March 14, 2013

Hujan Itu

Hujan menemaniku
datang tersipu malu
seakan ingin mencumbuiku
namun tidak kali ini
aku hanya ingin menikmatinya
dalam tatapan nanarku yang tak lelah
hujan memburuku
seakan ingin memaksaku mengejar waktu
namun tidak kali ini
aku hanya ingin berbaring di tepian waduk
memandang romansa sepasang merpati
hujan menagihku
untuk sekian janji yang kutinggalkan
terlupa dalam perjalananku
namun kali ini takkan kulunasi
aku hanya ingin mengejar bayangbayang hitam
melupakan semua ikrarku
hujan meninggalkanku
dengan segudang kekecewaan terhadapku
kali ini kukejar dirinya
berlulut dan memelas
tapi akhirnya semua terlambat
rinai hujan terus berlalu
meninggalkan tetesan airnya untukku

9.3.13
kurangkai saat training 
di PT  Erlangga
Jln Berbek Industry VII
Waru-Sidoarjo

March 4, 2013

Diam Yang Bercerita

Cerita di balik diamku menggemuruh dalam dadaku, seakan ingin meledakkan seisi perutku, seakan aku harus menjerit menahannya. diam bukan berarti tanpa makna bahkan diam adalah bahasa seribu makna. tak terdefenisiskan memang namun itulah hakekat diam dengan maknanya.
diam adalah jawaban atas kata-kata yang beku dalam dada. 

selaksa kata dari mulut adalah kebohongan yang menjamur. bahkan seringkali kata yang berhamburan berasal dari perut yang serakah dan menjelma menjadi ayat-ayat tak bermakna. kemudian diam menjadi penyejuk atas setiap kata berbau dari lidah yang tak berperasaan. seandainya saja tak ada yang namanya diam dan semua mulut mulai mengoceh tak berarah maka dunia akan serasa berada dalam drama yang bising, semua akan menjustifikasi kebenaran itu sebagai miliknya.

diam tidak selalu berarti tak tahu apa-apa, diam berarti kebijaksaan paripurna dari manusia yang mampu membungkam mulutnya dari janji yang tak terelakkan. pengenalan diri tidak diperoleh dari mulut yang sering kali berucap namun dari hati yang tenang karena tak ada kata yang terucap. salah satu jalan yang ditempuh dalam mengenali diri adalah diam, biarkanlah diam yang bercerita dalam keheningan. biarkanlah dirimu berbicara ke dalam tanpa melalui perantara suara.

aku bertemu dengan banyak orang di dalam hidupku. mengamati mereka yang kutemui adalah sebuah kenikmatan hidupku dan satu hal yang kujumpai dalam setiap pengamatanku adalah manusia yang lebih mampu menahan lidahnya dari terlalu banyak bicara seringkali memancarkan roman muka yang cerah bahkan mereka terbebas dari kebohongan-kebohongan.
manusia yang dengan begitu mudahnya menghamburkan kata-katanya memang pada awalnya sering menjadi perhatian bahwa mungkin orang akan kagum pada kesan pertama namun percayalah bahwa ketika kebiasaan itu akan berlanjut maka orang seakan tidak respek lagi bahkan menganggap kata-kata dari mulut mereka hanyalah sampah yang tidak bermakna

diam memang sering menjadi jawaban yang pasti. diam adalah cerita kebenaran yang tak berbatas karena makna kata ketika diam bersemayam di hati setiap manusia tanpa harus menambah ataupun menguranginya.

tulisan yang tak berlanjut suatu waktu
saat masih di ngawi.

March 3, 2013

Begawan Solo

bERAN
3,3,13
23.17

Begawan solo,,
meliuk dengan riuh
menghadirkan damai untuk semesta
kujumpai engkau saat senja menua
saat gerimis menyapa
menetes membasahi alam raya
perlahan merasuk dalam sukma
begawan solo
menawarkan damai musim ini
memercikkan berkah dalam kasih
tak pernah lelah
dalam tasbih abadi
begawan solo
bertemu jua akhirnya kita
kemarin hari hanya kusapa dirimu dalam
buku bacaanku
sambil membayangkan keindahanmu
namun kini
takdir menggiringku memelukmu
seakan tak kuasa melepasmu
namun senja yang menua memisahkan kita
sampai jumpa di edisi selanjutnya

