seniorku beraliran Islam keras dan di rumah tersebut, aku lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kawanku tersebut diinterogasi sambil sesekali pukulan mendarat di wajahnya. namun tak sekalipun dia meringis atau seperti memelas. ah, entahlah apa yang ada di pikiran masing-masing saat itu.

setelah kejadian itu, aku praktis sama sekali sudah hilang kontak dengan kawanku tersebut bahkan saat di akhir 2010 aku diwisiuda, praktis tak pernah terdengar kabar tentangnya meski samar-samar aku dengar dia sudah lulus di tahun 2012.

akhirnya kemarin aku mendengar kabar dia akan menikah. ada rasa haru di hatiku mendengar kabar bahagia darinya. bagaimanapun juga, dia adalah satu satu temanku yang tidak pernah membuatku jengkel bahkan sebaliknya dia selalu baik kepadaku dan kepada teman-temannya. aku tidak pernah lupa bagaimana kebaikan kedua orang tuanya. saat itu ada acara di kotanya dan aku bersama beberapa kawan yang lain menginap di rumahnya. melihat wajah bapaknya seperti melihat bapakku sendiri. bertani dan beternak bahkan di raut wajah bapaknya tidak ada sedikit pun kesedihan yang nampak meski tidak lama setelah itu, bapaknya meninggal dunia.

entahlah kawan seperti apa perjalanan hidup yang sedang kita jalani namun percayalah kawan, aku akan selalu mendoakan kebahagiaan di setiap hidup yang akan engkau jalani.

semoga engkau bahagia kawan.
semesta memberkatimu

rawamangun.200215

February 18, 2015

BERBAGILAH

Mungkin setiap hal yang kita butuhkan dalam hidup akan datang tanpa diduga entah itu dari nasehat orang ataupun kejadian yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. begitulah semesta mengasihi makhluknya.

begini ceritanya. sudah seminggu ini aku diminta oleh kantor pusat untuk mengirimkan daftar evaluasi bengkel yang ada di Jakarta Timur. berhubung karena ada beberapa bengkel yang belum kutahu pasti track recordnya maka sebelumnya aku koordinasi dengan Eli. alhasil ada 2 bengkel yang masuk dalam catatan hitam evaluasi. pertama adalah bengkel LJM. kasusnya karena beberapa waktu yang lalu, mereka menangani klaim nasabah dengan jumlah klaim yang sangat besar lebih dari 100 Juta. klaim sebesar itu memang lumayan memusingkan. dalam perjalanan waktu pengerjaan, ternyata bengkel LJM tidak bisa menyediakan Spare parts sehingga harus disupply namun sebenarnya itu bukan masalahnya namun intinya dalam pengerjaan, mereka tidak jujur karena ada beberapa panel yang dikerjakan oleh supplier namun mereka melaporkan ke kantor bahwa pekerjaan itu dikerjaan oleh mereka. titik masalah di bengkel ini adalah adanya ketidakjujuran dalam pengerjaan.

Bengkel kedua yang mendapat catatan hitam adalah MJM. sebenarnya bengkel ini dekat dengan kantor kami dan bahkan salah satu petinggi di bengkel tersebut adalah agen di kantor namun sejak aku menangani setiap klaim di kantor, estimasi dari bengkel ini lumayan besar namun aku tidak bisa menjudge bahwa mereka mark up karena si Agen yang bekerja di bengkel tersebut adalah mantan kepala cabang di kantor dan aku berpikir tidak mungkin mereka mengelabui kantor sendiri. kasus mencurigakan kemudian muncul saat ada laporan klaim dari bengkel tersebut dengan estimasi klaim 18 juta. setelah itu, aku dan eli menganalisa kerusakan mobil dan juga kronologis kejadian tersebut. setelah itu aku menyerahkan ke surveyor PT. Sentra Proteksindo untuk di survey lebih lanjut alhasil ketahuan bahwa kejadian yang dilaporkan tersebut tidak sesuai dengan sebenarnya. ada kecurigaan juga bahwa bengkel MJM ikut andil dan ketidakjujuran memberikan laporan ke kantor. maka itu menjadi poin penilaian minus atas bengkel ini.

