sering kutulis setiap orang yang hadir di ruang hidupku, masa kemarin, saat aktif d GP,
aku menulis setiap sisi temanku, tentang mereka, tentang canda dan tentang sisi yang terlihat oleh mataku
saat takdir menggiringku ke ruang masa berikutnya, terdamparlah aku di sini, bekerja di sebuahpenerbit dan ditempatkan di sebuah kabupaten Jawa timur yang berbatasan dengan jawa tengah,
kali ini, kutulis lagi tentang mereka yang kan mengisi hari-hariku disini sebagai rekanat kerja,
memang, sangat berbeda dengan kondisi ruang kemarin yang lebih longgar, fleksibel bahkan benar-benar sangat santai,
kali ini, kujumpai sebuah ruang yang mengharuskan aku kembali untukdisiplin,
dalam waktu,
tentang pekerjaan,
tentang posisi dan pertemanan,
tentang semuanya.
aku harus memulai setiap hari-hariku di pagi hari, mempersiapkan semua kebutuhan tentang pekerjaanku dan tak ada toleransi untuk terlambat.
sementara ini aku menumpang di kantor, ada satu teman yang juga tinggal di sini, kami berdua menjadi penghuni kantor karena 2 karyawan lainnya sudah berkeluarga
inilah gambaran awalku tentang manusia yang sekarang sering kujumpai dalam hariku
si Mr, dia juga adalah karyawan baru sehingga bernasib sama dengan aku masih dalam tahap proses beradaptasi, dia berasal dari grobokan, purwodadi jateng, kami sering jalan bersama, ngopi saat malam.
selanjutnya Pak ok, aku tidak tahu pasti umurnya namun dari wajahnya, kemungkinan besar dia sudah berumur 40 thn lebih, dia sudah 10 thn bekerja sebagai karyawan disini. menurut beberapa info dari karyawaan lama bahwa Pk ok ini sudah tidak punya lagi passion dalam bekerja. datang ke kantor hanya untuk menggugurkan kewajiban dan menunggu gajian (bukan bermaksud menggibah namun ini informasi dari Asmen dan GL), memang kalau di lihat dari raut wajahnya, tidak nampak lagi semangat yang memancar.
kemudian si Ro, dia adalah GL disini, dari wajahnya kelihatan masih sangat mudah namun dia sudah berumur sekitar 30 thn, dia sudah punya isteri dan tinggal d magetan. aku belum tahu pasti karakternya karena baru sehari bekerja sama dengannya kemudian dia sakit dan harus ijin 3 hari.
selanjutnya si Ar. dia adalah Asmen di daerah ini. kelihatannya dia orangnya cepat panik.
yang terakhir adalah pk Kr, dia adalah manager, sangat tenang, hanya sesekali berbicara, kemarin pun waktu survey berdua denganku, kami hanya diam di atas mobilnya saat perjalanan, hanya sesekali aku menanyakan hal di daerah ini kemudian dijawab singkat. benar-benar sangat tenang dan tidak sekalipun menampakkan rasa gelisahnya..
itu sekelumit orang yang kedepannya akan sering kujumpai dalam hari-hariku
February 9, 2013
Pagi Pagi
pagi menyapa, bumi merekah, aroma tetesan embun masih tersisa
sesaat aku telah beranjak dari peraduanku
mendekap dinginnya kota ini
tapi tak kuhiraukan
aku terus melangkah
membahana
dalam asa
hidup hari ini
09-02-13
sesaat aku telah beranjak dari peraduanku
mendekap dinginnya kota ini
tapi tak kuhiraukan
aku terus melangkah
membahana
dalam asa
hidup hari ini
09-02-13
Untuk Malam Ini
09.02.13
24.22
pikiran masih berkutat dalam ide
namun kedua indera penglihat tak berkompromi
atau aku yang mendzalimi
sebab harusnya
keduanya punya porsi istirahat
kalau demikian, kusudahi saja semua ini sejenak
malam ini
kuberlari ke tempat persemayaman, memeluk guling yang setia menampung tetesan liur yang
tumpah saat mimpi
tak pernah kudengar sekalipun mengeluh
ini ucapan selamat malam
semoga saja
semangat akn membakar tubuhku malam ini
hingga esok tak ada keraguan dalam berjalan.