Berlarilah

pagi ini, engkau masih tersenyum kepadaku, menyuguhkan segelas susu di atas mejaku, memasangkan stelan jas dibadanku, senyum hangatmu mewarnai interaksi kita pagi ini, sesekali candamu menyapaku dalam bahagia. membuatku melupakan cinta diluar sana. seakan terasing, namun itulah hidupku saat bersamamu, dengan segala pernakpernik yang melekat di tubuh kita

siang ini, suasana pagi tadi belum berubah, bahkan lebih dari itu, kau lepas sepatuku, kau menyediakan air hangat untuk permandianku, kau cuci noda yang melekat di badanku, setiap tetes keringat yang mengucur dari poriporiku dengan sigap kau hapus, suguhan makanan sedari tadi telah kau siapkan. hingga perasaan bahagia denganmu semakin menjalar ke dalam sukmaku

malam ini, semua seakan lenyap tak berbekas, entahlah aku juga tak bisa mengartikan setiap hal yang tengah terjadi dihadapanku, tibatiba saja kebahagiaan itu memudar bersama dengan dinginnya udara malam. ternyata malam ini, heningnya malam mengalahklan kesetiaanmu, hingga luntur mengikuti aliran nafas yang terengahengah,

pergilah, menjauhlah
karena kesendirianku ternyata lebih bermakna
kesendirianku menawarkan sejuta kebahagiaan untukku
tak ada lagi ruang untukmu

Ngawi
3,3,13
23.09

Tertegun

Mungkin ini yang dibilang ta'bangka, benar-benar tertegun dengan apa yang aku alami pagi ini, saat mencari sarapan di dekat kos.

Pagi ini, seperti pagi-pagi di setiap hari minggu, aku sendirian menghuni rumah kontrakan karena dua temanku pulang kampung. Salah satu aktivitas yang paling sering kukerjakan ketika sendirian di rumah kontrakan hanyalah online, main FB, nonton youtobe sambil dengar musik. Pagi ini pun aku melakukan aktivitas yang sama. Bermalas-malasan di depan komputer namun tidak berselang beberapa lama, perutku minta diisi, setelah mandi, aku bergegas ke warung depan kontrakan yang menjadi langgananku. 

Bukan apa-apa namun lebih karena warung itu bersahabat dengan isi dompetku, hanya dengan merogoh kocek sekitar 5 ribu, aku sudah bisa menikmati sepiring nasi dan segelas nutrisari ataupun marimas dan itulah menu andalanku bahkan ketika aku memesan makanan di warung itu, mbak pemilik warung yang kerap dipanggil mbak endut sudah hapal dengan menu yang akan kupesan dan tanpa harus menyampaikannya, dia sudah menyiapkan untukku.

Pagi ini pun aku ke sana, berhubung karena hari minggu maka warung tersebut yang biasanya ramai pengunjung kelihatan agak sepi, hanya seorang laki-laki paruh baya yang sedang menikmati rokok sambil sesekai menyeruput kopi hitam yang adan di hadapannya. seperti biasa aku memesan makanan, dengan asyiknya, aku menikmati sarapan kali ini. 

Selang beberapa saat, aku sudah menghabiskan sepiring nasi dengan lauk tempe dan kerupuk. aku membiarkan sejenak perutku mengatur makanan yang baru saja kutuang ke dalamnya sambil bersandar di pangku panjang warung itu. saat hendak membayar, seorang ibu yang mungkin berumur 50 th datang dengan bekas gelas air mineral di tangannya, kelihatannya ingin meminta uang, tanpa berfikir panjang, aku menyodorkan uang koin kepadanya namun alangkah terkejutnya aku saat baru saja menerima uang koin dariku dia lalu masuk ke warung tempatku makan sambil membeli sesuatu,

mau tahu apa yang dibeli, ternyata beberapa batang rokok,

Ibu, bukan aku tidak ikhlas memberi uang ataupun bukan aku ingin menceritakan sesuatu tentang ibu itu namun apa yang terlihat dengan sangat jelas di depan mataku benar-benar membuatku tak habis berfikir, seorang ibu paruh baya yang meminta-minta hanya untuk membeli rokok.

Benar-benar speechless ka', tidak tahu lagi apa yang harus kutulis sekarang tentangnya, ini saja dulu sambil menenangkan pikiran negatifku tentang ibu itu.

Beran
3.3.13
10.00 am

February 28, 2013

Ngawi Akhir Februari


surat tilang di perbatasan jogorogo-ngrambe
tentang kehidupan
dalam damai
menyatu pau dengan asap kehidupan
berjalan sampai pada titik rahasia
dengan penuh pengharapan
menjejak kaki di setiap sudut bumi ini
meninggalkan langkah penuh hikmah
tanpa harus cemas akan langkah berikutnya
karena misteri




February 20, 2013

SU and SP

hmm, tentang SU dan SP. dua kata yang selalu menghisasi pikiranku selama bekerja di GP dan Erlangga. SU identik dengan GP sedangkan SP identik dengan Erlangga

