December 30, 2014

Ibu Menangis Lagi

kemarin malam, setelah sekian lama tidak mendengar ibu menangis
akhirnya dia meneteskan airmatanya.
meski tak kulihat namun suara dari balik hp tersebut menjelaskan bahwa ibuku sedang menangis
dengan suara parau dan terbata-bata

aku ingat 2 tahun lalu
ibu menangis saat aku pindah kos di surabaya
entah apa yang ada di pikirannya
namun aku yakin saat itu, ibu menangis karena mengkhawatirkanku
lalu kemudian setelah itu, tak pernah lagi ibu menangis saat meneleponku

hingga kemarin malam
saat mengabarkan bahwa aku ingin menikahi gadis di pulau ini
ibu kembali menangis
entah tangisan apa atau bahkan merasa seperti ditinggal nikah anak-anaknya
ibu menangis sesegukan.
aku mendengar kalimat singkat dari mulutnya
"aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu karena terlalu jauh"

 aku sesak mendengar ucapan ibu.
sejurus kemudian, aku mengalihkan pembicaraan. mengatakan bahwa itu masih lama
kemudian bercerita tentang cucu-cucunya
ibu kembali tersenyum

aku tahu bagaimana rahasianya membuat ibu tersenyum
hanya menanyakan bagaimana kabarnya maisya.
ibu akan bercerita panjang lebar tentang ponakanku yang cerewet
tentang tingkah polahnya yang selalu membuat orang tertawa terpingkal-pingkal
ibu menceritakan itu dengan hati yang senang
itu rahasianya mengalihkan pikiran ibu dari semua masalah yang ada.

301214

December 29, 2014

Ceritaku Kepadamu #6

Di sore yang mulai menjelang malam ini. aku masih setia di depan PC. hari yang melelahkan setelah libur panjang. hari ini aku gagal melalui dengan baik. semula aku berniat puasa namun harus batal siang tadi. ah, terlalu lemah iman ini dalam hatiku. masih banyak godaan yang harus kutahan karena semua hal tersebut membuatku lebih lemah lagi.

 

Seringkali aku bercerita apa saja kepadamu di pagi hari, namun kali ini, aku ingin bercerita kepadamu di senja yang menguning. mungkin cerita ini adalah tentang dirimu. dirimu yang begitu tulus mencintaiku tanpa peduli apapun yang kulakukan untukmu. aku seharusnya bersyukur memilikimu dan menjagamu dengan baik namun seringkali aku malah memarahimu dan menjauhimu meski harus engkau tahu, aku tidak pernah benar-benar melakukan itu. aku juga terlalu mengasihimu. aku seringkali terlalu egois dan seringkali masalahku dari luar kutumpahkan dengan memarahimu, benar-benar aku tidak adil terhadapmu. bahkan engkau tidak pernah sekalipun marah dan kesal kepadaku. rasa sayangmu terhadapku terlalu besar mengalahkan semua kelakuan burukku.

 

Kemarin saat kita di kampungmu. pagi hari aku keluar berjalan sendiri. menjauh dari rumahmu dan aku tidak menyangka sama sekali bahwa engkau akan mencariku kemana-mana. sampai engkau menjumpaiku di stadion. aku amat sangat terharu sebenarnya saat melihat dirimu namun karena egoisku malah memandangmu dengan sinis. tahukah engkau saat aku mengganti bbm ku dengan stadion itu, aku sebenarnya berharap engkau datang dan benar saja dugaanku, dengan wajah sendu engkau datang yang malah kusambut dengan senyum tipis yang membuatmu sakit hati.

 

aku akan berusaha untuk menjagamu selamanya. aku akan menjaga diriku melakukan hal yang membuatmu sakit hati. aku pun akan menjaga kesucian cinta kita. semua dosa yang pernah kita lakukan akan aku campakkan jauh dan menganti dengan hari yang lebih dekat dengan Allah. semoga kita sama-sama bisa menjaga diri.