February 8, 2013
Coretan Tak Usai
malam ini,
keren.
serius.
kembali kugapai malamku, kunikmati remang remang yang sudah lama kulupakan
duduk bersila diatas susunan batako pinggir jalan itu,
jalan akhmad yani, Ngawi
secangkir kopi
dan beberapa potong gorengan
kunikmati senandung alam yang tak pernah usai,mencumbu dan merayu agar tetap kan abadi,
dan titik titik cahaya lampu yang mulai memudar
kuingat,
terakhir romansa ku dengan malam saat kuliah dulu,
bahkan malam selalu menjadi teman setia saat senja menua
itu dulu
saat masih di kotaku,
oh malam,
sengaja kumendua saja denganmu
agar lebih dekat dengan hatimu, kalau saja kudekap dirimu,adakah bayang bayang gelap kan mencemburui kita,
akankah itu.
peluh dalam dingin tak terkira..
malam itu di sudut kota ini.
Ngawi,
08.02.13
20.02
apa sebenarnya yang sedang kucari? pertanyaan sadar ini selalu muncul dikala kesendirianku, dikala kujauh dari hiruk pikuk manusia. terkadang kumalu dengan ini. jika yang kucari adalah hal fana, bukankah pencarianku sia-sia belaka. sampai sejauh ini langkah kakiku menjejak di bumi, semesta turut menyaksikan, namun sampai saat aku duduk di sini, aku belum begitu mengerti, aku belum begitu tangguh memetakan absurditas dengan esensi, ataukah aku paham akan hal itu,
atau bahkan puara pura tidak mengerti karena sejatinya sanubariku telah ditaklukkan oleh perutku,,,
mudah-mudahan saja tidak begitu adanya, semoga saja semesta kan menjagaku setiap detik dari semua itu.
kalau begini, untuk apa aku disini? untuk apa menjejakkan kaki begitu jauh.
semoga saja bukan, semoga saja niat hati tidak absurd, semoga saja bukan untuk yang fana,
selalu berharap bahwa setiap jejak kaki atau bahkan helaan nafasmu di sini adalah tasbih kepada Sang Pencipta, karena tak terukur.
kalau Nabi Sang Teladan hijrah, maka akupun punya alasan,, setiap kaki rapuh yang mengukir langkah di sisi bumi ini kan menjadi berarti.. karena hikmah tergeletak dimana mana,,bercampur dengan lumpur, menyatu dengan tinja, bahkan sering tak dikenali, hanya manusia manusia tekun yang kan mampumengenali setiap hikmah, meski hanya setitik di tengah lautan samudera,,
tak pernah kuberusaha mengingkari perutku, tak ingin jua kudzalimi dia dengan mengabaikan inginnya, karena itu sama saja dengan ego kepalaku, yang ingin kulakukan
meyelaraskan apa yang ia butuhkan bukan pada keinginan,,
aku tahu itu sekarang, namun masihkah menyisakan setitik dalam rupaku besok pagi?
saat kuterbangun dalam buaian mimpi,, kemudian mendapati dunia yang penuh tawaran kesenangan, seringkali saat kujemu, kuberfikir untuk bermimpi saja tanpa harus terbangun, namun tidak, itu sama saja kekalahan telak dari diriku.
seorang kawanku teman diskusiku, sedang jauh di negeri seberang. kami sering bertukar pikiran dan satu kesimpulan yang membuat kami seiya tentang kalimat yang coba kusederhanakan " Tuhan kan membukakan jalan kepada kita tentang apa yang kita citakan, meski seringkali jalan Tuhan tak terterka, namun cita kita kan terwujud, dengan satu kata kunci, kita selalu dekat denganNYA. bukan persoalan waktu, karena terkadang bias menceritakan tujuan dengan landasan waktu, otoritas penuh ada di genggaman Tuhan. semua kan datang tepat waktu hanya seringkali manusia tergesa-gesa."
