December 7, 2013

Piala Dunia

Jarang sekali aku menghubungkan peristiwa hidupku dengan kejadian di luar. Aku mungkin salah satu orang yang tidak pernah percaya sama yang namanya kebetulan. Seperti pemain arsenal, Aron Ramsey ketika mencetak gol maka selalu saja ada orang populer di dunia yang akan menjemput ajalnya. 

Aku sama sekali tidak percaya dengan hal seperti itu namun akhirnya aku juga harus menghubungkan periodik hidupku dengan turnamen piala dunia yang digelar 4 sekali dan aku menyadari bahwa selalu saja ada hal-hal tak terduga yang aku jumpai dalam hidupku dalam periode 4 tahun, bahkan momennya selalu hampir bertepatan dengan helatan piala dunia. Momen yang selalu bertepatan dengan piala dunia sering kali momen yang menjadi start awal dari hidupku.

Momen piala dunia 2002 menandakan aku akan menjalani hidupku sebagai siswa SMA, mungkin kedengaran biasa-biasa saja namun tetap saja aku menganggap sebuah awal. Empat tahun berikutnya pada helatan piala dunia 2006, aku baru saja diterima sebagai salah satu mahasiswa di kota asalku, Universitas terbesar di wilayah tersebut yang menjadi favorit. 

Sebenarnya ini juga kedengaran amat sangat tidak berkaitan namun aku masih berpikir bahwa kenapa bisa tahun 2006 saat aku baru bisa diterima di Universitas ini padahal sebelumnya pada tahun 2005, aku sudah ikut tes di Universitas ini. melangkah lagi ke turnamen piala dunia 2010, adalagi kejutan yang menghampiriku. 

Di tahun itu pula aku berhasil meraih gelar sarjana di kampusku, aku sedikit amat merasa takjub karena kalau mau jujur, aku menggarap skripsiku tidak begitu serius dan bahkan aku menggarapnya hanya beberapa bulan sedangkan kawanku yang lain butuh waktu lama untuk menyelesaikan skripsi mereka. Mungkin ini juga berkah dari helatan piala dunia.

Menjelang perhelatan piala dunia 2014, aku berharap ada lagi momen yang bahagia menyapaku, aku tak mau muluk-muluk, hanya berharap hal yang baik menyapaku di tahun depan saat tahun di mana piala dunia kembali digelar.

Menantikan kejutan-kejutan lain dalam hidupku yang bertepatan dengan turnamen piala dunia dan semoga saja kejutannya adalah kejutan indah seperti yang telah berlalu di tahun-tahun sebelumnya.

NB. Semoga juga Italia juara piala dunia lagi

Desember Menyapa

Aku sebenarnya bukan pribadi yang terlalu puitis tentang setiap bulan dal kalender masehi yang terlewati namun ada saja orang yang mengabadikan setiap kisah perjalanan mereka dalam setiap bulannya yang dibingkai dalam tulisan puisi, cerita ataupun prosa, entah itu tentang november yang basah. 

Desember menjelang pergantian Tahun ataupun januari yang ceria. Perjalanan setiap bulan hanya kulewati dengan cara-cara yang biasa tanpa berusaha menggoreskan warna yang puitis seperti kebanyakan orang yang sedang dilanda romansa.

Seringkali membaca banyak tulisan tentang desember akhirnya menggugah juga minatku untuk menulis tentang desember yang basah. Musim hujan yang datang di awal November membuat desember menjadi semakin basah. Desember sebenarnya juga meninggalkan berbagai kenangan yang tidak bisa begitu saja kulupakan. 

Desember adalah bulan yang menjadi bukti akan penghianatan seorang gadis yang pernah singgah di jiwaku, aku sama sekali tidak menyalahkan desember namun mengingatnya selalu saja mengungkit pesihku terhadap gadis tiga huruf yang telah mencampakkanku di desember tahun lalu. Dia membuat desember menjadi bulan kelabu buatku. 

Bahkan disaat begitu banyak manusia menggoreskan romansa di bulan ini, aku harus menerima kenyataan bahwa dia meninggalkanku tepat di bulan desember menjelang pergantian tahun.

