December 6, 2013

Tentang Ayahku

Semalam, aku menelpon keluargaku di pulau nun jauh di sana, seperti biasa, aku bergiliran bercerita dengan kakakku ibuku dan juga ayahku. Tidak hal yang istimewa sebenarnya karena kebiasaan menelpon mereka di akhir pekan memang menjadi rutinitas. Sampai saat ayahku tiba-tiba berkata dengan sangat sentimental dan mungkin ini percakapan kami selama ini yang paling sentimental. Tiba-tiba saja ayahku mengucapkan minta maaf tentang semua dosanya dimasa lalu barangkali dia pernah memarahiku atau pun memukulku. 

Dia kemudian melanjutkan bahwa jarak kami yang jauh mengharuskan setiap saat untuk saling memaafkan karena ajal tidak ada yang tahu. Semua perkataannya semalam malah membuat ku semakin merasa bersalah karena seharusnya bukan ayahku yang meminta maaf tetapi akulah yang harusnya meminta maaf beribu kali terhadapnya. Perkara di masa lampu dia pernah marah terhadapku, memang tugasnya dia sebagai ayah memarahiku saat aku khilaf.

Sesaat setelah percakapan berlangsung agak lama, ternyata dia punya alasan kenapa kami harus saling memaafkan setiap waktu karena sehari sebelumnya, dia menjenguk om ayahku yang berarti kakekku karena sudah beberapa hari sakit. Saat itu ayahku masih sempat berbicara dengan kakekku sambil menanyakan keadaannya kemudian mereka saling memaafkan atas khilaf yang mungkin saja diperbuat dimasa lalu yang tidak disengaja. 

Selang beberapa menit, kakekku langsung roboh menjelang sakaratul maut sampai paginya sekitar jam 6, dia di panggil ke hadirat sang Maha Kuasa. Pengalaman itu ternyata yang membuat ayahku semakin percaya bahwa ajal benar-benar tidak bisa diprediksi kapan datangnya uang yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan meminimalisir khilaf.

kemudian ayahku melanjutkan berbagai pengalaman yang pernah dia temui. Beberapa tahun lalu, kakek ayahku adalah seorang guru ngaji di kampung sebelah, setiap senja, dia berangkat mengajar di kampung tersebut dan saat pulang, selalu saja dia dibekali nasi atau makanan, entah itu dari muridnya atau mungkin dari penduduk kampung yang mungkin merasa ingin membalas jasanya. 

Mungkin sekilas tak ada yg salah dengan kakek buyutku karena dia tidak mencuri dan murni pemberian orang lain. Secara indrawi seperti itu namun cerita yang lebih menarik diutarakan ayahku tentang kakek buyutku ketika menjelang ajalnya dan bergumul dengan perihnya sakaratul maut. 

Setiap saat beliau berteriak mabanda',,mabanda',,mabanda'...!!! Dalam bahasa Indonesia berarti berat. Keluarga disampingnya lalu bertanya apa yang berat kek, beliau lalu menjawab ini nasi dan makanan-makanan berat dipikul. Dalam keadaan tidak sadar, beliau berkata seperti itu. Versi ayahku, fenomena itu kemungkinan besar berhubungan dengan kebiasaan beliau menerima pemberian makanan oleh murid-muridnya seusai mengajar mengaji.

Mungkin saja keliru tetapi ada banyak hal yang diceritakan ayahku tentang fenomena diatas, bisa saja kakek buyutku ketika akan berangkat mengajar ngaji niatnya tertuju pada pemberiaan makanan atau bahkan ada diantara murid-muridnya yang sebenarnya berat memberikan makanan hanya karena merasa berhutang budi sehingga dia tetap memberikan makanan meski pada kenyataannya mereka lebih membutuhkan makanan tersebut.

Hidup memang tentang hari dan keikhlasan. Ketika niat hati sudah bergeser saat akan melakukan sesuatu maka semestinya semua akan berubah seperti niat dalam hati. Gerakan tubuh hanyalah indrawi yang menipu dan yang paling mendasar dalam melakukan segala sesuatu adalah niat kita, seperti apa niat kita ketika membantu orang lain, apakah kita pamrih atau benar-benar tulus dalam membantu.

Suatu kali saat aku masih lolos dan belum tahu apa-apa, ayahku pernah berkata bahwa "Puang Allah Taala itu mangpenawa". Kurang lebih dalam bahasa indonesia berarti Tuhan itu melihat hati tidak melihat tindakan kita karena seungguhnya semua terlihat oleh Tuhan dan hati menjadi hal yang paling inti dalam berkehidupan.

Sesungguhnya ketika kita mengharapkan sesuatu selain ridha Allah dalam bertindak maka ketika sudah terjebak dalam niat yang keliru bahkan ketika shalat pun kita tidak boleh meniatkan mendapat pahala atau masuk surga, shalat dan ibadah lain kita kerjakan karena mengharapkan ridha Allah dan itulah puncak dari semua keinginan yang harusnya kita niatkan.

Mencoba Mengenal Diri

Dalam setiap perjalanan kehidupan, manusia selalu melewati setiap tikungan, jalan berlubang bahkan setapak yang berbatu. Seni kehidupan manusia selalu saja dibumbui dengan masalah dan khilaf, entah itu yang disengaja maupun yang terjadi di luar kuasa kita. 

Tidak ada yang bisa menghindari masalah kehidupan bahkan ingin berlari ke ujung langit pun akan tetap berujung pada masalah-masalah baru yang akan dihadapi. Begitu pun adanya dengan beribu khilaf yang diperbuat, selalu saja ada hal yang membuat kita tidak kuasa menahan diri berbuat khilaf kecuali diri kita sendiri. 