Hikmah, itulah mutiara hidup yang selalu kan kupungut dimanapun tergeletak, karena dia lebih mulia dari emas.
cinta,
itulah hal yang menggerakkan makhluk,
mencinta tidak membutuhkan apa apa, hanya kejernihan hati untuk berbagi dengan sesama, dengan semesta. dengan kata itu, semua kan memudar dan menyatu dalam kebahagiaan.
bahagia dalam hati, bukan pada persepsi manusia tentang diri kita.
tentang watak, tentang bagaimana manusia harus kembali ke fitrahnya, namun kilauan dunia bahkan mengubur cita itu, semua harus terukur dengan materi. bahkan sekrang, perut telah mengalahkan hati. apapun yang diinginkan oleh perut maka akan terpenuhi meski itu hanya sesaat dan kembali menjdi musnah.
cinta kabur karena keserakahan, kesombongan dan hasrat menjegal. kata-kata hanya menjadi ide usang yang memuakkan, keluar dari mulut lalu menguap begitu saja mengikuti hembusan angin tanpa berusaha merealisasikan dengan gerak nyata.
sejatinya bahwa manusia satu dengan yang lainnya tidak terpisah bahkan dengan seluruh semesta, hingga bahagia untuk yang satu adalah bahagia untuk yag lainnya namun sekarang itu hanya ilusi. manusia menjegal manusia untuk dirinya. mereka tidak sedang paham bahwa dengan tingkah pongahnya , mereka sebenranya telah melakuka nnya kepada diri mereka sendiri. ketika berbuat baik kepada sesama, sejatinya kita telah berbuat baik kepada diri kita sendiri begitupun adanya ketika kita berbuat curang kepada orang lain maka saat itu kita sedang curang terhadap diri sendiri, sering diistilahkan dengan hukum karma, namun apapaun itu,manusia sedang dalam dehumanisasi.
dalam hati yang sedang berkarat, oleh duniawi yang menipu. menjemukkan dalam hidup yang penuh absurditas, bahkan terkadang mencari pembenaran untuk ikut serta dalam pusaran ilusi seakan tak tahu bahwa hati nurani kan abai, padahal tidak, selalu saja dia mengajak ke arah yang benar, meski dengan kasat mata itu pahit dan itulah manusia, terlalu memanjakan setiap apa yang akhirnya kan menjadi kotoran, perut dijadikan tumpukan sampah, bahkan harus menjegal sesamanya untuk memenuhi perut dengan berbagai macam sampah dan bangkai-bangkai. hasrat mereka tak ada untuk mengungkap tirai yang menghalangi mereka dengan Sang Maha Segala. hasrat itu tegadai oleh ego, angkuh, kesombongan yang akhirnya kan menggiring ke jurang kemusnahan.
begitulah hidup. mesti diukir setiap langkah yagn menanti, entah berapa lama lagi sebeblum fana, namun itu bukan hakekat, berbuatlah tentang jejak yang baik tanpa harus memperhitungkan jejak selanjutnya. hanya diri yang tau arti, hanya diri yang menentukan arah. semesta hanyalah suplemen untuk semua. diri yang menjadi sahabat sekaligus menjadi musuh utama. dia bersemanyam dalam dada tanpa sekalipun memunculkan dirinya secara indrawi namun dia muncul dalam sebuah bentuk yang lebih kejam, yaitu tingkah laku. itulah musuhmu, diri sekaligus rival. berjuanglah menaklukannya karena hanya dengan itu, engkau kan mengerti siapa sesungguhnya dirimu yang sedang mengukir langkah di bumi ini.
keren.
serius.
kembali kugapai malamku, kunikmati remang remang yang sudah lama kulupakan
duduk bersila diatas susunan batako pinggir jalan itu,
jalan akhmad yani, Ngawi
secangkir kopi
dan beberapa potong gorengan
kunikmati senandung alam yang tak pernah usai,mencumbu dan merayu agar tetap kan abadi,
dan titik titik cahaya lampu yang mulai memudar
kuingat,
terakhir romansa ku dengan malam saat kuliah dulu,
bahkan malam selalu menjadi teman setia saat senja menua
itu dulu
saat masih di kotaku,
oh malam,
sengaja kumendua saja denganmu
agar lebih dekat dengan hatimu, kalau saja kudekap dirimu,adakah bayang bayang gelap kan mencemburui kita,
akankah itu.
peluh dalam dingin tak terkira..
malam itu di sudut kota ini.
