December 13, 2013

Nostalgia Awal

Benar -benar tak terasa, hampir setahun lamanya aku bekerja di Ngawi, menghabiskan waktuku menjadi karyawan di salah satu perusahaan penerbit nasional. Aku sesungguhnya tidak menyangka sama sekali akan menghabiskan setahun waktuku bekerja di sini namun begitulah cerita lagit yang ditakdirkan kepadaku dan aku hanya berusaha menjalani dengan aturan-aturan langit.

Menjelang akhir tahun ini, aku sedang menikmati hari-hari terakhir bekerja dan tinggal di kota ini yang dekat dengan perbatasan jawa tengah dan Jawa timur. Benarlah bahwa awal menjalani pekerjaan di sini sebagai seorang pemasaran yang harus berlomba dengan target benar-benar melelahkan fisik dan raga, setiap saat harus dihabiskan memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai target kemudian berburu waktu dari sekolah satu ke sekolah lainnya dan terkadang melupakan keselamatan di rimba jalanan namun risiko pekerjaan yang telah kupilih harus tetap kujalani. Salah satu Manager marketing sby 2, pak SN mengatakan bahwa tidak ada yang menyuruh kalian mendaftar dan bekerja di sini jadi jika ada yang merasa terjebak bekerja di sini, hanya ada dua opsi, mengajukan surat resign atau belajar mendalami pekerjaan ini dan totalitas dalam bekerja". Pernyataan beliau sampaikan di training karyawan baru sekitar bulan Mei di kantor cabang surabaya Jln. Berbek industri 7 Waru. Aku mengamini pernyataan beliau karena pilihan kita dalam hidup adalah pilihan sadar dan itu yang terjadi di setiap keputusan-keputusan yang diambil dalam segala hal.

Aku yakin bahwa hidup ini semuanya indah bahkan kondisi yang dianggap manusia sebagai kondisi sulit juga sebenarnya sangat menyenangkan. Dengar saja penuturan kisah orang-orang sukses yang berbagi pengalaman di acara seminar, mereka dengan sangat bangga menceritakan semua pengalaman susah mereka saat baru berjuang menggapai kesuksesan, tak sedikit pun tergores penyesalan dari wajah mereka saat berbagi kisah tentang itu bahkan kebanggaan lah yang terpancar di wajah mereka karena pernah melewati masa sulit. Itulah yang menyadarkanku bahwa memang apapun kondisi hidup kita tidak akan pernah mengurangi keindahan hidup namun hidup itu akan menjadi sangat indah ketika sudah tersisa sebagai kenangan.

Potongan hidupku di Ngawi pun seperti itu. Meski awalnya aku harus melawan egoku selalu saja mengeluh tentang pekerjaan yang sedang kujalani namun di lain sisi, aku selalu saja yakin bahwa kenangan di Ngawi alan menjadi sangat terasa indah ketika aku mampu melewati dengan menikmati alurnya. Bahkan menjelang akhir tahun yang juga berarti bulan terakhir aku di sini, aku sudah merasa sangat berat meninggalkan kota kecil ini. Kenangan setahun mengitari kota ini benar-benar membuat langkahku enggan bergerak walau kusadari bahwa hidup harus terus berjalan dan jangan pernah terbuai oleh nostalgia yang melenakan karena masih banyak tempat di bumi ini yang akan menjadi tempat menggoreskan cerita hidup. Memang dalam setiap perjalanan itu, ada beberapa titik yang sangat berat untuk ditinggalkan ketika hati sudah terpaut disana. Namun ingat, titik-titik itu yang akan menghalangimu berlomba dengan waktu jika engkau membiarkan ragamu tinggal terpaku di zona nyaman. Perluaslah zona nyamanmu hingga akhirnya suatu saat nanti, semua tempat akan menjadi zona nyaman bagimu.

begitulah satu lagi potongan cerita hidup dalam babak yang sebentar lagi akan kuselesaikan. Babak kehidupan di kota Ngawi selama satu tahun. Mengenal dengan baik kota ini sampai pada setiap pelosok desa. Mengiringi setiap jalan setapak kemudian masuk di setiap sekolahan smp menunggu guru-guru yang sedang mengajar kemudian bercuap-cuap kemudian berlalu.

Aku benar-benar menghabiskan waktu setahun di sini mengiringi waktu memutari kota ini. Menikmati setiap sisi pemandangan yang ditawarkan kota ini. Kota yang terletak tepat di jalan trans jawa yang semakin membuat kota ini bising di setiap waktunya. Setiap kendaraan seakan berada di arena balap mengendarai mobil bahkan motor mereka.