Memang benar apa yang disabdakan Rasulullah bahwa "perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu. Diri ini adalah mikro kosmos yang menyimpan semua hal yang kita butuhkan. Selalu dalam beberapa tulisanku bahwa jangan pernah jauh dari diri karena itu akan membuatmu tersesat. 

Tak perlu pula mencari kebahagiaan dari luar karena hakekat kebahagiaan ada dalam diri tinggal bagaimana kita menata hati dan menyenangi semua hal tentang hidup kita maka kebahagiaan akan tercipta. "siapa yang mengenal dirinya pasti akan mengenal Tuhannya". Kalau tidak keliru hadits qudtsi ini benar -benar sangat dalam maknanya dan benarlah bahwa pengenalan terhadap diri sendiri lebih dari segalanya.

Bagaimana kita mengenal semua aspek tentang diri kita tanpa ada tendensi dari luar misalnya mengenal ego kita supaya kita mampu mengendalikannya, mengenal apa yang benar-benar kita butuhkan sehingga kita terarah untuk mencapainya dan yang lebih utama mengenal visi hidup kita. Terkadang orang yang tidak mengenal dirinya dan terlalu dipengaruhi oleh hal-hal dari luar dirinya maka dia akan menjadi plin plan tanpa arah.

Hidup juga selalu dipenuhi dengan pelajaran yang sifatnya maknawi. Bahwa dalam setiap langkah yang kita ayun, pasti ada pelajaran hidup yang termaktub didalamnya tinggal bagaimana kita memaknai namun terkadang yang paling sulit dari manusia adalah mreka selalu memaknai apa saja dengan perhitungan untung rugi, mreka tidak pernah berusaha memaknai lebih dalam lagi karena sejatinya bahwa hidup itu bukan tentang untung rugi namun tentang bermanfaat untung semesta. Terlalu naif memang mengatakan kita tidak peduli terhadap kepentingan kita namun itu juga buka segalanya. Hidup adalah sebuah perjalabnan yang menyenangkan.

Perkara hidup juga tidak melulu perkara indrawi dalam artian bahwa hidup yang kita jalani saat itu intinya terletak dari hati yang merasakan bukan segalanya dari apa yang indrawi karena sering kali yang indrawi itu yang menipu. Hati adalah kunci bagaimana mengejar kebahagiaan sejati karena tanpa itu semua akan menjadi kewenangan semu yang benar-benar akan lenyap dalam hitungan detik. Kelimpahan harta hanyalah kesenangan indrawi sesaat.

December 5, 2013

Momen Itu

Ada beberapa momen yang mungkin akan selalu kuingat di kota ini, momen itu terjadi minggu lalu secara bersamaan. Aku juga sampai sekarang belum bisa menerjemahkan apa yang menjadi hikmah dibalik kejadian itu yang pastinya bahwa kedua momen tersebut melukiskan pengalaman hidupku di masa yang akan datang entah hanya akan menjadi cerita nostalgia ataupun akan menjadi pelajaran berharga buat perjalanan hidupku. Aku selalu yakin bahwa di setiap kejadian yang aku lalui, selalu terselip makna dari Sang Ilahi untuk menjadikan kita lebih dewasa.

Momen pertama adalah tentang pembayaran dari salah satu sekolah yg tidak mau membayar tagihan sekitar 4 juta. Jelas itu membuatku shock karena jumlah uang seperti itu sangat besar dengan ukuran aku yang hanya pegawai swasta rendahan yg masih mengandalkan angkringan sebagai sandaran hidupku dan ketika harus nombok sejumlah uang sebanyak itu jelas saja membuatku shock berat bahkan hampir sejam lamanya aku mengemis di ruang ks untuk diringankan, dalam perjalanan pulang dari sekolah itu.

Kadang ku mencaci tapi kadang pula aku pasrah akhirnya kuberhenti di sebuah mesjid sidolaju dan menenangkan diri. Aku melaksanakan shalat zuhur kemudian memanjatkan satu doa saat itu semoga saja diberi jalan keluar sari masalah ini.sesaat kemudian, aku mulai tenang dan menuju jalan pulang, kuutarakan semua permasalahan ini kepada bosku, aku meminta pendapat nya dan kami sepakat mencari ganti dari TR sekolah lain. Saat kutulis masalah ini, semua sudah kelar..

Momen kedua pas setelah masalah itu. Cerita berawal ketika aku sering makan di warung yg sering kami sebut WTS (warung tengah sawah). Pemilik warung tersebut sepasang suami isteri. Aku dan teman2 kerjaku senang jajan di sana karena selain dekat dengan kantor suasananya di tengah sawah semakin membuat kami kerasan berlama-lama ngopi diwarung tersebut. Saat pagi sampai senja, isterinya yg jaga di warung dan saat malam sampai larut, bapaknya yg jaga.

Kembali ke masalah tadi, pagi sebelum masuk kerja, aku seringkali ke warung itu hanya sekedar ngopi dan makan jajan. Hari itu, saat senja, aku dan kedua temanku ngopi di warung tersebut, alangkah kagetnya aku ketika isteri pemilik warung tersebut mengomeli ku bahwa aku membayar kurang jajan yang aku makan setiap aku makan disana dan yg lebih parahnya lagi, aku dituduh merokok namun tidak membayar rokok tersebut sedangkan seingatku, terakhir aku mencoba menjadi perokok tahun 2005 silam. Aku terperangah dan hanya diam membisu sambil sesekali mengklarifikasi meski akhirnya ibu itu tidak mau tau dan tetap menuduhku seperti itu.