Ngawi,
08.02.13
20.02
apa sebenarnya yang sedang kucari? pertanyaan sadar ini selalu muncul dikala kesendirianku, dikala kujauh dari hiruk pikuk manusia. terkadang kumalu dengan ini. jika yang kucari adalah hal fana, bukankah pencarianku sia-sia belaka. sampai sejauh ini langkah kakiku menjejak di bumi, semesta turut menyaksikan, namun sampai saat aku duduk di sini, aku belum begitu mengerti, aku belum begitu tangguh memetakan absurditas dengan esensi, ataukah aku paham akan hal itu,
atau bahkan puara pura tidak mengerti karena sejatinya sanubariku telah ditaklukkan oleh perutku,,,
mudah-mudahan saja tidak begitu adanya, semoga saja semesta kan menjagaku setiap detik dari semua itu.
kalau begini, untuk apa aku disini? untuk apa menjejakkan kaki begitu jauh.
semoga saja bukan, semoga saja niat hati tidak absurd, semoga saja bukan untuk yang fana,
selalu berharap bahwa setiap jejak kaki atau bahkan helaan nafasmu di sini adalah tasbih kepada Sang Pencipta, karena tak terukur.
kalau Nabi Sang Teladan hijrah, maka akupun punya alasan,, setiap kaki rapuh yang mengukir langkah di sisi bumi ini kan menjadi berarti.. karena hikmah tergeletak dimana mana,,bercampur dengan lumpur, menyatu dengan tinja, bahkan sering tak dikenali, hanya manusia manusia tekun yang kan mampumengenali setiap hikmah, meski hanya setitik di tengah lautan samudera,,
tak pernah kuberusaha mengingkari perutku, tak ingin jua kudzalimi dia dengan mengabaikan inginnya, karena itu sama saja dengan ego kepalaku, yang ingin kulakukan
meyelaraskan apa yang ia butuhkan bukan pada keinginan,,
aku tahu itu sekarang, namun masihkah menyisakan setitik dalam rupaku besok pagi?
saat kuterbangun dalam buaian mimpi,, kemudian mendapati dunia yang penuh tawaran kesenangan, seringkali saat kujemu, kuberfikir untuk bermimpi saja tanpa harus terbangun, namun tidak, itu sama saja kekalahan telak dari diriku.
seorang kawanku teman diskusiku, sedang jauh di negeri seberang. kami sering bertukar pikiran dan satu kesimpulan yang membuat kami seiya tentang kalimat yang coba kusederhanakan " Tuhan kan membukakan jalan kepada kita tentang apa yang kita citakan, meski seringkali jalan Tuhan tak terterka, namun cita kita kan terwujud, dengan satu kata kunci, kita selalu dekat denganNYA. bukan persoalan waktu, karena terkadang bias menceritakan tujuan dengan landasan waktu, otoritas penuh ada di genggaman Tuhan. semua kan datang tepat waktu hanya seringkali manusia tergesa-gesa."
Hikmah, itulah mutiara hidup yang selalu kan kupungut dimanapun tergeletak, karena dia lebih mulia dari emas.
cinta,
itulah hal yang menggerakkan makhluk,
mencinta tidak membutuhkan apa apa, hanya kejernihan hati untuk berbagi dengan sesama, dengan semesta. dengan kata itu, semua kan memudar dan menyatu dalam kebahagiaan.
bahagia dalam hati, bukan pada persepsi manusia tentang diri kita.
tentang watak, tentang bagaimana manusia harus kembali ke fitrahnya, namun kilauan dunia bahkan mengubur cita itu, semua harus terukur dengan materi. bahkan sekrang, perut telah mengalahkan hati. apapun yang diinginkan oleh perut maka akan terpenuhi meski itu hanya sesaat dan kembali menjdi musnah.
cinta kabur karena keserakahan, kesombongan dan hasrat menjegal. kata-kata hanya menjadi ide usang yang memuakkan, keluar dari mulut lalu menguap begitu saja mengikuti hembusan angin tanpa berusaha merealisasikan dengan gerak nyata.
sejatinya bahwa manusia satu dengan yang lainnya tidak terpisah bahkan dengan seluruh semesta, hingga bahagia untuk yang satu adalah bahagia untuk yag lainnya namun sekarang itu hanya ilusi. manusia menjegal manusia untuk dirinya. mereka tidak sedang paham bahwa dengan tingkah pongahnya , mereka sebenranya telah melakuka nnya kepada diri mereka sendiri. ketika berbuat baik kepada sesama, sejatinya kita telah berbuat baik kepada diri kita sendiri begitupun adanya ketika kita berbuat curang kepada orang lain maka saat itu kita sedang curang terhadap diri sendiri, sering diistilahkan dengan hukum karma, namun apapaun itu,manusia sedang dalam dehumanisasi.