sebelum mengirimkan hasil evaluasi ke kantor pusat, aku dan eli masuk ke ruangan kacab mengkonsultasikan hasil evaluasi kami. seperti biasa, kacab kantorku memang suka memberikan nasehat. setelah diberi kesempatan mengutarakan hasil evaluasi dia kemudian berbicara panjang lebar tentang segala hal dan tentang pengalaman-pengalamannya. pertama kali yang dia katakan adalah ketika memberikan evaluasi dengan kriteria yang bukan berdasarkan angka maka seharusnya kita harus hati-hati karena seringkali jatuhnya subjektif. dia juga menghubungkan dengan penilaian karyawan yang minggu lalu diadakan bahwa memang lumayan rumit untuk menilai jika patokannya adalah nilai etika. hal yang dia katakan bahwa ketika menilai kinerja karyawan yang diberi target 100 dan dia mencapai target 100 maka bisa diberikan hasil sempurna namun ketika penilaiannya tentang kerajinan ataupun juga tentang integritas maka harus dilepaskan hal yang subjektif kemudian menilai.

hal kedua adalah kacab memberikan wejangan-wejangan tentang rejeki dan berbagi. aku memang mengakui bahwa kacab kantorku termasuk dalam orang yang tidak terlalu pelit bahkan beliau bercerita bahwa setiap kali mendapat bonus maka beliau sama sekali tidak pernah memikirkan berapa yang akan menjadi bagiannya namun yang ada di dalam pikirannya adalah berapa yang harus dikasi ke staff bahkan terkadang ketika sudah memberikan jatah kepada karyawan, beliau masih berpikir bahwa apakah yang diberikan itu sudah pantas. beliau berpesan kepada aku dan eli bahwa ketika mendapat rejeki maka jangan sekali-kali pelit.

banyak analogi yang beliau contohkan tentang berbagi. beliau mengatakan bahwa coba bayangkan ketika kita bahagia dan menceritakan kebahagiaan kita kepada orang lain maka selayaknya kita bertambah bahagia. sedangkan ketika kita sedih dan curhat kepada orang lain maka kesedihan kita berkurang. sama halnya ketika kita mendapatkan rejeki maka itu adalah kebahagiaan dan ketika kebahagiaan dibagi hakekatnya akan bertambah maka seharusnya ketika kita mendapatkan rejeki maka harusnya dibagi. inti dari wejangan ini adalah ketika membagi kebahagiaan kepada orang lain maka kebahagiaan kita bertambah sedangkan ketika kita membagi kesedihan kita kepada orang lain maka kesedihan kita akan berkurang. 

hal lain yang beliau ceritakan kepada kami adalah tentang etika. hal ini berada diatas segalanya bahwa sepintar-pintarnya orang ketika tidak beretika maka tidak akan pernah dianggap. semua akan berujung pada apa yang inheren dalam diri manusia dan sesuatu yang inheren dalam hal ini kecerdasan emosional hanya bisa dirasakan melalui hati. kepekaan itu akan serta merta terasah ketika kita selalu mengasah dan mempraktikkannya.

mungkin di kantor ini aku kemudian mendapat banyak hikmah yang berserakan cuma karena kekurangan kata-kata untuk mengoreskannya maka aku tidak sanggup untuk menuliskan satu persatu. biarlah menjadi memori di rongga otakku dan kujadikan pembelajaran di dalam hidup. terlalu sayang memang untuk melewatkan semua hal yang berguna bagi hidup.

di kantor ini pun, aku belajar untuk tidak mengotori hati dengan tetap menjaga lidah karena aku tahu bahwa setiap orang di kantor ini seringkali bercerita tentang aib masing-masing dan itu satu hal yang ingin kujaga dari diriku. sebuah ujian diri untuk memantapkan prinsip bahwa menceritakan aib orang lain adalah sebuah pengkhianatan apatahlagi orang yang sudah dianggap kawan dan anehnya di kantor ini, aku sering menjumpai fenomena seperti itu.

di kantor ini pula, aku belajar tentang keikhlasan. bagaimana bekerja sesuai porsi pekerjaan yang ada dan bagaimana dengan berlapang dada menerima gaji yang memang sesuai kontrak kerja. sampai sekarang ini, aku belum menjumpai karyawan yang benar-benar ikhlas dengan gaji yang mereka dapatkan. seringkali yang kudengar adalah keluh kesah maupun tuntutan untuk kenaikan gaju. ironi sekaligus menyedihkan namun pada dasarnya, aku ingin sekali menemukan orang yang benar-benar ikhlas dalam bekerja supaya aku bisa belajar kepadanya. aku pun ingin bertemu dengan orang yang membenci untuk menceritakan aib orang lain.