SU adalah singkatan dari Sign UP. setiap DDC harus mendapatka target SU 10 dalam sebulan. SU itu sendiri adalah istilah bagi objek kampanye angggota DDC GP yang berhasil menjadi Supporter. supporter itu adalah orang yang dengan sukarela mendonorkan dananya untuk kegiatan-kegiatan GP yang nominalnya minimal 100.000/Bulan. sistem di GP itu sendiri tidak menerima uang cash, sistemnya adalah melalui kartu kredit, so siapapun yang mempunyai kartu kredit dan bersedia menjadi donor untuk GP maka dia memenuhi syarat untuk menjadi Supporter GP. namun jika tidak mepunyai kartu kredit maka seseorang bisa saja menjadi supporter dengan menggunakan buku tabungan namun hanya beberapa buku tabungan bank yang bisa diterima oleh GP yaiut Mandiri, BCA, Danamon, Bank Mega. orang yang ingin menjadi supporter GP melalui buku tabungan dibatasi hanya orang yang sudah berumur minimal 30 tahun. alasannya bahwa bebrapa terjadi kasus orang yang ingin menjadi supporter GP melalui uku Tabungan dan ketika akan dilakukan auto debet, seringkalisald mereka tidak mencukupi. itulah pengalamanku bekerja di GP tentang SU yang selalu membayangi pikiranku bagaimana caranya mendapatkan SU setiap harinya.

sekarang aku bekerja di Erlangga, lagi-lagi hampir sama dengan SU namun istilah lain yang sekarang membayangi pikiranku adalah SP. aku harus bekerja keras mendapatkan SP. SP itu sendiri adalah surat pemesanan. SP ini menjadi indikator berhasil tiaknya kita bekerja di Erlangga. dalam pertahunnya, aku harus bisa mendapatkan SP sebesar 1M, sebuah dinilai yang sangat fantastis menurutku karena boro-boro memegang uang sebesar itu, melihat saja aku belum pernah.

SU dan SP menjadi kata yang kan selalu menghiasi pikiranku untuk saat ini.



20.2.2013

Lestari

cukup hari ini saja, Lestari
engkau terlalu penat dengan ini,,
senja hari pun sudah mulai menguning

pulanglah ke istanamu
dengan sejuta romansa kita hari ini,,

RABU
20.02.13
00.22

February 17, 2013

Tentang Tulisan Pagi Ini

Pagi ini, sebenarnya aku ingin belajar berpuisi ria yang kutahu endingnya pasti tidak jelas maknanya seperti puisi-puisi yang sebelumnya kutulis. sambil mencari referensi puisi di beberapa blog yang aku ikuti, aku menelusuri setiap genre puisi namun tidak ada satupun jenis puisi yang berhasil membangkitkan gairahku untuk menulis puisi hanya keinginan dari hati saja menurutku. benar-benar pujangga amatiran.hehe.

Selang beberapa saat, aku membuka blog salah seorang perempuan yang sudah kukenal karena dia juga berasal dari kampus yang sama denganku. perempuan itu adalah pacarnya salah seorang kakak angkatanku di UNHAS. entah bagaimana awalnya, saya merasa tertarik saja dengan tulisan-tulisan hariannya yang dikemas dengan sangat sederhana, namun penuh makna, berbobot dan penyampaiannya yang amat sangat jujur nan menyentuh hati.

Awalnya kukenal dia saat masih kuliah dan sering ikut aksi jalanan. dia tergabung di salah satu organ kampus yang dikenal cukup militan apatahlagi seniorku yang nota bene adalah pacarnya merupakan ketua dari organisasi tersebut. alhasil kami sering bertemu di jalanan saat aksi namun kuyakin dengan sangat bahwa dia tidak mengenal aku bahkan aku pun mengenalnya karena dia pacaran sama seniorku tersebut.

Blognya amat sangat sederhana dan tidak menampilkan kesan rebel nan menakutkan alias mengerikan seperti beberapa blog konco-konconya yang sama-sama tergabung di organisasi tersebut. tak ada kesan sok rebel di beberapa tulisannya. saat ini aku percaya bahwa segala bentuk perlawanan terhadap setiap hal meski itu sistem harus dimulai dari hati tanpa harus lebay mengkalim diri kita rebel atau radikal atau subversif atau apapun istilahnya dan nampaknya seperti itulah dia. 

Bertemulah dia dengan seniorku yang memang sangat baik. kuyakin mereka serasi. tentang seniorku tersebut, kuyakin bahwa setiap orang pernah dekat dengan seniorku tersebut pasti dibuat terkagum-kagum. Bagaimana tidak, disamping tingkat kecerdasannya yang diatas rata-rata  bahkan semua hal kayaknya ditahu namun yang lebih bahwa dia pribadi yang sangat baik hati. semua orang yang pernah dekat dengannya tahu akan hal itu. dia memegang prinsip diyakininya.. keren memang ini orang.