dalam hati yang sedang berkarat, oleh duniawi yang menipu. menjemukkan dalam hidup yang penuh absurditas, bahkan terkadang mencari pembenaran untuk ikut serta dalam pusaran ilusi seakan tak tahu bahwa hati nurani kan abai, padahal tidak, selalu saja dia mengajak ke arah yang benar, meski dengan kasat mata itu pahit dan itulah manusia, terlalu memanjakan setiap apa yang akhirnya kan menjadi kotoran, perut dijadikan tumpukan sampah, bahkan harus menjegal sesamanya untuk memenuhi perut dengan berbagai macam sampah dan bangkai-bangkai. hasrat mereka tak ada untuk mengungkap tirai yang menghalangi mereka dengan Sang Maha Segala. hasrat itu tegadai oleh ego, angkuh, kesombongan yang akhirnya kan menggiring ke jurang kemusnahan.
begitulah hidup. mesti diukir setiap langkah yagn menanti, entah berapa lama lagi sebeblum fana, namun itu bukan hakekat, berbuatlah tentang jejak yang baik tanpa harus memperhitungkan jejak selanjutnya. hanya diri yang tau arti, hanya diri yang menentukan arah. semesta hanyalah suplemen untuk semua. diri yang menjadi sahabat sekaligus menjadi musuh utama. dia bersemanyam dalam dada tanpa sekalipun memunculkan dirinya secara indrawi namun dia muncul dalam sebuah bentuk yang lebih kejam, yaitu tingkah laku. itulah musuhmu, diri sekaligus rival. berjuanglah menaklukannya karena hanya dengan itu, engkau kan mengerti siapa sesungguhnya dirimu yang sedang mengukir langkah di bumi ini.
Biarkan Gambar Bercerita
| saat tiba di TP jam 10.00 alhasil belum buka terpaks menunggu di pintu gerbang |
| parade bendera di depan TP. sesak |
| sama |
| sesaat setelah pintu TP dibuka pagi itu |
| sepanjang jalan gubernur suryo |
| sepanjang JLN gubernur suryo |
| perlintasan kereta dekat stasiun gubeng yang sering kulewati saat pulang kerja |
| pemandangan yang biasa di surabaya pada malam hari tukang becak tidur pulas di becaknya yang terparkir di setiap sudut jalan |
| ini dia kamarku |
| melewati gang di gubeng saat manusia merayakan maulid Nabi |
| hampir di setiap lorong kecil di surabaya dipasang peringatan mudhuno rek,, cuepeek rek..wkwk |
| kamarku di kertajaya 7C/2 |
| sedikit dari bukuku pelepas penat |
| kerasnya perjuangan seorang tukang parkir |
| hujan deras mengguyur darmawangsa |
| kawan linda |
| sisa makanannya linda |
| kamar kosku, 200,000/bulan di bilangan kompleks kedungdoro |
sabda semesta jum'at ini
siang tadi, kususuri setiap sisi kota ini, dalam terik mentari yang menyapa, namun bukan alasan buatku ciut
aku terus berjalan.
menapaki bebatuan yang sesekali menghadang
aku terus menjejakkan kakiku
mengalahkan kepulan debu yang membumbung tinggi
hingga tak terasa
tiba aku di perbatasan provinsi ini
duduk di sudut warung siang itu
aku terus berjalan.
menapaki bebatuan yang sesekali menghadang
aku terus menjejakkan kakiku
mengalahkan kepulan debu yang membumbung tinggi
hingga tak terasa
tiba aku di perbatasan provinsi ini
duduk di sudut warung siang itu
Kang M.H.M
ketika bergumul denganmu siang itu, sering kudiam, namun bukan berarti ku terpaku dalam bisu,
lebih karena ingin menggali hikmah darimu, sesekali berfikir keras. ketika tak kumengerti hatimu.
meski saat itu, awal takdir menemukan kita.
kurus, sederhana, dan ramut yang menjuntai tak tersisir.