 

aku sangat menyayangimu lebih dari apa yang engkau lihat di diriku setiap hari

 

291214

 

Ikrar

Minggu 29 Desember 2013, aku pernah menulis tentang sepasang cincin yang kita pesan di sudut alun-alun kota. aku masih ingat jelas di tulisan itu bahwa cincin yang kita beli itu hanyalah terbuat dari besi tua yang sama sekali bukan penanda bahwa kita telah tunangan. masih segar pun dalam ingatanku asal muasal kenapa kita membeli cincin tersebut. saat menghabiskan senja di alun-alun madiun, kita melewati penjual cincin. kita iseng menanyakan apakah bisa ditulis nama di masing-masing cincin tersebut dan ternyata bisa. kita membelinya dengan menuliskan nama di cincin tersebut. itu hanyalah keisengan yang kita buat.

hal yang membuatku kagum adalah cincin itu sampai sekarang tidak pernah sekalipun engkau lepaskan dari jari manismu. seringkali kita bertengkar dan seringkali aku membuatmu menangis namun tidak sekalipun keluar ucapan dari mulutmu untuk melepaskan cincin tersebut malah yang ada bahwa engkau akan mempertahankan dengan segala cara hubungan yang telah kita jalin memasuki tahun kedua. kenyataan itu menguatkanku untuk menjadikanmu seorang pendamping hidupku mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan tanda tanya.

kemarin, yah tepatnya liburan natal kemarin. kita berdua pulang ke kampungmu. merekat kebersamaan di dalam kereta Gajayana. tujuan kita satu adalah membeli sepasang cincin emas putih yang benar-benar akan menjadi pengikat kita tahun depan. kita bertiga dengan ibumu berangkat ke sebuah toko emas di utara alun-alun. setelah tawar menawar yang sangat alot, akhirnya aku bisa membelikanmu cincin emas putih yang menurutmu amat cantik. itu adalah langkah awal kita menuju pernikahan yang Insya Allah kita rencanakan september 2015.

begitu banyak hal yang berkecamuk di dalam rongga kepalaku. satu hal yang membuatku bertekad adalah menjaga kesucian kita. sudah berkali-kali kita larut dalam hal yang menjijikkan dan itu yang ingin kuperbaiki. cincin yang kubelikan untukmu adalah tanda keseriusanku untuk meminangmu.

Dream 2015

ya Allah, di penghujung 2014 ini kami kembali menuliskan resolusi yg ingin diraih di thn mendatang. setelah di tahun 2014 dilimpahkan oleh Allah berkah yg begitu luar biasa. begitu berkah yg dilimpahkan namun belum mampu disyukuri dengan hati dan perbuatan. masih sering mengumpat dalam hati dan terlebih masih sering melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah. semoga permulaan tahun 2015 menjadi awal yang baik bagi semua. pandai bersyukur dan berhenti melakukan maksiat dan saling mengingatkan hal yang baik.

insya Allah getting married, stopping something wrong in our relationship like close the zinah and stopping to mad each other. semoga Allah menguatkan, getting stability on working in Jakarta, having home in around jakarta. giving more sedekah

aamiiin.

indomaret pendurenan, 281214

December 27, 2014

Ibuuu

"Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menerangi dunia".

Lantunan lagu tersebut akrab ditelingaku tiga hari ini dari 2 orang ibu sekaligus nenek dari dua orang cucu. Penggalan lagu yang dinyanyikan secara satir oleh kedua ibu yang sudah mulai sepuh. Aku menanggkap dua makna sekaligus ketika kedua ibu tersebut secara bergantian menyanyikan kepada cucunya. Makna pertama ada ungkapan perasaan kedua ibu tersebut yang amat menyayangi kedua anaknya meskipun anak-anaknya berlaku kasar kepada mereka bahkan memperlakukan mereka layaknya pembantu. Makna kedua adalah mereka sedang mencoba menggugah perasaan kedua anaknya dengan sengaja mengeraskan lagu tersebut agar supaya anaknya sedikit lebih mengerti. Entahlah karena hanya kedua ibu tersebut yang tahu.

Berada disini berlibur selama 3 hari benar-benar mengaduk emosiku tentang relasi antara seorang ibu dan anak. Aku pun menyadari bahwa aku bukan seorang anak yang terlalu taat kepada ibu namun aku selalu berjanji tidak akan lagi menyusahkannya setidaknya kalau aku belum mampu memberikan apa-apa kepadanya.