Dulu saat masih aktif kuliah, aku sebenarnya tergerak ikut di organisasi yang mereka geluti namun ada sebuah hal yang akhirnya mengurungkan niatku untuk bergabung. organisasi tersebut sangat kritis dan sarat akan berbagai ilmu di dalamnya tapi satu hal yang membuatku ragu adalah labelitas kadernya yang seakan terlalu menggandrungi pemikiran-pemikiran impor yang menurutku sudah tidak terfilter lagi sampai harus melupakan semua kearifan yang telah dibekali oleh orang tuaku semasa kecil. 

Itu anggapanku saat dulu meski kutahu bahwa banyak dari produk organisasi tersebut yang kemudian menjadi sangat baik. aku bahkan sangat suka dengan kegiatan mereka, dengan setiap aktivitas yang dilakukan oleh organisasi tersebut namun saat menyentuh ranah dengan Tuhan, mereka kelihatan sangat skeptis bahkan menyepelekan hal tersebut dan terkadang mengumpat. tidak mengherankan karena mereka dijejali dengan bacaan-bacaan materialisme, walau begitu tidak semua dari mereka seperti itu.
kuingat pula saat dulu, seniorku yang mantan ketua organisasi tersebut berujar kepadaku bahwa tidak semua orang yag tergabung di sana berwatak baik.

Kembali ke perempuan tadi yang merupakan pacar dari seniorku. saat membaca tulisan-tulisan hariannya yang sederhana, aku menyadari bahwa ternyata dia sangat sederhana dan memandang hal dengan sangat bijak bahkan meleset dari pikiranku tentang dugaan-dugaanku. bagaimana dia menjalani hidupnya. Aku bahkan harus terharu saat membaca tulisannya tentang mama toyo. 

Bukan karena dia bercerita tentang perjalanannya ke enrekang dan tentang keindahan alam enrekang yang notabene adalah kampung, sama sekali bukan. tapi memang enrekang keren loh apalagi orang-orangnya.hihihi. aku tertarik akan tulisannya tersebut saat memaparkan semua hal tentang mama toyo, tentang bagaimana menjalani hidup dan yang aku paling senangi adalah bagaimana dia menentang jargon feminisme.

Inilah kutipan tulisannya yang aku sepakati, "kenapa saya tidak pernah tertarik dengan orang-orang feminis karena sebagian besar dari mereka beranggapan bahwa ketika wanita berbicara tentang politik, sosial, ekonomi, dia tidak mau tahu lagi soal dapur, seakan lupa kalau dia juga butuh makan. Mereka masih selalu mempermasalahkan tentang gender, gender, gender, makan tuh gender. Anti penindasan toh masih saja menindas teman sendiri, masih saja menindas orang tua sendiri. Mama Toyo harusnya merepresentasikan wanita zaman sekarang, wanita yang selalu jadi penerang dimana pun dia berada. Ah mama Toyo, saya jadi malu dengan diri saya sendiri. Mama Toyo adalah guru kehidupan."

Aku langsung tertawa lebar saat membaca bagian tersebut. tertawaku adalah bentuk kesepekatanku dengan pikirannya dan juga kuingat dengan jelas perdebatanku dengan seorang dosen sosiologi UH pada malam pergantian tahun baru 2009 di kediamanku jalan Pengayoman, Makassar. saat itu, aku mati-matian menentang feminisme dengan segala keterbatasan referensi yang aku miliki namun sang dosen tersebut yang alumni ADS pun dengan berbagai argumennya yang ilmiah melumat setiap penyangkalanku.aku kalah debat malam itu namun tidak dengan keyakinanku tentang penolakan feminisme yang vulgar. Bagaimana tidak aku kalah argumen, dia lulusan ADS yang memang mengambil tentang gender, sedangkan aku, walah boro-boro belajar gender di luar negeri, aku hanya membaca refernsi sekenaku.

Sekali lagi kembali ke topik tentang tulisan dari perempuan tersebut. aku terperangah membaca tulisan tentang mama Toyo karena ternyata dia sepakat dengan kesederhanaan yang termanifestasikan dalam bentuk nyata tanpa harus berdiskusi panjang lebar luas menjejali pikiran dengan berbagai rumus-rumus, teori-teori yang hanya memberatkan kepala. Kupikir mereka yang tergabung dalam organisasi tersebut sangat gandrung akan diskusi-diskusi yang memabukkan..

beberapa tulisannya juga tentang bagaimana mereka menjalani hubungan dengan seniorku. nampaknya mereka adalah pasangan serasi,, semoga saja mereka langgeng..

minggu pagi disaat menyendiri 
di rumah kontrakan
17.02.13
08.00

Serius, Berbagilah Dengan Semesta

Tulisan ini adalah hasil rancangan Sang Maha Pemberi Hikmah untukku dua hari ini. aku sangat yakin bahwa apa yang aku alami adalah sebuah hikmah yang jika aku tidak memungutnya niscaya aku menyia-nyiakan rakhmat yang telah dihidangkan di depanku. benar-benar sebuah hal yang tidak ingin kusia-siakan untuk menjadi referensiku ke depannya meski kutahu saat kemarin hari aku gagal dalam menjalankan misiku sebagai manusia yang ikhlas

Ceritanya bermula tadi malam, seorang kawan datang berkunjung di kediaman kami, akupun baru mengenalnya sejak dia tiba di sini jum'at siang. sebenarnya tidak ada yang menjadi permasalahan atas kedatangannya di tempat tinggal kami-aku menyebutnya tempat tinggal kami karena kami bertiga menempati mes ini. Aku mengira bahwa dia hanya bertandang untuk beberapa jam saja namun ternyata dia sampai maghrib. 