itulah sosokmu, penuh dengan kesederhanaan,
tapi kutahu
tidak sesederhana kepalamu
yang telah lepas dari belenggu belenggu palsu, engkau menancapkan dirimu dalam dunia
dengan hati yang bebas
tanpa seorangpun yang menggangumu
citamu adalah kerjamu yang bukan hanya di mulutmu
tapi gerakmu menjawab impianmu, sampai semuanya manggut manggut
setelah kemarin sore mencemohmu
tapi mereka dengan begitu cepat menyanjungmu, saat ini
06.02.13
lebih karena ingin menggali hikmah darimu, sesekali berfikir keras. ketika tak kumengerti hatimu.
meski saat itu, awal takdir menemukan kita.
kurus, sederhana, dan ramut yang menjuntai tak tersisir.
itulah sosokmu, penuh dengan kesederhanaan,
tapi kutahu
tidak sesederhana kepalamu
yang telah lepas dari belenggu belenggu palsu, engkau menancapkan dirimu dalam dunia
dengan hati yang bebas
tanpa seorangpun yang menggangumu
citamu adalah kerjamu yang bukan hanya di mulutmu
tapi gerakmu menjawab impianmu, sampai semuanya manggut manggut
setelah kemarin sore mencemohmu
tapi mereka dengan begitu cepat menyanjungmu, saat ini
06.02.13
Suatu Siang di Sawah, Desa Ini
kau mendekapku,
membawaku melayang ke negeriku masa itu,
saat kududuk di tepimu
yang hampir menyerupai wajah pertiwiku
yang selalu kukenaNg di memoriku
mungkin saja dia sudah berubah, namun kau membawa wajah baru di depanku
kalian seakan kembar tak terbedakan
membawaku melayang ke negeriku masa itu,
saat kududuk di tepimu
yang hampir menyerupai wajah pertiwiku
yang selalu kukenaNg di memoriku
mungkin saja dia sudah berubah, namun kau membawa wajah baru di depanku
kalian seakan kembar tak terbedakan
Tentang BocahBocah Itu
tentang bocah yang kulihat,
tentang memoriku yang melayang jauh ke masa lalu,
kuberandai untuk kembali ke masa itu,
menikmati hidup tanpa beban
namun kutahu itu picik
karena hidupku adalah sekarang
brjalan menuju kefanaan
karena hari
bahagiaku
dalam setiap kisah hidup ini
walau terkadang bias
tentang memoriku yang melayang jauh ke masa lalu,
kuberandai untuk kembali ke masa itu,
menikmati hidup tanpa beban
namun kutahu itu picik
karena hidupku adalah sekarang
brjalan menuju kefanaan
karena hari
bahagiaku
dalam setiap kisah hidup ini
walau terkadang bias
setelah 2 hari berkeliling ke SD di ngawi
melihat setiap bocah betingkah lucu
tanpa beban
tanpa cemas
penuh kebahagiaan
dengan begitu polosnya
sesaat tertawa, sesaaat menangis
tapi tak ada dendam yg membekas
08.02.13
24.29
February 7, 2013
kondisi itu
harusnya tulisan ini ku upload saat masih di madiun, saat jemu menyapaku, saat terkurung dalam kamar tak bertuan,
masa saat itu,
masa yang paling tidak mengenakkan
terkondisikan dalam ketidakpastian,
namun selalu kuyakin
kan berlalu, berganti dngn masa yang lain
entah dengan kondisi yang sama
karena hidup
adalah rotasi antar potongan takdir
dan selalu tak tertebak, kemana
lagi takdir selanjutnya kan menggiring, entah ke cerita yang membahagiakan atau bahkan ke sudut kematian
karena itu niscaya
tak tertolak oleh apapun jua
masa saat itu,
masa yang paling tidak mengenakkan
terkondisikan dalam ketidakpastian,
namun selalu kuyakin
kan berlalu, berganti dngn masa yang lain
entah dengan kondisi yang sama
karena hidup
adalah rotasi antar potongan takdir
dan selalu tak tertebak, kemana
lagi takdir selanjutnya kan menggiring, entah ke cerita yang membahagiakan atau bahkan ke sudut kematian
karena itu niscaya
tak tertolak oleh apapun jua
coratcoret
menerkamu dalam diamku
mengguyur sanubariku yang lama tek bersua, dalam semua sepi yang menepi di malam itu
saat kan meramu menjadi satu, saat senja mulai menua, saat
malam menghembuskan helaan nafasnya
kuterlarut dalam tasbih hari ini, menjelma menjadi seorang pangeran, hingga
semua seakan menjadi milikku, tak tersisa
sedikut pun untuk yang lain.