Akupun berlalu. Walau kutahu suaminya sangat baik kepadaku dan tetap mengajakku ke warung nya setelah mengetahui peristiwa itu. Aku hanya mengelus dada sambil berprasangka bahwa mungkin saja ada khilaf yg kuperbuat yg harus di balas seperti ini.

hpku lobet, continued....

December 4, 2013

Menulislah

Ini mungkin adalah tulisan abal-abal di bogku. Hasrat menulisku benar-benar tidak tercurahkan karena keyboard pc rusak. Banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiranku yg ingin kutumpahkan dalam deretan tulisan namun wadah tlah membatasiku. Tulisan inipun kurangkai melalui hpku dengan susah payah mengetik seperti sms. Namun itulah hasratku untuk memenuhi blog ini dengan tulisan apaun, entah dengan kata yang tak beraturan, makna yang bias atau apapun yang nantinya akan termuat dalam tulisanku ini. Semua hanyalah desiran angin yg menerpa namun takkan pernah meruntuhkan niatku memenuhi blogku ini sampai tulisan yg ke-1000.

saat aku mulai layu dalam menulis,selalu saja ada momen yg membangkitkan hasrat ku untuk menulis lagi, entah itu hujan, entah senja, malam yg gelap atau apapun yg seringkali menjelma memenuhi rongga otakku menjadi ide-ide yg harus segera kutuntaskan menjadi tulisan agar tidak mengendap menjadi tulisan basi di dalam pikiranku. Ide hanyalah prioritas kesekian dari aktivitas menulis ku. Hal yang utama adalah hasratku untuk menulis tetap terjaga karena salah satu kekhawatiran terbesarku adalah matinya libido menulis ku yg sudah kupupuk sejak lama seperti matinya hasrat membacaku sejak terlalu sibuk akhir2 ini.

November 11, 2013

Sepasang Pengamen

Aku mungkin salah satu orang yang selalu saja memperhatikan setiap tingkah orang saat aku berada di kerumunan khalayak. Bukan apa, aku hanya mencari inspirasi yang kemudian kutuangkan diruang blogku ini. Seperti halnya kemarin saat siang menyengat. aku membelah panas terik ke surabaya. Seperti saat aku berangkat, aku selalu menunggu kedatangan bis MIRA atau SR yang lewat di terminal kota ini. dua bis itu kupilih karena menurutku sesuai dengan isi kantongku meski kutahu sopirnya begitu ugal-ugalan.

Seperti kebiasaanku yang lalu, saat di bis, setiap orang kupandangi dan mulailah otakku berpikir lalu membatin tentang semua orang yang disampingku. satu hal yang tak terlewatkan saat di atas bis adalah berbagai rupa pengamen yang silih berganti naik di setiap persinggahan terminal meski mereka tahu bahwa sudah berapa kali bis itu dinaiki pengamen lainnya namun mereka tetap saja nekat demi mengisi perut hari ini. pengamen memang punya hidup sendiri yang sangat misteri. 

Ada yang beda dengan pengamen disini dengan di makassar sana. mayoritas pengamen disini orasi sebelum dan sesudah menyanyi dan intinya adalah meminta belas kasihan penumpang agar diberi sedikit dari rejeki mereka.

Siang itu setelah melalui beberapa persinggahan terminal dan pra pengamen silih berganti naik mempertontonkan kemampuan mereka, sampai jugalah aku di jombang, tepat berada di lampu merah, bis berhenti dan seperti biasanya pengamen akan naik dan kali ini benar. 

Dua pengamen cewek dan cowok naik. sebenarnya tidak ada hal yang berbeda dari pengamen-pengamen lainnya namun kali ini, dua pengamen tersebut amat sangat necis dan inilah yang membedakan dengan pengamen lainnya yang berpenampilan urakan. sedikit berisik memang saat mereka naik bis dan mulai beraksi karena aku baru saja mulai merem dan lumayan mengganggu tidur siangku dengan suaranya yang cempreng namun wajah cewek si pengamen tersebut lumayan manis ditambah penampilannya yang resik membuat mataku tak bisa dipejam malah memandanginya sambil menikmati lagu jowo yang dibawakannya. lumayanlah untuk pemandangan sore ini.

semoga ketemu lain kali pengamen yang manis,,hehe

November 7, 2013

Janji Terpenuhi

aku tak suka dengan janjijanji yang diingkari
aku benarbenar tak suka
karena semesta tidak pernah ingkar
dia penuhi sabda yang tlah terucap
bahkan hujan pun tak pernah
dia datang membasahi bumi
pun adanya senja
dia selalu saja datang mengganti pagi
dan malam pun demikian
namun kenapa engkau
yang tlah berjanji
kemudian tak mencoba menepati
apakah engkau tidak ingin seperti hujan
atau senja bahkan malam
yang setia kepada ikrarnya
atau
pernahkah engkau mendapatiku ingkar
saat aku berjanji kepadamu
aku bahkan selalu saja menepati
aku akan diam
dengan hujan yang menemani
aku akan hening
tentangmu
biarlah engkau belajar
tentang diam dan heningku
dan aku tidak mengharap apaapa
dan aku
kan mencoba melupakan
semua kisah kita
cerita indah yang lalu


Lagi Tentangmu Ibu

Aku selalu saja tak kehabisan katakata untuk sekedar menulis buat wanita ini. mengingat saja wajahnya dengan sekilas lantas membangunkan inspirasi tentangnya untuk sekedar menulis apa yang kurasakan untuknya. ah, mungkin aku terlalu sentimental setiap kali harus menceritakan tentang wanita ini tentang bagaimana caranya menjalani hidupnya yang sederhana. setiap kali berusaha menggali ingatanku yang mulai pudar di masa lalu namun selalu saja gagal menemukan celah untuk tidak merindunya, berada dipelukannya atau bahkan hanya sekedar merebahkan kepalaku di pangkuannya kemudian dengan kasihnya membelai rambutku hingga ketenangan meresap jauh kedalam sanubariku dan itu yang selalu kurindu darinya.