 

December 6, 2013

Siapa Mereka

aku ingin keluar mencari angin segar, tepat di persimpangan jalan raya, seorang gadis dengan rambut panjang menegur dan menganggap aku teman lamanya. Sesat kemudian aku terperangah dengan sikapnya yang seolah sangat akrab denganku, aku mencoba mengingat semua perempuan yang pernah kutemui di sudut kota namun tak satupun bayangan gadis di depanku muncul dalam memoriku. 

Ingin kulanjutkan perjalananku namun dia tetap bersikukuh bahwa aku adalah teman lamanya, mana mungkin aku menjadi amnesia dan tiba-tiba melupakan teman lama seandainya saja benar bahwa kami pernah berteman di suatu waktu.

Saat akan beranjak dari tempatku sekarang mencari warung untuk mengisi perutku yang sudah keroncongan. Seorang kakek renta menyapaku dan menganggap bahwa aku adalah cucunya. Aku terperangah mengingat kakekku sudah lama almarhum dan kenapa tiba-tiba ada seorang kakek yang menganggap bahwa aku ini adalah cucunya. 

Mana mungkin kataku. Mata kami jelas sangat berbeda, kulit kami pun sangat jauh bahwa bentuk hidung kami sama sekali tak ada mirip-miripnya. Lalu siapa kakek ini. Atau mungkin saja dia yang amnesia namun kenapa dia begitu yakin bahwa aku ini adalah cucunya.

Aku ingin pergi ke stasiun kereta. Seorang ibu paruh baya langsung merangkulku dan menangis sejadi-jadinya dan dengan terisak-isak mengatakan bahwa anaknya yang sudah lama hilang kini telah ditemukan, ternyata ibu ini menganggap aku ini anaknya namun mana mungkin dia adalah ibuku. 

Aku sangat yakin setiap gerak gerik ibuku, semua apa yang melekat di dirinya bahkan hanya melalui baunya aku tahu ibuku namun kenapa ibu paruh baya ini tiba-tiba saja dengan yakin mengatakan bahwa aku ini anaknya.


Ironi Senja

pernahkah langit meninggalkan bulan ketika bulan enggan bersinar,,
atau pernahkah tanah membenci hujan ketika sekian lama dia tidak turun,,
atau dengan malam yang mengganti senja dan tergantikan oleh pagi,,
sama sekali tidak,,
namun kamu,,
tidak seperi mereka,
engkau pergi dengan alasan aku tak hirau
meski engkau tahu
aku selalu disini untukmu

Tentang Ayahku

Semalam, aku menelpon keluargaku di pulau nun jauh di sana, seperti biasa, aku bergiliran bercerita dengan kakakku ibuku dan juga ayahku. Tidak hal yang istimewa sebenarnya karena kebiasaan menelpon mereka di akhir pekan memang menjadi rutinitas. Sampai saat ayahku tiba-tiba berkata dengan sangat sentimental dan mungkin ini percakapan kami selama ini yang paling sentimental. Tiba-tiba saja ayahku mengucapkan minta maaf tentang semua dosanya dimasa lalu barangkali dia pernah memarahiku atau pun memukulku. 

Dia kemudian melanjutkan bahwa jarak kami yang jauh mengharuskan setiap saat untuk saling memaafkan karena ajal tidak ada yang tahu. Semua perkataannya semalam malah membuat ku semakin merasa bersalah karena seharusnya bukan ayahku yang meminta maaf tetapi akulah yang harusnya meminta maaf beribu kali terhadapnya. Perkara di masa lampu dia pernah marah terhadapku, memang tugasnya dia sebagai ayah memarahiku saat aku khilaf.

Sesaat setelah percakapan berlangsung agak lama, ternyata dia punya alasan kenapa kami harus saling memaafkan setiap waktu karena sehari sebelumnya, dia menjenguk om ayahku yang berarti kakekku karena sudah beberapa hari sakit. Saat itu ayahku masih sempat berbicara dengan kakekku sambil menanyakan keadaannya kemudian mereka saling memaafkan atas khilaf yang mungkin saja diperbuat dimasa lalu yang tidak disengaja. 