Sehari sebelumnya, kami mendapat kado dari ulang tahun atasan berupa pernak-pernik dan salah satunya gelas yang berlogo ulang tahun perusahaan, aku sudah menyimpan gelas tersebut di bawah meja kerjaku dan berpikir akan menyimpan itu sebagai kenang-kenangan namun itulah yang menjadi awal hikmah ini. si teman tadi duduk di mejaku dan secara tidak sengaja melihat gelas yang berlogo tersebut, dia tertarik secara karena dia juga eks karyawan di sini. saat itu aku sedang asyik bermain FB di depan komputer, dengan nada basi-basi yang tidak terdengar jelas olehku, ternyata dia meminta gelas tersebut karena aku juga tidak mendengar jelas apa yang dikatakannya maka aku hanya menyahut sekenaku.

Maghrib menjelang, dia pamit pulang diantar oleh Misbah, saat Misbah balik dari terminal mengantar teman tersebut, aku mendapati kado gelasku sudah raib, kutanyakan kepada si Misbah, dia mengatakan bahwa gelas tersebut di bawah oleh teman yang tadi, aku langsung bertanya kenapa dia bawa tanpa permisi, si Misbah mengatakan bahwa dia sudah permisi tadi dan aku mengiyakan ternyata saat aku menjawab sekenaku. 

Ada perasaan tidak ikhlas dalam hatiku terus berkecamuk yang selalu kulawan bahwa itu hanyalah benda yang akan musnah pada akhirnya namun ternyata sulit untuk mengikhlaskannya. Semua kekuatan pikiran positifku telah kucurahkan untuk memaksa hatiku ikhlas namun pikiranku selalu memikirkn hal-hal yang tidak-tidak, mulai dari dia yang lancang padahal baru kenal saat itu. namun tetap saja hatiku tidak ikhlas,,

Akhirnya Sang Maha Pemberi rasa keikhlasan mengirimkanku sebuah peristiwa yang menjawab tentang kejadian itu. besok malamnya (malam ini 16.02.13,red), aku berkunjung ke salah satu klien kami, guru SMPN 2 Ngawi, pak sidik. Niat awalku adalah silaturahim berhubung karena aku sendirian di mes. masron dan Misbah pulang kampung. Dengan setelan sweater hitam dan celana puntung hitam, aku beranjak ke rumah pak sidik. 

Sesampai di sana, dia menyambut dengan ramah sambil menyuruhku menunggunya sesaat karena dia baru mau mandi. sehabis mandi, dia mengajakku ngopi di ujung alun-alun kota Ngawi, akupun mengiyakan karena daripada pulang ke mes bengong sendiri. kami meluncur dengan sepeda motor melewati alun-alun yang dipenuhi oleh berpasang-pasang muda mudi yang sedang menikmati sendunya malam minggu yang baru saja diguyur hujan, laju kendaraan kami sangat pelan sehingga bisa menikmati setiap detail dari pusat keramaian kota ini saat malam minggu.

Sekitar 10 menit perjalanan dari kediaman pak sidik, kami tiba di warung kopi, aku memesan kopi ABC sedangkan pak sidik memesan kopi top. asyik menikmati suguhan kopi dengan dinginnya malam minggu, pak sidik kemudian bercerita panjang lebar dan sesekali kutimpali. dia bercerita tentang seorang pemuda yang sedang tinggal bersamanya. ternyata pemuda itu dikenalnya di bis saat pak sidik ke Bandung. 

Pemuda itu lalu berniat main ke rumah pak sidik, 1,5 bulan yang lalu, pemuda tersebut benar-benar datang ke rumah pak sidik, namun anehnya, setelah sebulan lebih tinggal di rumah pas sidik pemuda itu tak kunjung pulang dan pak sidik juga tetap dengan ikhlas menerimanya tanpa sesekali menanyakan sesuatu yang bisa menyinggung perasaan pemuda itu.

Saat bercerita tentang pemuda itu. aku terhanyut mendengar penuturan pas sidik yang sangat amat ikhlas dengan tamunya itu sedangkan aku dengan sangat piciknya amat sangat susah mengikhlaskan kadoku yang di bawa oleh seorang teman. Bahkan akupun terkadang merasa tidak nyaman ketika ada orang yang terlalu lama menumpang di rumahku. 