entahlah namun sesungguhnya bahwa perjalanan hidup ini masih terus berlanjut sampai pada akhirnya menemukan akhir perjalanan. setiap kali aku harus bersiap menikung ataupun menanjak bahkan menurun. semua perjalanan tidak akan pernah semulus yang dibayangkan namun perjalanan akan seperti dinamika yang tidak ada habisnya. hidup pun begitu bahkan adalah kawan dengan satirnya mengatakan bahwa sebenarnya hidup ini hanyalah perpindahan dari masalah yang satu ke masalah yang lainnya.

banyak-banyaklah merenung tentang hidup
ketika mampu mengendalikan pikiran maka sejatinya kita meniti sebuah kesuksesan dan mampu melawan semua godaan.
kendalikanlah pikiranmu minha kepada hal-hal yang positif

kantorbumidarawamangun.200215

February 16, 2015

TULISAN YANG HIDUP

Baru saja aku menghabiskan sejam waktuku mengobrol lewat telepon dengan windi. Semula kami hanya bercerita tentang aktivitas seharian di kantor masing-masing. Aku bercerita bahwa tadi di kantorku ada karyawan baru yang dengan lugunya hanya tersenyum tipis saat digoda oleh teman kantor sambil sesekali nyengir. Aku juga bercerita bahwa penilaian kinerja karyawan di divisi staff teknik. Aku menduduki peringkat ketiga namun menurutku penilaian tersebut sama sekali tidak mempengaruhi apa-apa tentang apa yang ingin kucapai karena aku sudah memutuskan untuk tidak terlalu peduli dengan apa pendapat orang tentang diriku selama aku tidak merugikan mereka. Windi juga bercerita banyak tentang aktivitasnya di kantor. Dia pun sedang penilaian kinerja dan dia amat menyesali penilaian tentang perilakunya yang mendapat nilai paling rendah dari beberapa aspek penilaian yang lain. di titik ini, aku berpesan kepada windi bahwa salah satu cara paling sederhana untuk menguji keikhlasan kita dalam bekerja adalah ketika hati kita tidak terpengaruh tentang hasil penilaian yang ditujukan kepada kita entah itu baik ataupun hasilnya kurang baik.

Aku kemudian iseng membacakan beberapa potongan kalimat dari buku "Surat-surat kepada Karen." Windi diam dan mendengarkan beberapa kalimat di buku tersebut yang kubaca. Aku memang suka membacakan kalimat-kalimat puitis meski kusadari tanpa dia dengar pun aku suka membaca tulisan-tulisan puitis yang sentimentil namun sarat makna. mungkin suatu saat ketika semesta merestui kami menjadi keluarga, aku ingin meluangkan malam-malamku untuk membacakan puisi di depannya maupun di depan anak-anakku kelak. norak memang namun itulah keinginan sederhanaku yang kupikir paling menyenangkan ketika kami bersama di malam hari saat semua kepenatan menyerang tubuh setelah seharian bersetebuh dengan rutinitas harian.

Entah kenapa pembicaraan kami berlanjut tentang blogku dan juga tentang tulisan-tulisanku. Harus kuaku bahwa pegunjung setia blogku adalah windi seorang atau bahkan tidak ada orang lain selain dirinya yang mengunjungi blogku. katanya sih blogku sebagai hiburan, sebagai penawar dahaga di tengah rutinitas kerja yang memusingkan. entahlah benar atau pun mungkin hanya menghiburku dan yakinlah bahwa meskipun dia tidak pernah sama sekali menyukai tulisanku satupun tetapi aku tetap akan menulis karena dengan cara inilah, aku melepaskan semua energi yang menumpuk di kepalaku. tentang apa saja yang membuatku harus menuliskan kalimat demi kalimat. kalau katanya membaca blogku adalah sebuah hiburan maka aku juga ingin berkata bahwa menulis adalah sebuah hiburan buatku, tidak peduli orang suka tulisanku ataupun tidak.