Namun seperti itulah kota ini, apapun keadaan kota ini, bahwa aku telah menggoreskan setahun kisahku disini, mengukir di setiap helai daun dengan tetesan air hujan. Menyingggahi setiap warung pojokan sambil membaur menjadi warga kota ini bahkan dalam beberapa episode kehidupanku disini, aku seperti orang asli. Yah itulah kota Ngawi dengan segala kisahku menghabiskan waktu setahun disini selama 2013.

Kerena Waktu

dan akhirnya
waktu terus menjalankan takdirnya
tanpa berhenti sedetik pun
membawa semua cerita
menyisakan potongan jejak kaki tak berbekas
dan akhirnya
setelah berjalan cukup lama
waktu tak kunjung kalah
dia tetap melaju
walau aku harus berhenti
mengambil nafas lalu memburu kembali waktu
malam mulai menggores ceritaku
bahkan senja menyimpannya dengan amat sangat rapi
tak sedikitpun terlupa

December 12, 2013

Tentang Siang dan Malam

malam menjemput kabut
setelah sekian lama siang berkabung
entahlah,,
namun seakan siang dan malam sedang berkomprontasi
bahkan tak saling menyapa
tak sekalipun aku menjumpai mereka datang bersamaan menyapa bumi
selalu saja malam berlalu ketika siang menjelang
dan begitu juga sebaliknya
dapatkah kita menyandingkan mereka
karena bumi tak pernah menolak?

December 10, 2013

Merantau

merantau mempunyai sensasi tersendiri, lebih dari berdiam diri pada zona nyaman yang ditawarkan kampung halaman. setiap tatapan mata akan menerawang betapa begitu manusia yang berani melangkah membelakangi tempat kecilnya akan merasakan sensasi tersendiri tentang arti merantau bahkan tentang arti hidup. disaat semua orang mendekap dalam rindu yang amat sangat menyiksa ketika jauh dari keluarga dan hal apa saja yang dirindukan di istana kecil kita maka saat itu pulalah, semesta mengalirkan butiran doanya kepada mereka yang jauh dari semua yang dicintai demi impian hidup.

MERANTAU
Aku adalah salah satu pribadi yang bercita-cita merantau dan merasakan betapa benar-benar merantau itu punya sensasi tersendiri, Saat kita dirundung rindu yang tak tertahankan, saat semua cerita masa kecil menari-nari di ubun-ubun atau pun saat berada dalam masa sulit di perantauan bahkan juga saat semua yang ada di perantauan sedang tidak bersahabat dengan kita maka disitulah tertancap beribu sensasi tentang rantau.

December 8, 2013

Bahagia Itu

Bahagia itu. mungkin semua orang mendamba kata itu benar menjadi miliknya. Berbagai macam cara dilakukan oleh setiap orang untuk mengejar kebahagiaan bahkan dengan cara yang diluar nalar sehat. Sangat lazim di tengah-tengah kita bahwa kebahagiaan itu sering diidentikkan dengan tersedianya kebutuhan atau dalam artian apa yang diinginkan dapat terpenuhi. Meski sering dalam ceramah masjid, khutbah gereja dan di tempat-tempat ibadah lain. Dikatakan bahwa kebahagiaan itu tidak terletak pada kekayaan namun tetap saja sebagian dari kita menganggap bahwa ketika orang mempunyai kelimpahan harta maka besar kemungkinan mereka akan bahagia.

Pagi ini, ada dua fenomena yang membuatku lagi-lagi tersadar bahwa benar adanya kebahagiaan itu tidak terletak pada setiap apa yang diinderawi. Hal yang kasat mata hanyalah semu dan terkadang menipu karena orang yang sering kita anggap mempunyai kecukupan materi pasti punya masalah, ini yang sering aku katakan bahwa "everyone has a own problem."

Aku bercerita panjang lebar dengan ibu Tuti, salah satu rekan kerja pak Audi. Awalnya kami hanya bercerita hal yang biasa kemudian aku menimpali kalau pak Audi itu sangat kuat merokok (kami tidak sedang bergibah), bahkan saat di rumahnya sekalipun dia sangat sering merokok hingga pernah berselisih sama bojonya karena tidak berhenti merokok. Ibu Tuti menimpali bahwa memang pak Audi dari sejak dulu punya kebiasaan merokok dan sebenarnya dia punya penyakit maaf akut yang sangat berpantangan dengan kebiasaan merokok. 