Aku sebenarnya tidak sampai hati menuliskan kisah ini. Kisah tentang kesabaran ibu dalam menghadapi anak-anaknya. Seorang ibu yang dengan tabah merawat cucu dari anak-anaknya meski anaknya tersebut terlihat hampir memperlakukannya seperti seorang pembantu. Ibu yang dengan diamnya saat disuruh memakai masker oleh anaknya ketika mengemong cucunya. Ibu yang dengan sabar mengurus cucunya meski anaknya yang notabene adalah ibu dari cucu tersebut hanya menonton TV. Ibu yang dengan rela mengisap ingus cucunya yang aku sendiri yakin ibu dari cucunya tersebut tidak akan melakukannya.

Emosiku benar-benar terkuras dengan apa yang ada dihadapanku. pemandangan yang begitu memilukan. Aku ingin menangis karena kutahu bahwa tidak selayaknya ibu diperlakukan seperti itu. Aku bahkan harus membayangkan kapan ibu tersebut menikmati hari tuanya. mereka benar-benar merelakan hidupnya untuk kebahagiaan anaknya.

Hidup memang selalu tidak berjalan sesuai harapan. ada saja pemandangan yang membuat kita harus mengambil sisi dari sebaliknya tersebut. aku tersedu dan bayangan tentang ibuku yang mulai sepuh selalu menari-nari indah di kepalaku saat menyaksikan apa yang telah terjadi kepada kedua ibu tersebut.

271214

December 26, 2014

Harapan itu Kecewa

Sumpek dengan semua.
Tidak sesuai dengan harapan yang menari di kepalaku.
Inginku melepas penat di kota ini.
Ingin bergembira dengan semua kenangan yang pernah kutinggalkan disini.
Melepas kepenatan di kota metro
Namun tidak, sama sekali tidak
Aku mengharapkan ketenangan namun semua yang kudapat adalah muak.

Kemarin aku berharap disini lebih lama.
Bertahan lebih lama
Namun tidak,
Aku ingin pulang. Pulang ke kota itu.
Biarkan aku kembali bergelut dengan kesibukanku.

Rencanaku gagal total di tempat ini
Hanya menyisakan semua hal yang tidak kubayangkan
Engkau menangisiku namun aku terlalu egois
entah apa yang meracuni kepalaku senja kemarin
ingin kudepak dirimu lekat memohon maaf hari ini

kemarin hari
badmood merajaiku
membuatku tidak menikmati liburan kali ini
maaf aku membuatmu menangis tepat di depan ibumu
berkali kuingin membautmu selalu bahagia
namun berkali aku membuatmu menangis
sekali lagi maaf liburan kali ini dek.
aku menyayangimu lebih dari semua sikapku yang engkau lihat.

lain kali kita mengulangi liburan yang lebih indah
Mdn. 261214

December 24, 2014

CERITAKU KEPADAMU #5

dek, aku masih berpikir apa yang harus kuceritkan padamu hari ini. ada beberapa kisah yang kutemui namun kurasa belum tahu bagaimana menceritakannya kepadamu. cerita tentang kantor, tentang rutinitas sehari-hari dan tentang ruwetnya kota ini. banyak dek yang bisa kuceritakan namun aku takut engkau lebih punya cerita yang bermakna untukku.

aku suka dengan orang yang saling berbagi dek. berbagi apa saja bahkan hanya sekedar cerita bermakna. dalam setiap perjalanan kita, selalu dipertemukan dengan momen yang entah itu kita suka ataupun tidak suka namun inti dari semua itu adalah kita bisa mengambil hikmah dari semua itu. jika hal yang baik maka kita contoh dan jika hal yang kurang baik maka kita jadikan pembelajaran yang terbalik.

aku berteman dengan banyak orang dek. meski kutahu bahwa aku bukanlah orang yang terlalu asyik ditemani berteman karena sesungguhnya aku lebih suka menyendiri. sangat sering dalam hidupku dek ingin menyendiri bahkan aku tidak terlalu suka dengan keramaian yang memekakkan telinga. aku lebih suka duduk menyendiri di pinggir sungai kampungku dulu atau bahkan menghabiskan hari-hariku di kebun yang terletak di lereng bukit. itu adalah momen-momen menyenangkan bagiku dek.