Selang beberapa menit, kakekku langsung roboh menjelang sakaratul maut sampai paginya sekitar jam 6, dia di panggil ke hadirat sang Maha Kuasa. Pengalaman itu ternyata yang membuat ayahku semakin percaya bahwa ajal benar-benar tidak bisa diprediksi kapan datangnya uang yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan meminimalisir khilaf.

kemudian ayahku melanjutkan berbagai pengalaman yang pernah dia temui. Beberapa tahun lalu, kakek ayahku adalah seorang guru ngaji di kampung sebelah, setiap senja, dia berangkat mengajar di kampung tersebut dan saat pulang, selalu saja dia dibekali nasi atau makanan, entah itu dari muridnya atau mungkin dari penduduk kampung yang mungkin merasa ingin membalas jasanya. 

Mungkin sekilas tak ada yg salah dengan kakek buyutku karena dia tidak mencuri dan murni pemberian orang lain. Secara indrawi seperti itu namun cerita yang lebih menarik diutarakan ayahku tentang kakek buyutku ketika menjelang ajalnya dan bergumul dengan perihnya sakaratul maut. 

Setiap saat beliau berteriak mabanda',,mabanda',,mabanda'...!!! Dalam bahasa Indonesia berarti berat. Keluarga disampingnya lalu bertanya apa yang berat kek, beliau lalu menjawab ini nasi dan makanan-makanan berat dipikul. Dalam keadaan tidak sadar, beliau berkata seperti itu. Versi ayahku, fenomena itu kemungkinan besar berhubungan dengan kebiasaan beliau menerima pemberian makanan oleh murid-muridnya seusai mengajar mengaji.

Mungkin saja keliru tetapi ada banyak hal yang diceritakan ayahku tentang fenomena diatas, bisa saja kakek buyutku ketika akan berangkat mengajar ngaji niatnya tertuju pada pemberiaan makanan atau bahkan ada diantara murid-muridnya yang sebenarnya berat memberikan makanan hanya karena merasa berhutang budi sehingga dia tetap memberikan makanan meski pada kenyataannya mereka lebih membutuhkan makanan tersebut.

Hidup memang tentang hari dan keikhlasan. Ketika niat hati sudah bergeser saat akan melakukan sesuatu maka semestinya semua akan berubah seperti niat dalam hati. Gerakan tubuh hanyalah indrawi yang menipu dan yang paling mendasar dalam melakukan segala sesuatu adalah niat kita, seperti apa niat kita ketika membantu orang lain, apakah kita pamrih atau benar-benar tulus dalam membantu.

Suatu kali saat aku masih lolos dan belum tahu apa-apa, ayahku pernah berkata bahwa "Puang Allah Taala itu mangpenawa". Kurang lebih dalam bahasa indonesia berarti Tuhan itu melihat hati tidak melihat tindakan kita karena seungguhnya semua terlihat oleh Tuhan dan hati menjadi hal yang paling inti dalam berkehidupan.

Sesungguhnya ketika kita mengharapkan sesuatu selain ridha Allah dalam bertindak maka ketika sudah terjebak dalam niat yang keliru bahkan ketika shalat pun kita tidak boleh meniatkan mendapat pahala atau masuk surga, shalat dan ibadah lain kita kerjakan karena mengharapkan ridha Allah dan itulah puncak dari semua keinginan yang harusnya kita niatkan.

Mencoba Mengenal Diri

Dalam setiap perjalanan kehidupan, manusia selalu melewati setiap tikungan, jalan berlubang bahkan setapak yang berbatu. Seni kehidupan manusia selalu saja dibumbui dengan masalah dan khilaf, entah itu yang disengaja maupun yang terjadi di luar kuasa kita. 

Tidak ada yang bisa menghindari masalah kehidupan bahkan ingin berlari ke ujung langit pun akan tetap berujung pada masalah-masalah baru yang akan dihadapi. Begitu pun adanya dengan beribu khilaf yang diperbuat, selalu saja ada hal yang membuat kita tidak kuasa menahan diri berbuat khilaf kecuali diri kita sendiri. 