Aku tiba-tiba terkesiap, perawakan pak Audi yang tinggi besar ternyata beliau menderita maag akut. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa pak Audi tidak bahagia gara-gara penyakitnya tersebut, aku hanya ingin mengatakan bahwa benar setiap orang punya masalah. 

Secara inderawi, pak Audi amat sangat bahagia, beliau seorang guru beserta istrinya, punya rumah, mobil dan toko bahkan ketiga anaknya sedang lucu-lucunya tumbuh berkembang dengan sehat (semoga ketiganya tetap sehat wal'afiat), namun meski begitu, beliau tetaplah manusia yang mempunyai masalah sendiri.

Setelah itu, aku bertandang ke rumah ibu Anti di sekitar perumahan lawu 1. Beliau adalah salah seorang guru bahasa Indonesia di SMP 4 Ngawi. Lumayan akrab sama aku dan kebetulan aku ingin mengantarkan bed cover. Sesampai di rumahnya, aku terdiam melihat rumahnya yang begitu besar meski belum kelar direnovasi, aku membatin bahwa ibu ini pasti sangat bahagia. 

Aku disambut dengan hangat oleh beliau. Sejenak bercerita panjang lebar, aku menanyakan kok rumahnya sepi. Beliau kemudian mulai bercerita tentang keluarganya, beliau mempunyai dua orang anak yang salah satunya sudah kuliah di UMS jurusan fisioterapi dan satunya lagi ada di rumah tersebut sayang anaknya yang bungsu menderita autis, umurnya sekitar 14 tahun. 

Sesaat kemudian, anaknya keluar dan hanya melongo memandangku, aku melihat sekilas wajahnya yang begitu ayu bahkan sangat ayu diantara anak seusianya. Setelah itu, beliau juga bercerita tentang suaminya yang mengalami geger otak hingga memutuskan pensiun dini. 

Aku lagi-lagi mengamini bahwa sejatinya setiap orang punya masalah sendiri. Ibu anti yang kelihatan sangat bahagia dengan punya mobil dan rumah besar ternyata punya masalah yang rumit meski kutahu dari wajahnya, beliau begitu tabah menghadapinya bahkan anaknya yang autis sudah mulai berobat sejak umur 3 tahun sampai sekarang dan sudah begitu banyak biaya tenaga, materi dan pikiran yang terkuras namun beliau hanya berkata, yah begitulah namanya usaha.

Kedua fenomena diatas benar-benar meyakinkanku bahwa setiap orang punya masalah namun bukan bermaksud mengatakan bahwa mereka tidak bahagia dengan adanya masalah tersebut bahkan mungkin saja dengan masalah mereka malah membuat mereka semakin bahagia tanpa mereduksi sedikitpun kebahagiaan yang mereka punyai.

. Grudo, 08.12.13

December 7, 2013

Mengurai Kehidupan Mahasiswa

Saat menjadi salah satu mahasiswa di kota asalku, aku sangat gandrung dengan paham yang sering dianggap kekiri-kirian nan makar. Begitu banyak faktor yang membuatku harus menjadi seperti itu. disamping jurusanku yang memang mengkaji berbagai ideologi diluar ideologi mainstream, lingkungan pergaulanku juga menjadi salah satu faktor yang sangat mendukungku menjadi mahasiswa yang suka menggunggat apa saja yang kuanggap salah. Bahkan latar belakang dari kampung kecil yang sudah terbiasa dengan kerasnya hidup menjadi faktor lain mengapa aku semakin gandrung mempelajari hal-hal di luar pemahaman mainstream. 

Saat masih di kampung, aku menganggap bahwa kerasnya kehidupan adalah hal wajar dan mungkin juga takdir atau bahkan orang malas bekerja sehingga hidup susah namun saat menginjakkan kaki di kampus, banyak membaca informasi dan diskusi dengan siapa saja maka aku mendapat pencerahan bahwa hidup ternyata ada sebuah hal konstruktif yang dijalankan oleh orang-orang bejat.

Pertama kali berubah status sebagai mahasiswa, aku disuguhi oleh fenomena kehidupan kampus yang sangat berbeda jauh dengan kehidupan yang kujalani di masa SMA ku. Beribu wajah kujumpai dengan segala cerita yang mereka goreskan. Saat diskusi di berbagai sudut kampus, begitu banyak istilah yang membuat kepalaku berputar untuk memahaminya. 