namun aku pun sadar dek. bukan solusi untuk selalu menyendiri karena kita tidak bisa bermanfaat kepada orang lain kalau hanya menyendiri. hidup adalah tentang manfaat dek. kalau kita hidup bahagia sendiri tanpa berbagi kebahagiaan dengan orang lain sama saja dengan mengacuhkan nurani dalam diri kita dek. aku yakin dek kalau semua oran gitu sama dan kita harus menganggap orang lain seperti diri kita sendiri yang ingin bahagia.

kita jangan memonopoli kebahagiaan dek.


December 23, 2014

jemu

gedung itu. jalanan yang sesak itu, orangorang yang lalu lalang seperti zombie
bukan ilusi namun seperti itu adanya
aku menerobos mereka
menjadi seperti mereka, menjadi zombie yang tak berperasaan

datang di kantor, duduk di depan PC
mengejar deadline, melayani nasabah
bergelut dengan hal yang maya
merenggut semua kebebasan

menanti senja kembali ke kos

Meratapi Pagi

Pagi yang menyebalkan. Hampir di sisa pagi yang sejuk, aku selalu membenci jarum jam yang melaju cepat ke angka tujuh. Aku membenci itu di lima hari dalam seminggu. Benakku diracuni oleh pekerjaan-pekerjaan kantor yang menguras hampir sebagian waktu dan pikiranku. Aku beranjak dari tempat tidur, mengambil handuk kemudian dengan langkah gontai masuk kedalam kamar mandi. Perlahan dan seperti tak terbayangkan bahwa aku berada di situasi yang dulu pernah kuhindari. Aku benci dengan rutinitas, muak dengan semua aturan yang mengekang bahkan aku tidak rela hidupku terpenjara dengan hal yang berbau materi. Namun apa ini semua, aku terkadang menertawai diriku yang tak berdaya dan seringkali pula menangisi diriku yang akhirnya harus berjibaku dengan kehidupan yang sesak di ibu kota.

Aku mungkin satu dari sedikit lelaki yang benci terlalu lama di kamar mandi. hanya membasuh 2-3 kali badanku mengoleskan sabun ke seluruh tubuh kemudian membasuh lagi dan bergegas keluar. Jam dinding benar-benar telah menunjuk angka 7 tandanya rutinitasku sebentar lagi akan kumulai. Datang di kantor pagi hari, bertemu dengan 2 ob yang baik hati kemudian naik di lantai 2 dan duduk manis di meja kerjaku bagian pojok. Bergelut dengan penawaran bengkel, berkas motor hilang dan klaim kecelakaan diri dari berbagai perusahaan. aku penat bahkan lebih dari sekedar penat raga bahkan jiwaku pun tergerus. Bertemu dengan berbagai karakter manusia di kantor. saling sapa dengan senyuman meski kutahu terkadang palsu, menjumpai karyawan yang mencoba berbaik hati dengan bos bahkan dengan anak PKL yang harus rela disuruh menjadi tukang foto copy.

Aku sesekali menoleh jam di layar PC. Berharap angka 12 muncul, itu artinya istirahat siang namun terkadang masih berputar di angka 10. Mungkin aku yang jenuh atau bahkan aku yang tidak pernah bekerja dengan baik. Semua seakan mulai berjalan begitu berat. aku menghakimi diriku, menghujat apa yang terjadi dan bahkan meratap kehidupan. ingin rasanya mengganti kehidupan yang baru.

Mungkin, di kampung sana, di kampungku yang damai. Orang-orang mengira aku telah merengkuh sukses. hidup di tengah gemerlap ibu kota dengan segala kemewahan yang ada. Prestise di mata setiap orang namun jiwa disini menjadi lemah.

Aku selalu menantikan senja yang bergerak begitu lambat. Bergegas pulang kantor dan merayakan malam di kamar kos sembari membayangkan semua keindahan dalam mimpi. Jauh dari gedung yang menjulang tinggi di kota ini. Lepas dari keruwetan lalu lintas yang membunuh kedamaian dan orang-orang yang berlagak sok tanpa saling memperdulikan. jiwaku semakin lemah dalam setiap hal yang kulalui. hidupku akan kuhabiskan dengan rutinitas seperti ini.