Malam kemarin, aku menyempatkan meneleponnya dan tepat sekali dugaanku, dia menanyakan kenapa kali ini aku begitu jarang menyapanya lewat telepon. aku sama sekali tak berkata apa-apa hanya sedikit merasa bersalah telah melupakannya dalam minggu ini. 

Sepertinya semua perih terlupakan olehku saat mendengar suaranya, bercerita tentang harihariku disini, mengabarkan bahwa aku sehat-sehat saja dan hal penting kupinta kepadanya tadi malam bahwa semoga saja dia selalu berdoa agar aku tetap istiqomah dan tidak salah jalan bahkan terhindar dari dosa yang kurasa sangat sering kulakukan akhir-akhir ini. aku benar-benar futur ma.

Masih tentang pembicaraanku tadi malam dengan wanita ini. selalu saja banyak nasehat yang meluncur dari mulutnya saat bercakap denganku namun aku bahkan merasa nasehat yang sangat terasa hanya dengan mendengar suaranya yang dalam keadaan baik-baik saja. ada kata-kata yang sangat jarang dia ucapkan namun tadi malam akhirnya dia mengucapkan padaku "nak, engkau telah terbiasa menderita dalam kesusahan dan hal yang perlu engkau cari adalah kemudahan hidup". 

Begitulah kirakira apa yang dia ucapkan kepadaku tadi malam jika dikonversi kedalam bahasa nasional karena kami selalu saja menggunakan bahasa tanah kelahiran saaat berbicara apa saja.

Lagi tentangku ma, engkau wanita yang selalu saja menjadi orang yang paling kurindu. Aku bahkan sangat menyesal dengan berbagai khilaf yang kelewat batas telah aku lakukan hanya dengan mengingat wajahmu. aku sangat merasa bersalah menyia-nyiakan semua kepercayaan yang engkau bebankan kepadaku. aku tidak seperti dulu lagi yang menjaga apa yang seharusnya aku jaga. aku selalu saja khilaf dengan semua sensasi yang absurd.

dan terakhir, tetap doakan aku ma.
menjadi manusia lagi...!!!

November 6, 2013

Berhenti Bertobat

Mungkin ini adalah titik klimaks. Semua hal yang tabu buatku ternyata terbongkar dan melebur hanya karena debu diri yang tak tahu diri. bagaimana tidak, dia hanya datang sekejap menjegalku bagai drama sepakbola yang saling tekel kemudian menguap begitu saja ketika semua telah terjadi. 

Apa itu bukan namanya semu atau "absurditas", istilah yang sangat sering aku gunakan saat mahasiswa dulu. Aku bahkan harus menenggelamkan wajahku ditempat mana saja yang masih sudi menerimaku saat semua hal yang kubanggakan dan yang paling kujaga hancur berantakan bagai gelas yang jatuh ke ubin karena kesenggol bayi yang tak tahu apa-apa. menyesal...? 

Jangan dulu angkuh mengatakan bahwa diriku menyesal atau tobat tanpa ingin lari ke lubang yang sama karena seringkali aku menghindari lubang tersebut dan sesering itu pula tersandung ke dalamnya dan berteriak bahwa itu jalan yang salah namun lagi-lagi kembali terjerumus. 

Sudah hentikan berteriak kata tobat dan menyesal karena kata-kata adalah senjata mematikan yang akan menembakmu sendiri. sudah terlalu sering kata tobat itu menjadi amunisi penenang saat telah terjadi dan kemudian harus terulang lagi. benar-benar futur diri ini....!

November 5, 2013

Tahun Baru Islam

banyak pemandangan berbeda yang kusaksikan di pulau ini. banyak ritual yang kemudian sangat berbeda dengan tanah kelahiranku. aku baru menyadari bahwa ternyata memang begitu banyak hal yang diluar pengetahuanku. ada banyak hal yang mesti harus kupelajari. mungkin inilah yang dimaksud bahwa dalam hidup itu tidak ada kata berhenti belajar.

tepat tanggal 5 november 2013, bertepatan dengan tahun baru Hijriyah. di pulau ini, sangat ramai dirayakan dengan berbagai kegiatan dan ini adalah salah satu perbedaan di tanah kelahiranku, jarang sekali aku menyaksikan perayaan tahun baru islam seperti ini di kotaku sana. kemarin hari saat melintas di Paron dan jogorogo, begitu ramainya pawai menyambut tahun baru Islam.

November 3, 2013

Jaket Merah Ini

Jaket ini, nampaknya kukenal, warna merah. amat sangat anggun dan menarik. sebentar, aku mencoba mengingat dari manakah gerangan jaket ini datangnya? jangan-jangan dari orang yang tidak kukenal atau dari siapa saja yang ingin iseng kepadaku?