Perlahan aku mencari jati diriku sebagai mahasiswa yang pada akhirnya lingkungan mahasiswaku mengantarkanku menjadi mahasiswa yang suka diskusi dan mempelajari ideologi yang berbeda dengan ideologi status quo. Aku bahkan menyadari bahwa pada awalnya aku benar-benar hanya terpengaruh oleh lingkunganku namun pada akhirnya, aku benar-benar mengamini semua dari pahaman yang aku kaji. Mulai dari perlawanan terhadap gurita besar kapitalisme, kemudian mempelajari tandingan ideologinya yaitu marxisme. 

Dalam mempelajari pahaman seperti ini, aku mulai membongkar paham ortodoks yang sudah lama tertanam di dalam kepalaku. PKI yang dulunya kuanggap benar-benar sadis ternyata tidak seperti yang kupikirkan. Berbagai macam distorsi sejarah membuat mereka dilabeli sebagai hantu yang harus dimusnahkan dan tidak punya hak untuk hidup. Kenyataan yang aku pelajari bahwa paham marxisme yang kemudian dikenal di Indonesia sebagai PKI ternyata berjuang melawan status quo yang bangsat dan otoriter. 

Perlawanan mereka yang begitu gigih dengan berbagai cara akhirnya diredam oleh penguasa dengan cara licik. Mereka diftnah sebagai anti agama dan kelompok sadis sehingga masyarakat awam termakan hasutan tersebut dan ikut membenci perjuangan mereka.

Bahkan dalam beberapa edisi perjalananku sebagai mahasiswa, aku seringkali ikut aksi jalanan dalam berbagai isu nasional. Berhadapan dengan laras polisi dan pentungan benar-benar tidak menciutkan nyaliku untuk terus ikut aksi jalanan bahkan pernah dua kali saat chaos, aku harus merelakan dadaku terkena lemparan batu polisi di dekat tugu volcom kampus, begitu sakit memang namun selepas itu, tidak jua membuatku jera. 

Aku bahkan saat itu benar-benar muak dengan penguasa lalim. Aku bercita-cita menyaksikan dunia yang penuh kedamaian dimana semua orang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Aku semakin yakin bahwa kemiskinan bukan sebuah takdir Ilahi namun tidak lebih ada konstruksi dari dinasti kapitalisme yang mencengkeram dunia.

Pemiskinan terjadi dimana-mana bahkan 80% kekayaan dunia hanya dimiliki oleh 20% penduduk bumi artinya bahwa 20% kekayaan dunia dibagi kepada 80% penduduk bumi. Ini jelas sebuah kecurangan yang tidak bisa dibiarkan. Pemiskinan seperti itu yang pada akhirnya melahirkan gerakan perlawanan. Bayangkan saja, di Indonesia, hany segelintir orang punya tabungan yang tak terhitung nilainya sedangkan disamping mereka, beribu orang makan hanya sekali dalam 3 hari, apakah ini takdir. 

Jelas tidak, Tuhan tidak sejajar itu, mereka yang rakus menyebabkan kondisi seperti ini. Semua ingin dimiliki seakan bahwa perut mereka bisa menampung semua itu bahkan hany untuk makan nasi bungkus buat orang disekelilingnya pun mereka enggan. Bumi ini bukan buat mereka saja. Masih banyak orang yang menempati bumi ini.

Sampai saat ini, meski tensi interaksiku dengan duniaku yang dulu tidak terlalu intens namun aku tetap mendukung setiap perjuangan pergerakan yang menuntut keadilan apapun itu namanya. Perjuangan untuk sebuah keadilan bumi bukan berarti membenci orang kaya namun lebih dari itu, melawan ketamakan dan tidak semua orang kaya itu tamak. 

Bumi adalah milik semua makhluk dan tidak ada seorangpun yang berhak memonopoli bumi ini demi nafsu mereka. Bumi masih mampu memberi makan buat semua penghuninya kecuali bagi mereka yang tamak. Tidak ada bumi yang cukup buat mereka yang tamak.

Piala Dunia

Jarang sekali aku menghubungkan peristiwa hidupku dengan kejadian di luar. Aku mungkin salah satu orang yang tidak pernah percaya sama yang namanya kebetulan. Seperti pemain arsenal, Aron Ramsey ketika mencetak gol maka selalu saja ada orang populer di dunia yang akan menjemput ajalnya. 