Menjadi orang urban memang terkadang mengorbankan kedamaian, menjual ketenangan dengan berbagai kemewahan bahkan menggadaikan kebebasan dengan segal hal yang absurd. Dipandang sukses oleh orang di pelosok meski kuyakin, seringkali jiwa orang urban jauh dari ketenangan, percayalah.

Meratapi pagi yang menjemukan.

231214

December 19, 2014

Ceritaku Kepadamu #4

Pagi ini aku merasa kurang sehat de'. Tidak tahu kenapa namun dari semalam, tenggorokanku tidak nyaman dan ada rasa seperti mau flu. Sedikit curhat kepadamu dek sebelum memulai ceritaku padamu hari ini, hehe. Tidak apa-apa kan.

Semakin banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu namun semakin sedikit saja yang bisa kutuliskan. Hanya bergumul di kepalaku dan menguap begitu saja. Pagi ini dek, aku ingin becerita yang sedikit lebih serius dari kemarin pagi. tentang suatu fenomena di negeri kita yang sedang memanas. Kamu pasti pernah membaca tentang kontroversi pelarangan jilbab di Bali atau yang masih lebih hangat isu tentang menteri BUMN melarang penggunaan jilbab. Berita yang belum tentu benarnya dek.

Dek, sebenarnya aku sama sekali sudah bosan dengan fenomena seperti ini. isu tentang agama. Bukan apa-apa dek, aku sudah sampai pada kesimpulan bahwa agama itu ada dalam hati dek. Bukan aku mengingkari adanya syariat namun ada hal yang lebih hakiki dalam beragama yaitu bagaimana hati bisa menjadi lebih tenang dan damai. Tenang dan damai disini bukan berarti hati kita tenang-tenang saja ketika melihat orang kesusahan, malah sebaliknya namun hal yang kita lakukan untuk itu lebih bijaksana misalnya dengan membantu orang kesusahan bukan malah mengumpat pemerintah yang tidak becus atau yang lebih parahnya mengumpat orang kesusahan dengan dalih mereka tidak bekerja keras. Tidak sama sekali seperti itu dek.

Kembali ke alasan pelarangan jilbab atau penggunaan atribut natal bagi karyawan menjelang natal. Aku adalah orang yang tidak terlalu pusing dengan semua itu dek dalam artian bahwa agama seseorang bersemayam dalam hati. Ambil contohnya mama dek. di sekolah tempatnya mengajar, mama diharuskan melepas jilbab ketika mengajar karena mama mengajar di sekolah kristen, namun apakah itu salah dek. Kalau menurutku, meski mama harus melepas jilbab namun ada beribu hikmah mulia dibalik kekuatan mama tetap bertahan mengajar disana. Mama telah membuatmu sarjana dan mas mu, bahkan dengan tetap mengajar di sekolah kristen tersebut, mama telah dikenal oleh murid-muridnya sebagai guru yang paling sabar. Tidak kah kita menyadari bahwa secara tidak langsung, mama telah memperlihatkan sikap yang Islami kepada murid-muridnya dengan kesabarannya meski harus melepas jilbabnya untuk sesaat di dalam kelas.

Dek, selama kita hidup, perdebatan tentang agama akan selalu menjadi topik yang menarik. itu tidak bisa dibantah dek. Aku juga tidak bisa menarik kesimpulan kenapa perdebatan itu selalu menjadi hal menarik. mungkin karena menyangkut ketenangan bhatin atau apalah namun sama sekali aku tidak tahu alasannya. Aku adalah salah satu yang sangat menggandrungi diskusi tersebut saat mahasiswa meski sekarang aku sudah mulai sadar bahwa perdebatan itu tidak akan pernah ada habisnya. Aku hanya ingin menjadikan keyakinanku kepada Tuhan menjadi hal yang privacy tanpa harus mengumbar di forum diskusi.