Memang benar apa yang disabdakan Rasulullah bahwa "perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu. Diri ini adalah mikro kosmos yang menyimpan semua hal yang kita butuhkan. Selalu dalam beberapa tulisanku bahwa jangan pernah jauh dari diri karena itu akan membuatmu tersesat. 

Tak perlu pula mencari kebahagiaan dari luar karena hakekat kebahagiaan ada dalam diri tinggal bagaimana kita menata hati dan menyenangi semua hal tentang hidup kita maka kebahagiaan akan tercipta. "siapa yang mengenal dirinya pasti akan mengenal Tuhannya". Kalau tidak keliru hadits qudtsi ini benar -benar sangat dalam maknanya dan benarlah bahwa pengenalan terhadap diri sendiri lebih dari segalanya.

Bagaimana kita mengenal semua aspek tentang diri kita tanpa ada tendensi dari luar misalnya mengenal ego kita supaya kita mampu mengendalikannya, mengenal apa yang benar-benar kita butuhkan sehingga kita terarah untuk mencapainya dan yang lebih utama mengenal visi hidup kita. Terkadang orang yang tidak mengenal dirinya dan terlalu dipengaruhi oleh hal-hal dari luar dirinya maka dia akan menjadi plin plan tanpa arah.

Hidup juga selalu dipenuhi dengan pelajaran yang sifatnya maknawi. Bahwa dalam setiap langkah yang kita ayun, pasti ada pelajaran hidup yang termaktub didalamnya tinggal bagaimana kita memaknai namun terkadang yang paling sulit dari manusia adalah mreka selalu memaknai apa saja dengan perhitungan untung rugi, mreka tidak pernah berusaha memaknai lebih dalam lagi karena sejatinya bahwa hidup itu bukan tentang untung rugi namun tentang bermanfaat untung semesta. Terlalu naif memang mengatakan kita tidak peduli terhadap kepentingan kita namun itu juga buka segalanya. Hidup adalah sebuah perjalabnan yang menyenangkan.

Perkara hidup juga tidak melulu perkara indrawi dalam artian bahwa hidup yang kita jalani saat itu intinya terletak dari hati yang merasakan bukan segalanya dari apa yang indrawi karena sering kali yang indrawi itu yang menipu. Hati adalah kunci bagaimana mengejar kebahagiaan sejati karena tanpa itu semua akan menjadi kewenangan semu yang benar-benar akan lenyap dalam hitungan detik. Kelimpahan harta hanyalah kesenangan indrawi sesaat.

December 5, 2013

Momen Itu

Ada beberapa momen yang mungkin akan selalu kuingat di kota ini, momen itu terjadi minggu lalu secara bersamaan. Aku juga sampai sekarang belum bisa menerjemahkan apa yang menjadi hikmah dibalik kejadian itu yang pastinya bahwa kedua momen tersebut melukiskan pengalaman hidupku di masa yang akan datang entah hanya akan menjadi cerita nostalgia ataupun akan menjadi pelajaran berharga buat perjalanan hidupku. Aku selalu yakin bahwa di setiap kejadian yang aku lalui, selalu terselip makna dari Sang Ilahi untuk menjadikan kita lebih dewasa.

Momen pertama adalah tentang pembayaran dari salah satu sekolah yg tidak mau membayar tagihan sekitar 4 juta. Jelas itu membuatku shock karena jumlah uang seperti itu sangat besar dengan ukuran aku yang hanya pegawai swasta rendahan yg masih mengandalkan angkringan sebagai sandaran hidupku dan ketika harus nombok sejumlah uang sebanyak itu jelas saja membuatku shock berat bahkan hampir sejam lamanya aku mengemis di ruang ks untuk diringankan, dalam perjalanan pulang dari sekolah itu.