Aku sama sekali tidak percaya dengan hal seperti itu namun akhirnya aku juga harus menghubungkan periodik hidupku dengan turnamen piala dunia yang digelar 4 sekali dan aku menyadari bahwa selalu saja ada hal-hal tak terduga yang aku jumpai dalam hidupku dalam periode 4 tahun, bahkan momennya selalu hampir bertepatan dengan helatan piala dunia. Momen yang selalu bertepatan dengan piala dunia sering kali momen yang menjadi start awal dari hidupku.

Momen piala dunia 2002 menandakan aku akan menjalani hidupku sebagai siswa SMA, mungkin kedengaran biasa-biasa saja namun tetap saja aku menganggap sebuah awal. Empat tahun berikutnya pada helatan piala dunia 2006, aku baru saja diterima sebagai salah satu mahasiswa di kota asalku, Universitas terbesar di wilayah tersebut yang menjadi favorit. 

Sebenarnya ini juga kedengaran amat sangat tidak berkaitan namun aku masih berpikir bahwa kenapa bisa tahun 2006 saat aku baru bisa diterima di Universitas ini padahal sebelumnya pada tahun 2005, aku sudah ikut tes di Universitas ini. melangkah lagi ke turnamen piala dunia 2010, adalagi kejutan yang menghampiriku. 

Di tahun itu pula aku berhasil meraih gelar sarjana di kampusku, aku sedikit amat merasa takjub karena kalau mau jujur, aku menggarap skripsiku tidak begitu serius dan bahkan aku menggarapnya hanya beberapa bulan sedangkan kawanku yang lain butuh waktu lama untuk menyelesaikan skripsi mereka. Mungkin ini juga berkah dari helatan piala dunia.

Menjelang perhelatan piala dunia 2014, aku berharap ada lagi momen yang bahagia menyapaku, aku tak mau muluk-muluk, hanya berharap hal yang baik menyapaku di tahun depan saat tahun di mana piala dunia kembali digelar.

Menantikan kejutan-kejutan lain dalam hidupku yang bertepatan dengan turnamen piala dunia dan semoga saja kejutannya adalah kejutan indah seperti yang telah berlalu di tahun-tahun sebelumnya.

NB. Semoga juga Italia juara piala dunia lagi

Desember Menyapa

Aku sebenarnya bukan pribadi yang terlalu puitis tentang setiap bulan dal kalender masehi yang terlewati namun ada saja orang yang mengabadikan setiap kisah perjalanan mereka dalam setiap bulannya yang dibingkai dalam tulisan puisi, cerita ataupun prosa, entah itu tentang november yang basah. 

Desember menjelang pergantian Tahun ataupun januari yang ceria. Perjalanan setiap bulan hanya kulewati dengan cara-cara yang biasa tanpa berusaha menggoreskan warna yang puitis seperti kebanyakan orang yang sedang dilanda romansa.

Seringkali membaca banyak tulisan tentang desember akhirnya menggugah juga minatku untuk menulis tentang desember yang basah. Musim hujan yang datang di awal November membuat desember menjadi semakin basah. Desember sebenarnya juga meninggalkan berbagai kenangan yang tidak bisa begitu saja kulupakan. 

Desember adalah bulan yang menjadi bukti akan penghianatan seorang gadis yang pernah singgah di jiwaku, aku sama sekali tidak menyalahkan desember namun mengingatnya selalu saja mengungkit pesihku terhadap gadis tiga huruf yang telah mencampakkanku di desember tahun lalu. Dia membuat desember menjadi bulan kelabu buatku. 

Bahkan disaat begitu banyak manusia menggoreskan romansa di bulan ini, aku harus menerima kenyataan bahwa dia meninggalkanku tepat di bulan desember menjelang pergantian tahun.

 

December 6, 2013

Siapa Mereka

aku ingin keluar mencari angin segar, tepat di persimpangan jalan raya, seorang gadis dengan rambut panjang menegur dan menganggap aku teman lamanya. Sesat kemudian aku terperangah dengan sikapnya yang seolah sangat akrab denganku, aku mencoba mengingat semua perempuan yang pernah kutemui di sudut kota namun tak satupun bayangan gadis di depanku muncul dalam memoriku. 

Ingin kulanjutkan perjalananku namun dia tetap bersikukuh bahwa aku adalah teman lamanya, mana mungkin aku menjadi amnesia dan tiba-tiba melupakan teman lama seandainya saja benar bahwa kami pernah berteman di suatu waktu.