Aku hanya ingin menarik kesimpulan dek bahwa ketika hatimu tenang dan damai tentang semua, tenang ketika berbagi kepada sesama dan susah ketika melihat orang kesusahan maka itulah sejatinya agama telah bersemayam dalam hati dek. itu semua pun butuh pembiasaan. Kita tidak perlu ikut-ikutan diskusi panjang lebar tentang perdebatan masalah agama.

Ah, terlalu serius ceritaku pagi ini dek. mungkin karena pengaruh kondisi badan yang sedang tidak fit. huhu.

191214

December 18, 2014

Ceritaku Kepadamu #3

Dek, aku tidak tahu harus bercerita apa lagi pagi ini. Serasa sehari kemarin aku tidak mendapatkan apa yang bisa kuceritakan kepadamu. bahkan kemarin pun salah satu hari yang kusesali karena kita melakukan khilaf yang sama. Aku selalu berjanji kepadamu untuk bercerita apa saja namun tidak kuasa karena memori seakan dipenuhi oleh permasalahan seputar pekerjaan. Namun aku terlanjur berjanji untuk menceritakanmu apa saja dek. baiklah aku akan bercerita tentang seorang anak PKL di kantorku.

Aku baru saja sarapan roti pagi ini dek kemudian langsung menuliskan ceritaku ini. Tadi saat sementara sarapan roti, anak PKl yang cewek, ratih namanya dek, datang kemudian aku tawari roti meski kutahu roti tinggal 1. Itu belum intinya dek, saat kutawari, dia ternyata puasa sunnah kamis dek. Aku kagum sama dia. Kemudian aku tanya apakah dia memang rutin puasa senin kamis, dia bilang iya. Aku salut dek sama anak itu karena mulai sma dia sudah rutin puasa sunnah dibanding aku yang baru mulai itupun belum tertib.

Emang anak PKL yang satu ini beda dek. dia rajin banget shalat bahkan ketika waktu shalat sudah tiba, dia pasti akan turun ke LT 1 tempat mushalah berada dan menunggu karyawan lain yang akan shalat untuk shalat jamaah. Semoga saja anak ini istiqomah. Aku tidak membandingkan dengan anak PKL yang sebelumnya namun anak yang satu ini memang berbeda dalam  beberapa hal. meski terkadang seperti dia cepat naik emosinya ketika ada hal yang tidak sesuai keinginannya namun waktu akan membuatnya dewasa.

Banyak kekagumanku terhadap orang yang kuat memegang prinsip di tengah kota jakarta dek. bahkan di berbagai penjuru, ada saja godaan-godaan yang datang menerpa dan butuh hati yang kuat memegang prinsip yang diyakini. aku bahkan salah satu orang yang takluk dengan apa yang kuyakini. Melanggar janjiku terhadap diriku dan kedua orang tuaku.

Itu saja ceritaku hari ini dek. aku bahkan tidak tahu apa hikmah dari ceritaku ini sendiri karena hanya janji untuk bercerita saja yang membuatku harus menuliskan ini.

December 17, 2014

Ceritaku Kepadamu #2

Kemarin aku berjanji kepadamu dek. Menceritakan lagi apa yang pernah kutemui. Kemarin aku berjanji kepadamu tentang nasehat sahabatku yang mengingatkanku masalah wanita.

Aku ceritakan sedikit dulu mengenai temanku dek.dia itu seorang perempuan juga dek. Dia sudah berkeluarga dan sudah memiliki seorang puteri. dulu saat masih kuliah, kami satu jurusan dan juga satu angkatan. Dia salah satu temanku yang baik dek. kuingat dulu saat kosku dekat kosnya dek. Saat persiapan ransumku habis maka dia sering mengirimiku mie instant ataupun makanan lain yang dia punya. Dia perempuan yang kuat memegang prinsipnya dek. sampai pada akhirnya dia menikah dan memilih menjadi ibu rumah tangga ketimbang mengejar karir dan pendidikan seperti teman-temanku yang lain.

Kembali ke nasehatnya kepadaku dek. kemarin itu ceritanya seperti ini. Aku iseng mengirim foto cewek di group wa yang dia juga salah satu anggotanya. Singkat banget tanggapannya namun sangat menohok dek. Aku bahkan berpikir bahwa ternyata aku masih punya banyak hal yang harus diperbaiki tentang semua. Dia hanya bilang seperti ini, "kamu kok masih mengoleksi foto cewek padahal kamu sudah punya komitmen dengan seorang perempuan, itu tidak baik". 