Aku kemudian meminta pendapat tentang tulisan-tulisanku yang terpampang serampangan di blogku. Akupun sudah siap menerima kritikan darinya. Ada beberapa masukan yang sangat baik dari windi. Katanya bahwa tulisan masih terlalu monoton dan seringkali mengulang kata atau kalimat yang sama. Dia menambahkan  bahwa tulisanku belum hidup sehingga terkesan pembaca seperti dirinya cepat bosan dan tidak merasa penasaran akan isi tulisan. tulisan memang sejatinya harus menampilkan sebuah racikan kata-kata yang membuat orang terpesona. aku amat sangat percaya bahwa tulisan yang diramu dengan sepenuh hati dan datangnya dari dalam hati maka orang yang membacanya pun akan tersentuh.

Yang ingin digarisbawahi dari kritikannya adalah tentang tulisan hidup. Akupun menyadari bahwa tulisanku masih terlalu monoton dan tidak hidup. Ilustrasi yang sering aku utarakan di setiap tulisanku sama sekali belum mampu memikat pembaca setiaku. Aku selalu saja iri dengan beberapa orang yang dengan pawainya menulis dengan ilustrasi  yang sangat kuat dan hidup sehingga pembaca ketagihan untuk membaca semua tulisan bahkan membuat penasaran. Sebutlah kak ochan, Arham kendari, yusran darmawan dan banyak lagi penulis yang membuatku penasaran bagaimana mereka sampai pada level dimana tulisan-tulisan mereka seperti bernyawa.

Tadi aku menguraikan kegalauanku bahwa jikalau memang kepiawaian dalam menulis adalah bakat alami yang given dari Sang Khalik maka aku sudah menyatakan pasrah untuk menyamai mereka yang mampu menulis dengan tulisan yang mempesona namun jikalau memang keahlian tersebut melalui proses panjang pembelajaran dan latihan-latihan maka aku punya asa menjadi penulis yang baik karena aku tekadkan sedari awal bahwa suatu saat nanti aku menjadi seorang penulis yang mampu mengilustrasikan tulisan dengan baik.

Mungkin juga salah satu penyebab dari kegagalanku menulis dengan baik adalah tulisanku tidak berasal dari hati sehingga setiap pembaca pun tidak mampu mengikutkan hati ketika membaca tulisan ku.

Masalah kedua mungkin yang belum mampu menghidupkan tulisan-tulisanku adalah kekuranganku dalam membaca sehingga referensi dan pengetahuan yang hendak kusampaikan di setiap tulisanku tidak sampai pada pembaca.

Namun begitulah, entah itu bakat yang terpendam namun aku akan terus mencoba sampai suatu waktu semua orang penasaran akan tulisanku dan menunggu setiap apa yang kutuliskan. Asa adalah spirit hidup yang harus tetap dijaga sambil terus mencoba.

aku sudah melewati beberapa fase yang membuat aku berpikir ulang bahwa semua fase dalam kehidupanku adalah sesuatu yang pernah aku pikirkan sebelumnya bahkan dalam beberapa kasus tertentu pun, apa yang menjadi kenyataan di diriku sekarang adalah hal-hal yang pernah kuanggap mustahil adanya. itulah yang menguatkan keyakinanku bahwa dalam hidup ini, bakat hanyalah sebuah variabel penunjang dan latihan serta ketekunan dalam mengasah diri adalah variabel primer pada setiap apa yang kita inginkan.

memang terlalu naif ketika menvonis orang lain ataupun diri sendiri dalam mengejar impian karena semesta bersama dengan orang yang tekun dan sungguh-sungguh. adagium "keberhasilan adalah puncak dari usaha yang sungguh-sungguh". jangan sekali-kali meremehkan diri sendiri dalam menggapai apa yang kita yakini adanya. satu hal yang dibutuhkan dalam mengejar setiap impian kita adalah memalingkan muka dari setiap cibiran orang-orang yang tidak percaya akan apa yang kita cita-citakan. hidup terlalu singkat untuk mendengarkan ocehan kosong orang-orang karena yakinlah pekerjaan yang paling disenangi manusia adalah mencibir orang yang sedang berjuang dari bawah bahkan dari orang yang mencibir tersebut sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan ketidakmampuannya. so, berjalan tersebut dan tutup telinga dari cibiran kosong manusia.