Ternyata bukan, jaket ini dari seseorang, dibeli di IT Kuningan saat dia ke kota metropolitan. katanya aku harus memakai dan dia tidak suka jika aku tidak memakainya. apakah dia tidak menyadari bahwa semua barang-barang darinya menjadi barang yang masih kusimpan. Aku bahkan berkali-kali memakai semua barang-barang darinya dan sangat senang memakai. lumayan sebagai modal untuk diri yang tidak punya uang saku lebih untuk membeli barang

                                             
jaket kiriman pesekku

sebenarnya jaket ini jaket couple namun katanya warnanya agak beda, yang satu merah marun dan yang satu lagi merahnya agak gelap.

Hening

dua baris kata telah musnah
berganti dengan hanya sebaris saja
DIAM...!!!

Belum Ada Judul

Tulisan ini adalah titipan kedua dari gadis pesekku. Dia ingin supaya aku mengurai kebersamaan kami minggu kemarin dalam coretan blogku meski jujur bahwa aku lebih sangat senang jika seandainya dia sendiri yang menuliskannya. 

Entah kenapa akhir-akhir ini dia amat gandrung terhadap tulisan-tulisan sederhana namun aku bahkan sangat senang ketika dia menyukai tulisan karena sejatinya bahwa aku adalah salah satu dari sekian lelaki yang suka pada gadis yang rajin menulis apapun itu. dan gadis pesekku kelihatan sudah mulai kembali menemukan ritme menulisnya yang secara perlahan hilang saat kuliah dimakan kesibukan tugas-tugas yang membosankan. 

Dia pernah bercerita bahwa sejak dulu, dia amat sangat senang dunia tulis menulis namun hilang begitu saja sejak duduk di bangku kuliah karena tugas yang tidak ada habisnya. aku berharap semoga saja gadis pesekku kembali menstimulasi otaknya untuk rajin menulis karena percayalah bahwa tulisan tidak ada habisnya dan akan menjadi gambaran perkembanganmu dari masa ke masa maka jika engkau ingin mengukur kapasitas dirimu maka menulis lah dari masa ke masa hingga suatu masa engkau membacanya seakan membaca perjalanan hidupmu.

Kembali ke gadis pesekku yang menitipkan untuk diceritakan kebersamaan kami minggu kemarin. aku beranjak ke kotanya menghampirinya. selain untuk membunuh rindu yang sudah membuncah, aku juga ingin menemaninya mengikuti tes di salah satu instansi. siang itu, matahari sangat menyengat namun tidak menghentikan langkahku menghampirinya dengan bis MIRA. 

Perjalanan dari kotaku ke kotanya hampir menghabiskan waktuku selama 5 jam karena macet yang begitu parah di akhir pekan membuatku harus menghitung mundur jarum jam untuk sampai di kotanya. macet pula yang membuatnya menunggu begitu lama di pinggir terminal. menjelang maghrib, aku akhirnya sampai di persinggahan terminal dan kutemui dirinya yang sudah menungguku di bawah jembatan. sesaat kukecup keningnya dan kurangkul dirinya, kami berdua beranjak mencari mesjid karena dia belum menunaikan shalat.

Sesaat setelah menunaikan shalat, kami membela kota pahlawan yang sudah mulai remang-remang dimakan senja, pesekku terus saja memelukku diatas motor tanpa sekalipun ingin melepas pelukannya. Aku membawa motor dengan begitu pelan karena kendaraaan yang begitu amat padat di kota ini. tepat di dekat kos, kami singgah mengisi perut di sebuah warung penyetan. 

Aku dengan lahap menghabiskan makananku kemudian menyeruput secangkir es teh. setelah perut kami mulai kenyang, beranjaklah kami ke kosnya pesekku. Di ruang tamu kosnya pesekku, kami melepas rindu, sesekali bercanda, sesekali kami melepas kecupan di jidat masing-masing, kadang kupeluk dia dari belakang kemudian kukecup lehernya dengan mesra, bau kami bersatu dan baunya yang tidak asing lagi bagiku. kurangkul dia dengan erat sambil mengecup pipinya. dia seakan tidak ingin melepas pelukannya dariku. kami begitu amat dekat malam itu dan tidak ada lagi yang tertutupi hingga larut malam mengharuskan kami berpisah untuk sementara .

Esok hari, kujemput dia kemudian kuantar ke tempat tes. kutunggu dirinya selama dia tes di sebuah warung, saat senja menyapa, barulah dia selesai tes. Kami berdua beranjak mencari warung karena belum mengisi perut sejak dari pagi. saat senja sudah mulai berlalu, aku dan pesek kembali ke terminal beranjak ke kotanya menjemput malam. kami berdua duduk bersebelahan di atas bis, sesekali dia merebahkan kepalanya di pundakku dan sesekali memelukku. 

Bis terus saja melaju menuju kota kelahirannya. aku terantuk-antuk saat tidur lelap dan ternyata dia sama sekali tidak tidur, hanya mengamatiku saat aku tidur di bis, mungkin saja dia ingin menjagaku hingga dia memutuskan untuk tidak tidur. 

Akhirnya bis memasuki terminal kota kelahirannya, kami menumpang bis ke rumahnya di sebuah perumahan dalam kota, malam yang larut membuatku harus menumpang tidur di rumahnya. aku tidur di sofa namun tak masalah buatku karena memang aku sudah terbiasa tidur dimana saja. saat aku mulai memejamkan mataku, gadisku selalu saja keluar dari kamar memastikan diriku, dia mengecup bibirku lalu merangkulku kemudian masuk kamar kembali, lagi-lagi hal yang sama dilakukannya, keluar kamar membelai rambutku lalu mendaratkan kecupannya di pipiku hingga beberapa kali.