akan tetapi ilusi karena diri
ini hanyalah bayang bayang hitam yang mulai meredup
atau entah sebentar lagi kan memudar
beralih menjadi tanah lumpur, menjadi humus bagi tanaman, hingga
saat cacingcacing menggeroti pun tak ada
daya untuk menghalau
itukah angkuh, itukah ego, itukah, itukah dan itukah
kemana semua itu
kucaci diri, kucari alasan untuk itu, namun hampa, semua bahkan tak ada, hanya diri yang mematung melempar setiap angan.
mengguyur sanubariku yang lama tek bersua, dalam semua sepi yang menepi di malam itu
saat kan meramu menjadi satu, saat senja mulai menua, saat
malam menghembuskan helaan nafasnya
kuterlarut dalam tasbih hari ini, menjelma menjadi seorang pangeran, hingga
semua seakan menjadi milikku, tak tersisa
sedikut pun untuk yang lain.
akan tetapi ilusi karena diri
ini hanyalah bayang bayang hitam yang mulai meredup
atau entah sebentar lagi kan memudar
beralih menjadi tanah lumpur, menjadi humus bagi tanaman, hingga
saat cacingcacing menggeroti pun tak ada
daya untuk menghalau
itukah angkuh, itukah ego, itukah, itukah dan itukah
kemana semua itu
kucaci diri, kucari alasan untuk itu, namun hampa, semua bahkan tak ada, hanya diri yang mematung melempar setiap angan.
February 6, 2013
Ngawi, I'm Coming
setelah berada di madiun selama 4 hari, kemarin sore, tepat pukul 16.00, aku
diantar oleh pak kris ke ngawi,
malamnya, sesampai di kantor ngawi, kami makan malam di sebuah warung kecil di dekat alun-alaun kota ngawi.
hari ini, aku resmi melakukan rutinitasku di kantor, meski dengan sangat susah beradaptasi
karena semua orang disini menggunakan bahasa lokal.
namun tetap kulewati dengan penuh optimis, bahkan tempatku
berkegiatan sekarang bukanlah hal yang kan membuatku settle karena ada rencana berikutnya yang
harus kukejar tahun ini, setidaknya
pekerjaan yang sekarang menjadi sebuah pengalaman berharga
dalam meniti kehidupan ini dan lebih
menghargai setiap bentuk pekerjaan.
namun ada hal yang sedikit membuatku khawatir disini karena ijazahku
menjadi jaminan bahkan dari seniorku disini bahwa
ketika akan resign, maka
akan sangat ribet mengurus ijazah tersebut bahkan berbulan-bulan baru
bisa dikembalikan, namun kembali
lagi kepada keyakinanku yang kuat bahwa setiap hal terkecil pun di dunia ini ada
yang mengatur dan
ALLAH SWT
tahu apa yang mejadi terbaik buatku dan
ketika DIA mengijinkan maka setiap langkah menuju cita-cita kita akan menemui jalannya sendiri entah
itu jalannya berbelok ataupun lurus.
satu kunci terpentingnya adalah
SABAR
kuingat ketika aku harus menunggu di mes madiun
selama 4 hari,
rasa jemu menghampiriku setiap saat bahakn
ketika perasaan itu mencapai klimaksnya
terkadang aku berfikir untuk
balik saja ke surabaya namun kukuatkan hatiku bahwa
ini semua akan berakhir dan berganti dengan fase berikutnya
salah satu kata yang sering kuingat adalah
what doesn't kill you , will makes you stronger
ku khawatir bahwa ketika aku pulang itu artinya
aku telah terbunuh dan ketika
aku tetap bertahan artiny bahwa kondisi
itu tidak akan sampai membunuhku
bahkan malah akan membuatku menjadi lebih kuat meski
kuathu permasalahan yang lain tetap kan muncul.