Well, apapun itu, aku yakin haqqul yakin dengan izin Sang Khalik, someday aku bisa menulis apa saja yang mampu membuat orang menyenangi tulisan-tulisanku. semua akan terekam dalam buku-buku yang akan kutulis dan someday, orang-orang akan menyenangi setiap tulisanku.

someday, bukuku akan terpampang di rak Gramedia sebagai buku bestseller. Amiin

Kamarkosrawamangun. 160215

ANAK BARU

Hari ini mungkin seperti terulang pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kantor ini 6 bulan lalu tepatnya tanggal 26 agustus 2014. tadi siang, seorang karyawan baru pengganti bella datang bersama Edit staff SDM yang juga datang mengantarku 6 bulan lalu.

wajah anak itu benar-benar menggambarkan suasana hatiku tiba di kantor 6 bulan lalu. diam, senyum dan tak tahu harus berbuat apa sedangkan teman-teman kantor sudah mulai dengan usilnya mengeluarkan candaan yang buat anak baru pastinya amat sangat terganggu. aku merasakan itu.

tadi anak baru tersebut sempat berkenalan singkat. namanya Abdullah dan dipanggil Abdul. lumayan muda karena baru 21 tahun makanya mungkin tidak terlalu salah aku panggil anak baru.

entahlah apa yang kurasakan tadi melihat ekspresinya. hal yang aku sadari bahwa aku pernah berada di posisi seperti dia. aku pun menyadari bahwa semua orang pasti pernah berada di posisi awal dan akan terus berlanjut sampai dimana posisi yang dia inginkan.

hidup memang adalah sebuah gerak yang tak berhenti
160215

February 15, 2015

KAFE PHOENAM

Mendengar kata kafe Phoenam serasa bahwa kafe tersebut adalah milik orang vietnam bahkan ketika kita berkunjung ke kafe maka akan dijumpai suasana seperti kafe orang China pada umumnya. Seperti itulah gambaran yang pertama ketika mendengar dan berkunjung ke kafe tersebut.

Sisi dalam kafe phoenam
Namun jangan salah karena pendiri kafe tersebut berasal dari makassar, memang sih orang Makassar namun keturunan Tionghoa meski demikian, kafe tersebut amat sangat indentik dengan orang Makassar apatahlagi cabang yang ada di Jln Ky Wahid Hasyim Jakarta. Beberapa perantau dari makassar sering melepasa rindu di kafe teraebut karena saat berada di dalamnya, serta merta kita akan mendapatkan suasana seperti di makassar. Orang-orang  yang bercerita tanpa harus basa-basi, logat makassar yang khas dan cara mereka bercengkerama.

Itupun yang mendorongku semalam itu memungut serpihan rinduku akan kota daeng di kafe tersebut. Awal cerita aku mengetahui kafe Phoenam saat tak sengaja membaca status bang Tole di FB. Dia bercerita panjang lebar tentang perantau makassar di jakarta kemudian salah satu kalimatnya kurang lebih seperti ini mengatakan bahwa belum syah jadi perantau makassar di jakarta kalau belum berkunjung ke kafe Phoenam. 

Alhasil semalam saat selesai menonton film gratis di TIM "Surat Cinta Untuk Jakarta", aku mengajak dedi ke bilangan kafe tersebut. Pertama kali masuk memang terasa seperti kafe orang china namun saat di dalam dan mendengar para pengunjung bercengkerama, maka kekhasan perkawanan orang-orang  makassar  sangat terasa bahkan saat itu Ali muchtar ngabalin ada di kafe tersebut bercerita sama kawan-kawannya.

Untuk sekedar melepas rindu terhadap kota makassar memang kafe tersebut tempatnya namun harus kuakui bahwa harganya mahal. Semalam aku memesan susu madu jahe dan dedi memesan mie rebus serta air mineral. Kami laiknya sok berkantong tebal santai sambil menikmati hidangan, sekitar sejam kemudian kami memutuskan untuk pulang dan membayar di kasir, aku terperangah saat melihat strucknya. 46 ribu. Ckckc. Aku dengan santai sama dedi membayar dan sok tidak peduli dengan harga meski mengelus dada.