Pagi datang menyapa, dia sudah membangunkanku, memijit betisku yang lumayan pegal seharian berjalan lalu kemudian menghadiakan kecupan di pipiku. membisikiku supaya bangun menunaikan shalat. pagi semakin terang, dia lalu mengantarkanku ke terminal untuk kembali ke kotaku, kebersamaan kami kembali dipisahkan oleh waktu yang cepat berlalu.

Gadis Bernama Listy

mencoba bercerpen ria

Aku seakan tak percaya sampai di kota ini. Kota yang hanya sering kubaca di buku sejarahku sejak masih sekolah, kota ini pun terkenal dengan julukan kota pahlawan. aku sama sekali tak percaya dan masih seakan mimpi berada di kota ini. Setelah menyelesaikan kuliahku dikota kelahiranku, aku memutuskan untuk merantau mencari tantangan hidup. Tak ada yang aku pikirkan sesaat meninggalkan kotaku di seberang pulau sana, hanya bagaimana meningkatkan taraf hidupku hingga mengharuskan aku terdampar di kota ini. Memikirkan semua apakah aku bisa menjadi seperti yang aku pikirkan atau bahkan harus menyerah di kota ini namun aku sama sekali tak perduli, semua kekhawatiran kucampakkan di sudut kota dan mulai melangkah dengan optimis apa bahwa aku akan menaklukkan kota dan berhasil menjadi apa yang aku harapkan. Setiap kali aku gagal dan ingin menyerah, bayang wajah tulus ibuku di kampung menghiasi kepalaku membuatku kembali tegar. Yah, salah satu semangat hidupku adalah ibuku dan dialah yang membuatku selalu ingin membahagiakannya bahkan dalam kondisi susah, wajahnya yang sendu selalu menari di kepalaku saat aku merindukkannya, bagaimana tidak ini adalah petama kali aku harus jauh darinya bahkan jauh sekali.

“nak, baik-baiklah di kampung orang, jangan jauh dari dirimu”, kata-kata yang sangat dalam meluncur dari mulut ibuku sesaat sebelum saya akan bernagkat dengan bis yang telah menunggu di depan halaman rumahku di sebuah desa kecil pulai seberang. Kata-kata itu meluncur dengan terbata-bata dari mulu ibuku karena dia mengucapkannya sambil terisak, entah dia sedih melihatku harus berpisah dengannya untuk pertama kalinya atau bahkan dia khawatir bahwa aku akan merana di kota ini, entahlah namun terakhir kali kulihat raut wajahnya membuatku juga harus mengucurkan butir-butir airmataku secara perlahan. Tangisan itulah yang selalu membasahi semangatku mengarungi kerasnya hidup di kota ini, saat aku kekeringan bayang-bayang ibuku selalu menguatkanku untuk tidak menyerah begitu saja kepada keadaan , how hard that conditions, itulah aku yang selalu menjadikan wajah sendu ibuku sebagai semangat hidupku, bahkan ketika kadang aku ingin menyerah atau melakukan sesuatu yang salah, wajahnyalah yang datang menghalau semua itu yang kemudian kembali mengarahkanku ke jalan yang benar.

Aku adalah air, begitulah selalu yang kupikirkan selama menjalani hidup di kota ini, karena air akan selalu merendah dan selalu menyejukkan. Perjalanan hidup yang benar tak sesuai dengan apa yang terpikirkan. Selalu saja ada banyak halangan yang mencoba menghalau semangatku, namun tak jua kupudarkan sedikitpun kobar asa ku di dalam dada.

Awal aku di kota ini, aku menumpang di rumah keluargaku. Dik, tetaplah tegar mengejar cita-citamu”..! kata-kata itu setiap pagi dari kakak sepupuku untuk menyemangatiku, namun selang beberapa bulan menumpang di rumah keluargaku, ada perasaan segan menghinggapiku karena sampai sekarang, tak ada satupun lamaran pekerjaanku yang berhasil, setiap lowon gan telah kulamar dan tak terhitung pula aku masuk keluar kantor mengajukan lamaran namun tetap saja nihil hingga pada bulan ketiga, aku diterima di salah satu LSM internasional. Betapa girang kurasa meskipun tanpa kutahu sebelumnya spesifikasi kerja yang harus aku jalani.

Kuingat dengan jelas, hari kamis adalah hari pertama aku masuk kerja, dengan semangatnya aku pamit dan melangkah dengan keyakinan penuh ke tempat kerja yang berada dipusat kota ini. Hingga sampai di kantor LSM tersebut, ada sedikit perasaan ciut menghampiriku setelah melihat kantor yang tidak seperti kubayangkan, kantor yang megah, bertingkat dan full ruangan AC namun berbeda 180 derajat dari kantor yang sedang aku tuju sekarang, hanya tuntutan kebutuhanlah yang tetap menggiring langkahku memasuki kantor ini. “persetan dengan pekerjaan apapun yang akan aku jalani, yang penting aku bisa bertahan hidup sejenak di kota ioni”, gumamku saat itu. Sesampai di dalam ruangan kecil yang merupakan aula pertemuan kantor LSM ini, sudah ada 4 karyawan yang duduk mendengarkan arahan dari tim leader LSM, ternyata mereka adalah karyawan baru sepertiku dan aku yang paling terlambat datang.