Ini adalah pengakuan dosaku yang amat sangat memilukan bahkan orang yang kukenal sekalipun sedangkan pak sidik tidak, bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun, dia dengan ikhlas memberikan tumpangan di rumahnya dalam jangka waktu yang lama. aku terkadang memikirkan untung rugi saat akan berbagi dengan orang lain, kutahu aku sangat picik karena setiap hal harus kuukur dengan keuntunganku dan waktu yang bersamaan, aku selalu merasa rugi atas dasar materi yang kasat masa. Benar-benar sebuah sikap yang masih dipengaruhi oleh keingin jasad yang hanya kan menghasilkan bongkahan-bongkahan sampah pada akhirnya tanpa memandang esensi dibalik semua hal yang indrawi.

Jawaban yang lain kutemukan bahwa ternyata pak sidik mempunyai keluarga yang sukses. isterinya sekarang menempuh pendidikan S3 di Inggris. pak sidik mempunyai anak 4, yang pertama sebentar lagi lanjut S2 di jepang, yang kedua kuliah di UI jurusan bahasa belanda dan sudah dari Belanda, yang ketiga sedang menempuh pendidikan di solo dan yang bungsu sementara nyantri. 

Pak sidik menambahkan bahwa semua anaknya tidak neko-neko. Di saat anak muda sekarang ingin tampil gaya-gayaan, anak pak sidik lain lagi, pak sidik membelikannya sebuah motor vixion namun anehnya anaknya tidak menerima dan memilih untuk tidak punya motor, hp yang dipakai pun HP usang disaat semua anak muda sekarang menggunakan hp BB.

Sementara pak sidik asyik bercerita, aku merenungi semua hal tersbut, aku kemudian berkesimpulan bahwa berkah yang didapat dari keluarga pak sidik karena kebaikan pak sidik yang dengan sangat ikhlas berbagi kepada setiap orang  meski orang tersebut baru dikenalnya. Sangat berbeda 180' dari diriku yang amat sangat picik akan berbagi dengan seseorang, penuh perkalian, penuh perhitungan dan penuh tendensi. sebenarnya ketika kita berbagi kepada semua orang maka semua itu akan kembali ke diri kita dalam berbagai bentuk,,

dan berbagi bukan hanya karena ingin di tambahkan rejeki oleh Allah namun lebih dari itu, berbagi adalah sebuah perintah Iahi dan kebutuhan kita sebagai manusia.

aku kutip sebuah paragrap dari tulisannya Miftahul Huda "pengembaraku selalu berusaha dan berusaha melakukan apa saja yang orang lain tak mampu lakukan, membuktikan apa saja melalui sebuah karya dan bukan sekedar kata-kata. menerapkan ilmu demi amal kepada sesama manusia, tak ada terdepan diantara orang-orang, baginya memberi adalah tugas, sedangkan menerima hak adalah beban. tak mengherankan jika suatu ketika dia mendapatkan apa saja yg tidak pernah diterima atau didapatkan oleh kebanyakan orang yang mnyenangi kebiasaan"

untuk diriku malam ini,, seiruska, berbagilah
untuk semua orang,,,
untuk semesta
karena itu engkau berbagi dengan dirimu sendiri,,,,
ditemani bau bangkai tikus yg sudah
3 hari membusuk di dalam mes namun 
tak kunjung kutemui jejaknya
hanya baunya yang menggangu
konstalasi pergerakanku di mes ini
17.02.13
01.21

February 16, 2013

Dan Peringatan Itu

Ini tentang sebuah peringatan, tentang teori yang sering kudengungkan di bibirku dan bahkan sering untuk orang lain namun ternyata aku tidak melaksanakannya tadi sore alhasil akupun harus menanggung sebuah peringatan sederhana dari Sang Maha Pencipta.

Tadi sore, sekitar pukul 14.00, Misbah, teman kosku baru tiba di rumah selepas dari acara pertemuan kepala sekolah di Geneng. Aku masih menikmati tidur siang saat itu sambil menonton film india. Selang beberapa saat kemudian, Misbah memintaku untuk mengantarnya ke terminal karena rencananya dia ingin pulang kampung hari ini. 

Memang hari ini adalah hari sabtu dan besoknya libur, kampungnya (Misbah red) dekat dari Ngawi yaitu di Grobokan, jawa tengah. Hanya sekitar dua jam perjalanan dari kota ini. Aku masih asyik dengan film india saat munir sudah berganti pakaian, aku beranjak dari pembaringan dengan bermalas-malasan dan tergesa-gesa mengantar munir ke terminal. Saat sampai di terminal, aku langsung pamit dan balik ke rumah kos.