Kadang ku mencaci tapi kadang pula aku pasrah akhirnya kuberhenti di sebuah mesjid sidolaju dan menenangkan diri. Aku melaksanakan shalat zuhur kemudian memanjatkan satu doa saat itu semoga saja diberi jalan keluar sari masalah ini.sesaat kemudian, aku mulai tenang dan menuju jalan pulang, kuutarakan semua permasalahan ini kepada bosku, aku meminta pendapat nya dan kami sepakat mencari ganti dari TR sekolah lain. Saat kutulis masalah ini, semua sudah kelar..

Momen kedua pas setelah masalah itu. Cerita berawal ketika aku sering makan di warung yg sering kami sebut WTS (warung tengah sawah). Pemilik warung tersebut sepasang suami isteri. Aku dan teman2 kerjaku senang jajan di sana karena selain dekat dengan kantor suasananya di tengah sawah semakin membuat kami kerasan berlama-lama ngopi diwarung tersebut. Saat pagi sampai senja, isterinya yg jaga di warung dan saat malam sampai larut, bapaknya yg jaga.

Kembali ke masalah tadi, pagi sebelum masuk kerja, aku seringkali ke warung itu hanya sekedar ngopi dan makan jajan. Hari itu, saat senja, aku dan kedua temanku ngopi di warung tersebut, alangkah kagetnya aku ketika isteri pemilik warung tersebut mengomeli ku bahwa aku membayar kurang jajan yang aku makan setiap aku makan disana dan yg lebih parahnya lagi, aku dituduh merokok namun tidak membayar rokok tersebut sedangkan seingatku, terakhir aku mencoba menjadi perokok tahun 2005 silam. Aku terperangah dan hanya diam membisu sambil sesekali mengklarifikasi meski akhirnya ibu itu tidak mau tau dan tetap menuduhku seperti itu.

Akupun berlalu. Walau kutahu suaminya sangat baik kepadaku dan tetap mengajakku ke warung nya setelah mengetahui peristiwa itu. Aku hanya mengelus dada sambil berprasangka bahwa mungkin saja ada khilaf yg kuperbuat yg harus di balas seperti ini.

hpku lobet, continued....

December 4, 2013

Menulislah

Ini mungkin adalah tulisan abal-abal di bogku. Hasrat menulisku benar-benar tidak tercurahkan karena keyboard pc rusak. Banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiranku yg ingin kutumpahkan dalam deretan tulisan namun wadah tlah membatasiku. Tulisan inipun kurangkai melalui hpku dengan susah payah mengetik seperti sms. Namun itulah hasratku untuk memenuhi blog ini dengan tulisan apaun, entah dengan kata yang tak beraturan, makna yang bias atau apapun yang nantinya akan termuat dalam tulisanku ini. Semua hanyalah desiran angin yg menerpa namun takkan pernah meruntuhkan niatku memenuhi blogku ini sampai tulisan yg ke-1000.

saat aku mulai layu dalam menulis,selalu saja ada momen yg membangkitkan hasrat ku untuk menulis lagi, entah itu hujan, entah senja, malam yg gelap atau apapun yg seringkali menjelma memenuhi rongga otakku menjadi ide-ide yg harus segera kutuntaskan menjadi tulisan agar tidak mengendap menjadi tulisan basi di dalam pikiranku. Ide hanyalah prioritas kesekian dari aktivitas menulis ku. Hal yang utama adalah hasratku untuk menulis tetap terjaga karena salah satu kekhawatiran terbesarku adalah matinya libido menulis ku yg sudah kupupuk sejak lama seperti matinya hasrat membacaku sejak terlalu sibuk akhir2 ini.

November 11, 2013

Sepasang Pengamen

Aku mungkin salah satu orang yang selalu saja memperhatikan setiap tingkah orang saat aku berada di kerumunan khalayak. Bukan apa, aku hanya mencari inspirasi yang kemudian kutuangkan diruang blogku ini. Seperti halnya kemarin saat siang menyengat. aku membelah panas terik ke surabaya. Seperti saat aku berangkat, aku selalu menunggu kedatangan bis MIRA atau SR yang lewat di terminal kota ini. dua bis itu kupilih karena menurutku sesuai dengan isi kantongku meski kutahu sopirnya begitu ugal-ugalan.