Perkenalkan, namaku udin. Aku berasal dari pulau seberang..! kata-kata itulah yang pertama kali meluncur dari mulutku setelah dipersilahkan memperkenalkan namaku. Ternyata aku adalah satu-satunya karyawan yang berasal dari luar pulau, alhasil logatku pun berbeda dari mereka namun justru itu yang membuatku semangat karena aku beda dengan mereka. Setelah perkenalan semua karyawan baru, si team leader yang kemudian sering kami panggil dengan nama bang cepot menjelaskan tentang seperti apa pekerjaan yang harusw kami lakukan. DDC, itulah divisi dimana kami akan ditempatkan dan harus kesetiap tempat keramaian mencari donasi seperti layaknya marketing asuransi, pikirku saat itu. Kulihat satu persatu wajah dari karyawan baru dan semua mengisyaratkan wajah kecewa setelah mengetahui seperti apa pekerjaan yang harus kami jalani. Meskipun demikian, tak ada satupun dari kami yang mengundurkan diri karena mungkin saja mereka juga butuh pekerjaan, gumamku.

Hari pertama kerja menjadi sangat tidak mengenakkan, harus berdiri di sebuah pintu masuk mall terbesar di kota ini dan menyapa setiap pengunjung yang lalu lalang kemudian menawarkan menjadi donatur di LSM ini, “ ah, betapa malunya saat pertama aku melakukannya”, bahkan pikirku ini adalah hal yang kemudian tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku namun kemudian aku harus menjalaninya demi mengisi perut.
Lis, kok kamu tertarik bekerja di tempat ini? Kamu kan cewek dan pekerjaan kita sering memakan waktu sampai larut. Pertanyaan itu kulontarkan kepada salah satu teman kerjaku. Dia hanya membalas dengan senyum yang tersungging dari bibir tipisnya.
                                                ***************
Aku dan listy sekarang merajut kebersamaan di sudut alun-alun kota ini. Sejak sama-sama memutuskan resign dari LSM tempat kami bekerja di kota pahlawan, kami semakin dekat. Listy adalah cewek kalem yang pertama kali kukenal sejak november yang basah. Dik, kok tiba-tiba suka padaku dan membalas cintaku”? suatu senja aku menanyakan alasan kenapa dia membalas cintaku. Dan sudah kuduga bahwa setiap kali aku menanyakan hal yang sentimental, dia hanya membalas dengan senyuman tipis yang akhirnya akan melunturkan keinginanku untuk bertanya lebih banyak lagi kepadanya.
Aku bahkan tidak canggung lagi bertamu ke rumahnya di ujung kota ini. Bertemu ibunya dan bercerita banyak hal. aku ingat suatu waktu, ibunya menelponku dan memintaku datang ke rumahnya, mas, apa mas benar-benar serius kepada adik..? aku gk mau kalau mas hanya mempermainkan adik..! itulah kata yang keluar dari mulut ibunya sesaat dia memintaku datang ke rumahnya. Aku dan ibunya memang memanggil listy dengan sebutan adik dan hanya kami berdua yang kerap memanggilnya seperti itu. Dik, kemarin ibu menanyakan keseriusanku kepadaku.! Aku membeberkan setiap kalimat pertanyaan kepadanya melalui  telepon setelah ibunya meminta ketegasan kepadaku. Kami memang sekarang beda kota, dia tetap di kota pahlawan dan aku mendapatkan pekerjaan baru di ujung pulau ini. Trus kakak jawab apa..? dia menanyakan ulang tentang jawabanku kepada ibunya tadi pagi. Dia juga memanggilku dengan panggilan kakak. Aku tidak ingin menyakitimu..! jawabku singkat.

Begitulah romansa kami dirajut dalam ruang dan waktu yang beda. Kadang bertemu sesekali ketika kukunjungi dirinya di kota pahlawan hanya untuk melepas rindu yang membuncah. Seringkali kami membunuh kebersamaan dengan waktu mengunjungi setiap tempat yang pernah menjadi cerita kami sejak masih berteman dan kebanyakan tempat itu menyimpan beribu kenangan yang tak terlupakan hingga setiap kata tak lagi terucap hanya terkadang wajah yang menampakkan perubahan ronanya kadang bahaggia dan kadang pula sedih.

Kuingat dengan jelas saat dia mengantarkanku ke pelabuhan kota ini saat aku berniat menjenguk ibuku di pulau seberang. Dia dengan motor kesayangannya membelah hujan membawaku ke pelabuhan menunggu kapal di dermaga yang sebentar lagi mengantarku pulang ke istana kecilku. Kak, Kakak harus kembali kepada adik, jangan tinggal lama di sana..! itu pesan terakhir yang dibisikkan di telingaku sesaat kapal akan bersandar untuk segera kunaiki. Iya dik, kakak akan kembali membawa sejuta impian kita merajut kebersamaan di kota ini, kakak hanya mengunjungi ibuku dan memastikan bahwa dia sehat-sehat saja..! balasku dengan sedikit menggombal. Kulihat raut mukanya yang begitu bahagia saat kuucapkan bahwa aku akan segera kembali dari kampung halaman.

                                                ************************
Lis, kok gak dijawab, kenapa kok mau kerja di tempat ini yang  mengharuskan kita pulang malam sedangkan kamu sendiri kan cewek”…! Nampaknya gadis yang baru kukenal beberapa hari ini tidak dengan pertanyaanku tadi, Listy adalah salah satu dari tiga karyawan baru di kantor ini. Dia amat sangat pendiam dan hanya menjawab seperlunya ketika ditanya. Enggak kok mas, sambil nyari kerjaan yang lain”..! balasnya. Pantas saja aku bertanya seperti itu karena tempo hari dia bercerita bahwa dia dari pendidikan yang berlatar kesehatan dan kuanggap bahwa pekerjaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesehatan. Bahkan dua temanku yang lain berasal dari teknik dan guru. Begitulah wajah pendidikan indonesia, spesifikasi jurusan yang dipilih saat masih kuliah sama sekali tidak menentukan pekerjaan apa yang nantinya akan dilakoni bahkan perbankan adalah salah satu dari perusahaan yang menerima semua jurusan.