Segelas susu madu jahe ini harganya 36 ribu
Yah, mungkin kelas sosialku yang belum mencapai strata orang-orang makassar yang sering melepas kerinduan mereka dengan kota daeng di kafe tersebut yang harus merogoh isi saku 50 ribu hanya untuk segelas kopi. Aku masih sangat merasa sayang dengan uang segitu hanya untuk segelas kopi padahal di sekitar kita uang "sebanyak" itu bisa makan bagi orang-orang yang kurang mampu bahkan bisa makan untuk 4-5 orang di warteg. Ah, mungkin jadi aku belum mengerti esensi mereka.

entahlah namun yang pastinya malam itu aku melepas rindu tentang suasana makassar di kafe tersebut. mendengar orang-orang bercengkerama dengan logat makassar dan suara yang membahana lumayan menyicil sedikit kerinduan akan kota tersebut. kota yang tidak akan pernah alpa dalam memoriku karena terlalu banyak cerita masa muda yang bergelora di kota tersebut. berkawan, belajar dan semua dinamika masa muda telah aku lewatkan di kota daeng. kerinduan akan kota makassar tetap akan terjaga.

160215

February 14, 2015

SURAT CINTA UNTUK JAKARTA

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagiku. Pukul 10.30 siang berangkat survey dan baru sampai di kamar kos pukul 23.00, itu berarti bahwa selama 12 jam aku memutari kota ini.

Namun ada hal yang kusyukuri hari ini. Tadi pukul 19.00 WIB menonton film surat cinta untuk jakarta di Taman Ismail Marzuki. Film yang terbagi dalam 3 segmen dan berdurasi hanya sekitar 20-30 menit laiknya film dokumenter. Pertama kalinya aku masuk di TIM dan menonton film bahkan gratis pula.
Suasana dalam ruang  menjelang film mau berakhir
 film sama halnya dengan musik yang menjadi representasi dari seseorang meluapkan semua emosi yang berkecamuk di  rongga otaknya, tentang apa saja yang dijumpai. berbeda dengan musik yang menyampaikan pesan lewat alunan suara dan musik yang mengalun lembut, film lebih hidup lagi karena audio visual dan penonton seringkali menempatkan diri dalam setiap peran. layaknya penonton ikut bersenyawa dalam cerita yang disampaikan oleh sutradara.



 Film Surat Cinta untuk Jakarta terbagi dalam 3 film pendek yang rata-rata berdurasi setengah jam. Ketiga film pendek tersebut benar-benar membawa spirit tentang kota Jakarta saat ini. Keren dan amat sangat menguras emosi bagi orang yang sudah merasakan tinggal di kota ini. jakarta memang telah menjadi representasi dari kehidupan mewah bagi setiap orang. semua bisa didapatkan di kota ini dengan cara apapun meski terkadang meninggalkan ruang hampa di sanubari. jakarta memberi pelajaran tentang banyak hal. 

Surat cinta untuk Jakarta

Film pertama "Mencari Sudirman". Awal dari film ini langsung mempesonaku karena bintang utamanya Leony. Artis yang seumuran denganku dan menjadi idolaku saat masih smp-sma. Di film ini, Leony menjadi tokoh utama yang mencari sudirman. Tidak diceritakan secara gamblang apakah sudirman itu adalah pacarnya ataupun teman dekat namun dari gambaran fiom tersebut bahwa sudirman adalah pacarnya.
Setiap sudut kota jakarta yang disusuri mencari sudirman menguak kebersamaan mereka, kerinduan akan sudirman benar-benar mencampakkannya dalam kondisi yang labil bahkan rumah kos, kantor dan warung langganan sudirman sudah didatanginya namun tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan sudirman. Pada akhirnya film ini berakhir begitu saja tanpa ada kesimpulan yang jelas. Film pertama ini benar-benar tidak mengesankan bagiku hanya saja karena Leony tokoh utamanya yang sedikit membuatku terhibur.

Film kedua "kok kemana" menceritakan tentang kehidupan masyarakat marginal ditengah kemewahan kota jakarta. Seorang bocah bernama Abang dan bapaknya yang diperankan oleh jonny iskandar.

Film ini dimulai saat abang sedang bermain di kasurnya kemudian seekor tikus jatuh tepat didepannya. Tikus yang masih merah tersebut diambil kemudian dinamai kok. Si bapak yang melihat anaknya memelihara tikus tidak setuju namun Abang tetap bersikeras memeliharanya dengan dalih bahwa tikus yang diberi nama kok tidak punya rumah. Alhasil ketika dia tidur, ayahnya mengambil tikus tersebut dan membuangnya jauh-jauh. Saat terbangun, Abang terperanjat mendapati "kok" sudah tidak ada di dalam kaleng tempat dia menaruh sebelum tidur. Dia kemudian mencari ke segala penjuru kota namun tidak ketemu.