Seperti kebiasaanku yang lalu, saat di bis, setiap orang kupandangi dan mulailah otakku berpikir lalu membatin tentang semua orang yang disampingku. satu hal yang tak terlewatkan saat di atas bis adalah berbagai rupa pengamen yang silih berganti naik di setiap persinggahan terminal meski mereka tahu bahwa sudah berapa kali bis itu dinaiki pengamen lainnya namun mereka tetap saja nekat demi mengisi perut hari ini. pengamen memang punya hidup sendiri yang sangat misteri. 

Ada yang beda dengan pengamen disini dengan di makassar sana. mayoritas pengamen disini orasi sebelum dan sesudah menyanyi dan intinya adalah meminta belas kasihan penumpang agar diberi sedikit dari rejeki mereka.

Siang itu setelah melalui beberapa persinggahan terminal dan pra pengamen silih berganti naik mempertontonkan kemampuan mereka, sampai jugalah aku di jombang, tepat berada di lampu merah, bis berhenti dan seperti biasanya pengamen akan naik dan kali ini benar. 

Dua pengamen cewek dan cowok naik. sebenarnya tidak ada hal yang berbeda dari pengamen-pengamen lainnya namun kali ini, dua pengamen tersebut amat sangat necis dan inilah yang membedakan dengan pengamen lainnya yang berpenampilan urakan. sedikit berisik memang saat mereka naik bis dan mulai beraksi karena aku baru saja mulai merem dan lumayan mengganggu tidur siangku dengan suaranya yang cempreng namun wajah cewek si pengamen tersebut lumayan manis ditambah penampilannya yang resik membuat mataku tak bisa dipejam malah memandanginya sambil menikmati lagu jowo yang dibawakannya. lumayanlah untuk pemandangan sore ini.

semoga ketemu lain kali pengamen yang manis,,hehe

November 7, 2013

Janji Terpenuhi

aku tak suka dengan janjijanji yang diingkari
aku benarbenar tak suka
karena semesta tidak pernah ingkar
dia penuhi sabda yang tlah terucap
bahkan hujan pun tak pernah
dia datang membasahi bumi
pun adanya senja
dia selalu saja datang mengganti pagi
dan malam pun demikian
namun kenapa engkau
yang tlah berjanji
kemudian tak mencoba menepati
apakah engkau tidak ingin seperti hujan
atau senja bahkan malam
yang setia kepada ikrarnya
atau
pernahkah engkau mendapatiku ingkar
saat aku berjanji kepadamu
aku bahkan selalu saja menepati
aku akan diam
dengan hujan yang menemani
aku akan hening
tentangmu
biarlah engkau belajar
tentang diam dan heningku
dan aku tidak mengharap apaapa
dan aku
kan mencoba melupakan
semua kisah kita
cerita indah yang lalu


Lagi Tentangmu Ibu

Aku selalu saja tak kehabisan katakata untuk sekedar menulis buat wanita ini. mengingat saja wajahnya dengan sekilas lantas membangunkan inspirasi tentangnya untuk sekedar menulis apa yang kurasakan untuknya. ah, mungkin aku terlalu sentimental setiap kali harus menceritakan tentang wanita ini tentang bagaimana caranya menjalani hidupnya yang sederhana. setiap kali berusaha menggali ingatanku yang mulai pudar di masa lalu namun selalu saja gagal menemukan celah untuk tidak merindunya, berada dipelukannya atau bahkan hanya sekedar merebahkan kepalaku di pangkuannya kemudian dengan kasihnya membelai rambutku hingga ketenangan meresap jauh kedalam sanubariku dan itu yang selalu kurindu darinya.

Malam kemarin, aku menyempatkan meneleponnya dan tepat sekali dugaanku, dia menanyakan kenapa kali ini aku begitu jarang menyapanya lewat telepon. aku sama sekali tak berkata apa-apa hanya sedikit merasa bersalah telah melupakannya dalam minggu ini. 