Tanggapan yang singkat namun benar-benar membuat kepalaku berputar memikirkan semua tentang itu. Meski engkau tahu dek aku masih sering mengganggu cewek ataupun melirik cewek lain yang lewat namun itu tidak baik. ada hal yang bisa dijadikan bahan candaan dan ada yang tidak. Mungkin bagian ini memang bukan sebuah candaan. Bahkan aku menyesal masih sering menggoda tary yang mungkin saja dia benar-benar berharap sedangkan engkau dek, tidak pernah sekalipun engkau melirik cowok lain setelah berkomitmen denganku bahkan idolamu SJ pun sudah engkau hapus dari daftar idola.

Sejak kemarin dek, aku berusaha untuk lebih berhati-hati masalah wanita karena aku sadar bagian terlemah dari diriku adalah syahwat terhadap wanita. Kemarin aku sudah menghapus semua foto cewek di hpku dan semua hal tentang wanita lain. Bukan apa-apa dek, aku hanya ingin belajar berkomitmen seperti yang engkau lakukan.

Ini ceritaku hari ini dek. cerita tentang nasehat dari seorang kawan untuk bagaimana berkomitmen dari awal dan bagaimana memilah hal yang bisa dijadikan bahan candaan atau tidak. Semoga esok hari masih ada cerita yang bisa kubagi untukmu dek.

rwmngn, 171214

December 16, 2014

ceritaku Kepadamu #1

Aku ingin bercerita kepadamu setiap hari, dek. Tentang apa saja yang bisa kita jadikan pelajaran kelak. Masa dimana kita Insya Allah sudah bersama-sama. banyak cerita, banyak hikmah bahkan begitu banyak hal yang selalu kujumpai dan selalu ingin kubagi kepadamu namun selalu saja otakku beku saat akan menuliskan jejak-jejak cerita yang kutemui. kali ini tidak dek, aku ingin bercerita sesuatu tentang penjual lontong yang menjadi langgananku setiap hari. Mari dekat disini dek dan jangan bilang siapa-siapa karena hanya kita berdua yang punya cerita ini.

Tadi pagi dek, seperti biasa ketika akan berangkat ke kantor. aku mampir di warung persis depan kos ku. ibu itu menjual lontong sayur dan nasi uduk serta berbagai macam gorengan. aku tidak perlu memesan karena dia sudah hapal seleraku. Lontong sayur dengan sedikit kuah dan gorengan tempe satu potong, itu sarapanku setiap pagi dek. 

Aku tidak sedang promosi tentang jualan ibu itu dek. Bukan itu intinya yang ingin aku ceritakan kepadamu dek. Aku ingin bercerita tentang ibu itu yang nampaknya tidak suka berutang dek. itu sekilas yang menjadi kesimpulanku saat setiap kali memperhatikannya. Tadi pagi dek, ada 2 orang yang membeli gorengan namun karena uang kecilnya tidak ada, si pembeli memberi uang lebih dan katanya besok aja. Jawaban singkat ibu itu bahwa ibu saja yang bawa uangnya, besok kalau kesini lagi baru bayar. Begitulah orang yang sangat berhati-hati kepada yang namanya utang dek.

Ceritaku yang kedua pagi ini adalah tentang penjual lontong juga. Kali ini penjual lontong yang berada di belakang kantorku dek. pernah dulu aku beli lontong disana. Ceritanya hampir sama. banyak orang yang membeli namun tidak ada uang kecilnya, kali ini penjual lontong tersebut seringkali lebih berani mengambil uang lebih dan berkata besok kalau ke sini lagi, uangnya baru dipotong. itu seperti memaksa orang datang lagi membeli dek.

Ada lagi ceritaku yang lain dek. Tentang temanku yang sudah nikah dan sekarang di sultra sana. Dia menegurku dek masalah perempuan. Nanti saja aku ceritakan lagi dek di edisi selanjutnya yah.

Rwmngn, 161214