Saat akan beranjak dari tempatku sekarang mencari warung untuk mengisi perutku yang sudah keroncongan. Seorang kakek renta menyapaku dan menganggap bahwa aku adalah cucunya. Aku terperangah mengingat kakekku sudah lama almarhum dan kenapa tiba-tiba ada seorang kakek yang menganggap bahwa aku ini adalah cucunya. 

Mana mungkin kataku. Mata kami jelas sangat berbeda, kulit kami pun sangat jauh bahwa bentuk hidung kami sama sekali tak ada mirip-miripnya. Lalu siapa kakek ini. Atau mungkin saja dia yang amnesia namun kenapa dia begitu yakin bahwa aku ini adalah cucunya.

Aku ingin pergi ke stasiun kereta. Seorang ibu paruh baya langsung merangkulku dan menangis sejadi-jadinya dan dengan terisak-isak mengatakan bahwa anaknya yang sudah lama hilang kini telah ditemukan, ternyata ibu ini menganggap aku ini anaknya namun mana mungkin dia adalah ibuku. 

Aku sangat yakin setiap gerak gerik ibuku, semua apa yang melekat di dirinya bahkan hanya melalui baunya aku tahu ibuku namun kenapa ibu paruh baya ini tiba-tiba saja dengan yakin mengatakan bahwa aku ini anaknya.


Ironi Senja

pernahkah langit meninggalkan bulan ketika bulan enggan bersinar,,
atau pernahkah tanah membenci hujan ketika sekian lama dia tidak turun,,
atau dengan malam yang mengganti senja dan tergantikan oleh pagi,,
sama sekali tidak,,
namun kamu,,
tidak seperi mereka,
engkau pergi dengan alasan aku tak hirau
meski engkau tahu
aku selalu disini untukmu

Tentang Ayahku

Semalam, aku menelpon keluargaku di pulau nun jauh di sana, seperti biasa, aku bergiliran bercerita dengan kakakku ibuku dan juga ayahku. Tidak hal yang istimewa sebenarnya karena kebiasaan menelpon mereka di akhir pekan memang menjadi rutinitas. Sampai saat ayahku tiba-tiba berkata dengan sangat sentimental dan mungkin ini percakapan kami selama ini yang paling sentimental. Tiba-tiba saja ayahku mengucapkan minta maaf tentang semua dosanya dimasa lalu barangkali dia pernah memarahiku atau pun memukulku. 

Dia kemudian melanjutkan bahwa jarak kami yang jauh mengharuskan setiap saat untuk saling memaafkan karena ajal tidak ada yang tahu. Semua perkataannya semalam malah membuat ku semakin merasa bersalah karena seharusnya bukan ayahku yang meminta maaf tetapi akulah yang harusnya meminta maaf beribu kali terhadapnya. Perkara di masa lampu dia pernah marah terhadapku, memang tugasnya dia sebagai ayah memarahiku saat aku khilaf.

Sesaat setelah percakapan berlangsung agak lama, ternyata dia punya alasan kenapa kami harus saling memaafkan setiap waktu karena sehari sebelumnya, dia menjenguk om ayahku yang berarti kakekku karena sudah beberapa hari sakit. Saat itu ayahku masih sempat berbicara dengan kakekku sambil menanyakan keadaannya kemudian mereka saling memaafkan atas khilaf yang mungkin saja diperbuat dimasa lalu yang tidak disengaja. 

Selang beberapa menit, kakekku langsung roboh menjelang sakaratul maut sampai paginya sekitar jam 6, dia di panggil ke hadirat sang Maha Kuasa. Pengalaman itu ternyata yang membuat ayahku semakin percaya bahwa ajal benar-benar tidak bisa diprediksi kapan datangnya uang yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan meminimalisir khilaf.

kemudian ayahku melanjutkan berbagai pengalaman yang pernah dia temui. Beberapa tahun lalu, kakek ayahku adalah seorang guru ngaji di kampung sebelah, setiap senja, dia berangkat mengajar di kampung tersebut dan saat pulang, selalu saja dia dibekali nasi atau makanan, entah itu dari muridnya atau mungkin dari penduduk kampung yang mungkin merasa ingin membalas jasanya. 

Mungkin sekilas tak ada yg salah dengan kakek buyutku karena dia tidak mencuri dan murni pemberian orang lain. Secara indrawi seperti itu namun cerita yang lebih menarik diutarakan ayahku tentang kakek buyutku ketika menjelang ajalnya dan bergumul dengan perihnya sakaratul maut. 