Sepertinya semua perih terlupakan olehku saat mendengar suaranya, bercerita tentang harihariku disini, mengabarkan bahwa aku sehat-sehat saja dan hal penting kupinta kepadanya tadi malam bahwa semoga saja dia selalu berdoa agar aku tetap istiqomah dan tidak salah jalan bahkan terhindar dari dosa yang kurasa sangat sering kulakukan akhir-akhir ini. aku benar-benar futur ma.

Masih tentang pembicaraanku tadi malam dengan wanita ini. selalu saja banyak nasehat yang meluncur dari mulutnya saat bercakap denganku namun aku bahkan merasa nasehat yang sangat terasa hanya dengan mendengar suaranya yang dalam keadaan baik-baik saja. ada kata-kata yang sangat jarang dia ucapkan namun tadi malam akhirnya dia mengucapkan padaku "nak, engkau telah terbiasa menderita dalam kesusahan dan hal yang perlu engkau cari adalah kemudahan hidup". 

Begitulah kirakira apa yang dia ucapkan kepadaku tadi malam jika dikonversi kedalam bahasa nasional karena kami selalu saja menggunakan bahasa tanah kelahiran saaat berbicara apa saja.

Lagi tentangku ma, engkau wanita yang selalu saja menjadi orang yang paling kurindu. Aku bahkan sangat menyesal dengan berbagai khilaf yang kelewat batas telah aku lakukan hanya dengan mengingat wajahmu. aku sangat merasa bersalah menyia-nyiakan semua kepercayaan yang engkau bebankan kepadaku. aku tidak seperti dulu lagi yang menjaga apa yang seharusnya aku jaga. aku selalu saja khilaf dengan semua sensasi yang absurd.

dan terakhir, tetap doakan aku ma.
menjadi manusia lagi...!!!

November 6, 2013

Berhenti Bertobat

Mungkin ini adalah titik klimaks. Semua hal yang tabu buatku ternyata terbongkar dan melebur hanya karena debu diri yang tak tahu diri. bagaimana tidak, dia hanya datang sekejap menjegalku bagai drama sepakbola yang saling tekel kemudian menguap begitu saja ketika semua telah terjadi. 

Apa itu bukan namanya semu atau "absurditas", istilah yang sangat sering aku gunakan saat mahasiswa dulu. Aku bahkan harus menenggelamkan wajahku ditempat mana saja yang masih sudi menerimaku saat semua hal yang kubanggakan dan yang paling kujaga hancur berantakan bagai gelas yang jatuh ke ubin karena kesenggol bayi yang tak tahu apa-apa. menyesal...? 

Jangan dulu angkuh mengatakan bahwa diriku menyesal atau tobat tanpa ingin lari ke lubang yang sama karena seringkali aku menghindari lubang tersebut dan sesering itu pula tersandung ke dalamnya dan berteriak bahwa itu jalan yang salah namun lagi-lagi kembali terjerumus. 

Sudah hentikan berteriak kata tobat dan menyesal karena kata-kata adalah senjata mematikan yang akan menembakmu sendiri. sudah terlalu sering kata tobat itu menjadi amunisi penenang saat telah terjadi dan kemudian harus terulang lagi. benar-benar futur diri ini....!

November 5, 2013

Tahun Baru Islam

banyak pemandangan berbeda yang kusaksikan di pulau ini. banyak ritual yang kemudian sangat berbeda dengan tanah kelahiranku. aku baru menyadari bahwa ternyata memang begitu banyak hal yang diluar pengetahuanku. ada banyak hal yang mesti harus kupelajari. mungkin inilah yang dimaksud bahwa dalam hidup itu tidak ada kata berhenti belajar.

tepat tanggal 5 november 2013, bertepatan dengan tahun baru Hijriyah. di pulau ini, sangat ramai dirayakan dengan berbagai kegiatan dan ini adalah salah satu perbedaan di tanah kelahiranku, jarang sekali aku menyaksikan perayaan tahun baru islam seperti ini di kotaku sana. kemarin hari saat melintas di Paron dan jogorogo, begitu ramainya pawai menyambut tahun baru Islam.