Di akhir cerita, abang dan sang ayah digusur dari bangunan semi permanen yang selama ini ditempatinya. Mereka meninggalkan banyak kenangan di tempat itu.

Film kedua ini lumayan sarat makna. Laiknya film satir yang menceritakan tentang bagaimana susahnya menjadi proletar  di kota jakarta.

Aku teringat seorang kawan di kantor yang rumahnya di bilangan pedongkelan beberapa waktu lalu digusur oleh PT. pulomas. Hari-hari menjelang penggusuran dan setelahnya, wajah sang kawan mengguratkan kemarahan yang mendalam terhadap borjuasi di kota ini. Kerap kali dia bercerita kepadaku tentang kekesalanya terhadap borjuasi yang semena-mena kepada kaum proletar yang termarginalkan.

Film ketika "Rock n Roll. Film ini berkisah tentang dua sahabat semasa SMA, asty dan indra yang kembali bertemu di jakarta setelah asti kembali dari belanda. Mereka adalah sahabat semasa yang dulu bercita-cita melanjutkan kuliah di luar negeri. Setelah tamat SMA, asti benar-benar melanjutkan kuliahnya di Belanda sedangkan Indra kuliah di jakarta.

Mereka bertemu saat sudah begitu banyak yang berubah, entah di diri mereka maupun perubahan kota jakarta. Indra yang dulunya berkecimpung di dunia jurnalistik memilih banting stir menjadi seorang petani. Profesi yang menurut asti tidak banget buat indra namun indra tetap keukeuh dengan prinsipnya menjadi seorang petani. Menurutnya bahwa kerja di dunia jurnalistik memang menyenangkan namun pekerjaan yang sekarang dijalani lebih menyenangkan lagi.

Pertemuan mereka di hari pertama dihabiskan dengan mengelilingi koga jakarta memungut semua serpihan kenangan masa lalu mereka. Menemui semua tempat yang pernah mereka akrabi hingga pada akhirnya mereka mampir di sebuah warung cendol. Di tempat itu pertama kali indra menyatakan perasaan suka kepada asti. Di akhir film, asti bertanya kepada indra bahwa apakah dia masih mengingat di tempat ini indra pernah menyatakan cinta kepadanya. Indra kemudian dengan dingin dan tanpa ekspresi menganggukan kepala. Asti lalu menyatakan perasaan cintanya kepada indra dengan nada bertanya, "indra, bagaimana kalau sekarang sebaliknya aku yang menyatakan?".

film ini juga menceritakan tentang kerinduan terhadap kota Jakarta dengan semua kegaduhan, kemacetan, banjir dan plus minus jakarta.

Serial film ketiga ini lumayan menghibur ditambah dengan beberapa dialog diantara mereka dan beberapa jawaban maupun pernyataan indra yang keren


140215

River's Note

Buku ini keren. Seperti itulah yang terlintas di kepalaku saat pertama kali membaca buku ini di kos salah seorang kawan karibku di jogja. Penulisnya adalah kakak kandungnya. Begitu banyak hal yang ingin kuceritakan tentang buku ini, tentang isi buku ini yang memungut semua serpihan kenangan masa kecilku, tentang keluarga penulisnya dan tentang adik penulis yang juga kawanku. Mungkin yang tertulis disini hanya sebagian refleksi dari isi kepalaku karena aku bukan seorang yang mampu menerjemahkan semua yang ada di otakku menjadi tulisan yang sedap dibaca.