Setiap saat beliau berteriak mabanda',,mabanda',,mabanda'...!!! Dalam bahasa Indonesia berarti berat. Keluarga disampingnya lalu bertanya apa yang berat kek, beliau lalu menjawab ini nasi dan makanan-makanan berat dipikul. Dalam keadaan tidak sadar, beliau berkata seperti itu. Versi ayahku, fenomena itu kemungkinan besar berhubungan dengan kebiasaan beliau menerima pemberian makanan oleh murid-muridnya seusai mengajar mengaji.

Mungkin saja keliru tetapi ada banyak hal yang diceritakan ayahku tentang fenomena diatas, bisa saja kakek buyutku ketika akan berangkat mengajar ngaji niatnya tertuju pada pemberiaan makanan atau bahkan ada diantara murid-muridnya yang sebenarnya berat memberikan makanan hanya karena merasa berhutang budi sehingga dia tetap memberikan makanan meski pada kenyataannya mereka lebih membutuhkan makanan tersebut.

Hidup memang tentang hari dan keikhlasan. Ketika niat hati sudah bergeser saat akan melakukan sesuatu maka semestinya semua akan berubah seperti niat dalam hati. Gerakan tubuh hanyalah indrawi yang menipu dan yang paling mendasar dalam melakukan segala sesuatu adalah niat kita, seperti apa niat kita ketika membantu orang lain, apakah kita pamrih atau benar-benar tulus dalam membantu.

Suatu kali saat aku masih lolos dan belum tahu apa-apa, ayahku pernah berkata bahwa "Puang Allah Taala itu mangpenawa". Kurang lebih dalam bahasa indonesia berarti Tuhan itu melihat hati tidak melihat tindakan kita karena seungguhnya semua terlihat oleh Tuhan dan hati menjadi hal yang paling inti dalam berkehidupan.

Sesungguhnya ketika kita mengharapkan sesuatu selain ridha Allah dalam bertindak maka ketika sudah terjebak dalam niat yang keliru bahkan ketika shalat pun kita tidak boleh meniatkan mendapat pahala atau masuk surga, shalat dan ibadah lain kita kerjakan karena mengharapkan ridha Allah dan itulah puncak dari semua keinginan yang harusnya kita niatkan.

Mencoba Mengenal Diri

Dalam setiap perjalanan kehidupan, manusia selalu melewati setiap tikungan, jalan berlubang bahkan setapak yang berbatu. Seni kehidupan manusia selalu saja dibumbui dengan masalah dan khilaf, entah itu yang disengaja maupun yang terjadi di luar kuasa kita. 

Tidak ada yang bisa menghindari masalah kehidupan bahkan ingin berlari ke ujung langit pun akan tetap berujung pada masalah-masalah baru yang akan dihadapi. Begitu pun adanya dengan beribu khilaf yang diperbuat, selalu saja ada hal yang membuat kita tidak kuasa menahan diri berbuat khilaf kecuali diri kita sendiri. 

Memang benar apa yang disabdakan Rasulullah bahwa "perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu. Diri ini adalah mikro kosmos yang menyimpan semua hal yang kita butuhkan. Selalu dalam beberapa tulisanku bahwa jangan pernah jauh dari diri karena itu akan membuatmu tersesat. 

Tak perlu pula mencari kebahagiaan dari luar karena hakekat kebahagiaan ada dalam diri tinggal bagaimana kita menata hati dan menyenangi semua hal tentang hidup kita maka kebahagiaan akan tercipta. "siapa yang mengenal dirinya pasti akan mengenal Tuhannya". Kalau tidak keliru hadits qudtsi ini benar -benar sangat dalam maknanya dan benarlah bahwa pengenalan terhadap diri sendiri lebih dari segalanya.

Bagaimana kita mengenal semua aspek tentang diri kita tanpa ada tendensi dari luar misalnya mengenal ego kita supaya kita mampu mengendalikannya, mengenal apa yang benar-benar kita butuhkan sehingga kita terarah untuk mencapainya dan yang lebih utama mengenal visi hidup kita. Terkadang orang yang tidak mengenal dirinya dan terlalu dipengaruhi oleh hal-hal dari luar dirinya maka dia akan menjadi plin plan tanpa arah.