Saat tiba di pagar kos itulah peringatan ditujukan kepadaku. ceritanya begini, saat di depan pagar, terlihat pagar tersebut agak tertutup rapat, karena motor yg aku kendarai pake kopling, maka aku dengan tergesa-gesa membuka pintu dengan kaki namun pintunya agak keras sehingga aku dengan hati dongkol turun dari motor dan membuka pagar dengan kesal, sesaat setelah itu, aku mulai memasukkan motor ke dalam area parkir rumah kos, sialnya karena jalanannya agak licin, ban depan motor tergelincir dan aku tidak punya keseimbangan menahan motor tersebut sehingga betisku mengenai knalpot motor hingga melepuh.

Itulah pelajaran Semesta hari ini untukku. saat seringkali aku mengamini dalam hatiku bahwa hidup ini harus dijalani dengan tenang hati dan tidak boleh tergesa-gesa namun sering kali pula aku lupa akan hal itu dan peringatan tersebut baru menyadarkanku bahwa setiap hal yang diamini dalam hati akan terwujud di kehidupan nyata hingga akhirnya menguji kita untuk menjalani apakah sesuai dengan hati atau bahkan dengan nafsu. bekas knalpot di betisku ini akan menjadi kenangan betapa au telah ingkar terhadap ikrar diriku sendiri.

February 14, 2013

Belajarlah Menghargai Orang Lain, Pak.

Setelah bekerja dua minggu di kota ini, interaksi dengan para guru adalah keharusan buatku untuk melakoni kerja ini. sebenarnya tidak ada yang menjadi masalah bahkan sebaliknya sangat menikmati pekerjaanku yang selalu mengitari setiap sekolah di kota ini. bercerita panjang lebar dengan setiap orang yang baru kukenal, sesekali curhat tentang nasibku sebagai perantau, namun terlepas dari semua itu, sensasi menjalani pekerjaan ini membuat adrenalinku semakin terpacu. Semua hal yang menjadi batu sandungan kuanggap sebagai lelucon belaka tanpa harus mundur selangkah pun dari apa yang teah menjadi komitmenku sekali pertama aku menjejakkan kakiku di tanah ini.

Bercerita tentang setiap hal bukanlah sesuatu yang amat sangat sulit kulakukan, aku tipe orang yang suka bercerita tentang apa saja, tentang setiap hal yang sifatnya pribadi dan terhadap orang baru kukenal.  namun tadi menjadi kejadian yang hampir saja membuatku mengumpat sepanjang hari, bagaimana tidak, sejak tadi malam, aku sudah menyusun setiap detail rencanaku untuk mengunjungi setiap sekolah yang ada di disini dengan harapan bahwa pihak sekolah kan menyambutku dengan senyum penuh persahabatan, bahkan beberapa sekolah yang akan kukunjungi adalah sekolah berbasis Agama.

Pagi buta, aku dan keempat temanku sudah siap menyambut hari ini dengan melakoni rutinitas kami menyambangi setiap sekolah, aku bertugas mengunjungi semua sekolah SMP sederajatnya. Kumulai kunjunganku di MTSN ngawi, setelah berada di depan sekolah, aku menuju ke ruang kantor, sejenak kuamati setiap guru di dalam ruangan mereka yang hanya sekitar 4 orang, kutanya  tentang keberadaan kepala sekolah kepada seorang guru yang sedang asyik bercengkerama dengan komputernya,  kuperkenalkan diriku dari salah satu penerbit, saaat itulah raut mukanya langsung berubah menjadi masam dan dengan sinisnya mengatakan bahwa kepala sekolah sedang tidak ada di ruangannya kemudian melanjutkan aktivitasnya dnegan layar komputer. 

Aku kemudian menuju ke meja salah seorang ibu guru, tanggapan yang dingin pun dari ibu guru itu, dalam hatiku mulai mengumpat tentang mereka yang begitu sangat tidak menghargai keberadaanku. aku kemudian pamit dengan muka masam. hatiku muali tidak mood saat pagi-pagi langsung mendapat sambutan yang sangat tidak bersahabat dengan guru di MTSN ngawi. aku kemudian menata hatiku dan mulai menganggapnya sebagai angin lalu.

Aku kemudian mengarahkan motorku ke SMPN 4 ngawi, di sekolah ini, aku kembali mendapat respon yang sama, saat berada di ruangan guru, para pengajar tersebut sedang menikmati adonan kue karena berhubung ada acara sekolah, lagi-lagi aku dikacangi, hanya ada salah satu gur yang menegurku dan menyuruhku untuk menunggu guru penanggung jawab buku yang ingin kutemui, setelah mempersilahkanku menunggu, dia kembali asyik dengan rekannya menikmati makanan yang ada di ruangan tersebut, alih-alih mengajakku mencicipi, diajak bicara pun tidak. Sesaat kemudian, pak priono datang dan menyambutku dengan senyuman, mulai hatiku sedikit terobati dengan sambutan dari pak priono.