hari ini,
kuputuskan untuk menjalani apa adanya,
dengan
sabar dan syukur
tanpa keluhan
dan sebuah kan menuju ke arah yang lebih baik pada masanya.
impianku bahwa
someday I works at BUMN or one of State department
Aamiin.
namun aku tetap memupuk keyakinanku kepada ALLAH untuk memudahkan setiap jalanku.
kantor ngawi,
06-02-13
February 3, 2013
Aku Merasakan Hidupku
benar benar serasa hidup dan mungkin
saja inilah hidupku dimana semua terasa
ikhlas kujalani,
ridha akan setiap apa yang kan terjadi karena aku tak berharap lagi kepada
makhluk saat dikondisikan seperti ini.
aku benar benar merasakan hidup
di sebuah kota kecil tanpa siapapun yang kukenal bahkan
mungkin, untuk membaringkan tubuhku pada malam hari pun
masih kabur.
inilah yang dinamakan hidup karena tak ada
lagi tempatku bersandar
selain kepadaNYA. setiap helaan nafasku meminta
pertolongan kepadaNYA
dan akupun selalu percaya kepada Allah bahwa segalanya kan berjalan dengan
baik baik saja. nampaknya hal
tersebut kurasakan hingga kini. aku masih
bisa bernafas dan juga tak kelaparan.
hidupku adalah milikNYA
hari kedua di Madiun, berkeliling ke jl panglima sudirman
kemudian memutar di jl manstrip tepat di stadion
mencari hikmah di kerumunan kota ini, semoga saja
ada sepenggal hikmah yang nantinya
kan kubawa pergi, saat semua
kan terlewati maka
yang tersisa hanyalah pelajaran yang digenggam seiring
waktu yang membawa pergi masa ini
hari kedua di Madiun, sendiri memutar kota ini dalam
lengang karena hari libur. menghiurup hembusan
angin di kota ini, merasakan setiap denyut
yang terasa di sini,
menjadikan semuanya begitu indah karena
hidupku adalah kebahagiaanku dan dimanapun
aku menjejakkan kakiku di bumi ini maka tempat itu
adalah rumahku karena aku adalah
bagian dari semesta yang bertasbih
dalam setiap helaan nafas
lirikan mata
ayunan tangan
langkah kaki,
mengalun indah menyatu dengan
semesta.
saja inilah hidupku dimana semua terasa
ikhlas kujalani,
ridha akan setiap apa yang kan terjadi karena aku tak berharap lagi kepada
makhluk saat dikondisikan seperti ini.
aku benar benar merasakan hidup
di sebuah kota kecil tanpa siapapun yang kukenal bahkan
mungkin, untuk membaringkan tubuhku pada malam hari pun
masih kabur.
inilah yang dinamakan hidup karena tak ada
lagi tempatku bersandar
selain kepadaNYA. setiap helaan nafasku meminta
pertolongan kepadaNYA
dan akupun selalu percaya kepada Allah bahwa segalanya kan berjalan dengan
baik baik saja. nampaknya hal
tersebut kurasakan hingga kini. aku masih
bisa bernafas dan juga tak kelaparan.
hidupku adalah milikNYA
hari kedua di Madiun, berkeliling ke jl panglima sudirman
kemudian memutar di jl manstrip tepat di stadion
mencari hikmah di kerumunan kota ini, semoga saja
ada sepenggal hikmah yang nantinya
kan kubawa pergi, saat semua
kan terlewati maka
yang tersisa hanyalah pelajaran yang digenggam seiring
waktu yang membawa pergi masa ini
hari kedua di Madiun, sendiri memutar kota ini dalam
lengang karena hari libur. menghiurup hembusan
angin di kota ini, merasakan setiap denyut
yang terasa di sini,
menjadikan semuanya begitu indah karena
hidupku adalah kebahagiaanku dan dimanapun
aku menjejakkan kakiku di bumi ini maka tempat itu
adalah rumahku karena aku adalah
bagian dari semesta yang bertasbih
dalam setiap helaan nafas
lirikan mata
ayunan tangan
langkah kaki,
mengalun indah menyatu dengan
semesta.
3-2-2013,
madiun
saat ke kantor namun satpam
lagi keluar dan pagar
terkunci hingga
kuputuskan untuk ngenet saja
Subscribe to:
Comments (Atom)