Hidup juga selalu dipenuhi dengan pelajaran yang sifatnya maknawi. Bahwa dalam setiap langkah yang kita ayun, pasti ada pelajaran hidup yang termaktub didalamnya tinggal bagaimana kita memaknai namun terkadang yang paling sulit dari manusia adalah mreka selalu memaknai apa saja dengan perhitungan untung rugi, mreka tidak pernah berusaha memaknai lebih dalam lagi karena sejatinya bahwa hidup itu bukan tentang untung rugi namun tentang bermanfaat untung semesta. Terlalu naif memang mengatakan kita tidak peduli terhadap kepentingan kita namun itu juga buka segalanya. Hidup adalah sebuah perjalabnan yang menyenangkan.

Perkara hidup juga tidak melulu perkara indrawi dalam artian bahwa hidup yang kita jalani saat itu intinya terletak dari hati yang merasakan bukan segalanya dari apa yang indrawi karena sering kali yang indrawi itu yang menipu. Hati adalah kunci bagaimana mengejar kebahagiaan sejati karena tanpa itu semua akan menjadi kewenangan semu yang benar-benar akan lenyap dalam hitungan detik. Kelimpahan harta hanyalah kesenangan indrawi sesaat.

December 5, 2013

Momen Itu

Ada beberapa momen yang mungkin akan selalu kuingat di kota ini, momen itu terjadi minggu lalu secara bersamaan. Aku juga sampai sekarang belum bisa menerjemahkan apa yang menjadi hikmah dibalik kejadian itu yang pastinya bahwa kedua momen tersebut melukiskan pengalaman hidupku di masa yang akan datang entah hanya akan menjadi cerita nostalgia ataupun akan menjadi pelajaran berharga buat perjalanan hidupku. Aku selalu yakin bahwa di setiap kejadian yang aku lalui, selalu terselip makna dari Sang Ilahi untuk menjadikan kita lebih dewasa.

Momen pertama adalah tentang pembayaran dari salah satu sekolah yg tidak mau membayar tagihan sekitar 4 juta. Jelas itu membuatku shock karena jumlah uang seperti itu sangat besar dengan ukuran aku yang hanya pegawai swasta rendahan yg masih mengandalkan angkringan sebagai sandaran hidupku dan ketika harus nombok sejumlah uang sebanyak itu jelas saja membuatku shock berat bahkan hampir sejam lamanya aku mengemis di ruang ks untuk diringankan, dalam perjalanan pulang dari sekolah itu.

Kadang ku mencaci tapi kadang pula aku pasrah akhirnya kuberhenti di sebuah mesjid sidolaju dan menenangkan diri. Aku melaksanakan shalat zuhur kemudian memanjatkan satu doa saat itu semoga saja diberi jalan keluar sari masalah ini.sesaat kemudian, aku mulai tenang dan menuju jalan pulang, kuutarakan semua permasalahan ini kepada bosku, aku meminta pendapat nya dan kami sepakat mencari ganti dari TR sekolah lain. Saat kutulis masalah ini, semua sudah kelar..

Momen kedua pas setelah masalah itu. Cerita berawal ketika aku sering makan di warung yg sering kami sebut WTS (warung tengah sawah). Pemilik warung tersebut sepasang suami isteri. Aku dan teman2 kerjaku senang jajan di sana karena selain dekat dengan kantor suasananya di tengah sawah semakin membuat kami kerasan berlama-lama ngopi diwarung tersebut. Saat pagi sampai senja, isterinya yg jaga di warung dan saat malam sampai larut, bapaknya yg jaga.

Kembali ke masalah tadi, pagi sebelum masuk kerja, aku seringkali ke warung itu hanya sekedar ngopi dan makan jajan. Hari itu, saat senja, aku dan kedua temanku ngopi di warung tersebut, alangkah kagetnya aku ketika isteri pemilik warung tersebut mengomeli ku bahwa aku membayar kurang jajan yang aku makan setiap aku makan disana dan yg lebih parahnya lagi, aku dituduh merokok namun tidak membayar rokok tersebut sedangkan seingatku, terakhir aku mencoba menjadi perokok tahun 2005 silam. Aku terperangah dan hanya diam membisu sambil sesekali mengklarifikasi meski akhirnya ibu itu tidak mau tau dan tetap menuduhku seperti itu.

Akupun berlalu. Walau kutahu suaminya sangat baik kepadaku dan tetap mengajakku ke warung nya setelah mengetahui peristiwa itu. Aku hanya mengelus dada sambil berprasangka bahwa mungkin saja ada khilaf yg kuperbuat yg harus di balas seperti ini.

hpku lobet, continued....