Aku keluar dari sekolah tersebut kemudian meluncur ke arah kecamatan paron untuk melanjutkan perjalanan ke SMPN 1 Paron. Sesampai di sana, ternyata bapak kepala sekolah juga tidak ada, namun bukan itu yang menjadi masalah, aku mendapati seorang guru yang amat sangat tidak bersahabat menurutku. Setelah menginfokan bahwa bapak kepsek tidak ada, dia kemudian bercerita panjang lebar yang seakan tidak menginginkan kehadiranku. Sesekali kutanggapi namun dia menanggapi balik dengan nada yang sinis, mulai naik tensi egoku dan sedikit berdebat dengannya namun sesaat kemudian, kusadari bahwa tidak ada artinya menanggapi semua penjelasannya yang sinis terhadapku. 

Kucoba untuk mengatakan kepadanya bahwa besok aku akan datang lagi jika kepala sekolah sudah masuk namun kemudian ditanggapi bahwa tidak ada gunanya karena setiap sekolah sudah tidak menjual buku. Kukatakan kepadanya bahwa aku datang ke sini tujuannya untuk silaturrahim namun dia menimpali dengan amat sangat menyinggung bahwa silaturrahim hanyalah kedok namun intinya pasti akan menawarkan penawaran buku. Aku sadari itu tapi tidak seperti itu menyambut tamu, pak.

bapak, ibu guru yang tadi siang sinis terhadapku
belajarlah menghargai,,
kalian adalah pendidik,,
bahkan panutan bagi setiap anak murid,,
14.02.13


February 13, 2013

Sebuah Senyuman Untuk Kampungku

Cerita tentang kota ini di perbatasan jawah timur dan jawa tengah. aku sudah berada di kota ini selama sepuluh hari. banyak hal yang ingin kuabadikan tentang kota ini melalui tulisan namun yang paling ingin kutulis adalah tentang salah satu kota ini yang hapir menyerupai kampungku. pekerjaanku di kota ini mengharuskanku untuk mengitari setiap sekolah yang ada di kabupaten ini, alhasil setiap sudut kota ioni harus kutempuh. mulai dari kecamatan bringin, kecamatan karangjati arah ke caruban, kecamatan pangkur dekat madiun, samapi pada kecamatan ngrambe yang berbatasan dengan srangen jawa tengah.

Salah satu sisi kota ini yang sangat kunikmati setiap kali harus mengitarinya adalah sepanjang jalan menuju kecamatan ngrambe. jalanan menuju kearah kecamatan tersebut adalah jalan lintas provinsi ke jawa tengah namun bukan itu alasannya kenapa aku sangat menikmati sepanjang jalan tersebut, aku menikmatinya karena sepanjang jalan tersebut, terhampar luas sawah yang sudah menguning bahkan ada yang sudah di panen, setiap kali melewati jalanan tersebut, serpihan kenangan tentang kampung halamanku di buntu lamba perlahan-lahan merasuk memenuhi sukmaku, bau semerbak padi yang baru dipanen semakin menambah aroma suasana kampungku. 

Tekadang terbersit rasa rindu yang membuncah terhadap kampung halamanku saat merasakan suasana tersbut. lalu lalang para masyarakat yang memikul padi semakin menegaskan persamaan dengan pengalaman masa laluku semasa masih di kampung. saat panen tiba, saat memikul hasil panen ke rumah dan saat-saat ibuku menyuguhkan nasi bakul dan sayur asam sesaat setelah capek bekerja di sawah.

Kenangan itu selalu saja muncul setiap harinya karena mau tidak mau aku harus melewati jalanan tersebut, namun meskipun begitu, walaupun suasananya menyamai kampung halamanku namun sama sekali tidak bisa menggantikan posisi kampung halamanku di jiwaku. dia akan tetap bersemanyam jauh di dalam sana. kenangan masa lalu penuh cerita tak kan begitu saja terhapuskan, jejak kakiku di kampung halaman tak jua terhapus oleh apapun. suasana sisi kampung di kota ngawi ini hanyalah kan menjadi serpihan pengingat tentang kampung buntu lamba yang sama sekali tak kan mampu mengerusnya dari sukmaku.

Entah kapan namun aku tetap berharap bahwa aku kan kembali ke kampungku membaw sejuta senyuman indah buat setiap orang yang mengharapkan kebahagiaan untukku. senyuman buat kampung halamanku yang beitu asri. aku berada di sisi hanya demi sebuah misi hidup bukan untuk berusaha menukar kenangan rindu tentang kampungku..

burontong, malam ini, aku ingat semua tentang cerita masa bocahku di dalam pelukanmu,,,,!