Pertama aku ingin bercerita bagaimana buku ini bertakdir denganku. Ceritanya berawal di pertengahan 2012, aku merantau ke pulau jawa tepatnya di ibukota. Sebulan di ibukota, aku merasa sesak dengan denyut nadi kehidupan yang tidak pernah berhenti sedikitpun bahkan saat malam sudah menua, kota ini masih tetap saja berdengut tanpa mengenal lelah, mungkin hanya siluet jingga dan langit yang temara menjadi pembeda pergantian waktu. Saat puncak kejenuhan, aku memilih menyingkir ke ujur timur pulau jawa dengan kereta api. Itu pula perjalanan pertamaku naik kereta api. Sebelumnya aku memutuskan singgah di jogjakarta karena salah seorang kawan karib semasa kuliah melanjutkan pendidikannya di kota gudeg itu. Alhasil sebulan penuh aku menginap di kosnya tepat di belakangan pasar terban sambil merasakan denyut kehidupan orang jogja yang damai. Hampir tidak ada aktivitas yang signifikan kulakukan saat di jogjakarta, hanya mengunjungi beberapa tempat yang dulunya hanya bisa kubaca di buku-buku. 

Buku yang dijejer rapi di sudut kamar kosnya lumayan membuatku mengusir penat saat dia ke kampus dan aku sendirian di kos sekaligus juga membantu untuk tetap merawat melihat isi-isi buku. Deretan genre buku ada disana tetapi buku River' note tulisan Fauzan M.

Aku ingin bercerita tentang temanmu. kami sama-sama dari tanah sulawesi. Keakraban kami terus berlanjut karena minat kami yang hampir sama bahkan aku dan dia masuk di organisasi pergerakan yang sama meski pada akhirnya aku mengurangi intensitasku di organisasi tersebut namun tidak mereduksi jalinan perkawanan yang aku bangun dengannya.

Aku bahkan sudah mengenal semua keluarganya. Bahkan kalau tidak salah ingat, aku 2 kali makan bareng dengan ibu dan kakak-kakaknya di kosnya. Seingatku saat itu ada ibunya, aku sudah beberapa kali bertemu meski pertemuan yang hanya sekedar tatap mata dan itu terjadi di kosnya saat dia ke makassar. Setelah itu, kami pernah bertemu di kantornya saat aku mengantarnya. Sekilas memang di wajah dan kepribadiannya ada kemiripan. Melihat cara berpikir dan cara memperlakukan orang adalah bukan sesuatu yang given. Aku yakin bahwa kedua orang tuanya mendidik anak-anaknya dengan filosofi yang sederhana namun sangat bermakna.

Membaca isi dari buku river's note yang notabene kebanyakan refleksi kehidupan penulisnya di bone benar-benar menjadi sebuah jawaban bagaimana masa lalunya di keluarganya sehingga membentuk pribadinya seperti sekarang ini. Ada banyak edisi kebersamaan aku dengannya yang benar-benar membuatku kagum. Pernah suatu waktu, kami sedang aksi atas rencana penggusuran masyarakat pandang raya di depan kejaksaan samping karebosi. Sebelumnya aksi berjalan normal dan ditengah jalannya aksi, mulai ada gesekan dan salah seorang anggota aksi "kalau tidak salah ingat namanya rangga", ditangkap dan hendak dibawa oleh polisi. Kulihat dia langsung melompat dan menjadikan dirinya tameng supaya polisi tidak membawa Rangga. Dengan badan yang lumayan bongsor, dia lumayan bisa mendorong tubub si polisi. Aku ingat benar kejadian itu dan Rangga berhasil kabur.

Hal lain yang ingin kucatat tentang buku ini adalah isinya. Membaca buku ini serasa menempatkan kembali diriku saat masih bocah. Saat harus pulang ke rumah sebelum maghrib dan bersegera mandi dan shalat maghrib kemudian mengaji. Buku ini benar-benar memungut hikmah yang terkadang terlupa oleh kita yang beranjak dewasa dan mengacuhkan pelajaran-pelajaran kecil masa lampau.

Isi buku ini benar-benar menghempaskanku ke masa lalu. Bagaimana ibuku mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang yang maksimal bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah berhasil menggambarkan seperti apa kasih sayangnya kepada kami. Pun tentang ayahku yang membesarkan kami dengan ketegasan. Kutahu bahwa dalam setiap tingkah yang ditunjukkan kepada anak-anaknya, ayahku ingin berkata bahwa laki-laki harus kuat, dalam keadaan bagaimanapun, jangan pernah memperlihatkan kesusahan kepada orang lain. Dia menyimpan beribu sayangnya kepada kami dalam bentuk ketegasan yang tidak boleh ditawar.

Begitulah buku ini membawaku kembali ke masa lalu.

kata terakhir, buku ini memang keren.
150215