Kami adalah pencari kerja. Lima orang karyawan baru di tempat ini termasuk aku sering berbagi cerita tentang masa ke masa yang telah kami lalui. Perbedaan latar belakang suku membuat cerita kami seringkali diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan seputar adat budaya hingga kami pun semakin intim. Sejak saat itu ula, aku tahu bahwaw gadis yang bernama listy adalah paling pendiam dan kalem diantara kami, dia hanya menyela sekali ketika kami sedang asyik bercerita dan aku merasa salah satu yang paling banyak bercerita. Hingga pada suatu saat, satu persatu kelima dari kami mengambilkan keputusan untuk keluar dari pekerjaan ini, ada yang kemudian pindah perusahaan yang paling besar, ada yang menikah dan ada pula yang menjadi guru. Aku pun pindah perusahaan dan gadis yang bernama Listy itu diterima menjadi salah satu staff di kampusnya.

Keep in touch yah”..! itulah kata-kata terakhir yang kami ucapkan saat kami mengadakan farewell party di salahhs atu kedai yang menjadi langganan kami. Semua dari kami selalu menjaga satu sama lain tanpa ada yang dilupakan. Pertemanan yang telah kami jalin sejak bekerja bersama di tempat ini akhirnya dipisahkan oleh waktu yang terasa amat cepat  berlalu. Pertemanan dari berbagai macam suku yang semakin membuat kami akrab.
                                                *************************
Dik, kok bisa kita bersama padahal kita begitu banyak perbedaan yah..! suatu senja saat kami menghabiskan waktu berdua di alun-alun kotanya. Aku menanyakan perbedaan kami yang begitu banyak namun tidak menghalangi kami untuk bersama. Enthalah kak, kakak sendiri yang memulai menyatakan perasaannya jadi saya menerima aja..! balasnya dengan amat singkat dan selalu diiringi senyuman tipis dari bibirnya. Kebersamaan kami seperti itu seringkali amat sangat singkat karena kami harus kembali ke kota masing-masing untuk memulai rutinitas kerja yangg menggunung. Kebersamaan kami mengeja waktu hanya terjadi di akhir pekan selama sebulan sekali. Jarak dan waktu yang menjadi sebab kami harus  melakoni romantisme asmara seperti ini. Hingga semua berjalan begitu melambat.

Dik, aku sudah resign dari tempat kerjaku, aku mau ngomong sesuatu yang amat penting tentang kita berdua”,,! Kutelpon Listy bahwa aku sudah resign, gadis yang dulunya adalah temanku sekarang menjadi kekasih. Dia masih bekerja sebagai staff di kampusnya. Minggu depan kita ketemu. Iya kak”..! balasnya singkat di telepon dengan suara yang menyimpan beribu tanda tanya.
Dik, aku diminta pulang oleh orang tuaku, sejak aku resign, orangtuaku tahu dan dia khawatir jika aku berada di kota ini tanpa ada pekerjaan yang tetap. Kutatap mata Listy dengan nanar. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun namun sedikit demi sedikit, air matanya tumpah dan tak lama kemudian dia histeris dan menghamburkan dirinya kedalam pelukanku dan berteriak jangan pergi kak. Perasaanku campur aduk, bahkan tak dapat kugambarkan saat itu apa yang mesti kulakukan, seakan matahari pun mulai redup akibat tangisannya. Dia memelukku dengan erat tanpa sekalipun membiarkanku lepas dari pelukannya. Dengan amat sangat pelan, kubisik bahwa aku sayang sama dia, dik, persoalan ini hanyalah tentang perbedaan ruang dan waktu namun yakinlah bahwa hatiku tetap menyimpan cintamu dalam-dalam”…! Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku yang membuatnya sedikit lebih tenang. Kapan kakak pulang”..? tanyanya dengan terbata-bata setelah tangisnya sudah mulai reda. Besok lusa dik..! jawabku singkat. Kembali tangisnya pecah membuat sweater hitamku basah oleh airmatanya. Namun takdir telah menuliskan seperti itu bahwa kita akan saling mengasihi dengan jarak dan waktu yang memisahkan.

Dik, aku berangkat jam 09.00..! sms singkat kukirim kepadanya sesaat keberangkatanku ke dermaga. Kemarin, dia memutuskan untuk tidak mengantarku ke dermaga bahkan sekalipun dia tidak mengangkat telepon apalagi membalas pesan singkatku. Pagi ini menjadi saksi tentang romansa kami yang beda, yang kemudian harus kuukir dalam cerita hidupku bahwa kami selalu saja dibatasi oleh ruang dan waktu seakan mereka tidak pernah mau memaklumi cinta kami hingga akhirnya selalu saja memisahkan keberadaan kami dan sampai sekarang begitu jauh. Kami tidak pernah tahu lagi kami akan berjumpa namun kuyakin bahwa kekuatan cinta akan melebihi ruang dan waktu yang tentunya kami akan bisa berjumpa kapanpun karena hati kami telah menyatu..




                                                                                    @Dermaga Tanjung Perak